Who I Love? (Chapter 2)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Lu Han

Support Cast :

  • SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
  • etc

Genre : Fluff, Romance, School Life, Friendship

Length : Series

Note : Posternya nyusul, ya? Gak papa kan sementara gak pake poster. Lagi males bikin soalnya. Soalnya karakternya banyak. Jadi aku pengen request poster ke orang pinter aja XD

>>> 

Aku menatapi langit-langit kamarku. Aku masih memikirkan kalimat yang di keluarkan dari mulut Sehun.

“Selamat, ya? Kau pasti sangat puas bisa berkencan dengan Luhan,”

 

Aku mengusap wajahku pelan. Aneh, untuk apa aku memikirkannya? Apa dia cemburu? Ah, itu sangat mustahil. Mana mungkin seorang Oh Sehun yang dingin dan selalu membuatku kesal menjadi cemburu. Masa dia menyukai Luhan sunbae? Atau dia menyukaiku?

Ah, sangat mustahil!

“Sica-ya~”

Aku menoleh ke sumber suara. Oh ternyata itu Seohyun. Ia muncul dari balik pintu kamarku.

Aku segera bangkit dan duduk, “Masuklah, Seohyun-ya,” ucapku.

Seohyun mengangguk dan masuk ke kamarku. Ia duduk di hadapanku.

“Kau dan Sehun—bertengkar lagi?,” tanyanya.

Bertengkar? Kapan? Bukankah Sehun hanya mengucapkan selamat padaku?

“M-Memangnya kenapa, Seohyun-ya? Dia menceritakan sesuatu padamu?,” tanyaku.

Seohyun menggeleng, “Hanya saja—tadi aku melihat Sehun membanting playstationnya di kamarnya. Ku pikir kalian sehabis bertengkar,” jawabnya.

Astaga! Apakah Sehun semarah itu? Tapi, untuk apa dia marah?

“Apa kau menanyakan apa yang terjadi padanya?,” tanyaku.

“Tadi aku sempat bertanya. Tapi, dia malah membentakku dan menyuruhku untuk keluar dari kamarnya,” jawab Seohyun.

Tidak! Sehun tidak pernah sebelumnya membentak Seohyun. Aku harus memberi Sehun pelajaran.

“Kau tunggu disini, Seohyun-ya. Don’t go anywhere,” pintaku.

“U-Untuk apa?,” tanyanya.

“Tunggu saja disini. Tetap disini hingga aku kembali,” jawabku.

Setelah Seohyun menganggukan kepalanya, aku segera keluar dari kamarku dan berlari menuju kamar Sehun. Awas saja kau, Oh Sehun. Akan ku beri kau pelajaran karena sudah membentak Seohyun.

“OH SEHUN, BUKA PINTUNYA!!,” teriakku—seraya menggendah pintu kamarnya.

“HEI! OH SEHUN!!,” teriakku lagi. Apa dia tuli? Kenapa pintunya belum di buka juga?

“Baik, aku akan mendobrak pintu kamarmu,” ucapku.

Aku segera mundur. Aku menarik napas dalam dan mengeluarkannya. Setelah itu, aku bersiap untuk berlari dan mendobrak pintu kamar raja iblis itu.

“AAAAAA!!!!!!!,” teriakku—seraya mulai berlari menuju pintu kamar Sehun.

Namun,

“ARGH!!,”

Aku membuka mataku. Bukannya mendobrak pintu, tapi aku malah mendobrak perut Oh Sehun. Dia pasti kesakitan.

“Kau ini!,” geramnya.

“Makanya, jangan membuka pintu di saat aku ingin mendobraknya,” ucapku.

Sehun masih memegangi perutnya. Wajahnya terkesan pahit. Terdengar ringisan yang cukup keras dan tertahan. Apakah sesakit itu rasanya?

“M-Maafkan aku, Sehun-ah,” ucapku—takut.

BRUKKK!!!

“OH SEHUN!!!!,” teriakku—kaget. Sehun tiba-tiba terjatuh ke lantai seperti orang yang sedang pingsan. Hanya saja Sehun masih sadar.

“A-Aku akan membawamu ke Rumah Sakit,” ucapku.

Baru saja aku ingin beranjak, tapi Sehun memegang lenganku. Aku menatapnya bingung.

“T-Tidak perlu ke Rumah Sakit. Cukup di kompres dengan handuk hangat, pasti sembuh!,” ucapnya—di ikuti ringisannya.

Aku menatap Sehun kagum. Ternyata dia cukup kuat.

“Baiklah,” ucapku—lalu membantunya berdiri.

>>> 

“Bagaimana kau bisa seperti ini?,” tanya Seohyun—seraya mengompresi perut Sehun.

“Maafkan aku, Seohyun-ya,” ucapku—menyesal.

“Tidak—ini bukan salahmu, Jessica-ya,” ucap Sehun—dan tersenyum.

Aku terpaku melihat senyumannya. Ini yang pertama kalinya. Aku baru pertama kali bisa melihat seorang Oh Sehun tersenyum. Dan senyuman itu di tujukan untukku.

“Sehun-ah, apa kau baik-baik saja?,”

Aku menoleh ke belakang. Ternyata Chanyeol, Baekhyun dan Taeyeon sudah datang. Tadi aku yang menghubungi mereka.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit nyeri di bagian perutku,” jawab Sehun.

“Bagaimana hal ini bisa terjadi?,” tanya Taeyeon.

Aku menunduk, “Aku meninju perutnya,” jawabku.

“A-Apa?,”

“Jung-ya, kau luar biasa!,” seru Chanyeol—seraya memegang bahuku. Dasar Chanyeol. Di saat seperti ini sangat tidak tepat untuk memuji keahlianku.

“Sehun-ah, besok kau tidak usah masuk sekolah,” ucap Baekhyun.

