Who I Love? (Chapter 1)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
– SNSD’s Jessica as Jessica Jung
– EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
– EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan
– EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol

Support Cast :
– SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
– SNSD’s YoonA as Im Yoona
– EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
– SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
– EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok

Genre : Fluff, Romance, School Life, Comedy

Length : Series

Note : Terinspirasi dari anime favorit saya, Kamichama Karin. Enjoy!

>>>

Disinilah aku tinggal, bersama dengan dua orang yang seumuran denganku. Mereka adalah orang asing yang kini menjadi akrab denganku. Aku tinggal bersama mereka sudah lima bulan lamanya setelah kematian kedua Orangtuaku.

Namaku Jessica Jung. Biasa di panggil Jessica atau Sica. Aku lahir di U.S dan tumbuh besar di Seoul, Korea Selatan. Di hari ulang tahunku beberapa bulan yang lalu, aku dan kedua Orangtuaku merayakannya di sebuah Fila yang terletak di pulau Jeju. Namun, setelah kami pulang menuju Seoul, kecelakaan menimpa kami. Kedua Orangtuaku tewas dan aku terluka kecil.

Setelah kejadian itu, aku menjadi prustasi. Rumahku di sita karena hutang Ayahku yang belum terlunasi. Aku tak tahu lagi harus tinggal dimana. Bahkan aku di usir dari sekolah karena tak punya biaya untuk pembayaran di sekolah.

Hampir saja aku mati karena bunuh diri jika tidak ada dua orang asing yang mencegatku.

“BERHENTI!!”

Aku menoleh ke sumber suara. Disana ada dua orang asing, yang satu lelaki dan yang satunya lagi perempuan.

“APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH?” teriak lelaki asing itu.

Seenaknya saja memanggilku bodoh. Memangnya dia siapa?

“NAMAKU BUKAN BODOH!!” balasku berteriak.

“Apa yang kau lakukan itu bukan tindakan bodoh? Kau pikir apa yang kau lakukan itu benar?” omelnya.

Kenapa dia mengomeliku? Dia pikir dia itu Ibuku?

“Hentikan, Sehun-ah. Jangan bertindak kasar padanya.” seru perempuan itu—kepada lelaki itu.

Rasakan itu!

“Lebih baik kalian pergi. Jika kalian disini, polisi akan mengira kalian sebagai tersangka.” ucapku—menakuti mereka.

“Dan membiarkanmu melompat ke sungai sana? Tidak akan.” ucap perempuan itu.

Aku tertegun mendengar pernyataannya. Dia berbicara dengan mimik wajah yang serius. Memangnya aku ini temannya? Tidak seharusnya bukan dia peduli padaku?

“Kau tak tahu apa yang ku alami.” ucapku.

“Maka dari itu, kau harus memberitahu kami.” ucap lelaki itu.

Aku mendesah. Memangnya mereka bisa di percaya? Memangnya dengan memberitahu mereka, aku bisa keluar dari permasalahan ini?

“Percayalah pada kami. Kami akan membantumu.” ucap perempuan itu—terkesan hangat.

Kini, mereka berdua lah yang merawatku, menjagaku, dan melindungiku. Mereka adalah dua saudara sepupu yang baik. Yang lelaki bernama Sehun, dan yang perempuan bernama Seohyun. Seohyun yang memiliki paras cantik, berhati seperti malaikat dan pintar—sedangkan Sehun yang sedikit tampan namun sering bertindak kasar dan menyebalkan, tetapi terkadang dia baik, tapi besoknya pasti dia jahat lagi. Huft!

Aku tinggal bertiga bersama mereka. Hanya bertiga, di sebuah rumah yang lumayan besar. Bahkan sekarang aku sekolah di sekolah bergengsi di Korea Selatan, yaitu Performing Art School. Aku tidak mengerti. Mengapa Sehun dan Seohyun dapat hidup dengan kemewahan tetapi mereka tak bersama Orangtua mereka? Sedangkan aku, di tinggal Orangtuaku menjadi terpuruk.

“Sica-ya?”

Aku tersentak saat Seohyun memanggil namaku. Aku tersenyum kecut karenanya. Ternyata sedari tadi aku melamun. Bahkan sarapanku belum ku habiskan.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Sica-ya?”

Aku menggeleng pelan di selingi senyuman tipis,
“Tidak ada yang ku pikirkan, Seohyun-ya.” jawabku.

“Cepat habiskan sarapanmu. Aku tidak mau terlambat karenamu.” sahut Sehun—dengan nada yang ketus.

Menyebalkan!

“Sehun-ah~” rujuk Seohyun.

