I Choose To Love You (Chapter 1)


Title : I Choose To Love You

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • EXO-K’s DO as Do Kyungsoo

Support Cast :

  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • EXO-M’s Tao as Huang Zi Tao
  • SNSD’s Tiffany as Tiffany Hwang
  • SNSD’s Sunny as Lee Sunkyu
  • SNSD’s Hyoyeon as Kim Hyoyeon
  • etc

Genre : Fluff, Romance, Friendship, Comedy

Length : Series

Note : FF ini terinspirasi dari sinetron ‘Heart Series 2’. Jadi, kalo ada kesamaan, harap maklum, ya? Soalnya saya ngepens berat sama Yuki Kato dan saya suka banget karakter Rachel di sinetron itu. Poster nyusul, fufufu~

>>> 

 

Baekhyun, Chanyeol, dan Tao sedang makan siang di kantin. Chanyeol dan Tao terlihat lahap, berbeda dengan Baekhyun yang menunduk sambil mengaduk-aduk makan siangnya.

“Jangan menyiakan makananmu, Baekhyun-ah,” tegur Tao.

Baekhyun mendongakkan kepalanya dan menatap sahabatnya itu.

“Kalau kau tidak lapar, berikan porsimu padaku,” ucap Chanyeol.

PLETAKK!!

Chanyeol meringis ketika Tao memukul kepalanya, “Kenapa kau suka sekali memukul kepalaku?,” tanya Chanyeol.

“Karena menurutku otakmu itu sudah tidak waras,” jawab Tao, intens, “Seharusnya kau memotivasi Baekhyun, bukan meminta makanannya,” tambahnya.

Chanyeol mengusap kepalanya, “Maafkan aku,” ucapnya.

Baekhyun mendorong mangkuk berisikan makanannya ke arah Chanyeol, “Makanlah. Aku sedang dalam tidak nafsu makan,” ucapnya.

Mata Chanyeol berbinar-binar, “Aku mencintaimu, Baekhyun-ah,” serunya—seraya meraih mangkuk milik Baekhyun.

Tao mendesis, “What happen with you?,” tanyanya.

“Bisakah kau tidak menggunakan bahasa Inggris?,” pinta Baekhyun.

Tao mengernyit heran. Biasanya aku menggunakan bahasa Inggris, dia tidak protes!, batinnya.

“Jika kau menggunakan bahasa Inggris, kau akan membuat Baekhyun teringat akan gadis perkasa berdarah campuran itu,” sahut Chanyeol.

“Maksudmu Jessica?,” tanya Tao.

Chanyeol mengangguk cepat. Sedangkan Baekhyun mengusap wajahnya kasar.

“Dia bilang dia akan melanjutkan kuliah di universitas yang sama denganku. Tapi, nyatanya, dia berbohong. Dia pindah ke England secara mendadak dan melanjutkan kuliahnya disana,” ucap Baekhyun, kecewa.

“Apakah dia berkuliah di Oxford University?,” tanya Chanyeol.

“Sepertinya begitu,” jawab Baekhyun.

“Hebat!,” kagum Chanyeol.

Tao menghela napas berat, “Seharusnya kau senang Jessica bisa berkuliah di universitas setinggi Oxford University. Semua orang ingin berkuliah disana,” ucapnya.

“Kau tak mengerti, Tao-ah. Jessica adalah sahabatku sejak kecil. Kami sudah membuat perjanjian bersama agar selamanya akan terus bersama,” ucap Baekhyun.

“Terus bersama? Apakah itu artinya kalian akan menjadi pasangan hingga tua?,” tanya Chanyeol.

Baekhyun terdiam. Ia mencoba mencerna kata-kata Chanyeol.

“Mungkin maksud Baekhyun, mereka akan terus bersama hingga tua sebagai sahabat,” jelas Tao.

Chanyeol mengangguk mengerti, “Aku tidak bisa membayangkan gadis perkasa menikah dengan Baekhyun. Jessica lebih cocok menikah dengan wanita,” ucapnya.

Baekhyun melempar tasnya hingga mengenai Chanyeol. Chanyeol pun meringis kesakitan.

“Apa yang kau lakukan?,” tanya Chanyeol, kesal.

“Jessica akan menikah dengan seorang pria. Akan ku pastikan itu,” tegas Baekhyun—lalu beranjak pergi.

“Ada apa dengannya? Kenapa dia semarah itu? Aku kan hanya bercanda,” ucap Chanyeol.

“Ku rasa jiwa Baekhyun dan Jessica tertukar. Kau lihat, Baekhyun menjadi cerewet seperti gadis yang sedang menstruasi,” jawab Tao.

Chanyeol tertawa lepas karenanya. Rupanya Tao telah tertular virus lawakku, batinnya.

>>> 

Baekhyun terus berjalan menelusuri koridor kampus barunya dengan wajah yang di tekuk. Meski begitu, aura dinginnya masih terpancarkan. Rupanya hanya sosok Jessica saja yang bisa mencairkan aura dingin dari Baekhyun.

“Bloody hell!,” seru seorang gadis berambut merah.

“Ada apa, Fany-ah?,” tanya teman gadis itu—berambut merah muda.

“Iya, ada apa denganmu?,” tanya temannya yang satu lagi—berambut pirang.

“Sunkyu-ah, Hyoyeon-ah, kalian pasti takkan percaya dengan apa yang ku lihat,” ucap gadis berambut merah—yang di panggil Fany atau di kenal dengan nama Tiffany.

“Apa itu?,” tanya Sunkyu dan Hyoyeon, serempak.

“Look at that,” jawab Tiffany—seraya menunjuk Baekhyun yang kebetulan lewat.

“Ya Tuhan!,” seru Hyoyeon, terpesona.

“Dia tampan sekali!,” seru Sunkyu.

“Let’s go, girls,” ajak Tiffany.

Tiffany, Sunkyu, dan Hyoyeon pun menghampiri Baekhyun. Mereka menghalangi jalan Baekhyun hingga Baekhyun harus berhenti.

“Bisakah kalian tidak menghalangi jalanku?,” pinta Baekhyun, dingin.

Tiffany tersenyum manis—seraya mengulurkan tangannya, “Namaku Tiffany, gadis berdarah campuran Amerika dan Korea,” ucapnya.

Baekhyun terdiam. Tiffany mengingatkannya akan sosok Jessica.

“Namaku Sunkyu,” ucap Sunkyu.

“Aku Hyoyeon,” ucap Hyoyeon.

“Baiklah. Sudah cukup berkenalannya, kan?,” tanya Baekhyun—seraya pergi meninggalkan tiga gadis itu.

“I love cold boy,” ucap Tiffany.

“Me too!,” seru Sunkyu dan Hyoyeon, serempak.

Tiffany mendorong kepala Sunkyu bergantian dengan Hyoyeon. Keduanya meringis kecil.

“Just Tiffany Hwang, who can be his girlfriend. Understand?,” seru Tiffany.

“Understand!,” jawab Sunkyu dan Hyoyeon, serempak.

Tiffany segera melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya.

“Hyoyeon-ah,” panggil Sunkyu.

Hyoyeon menoleh, “Apa?,” balasnya.

“Apa kau mengerti arti dari kalimat terakhir dari Fany tadi?,” tanya Sunkyu.