“Tidak mau. Aku akan tetap masuk,” protes Sehun.

“Dasar keras kepala!,” seruku—yang sukses membuat semuanya memandang ke arahku.

“Apa katamu?,” tanya Sehun.

“Kau—keras kepala, Oh Sehun!,” jawabku, “Kau sedang sakit. Jangan memaksakan dirimu. Kau hanya akan membuat orang-orang di sekitarmu menjadi repot!,” seruku.

Semua yang ada di sekitarku masih diam. Begitu juga dengan Sehun.

“Aku tidak bermaksud untuk menghinamu. Tapi, aku hanya ingin kau mandiri, Sehun-ah. Mandiri dalam artian kau harus bisa menjaga kondisimu. Jangan masuk sekolah besok. Minimal satu hari saja. Beristirahatlah dulu. Jangan membuat orang lain mencemaskanmu,” ucapku.

“Jessica-ya~”

“Kau selalu menjadi nomor satu di mata semua orang. Di mata Seohyun, dan di mata teman-teman. Sedangkan aku?,” aku menarik napas sejenak, “Aku iri padamu, Oh Sehun. Semua orang selalu mencemaskanmu, peduli padamu. Dan sekarang aku ingin teman-teman tidak perlu mencemaskanmu. Maka dari itu, beristirahatlah!,”

“Sica-ya!,”

Seohyun menghampiriku dan memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Beberapa detik kemudian, aku merasakan banyak yang memelukku.

“Kami semua peduli padamu, Sica-ya,” ucap Seohyun.

“Seohyun benar, Jung-ya. Kami peduli padamu,” ucap Chanyeol.

“Bukankah kita berteman?,” tanya Baekhyun.

“Teman harus saling peduli,” ucap Taeyeon.

Aku tersenyum dan terharu. Ku usap air mataku yang mulai jatuh. Aku melirik Sehun. Ia juga tersenyum padaku.

>>> 

Aku sedang duduk bawah pohon rindang di halaman sekolah. Dengan lantunan musik yang keluar dari earphone yang menempel di sepasang telingaku, aku menggambar seseorang yang ada di hadapanku.

“Apakah sudah selesai, Jung-ya?,”

Aku menghela napas berat, “Kau sangat payah, Chanyeol-ah. Begitu saja sudah lelah,” cibirku.

“Tentu saja lelah, Jung-ya. Aku bukan patung yang bisa berdiam diri dalam waktu yang lama,” ucap Chanyeol.

Aku mendesis, “Ini baru sedikit, Park Chanyeol. Aku baru melukis bagian wajahmu,” ucapku.

Chanyeol menghela napas berat, “Masih lama, ya?,” tanyanya.

“Salahmu sendiri karena bersedia sebagai model lukisku,” ucapku.

“Aku bersedia menjadi model lukismu,”

Aku menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, pemilik suara tersebut adalah Luhan sunbae.

“L-Luhan sunbae?,”

Luhan segera duduk di sampingku, “Mungkin Chanyeol sudah lelah. Aku siap menjadi patung untuk di lukis,” ucapnya.

Aku mengerjapkan mataku. Apa bisa ya aku melukis Luhan sunbae? Aku takut hasilnya jelek. Seorang Luhan sunbae yang sangat sempurna tidak mungkin bisa di lukiskan apalagi yang melukisnya adalah pelukis amatir seperti aku.

“Bagaimana?,” tanya Luhan sunbae.

“Ngg—baiklah,” jawabku.

Luhan sunbae pun beranjak berdiri dan menggantikan posisi Chanyeol. Chanyeol dengan wajah kusutnya segera menyingkir dan duduk di sampingku.

“Kau tega sekali menggantikanku dengannya, Jung-ya,” bisik Chanyeol.

“Bukankah kau kelelahan?,” tanyaku.

Chanyeol mengerucutkan bibirnya—membuat dirinya tampak konyol dan err…menggemaskan.

Aku mulai menggambar bagian wajah Luhan sunbae. Aku melakukannya dengan hati-hati. Aku takut aku salah menggambarnya.

>>> 

“Kami pulang!!,” seruku dan Seohyun.

Kami menemukan Sehun yang sedang menonton TV sambil duduk di sofa. Aku pun duduk di samping Sehun, sementara Seohyun duduk di sofa lainnya.

“Bagaimana keadaanmu?,” tanyaku.

“Seperti yang kau lihat,” jawabnya—datar.

Hei, ada apa lagi dengannya? Kenapa the real of Oh Sehun telah kembali? Padahal aku lebih suka sikapnya yang tadi malam.

“Sehun-ah, kau ingin ku buatkan sup?,” tawar Seohyun.

Sehun mengangguk, “Kebetulan aku sedang lapar,” jawabnya.

Seohyun segera bangkit dan pergi menuju dapur. Baru saja aku ingin menyusulnya, tapi Sehun menahanku dengan menggenggam lenganku.

“Tetap disini, temani aku,” ucapnya.

Aku menghela napas berat. Berhubung dia sedang sakit, dan penyebabnya adalah aku, maka mau tidak mau aku harus menurutinya.

“Apa hari ini kau bersama dengan Luhan lagi?,”

Aku menelan salivaku kasar. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah Sehun keturunan seorang peramal?

“Hei, jawab aku!,”

“Ngg—iya, bersama Chanyeol juga,” jawabku.

Aku mendengar Sehun menghela napas kasar. Aku menjadi sedikit takut. Bagaimana jika ia marah seperti tadi malam?

“Sudah ku duga,” gumamnya.

“K-Kenapa kau tampaknya tak suka jika aku bersama Luhan sunbae?,” tanyaku.

Sepertinya aku salah bertanya. Kini, Sehun menatapku tajam. Seohyun, cepatlah datang. Cairkan suasana yang menegangkan ini.

