Who I Love? (Chapter 2)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Lu Han

Support Cast :

  • SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
  • etc

Genre : Fluff, Romance, School Life, Friendship

Length : Series

Note : Posternya nyusul, ya? Gak papa kan sementara gak pake poster. Lagi males bikin soalnya. Soalnya karakternya banyak. Jadi aku pengen request poster ke orang pinter aja XD

>>> 

Aku menatapi langit-langit kamarku. Aku masih memikirkan kalimat yang di keluarkan dari mulut Sehun.

“Selamat, ya? Kau pasti sangat puas bisa berkencan dengan Luhan,”

 

Aku mengusap wajahku pelan. Aneh, untuk apa aku memikirkannya? Apa dia cemburu? Ah, itu sangat mustahil. Mana mungkin seorang Oh Sehun yang dingin dan selalu membuatku kesal menjadi cemburu. Masa dia menyukai Luhan sunbae? Atau dia menyukaiku?

Ah, sangat mustahil!

“Sica-ya~”

Aku menoleh ke sumber suara. Oh ternyata itu Seohyun. Ia muncul dari balik pintu kamarku.

Aku segera bangkit dan duduk, “Masuklah, Seohyun-ya,” ucapku.

Seohyun mengangguk dan masuk ke kamarku. Ia duduk di hadapanku.

“Kau dan Sehun—bertengkar lagi?,” tanyanya.

Bertengkar? Kapan? Bukankah Sehun hanya mengucapkan selamat padaku?

“M-Memangnya kenapa, Seohyun-ya? Dia menceritakan sesuatu padamu?,” tanyaku.

Seohyun menggeleng, “Hanya saja—tadi aku melihat Sehun membanting playstationnya di kamarnya. Ku pikir kalian sehabis bertengkar,” jawabnya.

Astaga! Apakah Sehun semarah itu? Tapi, untuk apa dia marah?

“Apa kau menanyakan apa yang terjadi padanya?,” tanyaku.

“Tadi aku sempat bertanya. Tapi, dia malah membentakku dan menyuruhku untuk keluar dari kamarnya,” jawab Seohyun.

Tidak! Sehun tidak pernah sebelumnya membentak Seohyun. Aku harus memberi Sehun pelajaran.

“Kau tunggu disini, Seohyun-ya. Don’t go anywhere,” pintaku.

“U-Untuk apa?,” tanyanya.

“Tunggu saja disini. Tetap disini hingga aku kembali,” jawabku.

Setelah Seohyun menganggukan kepalanya, aku segera keluar dari kamarku dan berlari menuju kamar Sehun. Awas saja kau, Oh Sehun. Akan ku beri kau pelajaran karena sudah membentak Seohyun.

“OH SEHUN, BUKA PINTUNYA!!,” teriakku—seraya menggendah pintu kamarnya.

“HEI! OH SEHUN!!,” teriakku lagi. Apa dia tuli? Kenapa pintunya belum di buka juga?

“Baik, aku akan mendobrak pintu kamarmu,” ucapku.

Aku segera mundur. Aku menarik napas dalam dan mengeluarkannya. Setelah itu, aku bersiap untuk berlari dan mendobrak pintu kamar raja iblis itu.

“AAAAAA!!!!!!!,” teriakku—seraya mulai berlari menuju pintu kamar Sehun.

Namun,

“ARGH!!,”

Aku membuka mataku. Bukannya mendobrak pintu, tapi aku malah mendobrak perut Oh Sehun. Dia pasti kesakitan.

“Kau ini!,” geramnya.

“Makanya, jangan membuka pintu di saat aku ingin mendobraknya,” ucapku.

Sehun masih memegangi perutnya. Wajahnya terkesan pahit. Terdengar ringisan yang cukup keras dan tertahan. Apakah sesakit itu rasanya?

“M-Maafkan aku, Sehun-ah,” ucapku—takut.

BRUKKK!!!

“OH SEHUN!!!!,” teriakku—kaget. Sehun tiba-tiba terjatuh ke lantai seperti orang yang sedang pingsan. Hanya saja Sehun masih sadar.

“A-Aku akan membawamu ke Rumah Sakit,” ucapku.

Baru saja aku ingin beranjak, tapi Sehun memegang lenganku. Aku menatapnya bingung.

“T-Tidak perlu ke Rumah Sakit. Cukup di kompres dengan handuk hangat, pasti sembuh!,” ucapnya—di ikuti ringisannya.

Aku menatap Sehun kagum. Ternyata dia cukup kuat.

“Baiklah,” ucapku—lalu membantunya berdiri.

>>> 

“Bagaimana kau bisa seperti ini?,” tanya Seohyun—seraya mengompresi perut Sehun.

“Maafkan aku, Seohyun-ya,” ucapku—menyesal.

“Tidak—ini bukan salahmu, Jessica-ya,” ucap Sehun—dan tersenyum.

Aku terpaku melihat senyumannya. Ini yang pertama kalinya. Aku baru pertama kali bisa melihat seorang Oh Sehun tersenyum. Dan senyuman itu di tujukan untukku.

“Sehun-ah, apa kau baik-baik saja?,”

Aku menoleh ke belakang. Ternyata Chanyeol, Baekhyun dan Taeyeon sudah datang. Tadi aku yang menghubungi mereka.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit nyeri di bagian perutku,” jawab Sehun.

“Bagaimana hal ini bisa terjadi?,” tanya Taeyeon.

Aku menunduk, “Aku meninju perutnya,” jawabku.

“A-Apa?,”

“Jung-ya, kau luar biasa!,” seru Chanyeol—seraya memegang bahuku. Dasar Chanyeol. Di saat seperti ini sangat tidak tepat untuk memuji keahlianku.

“Sehun-ah, besok kau tidak usah masuk sekolah,” ucap Baekhyun.

“Tidak mau. Aku akan tetap masuk,” protes Sehun.

“Dasar keras kepala!,” seruku—yang sukses membuat semuanya memandang ke arahku.

“Apa katamu?,” tanya Sehun.

“Kau—keras kepala, Oh Sehun!,” jawabku, “Kau sedang sakit. Jangan memaksakan dirimu. Kau hanya akan membuat orang-orang di sekitarmu menjadi repot!,” seruku.

Semua yang ada di sekitarku masih diam. Begitu juga dengan Sehun.

“Aku tidak bermaksud untuk menghinamu. Tapi, aku hanya ingin kau mandiri, Sehun-ah. Mandiri dalam artian kau harus bisa menjaga kondisimu. Jangan masuk sekolah besok. Minimal satu hari saja. Beristirahatlah dulu. Jangan membuat orang lain mencemaskanmu,” ucapku.

“Jessica-ya~”

“Kau selalu menjadi nomor satu di mata semua orang. Di mata Seohyun, dan di mata teman-teman. Sedangkan aku?,” aku menarik napas sejenak, “Aku iri padamu, Oh Sehun. Semua orang selalu mencemaskanmu, peduli padamu. Dan sekarang aku ingin teman-teman tidak perlu mencemaskanmu. Maka dari itu, beristirahatlah!,”

“Sica-ya!,”

Seohyun menghampiriku dan memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Beberapa detik kemudian, aku merasakan banyak yang memelukku.

“Kami semua peduli padamu, Sica-ya,” ucap Seohyun.

“Seohyun benar, Jung-ya. Kami peduli padamu,” ucap Chanyeol.

“Bukankah kita berteman?,” tanya Baekhyun.

“Teman harus saling peduli,” ucap Taeyeon.

Aku tersenyum dan terharu. Ku usap air mataku yang mulai jatuh. Aku melirik Sehun. Ia juga tersenyum padaku.

>>> 

Aku sedang duduk bawah pohon rindang di halaman sekolah. Dengan lantunan musik yang keluar dari earphone yang menempel di sepasang telingaku, aku menggambar seseorang yang ada di hadapanku.

“Apakah sudah selesai, Jung-ya?,”

Aku menghela napas berat, “Kau sangat payah, Chanyeol-ah. Begitu saja sudah lelah,” cibirku.

“Tentu saja lelah, Jung-ya. Aku bukan patung yang bisa berdiam diri dalam waktu yang lama,” ucap Chanyeol.

Aku mendesis, “Ini baru sedikit, Park Chanyeol. Aku baru melukis bagian wajahmu,” ucapku.

Chanyeol menghela napas berat, “Masih lama, ya?,” tanyanya.

“Salahmu sendiri karena bersedia sebagai model lukisku,” ucapku.

“Aku bersedia menjadi model lukismu,”

Aku menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, pemilik suara tersebut adalah Luhan sunbae.

“L-Luhan sunbae?,”

Luhan segera duduk di sampingku, “Mungkin Chanyeol sudah lelah. Aku siap menjadi patung untuk di lukis,” ucapnya.

Aku mengerjapkan mataku. Apa bisa ya aku melukis Luhan sunbae? Aku takut hasilnya jelek. Seorang Luhan sunbae yang sangat sempurna tidak mungkin bisa di lukiskan apalagi yang melukisnya adalah pelukis amatir seperti aku.

“Bagaimana?,” tanya Luhan sunbae.

“Ngg—baiklah,” jawabku.

Luhan sunbae pun beranjak berdiri dan menggantikan posisi Chanyeol. Chanyeol dengan wajah kusutnya segera menyingkir dan duduk di sampingku.

“Kau tega sekali menggantikanku dengannya, Jung-ya,” bisik Chanyeol.

“Bukankah kau kelelahan?,” tanyaku.

Chanyeol mengerucutkan bibirnya—membuat dirinya tampak konyol dan err…menggemaskan.

Aku mulai menggambar bagian wajah Luhan sunbae. Aku melakukannya dengan hati-hati. Aku takut aku salah menggambarnya.

>>> 

“Kami pulang!!,” seruku dan Seohyun.

Kami menemukan Sehun yang sedang menonton TV sambil duduk di sofa. Aku pun duduk di samping Sehun, sementara Seohyun duduk di sofa lainnya.

“Bagaimana keadaanmu?,” tanyaku.

“Seperti yang kau lihat,” jawabnya—datar.

Hei, ada apa lagi dengannya? Kenapa the real of Oh Sehun telah kembali? Padahal aku lebih suka sikapnya yang tadi malam.

“Sehun-ah, kau ingin ku buatkan sup?,” tawar Seohyun.

Sehun mengangguk, “Kebetulan aku sedang lapar,” jawabnya.

Seohyun segera bangkit dan pergi menuju dapur. Baru saja aku ingin menyusulnya, tapi Sehun menahanku dengan menggenggam lenganku.

“Tetap disini, temani aku,” ucapnya.

Aku menghela napas berat. Berhubung dia sedang sakit, dan penyebabnya adalah aku, maka mau tidak mau aku harus menurutinya.

“Apa hari ini kau bersama dengan Luhan lagi?,”

Aku menelan salivaku kasar. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah Sehun keturunan seorang peramal?

“Hei, jawab aku!,”

“Ngg—iya, bersama Chanyeol juga,” jawabku.

Aku mendengar Sehun menghela napas kasar. Aku menjadi sedikit takut. Bagaimana jika ia marah seperti tadi malam?

“Sudah ku duga,” gumamnya.

“K-Kenapa kau tampaknya tak suka jika aku bersama Luhan sunbae?,” tanyaku.

Sepertinya aku salah bertanya. Kini, Sehun menatapku tajam. Seohyun, cepatlah datang. Cairkan suasana yang menegangkan ini.

Sehun mengalihkan pandangannya ke TV, “Luhan bukan orang yang baik,” jawabnya.

Aku menoleh ke arahnya dan sedikit kaget akan pernyataan Sehun.

“Apa maksudmu Luhan sunbae bukan orang yang baik?,” tanyaku—tak terima.

Sehun beranjak berdiri, “Kau akan tahu nanti. Jadi, ku sarankan untuk menjauhinya mulai hari ini,”

Aku terdiam. Apa benar Luhan sunbae bukan orang yang baik? Melihat karakter wajahnya, sulit untuk mempercayai perkataan Sehun.

>>> 

“Apa kau masih mendekati gadis blasteran itu?,” tanya Minseok.

“Namanya Jessica, hyung,” ucap Luhan.

Minseok memutar bola matanya, “Terserah apa katamu, Luhan.” ucapnya, “Lebih baik kau berhenti mendekatinya. Kau tahu dia tinggal bersama siapa,”

Luhan menyeringai, “Aku tahu apa yang ku lakukan, hyung. Percayalah padaku!,” ucapnya.

Minseok menatapnya sedikit bingung. Rencana apa lagi yang di susun olehnya?, batinnya.

To Be Contiuned

 

Review, please ^^

Komentar minimal 20. Kalo gak lebih, gak aku lanjutin FF ini.

Iklan

Still (Chapter 2)


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong
  • SNSD’s Tiffany as Jung Miyoung
  • etc

Genre : Romance, Family, Angst, Friendship

Length : Series

>>> 

Sooyeon mengerjapkan matanya, begitu juga dengan Jongin. Mereka sama-sama kaget dan tak percaya.

“Kalian saling mengenal?,” tanya Luhan.