Hyoyeon menggeleng, “Tidak,” jawabnya.

“Lalu, kenapa tadi kau bilang—”

“Ikuti saja perkataannya. Jika tidak, dia tidak akan mau lagi mentraktir kita,” bisik Hyoyeon.

Sunkyu bertepuk tangan, “Kau jenius, Hyoyeon-ah!,” serunya.

Hyoyeon tersenyum tipis, “Ngomong-ngomong, memangnya tadi kau mengerti arti dari perkataan Fany?,” tanyanya.

Sunkyu menggeleng, “Tidak!,” jawabnya.

Hyoyeon tertawa lepas, “Ternyata kau sama saja,” ucapnya.

Sunkyu mengerucutkan bibirnya sedikit kesal.

>>> 

Kelas seni telah di mulai. Kelas itu di pimpin oleh dosen bernama Ahn Sohee. Mereka sedang membahas sesi perkenalan karena ini merupakan hari pertama generasi baru memasuki Inha University.

“Dosen kita cantik juga, ya?,” bisik Chanyeol.

“Wajahnya mirip dengan kakakku di China, Xiumin,” bisik Tao.

Baekhyun berbalik ke belakang, “Kalian bisa diam, tidak? Berisik!,” omelnya.

“Byun Baekhyun!,” panggil Sohee.

Baekhyun kembali ke posisi semula, “Ada apa, songsaenim?,” tanyanya.

“Aku adalah dosenmu. Itu artinya kau harus menghargaiku saat aku berbicara,” jawab Sohee.

Baekhyun menunduk, “Aku mengerti, songsaenim,” ucapnya. Damn! Ku bunuh kalian, Park Chanyeol dan Huang Zi Tao!, batinnya.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu.

“Masuklah,” ucap Sohee.

Pintu pun terbuka. Perlahan, munculah seorang gadis berambut cokelat bergelombang dengan penampilan kasual dan tomboy—masuk ke dalam kelas tersebut. Chanyeol dan Tao memasang ekspresi yang tak bisa di jelaskan.

“Baekhyun-ah,” panggil Chanyeol.

“Tidak mau. Nanti aku di marahi lagi,” ucap Baekhyun.

“Coba lihat ke depan!,” seru Tao.

Baekhyun mendesis. Ia menghela napas berat lalu mengangkat kepalanya dan melihat ke depan.

Gotcha!

“J-Jessica~” gumam Baekhyun—tak percaya.

“Maafkan aku, songsaenim. Lain kali aku takkan terlambat lagi,” ucap Jessica.

“Baiklah, Jessica-ssi. Kau boleh duduk di samping Byun Baekhyun,” ucap Sohee—seraya menunjuk tempat Baekhyun berada.

Jessica melangkah menuju tempat Baekhyun dengan langkah seperti anak laki-laki. Ya, itulah Jessica. Meskipun dia seorang anak pengusaha besar, tetapi dia selalu berpenampilan layaknya seorang preman.

Jessica segera duduk di samping Baekhyun. Baekhyun terus menatapnya. Sedangkan Jessica terlihat tidak mempedulikan Baekhyun yang terus menatapnya.

Jika tidak ada Sohee songsaenim, aku pasti sudah mencekikmu, Jessica Jung!, batin Baekhyun.

>>> 

“Kau bilang kau pindah ke England?,” tanya Baekhyun.

Jessica terkekeh pelan, “Mana mungkin aku meninggalkan sahabat terbaikku,” jawabnya.

Baekhyun segera memeluk Jessica erat, “Kau memang sahabat terbaikku, Sica-ah,” ucapnya.

“Ahem!,” seru Chanyeol dan Tao.

Baekhyun segera melepaskan pelukannya pada Jessica.

“Romantis sekali kalian berdua,” goda Tao.

“Benar. Membuatku iri saja,” ucap Chanyeol.

Wajah Jessica bersemu merah. Namun ia berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri.

“Memangnya salah memeluk sahabat sendiri? Sica sudah seperti adikku, kakakku, saudaraku, bahkan ibuku,” ucap Baekhyun.

“Sekalian saja kau anggap aku nenekmu,” ucap Jessica, kesal.

“Hei, kau marah?,” tanya Baekhyun.

Jessica menggeleng, “Aku tidak marah,” jawabnya. Tentu saja aku marah! Ternyata perasaanmu terhadapku tidak berubah hingga saat ini. Bahkan saat Taeyeon tidak ada, kau tetap menganggapku hanya sebagai sahabatmu, batinnya.

>>> 

Taeyeon memandangi sebuah figura berisikan foto dirinya bersama seorang laki-laki. Keduanya terlihat saling merangkul erat. Foto itu di ambil saat keduanya masih berumur 10 tahun. Kini, keduanya sudah menginjak usia remaja.

“Baekhyun-ah,” lirih Taeyeon, “Kau sedang apa? Apa kau merindukanku?,” tanyanya.

“My princess!,” panggil seorang pria setengah paruh.

Taeyeon segera menghapus air matanya yang mengalir begitu saja, “Coming, appa!,” ucapnya.

Taeyeon segera memasukkan kembali figura tersebut ke dalam laci lemarinya. Kemudian, Taeyeon beranjak keluar dan menghampiri Kim Joonmyun di ruang tengah.

“Ada apa, appa?,” tanya Taeyeon.

Joonmyun segera berbalik. Di tangannya terdapat sebuah kue ulang tahun yang cantik dengan lilin yang berbentuk angka 17.

“Selamat ulang tahun, Kim Taeyeon!,” seru Joonmyun.

Taeyeon segera menghampiri Joonmyun dan memejamkan matanya. Ia mengirimkan harapan, lalu menium lilinnya.

“Semoga harapanmu terwujud, my princess!,” ucap Joonmyun.

“Harapanku adalah,” ucap Taeyeon, terhenti.

Joonmyun mengernyit heran. Ia bingung mengapa Taeyeon mengatakan itu sedangkan dirinya tidak bertanya pada puteri semata wayangnya itu.

“Aku ingin kita kembali ke Seoul, appa,” ucap Taeyeon.

Joonmyun menggeleng, “Disini kau lebih aman, sayang. Dokter disini lebih hebat,” ucapnya.

“Dokter di Seoul juga sama hebatnya,” ucap Taeyeon.

“Tapi—”

Taeyeon menggenggam kedua tangan Joonmyun, “Ku mohon, appa. Kabulkan harapanku di usiaku yang ke tujuh belas. Ku mohon,” pintanya.

Joonmyun menatap Taeyeon khawatir. Ia hanya mengkhawatirkan kondisi puterinya yang lemah.

“Appa, ku mohon!,”

Joonmyun menghela napas berat, “Kita kembali besok,” jawabnya.

>>> 

Baekhyun menarik lengan Jessica—membuat langkah Jessica terhenti.

“Ada apa?,” tanya Jessica.

“Sudah dua hari ku tawari pulang bersama, kau tidak mau,” ucap Baekhyun.

Jessica menggigit bibirnya, “A-Aku hanya ingin pulang sendiri saja. Lagipula, aku di jemput kok,” jawabnya.

“Padahal aku ingin kita pulang dan berangkat bersama seperti dulu,” ucap Baekhyun.