Sehun mengalihkan pandangannya ke TV, “Luhan bukan orang yang baik,” jawabnya.

Aku menoleh ke arahnya dan sedikit kaget akan pernyataan Sehun.

“Apa maksudmu Luhan sunbae bukan orang yang baik?,” tanyaku—tak terima.

Sehun beranjak berdiri, “Kau akan tahu nanti. Jadi, ku sarankan untuk menjauhinya mulai hari ini,”

Aku terdiam. Apa benar Luhan sunbae bukan orang yang baik? Melihat karakter wajahnya, sulit untuk mempercayai perkataan Sehun.

>>> 

“Apa kau masih mendekati gadis blasteran itu?,” tanya Minseok.

“Namanya Jessica, hyung,” ucap Luhan.

Minseok memutar bola matanya, “Terserah apa katamu, Luhan.” ucapnya, “Lebih baik kau berhenti mendekatinya. Kau tahu dia tinggal bersama siapa,”

Luhan menyeringai, “Aku tahu apa yang ku lakukan, hyung. Percayalah padaku!,” ucapnya.

Minseok menatapnya sedikit bingung. Rencana apa lagi yang di susun olehnya?, batinnya.

To Be Contiuned

 

Review, please ^^

Komentar minimal 20. Kalo gak lebih, gak aku lanjutin FF ini.

Iklan

Still (Chapter 2)


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong
  • SNSD’s Tiffany as Jung Miyoung
  • etc

Genre : Romance, Family, Angst, Friendship

Length : Series

>>> 

Sooyeon mengerjapkan matanya, begitu juga dengan Jongin. Mereka sama-sama kaget dan tak percaya.

“Kalian saling mengenal?,” tanya Luhan.

Sooyeon mengangguk, begitu juga dengan Jongin.

Luhan tersenyum, “Baguslah. Itu artinya aku tak perlu memperkenalkan kalian berdua lagi,” serunya.

Jongin tertawa paksa, “Ah, iya,” ucapnya.

Jessica pun memamerkan senyuman paksanya. Bagaimana mungkin Jongin berada disini?, batinnya.

>>> 

Luhan, Sooyeon dan Jongin beristirahat di sebuah bangku di taman. Disana banyak sekali orang-orang yang bersantai setelah joging.

“Jadi, kalian adalah rekan kerja, ya?,” tanya Luhan.

“Iya,” jawab Sooyeon dan Jongin bersamaan.

“Pasti enak sekali punya sekretaris cantik seperti Sooyeon. Benar, kan, Jongin-ssi?,” tanya Luhan.

Jongin tersenyum paksa, “Begitulah~” jawabnya.

Tiba-tiba, sebuah truk es krim muncul dan berhenti di ujung taman yang jaraknya lumayan dekat dengan mereka. Mata Sooyeon langsung berbinar saat melihat es krim.

“Akan ku belikan kau es krim, noona,” ucap Luhan—yang mengerti maksud dari tatapan Sooyeon.

“Ah? Terima kasih, Lu,” ucap Sooyeon—gembira.

“Bagaimana denganmu, Jongin-ssi?,” tanya Luhan.

Jongin mengibaskan tangannya, “Tidak, terima kasih,” jawabnya.

Luhan mengangguk mengerti. Ia pun segera pergi menghampiri truk es krim tersebut.

Dan kini, hanya ada Sooyeon dan Jongin yang duduk di bangku tersebut. Suasana berubah menjadi canggung.

“Ngg—bagaimana kabarmu?,” tanya Jongin—mencoba membuka pembicaraan.

“Disini aku baik, sangat baik,” jawab Sooyeon.

Jongin hanya ber-oh pelan. Sepertinya Sooyeon sangat betah disini, batinnya.

“Baru dua hari berpisah, sudah bertemu lagi.” gumam Sooyeon.

Jongin  menoleh ke arah Sooyeon. Ia mulai tersenyum jahil, “Tapi, kau senang, kan?” goda Jongin.

Sooyeon menoleh cepat ke arah Jongin. Ia menatap Jongin tajam. Sedangkan Jongin membalasnya dengan tatapan hangat, dan itu berhasil membuat Sooyeon luluh.

“Tentu saja aku senang. Tapi, kau tenang saja, Jongin-ssi. Aku sudah mengurus perceraian—”

“Tidak!,” potong Jongin cepat—membuat Sooyeon kaget mendengarnya.

“Aku tidak akan pernah bercerai denganmu, Sooyeon-ah. Tidak akan pernah!,” ucap Jongin.

Sooyeon menatap Jongin dengan tatapan sulit di artikan. Bingung, takut, cemas, tak percaya, senang, sedih, itulah yang saat ini ada di pikirannya.

“Es krim sudah datang!,” seru Luhan—seraya membawa dua cup es krim.

“Wah~” seru Sooyeon—seraya meraih satu es krim yang ada di tangan Luhan. “Terima kasih, Lu. Kau yang terbaik,”

Luhan tersipu mendengarnya. Ia tak dapat menutupi senyumannya. Sedangkan Jongin harus menahan rasa cemburu yang membakar hatinya.

Sakit, kenapa rasanya sakit sekali?, batinnya.

>>> 

“Ku mohon, Seohyun-ah. Dengarkan penjelasanku dulu,” pinta Sehun—melalui ponselnya—pada Seohyun, kekasihnya.

Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Sehun mengacak-acak rambutnya prustasi.

“Dia marah?,” tanya Jongin.

“Sangat. Dan kau harus bertanggung jawab,” jawab Sehun—kesal.

“Saat kita kembali ke Seoul, aku berjanji akan mendamaikan kalian berdua,” ucap Jongin.

Tiba-tiba ponsel Jongin berdering. Ia menatap layar ponselnya. Jongin mendadak takut dan cemas. Sehun dapat melihat hal itu dari wajahnya.

“Apakah itu Ayahmu?,” tanya Sehun.