Sehun tampak mendesah,
“Aku tak bisa bersikap baik pada orang yang tak mau mengikuti perintahku, Seohyun-ah.”

Aku mengutuki Sehun di dalam hatiku. Ah, dia sangat menyebalkan.

>>>

“SELAMAT PAGI, OH FAMILY!” teriak Baekhyun dan Taeyeon—dua teman baikku, juga Seohyun dan Sehun.

“Selamat pagi~” balas kami kompak.

“SELAMAT PAGI, JUNG-YA!” teriak Chanyeol—teman teraneh yang pernah ku temui.

“Sudah ku katakan berkali-kali, jangan memanggilku seperti itu.” protesku.

Chanyeol tak menjawab, melainkan memelukku erat. Aku tak merasa gugup atau apalah, karena Chanyeol memang sering memelukku seperti ini. Pelukannya sama dengan Ayahku.

“Aku sangat merindukanmu, Jung-ya. Liburan semester sangat menyiksaku.” ucapnya—yang membuatku memutar bola mataku.

“Rupanya Chanyeol sangat merindukan Jessica, ya?” seru Taeyeon.

“Tentu saja. Jessica adalah kekasihku.” ucap Chanyeol.

BUKK!!

Chanyeol mendadak kesakitan akibat pukulanku yang mendarat di perutnya. Rasakan itu! Seenaknya saja menganggapku kekasihnya. Memangnya aku ini boneka?

“Jung-ya, kau jahat sekali.” ucap Chanyeol.

“Jangan sembarangan menyebutku sebagai kekasihmu.” ucapku kesal.

Chanyeol terkekeh pelan,
“Maaf. Aku kan hanya bercanda.”

Aku memutar bola mataku. Chanyeol dan Sehun sama menyebalkannya.

>>>

Aku sedang duduk di sebuah kursi panjang di taman sekolah. Aku sedang sendirian sambil membaca buku pelajaran. Nilai matematikaku merah, sehingga aku harus remedial. Sungguh enaknya menjadi Seohyun maupun Sehun. Mereka di berkahi otak yang cerdas. Sedangkan aku, seringkali di bodohi. Miris sekali nasibku ini.

“Jessica-ssi?”

Aku mengangkat kepalaku— mencari sumber suara.

“Luhan sunbaenim?”

Ternyata orang yang memanggilku adalah Luhan sunbae. Dia adalah sunbae terbaik yang pernah ku temui. Dia itu tampan, manis, cantik juga, ramah, dan suka menolong. Aku sangat mengidolakannya!

“Boleh aku duduk di sampingmu?” pintanya.

“Oh, tentu saja, sunbae!” jawabku.

Luhan sunbae tersenyum manis, sangat manis! Kemudian, dia duduk di sampingku. Aku harap dia tak mendengar suara jantungku yang berdegup kencang.

“Membaca buku, ya?” tanyanya.

“I-Iya.” jawabku—gugup.

Payah!

“Kau harus semangat, Jessica-ssi.” seru Luhan sunbae—menyemangatiku.

Aku tak dapat menutupi senyuman ku. Ia juga membalas senyuman ku. Aku yakin, senyumanku kalah manis dengan senyumannya.

“Jessica-ssi, di kepalamu ada daun!”

Ah, benarkah?

Aku pun berusaha mencari daun tersebut di kepala ku. Nihil! Usaha ku tak berhasil. Hingga Luhan sunbae lah yang mengambil daun itu di kepala ku.

DEG!

Jantung ku berdetak sangat cepat. Ada apa ini? Jangan sampai Luhan sunbae mendengarnya.

“Sekarang kau sudah terlihat cantik.”

Pipi ku memanas. Pasti sekarang wajah ku memerah.

“Apa yang terjadi, Jessica-ssi? Kau sakit?” tanya Luhan sunbae.

Aku menggeleng cepat,
“Aku baik-baik saja, sunbae.”

Aku bangkit dan membungkuk 90˚ kepada Luhan sunbae. Setelah itu, aku segera berlari dari tempat tersebut. Yang benar saja, mana mungkin aku bisa bertahan berada di dekat Luhan sunbae. Bisa-bisa aku menjadi kepiting rebus nantinya.

>>>

Aku duduk di meja makan dengan anggota tubuh yang melemah. Bagaimana tidak, aku baru saja melakukan kegagalan kembali dalam memasak. Belut gosong? Makanan macam apa itu?

“Aku tidak mau makan! Sudah ku katakan berkali-kali, biar Seohyun saja yang memasak.” omel Sehun—padaku.

“Aku minta maaf. Aku hanya merasa tidak enak jika aku tinggal disini tapi aku tidak bekerja.” ucapku.