Sooyeon mengangguk, begitu juga dengan Jongin.

Luhan tersenyum, “Baguslah. Itu artinya aku tak perlu memperkenalkan kalian berdua lagi,” serunya.

Jongin tertawa paksa, “Ah, iya,” ucapnya.

Jessica pun memamerkan senyuman paksanya. Bagaimana mungkin Jongin berada disini?, batinnya.

>>> 

Luhan, Sooyeon dan Jongin beristirahat di sebuah bangku di taman. Disana banyak sekali orang-orang yang bersantai setelah joging.

“Jadi, kalian adalah rekan kerja, ya?,” tanya Luhan.

“Iya,” jawab Sooyeon dan Jongin bersamaan.

“Pasti enak sekali punya sekretaris cantik seperti Sooyeon. Benar, kan, Jongin-ssi?,” tanya Luhan.

Jongin tersenyum paksa, “Begitulah~” jawabnya.

Tiba-tiba, sebuah truk es krim muncul dan berhenti di ujung taman yang jaraknya lumayan dekat dengan mereka. Mata Sooyeon langsung berbinar saat melihat es krim.

“Akan ku belikan kau es krim, noona,” ucap Luhan—yang mengerti maksud dari tatapan Sooyeon.

“Ah? Terima kasih, Lu,” ucap Sooyeon—gembira.

“Bagaimana denganmu, Jongin-ssi?,” tanya Luhan.

Jongin mengibaskan tangannya, “Tidak, terima kasih,” jawabnya.

Luhan mengangguk mengerti. Ia pun segera pergi menghampiri truk es krim tersebut.

Dan kini, hanya ada Sooyeon dan Jongin yang duduk di bangku tersebut. Suasana berubah menjadi canggung.

“Ngg—bagaimana kabarmu?,” tanya Jongin—mencoba membuka pembicaraan.

“Disini aku baik, sangat baik,” jawab Sooyeon.

Jongin hanya ber-oh pelan. Sepertinya Sooyeon sangat betah disini, batinnya.

“Baru dua hari berpisah, sudah bertemu lagi.” gumam Sooyeon.

Jongin  menoleh ke arah Sooyeon. Ia mulai tersenyum jahil, “Tapi, kau senang, kan?” goda Jongin.

Sooyeon menoleh cepat ke arah Jongin. Ia menatap Jongin tajam. Sedangkan Jongin membalasnya dengan tatapan hangat, dan itu berhasil membuat Sooyeon luluh.

“Tentu saja aku senang. Tapi, kau tenang saja, Jongin-ssi. Aku sudah mengurus perceraian—”

“Tidak!,” potong Jongin cepat—membuat Sooyeon kaget mendengarnya.

“Aku tidak akan pernah bercerai denganmu, Sooyeon-ah. Tidak akan pernah!,” ucap Jongin.

Sooyeon menatap Jongin dengan tatapan sulit di artikan. Bingung, takut, cemas, tak percaya, senang, sedih, itulah yang saat ini ada di pikirannya.

“Es krim sudah datang!,” seru Luhan—seraya membawa dua cup es krim.

“Wah~” seru Sooyeon—seraya meraih satu es krim yang ada di tangan Luhan. “Terima kasih, Lu. Kau yang terbaik,”

Luhan tersipu mendengarnya. Ia tak dapat menutupi senyumannya. Sedangkan Jongin harus menahan rasa cemburu yang membakar hatinya.

Sakit, kenapa rasanya sakit sekali?, batinnya.

>>> 

“Ku mohon, Seohyun-ah. Dengarkan penjelasanku dulu,” pinta Sehun—melalui ponselnya—pada Seohyun, kekasihnya.

Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Sehun mengacak-acak rambutnya prustasi.

“Dia marah?,” tanya Jongin.

“Sangat. Dan kau harus bertanggung jawab,” jawab Sehun—kesal.

“Saat kita kembali ke Seoul, aku berjanji akan mendamaikan kalian berdua,” ucap Jongin.

Tiba-tiba ponsel Jongin berdering. Ia menatap layar ponselnya. Jongin mendadak takut dan cemas. Sehun dapat melihat hal itu dari wajahnya.

“Apakah itu Ayahmu?,” tanya Sehun.

Jongin mengangguk lemah. Ia segera mengangkat teleponnya sebelum Ayahnya semakin marah.

“Ada apa, appa?,” tanya Jongin.

“Kau dimana?,”

“Ngg—aku—”

“Saat ini aku berada di kantormu. Aku menanyakan pada semua karyawan. Tapi, mereka tidak tahu. Rumahmu juga terkunci tak ada penghuni kata Miyoung. Lantas, dimana kau dan Sooyeon?,”

Jongin menelan salivanya kasar, “Aku dan Sooyeon berada di Beijing. Maaf kami lupa memberitahumu, appa. Kami lupa,” ucapnya.

“Astaga! Harusnya kau memberitahuku terlebih dahulu,”

“Maafkan aku, appa,” ucap Jongin.

“Ya sudah. Tidak apa. Bersenang-senanglah di Beijing. Aku tahu kalian lelah bekerja. Jadi kalian memang butuh penyegaran,”

“Kau adalah Ayah yang pengertian, appa,” ucap Jongin—senang.

“Tentu saja. Aku tutup dulu, ya?,”

“Baiklah,” jawab Jongin—lalu mengakhiri teleponnya.

Jongin bersandar dan menghela napas lega. Untunglah ia berhasil membuat Ayahnya tak marah dan tak curiga.

“Kali ini kau selamat, Jongin-ah,” ucap Sehun.

Jongin hanya tersenyum mendengarnya.

>>> 

“Ya sudah. Tidak apa. Bersenang-senanglah di Beijing. Aku tahu kalian lelah bekerja. Jadi kalian memang butuh penyegaran,”

Yoona menangkap kalimat dari mantan direktur perusahaan terbesar di Korea Selatan yaitu Kim Jaejoong yang membuat jantungnya tak berhenti berdetak cepat. Saat ini, Yoona sedang menemani Yuri bekerja. Lumayan daripada ia menganggur di rumah.

“Jongin oppa di Beijing?,” gumam Yoona, “Apakah dia bersama Sooyeon eonni?,” pikirnya.

Yuri menatap Yoona tajam. Pasti Yoona merencanakan hal yang aneh lagi, batinnya.

>>> 

Sooyeon sedang berbaring seraya menatap langit-langit kamarnya. Ia masih memikirkan perkataan Jongin tadi pagi di taman.

“Aku tidak akan pernah bercerai denganmu, Sooyeon-ah. Tidak akan pernah!,”

 

“ARGH!!,” teriak Sooyeon—prustasi. Ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.

“Ku dengar, Jongin tinggal di rumah Luhan, ya?,” tanya Qian—yang tiba-tiba muncul di balik pintu kamar Sooyeon.

Sooyeon menghela napas berat, “Ya, begitulah,” jawabnya.

“Aku mengerti akan perasaanmu, Sooyeon-ah,” ucap Qian.

“Terima kasih sudah peduli, Qian,” balas Sooyeon.

“Jika kau masih mencintainya, kembalilah padanya. Ku pikir, Jongin juga masih mencintaimu. Jika tidak, untuk apa ia kemari?,”

Sooyeon terdiam. Perkataan Qian benar juga, batinnya.

“Apa aku memang harus kembali padanya, ya?,” tanya Sooyeon—ragu.

“Kau ragu?,” tanya Qian.

Sooyeon mengangguk, “Aku masih ragu dengan Jongin yang sekarang. Mengapa ia tiba-tiba mengejarku setelah menyakitiku?,”

“Karena ia menyesal,” jawab Qian.

“Kau benar. Tapi, hati kecil ku masih ragu,” ucap Sooyeon.

Qian menghela napas berat, “Kalau begitu, biarkan waktu terus berjalan. Kau lihat dulu perkembangannya sekaligus kau mantapkan isi hatimu,” sarannya.

Sooyeon tersenyum, “Kau adalah penyaran terbaik yang pernah ku temui, Qian,” ucapnya.

“Thats me!,” ucap Qian—percaya diri.

>>> 

Yuri melemparkan tasnya ke atas ranjangnya. Hari yang melelahkan, batinnya. Bagaimana tidak lelah? Hari ini ia mendapatkan pekerjaan ekstra selama Sehun tidak ada. Tetapi, untungnya, gajinya menjadi bertambah.

“Tiba-tiba aku merindukan Sooyeon. Kira-kira, dia sedang apa, ya?,” gumam Yuri.

BUKK!!

Yuri tersentak saat mendengar suara keras dari kamar sebelah. Khawatir dengan apa yang terjadi, Yuri pun segera pergi ke kamar sebelah.

“Yoona-ah, kau mau kemana?” tanya Yuri—saat melihat Yoona mengemasi pakaiannya.

“Aku ingin menyusul Jongin oppa ke Beijing!” jawab Yoona.

Yuri membelalakan matanya. Ia tak percaya Yoona senekat ini. Yuri pun segera mengeluarkan pakaian Yoona dari koper.

“Apa yang kau lakukan, eonni?,” tanya Yoona—kesal.

“Kau tidak boleh pergi,” larang Yuri.

“Dan membiarkan Jongin oppa dan Sooyeon eonni tidak jadi bercerai? Tidak akan!,” seru Yoona.

“K-Kau tahu?,” tanya Yuri.

Yoona mengangguk, “Ya, aku sudah tahu semuanya,” jawabnya.

“Yoona-ah, ku mohon jangan rusak hubungan mereka,” pinta Yuri.

“Aku tidak mau, eonni!,” tolak Yoona, “Jongin oppa adalah cinta pertamaku, hidup dan matiku. Aku tidak mau kehilangan dia,” ucapnya.

“Yoona-ah, kau terlalu terobsesi pada Jongin,” ucap Yuri.

“Memang iya. Aku terobsesi dan tergila-gila pada Jongin oppa,” jawab Yoona—seraya kembali mengemasi baju-bajunya.

Yuri mengacak rambutnya prustasi. Saat ini, ia sedang memikirkan cara untuk mencegah kepergian Yoona.

>>> 

Miyoung menekan bel di kediaman Kim Jaejoong. Pintu pun di buka oleh salah satu pelayan di rumah seperti Mansion tersebut.

“Sajangnim, silakan masuk!,”

Miyoung mengangguk seraya masuk ke dalam rumah milik Jaejoong. Ia mendapati Jaejoong sedang menonton TV di ruang tengah.

“Miyoung-ah? Silakan duduk,” ucap Jaejoong.

“Terima kasih,” ucap Miyoung—seraya duduk di sofa nan empuk, “Dimana anakku, tuan Kim?” tanya Miyoung.

“Jongin menghubungiku kemarin. Dia berkata dia dan Sooyeon sedang berlibur ke Beijing.” jawab Jaejoong.

Miyoung hanya ber-oh pelan. Syukurlah jika Sooyeon baik-baik saja, batinnya.

>>> 

Sooyeon dan Luhan sedang makan siang di halaman Luhan. Sebenarnya berempat bersama Jongin dan Sehun. Tapi, keduanya begitu pasif sehingga rasanya hanya ada Sooyeon dan Luhan saja.

“Kenapa kalian berdua diam?,” tanya Luhan.

“Aku hanya mengikuti tradisi eomma,” jawab Sehun.

Luhan terkekeh mendengarnya, “Bagaimana denganmu, Jongin-ssi?,” tanyanya.

“Aku hanya sedang ingin menikmati masakanmu saja,” jawab Jongin—asal. Padahal sedari tadi ia sibuk memandangi Sooyeon. Maka dari itu Sooyeon merasa gelisah.

Selesai makan, Sooyeon meminta ijin untuk ke rumah Qian sebentar. Namun tampaknya Jongin mengikutinya hingga Sooyeon menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang rumah Luhan.

“Berhenti mengikutiku, Jongin-ssi,” pinta Sooyeon.

“Aku hanya ingin kau menjawab pernyataanku kemarin,” ucap Jongin.

Sooyeon menelan salivanya kasar. Ia belum siap untuk menjawab. Bukankah ia berencana untuk melihat dulu dalam waktu yang lama setelah itu mengevaluasinya?

“J-Jongin—”

“Hanya jawab saja. Dan katakan—kau ingin kembali lagi padaku,” pinta Jongin.

“Lebih baik kau pulang, Kim Jongin!” usir Sooyeon.

Jongin mengernyit heran, “Aku berada di depan rumah tempat aku tinggal sementara,” jawabnya.

“Maksudku pulang ke Seoul,” ucap Sooyeon.

“Aku kesini untuk membawamu kembali.” ucap Jongin.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!” ucap Sooyeon.

DEG!

Perkataan Sooyeon bagaikan sengatan listrik baginya. Wajah Jongin tak bisa di artikan. Tampak seperti syok berat pada umumnya.

“J-Jongin~” gumam Sooyeon—takut.

“Ku pegang kata-katamu, eonni,”

Sooyeon dan Jongin menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, pemilik suara itu tak lain adalah Yoona.

“Yoona-ah?,” gumam Jongin—kaget.