Jongin mengangguk lemah. Ia segera mengangkat teleponnya sebelum Ayahnya semakin marah.

“Ada apa, appa?,” tanya Jongin.

“Kau dimana?,”

“Ngg—aku—”

“Saat ini aku berada di kantormu. Aku menanyakan pada semua karyawan. Tapi, mereka tidak tahu. Rumahmu juga terkunci tak ada penghuni kata Miyoung. Lantas, dimana kau dan Sooyeon?,”

Jongin menelan salivanya kasar, “Aku dan Sooyeon berada di Beijing. Maaf kami lupa memberitahumu, appa. Kami lupa,” ucapnya.

“Astaga! Harusnya kau memberitahuku terlebih dahulu,”

“Maafkan aku, appa,” ucap Jongin.

“Ya sudah. Tidak apa. Bersenang-senanglah di Beijing. Aku tahu kalian lelah bekerja. Jadi kalian memang butuh penyegaran,”

“Kau adalah Ayah yang pengertian, appa,” ucap Jongin—senang.

“Tentu saja. Aku tutup dulu, ya?,”

“Baiklah,” jawab Jongin—lalu mengakhiri teleponnya.

Jongin bersandar dan menghela napas lega. Untunglah ia berhasil membuat Ayahnya tak marah dan tak curiga.

“Kali ini kau selamat, Jongin-ah,” ucap Sehun.

Jongin hanya tersenyum mendengarnya.

>>> 

“Ya sudah. Tidak apa. Bersenang-senanglah di Beijing. Aku tahu kalian lelah bekerja. Jadi kalian memang butuh penyegaran,”

Yoona menangkap kalimat dari mantan direktur perusahaan terbesar di Korea Selatan yaitu Kim Jaejoong yang membuat jantungnya tak berhenti berdetak cepat. Saat ini, Yoona sedang menemani Yuri bekerja. Lumayan daripada ia menganggur di rumah.

“Jongin oppa di Beijing?,” gumam Yoona, “Apakah dia bersama Sooyeon eonni?,” pikirnya.

Yuri menatap Yoona tajam. Pasti Yoona merencanakan hal yang aneh lagi, batinnya.

>>> 

Sooyeon sedang berbaring seraya menatap langit-langit kamarnya. Ia masih memikirkan perkataan Jongin tadi pagi di taman.

“Aku tidak akan pernah bercerai denganmu, Sooyeon-ah. Tidak akan pernah!,”

 

“ARGH!!,” teriak Sooyeon—prustasi. Ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.

“Ku dengar, Jongin tinggal di rumah Luhan, ya?,” tanya Qian—yang tiba-tiba muncul di balik pintu kamar Sooyeon.

Sooyeon menghela napas berat, “Ya, begitulah,” jawabnya.

“Aku mengerti akan perasaanmu, Sooyeon-ah,” ucap Qian.

“Terima kasih sudah peduli, Qian,” balas Sooyeon.

“Jika kau masih mencintainya, kembalilah padanya. Ku pikir, Jongin juga masih mencintaimu. Jika tidak, untuk apa ia kemari?,”

Sooyeon terdiam. Perkataan Qian benar juga, batinnya.

“Apa aku memang harus kembali padanya, ya?,” tanya Sooyeon—ragu.

“Kau ragu?,” tanya Qian.

Sooyeon mengangguk, “Aku masih ragu dengan Jongin yang sekarang. Mengapa ia tiba-tiba mengejarku setelah menyakitiku?,”

“Karena ia menyesal,” jawab Qian.

“Kau benar. Tapi, hati kecil ku masih ragu,” ucap Sooyeon.

Qian menghela napas berat, “Kalau begitu, biarkan waktu terus berjalan. Kau lihat dulu perkembangannya sekaligus kau mantapkan isi hatimu,” sarannya.

Sooyeon tersenyum, “Kau adalah penyaran terbaik yang pernah ku temui, Qian,” ucapnya.

“Thats me!,” ucap Qian—percaya diri.

>>> 

Yuri melemparkan tasnya ke atas ranjangnya. Hari yang melelahkan, batinnya. Bagaimana tidak lelah? Hari ini ia mendapatkan pekerjaan ekstra selama Sehun tidak ada. Tetapi, untungnya, gajinya menjadi bertambah.

“Tiba-tiba aku merindukan Sooyeon. Kira-kira, dia sedang apa, ya?,” gumam Yuri.

BUKK!!

Yuri tersentak saat mendengar suara keras dari kamar sebelah. Khawatir dengan apa yang terjadi, Yuri pun segera pergi ke kamar sebelah.

“Yoona-ah, kau mau kemana?” tanya Yuri—saat melihat Yoona mengemasi pakaiannya.

“Aku ingin menyusul Jongin oppa ke Beijing!” jawab Yoona.

Yuri membelalakan matanya. Ia tak percaya Yoona senekat ini. Yuri pun segera mengeluarkan pakaian Yoona dari koper.

“Apa yang kau lakukan, eonni?,” tanya Yoona—kesal.

“Kau tidak boleh pergi,” larang Yuri.

“Dan membiarkan Jongin oppa dan Sooyeon eonni tidak jadi bercerai? Tidak akan!,” seru Yoona.

“K-Kau tahu?,” tanya Yuri.

Yoona mengangguk, “Ya, aku sudah tahu semuanya,” jawabnya.

“Yoona-ah, ku mohon jangan rusak hubungan mereka,” pinta Yuri.

“Aku tidak mau, eonni!,” tolak Yoona, “Jongin oppa adalah cinta pertamaku, hidup dan matiku. Aku tidak mau kehilangan dia,” ucapnya.

“Yoona-ah, kau terlalu terobsesi pada Jongin,” ucap Yuri.

“Memang iya. Aku terobsesi dan tergila-gila pada Jongin oppa,” jawab Yoona—seraya kembali mengemasi baju-bajunya.