“Maafkan aku,” ucap Jessica.

“Ya sudah. Tidak apa. Tapi, besok aku boleh main ke rumahmu, kan?,” tanya Baekhyun.

Jessica menggeleng cepat, “Tidak bisa!,” jawabnya.

“Kenapa?,” tanya Baekhyun, kecewa.

“Ngg—besok aku ada urusan. Rumahku juga akan di pakai untuk acara rapat orangtuaku bersama rekan kerjanya,” jawab Jessica.

Baekhyun berkacak pinggang, “Sebelumnya kau tidak pernah sibuk seperti ini. Biasanya kau selalu mengajakku untuk menghancurkan rapat orangtuamu,” ucapnya.

“A-Aku hanya ingin menjadi penurut. Aku tahu aku tidak boleh berani pada orangtuaku,” jelas Jessica.

Baekhyun mengangguk mengerti, “Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu,” pamitnya.

Jessica mengangguk seraya melambaikan tangannya, “Be careful,” ucapnya.

“I will,” jawab Baekhyun—lalu pergi meninggalkan Jessica.

Jessica menghela napas lega, “Untung saja Baekhyun tidak curiga,” gumamnya.

Disisi lain, ada tiga gadis yang memperhatikan Jessica dari balik pohon.

“Katanya sahabat, tapi kenapa sedekat itu?,” tanya Tiffany, kesal.

“Benar. Pakai pegangan tangan segala,” cibir Hyoyeon.

“Dari sorotan mata keduanya, memancarkan cahaya cinta,” seru Sunkyu.

“LEE SUNKYU!!,” teriak Tiffany dan Hyoyeon, murka.

Sunkyu mengusap kedua telinganya, “Maafkan aku,” ucapnya.

>>> 

“Appa, aku akan kuliah di Inha University?,” tanya Taeyeon, tak percaya.

Joonmyun mengangguk, “Sudah saatnya kamu melanjutkan sekolahmu kembali, Taeyeon-ah. Tapi, kau harus berjanji untuk tetap menjaga kondisi tubuhmu. Mengerti?,”

Taeyeon memeluk Joonmyun erat, “Terima kasih, appa,” ucapnya.

Joonmyun mengusap punggung Taeyeon dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Taeyeon menatap ke langit melalui jendela kacanya. Sebentar lagi kita akan bertemu, Baekhyun-ah, batinnya.

>>> 

Jessica melihat mahasiswa-mahasiswa tampak sedang mengerjai seorang mahasiswa laki-laki di belakang kampus. Jessica merupakan tipe orang yang sensitif jika ia melihat ada orang yang menyakiti orang lain.

“HEI!!,” teriak Jessica.

“Woh, itu kan gadis perkasa yang menghajar kita tadi malam di kafe?,”

“Ayo cepat, kita kabur!,”

Segerombolan mahasiswa berandalan itu pun pergi, menyisakan seorang mahasiswa laki-laki yang menjadi korban mereka. Jessica pun segera menghampiri laki-laki itu.

“Apa kau tidak apa-apa?,” tanya Jessica.

Laki-laki berkacamata bulat itu pun mendongak. Ia terpana melihat sosok Jessica yang sangat cantik di matanya. Ia pun beranjak berdiri.

“Namaku Do Kyungsoo, penggemar beratmu!,” seru laki-laki itu.

Jessica mengernyit heran, “Sorry?,”

“Whoa! Tidak salah lagi. Ternyata benar dugaanku,” seru Kyungsoo.

Jessica menggaruk kepalanya—seraya menatap Kyungsoo dengan bingungnya.

“Kau adalah Hermione Granger, benar?,” tebak Kyungsoo.

Jessica mengerjap, “What? I am Hermione Granger?,” tanyanya.

“Yes, yes, you are. Name my is Kyungsoo. But everybody me know Harry Potter as,” jawab Kyungsoo.

Jessica menganga mendengarnya. Bukan karena Kyungsoo mengaku di kenal sebagai Harry Potter, tetapi karena bahasa Inggrisnya yang terbolak-balik.

“Hermione, can I take you autograph?,” tanya Kyungsoo.

Jessica memutar bola matanya—seraya menjauh meninggalkan Kyungsoo.

“Hermione, tunggu Harry Pottermu ini!,” seru Kyungsoo—seraya mengejar Jessica.

>>> 

“Wajahmu kenapa di tekuk seperti itu, Sica-ah?,” tanya Baekhyun.

“Ada orang aneh yang selalu mengikutiku sejak tadi,” jawab Jessica.

“Siapa?,” tanya Tao dan Chanyeol, penasaran.

“Namanya Kyungsoo, mengaku sebagai Harry Potter. Dan dia menganggapku sebagai Hermione,” jawab Jessica.

Tao, Chanyeol, dan Baekhyun saling memandang, “HARRY POTTER??,” teriak mereka—lalu di susul tawa lepas mereka.

Jessica mendesis, “Apanya yang lucu?,” omelnya.

“Memangnya tampangnya sangat mirip dengan Harry Potter?,” tanya Baekhyun.

Jessica menggeleng, “Hanya kacamata bulatnya saja yang mirip,” jawabnya.

Ketiga sahabat Jessica itu kembali tertawa lagi. Hingga pada akhirnya Jessica memukul satu persatu perut ketiga sahabatnya itu.

“Sakit, Sica-ah,” ucap Baekhyun.

“Kau itu perempuan atau laki-laki?,” gerutu Tao.

“Sudah ku bilang, dia itu perempuan perkasa,” ucap Chanyeol.

“Sudah, diam. Jangan mengejekku,” ucap Jessica, kesal.

“Halo, teman-teman,”

Jessica, Baekhyun, Tao, dan Chanyeol menoleh ke sumber suara. Mata Baekhyun dan Jessica membulat sempurna. Sedangkan Tao dan Chanyeol memandang kagum orang itu.

“TAEYEON??!!,”

To Be Contiuned

Chapter 1 selesai. Chapter lain akan di lanjut kembali. Ini requestan dari banyak orang yang menginginkan aku membuat FF Baeksica. Oke, aku kabulin. Pas banget aku juga lagi kena Baeksica fever.

Don’t forget about review ^^

Iklan

Who I Love? (Chapter 4)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-M’s LuHan as Xiao Lu Han
  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol

Support Cast :

  • SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
  • etc

Genre : Romance, Fluff, Friendship

Length : Series

>>> 

Jessica berbaring di atas ranjang yang berada di kamarnya. Ia terus memikirkan kejadian tadi siang.

“Mengapa aku mengetahui Sehun begitu banyak?,” gumam Jessica.

Jessica menggigit bibirnya, “Jangan katakan aku menyukainya,”

Jessica beranjak bangun dan mengacak-acak rambutnya prustasi. Mungkin penampilannya saat ini seperti pengemis jalanan yang tinggal di kolong jembatan di Indonesia.

Namun, sebuah akal muncul di otaknya, “T-Tunggu dulu,” ucap Jessica.

“Aku dan Sehun kan tinggal satu rumah? Otomatis aku banyak mengetahui dirinya,” ucap Jessica—seraya mengangguk-anggukan kepalanya.