Yoona segera merangkul lengan Jongin, “Dia sudah tak mencintaimu lagi, oppa. Percuma mengharapkannya. Yang ada, kau hanya menerima luka,” ucapnya.

“A-Aku hanya—”

“Oppa, ayo kemasi barang-barangmu dan kita pulang,” seru Yoona.

“J-Jongin, tapi—”

Yoona membawa Jongin berjalan masuk ke rumah Luhan. Jongin tampak seperti boneka yang dengan lemah di perintahkan oleh majikannya. Ia menurut apa yang di katakan Yoona. Mungkin ini karena efek syok yang tadi Jongin rasakan.

Mata yang awalnya berkaca-kaca, kini sudah merembeskan kristal-kristal bening. Sooyeon tak bisa mengeluarkan satu kata pun. Berteriak pun tidak bisa. Rasanya ia kehilangan oksigen.

Awalnya hanya ingin mencoba apakah Jongin langsung menyerah begitu saja, ternyata mengefekkan suatu dampak yang besar. Memang, penyesalan selalu datang di akhir.

Hujan pun turun dengan derasnya. Namun, Sooyeon tetap mematung di tempat yang tadi. Hingga seseorang memayunginya di tengah hujan yang deras.

“Apa kau baik-baik saja, noona?,” tanya Luhan.

Namun yang di tanya lagi-lagi tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Kini, Luhan merasa seperti orang yang aneh sedang berbicara dengan patung manequin yang sangat cantik.

To Be Contiuned

 

Chapter 2 selesai. Akhirnya! Lega, deh! Lanjutannya nyusul, ya? Gak tau sih kapan. Tapi di usahain deh!

Don’t forget about review, okay? ^^

Secret Admirer (Chapter 3)


Gambar

Title : Secret Admirer

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • Super Junior’s Kyuhyun as Cho Kyuhyun
  • 2PM’s Nickhun as Nickhun Horvejkul

Support Cast :

  • T-Ara’s Eunjung as Ham Eunjung
  • SNSD’s Tiffany as Tiffany Hwang
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • T-Ara’s Jiyeon as Park Jiyeon
  • 2PM’s Wooyoung as Jang Wooyoung
  • etc

Genre : Fluff, Romance, Angst, Friendship

Length : Series

>>> 

“I like you..,” ucap Nickhun.

Tubuh Jessica menegang mendengarnya. Apa benar Nickhun mengatakan ini? Ini seperti mimpi saja, batinnya.

“Nickhun-ssi~” gumam Jessica.

“A-Aku baru sadar sekarang,” Nickhun menarik napas dalam sejenak, “Setelah belakangan ini aku selalu bersamamu, saat itu perasaanku padamu mulai tumbuh,” ucapnya.

Jessica diam tanpa kata. Ini terlalu mengagetkan baginya. Awalnya ia pikir Nickhun hanya bermain-main padanya, tapi ternyata seorang Nickhun menyatakan cinta kepadanya dengan sangat tulus hingga ia dapat merasakannya.

“T-Tapi, ini masih perasaan suka, Jessica-ssi. Aku belum merasakan cinta sepenuhnya,” ucap Nickhun.

Jessica menggigit bibirnya. Rupanya hanya perasaan suka, batinnya.

Namun, Nickhun spontan menggenggam tangan Jessica. Jessica tentu kaget di buatnya. Jantungnya berdetak kencang saat Nickhun mulai menyentuh tangannya.

“Maka dari itu, bantu aku, Jessica-ssi!,” pinta Nickhun.

Jessica mengernyit heran, “B-Bantu apa?,” tanyanya.

“Bantu aku untuk belajar mencintaimu,” jawab Nickhun—yang sekali lagi membuat jantung Jessica berdetak sangat cepat.

“Seperti Jessica juga mencintaimu saja,”

Jessica dan Nickhun menoleh ke sumber suara. Ia dapat melihat Kyuhyun turun dari atap sekolah.

“K-Kyuhyun-ah?,” gumam Jessica—kaget.

“Apa yang kau lakukan di atas sana?,” tanya Nickhun.

Kyuhyun mendadak grogi. Bagaimana aku bisa sebodoh ini? Seharusnya aku tidak turun, batinnya.

Jessica menutup mulutnya—dengan ekspresi yang sulit di gambarkan. Namun, Kyuhyun yang memiliki IQ tertinggi di sekolah mampu menerjemahkan ekspresi Jessica.

“B-Bukan, Sica-ah!,” seru Kyuhyun, “Aku baru saja naik ke atas!,” tambahnya.

Jessica memicingkan matanya—menatap Kyuhyun curiga.

“Darimana kau tahu apa maksudku? Darimana kau tahu apa tujuanku ke atap sekolah?,” tanya Jessica.

Kyuhyun menjilat bibirnya, “A-Aku menemukan surat itu. Aku membacanya,” jawabnya, “Sudahlah, jangan bertanya lagi!,” pintanya.

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Baiklah~” jawabnya.

“Surat apa yang kau maksud, Kyuhyun-ssi?,” tanya Nickhun.

“Oh, itu surat dari penggem—hmmpp!,”

Jessica dengan cepat membungkam mulut Kyuhyun sebelum Kyuhyun mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Penggem?,” tanya Nickhun—bingung.

“Penggembala sapi!,” jawab Jessica—asal.

Kyuhyun menyingkirkan tangan Jessica dari mulutnya, “Apa-apaan itu penggembala sapi?,” protesnya.

“Sudahlah, Kyuhyun-ah. Hal itu jangan di ungkit lagi,” bisik Jessica.

Kyuhyun menatap Jessica tak percaya. Ia pikir Jessica sudah berubah. Ternyata hal apapun jika di depan Nickhun pasti berubah menjadi yang aneh-aneh.

“Untuk apa penggembala sapi mengirimimu surat?,” tanya Nickhun.

Jessica menggigit bibirnya. Nickhun tampaknya sangat ingin tahu, tapi aku tidak boleh mengatakan ini atau Nickhun akan membatalkan pernyataan cintanya padaku!, pikirnya.

Jessica segera merangkul lengan Nickhun. Tentu saja Nickhun maupun Kyuhyun kaget melihatnya.

“Aku akan membantumu untuk belajar mencintaiku, Nickhun-ssi,” ucap Jessica.

“A-APA?,” teriak Kyuhyun—tak percaya. Bukankah Jessica membenci Nickhun? Mengapa rasa bencinya menghilang secepat ini?, batinnya.

Nickhun tersenyum mendengarnya. Ia mengusap kepala Jessica dengan lembut.

“Mulai hari ini, kau adalah kekasihku. Mengerti?,” seru Nickhun.

Senyuman Jessica merekah saat itu juga. Dengan cepat, ia menganggukkan kepalanya. Nickhun pun membawanya pergi dari tempat itu.

Sedangkan Kyuhyun masih mematung di anak tangga.

“Mereka berpacaran?,” gumam Kyuhyun—syok.

>>> 

“APA?!!,” teriak Taeyeon dan Tiffany—syok.

Kyuhyun mengangguk lemas.

Tiffany melempar boneka beruangnya ke arah Kyuhyun.

“Hei! Sakit, Fany-ah,” ringis Kyuhyun.

“Kau adalah lelaki terbodoh yang pernah ku temui, Kyuhyun-ah!,” omel Tiffany.

“Fany-ah, Kyuhyun itu siswa terpintar di sekolah. Kenapa kau sebut bodoh?,” protes Taeyeon.

“Tentu saja. Sudah jelas dia mencintai Jessica. Tapi, dia hanya diam saja tanpa mencegah terbentuknya hubungan KhunSica. Bukankah itu bodoh namanya?,” seru Tiffany—emosi.

“Kau pikir mencegah hal itu mudah, Fany-ah? Kau tidak berada di posisiku. Ini semua sangat sulit!,” ucap Kyuhyun.

“Seharusnya kau katakan saja yang sebenarnya kalau kau adalah penggemar rahasianya. Lagipula untuk apa menjadi penggemar rahasia? Kenapa tidak langsung nyatakan saja? Dasar pengecut!,” seru Tiffany.

Kyuhyun membeku mendengar kalimat terakhir dari Tiffany. Hal itu membuat Tiffany merasa tidak enak.

“Kyuhyun-ah, apa kau baik-baik saja?,” tanya Taeyeon.

“Kyuhyun-ah, maafkan aku. Aku—”

“Tidak apa, Fany-ah,” potong Kyuhyun cepat, “Kau benar. Aku seorang pengecut. Aku tak berani menyatakan perasaanku pada Jessica. Harusnya aku menyatakannya,” ucapnya.

“Menyatakan apa?,”

Kyuhyun, Tiffany dan Taeyeon menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Jessica—yang berdiri tepat di depan pintu kamar Tiffany yang terbuka.

“Jessie, sejak kapan?,” tanya Tiffany—kaget.

“Baru saja. Ibumu menyuruhku langsung ke kamarmu,” jawab Jessica.

“Ngg—mari masuk, Sica-ah,” seru Taeyeon.

Jessica mengangguk seraya berjalan masuk ke dalam kamar Tiffany. Ia pun duduk di atas ranjang tepat di antara Kyuhyun dan Taeyeon.

“Kau ingin menyatakan apa, Kyuhyun-ah? Kepada siapa?,” tanya Jessica.

Kyuhyun menelan salivanya kasar. Ia memandang Tiffany yang menatap tajam ke arahnya. Apa harus aku mengungkapkannya sekarang?, batinnya.

“Aku ingin menyatakan bahwa—aku akan mengikuti olimpiade matematika di U.S!,” jawab Kyuhyun—yang reflek membuat ketiga sahabatnya kaget.

“Ke U.S? Kapan?,” tanya Taeyeon.

“Kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya? Bukankah kau paling akrab denganku?,” tanya Tiffany—kesal.

“Aku ingin mengumpulkan kalian semua dulu,” jawab Kyuhyun.

“Congratulations, Kyuhyun-ah. Semoga kau bisa menjadi juara pertama,” seru Jessica.

Kyuhyun mengangguk—sambil memamerkan senyuman khasnya. Untung saja aku memang ikut olimpiade. Dan untunglah ini bisa menjadi alasanku, batinnya—lega.

“Kapan kau pergi?,” tanya Taeyeon.

“Minggu depan,” jawab Kyuhyun.

“Berapa lama?,” tanya Jessica.

“Hanya satu minggu,” jawab Kyuhyun.

“Kami akan sangat merindukanmu, Kyuhyun-ah,” ucap Tiffany—di ikuti anggukan Jessica dan Taeyeon.

“Tenang saja. Kita akan saling mengirim email,” ucap Kyuhyun.

Tiba-tiba, ponsel Jessica berdering. Jessica segera meraih ponsel di tasnya. Ia segera mengecek pesan masuk.

Ketiga sahabatnya menatap Jessica sedikit bingung. Jessica menjadi senyam-senyum sendiri.

“Ada apa, Jessie?,” tanya Tiffany.

“Nickhun mengajakku berkencan,” jawab Jessica.

“Kau dan Nickhun—berpacaran?,” tanya Taeyeon—berpura-pura tidak tahu.

Jessica mengangguk, “Nanti akan ku ceritakan,” ucapnya, “Aku pergi dulu, ya? Sampai jumpa!,” pamitnya.

“Sampai jumpa,” balas Taeyeon.

“Take care, Jessie. Have a nice date!,” seru Tiffany.

“Thanks,” ucap Jessica—lalu segera pergi.

Kyuhyun menundukkan kepalanya. Lagi, Jessica berhasil mengiris luka di hati Kyuhyun.

“Salahmu karena tak mengungkapkannya,” ucap Tiffany.

“A-Aku hanya belum siap, Fany-ah,” jawab Kyuhyun.

Taeyeon tersenyum, “Kami mengerti, Kyuhyun-ah. Tapi, kau jangan diam saja. Jika perlu, kirimlah lagi surat seperti biasa,” ucapnya.

Kyuhyun menggeleng, “Percuma saja, Taeyeon-ah. Jessica sudah tak peduli lagi pada sang penggemar rahasia,” jawabnya.

>>> 

Jessica dan Nickhun berada di sebuah kedai es krim yang terletak di kawasan Gangnam. Mereka menikmati es krim perpaduan strawberry bercampur chocolatte crispy dan vanilla.

“Cuaca yang cerah sangat pas sebagai latar kencan hari ini,” ucap Nickhun.

Jessica tersenyum manis, “Es krim dengan perpaduan tiga rasa membuat kencan hari ini menjadi campur aduk seperti apa yang ku rasakan saat ini,” ucapnya.

Nickhun tertawa renyah, “Sejak kapan kau pintar berkata-kata?,” tanyanya.

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Aku hanya tidak ingin kalah darimu,” jawabnya.

Di sisi lain, ada dua wanita yang berpakaian seperti seorang artis dengan penyamaran lengkap—memperhatikan pasangan yang di sebut KhunSica dengan diam-diam.

“Mereka tampak bahagia,”

“Jiyeon-ah, jangan membuat hatiku semakin hancur,” pinta Eunjung—sakit hati.