Yuri mengacak rambutnya prustasi. Saat ini, ia sedang memikirkan cara untuk mencegah kepergian Yoona.

>>> 

Miyoung menekan bel di kediaman Kim Jaejoong. Pintu pun di buka oleh salah satu pelayan di rumah seperti Mansion tersebut.

“Sajangnim, silakan masuk!,”

Miyoung mengangguk seraya masuk ke dalam rumah milik Jaejoong. Ia mendapati Jaejoong sedang menonton TV di ruang tengah.

“Miyoung-ah? Silakan duduk,” ucap Jaejoong.

“Terima kasih,” ucap Miyoung—seraya duduk di sofa nan empuk, “Dimana anakku, tuan Kim?” tanya Miyoung.

“Jongin menghubungiku kemarin. Dia berkata dia dan Sooyeon sedang berlibur ke Beijing.” jawab Jaejoong.

Miyoung hanya ber-oh pelan. Syukurlah jika Sooyeon baik-baik saja, batinnya.

>>> 

Sooyeon dan Luhan sedang makan siang di halaman Luhan. Sebenarnya berempat bersama Jongin dan Sehun. Tapi, keduanya begitu pasif sehingga rasanya hanya ada Sooyeon dan Luhan saja.

“Kenapa kalian berdua diam?,” tanya Luhan.

“Aku hanya mengikuti tradisi eomma,” jawab Sehun.

Luhan terkekeh mendengarnya, “Bagaimana denganmu, Jongin-ssi?,” tanyanya.

“Aku hanya sedang ingin menikmati masakanmu saja,” jawab Jongin—asal. Padahal sedari tadi ia sibuk memandangi Sooyeon. Maka dari itu Sooyeon merasa gelisah.

Selesai makan, Sooyeon meminta ijin untuk ke rumah Qian sebentar. Namun tampaknya Jongin mengikutinya hingga Sooyeon menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang rumah Luhan.

“Berhenti mengikutiku, Jongin-ssi,” pinta Sooyeon.

“Aku hanya ingin kau menjawab pernyataanku kemarin,” ucap Jongin.

Sooyeon menelan salivanya kasar. Ia belum siap untuk menjawab. Bukankah ia berencana untuk melihat dulu dalam waktu yang lama setelah itu mengevaluasinya?

“J-Jongin—”

“Hanya jawab saja. Dan katakan—kau ingin kembali lagi padaku,” pinta Jongin.

“Lebih baik kau pulang, Kim Jongin!” usir Sooyeon.

Jongin mengernyit heran, “Aku berada di depan rumah tempat aku tinggal sementara,” jawabnya.

“Maksudku pulang ke Seoul,” ucap Sooyeon.

“Aku kesini untuk membawamu kembali.” ucap Jongin.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!” ucap Sooyeon.

DEG!

Perkataan Sooyeon bagaikan sengatan listrik baginya. Wajah Jongin tak bisa di artikan. Tampak seperti syok berat pada umumnya.

“J-Jongin~” gumam Sooyeon—takut.

“Ku pegang kata-katamu, eonni,”

Sooyeon dan Jongin menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, pemilik suara itu tak lain adalah Yoona.

“Yoona-ah?,” gumam Jongin—kaget.

Yoona segera merangkul lengan Jongin, “Dia sudah tak mencintaimu lagi, oppa. Percuma mengharapkannya. Yang ada, kau hanya menerima luka,” ucapnya.

“A-Aku hanya—”

“Oppa, ayo kemasi barang-barangmu dan kita pulang,” seru Yoona.

“J-Jongin, tapi—”

Yoona membawa Jongin berjalan masuk ke rumah Luhan. Jongin tampak seperti boneka yang dengan lemah di perintahkan oleh majikannya. Ia menurut apa yang di katakan Yoona. Mungkin ini karena efek syok yang tadi Jongin rasakan.

Mata yang awalnya berkaca-kaca, kini sudah merembeskan kristal-kristal bening. Sooyeon tak bisa mengeluarkan satu kata pun. Berteriak pun tidak bisa. Rasanya ia kehilangan oksigen.

Awalnya hanya ingin mencoba apakah Jongin langsung menyerah begitu saja, ternyata mengefekkan suatu dampak yang besar. Memang, penyesalan selalu datang di akhir.

Hujan pun turun dengan derasnya. Namun, Sooyeon tetap mematung di tempat yang tadi. Hingga seseorang memayunginya di tengah hujan yang deras.

“Apa kau baik-baik saja, noona?,” tanya Luhan.

Namun yang di tanya lagi-lagi tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Kini, Luhan merasa seperti orang yang aneh sedang berbicara dengan patung manequin yang sangat cantik.

To Be Contiuned

 

Chapter 2 selesai. Akhirnya! Lega, deh! Lanjutannya nyusul, ya? Gak tau sih kapan. Tapi di usahain deh!

Don’t forget about review, okay? ^^

Secret Admirer (Chapter 3)


Gambar

Title : Secret Admirer

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • Super Junior’s Kyuhyun as Cho Kyuhyun
  • 2PM’s Nickhun as Nickhun Horvejkul

Support Cast :

  • T-Ara’s Eunjung as Ham Eunjung
  • SNSD’s Tiffany as Tiffany Hwang
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • T-Ara’s Jiyeon as Park Jiyeon
  • 2PM’s Wooyoung as Jang Wooyoung
  • etc

Genre : Fluff, Romance, Angst, Friendship

Length : Series

>>> 

“I like you..,” ucap Nickhun.

Tubuh Jessica menegang mendengarnya. Apa benar Nickhun mengatakan ini? Ini seperti mimpi saja, batinnya.

“Nickhun-ssi~” gumam Jessica.