“Tidak, Sica-ya. Kau adalah keluarga kami. Jadi, jangan sungkan.” ucap Seohyun.

Huft! Seohyun sangat ramah dan berhati seperti malaikat. Sedangkan Sehun? Like devil.

“Jangan sering memanjakan dia, Seohyun-ah.”

Apa-apaan Sehun itu? Dia tidak suka Seohyun baik padaku? Keterlaluan!

“Aku akan buatkan sarapan baru. Untung saja hari ini hari minggu. Jadi, kita tidak perlu takut terlambat.” ucap Seohyun.

“Baiklah.” jawabku dan Sehun bersamaan.

Apa-apaan dia itu?

“Kalian kompak sekali. Kata Nenek, jika laki-laki dan perempuan kompak, berarti jodoh.” seru Seohyun.

APA??!!

“TIDAK MAU!!!!” teriakku dan Sehun bersamaan—lagi.

“Berhenti mengikuti kata-kataku!” omelku.

“Siapa yang mengikutimu? Kau yang mengikutiku!” balasnya.

“KAU!” teriakku.

“KAU!” balasnya.

“HENTIKAN!!”

Aku dan Sehun berhenti saat Seohyun berteriak. Aku tidak menyangka Seohyun bisa berteriak seperti ini.

“JUNG-YA!!!”

Aku menoleh ke sumber suara. Panggilan itu—pasti Chanyeol.

“Bagaimana kau bisa masuk, Chanyeol-ssi?” tanya Sehun.

“Pintu kalian terbuka lebar. Jadi, aku masuk saja.” jawab Chanyeol.

“Pasti kau yang membukanya, Jessica-ssi!” omel Sehun.

“Apa? Bukankah kau yang meminta ku untuk membuka pintu?” tanyaku.

“Tapi tidak usah lebar.”

“Salahmu tidak jelas dalam memintaku!” balasku.

“Jangan bertengkar lagi~” pinta Seohyun.

“Sepertinya mood mu sedang tidak baik, Jung-ya. Padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan.” ucap Chanyeol.

Chanyeol ingin mengajakku jalan-jalan? Kesempatan yang bagus untuk menjauhi iblis itu.

“Chanyeol-ah, aku mau kok!” jawabku.

“Apa benar?” tanya Chanyeol.

Aku mengangguk bersemangat.

“Apa boleh aku dan Sehun juga ikut?” tanya Seohyun.

A-APA? Mereka ingin ikut?

“Boleh saja.” jawab Chanyeol.

Tamatlah riwayatku!

“Aku malas, Seohyun-ah. Lebih baik tidur.” ucap Sehun.

Bagus, Sehun-ssi! Alasan yang sangat bagus.

“Kalau begitu, aku tidak mau membuatkan sarapan.” seru Seohyun.

“T-Tidak! Baiklah aku ikut.”

Huft! Gagal rencana ku untuk menjauhi Sehun.

>>>

Sekarang aku, Chanyeol, Seohyun dan iblis itu sedang duduk di sebuah kedai es krim. Kami menikmati es krim setelah menaiki wahana di Lotte World. Ternyata menyenangkan juga bersama Chanyeol. Terkadang Chanyeol terlihat seperti teman, dan terkadang seperti musuh. Entahlah~

“Bagaimana perasaanmu, Jung-ya? Apakah mood mu sudah membaik?” tanya Chanyeol.

“Sangat baik, Chanyeol-ah. Terima kasih. Aku belum pernah sebelumnya ke Lotte World bersama teman-teman. Biasanya aku kemari bersama Orangtuaku.” jawabku.

“Sica-ya~” lirih Seohyun.

Aku tahu, Seohyun pasti selalu merasa prihatin jika aku membicarakan tentang Orangtuaku. Dia selalu saja berinisiatif untuk melindungiku. Ya, itulah Seohyun!

“Tidak apa, Seohyun-ya.” ucapku.

“Es krim milikmu sepertinya enak.” ucap Chanyeol.

“Tentu saja.” jawabku.

Tanpa ku sangka, Chanyeol menjilat es krim milikku. Setelah itu dia tersenyum tulus. Tulus sekali. Tak pernah ku lihat Chanyeol seperti ini sebelumnya.

“Jangan memandangiku seperti itu, Jung-ya. Nanti kau jatuh cinta padaku.” ucapnya.

PLETAKK!!

Chanyeol mengusap kepalanya sambil meringis. Inilah yang sering ku lakukan pada Chanyeol jika dia berbicara yang aneh-aneh.

“Jung-ya, kau tega sekali.”

“Biar saja.” balasku—kesal.

“Kalian seperti Ibu dan anak, ya?” seru Seohyun.