“Aku hanya berkata jujur,” jawab Jiyeon—polos.

Eunjung menatap Jessica murka, “Aku takkan melepaskanmu, Jessica-ssi. Kau takkan bisa bersama Nickhun lagi. Akan ku pastikan itu!,” geramnya.

“Astaga! Mereka bersuap-suapan!,” seru Jiyeon, “Manis sekali~” tambahnya.

“Jiyeon-ah!!,” geram Eunjung—kesal.

>>> 

Nickhun memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Jessica. Jessica segera melepas sabuk pengamannya.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang, Nickhun-ah,” ucap Jessica.

“Itu sudah menjadi tugasku,” jawab Nickhun.

Jessica terkekeh pelan, “Aku masuk, ya?,” pamitnya.

Nickhun mengangguk, “Good night, dear!,” ucapnya—seraya mengusap kepala Jessica.

Pipi Jessica bersemu merah. Ia hanya mengangguk dan segera keluar dari mobil Nickhun.

Jessica melambaikan tangannya hingga mobil Nickhun pergi. Ia segera melangkah masuk ke dalam gerbang rumahnya. Saat sudah berada di depan pintu rumah, matanya menangkap sebuah amplop berwarna merah jambu.

“From your secret admirer?,” gumam Jessica—sambil tersenyum.

KREKKK!!!

Jessica kaget saat pintu tiba-tiba terbuka. Sangking kagetnya, amplop yang ada di tangannya terjatuh.

“Eonni, kenapa baru pulang?,” tanya Krystal.

“Ngg—maafkan aku, Kryssie,” ucap Jessica.

“Ayo cepat masuk. Masakan ku nanti dingin,” ucap Krystal.

“Baiklah~” jawab Jessica—lalu masuk bersama adik kesayangannya itu.

30 detik kemudian, seorang pria meraih amplop merah jambu yang tergeletak di teras rumah Jessica. Ia meremas amplop tersebut.

“Dugaanku benar. Jessica sudah tidak peduli lagi pada penggemar rahasianya,” gumam pria itu—lalu segera pergi.

Setelah kepergian pria itu, pintu rumah Jessica terbuka. Dan orang yang membukanya tak lain adalah Jessica.

“Rasanya tadi amplop itu terjatuh di teras,” gumam Jessica, “Tapi, kenapa sekarang sudah tidak ada, ya?,”

“EONNI, MAKANANMU BELUM KAU HABISKAN!,” teriak Krystal—dari dalam.

“Iya, Kryssie!,” jawab Jessica—setengah berteriak. Ia mengangkat bahunya lalu masuk kembali ke rumahnya.

>>> 

“Jadi, kau dan Jessica berpacaran?,” tanya Wooyoung.

Nickhun mengangguk, “Ya, begitulah,” jawabnya.

“Ku pikir kau masih mencintai Eunjung,” ucap Wooyoung.

“Jangan membahas wanita itu. Aku muak melihat maupun mendengar namanya,” seru Nickhun—kesal.

Wooyoung mengangguk, “Rupanya prince of Thailand sudah move on, ya?,” godanya.

Nickhun terkekeh pelan, “Aku sudah move on. Sudah lama, Wooyoung-ah,” jawabnya.

“Baguslah!,” ucap Wooyoung, “Itu artinya aku bisa mendekati Eunjung,” ucapnya.

“Dekati saja dia. Aku sudah tidak peduli lagi padanya,” ucap Nickhun.

Tiba-tiba, Eunjung datang dan memeluk Nickhun dari belakang.

“Good morning, my handsome prince!,” seru Eunjung.

“Hei! Lepaskan aku!,” gerutu Nickhun.

“Tidak mau!,” tolak Eunjung—seraya mempererat pelukannya pada Nickhun.

“Nickhun-ah~”

Nickhun, Wooyoung dan Eunjung menoleh ke sumber suara. Mereka menangkap Jessica yang berdiri di sudut kantin.

“J-Jessica—”

Jessica segera berlari keluar dari kantin. Sedangkan Eunjung tersenyum penuh kemenangan.

“LEPASKAN AKU!!,” teriak Nickhun—murka.

Eunjung pun melepaskan pelukannya pada Nickhun. Nickhun segera berlari mengejar Jessica.

>>> 

Jessica duduk di atap sekolah. Ia menangis sangat keras dan kencang. Seragamnya sudah basah pada bagian atas karena di banjiri oleh air matanya.

“Hei, idiot!,”

Jessica menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Kyuhyun. Ia sempat kaget saat Kyuhyun menyebutnya idiot. Tapi, untuk saat ini ia tidak bisa marah pada Kyuhyun.

Kyuhyun segera menghampiri Jessica dan duduk di sampingnya.

“Bukankah kau bilang kau menyesal percaya pada Nickhun?,” tanya Kyuhyun.

Jessica menoleh ke arah Kyuhyun.

“Sifat seseorang tidak akan bisa berubah. Memang bisa berubah, tapi membutuhkan waktu yang lama. Apa kau mengerti maksudku?,” tanya Kyuhyun—seraya menatap lurus ke depan.

Jessica ikut menatap lurus ke depan, “Mengapa kau selalu hadir di sampingku setiap Nickhun menyakitiku?,” tanyanya.

Kyuhyun tersenyum, “Bukankah aku sangat berguna untukmu? Makanya, jangan pernah kau siakan benda terindah di dalam hidupmu atau kau akan kehilangan benda itu untuk selama-lamanya,” ucapnya—lalu berdiri.

Jessica membeku mendengarnya.

“Ku rasa bel masuk telah berbunyi. Jika kau masih ingin disini, aku akan mengijinkanmu pada Ahn songsaenim,” ucap Kyuhyun—lalu pergi.

Jessica terus memikirkan perkataan Kyuhyun. Ia merasakan ada pesan yang ingin di sampaikan Kyuhyun kepadanya. Tapi, seorang Jessica yang tak terlalu pandai kurang bisa menangkap makna tersebut.

“Jangan pernah kau siakan benda terindah di dalam hidupmu atau kau akan kehilangan benda itu untuk selama-lamanya?,” gumam Jessica pelan.

To Be Contiuned

 

Holaa! I’m back! Pasti banyak yang nungguin kelanjutan FF ini, kan? Nih, aku lanjutin. Dan sorry model tulisannya aku ganti. Mungkin kalo modelnya kayak gini, feelnya lebih dapet. Karena jujur, setelah baca chapter 1 dan 2, rasanya pengen ngedelete tuh FF. Gaje banget tulisannya. Maklum lah tuh tulisan udah berapa tahun yang lalu. Waktu itu saya masih gaje bikin FF.

 

Review, please ^^

Who I Love? (Chapter 1)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
– SNSD’s Jessica as Jessica Jung
– EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
– EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan
– EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol

Support Cast :
– SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
– SNSD’s YoonA as Im Yoona
– EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
– SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
– EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok

Genre : Fluff, Romance, School Life, Comedy

Length : Series

Note : Terinspirasi dari anime favorit saya, Kamichama Karin. Enjoy!

>>>

Disinilah aku tinggal, bersama dengan dua orang yang seumuran denganku. Mereka adalah orang asing yang kini menjadi akrab denganku. Aku tinggal bersama mereka sudah lima bulan lamanya setelah kematian kedua Orangtuaku.

Namaku Jessica Jung. Biasa di panggil Jessica atau Sica. Aku lahir di U.S dan tumbuh besar di Seoul, Korea Selatan. Di hari ulang tahunku beberapa bulan yang lalu, aku dan kedua Orangtuaku merayakannya di sebuah Fila yang terletak di pulau Jeju. Namun, setelah kami pulang menuju Seoul, kecelakaan menimpa kami. Kedua Orangtuaku tewas dan aku terluka kecil.

Setelah kejadian itu, aku menjadi prustasi. Rumahku di sita karena hutang Ayahku yang belum terlunasi. Aku tak tahu lagi harus tinggal dimana. Bahkan aku di usir dari sekolah karena tak punya biaya untuk pembayaran di sekolah.

Hampir saja aku mati karena bunuh diri jika tidak ada dua orang asing yang mencegatku.

“BERHENTI!!”

Aku menoleh ke sumber suara. Disana ada dua orang asing, yang satu lelaki dan yang satunya lagi perempuan.

“APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH?” teriak lelaki asing itu.

Seenaknya saja memanggilku bodoh. Memangnya dia siapa?

“NAMAKU BUKAN BODOH!!” balasku berteriak.

“Apa yang kau lakukan itu bukan tindakan bodoh? Kau pikir apa yang kau lakukan itu benar?” omelnya.

Kenapa dia mengomeliku? Dia pikir dia itu Ibuku?

“Hentikan, Sehun-ah. Jangan bertindak kasar padanya.” seru perempuan itu—kepada lelaki itu.

Rasakan itu!

“Lebih baik kalian pergi. Jika kalian disini, polisi akan mengira kalian sebagai tersangka.” ucapku—menakuti mereka.

“Dan membiarkanmu melompat ke sungai sana? Tidak akan.” ucap perempuan itu.

Aku tertegun mendengar pernyataannya. Dia berbicara dengan mimik wajah yang serius. Memangnya aku ini temannya? Tidak seharusnya bukan dia peduli padaku?

“Kau tak tahu apa yang ku alami.” ucapku.

“Maka dari itu, kau harus memberitahu kami.” ucap lelaki itu.

Aku mendesah. Memangnya mereka bisa di percaya? Memangnya dengan memberitahu mereka, aku bisa keluar dari permasalahan ini?

“Percayalah pada kami. Kami akan membantumu.” ucap perempuan itu—terkesan hangat.

Kini, mereka berdua lah yang merawatku, menjagaku, dan melindungiku. Mereka adalah dua saudara sepupu yang baik. Yang lelaki bernama Sehun, dan yang perempuan bernama Seohyun. Seohyun yang memiliki paras cantik, berhati seperti malaikat dan pintar—sedangkan Sehun yang sedikit tampan namun sering bertindak kasar dan menyebalkan, tetapi terkadang dia baik, tapi besoknya pasti dia jahat lagi. Huft!

Aku tinggal bertiga bersama mereka. Hanya bertiga, di sebuah rumah yang lumayan besar. Bahkan sekarang aku sekolah di sekolah bergengsi di Korea Selatan, yaitu Performing Art School. Aku tidak mengerti. Mengapa Sehun dan Seohyun dapat hidup dengan kemewahan tetapi mereka tak bersama Orangtua mereka? Sedangkan aku, di tinggal Orangtuaku menjadi terpuruk.

“Sica-ya?”

Aku tersentak saat Seohyun memanggil namaku. Aku tersenyum kecut karenanya. Ternyata sedari tadi aku melamun. Bahkan sarapanku belum ku habiskan.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Sica-ya?”

Aku menggeleng pelan di selingi senyuman tipis,
“Tidak ada yang ku pikirkan, Seohyun-ya.” jawabku.

“Cepat habiskan sarapanmu. Aku tidak mau terlambat karenamu.” sahut Sehun—dengan nada yang ketus.

Menyebalkan!

“Sehun-ah~” rujuk Seohyun.

Sehun tampak mendesah,
“Aku tak bisa bersikap baik pada orang yang tak mau mengikuti perintahku, Seohyun-ah.”

Aku mengutuki Sehun di dalam hatiku. Ah, dia sangat menyebalkan.

>>>

“SELAMAT PAGI, OH FAMILY!” teriak Baekhyun dan Taeyeon—dua teman baikku, juga Seohyun dan Sehun.

“Selamat pagi~” balas kami kompak.

“SELAMAT PAGI, JUNG-YA!” teriak Chanyeol—teman teraneh yang pernah ku temui.

“Sudah ku katakan berkali-kali, jangan memanggilku seperti itu.” protesku.

Chanyeol tak menjawab, melainkan memelukku erat. Aku tak merasa gugup atau apalah, karena Chanyeol memang sering memelukku seperti ini. Pelukannya sama dengan Ayahku.

“Aku sangat merindukanmu, Jung-ya. Liburan semester sangat menyiksaku.” ucapnya—yang membuatku memutar bola mataku.

“Rupanya Chanyeol sangat merindukan Jessica, ya?” seru Taeyeon.

“Tentu saja. Jessica adalah kekasihku.” ucap Chanyeol.

BUKK!!

Chanyeol mendadak kesakitan akibat pukulanku yang mendarat di perutnya. Rasakan itu! Seenaknya saja menganggapku kekasihnya. Memangnya aku ini boneka?

“Jung-ya, kau jahat sekali.” ucap Chanyeol.

“Jangan sembarangan menyebutku sebagai kekasihmu.” ucapku kesal.

Chanyeol terkekeh pelan,
“Maaf. Aku kan hanya bercanda.”

Aku memutar bola mataku. Chanyeol dan Sehun sama menyebalkannya.

>>>

Aku sedang duduk di sebuah kursi panjang di taman sekolah. Aku sedang sendirian sambil membaca buku pelajaran. Nilai matematikaku merah, sehingga aku harus remedial. Sungguh enaknya menjadi Seohyun maupun Sehun. Mereka di berkahi otak yang cerdas. Sedangkan aku, seringkali di bodohi. Miris sekali nasibku ini.