“A-Aku baru sadar sekarang,” Nickhun menarik napas dalam sejenak, “Setelah belakangan ini aku selalu bersamamu, saat itu perasaanku padamu mulai tumbuh,” ucapnya.

Jessica diam tanpa kata. Ini terlalu mengagetkan baginya. Awalnya ia pikir Nickhun hanya bermain-main padanya, tapi ternyata seorang Nickhun menyatakan cinta kepadanya dengan sangat tulus hingga ia dapat merasakannya.

“T-Tapi, ini masih perasaan suka, Jessica-ssi. Aku belum merasakan cinta sepenuhnya,” ucap Nickhun.

Jessica menggigit bibirnya. Rupanya hanya perasaan suka, batinnya.

Namun, Nickhun spontan menggenggam tangan Jessica. Jessica tentu kaget di buatnya. Jantungnya berdetak kencang saat Nickhun mulai menyentuh tangannya.

“Maka dari itu, bantu aku, Jessica-ssi!,” pinta Nickhun.

Jessica mengernyit heran, “B-Bantu apa?,” tanyanya.

“Bantu aku untuk belajar mencintaimu,” jawab Nickhun—yang sekali lagi membuat jantung Jessica berdetak sangat cepat.

“Seperti Jessica juga mencintaimu saja,”

Jessica dan Nickhun menoleh ke sumber suara. Ia dapat melihat Kyuhyun turun dari atap sekolah.

“K-Kyuhyun-ah?,” gumam Jessica—kaget.

“Apa yang kau lakukan di atas sana?,” tanya Nickhun.

Kyuhyun mendadak grogi. Bagaimana aku bisa sebodoh ini? Seharusnya aku tidak turun, batinnya.

Jessica menutup mulutnya—dengan ekspresi yang sulit di gambarkan. Namun, Kyuhyun yang memiliki IQ tertinggi di sekolah mampu menerjemahkan ekspresi Jessica.

“B-Bukan, Sica-ah!,” seru Kyuhyun, “Aku baru saja naik ke atas!,” tambahnya.

Jessica memicingkan matanya—menatap Kyuhyun curiga.

“Darimana kau tahu apa maksudku? Darimana kau tahu apa tujuanku ke atap sekolah?,” tanya Jessica.

Kyuhyun menjilat bibirnya, “A-Aku menemukan surat itu. Aku membacanya,” jawabnya, “Sudahlah, jangan bertanya lagi!,” pintanya.

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Baiklah~” jawabnya.

“Surat apa yang kau maksud, Kyuhyun-ssi?,” tanya Nickhun.

“Oh, itu surat dari penggem—hmmpp!,”

Jessica dengan cepat membungkam mulut Kyuhyun sebelum Kyuhyun mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Penggem?,” tanya Nickhun—bingung.

“Penggembala sapi!,” jawab Jessica—asal.

Kyuhyun menyingkirkan tangan Jessica dari mulutnya, “Apa-apaan itu penggembala sapi?,” protesnya.

“Sudahlah, Kyuhyun-ah. Hal itu jangan di ungkit lagi,” bisik Jessica.

Kyuhyun menatap Jessica tak percaya. Ia pikir Jessica sudah berubah. Ternyata hal apapun jika di depan Nickhun pasti berubah menjadi yang aneh-aneh.

“Untuk apa penggembala sapi mengirimimu surat?,” tanya Nickhun.

Jessica menggigit bibirnya. Nickhun tampaknya sangat ingin tahu, tapi aku tidak boleh mengatakan ini atau Nickhun akan membatalkan pernyataan cintanya padaku!, pikirnya.

Jessica segera merangkul lengan Nickhun. Tentu saja Nickhun maupun Kyuhyun kaget melihatnya.

“Aku akan membantumu untuk belajar mencintaiku, Nickhun-ssi,” ucap Jessica.

“A-APA?,” teriak Kyuhyun—tak percaya. Bukankah Jessica membenci Nickhun? Mengapa rasa bencinya menghilang secepat ini?, batinnya.

Nickhun tersenyum mendengarnya. Ia mengusap kepala Jessica dengan lembut.

“Mulai hari ini, kau adalah kekasihku. Mengerti?,” seru Nickhun.

Senyuman Jessica merekah saat itu juga. Dengan cepat, ia menganggukkan kepalanya. Nickhun pun membawanya pergi dari tempat itu.

Sedangkan Kyuhyun masih mematung di anak tangga.

“Mereka berpacaran?,” gumam Kyuhyun—syok.

>>> 

“APA?!!,” teriak Taeyeon dan Tiffany—syok.

Kyuhyun mengangguk lemas.

Tiffany melempar boneka beruangnya ke arah Kyuhyun.

“Hei! Sakit, Fany-ah,” ringis Kyuhyun.

“Kau adalah lelaki terbodoh yang pernah ku temui, Kyuhyun-ah!,” omel Tiffany.

“Fany-ah, Kyuhyun itu siswa terpintar di sekolah. Kenapa kau sebut bodoh?,” protes Taeyeon.

“Tentu saja. Sudah jelas dia mencintai Jessica. Tapi, dia hanya diam saja tanpa mencegah terbentuknya hubungan KhunSica. Bukankah itu bodoh namanya?,” seru Tiffany—emosi.

“Kau pikir mencegah hal itu mudah, Fany-ah? Kau tidak berada di posisiku. Ini semua sangat sulit!,” ucap Kyuhyun.

“Seharusnya kau katakan saja yang sebenarnya kalau kau adalah penggemar rahasianya. Lagipula untuk apa menjadi penggemar rahasia? Kenapa tidak langsung nyatakan saja? Dasar pengecut!,” seru Tiffany.

Kyuhyun membeku mendengar kalimat terakhir dari Tiffany. Hal itu membuat Tiffany merasa tidak enak.

“Kyuhyun-ah, apa kau baik-baik saja?,” tanya Taeyeon.