Jessica mengusap dadanya pelan sambil tertawa keras. Jika tadinya seperti pengemis, tampaknya kita harus mengubahnya menjadi orang gila yang ada di rumah sakit jiwa.

Jessica menghela napas lega, “Syukurlah!,” gumamnya, “Ku pikir aku menyukainya. Pasti aneh jika aku menyukai pria semenyebalkan Sehun,” ucapnya.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu Jessica. Jessica segera bangkit dari ranjangnya. Saat ia melintasi cermin, ia langsung mengoreksi dirinya di depan cermin. Betapa buruknya penampilannya sekarang.

“Ini semua karena omong kosong Taeyeon. Aku menjadi stres seperti ini,” gumam Jessica.

“Sica-ya~”

Jessica lupa. Tadi ada yang mengetuk pintu kamarnya. Jessica pun segera membuka pintu kamarnya.

“A-Astaga!,” seru Seohyun, kaget—akan penampilan Jessica.

Jessica terkekeh, “Aku tidak apa-apa kok,” ucapnya, “Saatnya makan malam, kan?,” tanyanya.

Seohyun hanya menganggukan kepalanya. Ia masih syok melihat penampilan Jessica.

“Aku akan segera turun. Kalian duluan saja,” ucap Jessica—lalu menutup pintunya kembali.

>>> 

“Sica-ya, sepertinya kau bahagia sekali,” seru Seohyun—melihat Jessica melahap porsi makannya dengan semangat dan penuh senyuman.

Jessica mengangguk cepat, “Iya. Aku bahagia sekali,” jawabnya.

Sedangkan Sehun terlihat tidak nafsu makan. Ia hanya mengaduk-aduk porsi makanannya dengan tatapan menyedihkan.

“Sehun-ah, apa kau baik-baik saja?” tanya Seohyun, cemas.

Sehun mengangguk lemah, “Aku hanya tidak nafsu makan saja,” jawabnya.

Seohyun mengangguk mengerti. Tampaknya Sehun memiliki masalah, batinnya.

Jessica pun ikut cemas dengan keadaan Sehun. Biasanya, Sehun akan menjadi cerewet dan banyak bertanya jika Jessica sedang bahagia. Tapi, sepertinya saat ini Sehun sedang sibuk dengan dunianya sendiri.

“Aku—payah?,” gumam Sehun, dalam hati.

>>> 

Luhan dan Minseok sedang mengerjakan data-data sekolah. Well, mereka adalah ketua dan wakil ketua osis. Jadi, wajar saja jika mereka selalu di sibukkan dengan tugas sekolah.

“Luhan-ah~” panggil Minseok.

Luhan mendongak, “Ada apa, hyung?,” tanyanya.

“Ku dengar, Yoona sudah kembali,” jawab Minseok, “Apa itu benar?,”

Luhan mengangguk mengiyakan.

“Dan—itu artinya hubunganmu dengan Yoona akan kembali?,” tanya Minseok.

“Inginku seperti itu, hyung. Tapi, aku harus menyelesaikan tugasku terlebih dahulu,” jawab Luhan.

“Tugas apa?,” tanya Minseok.

“Mengejar Jessica, hyung,” jawab Luhan.

Minseok mengerjap, “J-Jadi, kau masih mengejar gadis berdarah campuran itu?,” tanyanya.

Luhan tersenyum sinis, “Jessica adalah mangsaku, hyung. Setelah aku menghabisinya, maka semua dendam kita pada keluarga Oh Sehun akan terbalaskan,” jawabnya.

“Tapi—kenapa harus Jessica? Kenapa bukan Seohyun saja? Sudah jelas Sehun sangat menyayangi Seohyun,”

Luhan terkekeh pelan, “Apa gunanya aku menjadi putera dari seorang psikolog ternama di Asia, hyung?,” guraunya.

Minseok mengernyit bingung. Ia masih kurang mengerti.

“Aku bisa membaca Oh Sehun, hyung. Dan aku tahu, Jessica lebih berharga untuknya di bandingkan Seohyun. Percayalah padaku,”

>>> 

Jessica berjalan menuju kelasnya bersama Sehun dan Seohyun. Namun, di depan pintu ruang kelas mereka, Taeyeon sudah menghadang mereka. Dengan tangan di rentangkan di kanan dan kiri seperti orang-orangan sawah. Hanya saja Taeyeon tidak cocok di katakan seperti itu karena tubuhnya tidak seramping dan setinggi orang-orangan sawah.

“Beri jalan untukku, Kim Taeyeon,” ucap Jessica.

“Tidak akan,” jawab Taeyeon, “Kecuali kau mau ikut denganku,” tambahnya.

“Memangnya ada apa, Taeyeon-ah?,” tanya Seohyun.

“Ini urusan penting, Seohyun-ah. Ini masalah hati! Percintaan!,” jawab Taeyeon—dan ia menekankan kata hati dan percintaan.

Mendengar itu, pikiran Sehun menjadi semakin kacau. Ia menjadi penasaran apa yang sebenarnya mereka bahas. Sampai-sampai Sehun harus tersangkut-paut sehingga Jessica mengatainya payah.

Jessica menghela napas kasar, “Kita masih membahas hal kemarin?,” tanyanya.

“Aku hanya ingin keadilan, Jessica Jung. Aku sudah menceritakan tentang orang yang ku sukai. Sekarang, giliran kau menceritakan tentang orang yang kau sukai,” seru Taeyeon.

“Hei, aku tidak pernah memintamu untuk melakukan itu,” ucap Jessica, kesal.

“You—must—follow—me!,” seru Taeyeon—lalu menyeret Jessica pergi ke luar kelas.

“Seohyun-ah, tolong aku!,” pinta Jessica.

Seohyun hanya tersenyum kaku sambil melambai-lambaikan tangannya. Ia menggeleng pelan. Ada-ada saja mereka, batinnya—lalu masuk ke dalam kelas.

Sementara Sehun masih mematung di tempat. Siapa orang yang di sukai Jessica?, batinnya.

>>> 

“Sehun-ah, apa kau melihat Taeyeon?,” tanya Baekhyun—pada Sehun yang sedang duduk dengan tatapan kosong.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Sehun. Sehun tidak seperti biasanya, batin Baekhyun.

“Sehun-ah, apa yang terjadi padamu?,” tanya Seohyun, cemas.

“Calm down, guys,” seru Chanyeol.

“Bagaimana bisa tenang? Sahabat kita sedang aneh seperti ini,” jawab Baekhyun, “Apa Sehun memiliki penyakit, Seohyun-ah?,” tanyanya.

Seohyun menggeleng cepat, “Sehun tidak punya penyakit kok,” jawabnya.

“Ku rasa Sehun sedang galau,” ucap Chanyeol.

Seohyun dan Baekhyun menatap Chanyeol dengan ekspresi bingung.

“Penyakit macam apa itu?,” tanya Baekhyun.

Chanyeol memainkan telunjuknya, “Itu bukan penyakit. Sebenarnya bisa di katakan penyakit. Tapi, cara menyembuhkannya bukan pada tim medis,” jawabnya.

“Lalu, bagaimana caranya?,” tanya Seohyun.

“Cukup dengan hibur dia hingga dia melupakan semua masalah yang membuatnya menjadi seperti ini,” jawab Chanyeol.