“Jessica-ssi?”

Aku mengangkat kepalaku— mencari sumber suara.

“Luhan sunbaenim?”

Ternyata orang yang memanggilku adalah Luhan sunbae. Dia adalah sunbae terbaik yang pernah ku temui. Dia itu tampan, manis, cantik juga, ramah, dan suka menolong. Aku sangat mengidolakannya!

“Boleh aku duduk di sampingmu?” pintanya.

“Oh, tentu saja, sunbae!” jawabku.

Luhan sunbae tersenyum manis, sangat manis! Kemudian, dia duduk di sampingku. Aku harap dia tak mendengar suara jantungku yang berdegup kencang.

“Membaca buku, ya?” tanyanya.

“I-Iya.” jawabku—gugup.

Payah!

“Kau harus semangat, Jessica-ssi.” seru Luhan sunbae—menyemangatiku.

Aku tak dapat menutupi senyuman ku. Ia juga membalas senyuman ku. Aku yakin, senyumanku kalah manis dengan senyumannya.

“Jessica-ssi, di kepalamu ada daun!”

Ah, benarkah?

Aku pun berusaha mencari daun tersebut di kepala ku. Nihil! Usaha ku tak berhasil. Hingga Luhan sunbae lah yang mengambil daun itu di kepala ku.

DEG!

Jantung ku berdetak sangat cepat. Ada apa ini? Jangan sampai Luhan sunbae mendengarnya.

“Sekarang kau sudah terlihat cantik.”

Pipi ku memanas. Pasti sekarang wajah ku memerah.

“Apa yang terjadi, Jessica-ssi? Kau sakit?” tanya Luhan sunbae.

Aku menggeleng cepat,
“Aku baik-baik saja, sunbae.”

Aku bangkit dan membungkuk 90˚ kepada Luhan sunbae. Setelah itu, aku segera berlari dari tempat tersebut. Yang benar saja, mana mungkin aku bisa bertahan berada di dekat Luhan sunbae. Bisa-bisa aku menjadi kepiting rebus nantinya.

>>>

Aku duduk di meja makan dengan anggota tubuh yang melemah. Bagaimana tidak, aku baru saja melakukan kegagalan kembali dalam memasak. Belut gosong? Makanan macam apa itu?

“Aku tidak mau makan! Sudah ku katakan berkali-kali, biar Seohyun saja yang memasak.” omel Sehun—padaku.

“Aku minta maaf. Aku hanya merasa tidak enak jika aku tinggal disini tapi aku tidak bekerja.” ucapku.

“Tidak, Sica-ya. Kau adalah keluarga kami. Jadi, jangan sungkan.” ucap Seohyun.

Huft! Seohyun sangat ramah dan berhati seperti malaikat. Sedangkan Sehun? Like devil.

“Jangan sering memanjakan dia, Seohyun-ah.”

Apa-apaan Sehun itu? Dia tidak suka Seohyun baik padaku? Keterlaluan!

“Aku akan buatkan sarapan baru. Untung saja hari ini hari minggu. Jadi, kita tidak perlu takut terlambat.” ucap Seohyun.

“Baiklah.” jawabku dan Sehun bersamaan.

Apa-apaan dia itu?

“Kalian kompak sekali. Kata Nenek, jika laki-laki dan perempuan kompak, berarti jodoh.” seru Seohyun.

APA??!!

“TIDAK MAU!!!!” teriakku dan Sehun bersamaan—lagi.

“Berhenti mengikuti kata-kataku!” omelku.

“Siapa yang mengikutimu? Kau yang mengikutiku!” balasnya.

“KAU!” teriakku.

“KAU!” balasnya.

“HENTIKAN!!”

Aku dan Sehun berhenti saat Seohyun berteriak. Aku tidak menyangka Seohyun bisa berteriak seperti ini.

“JUNG-YA!!!”

Aku menoleh ke sumber suara. Panggilan itu—pasti Chanyeol.

“Bagaimana kau bisa masuk, Chanyeol-ssi?” tanya Sehun.

“Pintu kalian terbuka lebar. Jadi, aku masuk saja.” jawab Chanyeol.

“Pasti kau yang membukanya, Jessica-ssi!” omel Sehun.

“Apa? Bukankah kau yang meminta ku untuk membuka pintu?” tanyaku.

“Tapi tidak usah lebar.”

“Salahmu tidak jelas dalam memintaku!” balasku.

“Jangan bertengkar lagi~” pinta Seohyun.

“Sepertinya mood mu sedang tidak baik, Jung-ya. Padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan.” ucap Chanyeol.

Chanyeol ingin mengajakku jalan-jalan? Kesempatan yang bagus untuk menjauhi iblis itu.

“Chanyeol-ah, aku mau kok!” jawabku.

“Apa benar?” tanya Chanyeol.

Aku mengangguk bersemangat.

“Apa boleh aku dan Sehun juga ikut?” tanya Seohyun.

A-APA? Mereka ingin ikut?

“Boleh saja.” jawab Chanyeol.

Tamatlah riwayatku!

“Aku malas, Seohyun-ah. Lebih baik tidur.” ucap Sehun.

Bagus, Sehun-ssi! Alasan yang sangat bagus.

“Kalau begitu, aku tidak mau membuatkan sarapan.” seru Seohyun.

“T-Tidak! Baiklah aku ikut.”

Huft! Gagal rencana ku untuk menjauhi Sehun.

>>>

Sekarang aku, Chanyeol, Seohyun dan iblis itu sedang duduk di sebuah kedai es krim. Kami menikmati es krim setelah menaiki wahana di Lotte World. Ternyata menyenangkan juga bersama Chanyeol. Terkadang Chanyeol terlihat seperti teman, dan terkadang seperti musuh. Entahlah~

“Bagaimana perasaanmu, Jung-ya? Apakah mood mu sudah membaik?” tanya Chanyeol.

“Sangat baik, Chanyeol-ah. Terima kasih. Aku belum pernah sebelumnya ke Lotte World bersama teman-teman. Biasanya aku kemari bersama Orangtuaku.” jawabku.

“Sica-ya~” lirih Seohyun.

Aku tahu, Seohyun pasti selalu merasa prihatin jika aku membicarakan tentang Orangtuaku. Dia selalu saja berinisiatif untuk melindungiku. Ya, itulah Seohyun!

“Tidak apa, Seohyun-ya.” ucapku.

“Es krim milikmu sepertinya enak.” ucap Chanyeol.

“Tentu saja.” jawabku.

Tanpa ku sangka, Chanyeol menjilat es krim milikku. Setelah itu dia tersenyum tulus. Tulus sekali. Tak pernah ku lihat Chanyeol seperti ini sebelumnya.

“Jangan memandangiku seperti itu, Jung-ya. Nanti kau jatuh cinta padaku.” ucapnya.

PLETAKK!!

Chanyeol mengusap kepalanya sambil meringis. Inilah yang sering ku lakukan pada Chanyeol jika dia berbicara yang aneh-aneh.

“Jung-ya, kau tega sekali.”

“Biar saja.” balasku—kesal.

“Kalian seperti Ibu dan anak, ya?” seru Seohyun.

Aku mengernyitkan keningku,
“A-Apa?”

“Sica selalu memukul dan menjitak Chanyeol jika Chanyeol melakukan kesalahan. Tepat seperti Ibu yang menghukum anaknya. Lucu sekali~”

Aku melihat Seohyun tertawa. Melihatnya, aku menjadi senang. Entahlah, rasanya nyaman sekali jika melihat Seohyun bahagia.

“Bukan seperti Ibu dan anak, tetapi seperti majikan dan pembantunya.”

Aku melirik Sehun dengan tatapan sinisku. Huft, dia selalu saja merusak suasana. Pikirannya selalu saja tidak bermutu.

“Jessica-ssi~”

Aku dan ketiga temanku—menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, itu kan Luhan sunbaenim bersama saudara sepupunya yang juga senior kami, Minseok sunbaenim.

“Annyeonghaseyo, sunbaenim!” sapaku—riang.

“Annyeonghaseo, sunbaenim!” sapa Seohyun dan Chanyeol pada Luhan dan Minseok sunbaenim. Sedangkan Sehun tampak asyik dengan PSP miliknya. Tidak sopan!

“Kalian sedang makan es krim, ya?” tanya Luhan sunbae.

“Seperti yang kau lihat, sunbae.” jawabku.

“Boleh kami bergabung disini?” pintanya.

“Kita bisa duduk di tempat lain, Luhan-ah.” seru Minseok sunbae.

“Aku yakin jika bersama mereka lebih menyenangkan, hyung.” ucap Luhan sunbae, “Jadi, bagaimana?”

Aku menggaruk kepalaku. Boleh saja, tapi aku tidak tahu dengan yang lain.

“Boleh kok.” jawab Seohyun.

“Lebih banyak lebih menyenangkan.” tambah Chanyeol.

Aku tersenyum senang. Ternyata mereka satu pikiran denganku.

“Maaf!”

Aku dan yang lainnya menoleh ke sumber suara. Suara itu berasal dari Sehun. Mau apa lagi dia?

“Aku memiliki kesibukan. Aku harus pergi.” katanya.

“Mendadak sekali, Sehun-ah.” ucap Chanyeol.

“Ini penting, Chanyeol-ssi.” jawab Sehun.

“Ya sudah, pergi saja.” ucapku.

Aku baru sadar kini aku menjadi objek perhatian teman-teman, termasuk Sehun sedang menatapku tajam. Apa aku salah bicara?

“Aku ikut, ya?” ucap Seohyun—pada Sehun.

“Terserahmu saja, Seohyun-ah.” jawab Sehun.

“Seohyun-ya~” lirihku.

Seohyun tersenyum padaku,
“Kami pergi dulu, ya?” pamitnya.

“Hati-hati, ya.” seru Chanyeol.

“Aku titip Sica, Chanyeol-ssi.” ucap Seohyun.

“Tenang saja. Sica tidak akan terluka jika bersamaku.” ucap Chanyeol.

Aku melirik Chanyeol sinis.

Sehun dan Seohyun pun pergi. Sementara itu, Luhan dan Minseok sunbaenim duduk menggantikan posisi Sehun dan Seohyun.

“Apa kalian tadi sedang kencan ganda?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan dari Luhan sunbae. Kencan ganda? Siapa yang kencan ganda?

“Tentu saja. Sehun bersama Seohyun, dan aku bersama Jessica.” jawab Chanyeol.

Untung saja ada Luhan sunbae. Jika tidak, aku akan membunuhmu hidup-hidup, Chanyeol-ah!

>>>

“Aku pulang!” seruku.

Tiba-tiba, aku melihat Sehun keluar dari kamarnya.

“Kau pulang larut sekali.” katanya.

Aku menggembungkan pipiku,
“Kenapa? Bukankah kau senang jika aku tidak ada di rumah?”

“Selamat, ya? Kau pasti sangat puas bisa berkencan dengan Luhan.” ucap Sehun—lalu masuk kembali ke kamarnya.

Aku membeku di tempat. Mengapa kali ini nada bicara Sehun terdengar aneh? Seperti sangat marah namun berusaha untuk di sembunyikan. Atau ini hanya perasaanku saja? Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Mana mungkin Sehun marah hanya karena aku berkencan dengan Luhan sunbae. Lagipula, siapa yang berkencan? Yang ada, aku selalu bersama Chanyeol.

To Be Contiuned

Ayo! Di koment yang banyak! Kalo dikit, saya gak lanjutin loh!

(Drabble) Time Control


Gambar

Time Control

Kris – Jessica – Suho

 

Kris memegang dadanya yang terasa perih. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia akui, ini yang pertama kalinya ia menangis. Maksudnya menangis karena cinta.

Ia sadar, bahwa ia tidak sempurna. Jika waktu dapat berputar, ia ingin melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan sebelumnya.

“Kris, ada apa ingin menemuiku? Bukankah kau ada jam kelas hari ini?” tanya seorang wanita yang lebih tua satu tahun darinya.

 

“Jessica noona, sebelumnya aku minta maaf. Aku harus mengatakan ini.” ucap Kris tegas.

 

Jessica mengerutkan keningnya,

“Mengatakan apa?”

 

Kris menghela nafas berat,

“Kita akhiri hubungan konyol ini.”

 

Mata Jessica membesar,

“Akhiri?”

“Kita bertemu karena kencan buta. Tak ada rasa cinta maupun sayang di antara kita. Meskipun kita sudah menjalani hubungan ini selama satu bulan, tapi aku tak merasa adanya rasa cinta. Maaf!”

 

Jessica tersenyum pahit,

“Tidak apa-apa, Kris. Kau benar. Selama ini kita hanya berkencan dalam diam, makan dalam diam, semuanya kita lalui dalam diam. Aku rasa, keputusanmu adalah yang terbaik. Aku setuju jika kita akhiri hubungan ini.” jawabnya.