“Kyuhyun-ah, maafkan aku. Aku—”

“Tidak apa, Fany-ah,” potong Kyuhyun cepat, “Kau benar. Aku seorang pengecut. Aku tak berani menyatakan perasaanku pada Jessica. Harusnya aku menyatakannya,” ucapnya.

“Menyatakan apa?,”

Kyuhyun, Tiffany dan Taeyeon menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Jessica—yang berdiri tepat di depan pintu kamar Tiffany yang terbuka.

“Jessie, sejak kapan?,” tanya Tiffany—kaget.

“Baru saja. Ibumu menyuruhku langsung ke kamarmu,” jawab Jessica.

“Ngg—mari masuk, Sica-ah,” seru Taeyeon.

Jessica mengangguk seraya berjalan masuk ke dalam kamar Tiffany. Ia pun duduk di atas ranjang tepat di antara Kyuhyun dan Taeyeon.

“Kau ingin menyatakan apa, Kyuhyun-ah? Kepada siapa?,” tanya Jessica.

Kyuhyun menelan salivanya kasar. Ia memandang Tiffany yang menatap tajam ke arahnya. Apa harus aku mengungkapkannya sekarang?, batinnya.

“Aku ingin menyatakan bahwa—aku akan mengikuti olimpiade matematika di U.S!,” jawab Kyuhyun—yang reflek membuat ketiga sahabatnya kaget.

“Ke U.S? Kapan?,” tanya Taeyeon.

“Kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya? Bukankah kau paling akrab denganku?,” tanya Tiffany—kesal.

“Aku ingin mengumpulkan kalian semua dulu,” jawab Kyuhyun.

“Congratulations, Kyuhyun-ah. Semoga kau bisa menjadi juara pertama,” seru Jessica.

Kyuhyun mengangguk—sambil memamerkan senyuman khasnya. Untung saja aku memang ikut olimpiade. Dan untunglah ini bisa menjadi alasanku, batinnya—lega.

“Kapan kau pergi?,” tanya Taeyeon.

“Minggu depan,” jawab Kyuhyun.

“Berapa lama?,” tanya Jessica.

“Hanya satu minggu,” jawab Kyuhyun.

“Kami akan sangat merindukanmu, Kyuhyun-ah,” ucap Tiffany—di ikuti anggukan Jessica dan Taeyeon.

“Tenang saja. Kita akan saling mengirim email,” ucap Kyuhyun.

Tiba-tiba, ponsel Jessica berdering. Jessica segera meraih ponsel di tasnya. Ia segera mengecek pesan masuk.

Ketiga sahabatnya menatap Jessica sedikit bingung. Jessica menjadi senyam-senyum sendiri.

“Ada apa, Jessie?,” tanya Tiffany.

“Nickhun mengajakku berkencan,” jawab Jessica.

“Kau dan Nickhun—berpacaran?,” tanya Taeyeon—berpura-pura tidak tahu.

Jessica mengangguk, “Nanti akan ku ceritakan,” ucapnya, “Aku pergi dulu, ya? Sampai jumpa!,” pamitnya.

“Sampai jumpa,” balas Taeyeon.

“Take care, Jessie. Have a nice date!,” seru Tiffany.

“Thanks,” ucap Jessica—lalu segera pergi.

Kyuhyun menundukkan kepalanya. Lagi, Jessica berhasil mengiris luka di hati Kyuhyun.

“Salahmu karena tak mengungkapkannya,” ucap Tiffany.

“A-Aku hanya belum siap, Fany-ah,” jawab Kyuhyun.

Taeyeon tersenyum, “Kami mengerti, Kyuhyun-ah. Tapi, kau jangan diam saja. Jika perlu, kirimlah lagi surat seperti biasa,” ucapnya.

Kyuhyun menggeleng, “Percuma saja, Taeyeon-ah. Jessica sudah tak peduli lagi pada sang penggemar rahasia,” jawabnya.

>>> 

Jessica dan Nickhun berada di sebuah kedai es krim yang terletak di kawasan Gangnam. Mereka menikmati es krim perpaduan strawberry bercampur chocolatte crispy dan vanilla.

“Cuaca yang cerah sangat pas sebagai latar kencan hari ini,” ucap Nickhun.

Jessica tersenyum manis, “Es krim dengan perpaduan tiga rasa membuat kencan hari ini menjadi campur aduk seperti apa yang ku rasakan saat ini,” ucapnya.

Nickhun tertawa renyah, “Sejak kapan kau pintar berkata-kata?,” tanyanya.

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Aku hanya tidak ingin kalah darimu,” jawabnya.

Di sisi lain, ada dua wanita yang berpakaian seperti seorang artis dengan penyamaran lengkap—memperhatikan pasangan yang di sebut KhunSica dengan diam-diam.

“Mereka tampak bahagia,”

“Jiyeon-ah, jangan membuat hatiku semakin hancur,” pinta Eunjung—sakit hati.

“Aku hanya berkata jujur,” jawab Jiyeon—polos.

Eunjung menatap Jessica murka, “Aku takkan melepaskanmu, Jessica-ssi. Kau takkan bisa bersama Nickhun lagi. Akan ku pastikan itu!,” geramnya.

“Astaga! Mereka bersuap-suapan!,” seru Jiyeon, “Manis sekali~” tambahnya.

“Jiyeon-ah!!,” geram Eunjung—kesal.

>>> 

Nickhun memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Jessica. Jessica segera melepas sabuk pengamannya.

“Terima kasih sudah mengantarku pulang, Nickhun-ah,” ucap Jessica.

“Itu sudah menjadi tugasku,” jawab Nickhun.

Jessica terkekeh pelan, “Aku masuk, ya?,” pamitnya.

Nickhun mengangguk, “Good night, dear!,” ucapnya—seraya mengusap kepala Jessica.