“Bagaimana cara menghiburnya? Di ajak bicara saja tidak bisa,” ucap Baekhyun.

Chanyeol tersenyum misterius, “Hanya ada satu cara,” ucapnya.

>>> 

“Kenapa bukan Seohyun saja?,” protes Jessica.

“Ayolah, Jung-ya. Sehun hanya akan mau bicara jika ia bersamamu,” ucap Chanyeol.

Jessica melipat tangannya di depan dadanya, “Sok tahu!,” ucapnya, “Sehun juga mau kok berbicara pada Seohyun,” ucapnya.

Chanyeol menggaruk kepalanya. Gadis ini tidak mengerti maksudku, batinnya.

“Kalian kan selalu bertengkar. Jadi kalian tampak akrab. Ah, kalian pokoknya harus berkencan,” seru Chanyeol.

“Masa aku harus berkencan dengan setan itu?,” gumam Jessica, malas.

“Ayolah, demi Sehun,” bujuk Chanyeol.

“Iya, iya. Aku mau,” jawab Jessica, akhirnya.

Chanyeol tersenyum. Aku melakukan ini karena aku tahu Sehun menyukaimu, Jung-ya. Aku melihatnya dari sorot matanya. Sangat terlihat jelas, batinnya.

>>> 

Jessica dan Sehun berada di sebuah kafe di Lotte World. Mereka baru selesai menaiki wahana bermain. Memang, tampaknya Sehun terkena virus galau. Meskipun bersama Jessica, meskipun menaiki wahana-wahana yang menyenangkan, wajah datarnya tetap tidak berubah. Sehun juga tidak banyak bicara sedari tadi.

“Sebenarnya ada apa denganmu?,” tanya Jessica, kesal.

Sehun menggeleng pelan. Hanya itu jawabannya.

Jessica mendesis, “Kau ini memang payah, ya?,”

DEG!

Sehun merasakan rasa sakit di dadanya saat Jessica kembali mengatainya payah. Jika kalian tak bisa membayangkan rasa sakitnya, bayangkan saja jika pacar atau orang yang kalian sukai mengatai kalian payah dalam artian yang buruk (bukan bercanda).

“S-Sehun-ah—”

Sehun memejamkan matanya. Ia mencoba menahan rasa sakitnya. Saat ia membuka matanya, ia memasang wajah marahnya. Dan itu membuat Jessica gelabakan kaget.

Sehun mencengkram kuat lengan Jessica, “Ikut aku!,” perintahnya.

“K-Kita mau kemana?,” tanya Jessica, takut.

Sehun tidak mempedulikan pertanyaan Jessica. Ia menarik tangan Jessica hingga keluar dari Kafe.

“Lepaskan aku, Sehun-ah,” berontak Jessica—seraya berusaha melepaskan cengkraman kuat Sehun dari lengannya.

Sehun terus menyeretnya hingga mendorong Jessica masuk ke dalam mobil milik Sehun. Sehun juga masuk dan mengunci pintu mobilnya. Sehun mengenakan sabuk pengaman, dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.

“Sehun-ah, hentikan! Kau ingin kita mati?,” tanya Jessica, geram.

Sehun tak mempedulikan perkataan Jessica. Ia terus fokus pada setirannya.

Dan, sampailah mereka ke tempat yang ingin di tuju oleh Sehun.

“Untuk apa kita ke tempat pelatihan bowling?,” tanya Jessica, bingung.

Sehun tak menjawab. Ia segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Jessica. Jessica segera keluar. Ia masih bingung sebenarnya ada apa dengan Sehun.

“Ayo masuk!,” ajak Sehun—seraya menarik lengan Jessica lagi. Kali ini tidak sekuat yang tadi.

Mereka pun masuk ke dalam tempat tersebut. Sehun segera mengambil bola bowling.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan, Oh Sehun? Aku tidak mengerti,” ucap Jessica.

Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica, “Aku ingin membuktikan bahwa aku tidak payah.” jawabnya.

“Eh?,”

Sehun memfokuskan matanya ke kumpulan benda-benda berwarna putih yang harus ia robohkan dengan bola bowling yang ada di tangannya.

“Siapa bilang aku payah di bidang olahraga?,” tanya Sehun—seraya melempar bola bowling hingga sukses mencetak angka.

Jessica memandang mata Sehun. Sehun pun melakukan hal yang sama. Sedetik kemudian, mereka tertawa renyah.

“Maksudku kau payah pada olahraga sepak bola dan lari maraton,” ucap Jessica.

“Oh—kau meremehkanku, Jessica Jung?,” tanya Sehun.

Jessica tersenyum dan mengangguk, “Bagaimana jika kita bertanding sepak bola?,” usulnya, “Jika aku menang, kau harus menghabiskan belut gosongku tiga piring,” taruhnya.

“A-Apa? Tidak mau. Belutmu kan tidak ada enaknya sama sekali,” tolak Sehun.

“Kalau begitu, aku akan menyebutmu payah setiap hari,” ucap Jessica.

Sehun mendesis, “Baiklah. Aku mau,” jawabnya, “Tapi, jika aku yang menang—”

“Uh-hu?,”

“Kau harus mau menjadi kekasihku,”

Jessica terkekeh, “Hanya itu? Mudah seka—” ucapnya tertahan karena merasa ada suatu kejanggalan. Saat ia sudah mendapatkan kejanggalan itu, “APA? JADI KEKASIHMU?,” teriaknya, syok.

Sehun terkekeh pelan, “Aku hanya bercanda,” jawabnya, “Kau tidak boleh memanggilku payah lagi saja. Bagaimana?,”

“Baiklah,” jawab Jessica.

>>> 

Seohyun melirik ke arah jam dinding, “Sudah pukul 9 malam. Tapi, mereka belum pulang juga,” ucap Seohyun, cemas.

Chanyeol memegang bahu Seohyun, “Tenang saja. Menurutku, mereka sedang bersenang-senang kok,” ucapnya.

Seohyun mengangguk sambil tersenyum manis. Chanyeol sempat terpana melihatnya. Mengapa aku baru sadar bahwa Seohyun sangat manis?, batinnya.

“Kau yakin Jessica berhasil menyembuhkan penyakit Sehun?,” tanya Baekhyun, ragu.

Chanyeol tersenyum, “Percayalah padaku,” jawabnya.

“KAMI PULANG!!!,”

Seohyun, Chanyeol, Baekhyun dan Taeyeon reflek berdiri. Mereka kaget melihat wajah berbinar dari Sehun.

“Chanyeol-ah, kau benar,” seru Baekhyun.

Chanyeol hanya tersenyum bangga.

“Sehun-ah, kenapa sampai selarut ini?,” tanya Seohyun.

Sehun tersenyum, “Aku dan Jessica bertanding sepak bola, dan aku menang. Tapi, Jessica meminta untuk tanding kembali dalam lari maraton. Dan sekali lagi, aku yang menang,” jawabnya, bersemangat.

“Woah! Hebat!,” seru Baekhyun, “Setahuku kau lemah dalam dua olahraga itu,” ucapnya.

“Tentu saja karena lawannya itu Jessica. Jessica kan perempuan,” ucap Taeyeon.

“Sica-ya, ada apa dengan wajahmu?,” tanya Seohyun—yang melihat wajah Jessica yang menegang.