Aku mengernyitkan keningku,
“A-Apa?”

“Sica selalu memukul dan menjitak Chanyeol jika Chanyeol melakukan kesalahan. Tepat seperti Ibu yang menghukum anaknya. Lucu sekali~”

Aku melihat Seohyun tertawa. Melihatnya, aku menjadi senang. Entahlah, rasanya nyaman sekali jika melihat Seohyun bahagia.

“Bukan seperti Ibu dan anak, tetapi seperti majikan dan pembantunya.”

Aku melirik Sehun dengan tatapan sinisku. Huft, dia selalu saja merusak suasana. Pikirannya selalu saja tidak bermutu.

“Jessica-ssi~”

Aku dan ketiga temanku—menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, itu kan Luhan sunbaenim bersama saudara sepupunya yang juga senior kami, Minseok sunbaenim.

“Annyeonghaseyo, sunbaenim!” sapaku—riang.

“Annyeonghaseo, sunbaenim!” sapa Seohyun dan Chanyeol pada Luhan dan Minseok sunbaenim. Sedangkan Sehun tampak asyik dengan PSP miliknya. Tidak sopan!

“Kalian sedang makan es krim, ya?” tanya Luhan sunbae.

“Seperti yang kau lihat, sunbae.” jawabku.

“Boleh kami bergabung disini?” pintanya.

“Kita bisa duduk di tempat lain, Luhan-ah.” seru Minseok sunbae.

“Aku yakin jika bersama mereka lebih menyenangkan, hyung.” ucap Luhan sunbae, “Jadi, bagaimana?”

Aku menggaruk kepalaku. Boleh saja, tapi aku tidak tahu dengan yang lain.

“Boleh kok.” jawab Seohyun.

“Lebih banyak lebih menyenangkan.” tambah Chanyeol.

Aku tersenyum senang. Ternyata mereka satu pikiran denganku.

“Maaf!”

Aku dan yang lainnya menoleh ke sumber suara. Suara itu berasal dari Sehun. Mau apa lagi dia?

“Aku memiliki kesibukan. Aku harus pergi.” katanya.

“Mendadak sekali, Sehun-ah.” ucap Chanyeol.

“Ini penting, Chanyeol-ssi.” jawab Sehun.

“Ya sudah, pergi saja.” ucapku.

Aku baru sadar kini aku menjadi objek perhatian teman-teman, termasuk Sehun sedang menatapku tajam. Apa aku salah bicara?

“Aku ikut, ya?” ucap Seohyun—pada Sehun.

“Terserahmu saja, Seohyun-ah.” jawab Sehun.

“Seohyun-ya~” lirihku.

Seohyun tersenyum padaku,
“Kami pergi dulu, ya?” pamitnya.

“Hati-hati, ya.” seru Chanyeol.

“Aku titip Sica, Chanyeol-ssi.” ucap Seohyun.

“Tenang saja. Sica tidak akan terluka jika bersamaku.” ucap Chanyeol.

Aku melirik Chanyeol sinis.

Sehun dan Seohyun pun pergi. Sementara itu, Luhan dan Minseok sunbaenim duduk menggantikan posisi Sehun dan Seohyun.

“Apa kalian tadi sedang kencan ganda?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan dari Luhan sunbae. Kencan ganda? Siapa yang kencan ganda?

“Tentu saja. Sehun bersama Seohyun, dan aku bersama Jessica.” jawab Chanyeol.

Untung saja ada Luhan sunbae. Jika tidak, aku akan membunuhmu hidup-hidup, Chanyeol-ah!

>>>

“Aku pulang!” seruku.

Tiba-tiba, aku melihat Sehun keluar dari kamarnya.

“Kau pulang larut sekali.” katanya.

Aku menggembungkan pipiku,
“Kenapa? Bukankah kau senang jika aku tidak ada di rumah?”

“Selamat, ya? Kau pasti sangat puas bisa berkencan dengan Luhan.” ucap Sehun—lalu masuk kembali ke kamarnya.

Aku membeku di tempat. Mengapa kali ini nada bicara Sehun terdengar aneh? Seperti sangat marah namun berusaha untuk di sembunyikan. Atau ini hanya perasaanku saja? Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Mana mungkin Sehun marah hanya karena aku berkencan dengan Luhan sunbae. Lagipula, siapa yang berkencan? Yang ada, aku selalu bersama Chanyeol.

To Be Contiuned

Ayo! Di koment yang banyak! Kalo dikit, saya gak lanjutin loh!

Iklan

(Drabble) Time Control


Gambar

Time Control

Kris – Jessica – Suho

 

Kris memegang dadanya yang terasa perih. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia akui, ini yang pertama kalinya ia menangis. Maksudnya menangis karena cinta.