 

Kris mengangguk,

“Ku antar pulang, ya?”

 

Jessica menggeleng,

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” jawabnya.

 

Kris mengacak-acak rambutnya prustasi. Kenapa ia baru merasakan sakit sekarang?

“Kris, hubunganmu dengan Jessica noona sudah berakhir?” tanya Suho.

 

“Sudah sejak satu bulan yang lalu.” jawab Kris.

 

“Kenapa kalian mengakhiri hubungan kalian?” tanya Suho.

 

“Tak ada perasaan cinta di antara kami.” jawab Kris.

 

Suho menggeleng,

“Mungkin itu kau, Tapi tidak dengan Jessica noona.”

 

Kris memandang Suho,

“Maksudmu?”

 

Suho beranjak berdiri,

“Jessica noona selalu menangis sepanjang malam. Bahkan aku pernah menemukannya sedang tertidur dengan mata yang bengkak sambil memeluk fotomu.”

 

Kris terdiam. Mungkinkah?, batinnya.

 

Kris merasa waktunya terhenti. Ia merasakan sesak didadanya. Bagaikan kiamat tiba, suasana terasa hampa. Ia merasakan tak ada oksigen yang dapat ia hirup, dan tak ada karbon dioksida yang dapat ia keluarkan. Seorang wanita berhasil membuatnya ingin mati.

“Penyesalan selalu datang belakangan, Kris.”

 

“Maafkan aku, Jessica noona. Aku sadar. Aku tak bisa hidup tanpamu.” ucap Kris dengan raut wajah sedihnya.

 

“Aku juga merasakannya. Tapi.. kau sudah terlambat.”

 

Kris membelalakan matanya,

“T-Terlambat?”

 

Jessica memperlihatkan cincin di jari manisnya,

“Aku sudah bertunangan.”

 

Kris merasakan sesak yang amat dalam di dadanya.

 

“D-Dengan siapa?”

 

“Temanmu.. Kim Su Ho.”

 

“Maafkan aku, Kris.”

Kris menoleh ke sumber suara. Ia segera menghapus air matanya.

“Ada apa kau kemari?” tanya Kris dingin.

“Maaf. Aku harus jujur padamu kalau aku juga mencintai Jessica noona. Aku tak tahan melihatnya terus menangisimu, Kris.” jawab Suho.

Kris beranjak berdiri,

“Aku takkan melepaskannya. Dia milikku dan dia adalah pengatur waktuku.” ucapnya lalu pergi meninggalkan Suho sendirian.

“Dia juga pengatur waktu ku, Kris. Tanpanya hidupku terasa hampa.” gumam Suho.

 >>>

Jangan lupa ninggalin jejak!

Still (Chapter 1)


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • etc

Genre : Romance, Family, Angst, Friendship

Length : Series

Note : FF ini merupakan sekuel dari FF dua versi (Wife’s Not Considered dan I Love You, But I Hate You). Enjoy!

>>> 

Yuri melempar ponselnya ke atas ranjangnya. Tubuhnya yang mulai melemas memaksakan dirinya untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya. Apalagi yang membuatnya seperti ini?

“Sooyeon-ah—gadis itu benar-benar!” gerutu Yuri—prustasi.

Yuri baru saja mendapatkan pesan dari Sooyeon yang mengabarkan bahwa ia telah pergi ke Beijing dan akan bercerai dengan Jongin. Ini sungguh di luar kepala Yuri. Yuri tahu Sooyeon tidak akan pernah mau bercerai dengan Jongin, karena Sooyeon pernah bilang bahwa ia akan bertahan. Tapi, nyatanya?

“Eonni~”

Yuri tersentak saat sadar bahwa seseorang telah duduk di sampingnya. Mungkin karena terlalu prustasi berefek ia tak sadar jika sepupunya sudah ada di sampingnya.

“Apa kau sudah puas, Yoona-ah?” tanya Yuri.

Yoona mengernyit heran, “Apa maksudmu, eonni? Aku tidak mengerti.” balasnya.

“Tidak mengerti, katamu?” tanya Yuri—murka.

Yoona menatap Yuri sedikit takut.

“Kau sudah menghancurkan rumah tangga orang lain, Yoona-ah!” bentak Yuri.

Yoona mengerjap—kaget, “Aku tidak mengerti!” ucapnya.

“Sooyeon bukan pembantu Jongin, melainkan istri Jongin!”

Yoona merasa dirinya seperti tersengat listrik. Tangannya menutup mulutnya yang mulai mengeluarkan isakan tangis. Air matanya tak mau kalah—merembes begitu saja. Namun, kepalanya terus menggeleng mengikuti kata hatinya.

“Jongin oppa belum menikah. Dia akan menikahiku akhir tahun ini. Eonni pasti berbohong!” seru Yoona—di selingi isak tangisnya.

“Sayangnya aku berkata jujur, Yoona-ah.” ucap Yuri.

Yoona mengusap air matanya. Ia segera bangkit dan melemparkan tatapan tajamnya pada Yuri.

“Kalau begitu, aku akan membuat hubungan mereka semakin hancur!” tekadnya—lalu segera pergi.

“Tidak, Yoona-ah!” seru Yuri—namun tak di hiraukan Yoona, “Kau tidak boleh melakukan ini, Yoona-ah!”

>>> 

Seorang pria berpakaian rapi—berdiri di depan sebuah rumah besar sejak tadi. Ia sudah menekan bel berpuluh kali, tapi tak ada jawaban. Akhirnya, pria itu memutuskan untuk menghubungi seseorang.

“Nyonya Jung, sepertinya tuan Kim tidak ada di rumah. Apa yang harus saya lakukan?”

“Letakkan surat-surat tersebut di kotak surat di samping pintu. Dia akan membacanya sendiri.”

“Baiklah, akan saya lakukan.”

“Ya, terima kasih.” ucap Sooyeon—lalu mematikan ponselnya.

“Ada apa?” tanya Qian—sahabat Sooyeon di Beijing.

Sooyeon menghela nafas berat, “Jongin tidak ada di rumah. Pengacaraku datang ke rumah untuk meminta tanda tangannya.” jawabnya.

“Mungkin Jongin sedang sibuk di kantor.” ucap Qian.

“Mungkin~” gumam Sooyeon.

“Jiejie, mengapa pintu tidak di kun—” seorang pria menghentikan kalimatnya saat melihat Sooyeon.

“Maafkan aku, Lu. Tadi saat mengambil susu, aku lupa mengunci pintu.” ucap Qian.

“Saat ini sedang marak perampokan dan penculikan, jiejie. Aku tak ingin kau dan temanmu dalam bahaya.” ucap pria itu. “Ngg—by the way, siapa temanmu itu, jiejie? Wajahnya tampak asing, dan bukan seperti penduduk China.”

Sooyeon segera berdiri dan membungkuk 90˚, “Nihao. Namaku Jung Sooyeon, panggil saja Sooyeon.” ucapnya.

“Oh, penduduk Korea, ya?” tanya pria itu.

Sooyeon mengangguk, “Iya, tepat sekali.” jawabnya.

“Ngg—namaku Luhan. Salam kenal.” balas pria—Luhan—itu.

Sooyeon tersenyum manis. Hal itu membuat Luhan sedikit kagum pada Sooyeon.

“Hm!” seru Qian—merusak momen mereka.

“Ah, jiejie, aku ingin pergi membeli es krim. Mau ikut?” tawar Luhan.

“Kau bersama Sooyeon saja. Aku sedang kurang enak badan. Belikan saja aku es krim.” jawab Qian.

“Aku akan menjagamu.” ucap Sooyeon.

Qian menggeleng, “Kau pikir aku anak kecil, hah? Sudah sana pergi. Aku bisa jaga diri.”

Sooyeon mengangguk. Luhan segera menarik lengannya. “Ayo, noona!” ajaknya.

Sooyeon menatap lengannya yang di pegang oleh Luhan. Menyadari hal itu, Luhan segera melepas genggamannya dari lengan Sooyeon. Wajah Luhan kini bersemu merah.

“Maafkan aku, noona.” ucap Luhan.

“Tidak apa, Lu—han.” jawab Sooyeon.

“Lu saja juga tidak apa.” ucap Luhan.

Sooyeon tersenyum manis, “Baiklah!” ucapnya.

“Ayo, kita pergi!” ajak Luhan, “Sekalian aku ingin mengajakmu berkeliling kota Beijing.”

“Wah! Aku jadi tidak sabar.” ucap Sooyeon—girang.

Qian tersenyum melihat mereka, “Tampaknya kehadiran Luhan dapat membuat Sooyeon berpindah ke lain hati dengan cepat. Ya, semoga saja.” gumamnya.

>>> 

“Jongin-ah, apa kau serius mengajakku ke Beijing?” tanya Sehun.

“Kau pikir aku bermain-main?” tanya Jongin.

“Seohyun pasti marah jika aku pergi secara mendadak.” gumam Sehun.

“Tenang saja. Aku yang akan bertanggung jawab.” ucap Jongin.

“Pesawat menuju China akan berangkat 5 menit lagi. Penumpang di harap segera menaiki pesawat.”

“Ayo, Sehun-ah.” ajak Jongin.

Sehun mengangguk lemah. Ia terus memikirkan kekasih hatinya itu.

“Seohyun pasti takkan mau memberi jatah padaku lagi.” gumam Sehun.

>>> 

Yoona terus menekan bel di rumah Jongin. Ia menggerutu kesal karena Jongin tak kunjung membuka pintu. Padahal ini sudah merupakan waktu kepulangan Jongin bekerja. Yoona juga menghubunginya, tapi nomor Jongin tidak aktif.

“Jongin oppa, kau dimana?” gerutu Yoona—kesal.

Tiba-tiba saja mata Yoona tertuju pada sebuah map di dalam kotak surat yang terbuka. Ia meraih map tersebut tanpa adanya rasa bersalah. Di bukanya map tersebut dan tak lupa ia baca isinya.

Mata Yoona membesar saat membaca inti dari isi map tersebut. Map yang ia pegang jatuh ke lantai. Tangannya memegang mulutnya dan ekspresinya tak bisa di ungkapkan, seperti seseorang yang baru mendapat kabar bahwa suami atau orangtuanya mengalami kecelakaan.

“Jongin oppa dan Sooyeon eonni—akan bercerai?”

>>> 

Sooyeon dan Luhan mengelilingi kota Beijing menaiki mobil Luhan bermerk California Ferarri berwarna merah. Mobil terbuka tersebut membuat keduanya bisa melihat kota Beijing lebih jelas lagi.

“Es krimnya sangat enak. Qian pasti akan merasa lebih baik setelah mencicipinya.” ucap Sooyeon—seraya menatap bungkusan yang berisikan es krim dalam bentuk wadah.

“Iya. Jiejie sangat menyukai es krim.” ucap Luhan—seraya terus mengemudikan mobilnya.

“Oh, ya, kau dan Qian—memiliki hubungan apa? Kalian keluarga?” tanya Sooyeon.

Luhan menggeleng, “Bukan. Kami hanya sekedar tetangga.” jawabnya.

“Tetangga?”

Luhan mengangguk, “Kami adalah tetangga sejak kecil hingga sekarang. Karena dia lebih tua dariku, aku pun memanggilnya kakak.” jawabnya.

Sooyeon mengangguk mengerti.

“Dan kau? Mengapa bisa berada disini?” tanya Luhan.

Sooyeon menggigit bibirnya. Ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Luhan. Waktunya belum tepat.

“Noona?”

Sooyeon tersentak, “Ah, aku hanya ingin mengunjungi Qian. Aku juga sedang liburan. Makanya aku kemari.” jawabnya.

“Apa profesi noona?” tanya Luhan.

“Ngg—pegawai di perusahaan.” jawab Sooyeon.

Luhan mengangguk mengerti.

“Kau sendiri bagaimana, Lu? Apa profesimu?” tanya Sooyeon.

“Hanya seorang komposer dan pelukis.” jawab Luhan.

“Komposer? Kau bisa menciptakan lagu?” tanya Sooyeon—tak percaya.

“Bukannya sombong. Tapi, sudah banyak penyanyi maupun grup di China yang membeli lagu ciptaanku.” jawab Luhan.

Sooyeon bertepuk tangan, “Wow! Kau hebat, Lu. Keren!” pujinya.

Luhan tersipu mendengarnya. Ia hanya bisa tersenyum untuk membalas pujian dari Sooyeon.

>>> 

“Woah! Rumah sepupumu besar juga.” ucap Jongin.

“Iya. Tentu saja. Dia adalah seorang komposer dan pelukis terkenal.” ucap Sehun.

Jongin mengangguk mengerti, “Sebaiknya aku tinggal di Hotel saja, ya?” tanyanya.

“Kau sudah mengajakku kesini. Itu artinya kau harus tinggal disini.” jawab Sehun.

“Tapi, ini memalukan. Seorang pengusaha kaya di Korea menumpang di rumah orang?” seru Jongin.

Sehun memutar bola matanya, “Jika sifatmu selalu seperti ini, Sooyeon tidak akan mau kembali padamu.”