Jessica mengerjap dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, “A-Aku tidak apa-apa,” jawabnya, “Aku istirahat dulu, ya,” ucapnya—lalu segera berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Sehun tersenyum melihat tingkah Jessica. Tiba-tiba, ia merasakan sakit di punggungnya, “Sepertinya sang juara juga butuh istirahat,” ucapnya.

Chanyeol menghela napas berat, “Padahal kami ingin mengajakmu bermain monopoli,” ucapnya, kecewa.

“Iya, iya, aku mau main. Tapi, aku mandi dulu, ya,”

“Tapi—apa ini tidak terlalu malam?,” tanya Taeyeon.

Baekhyun mengusap kepala Taeyeon, “Besok kan hari minggu. Jadi, tidak apa jika kau bangun kesiangan,” jawabnya.

Semburat merah merekah di wajah Taeyeon. Perlahan, ia menganggukan kepalanya.

“Bagaimana jika kalian menginap disini?,” usul Seohyun.

“Ide bagus, Seohyun-ah,” seru Taeyeon, Baekhyun, Chanyeol dan Sehun.

“Taeyeon tidur bersamaku saja,” ucap Seohyun.

Taeyeon mengangguk, “Baiklah,” jawabnya.

“Asyik! Aku tidur dengan Jung,” seru Chanyeol.

PLETAKKK!!!

“Kau tidur di kamarku bersama Baekhyun juga,” ucap Sehun.

>>> 

Jessica menyisir rambutnya yang habis di keringkan dengan hairdryer. Jessica baru selesai mandi. Sekujur tubuhnya tadi lengket karena keringat yang begitu banyak.

Namun, Jessica kembali teringat kejadian saat ia kalah tanding lari maraton tadi.

“Masa aku kalah lagi!,” gerutu Jessica, kesal.

 

Sehun terkekeh, “Ternyata yang payah itu kau, ya?,” ledeknya.

 

Jessica memicingkan matanya, “Apa-apaan itu payah? Aku tidak payah. Aku perempuan. Wajar jika kalah dengan laki-laki,” ucapnya.

 

Sehun hanya tertawa mendengarnya.

 

“Aku masih tidak terima. Masa aku kalah dengan Oh Sehun yang payah? Padahal saat tinggal di Amerika, aku selalu menjadi juara. Tapi, mengapa aku kalah? Apa lagi harus kalah dengan Oh Sehun yang pay—”

 

CHU~

 

Jessica terdiam saat Sehun mencium bibirnya. Sehun menempelkan bibirnya pada bibir Jessica sekitar 15 detik. Setelah itu, Sehun mulai memejamkan matanya dan melumat bibir Jessica. Jessica yang masih kaget dan syok hanya bisa diam selagi Sehun bermain dengan bibirnya. Namun, lama-kelamaan Jessica mulai menikmati ciuman Sehun. Jessica ikut memejamkan matanya dan membalas lumatan Sehun.

 

Jessica menepuk pipinya, “Ah, kenapa aku membalas ciumannya?,” tanyanya, prustasi.

“Apalagi ini adalah ciuman pertamaku. Kenapa harus Sehun yang merebutnya? Kenapa bukan Luhan sunbae saja yang jelas lebih tampan?,”

Lagi, Jessica harus melewati malamnya dengan pikiran yang membuatnya tak bisa tidur.

>>> 

Sehun keluar dari toilet di kamarnya. Sehun tersentak saat melihat Chanyeol dan Baekhyun sudah terlelap di ranjangnya. Bahkan, tidak ada tempat yang mereka sisakan untuk Sehun.

“Sebenarnya yang punya kamar itu siapa?,” gumam Sehun, kesal.

Sehun pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju kamar Jessica. Di bukanya pintu kamar Jessica. Ternyata Jessica belum tidur.

“A-Ada apa kau kemari?,” tanya Jessica, was-was.

Sehun menutup pintu kamar Jessica, “Boleh aku tidur disini?,” tanyanya.

Mata Jessica membulat sempurna, “Enak saja. Tidur di kamarmu,” serunya.

“Baekhyun dan Chanyeol tidur di ranjangku. Aku tak di sisakan tempat,” jawab Sehun.

“K-Kalau begitu, tidur saja di sofa,” ucap Jessica, gugup.

Sehun berjalan menuju sofa yang terletak di kamar Jessica, “Kau pikir aku mau tidur di ranjangmu? Aku bukan pria mesum,” ucapnya.

Jessica mengerucutkan bibirnya. Namun, tiba-tiba saja listrik padam. Jessica berteriak keras. Sehun pun segera menyalakan ponselnya dan menghampiri Jessica dan memeluknya.

“Kau takut?,” tanya Sehun.

“Aku takut gelap,” jawab Jessica.

Sehun baru ingin beranjak pergi untuk mencari lampu, tapi Jessica menahannya.

“Tetap disini,” mohon Jessica.

“T-Tapi—”

“Aku takut, Oh Sehun,” ucap Jessica, takut.

Sehun mengangguk mengerti. Ia mendorong Jessica agar Jessica berbaring. Sehun ikut berbaring di sebelahnya sambil memeluknya. Posisi mereka saat ini berhadapan.

“Aku takut,” ucap Jessica.

“Tenang. Ada aku disini,” ucap Sehun, “Sekarang tidurlah,”

“Janji ya jangan tinggalkan aku,” ucap Jessica.

Sehun mengangguk, “Aku berjanji,” jawabnya.

Jessica pun mulai memejamkan matanya. Sehun terus mengusap punggung Jessica dengan tangannya yang melingkari perut Jessica. Lama-kelamaan, Sehun juga mengantuk. Akhirnya, Sehun pun memejamkan matanya dan tertidur.

>>> 

“Sehun menghilang!!,” seru Chanyeol dan Baekhyun.

“Kalian bercanda,” ucap Taeyeon.

“Untuk apa kami bohong? Dia tidak ada di kamar,” ucap Baekhyun.

“Ayo kita cari dia,” ucap Seohyun.

Seohyun, Baekhyun, Taeyeon dan Chanyeol pun berpatroli di rumah Sehun dan Seohyun. Saat Chanyeol tiba di depan kamar Jessica, dengan isengnya ia membuka pintu tersebut dengan lebar.

“ASTAGA!!,” teriak Chanyeol, syok.

Mendengar teriakan Chanyeol, otomatis Taeyeon, Baekhyun dan Seohyun menghampiri Chanyeol. Mereka pun melihat apa yang Chanyeol lihat.

“ASTAGA!!,” pekik ketiganya.

Mendengar teriakan itu, Jessica dan Sehun terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Sehun dan Jessica bangkit dan saling memandang. Setelah merasa sadar dan merasa ada kejanggalan, mereka berdua pun sama-sama berteriak.

“AAAAAA!!!!!,”

To Be Contiuned

Review, please!

Jangan ngecewain saya ya dengan komentar yang sedikit. Saya juga butuh komentar berisi kritikan dan saran. Dan saya harap tidak ada siders disini. Kali ini saya gak boongan lagi. Chapter kemaren komentarnya kurang dari 20, tapi tetep saya lanjutin. Tapi, di chapter ini, jika komentarnya kurang dari 30, saya gak akan lanjutin FF ini. Suwer! Kalo saya ngelanggar, saya bakal bikin FF sebanyak 20 dalam waktu satu hari (FF Oneshot). Itu jika saya tetap memposting lanjutannya meskipun komentarnya kurang dari 30.