Ia sadar, bahwa ia tidak sempurna. Jika waktu dapat berputar, ia ingin melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan sebelumnya.

“Kris, ada apa ingin menemuiku? Bukankah kau ada jam kelas hari ini?” tanya seorang wanita yang lebih tua satu tahun darinya.

 

“Jessica noona, sebelumnya aku minta maaf. Aku harus mengatakan ini.” ucap Kris tegas.

 

Jessica mengerutkan keningnya,

“Mengatakan apa?”

 

Kris menghela nafas berat,

“Kita akhiri hubungan konyol ini.”

 

Mata Jessica membesar,

“Akhiri?”

“Kita bertemu karena kencan buta. Tak ada rasa cinta maupun sayang di antara kita. Meskipun kita sudah menjalani hubungan ini selama satu bulan, tapi aku tak merasa adanya rasa cinta. Maaf!”

 

Jessica tersenyum pahit,

“Tidak apa-apa, Kris. Kau benar. Selama ini kita hanya berkencan dalam diam, makan dalam diam, semuanya kita lalui dalam diam. Aku rasa, keputusanmu adalah yang terbaik. Aku setuju jika kita akhiri hubungan ini.” jawabnya.

 

Kris mengangguk,

“Ku antar pulang, ya?”

 

Jessica menggeleng,

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” jawabnya.

 

Kris mengacak-acak rambutnya prustasi. Kenapa ia baru merasakan sakit sekarang?

“Kris, hubunganmu dengan Jessica noona sudah berakhir?” tanya Suho.

 

“Sudah sejak satu bulan yang lalu.” jawab Kris.

 

“Kenapa kalian mengakhiri hubungan kalian?” tanya Suho.

 

“Tak ada perasaan cinta di antara kami.” jawab Kris.

 

Suho menggeleng,

“Mungkin itu kau, Tapi tidak dengan Jessica noona.”

 

Kris memandang Suho,

“Maksudmu?”

 

Suho beranjak berdiri,

“Jessica noona selalu menangis sepanjang malam. Bahkan aku pernah menemukannya sedang tertidur dengan mata yang bengkak sambil memeluk fotomu.”

 

Kris terdiam. Mungkinkah?, batinnya.

 

Kris merasa waktunya terhenti. Ia merasakan sesak didadanya. Bagaikan kiamat tiba, suasana terasa hampa. Ia merasakan tak ada oksigen yang dapat ia hirup, dan tak ada karbon dioksida yang dapat ia keluarkan. Seorang wanita berhasil membuatnya ingin mati.

“Penyesalan selalu datang belakangan, Kris.”

 

“Maafkan aku, Jessica noona. Aku sadar. Aku tak bisa hidup tanpamu.” ucap Kris dengan raut wajah sedihnya.

 

“Aku juga merasakannya. Tapi.. kau sudah terlambat.”

 

Kris membelalakan matanya,

“T-Terlambat?”

 

Jessica memperlihatkan cincin di jari manisnya,

“Aku sudah bertunangan.”

 

Kris merasakan sesak yang amat dalam di dadanya.

 

“D-Dengan siapa?”

 

“Temanmu.. Kim Su Ho.”

 

“Maafkan aku, Kris.”

Kris menoleh ke sumber suara. Ia segera menghapus air matanya.

“Ada apa kau kemari?” tanya Kris dingin.

“Maaf. Aku harus jujur padamu kalau aku juga mencintai Jessica noona. Aku tak tahan melihatnya terus menangisimu, Kris.” jawab Suho.

Kris beranjak berdiri,

“Aku takkan melepaskannya. Dia milikku dan dia adalah pengatur waktuku.” ucapnya lalu pergi meninggalkan Suho sendirian.

“Dia juga pengatur waktu ku, Kris. Tanpanya hidupku terasa hampa.” gumam Suho.

 >>>

Jangan lupa ninggalin jejak!

Still (Chapter 1)


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • etc

Genre : Romance, Family, Angst, Friendship

Length : Series

Note : FF ini merupakan sekuel dari FF dua versi (Wife’s Not Considered dan I Love You, But I Hate You). Enjoy!

>>> 

Yuri melempar ponselnya ke atas ranjangnya. Tubuhnya yang mulai melemas memaksakan dirinya untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya. Apalagi yang membuatnya seperti ini?

“Sooyeon-ah—gadis itu benar-benar!” gerutu Yuri—prustasi.