Jongin menelan salivanya kasar. Perkataan Sehun berhasil membuatnya membeku sesaat.

TIN! TIN!

Jongin dan Sehun berbalik. Mereka kaget di depan mereka ada sebuah mobil.

“Bisa kalian minggir?” pinta si pemilik mobil tersebut.

“Gege, kau membenciku, ya?” tanya Sehun.

Si pemilik mobil tertawa renyah. Ia segera turun dari mobilnya dan menghampiri Sehun dan Jongin.

Sehun memeluk pria itu, “Aku merindukanmu, gege.” ucapnya.

“Aku juga merindukanmu.” jawab pria itu.

“Gege, perkenalkan, dia adalah rekan kerjaku, Kim Jongin.” ucap Sehun.

“Kim Jongin, pengusaha nomor satu di Korea Selatan.” ucap Jongin—seraya menyurungkan tangannya.

Sehun memutar bola matanya. Dia sombong lagi, batinnya.

Pria itu menjabat tangan Jongin, “Xiao Luhan, komposer dan pelukis.” balasnya.

“Gege, bisa kami tinggal di rumahmu untuk beberapa hari? Soalnya, Jongin ingin mencari is—” kalimat Sehun terhenti saat Jongin membungkam mulutnya.

“Aku memiliki bisnis disini. Awalnya aku ingin tinggal di Hotel. Tapi, Sehun memaksaku untuk tinggal disini.” ucap Jongin.

Luhan tertawa mendengarnya, “Tidak usah sungkan. Anggap saja rumah ku sebagai rumah kalian juga. Aku juga kesepian. Mari, silakan masuk.” ucapnya.

Jongin membungkuk sopan. Sedangkan Sehun mencoba mengatur nafasnya.

“Jongin benar-benar!” gumam Sehun—kesal.

>>> 

Jongin keluar dari rumah milik Luhan. Ia mengenakan pakaian jogingnya. Setelah ia sudah berada di luar gerbang rumah Luhan, ia segera melakukan pemanasan.

“Udara di Beijing ternyata segar juga.” ucap Jongin.

Tiba-tiba, Jongin melihat seorang wanita berpakaian olahraga keluar dari rumah sebelah. Ia tak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu karena wajahnya tertutupi oleh rambut yang bergelombang indah.

“Selamat pagi, Jongin.” sapa Luhan—yang baru saja ada di sampingnya.

“Luhan? Mau joging juga?” tanya Jongin.

“Iya. Aku ada janji dengan seorang wanita untuk joging bersama. Kau boleh ikut jika kau mau.” jawab Luhan.

Aku rasa aku harus menerima tawarannya atau aku akan tersesat, batin Jongin.

“Ah, itu dia.” ucap Luhan, “Sooyeon noona?” panggilnya.

Sooyeon noona?, batin Jongin.

“Selamat pagi, Lu.” sapa wanita itu.

Suara ini.., batin Jongin.

Jongin pun segera menoleh ke arah wanita yang ia lihat tadi.

“SOOYEON?”

“KIM JONGIN?”

~To Be Contiuned~

 

Teaser Next Chapter :

“Baru dua hari berpisah, sudah bertemu lagi.” gumam Sooyeon.

“Tapi, kau senang, kan?” goda Jongin.

“Yoona-ah, kau mau kemana?” tanya Yuri—saat melihat Yoona mengemasi pakaiannya.

“Aku ingin menyusul Jongin oppa ke Beijing!” jawab Yoona.

“Dimana anakku, tuan Kim?” tanya Miyoung.

“Jongin menghubungiku kemarin. Dia berkata dia dan Sooyeon sedang berlibur ke Beijing.” jawab Jaejoong.

“Lebih baik kau pulang, Kim Jongin!” usir Sooyeon.

“Aku kesini untuk membawamu kembali.” ucap Jongin.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!” ucap Sooyeon.

Note : Jangan lupa tinggalin jejak .__.

I Love You, But I Hate You (Kai’s Version)


Gambar

Title : I Love You, But I Hate You

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • Miss A’s Suzy as Bae Suzy
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong (Kai’s Dad)
  • etc

Genre : Angst, Romance, Family

Length : Oneshoot

Rating : PG17

Note : Ini versi Kai. Semoga kalian suka!

>>> 

Aku benci menjadi diriku. Mengapa begitu? Karena kehidupanku sangatlah suram. Aku memang hidup mapan, aku di gilai banyak wanita, tapi mengapa aku memiliki Ayah yang tak pernah mencintaiku? Beliau lebih mencintai puteri angkatnya yang sekarang menjadi istriku, Jung Sooyeon.

Apa yang Jung Sooyeon inginkan, selalu di penuhi. Bagaimana dengan keinginanku? Ayah selalu berkata, ‘Kau seorang laki-laki. Kau tak boleh manja! Belajarlah untuk mandiri!’. Tapi, apa kata-kata itu pantas untuk seorang anak kecil berumur 7 tahun?

“Merry cristmast, appa!” ucap Sooyeon—pada Ayah.

 

“Merry cristmast, Sooyeon-ah!” ucap Ayah—seraya mengecup pipi Sooyeon singkat.

 

Aku memandang Sooyeon iri. Terakhir aku di kecup oleh Ayah saat umurku beranjak 1 tahun.

 

“Appa, apa aku mendapatkan kado natal?” tanya Sooyeon—manja. Cih!

 

“Tentu, sayang.” jawab Ayah, “Ini kado natal untukmu!” ucap beliau—seraya menyerahkan kado pada Sooyeon.

 

“Asyik!” seru Sooyeon—tampak gembira.

 

“Appa, bagaimana denganku?” tanyaku.

 

“Maafkan appa, Jongin-ah. Appa bingung ingin membelikanmu hadiah apa. Appa tidak tahu apa yang kau sukai.”

 

Selalu seperti ini. Giliran Sooyeon, Ayah tahu. Giliranku?

 

“Tenang, Jongin-ah. Setelah perayaan, appa akan mengajakmu membeli hadiah untukmu. Apa saja!” ucap Ayah.

 

Aku menghela nafas berat. Aku sudah membenci Sooyeon sejak kecil. Semenjak ia di temukan bersama Ibunya terlantar di tepi jalan, dan ia tinggal bersamaku, tak tahunya kelakuannya melunjak. Ia menjadi manja begitu juga dengan Ibunya. Hingga aku dan Sooyeon tumbuh remaja. Tetap saja Sooyeon yang selalu di nomor satukan.

Seandainya saja ada Ibu. Pasti keadaan takkan seperti ini.

“Jongin-ssi—”

Tsk! Itu suara Sooyeon. Aku sangat membenci suaranya. Menikah dengannya semakin membuat kehidupanku menjadi kelam.

“BERISIK! AKU BISA BANGUN SENDIRI! TAK USAH MENGURUSIKU!” teriakku.

Aku sadar aku memang kejam dan jahat padanya. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur membencinya sejak awal. Ia sudah banyak membuatku sakit hati. Tapi, setelah sekian lama bersamanya, kebencianku padanya mulai berkurang. Namun, aku berusaha untuk menutupi perasaan ini.

“Maafkan aku. Sarapan sudah ku siapkan di bawah.” ucapnya—dari luar kamarku.

Aku tak membalas perkataannya. Terkadang, aku merasa kasihan padanya. Aku tahu ia sudah berubah. Tapi, rasa sakit hati bercampur gengsi di diriku tetap bertahan.

Aku pun bangun dari ranjangku. Lebih baik aku bergegas mandi agar aku tak terlambat bekerja.

>>> 

Aku keluar dari kamarku dengan pakaian resmi serta tas di tanganku. Tak ada Sooyeon. Aku yakin saat ini ia sedang mengunci dirinya di kamarnya, seperti biasa. Semenjak aku mengatakan kata-kata yang ku yakini berhasil membuat perasaannya hancur, ia tak pernah muncul di hadapanku saat pagi hari.

Aku berjalan menuju ruang makan. Aku membuka tutup saji di atas meja makan. Menu sarapan pagi ini adalah sup rumput laut, masakan favoritku. Aku tersenyum melihatnya. Sooyeon memang mengetahui masakan favoritku. Terlebih lagi saat Ibu sering memasakkan sup rumput laut padaku dan Sooyeon.

Lagi, hal ini membuatku merasakan getaran yang aneh tentang Sooyeon.

>>> 

Aku merentangkan otot-ototku setelah selesai mengerjakan file. Aku segera bersandar di kursiku dan memejamkan mataku sejenak.

“Bagaimana hubunganmu dengan Sooyeon?”

Aku membuka mataku terpaksa. Pertanyaan Sehun—partner kerjaku sekaligus sahabatku sejak kecil—sangat tidak pas untuk suasana hatiku yang lelah.

“Seperti biasanya. Tak ada perubahan.” jawabku.

Sehun tampak mendesis,

“Kapan kalian berdamai? Ayolah, Jongin-ah. Sooyeon sudah baik padamu. Kapan kau membalasnya?”

“Never mind. Aku sendiri tak tahu, Sehun-ah. Rasa sakit hatiku masih kokoh mempertahankan bentengnya.” jawabku—di iringi helaan nafas berat.

“Sehun-ah~” panggilku.

“Hm?” balasnya.

“Apa kau punya teman kencan—lagi?” tanyaku.

Sehun mendesis lagi. Di saat seperti ini, aku masih bisa menanyakan hal konyol seperti itu. Memang, satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa stress ku ini adalah berkencan dengan seorang wanita—selain Sooyeon.

>>> 

Aku duduk di sebuah kursi di tepi sungai Han. Pemandangan sungai Han dan hembusan angin seperti sebuah penyegaran untukku.

“Jongin oppa?”

Aku menoleh ke sumber suara. Oh, rupanya teman kencan yang harusnya berkencan dengan Sehun sudah datang. Wanita ini tampaknya cukup cantik dan manis. Wajahnya sedikit mirip dengan—err Sooyeon.

“Selamat sore. Namaku Bae Suzy. Panggil saja aku Suzy!” ucap wanita itu.

“Oh, hai, Suzy-ssi.” sapaku.

Suzy merengut—membuatnya tampak semakin lucu.

“Jangan memanggilku seformal itu, oppa.” ucapnya.

Aku terkekeh pelan—seraya mengusap kepalanya perlahan. Namun, ia segera menarik tanganku hingga aku berdiri.

“A-Ada apa?” tanyaku.

“Ayo, kita berkeliling!” ajaknya.

Tiba-tiba, mataku menangkap dua sosok yang aku kenal. Astaga! Bukankah mereka adalah Ibu Sooyeon dan juga Taeyeon? Habislah sudah nyawaku. Jangan sampai Ayah tahu akan hal ini.

“Suzy-ah, ayo kita pergi.” ajakku—seraya menarik tangannya.

“Eh—kemana?” tanya Suzy—tampak bingung.

“Sudah, ikut saja.” perintahku—lalu membawanya pergi.

>>> 

Saat ini aku berada di sebuah restauran. Aku memesan ruangan VVIP untukku sendiri. Aku juga memesan vodka dan soju untukku sendiri. Saat ini rasa stress ku semakin meningkat. Aku terus memikirkan kejadian tadi sore. Bagaimana jika Ibu Sooyeon mengadukan hal ini pada Ayah? Hancur sudah tubuhku pasti karena di pukuli oleh Ayah.

Tiba-tiba, aku yang sudah setengah sadar ini teringat akan wajah Sooyeon. Aku tahu ia sangat mencintaiku. Bahkan aku ingat saat dirinya mencoba melindungiku dari pukulan Ayah. Hanya saja kebencian telah membutakan hatiku untuk mencintainya.

“Sajangnim~”

Sepertinya ada yang memanggilku. Aku menoleh ke sumber suara. Oh, ternyata Sooyeon.

“Ada apa kau kemari?” tanyaku.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mabuk, sajangnim?” tanyanya.

“Aku menyuruhmu untuk memanggilku dengan formal, tapi tidak menyebutku sajangnim.” ucapku.

“B-Baiklah, J-Jongin-ssi. Sekarang lebih baik anda pulang.”

Aku memandang wajah Sooyeon lekat-lekat. Sungguh sayang sekali selama ini aku memperlakukannya sangat kasar dan jahat.

Entah mengapa tanganku bergerak sendiri—menarik punggungnya dan mulai menempelkan bibirku ke bibirnya. Tanganku berjalan dan mencoba membuka kancing bajunya, namun Sooyeon segera menahannya.

“Jangan disini.” ucapnya.

Aku terkekeh mendengarnya. Tampaknya Sooyeon menerima perlakuanku. Mungkin memang sudah saatnya aku mengabulkan permintaan Ayah yaitu memberikan seorang cucu.

>>> 

Aku membuka mataku perlahan. Kepalaku terasa sangat berat. Aku menoleh ke arah sampingku. Betapa kagetnya aku saat melihat siapa yang ada di sampingku.

“YURI-SSI?”

“Ada apa, Jongin-ah?” tanyanya.

Aku segera bangkit dan melempar bantal ku ke wajahnya.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” teriaknya—seraya memakai pakaiannya.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanyaku.