Still (Chapter 3) – END


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong
  • SNSD’s Tiffany as Jung Miyoung
  • SNSD’s Seohyun as Seo Joohyun (Seohyun)
  • etc

Genre : Angst, Family, Romance, Friendship

Length : Series

Note : Final chapter! Kok cepat? Karena aku udah kehabisan ide buat FF ini. Lagi pula, jika di tambah dengan FF 2 versi sebelumnya, itu udah melengkapi FF ini, bukan? So, I hope you can enjoy for this final chapter.

>>> 

Jongin berada di dalam sebuah pesawat dan duduk tepat di samping Yoona. Matanya terus mengamati gumpalan awan putih dari jendela kaca di sampingnya. Sedari tadi ia tak mengeluarkan satu katapun. Yang ada di pikirannya saat ini adalah pernyataan istrinya sebelum kepulangan mendadaknya menuju Seoul.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!”

“Oppa, apa kau baik-baik saja?,” tanya Yoona.

Jongin tidak menjawab. Ia masih memandang keluar jendela kaca.

Yoona menggenggam tangan Jongin. Hal itu berhasil membuat Jongin tersadar kembali dan menatap Yoona.

“Oppa, Sooyeon eonni bukanlah yang terbaik untukmu. Masih ada aku yang mencintaimu,” ucap Yoona.

Jongin melepaskan tangan Yoona dari tangannya. Ia beralih menatap langit-langit pesawat.

“Mengapa penyesalan selalu datang di akhir, Yoona-ah?,” tanya Jongin.

Yoona ikut menatap langit-langit pesawat, “Mungkin karena itu adalah takdir,” jawabnya.

“Aku masih mencintainya. Dan aku menyesal telah menyakitinya,” lirih Jongin.

Yoona menatap Jongin dalam. Sebesar itukah rasa cintamu padanya? Lalu bagaimana denganku?, batinnya.

>>> 

“Sooyeon-ah, berhentilah menangis,” ucap Qian—seraya memeluk Sooyeon erat.

“Aku menyesal, Qian. Aku menyesal,” ucap Sooyeon, “Seharusnya aku tak mengatakan seperti itu. Awalnya aku ragu saat dia mengajakku kembali. Tapi ternyata, dia sungguhan,” tambahnya—di sela tangisnya.

“Aku mengerti, Sooyeon-ah. Ini memang berat. Pasti akan ada jalan keluarnya,” ucap Qian.

Luhan menatap Sooyeon antara miris dan kecewa. Ternyata Sooyeon telah membohonginya. Berkata bahwa ia adalah rekan kerja Jongin, namun kenyataannya ia adalah istri dari pengusaha muda itu.

“Maafkan aku, gege,”

Luhan menoleh ke sampingnya—tepat dimana Sehun berdiri, “Kenapa tidak kau ceritakan dari awal, Sehun?,” tanyanya.

“Aku ingin melakukannya, gege. Tapi, aku tak mungkin membongkar rahasia Jongin,” jawab Sehun.

Luhan menghela napas berat, “Ya sudah. Kau sendiri tidak pulang ke Seoul?,”

Sehun menggeleng, “Besok saja. Aku masih ingin jalan-jalan di Beijing dan membeli oleh-oleh untuk Seohyun,” jawabnya.

Luhan mengangguk mengerti.

>>> 

“Dimana Sooyeon?,” tanya Miyoung—pada Jongin yang duduk di hadapannya.

“Kenapa eommanim tiba-tiba datang kemari?,” tanya Jongin.

“Firasatku mengatakan kalau kau dan Sooyeon telah tiba di Seoul,” jawab Miyoung, “Sekarang dimana Sooyeon?,” tanyanya.

Jongin menjilat bibirnya, “Ngg—Sooyeon meminta untuk tetap disana beberapa hari lagi. Ia harus menghadiri acara pernikahan sahabatnya. Sedangkan aku harus kembali untuk menyelesaikan pekerjaanku,” jawabnya.

Miyoung mengangguk mengerti, “Tapi, mengapa ponsel Sooyeon tidak aktif?,” tanyanya.

Jongin menggaruk kepalanya, “K-Kemarin ponselnya tercebur di sungai. Aku berniat menggantikannya yang baru. Tapi, Sooyeon bilang nanti saja di gantinya,” jawabnya.

Lagi—Miyoung mengangguk mengerti. Sedangkan Jongin bisa menghela napas lega karena ia berhasil berbohong tanpa di curigai sedikit pun.

>>> 

Yuri menghampiri Yoona dan menarik rambut Yoona, membuat Yoona merintih kesakitan.

“Sakit, eonni. Apa yang kau lakukan?,”

Yuri melepaskan rambut Yoona dari genggamannya lalu beralih menampar Yoona tepat di pipinya.

PLAKKK!!

“EONNI!,” teriak Yoona—sambil memegang pipinya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kau keterlaluan, Yoona-ah. Kau mempermalukan aku saja,” seru Yuri.

“Apa maksudmu?,” tanya Yoona.

“Kau sudah membuat hubungan Sooyeon dan Jongin hancur. Harusnya kau itu sadar diri, Yoona-ah. Jongin adalah suami dari orang lain. Kau tidak boleh merebutnya seperti kau merebut es krim orang lain,” jawab Yuri—murka.

“Aku hanya ingin mendapatkan apa yang ku inginkan, eonni,” ucap Yoona.

“Tapi bukan begitu caranya,” ucap Yuri.

Yoona beranjak berdiri, “Lalu, sekarang apa maumu, eonni?,” tanyanya.

“Lebih baik kau kembali ke Tokyo, Yoona-ah,” jawab Yuri.

“Aku tidak mau!,” tolak Yoona.

Yuri menggeram kesal, “Kalau begitu, keluar dari apartemenku!,” bentaknya.

Yoona menatap Yuri tajam, “Kau mengusirku? Beraninya kau,” ucapnya.

“Kau ingin melaporkan hal ini pada Ibumu? Kau pikir aku akan diam saja? Tinggal ku laporkan ulahmu selama disini yaitu menghancurkan rumah tangga orang lain dan kau akan di bunuh oleh Ibumu,” ancam Yuri.

Yoona terdiam. Jika Yuri melaporkan hal tersebut, Yoona pasti akan di kurung di rumahnya di Tokyo.

“Baiklah. Aku akan keluar dari apartemenmu,” putus Yoona.

>>> 

“Ini untukmu!,”

Seohyun mengerjap, “A-Apa ini?,” tanyanya.

Sehun tersenyum, “Ambil dan bukalah. Anggap saja sebagai tanda permintamaafanku,” jawabnya.

Seohyun pun meraih kado pemberian Sehun dan membukanya. Ia begitu kaget saat melihat sepasang sepatu di dalam kado tersebut dengan tanda tangan idolanya, Xiao Luhan.

“K-Kau bertemu dengan Xiao Luhan?,” tanya Seohyun—tak percaya.