Yuri baru saja mendapatkan pesan dari Sooyeon yang mengabarkan bahwa ia telah pergi ke Beijing dan akan bercerai dengan Jongin. Ini sungguh di luar kepala Yuri. Yuri tahu Sooyeon tidak akan pernah mau bercerai dengan Jongin, karena Sooyeon pernah bilang bahwa ia akan bertahan. Tapi, nyatanya?

“Eonni~”

Yuri tersentak saat sadar bahwa seseorang telah duduk di sampingnya. Mungkin karena terlalu prustasi berefek ia tak sadar jika sepupunya sudah ada di sampingnya.

“Apa kau sudah puas, Yoona-ah?” tanya Yuri.

Yoona mengernyit heran, “Apa maksudmu, eonni? Aku tidak mengerti.” balasnya.

“Tidak mengerti, katamu?” tanya Yuri—murka.

Yoona menatap Yuri sedikit takut.

“Kau sudah menghancurkan rumah tangga orang lain, Yoona-ah!” bentak Yuri.

Yoona mengerjap—kaget, “Aku tidak mengerti!” ucapnya.

“Sooyeon bukan pembantu Jongin, melainkan istri Jongin!”

Yoona merasa dirinya seperti tersengat listrik. Tangannya menutup mulutnya yang mulai mengeluarkan isakan tangis. Air matanya tak mau kalah—merembes begitu saja. Namun, kepalanya terus menggeleng mengikuti kata hatinya.

“Jongin oppa belum menikah. Dia akan menikahiku akhir tahun ini. Eonni pasti berbohong!” seru Yoona—di selingi isak tangisnya.

“Sayangnya aku berkata jujur, Yoona-ah.” ucap Yuri.

Yoona mengusap air matanya. Ia segera bangkit dan melemparkan tatapan tajamnya pada Yuri.

“Kalau begitu, aku akan membuat hubungan mereka semakin hancur!” tekadnya—lalu segera pergi.

“Tidak, Yoona-ah!” seru Yuri—namun tak di hiraukan Yoona, “Kau tidak boleh melakukan ini, Yoona-ah!”

>>> 

Seorang pria berpakaian rapi—berdiri di depan sebuah rumah besar sejak tadi. Ia sudah menekan bel berpuluh kali, tapi tak ada jawaban. Akhirnya, pria itu memutuskan untuk menghubungi seseorang.

“Nyonya Jung, sepertinya tuan Kim tidak ada di rumah. Apa yang harus saya lakukan?”

“Letakkan surat-surat tersebut di kotak surat di samping pintu. Dia akan membacanya sendiri.”

“Baiklah, akan saya lakukan.”

“Ya, terima kasih.” ucap Sooyeon—lalu mematikan ponselnya.

“Ada apa?” tanya Qian—sahabat Sooyeon di Beijing.

Sooyeon menghela nafas berat, “Jongin tidak ada di rumah. Pengacaraku datang ke rumah untuk meminta tanda tangannya.” jawabnya.

“Mungkin Jongin sedang sibuk di kantor.” ucap Qian.

“Mungkin~” gumam Sooyeon.

“Jiejie, mengapa pintu tidak di kun—” seorang pria menghentikan kalimatnya saat melihat Sooyeon.

“Maafkan aku, Lu. Tadi saat mengambil susu, aku lupa mengunci pintu.” ucap Qian.

“Saat ini sedang marak perampokan dan penculikan, jiejie. Aku tak ingin kau dan temanmu dalam bahaya.” ucap pria itu. “Ngg—by the way, siapa temanmu itu, jiejie? Wajahnya tampak asing, dan bukan seperti penduduk China.”

Sooyeon segera berdiri dan membungkuk 90˚, “Nihao. Namaku Jung Sooyeon, panggil saja Sooyeon.” ucapnya.

“Oh, penduduk Korea, ya?” tanya pria itu.

Sooyeon mengangguk, “Iya, tepat sekali.” jawabnya.

“Ngg—namaku Luhan. Salam kenal.” balas pria—Luhan—itu.

Sooyeon tersenyum manis. Hal itu membuat Luhan sedikit kagum pada Sooyeon.

“Hm!” seru Qian—merusak momen mereka.

“Ah, jiejie, aku ingin pergi membeli es krim. Mau ikut?” tawar Luhan.

“Kau bersama Sooyeon saja. Aku sedang kurang enak badan. Belikan saja aku es krim.” jawab Qian.

“Aku akan menjagamu.” ucap Sooyeon.

Qian menggeleng, “Kau pikir aku anak kecil, hah? Sudah sana pergi. Aku bisa jaga diri.”

Sooyeon mengangguk. Luhan segera menarik lengannya. “Ayo, noona!” ajaknya.