Pipi Jessica bersemu merah. Ia hanya mengangguk dan segera keluar dari mobil Nickhun.

Jessica melambaikan tangannya hingga mobil Nickhun pergi. Ia segera melangkah masuk ke dalam gerbang rumahnya. Saat sudah berada di depan pintu rumah, matanya menangkap sebuah amplop berwarna merah jambu.

“From your secret admirer?,” gumam Jessica—sambil tersenyum.

KREKKK!!!

Jessica kaget saat pintu tiba-tiba terbuka. Sangking kagetnya, amplop yang ada di tangannya terjatuh.

“Eonni, kenapa baru pulang?,” tanya Krystal.

“Ngg—maafkan aku, Kryssie,” ucap Jessica.

“Ayo cepat masuk. Masakan ku nanti dingin,” ucap Krystal.

“Baiklah~” jawab Jessica—lalu masuk bersama adik kesayangannya itu.

30 detik kemudian, seorang pria meraih amplop merah jambu yang tergeletak di teras rumah Jessica. Ia meremas amplop tersebut.

“Dugaanku benar. Jessica sudah tidak peduli lagi pada penggemar rahasianya,” gumam pria itu—lalu segera pergi.

Setelah kepergian pria itu, pintu rumah Jessica terbuka. Dan orang yang membukanya tak lain adalah Jessica.

“Rasanya tadi amplop itu terjatuh di teras,” gumam Jessica, “Tapi, kenapa sekarang sudah tidak ada, ya?,”

“EONNI, MAKANANMU BELUM KAU HABISKAN!,” teriak Krystal—dari dalam.

“Iya, Kryssie!,” jawab Jessica—setengah berteriak. Ia mengangkat bahunya lalu masuk kembali ke rumahnya.

>>> 

“Jadi, kau dan Jessica berpacaran?,” tanya Wooyoung.

Nickhun mengangguk, “Ya, begitulah,” jawabnya.

“Ku pikir kau masih mencintai Eunjung,” ucap Wooyoung.

“Jangan membahas wanita itu. Aku muak melihat maupun mendengar namanya,” seru Nickhun—kesal.

Wooyoung mengangguk, “Rupanya prince of Thailand sudah move on, ya?,” godanya.

Nickhun terkekeh pelan, “Aku sudah move on. Sudah lama, Wooyoung-ah,” jawabnya.

“Baguslah!,” ucap Wooyoung, “Itu artinya aku bisa mendekati Eunjung,” ucapnya.

“Dekati saja dia. Aku sudah tidak peduli lagi padanya,” ucap Nickhun.

Tiba-tiba, Eunjung datang dan memeluk Nickhun dari belakang.

“Good morning, my handsome prince!,” seru Eunjung.

“Hei! Lepaskan aku!,” gerutu Nickhun.

“Tidak mau!,” tolak Eunjung—seraya mempererat pelukannya pada Nickhun.

“Nickhun-ah~”

Nickhun, Wooyoung dan Eunjung menoleh ke sumber suara. Mereka menangkap Jessica yang berdiri di sudut kantin.

“J-Jessica—”

Jessica segera berlari keluar dari kantin. Sedangkan Eunjung tersenyum penuh kemenangan.

“LEPASKAN AKU!!,” teriak Nickhun—murka.

Eunjung pun melepaskan pelukannya pada Nickhun. Nickhun segera berlari mengejar Jessica.

>>> 

Jessica duduk di atap sekolah. Ia menangis sangat keras dan kencang. Seragamnya sudah basah pada bagian atas karena di banjiri oleh air matanya.

“Hei, idiot!,”

Jessica menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Kyuhyun. Ia sempat kaget saat Kyuhyun menyebutnya idiot. Tapi, untuk saat ini ia tidak bisa marah pada Kyuhyun.

Kyuhyun segera menghampiri Jessica dan duduk di sampingnya.

“Bukankah kau bilang kau menyesal percaya pada Nickhun?,” tanya Kyuhyun.

Jessica menoleh ke arah Kyuhyun.

“Sifat seseorang tidak akan bisa berubah. Memang bisa berubah, tapi membutuhkan waktu yang lama. Apa kau mengerti maksudku?,” tanya Kyuhyun—seraya menatap lurus ke depan.

Jessica ikut menatap lurus ke depan, “Mengapa kau selalu hadir di sampingku setiap Nickhun menyakitiku?,” tanyanya.

Kyuhyun tersenyum, “Bukankah aku sangat berguna untukmu? Makanya, jangan pernah kau siakan benda terindah di dalam hidupmu atau kau akan kehilangan benda itu untuk selama-lamanya,” ucapnya—lalu berdiri.

Jessica membeku mendengarnya.

“Ku rasa bel masuk telah berbunyi. Jika kau masih ingin disini, aku akan mengijinkanmu pada Ahn songsaenim,” ucap Kyuhyun—lalu pergi.

Jessica terus memikirkan perkataan Kyuhyun. Ia merasakan ada pesan yang ingin di sampaikan Kyuhyun kepadanya. Tapi, seorang Jessica yang tak terlalu pandai kurang bisa menangkap makna tersebut.

“Jangan pernah kau siakan benda terindah di dalam hidupmu atau kau akan kehilangan benda itu untuk selama-lamanya?,” gumam Jessica pelan.

To Be Contiuned

 

Holaa! I’m back! Pasti banyak yang nungguin kelanjutan FF ini, kan? Nih, aku lanjutin. Dan sorry model tulisannya aku ganti. Mungkin kalo modelnya kayak gini, feelnya lebih dapet. Karena jujur, setelah baca chapter 1 dan 2, rasanya pengen ngedelete tuh FF. Gaje banget tulisannya. Maklum lah tuh tulisan udah berapa tahun yang lalu. Waktu itu saya masih gaje bikin FF.

 

Review, please ^^