“Apa kau lupa tadi malam kita melakukan apa?” tanyanya.

Astaga! Apa aku tidak melakukannya bersama Sooyeon, melainkan bersama Yuri?

“Gugurkan anakmu!” perintahku.

“A-Apa?” tanyanya—tampak syok.

“Atau kau akan ku pecat.” ancamku.

Yuri menyeringai—membuatku sedikit takut,

“Tenang saja, Jongin-ssi. Aku menggunakan kontrasepsi.” ucapnya.

Huh, syukurlah!

“PERGI DARI KAMARKU!” teriakku—mengusirnya.

Yuri dengan pakaiannya yang berantakan keluar dari kamarku. Aku segera menutup pintu kamarku sekencang mungkin. Pasti Sooyeon tahu akan hal ini. Lantas bagaimana dengannya? Aku kembali melukai hatinya.

>>> 

Sehun menatapku tajam setelah ku ceritakan semua yang terjadi padaku.

“Ini sudah terlanjur, Sehun-ah. Mau bagaimana lagi?” tanyaku—prustasi.

“Kau itu bodoh atau apa, Jongin-ah? Yuri itu bukan tipe orang yang akan diam saja. Bagaimana jika ia melaporkan hal ini pada Kim sajangnim? Bisa mati kau, Jongin-ah.” omelnya.

Aku mengutuki diriku sendiri. Benar juga apa yang di katakan Sehun.

“Jadi, aku harus bagaimana, Sehun-ah?” tanyaku.

“Pergi dan minta maaf kepadanya!” perintah Sehun.

“A-APA? MINTA MAAF PADA YURI?” teriakku—syok.

“Harga diri menurun atau di bunuh oleh Kim sajangnim?” tanyanya.

Aku menelan salivaku kasar. Pilihanku satu-satunya adalah meminta maaf pada Yuri.

>>> 

Aku mengetuk pintu ruangan Yuri. Aku malu sekali. Rasanya seperti menjilat ludah sendiri.

“Silakan masuk!” ucapnya.

Aku membuka pintunya perlahan. Aku masuk dengan sedikit gemetaran. Rasanya aku takut permintamaafan ku di tolak mentah-mentah oleh Yuri.

“Ada apa kemari, sajangnim?” tanyanya.

“A-Aku ingin—a-aku—”

“Anda tidak perlu bersusah payah untuk meminta maaf, sajangnim. Orang lain sudah mewakilkan permintamaafanmu kemarin sore.”

Aku membelalakan mataku mendengarnya. Siapa yang sudah mau mewakilkan ku dalam melakukan hal ini? Sehun? Tidak mungkin dia.

“Istrimu, Kim Sooyeon. Dia lah orang yang sudah mewakilkan anda, sajangnim.”

DEG!

Sooyeon melakukan ini? Setelah aku menyakiti hatinya lagi?

“Jangan berbohong, Yuri-ssi.” ucapku.

“Saya tidak akan mendapatkan keuntungan jika saya berbohong, sajangnim.”

Benar juga apa kata Yuri. Jadi, Sooyeon telah melakukan hal mulia seperti ini? Sungguh berdosanya aku. Aku sangat malu melebihi rasa malu jika permintamaafanku di tolak oleh Yuri.

>>> 

Aku melihat Sooyeon yang sedang menyiapkan makan malam. Hari ini aku sengaja pulang cepat. Aku tak ingin pulang tanpa melihat Sooyeon seperti biasanya karena ia akan tidur lebih dulu.

“Sooyeon-ah~” panggilku.

Ia menoleh—kaget. Mungkin ia ragu karena aku memanggilnya tidak formal.

“Terima kasih.” ucapku.

“Untuk apa, Jongin-ssi?” tanyanya.

Ku mohon, Sooyeon-ah. Jangan panggil aku seformal itu lagi. Maafkan aku!

“Hngg—sudah meminta maaf pada Yuri.” jawabku.

Sooyeon tampak terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum manis. Oh, senyuman yang sangat ku rindukan. Sudah sekian lama aku jarang melihatnya. Betapa bodohnya aku menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik Sooyeon.

>>> 

Akhirnya aku bisa tersenyum lega. Sehun pun selalu menggodaku hari ini. Namun, saat ada nomor asing masuk ke ponselku, senyumanku memudar. Perasaan aneh menyelimutiku. Aku segera mengangkat telepon dari orang asing itu.

“Halo?”

“Jongin oppa? Apa kau mengingatku?”

Aku menelan salivaku kasar. Suara ini..

“Yoona?”

>>> 

Aku dan Yoona berada di sebuah kedai es krim di Lotte World. Yoona adalah cinta pertamaku saat aku masih SMA. Namun, hubungan kami berakhir setelah ia pindah ke Tokyo bersama keluarganya.

“Oppa, apa kau merindukanku?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum kecut. Merindukannya? Sangat, sangat merindukannya.

“Oppa, aku berpikir untuk memulai kembali hubungan kita. Bagaimana menurutmu?”

DEG!

Memulai kembali hubungan? Sementara aku sudah berstatus sebagai seorang suami?

“Oppa!”

“Ah? I-Iya? Ada apa?” tanyaku—gugup.

Yoona tampak merengut. Sedetik kemudian, ia menarik tanganku dan membawaku keluar dari restauran.

“K-Kita mau kemana?” tanyaku.

“Kemana saja. Kau menyebalkan!” jawabnya—terdengar kesal.

Aku memutar bola mataku. Yoona merupakan tipe orang yang mudah merajuk. Aku masih ingat akan hal itu.

“Yoona-ah?”

Aku menoleh ke sumber suara. Astaga! Bukankah itu Yuri? Dia sedang berjalan menghampiri kami—bersama Sooyeon?

“Yuri eonni?” ucap Yoona.

Tunggu dulu! Apa Yoona dan Yuri saling mengenal?

“Jongin oppa, perkenalkan dia adalah sepupuku, Yuri eonni. Dan Yuri eonni, dia ini adalah Jongin oppa, cinta pertamaku.” ucap Yoona.

Astaga! Yoona mengatakan semuanya. Aku bisa melihat reaksi Sooyeon yang tampak syok. Kemarin aku baru saja membuatnya tersenyum kembali. Sekarang aku telah menyakiti hatinya lagi.

“A-Aku—” ucapku tertahan. Aku sendiri bingung ingin mengatakan apa. Untuk menjelaskan yang sebenarnya, ini bukan waktu yang tepat.

“Eonni, siapa wanita ini?” tanya Yoona.

“Yoona-ah, sebaiknya kau menjauhi pria ini.” ucap Yuri.

Yuri akan mengatakan semuanya. Ku mohon Yuri, jangan sekarang.

“Memangnya kenapa?” tanya Yoona.

“Karena dia adalah—”

“Direktur perusahaan ternama di Seoul.” seru Sooyeon.

Aku menatapnya aneh. Oh, Sooyeon, itu bukan jawaban yang masuk akal.

“Jadi, Yuri tak ingin kau dekat dengan seorang direktur. Mungkin—karena kebanyakan direktur itu suka memainkan perasaan wanita.” jelasnya.

Jadi kau menganggapku suka memainkan perasaan wanita? Baiklah, jika itu yang kau mau, Sooyeon-ah. Aku bersedia mengabulkannya.

Yoona tertawa renyah,

“Jongin oppa tak seperti itu, eonni. Jongin oppa adalah orang yang setia.” ucapnya.

Aku tersenyum mendengarnya. Yoona memang mengetahui keadaanku. Hanya Yoona.

“Yoona-ah, mau bermain roller coaster?” tawarku.

“Tentu. Ayo, oppa!” jawab Yoona, “Sampai jumpa, eonni!”

“Ah, iya.” jawab Yuri.

Aku dan Yoona saling bergenggaman tangan dan berjalan menuju wahana roller coaster. Hari ini aku sedikit muak pada Sooyeon.

>>> 

Sudah satu bulan aku dan Yoona sering bersama. Bahkan aku melupakan keberadaan Sooyeon. Yoona yang mengetahui Sooyeon hanya sebagai seorang pelayan di rumahku—tak mempermasalahkannya. Bahkan setiap kami bercumbu, Yoona tak mempedulikan saat Sooyeon melihat kami.

Miris? Tentu saja. Aku kasihan pada Sooyeon. Aku sadar aku bukanlah suami yang baik untuknya. Aku mencintainya, tapi rasa cintaku sebagian ada pada Yoona. Jadi, aku harus bagaimana? Haruskah ku pilih salah satunya?

Aku telah tiba di rumah di sore hari. Saatnya untuk meminta maaf pada Sooyeon. Sakit hatinya pasti sudah banyak.

“Sooyeon-ah~” panggilku.

Tak ada jawaban. Apa hanya perasaanku saja? Rumah ini terasa hampa. Apa Sooyeon sedang keluar?

“Sooyeon-ah? Kau dimana?” panggilku—sedikit berteriak.

Aku mencoba masuk ke kamarnya—untuk yang pertama kali. Aku melihat kamarnya kosong. Hanya ada ranjang, meja rias, TV, lemari dan kulkas. Tak ada peralatan make-up di meja rias milik Sooyeon, tak ada sprei di ranjangnya. Dan saat ku buka lemarinya..

KOSONG!

Tak ada satupun pakaiannya.

Apakah Sooyeon telah pergi?

Aku berjalan menuju kamarku. Aku berteriak prustasi. Aku merebahkan tubuhku kasar di atas ranjang. Kemudian, tanganku masuk ke dalam saku celanaku—mencoba menggapai ponsel milikku. Setelah ketemu, aku segera menekan tombol 2 yang menjadi nomor khusus yaitu nomor Sooyeon, nomor yang sangat jarang ku hubungi.

“Halo. Disini Kim Sooyeon. Maaf, aku sedang sibuk. Silakan tinggalkan pesan jika penting. Terima kasih.”

Sial! Nomornya tidak aktif. Hanya ada rekaman yang di pasang oleh Sooyeon. Aku sedikit kaget ia menggunakan nama Kim Sooyeon.

“Sooyeon-ah, kau dimana? Jika kau mendengar pesan ini, segeralah menghubungiku.” ucapku—meninggalkan pesan.

Aku melempar ponselku. Namun, mataku menangkap sebuah kertas di samping tempat aku berbaring. Aku meraihnya dan mencoba membacanya.

Dear Kim Jongin, my beloved husband..

 

Kau pasti saat ini marah padaku, bukan? Aku pergi tanpa memberitahumu lebih awal. Aku sudah memutuskan ini. Ini adalah pilihan yang tepat. Aku akan mengurus surat perceraian kita, dan kau bisa menikah dengan Yoona.

 

“How dare she!” gumamku—tak percaya.

Aku memutuskan untuk pergi ke Beijing. Tak perlu khawatir dengan aku. Di Beijing, aku punya seorang teman. Tolong ucapkan terima kasih banyak pada Ayah karena sudah merawatku sejak kecil. Terima kasih juga karena telah membiayai pengobatan Ibuku. Aku juga berterima kasih padamu, Jongin. Kau sungguh pria yang baik. Andai kau mencintaiku, pasti kau akan selalu setia padaku. Sayangnya aku bukan orang yang kau cintai. Dan aku telah mengetahui bahwa orang yang kau cintai adalah Yoona.

 

“Sooyeon-ah~” gumamku.

Aku mencintaimu, Kim Jongin. Tapi, aku rela kau bersama Yoona. Asal itu bisa membuatmu bahagia, aku rela.

Sampai jumpa, Jongin. Aku akan sangat merindukanmu. Pengacaraku akan datang menemuimu besok. Dia lah yang akan mengurus perceraian kita. Jadi, kau tak perlu khawatir. Aku sudah menandatangani surat perceraian kita.

 

Aku meremas kertas yang basah karena air mataku. Aku melemparnya hingga masuk ke tempat sampah. Aku terus menangisinya. Aku bukan suami yang baik. Aku tak bisa menjaga istriku. Aku telah mengecewakan Ayah. Aku tak bisa memberikan cucu untuk beliau. Aku harus bagaimana? Aku telah mengecewakan semua orang.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku segera meraihnya. Oh, itu Yoona. Aku merejectnya. Aku tak peduli Yoona akan marah. Saat ini, yang ku pikirkan adalah Sooyeon.

“Aku harus menyusulnya! Ya, aku harus menyusulnya dan menggagalkan perceraian ini.” ucapku—yakin.

Aku segera berkemas dan menghubungi Sehun  untuk memesan tiket ke Beijing. Sooyeon, aku takkan semudah itu melepaskanmu. Meskipun aku membencimu, terkadang rasa benci menghilang dan berganti dengan rasa cinta. Rasa cinta yang amat dalam. Begitu pula sebaliknya. Terkadang rasa cinta  bisa berganti menjadi benci. Aku tak mengerti dengan perasaanku. Yang pasti, pelajaran yang ku dapatkan adalah jangan menyia-nyiakan seseorang yang ku miliki. Karena orang itu akan menjadi orang yang sangat berharga untukku selama hidupku.

END