Sooyeon menatap lengannya yang di pegang oleh Luhan. Menyadari hal itu, Luhan segera melepas genggamannya dari lengan Sooyeon. Wajah Luhan kini bersemu merah.

“Maafkan aku, noona.” ucap Luhan.

“Tidak apa, Lu—han.” jawab Sooyeon.

“Lu saja juga tidak apa.” ucap Luhan.

Sooyeon tersenyum manis, “Baiklah!” ucapnya.

“Ayo, kita pergi!” ajak Luhan, “Sekalian aku ingin mengajakmu berkeliling kota Beijing.”

“Wah! Aku jadi tidak sabar.” ucap Sooyeon—girang.

Qian tersenyum melihat mereka, “Tampaknya kehadiran Luhan dapat membuat Sooyeon berpindah ke lain hati dengan cepat. Ya, semoga saja.” gumamnya.

>>> 

“Jongin-ah, apa kau serius mengajakku ke Beijing?” tanya Sehun.

“Kau pikir aku bermain-main?” tanya Jongin.

“Seohyun pasti marah jika aku pergi secara mendadak.” gumam Sehun.

“Tenang saja. Aku yang akan bertanggung jawab.” ucap Jongin.

“Pesawat menuju China akan berangkat 5 menit lagi. Penumpang di harap segera menaiki pesawat.”

“Ayo, Sehun-ah.” ajak Jongin.

Sehun mengangguk lemah. Ia terus memikirkan kekasih hatinya itu.

“Seohyun pasti takkan mau memberi jatah padaku lagi.” gumam Sehun.

>>> 

Yoona terus menekan bel di rumah Jongin. Ia menggerutu kesal karena Jongin tak kunjung membuka pintu. Padahal ini sudah merupakan waktu kepulangan Jongin bekerja. Yoona juga menghubunginya, tapi nomor Jongin tidak aktif.

“Jongin oppa, kau dimana?” gerutu Yoona—kesal.

Tiba-tiba saja mata Yoona tertuju pada sebuah map di dalam kotak surat yang terbuka. Ia meraih map tersebut tanpa adanya rasa bersalah. Di bukanya map tersebut dan tak lupa ia baca isinya.

Mata Yoona membesar saat membaca inti dari isi map tersebut. Map yang ia pegang jatuh ke lantai. Tangannya memegang mulutnya dan ekspresinya tak bisa di ungkapkan, seperti seseorang yang baru mendapat kabar bahwa suami atau orangtuanya mengalami kecelakaan.

“Jongin oppa dan Sooyeon eonni—akan bercerai?”

>>> 

Sooyeon dan Luhan mengelilingi kota Beijing menaiki mobil Luhan bermerk California Ferarri berwarna merah. Mobil terbuka tersebut membuat keduanya bisa melihat kota Beijing lebih jelas lagi.

“Es krimnya sangat enak. Qian pasti akan merasa lebih baik setelah mencicipinya.” ucap Sooyeon—seraya menatap bungkusan yang berisikan es krim dalam bentuk wadah.

“Iya. Jiejie sangat menyukai es krim.” ucap Luhan—seraya terus mengemudikan mobilnya.

“Oh, ya, kau dan Qian—memiliki hubungan apa? Kalian keluarga?” tanya Sooyeon.

Luhan menggeleng, “Bukan. Kami hanya sekedar tetangga.” jawabnya.

“Tetangga?”

Luhan mengangguk, “Kami adalah tetangga sejak kecil hingga sekarang. Karena dia lebih tua dariku, aku pun memanggilnya kakak.” jawabnya.

Sooyeon mengangguk mengerti.

“Dan kau? Mengapa bisa berada disini?” tanya Luhan.

Sooyeon menggigit bibirnya. Ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Luhan. Waktunya belum tepat.

“Noona?”

Sooyeon tersentak, “Ah, aku hanya ingin mengunjungi Qian. Aku juga sedang liburan. Makanya aku kemari.” jawabnya.

“Apa profesi noona?” tanya Luhan.

“Ngg—pegawai di perusahaan.” jawab Sooyeon.

Luhan mengangguk mengerti.

“Kau sendiri bagaimana, Lu? Apa profesimu?” tanya Sooyeon.

“Hanya seorang komposer dan pelukis.” jawab Luhan.

“Komposer? Kau bisa menciptakan lagu?” tanya Sooyeon—tak percaya.

“Bukannya sombong. Tapi, sudah banyak penyanyi maupun grup di China yang membeli lagu ciptaanku.” jawab Luhan.

Sooyeon bertepuk tangan, “Wow! Kau hebat, Lu. Keren!” pujinya.

Luhan tersipu mendengarnya. Ia hanya bisa tersenyum untuk membalas pujian dari Sooyeon.

>>> 

“Woah! Rumah sepupumu besar juga.” ucap Jongin.

“Iya. Tentu saja. Dia adalah seorang komposer dan pelukis terkenal.” ucap Sehun.

Jongin mengangguk mengerti, “Sebaiknya aku tinggal di Hotel saja, ya?” tanyanya.

“Kau sudah mengajakku kesini. Itu artinya kau harus tinggal disini.” jawab Sehun.

“Tapi, ini memalukan. Seorang pengusaha kaya di Korea menumpang di rumah orang?” seru Jongin.

Sehun memutar bola matanya, “Jika sifatmu selalu seperti ini, Sooyeon tidak akan mau kembali padamu.”

Jongin menelan salivanya kasar. Perkataan Sehun berhasil membuatnya membeku sesaat.

TIN! TIN!

Jongin dan Sehun berbalik. Mereka kaget di depan mereka ada sebuah mobil.

“Bisa kalian minggir?” pinta si pemilik mobil tersebut.

“Gege, kau membenciku, ya?” tanya Sehun.

Si pemilik mobil tertawa renyah. Ia segera turun dari mobilnya dan menghampiri Sehun dan Jongin.

Sehun memeluk pria itu, “Aku merindukanmu, gege.” ucapnya.

“Aku juga merindukanmu.” jawab pria itu.

“Gege, perkenalkan, dia adalah rekan kerjaku, Kim Jongin.” ucap Sehun.

“Kim Jongin, pengusaha nomor satu di Korea Selatan.” ucap Jongin—seraya menyurungkan tangannya.

Sehun memutar bola matanya. Dia sombong lagi, batinnya.

Pria itu menjabat tangan Jongin, “Xiao Luhan, komposer dan pelukis.” balasnya.

“Gege, bisa kami tinggal di rumahmu untuk beberapa hari? Soalnya, Jongin ingin mencari is—” kalimat Sehun terhenti saat Jongin membungkam mulutnya.

“Aku memiliki bisnis disini. Awalnya aku ingin tinggal di Hotel. Tapi, Sehun memaksaku untuk tinggal disini.” ucap Jongin.

Luhan tertawa mendengarnya, “Tidak usah sungkan. Anggap saja rumah ku sebagai rumah kalian juga. Aku juga kesepian. Mari, silakan masuk.” ucapnya.

Jongin membungkuk sopan. Sedangkan Sehun mencoba mengatur nafasnya.

“Jongin benar-benar!” gumam Sehun—kesal.

>>> 

Jongin keluar dari rumah milik Luhan. Ia mengenakan pakaian jogingnya. Setelah ia sudah berada di luar gerbang rumah Luhan, ia segera melakukan pemanasan.

“Udara di Beijing ternyata segar juga.” ucap Jongin.

Tiba-tiba, Jongin melihat seorang wanita berpakaian olahraga keluar dari rumah sebelah. Ia tak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu karena wajahnya tertutupi oleh rambut yang bergelombang indah.

“Selamat pagi, Jongin.” sapa Luhan—yang baru saja ada di sampingnya.

“Luhan? Mau joging juga?” tanya Jongin.

“Iya. Aku ada janji dengan seorang wanita untuk joging bersama. Kau boleh ikut jika kau mau.” jawab Luhan.

Aku rasa aku harus menerima tawarannya atau aku akan tersesat, batin Jongin.

“Ah, itu dia.” ucap Luhan, “Sooyeon noona?” panggilnya.

Sooyeon noona?, batin Jongin.

“Selamat pagi, Lu.” sapa wanita itu.

Suara ini.., batin Jongin.

Jongin pun segera menoleh ke arah wanita yang ia lihat tadi.

“SOOYEON?”

“KIM JONGIN?”

~To Be Contiuned~

 

Teaser Next Chapter :

“Baru dua hari berpisah, sudah bertemu lagi.” gumam Sooyeon.

“Tapi, kau senang, kan?” goda Jongin.

“Yoona-ah, kau mau kemana?” tanya Yuri—saat melihat Yoona mengemasi pakaiannya.

“Aku ingin menyusul Jongin oppa ke Beijing!” jawab Yoona.

“Dimana anakku, tuan Kim?” tanya Miyoung.

“Jongin menghubungiku kemarin. Dia berkata dia dan Sooyeon sedang berlibur ke Beijing.” jawab Jaejoong.

“Lebih baik kau pulang, Kim Jongin!” usir Sooyeon.

“Aku kesini untuk membawamu kembali.” ucap Jongin.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!” ucap Sooyeon.

Note : Jangan lupa tinggalin jejak .__.