“Aku tidak sengaja berpapasan dengannya. Dan aku pun meminta tanda tangannya pada sepatu yang ku belikan khusus untukmu,” jawab Sehun.

Seohyun segera melepas kado tersebut hingga jatuh ke lantai. Sehun cukup kaget melihat insiden tersebut. Apa Seohyun marah?, batinnya.

Namun ternyata Seohyun malah memeluk Sehun dengan erat.

“Aku mencintaimu, Sehun oppa,” ucap Seohyun.

Sehun tersenyum mendengarnya, “Aku juga mencintaimu, Seohyunnie,” balasnya.

>>> 

Sooyeon duduk di kursi yang terletak di taman dekat rumah Qian. Matanya memandang bunga-bunga yang tertiup oleh angin yang berhembus pelan.

“Sudahlah, noona,”

Sooyeon menoleh ke sampingnya. Ternyata Luhan telah duduk di sampingnya. Entah sejak kapan.

“Jangan selalu bersedih. Tidak baik untuk kesehatan,” ucap Luhan.

“Kau tidak mengerti, Lu,” ucap Sooyeon.

“Siapa bilang?,” tanya Luhan, “Aku mengerti kok perasaanmu, noona. Tapi, tidak seharusnya kau seperti ini terus. Tersenyumlah. Kebahagiaan pasti akan datang,” tambahnya.

Sooyeon menyandarkan kepalanya di bahu Luhan. Luhan sempat kaget namun ia mencoba bersikap biasa saja.

“Xie xie, Lu,” ucap Sooyeon.

“Hngg?,”

“Kau sudah mau menjadi sahabat terbaikku. Terima kasih,” ucap Sooyeon.

Luhan tersenyum mendengarnya. Tangannya bergerak untuk mengusap kepala Sooyeon.

“Sampai kapanpun, aku akan menjadi sahabat terbaik untukmu, noona,” gumam Luhan.

>>> 

“Untuk apa kau kemari?,” tanya Jongin, “Dengan koper-kopermu itu? Kau mau kembali ke Tokyo?,”

“Oppa, ijinkan aku untuk tinggal disini,” pinta Yoona.

Jongin membelalakkan matanya, “Apa? Kau gila? Appa akan membunuhku jika kau tinggal disini,”

Yoona langsung menangis, “Yuri eonni mengusirku, oppa. Aku harus tinggal dimana?,” tanyanya.

“Tinggal di hotel saja,” usul Jongin.

“Hotel terlalu mahal, oppa,” ucap Yoona.

“Kalau begitu, apartemen saja,” usul Jongin.

“Aku tidak punya uang untuk menyewa apartemen,” ucap Yoona.

Jongin menghela napas berat. Dasar menyusahkan, batinnya.

>>> 

Sooyeon mencoba menghubungi seseorang melalui tempat penelponan umum. Ia menunggu orang itu untuk menjawab panggilannya.

“Halo?,”

Sooyeon segera menutup teleponnya. Tangannya memegang dadanya. Napasnya pun tak beraturan.

“Akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi,” gumam Sooyeon.

>>> 

Jongin memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.

“Dari siapa, oppa?,” tanya Yoona.

“Tidak tahu. Mungkin orang iseng,” jawab Jongin.

“Jadi, bagaimana, sajangnim? Apakah teman anda bersedia untuk tinggal di apartemen ini?,” tanya seorang wanita setengah paruh.

“Bagaimana, Yoona-ah?,” tanya Jongin.

“Apartemen ini cukup nyaman. Aku mau kok,” jawab Yoona.

“Baiklah. Terima kasih sudah menyewa apartemen ini. Jika ada masalah, segera hubungi kami,” ucap wanita setengah paruh itu.

“Baiklah,” jawab Yoona.

“Terima kasih, Minseon-ssi,” ucap Jongin.

“Sama-sama, sajangnim. Saya permisi,”

Setelah wanita setengah paruh itu pergi, Yoona pun segera membawa koper-kopernya menuju kamarnya. Sedangkan Jongin memilih untuk duduk di sofa sambil menonton TV.

Namun, Jongin kembali teringat akan sosok yang ia cintai.

“Sudah tiga hari aku tak bertemu dengannya. Rasanya seperti tak bertemu selama tiga tahun,” gumam Jongin.

“Sooyeon-ah, apa yang sedang kau lakukan disana? Apa kau sedang memikirkan orang yang tak kau cintai lagi?,” tanya Jongin.

“Oppa, kau berbicara dengan siapa?,” tanya Yoona—yang berhasil memecahkan bayangan Jongin.

“Ah, tidak,” jawab Jongin.

>>> 

Sooyeon sedang makan malam bersama Qian dan Luhan. Mereka menikmati sup buatan Qian serta kalkun panggang buatan Luhan.

“Bagaimana kalkun buatanku, noona?,” tanya Luhan.

“Hmm—sangat enak. Gurihnya terasa dan bumbunya juga,” jawab Sooyeon—ceria.

“Bagaimana dengan sup buatanku?,” tanya Qian.

“Sup buatanmu tak kalah enak kok, jiejie,” jawab Luhan.

Sooyeon mengangguk, “Sup buatanmu tak kalah lezat dari sup buatan restoran Italie dan Prancis,” sahutnya.

Qian tersenyum mendengarnya. Sedangkan Luhan merasa senang karena Sooyeon sudah kembali ceria.

Namun, tiba-tiba ponsel Luhan berdering.

Luhan segera meraih ponselnya dan mengangkatnya, “Ada apa, Sehun?,” tanyanya.

“Bisa bicara dengan Sooyeon?,”

“U-Untuk apa?,” tanya Luhan.

“Ini penting. Dia harus tahu hal ini,”

“Baiklah,” ucap Luhan—lalu menyerahkan ponselnya pada Sooyeon.

“Dari siapa?,” tanya Sooyeon.

“Sehun,” jawab Luhan.

Sooyeon pun meraih ponsel tersebut dan meletakkannya tepat di telinga kanannya.

“Ada apa, Sehun-ssi?,” tanya Sooyeon.

“Sooyeon-ssi, ada kabar buruk,”

Sooyeon menelan salivanya, “Ada apa? Apa yang terjadi?,” tanyanya.

“Kim sajangnim, Jaejoong ahjussi berada di Rumah Sakit. Beliau mengalami kecelakaan dan sekarang beliau sedang di periksa,”

Sooyeon menutup mulutnya. Ia menjadi syok. Qian dan Luhan pun bertanya-tanya.

“Pulanglah ke Seoul dan datanglah ke Rumah Sakit International South Korea,”

“B-Baiklah. Aku akan segera kesana,” jawab Sooyeon.

>>> 

“Tenanglah, Jongin-ah. Kim sajangnim pasti baik-baik saja. Beliau pasti selamat,” ucap Sehun.

“Aku tidak bisa tenang, Sehun-ah. Aku takut kehilangan dia,” ucap Jongin—prustasi.

Yoona menggenggam tangan Jongin, “Tenanglah, oppa. Beliau pasti selamat,” ucapnya.

“Jangan menyentuh menantuku!,” bentak Miyoung, “Jongin sudah beristri. Kau hanyalah teman biasanya saja,”

Yoona segera melepaskan genggamannya. Ia lupa disini ada Ibu dari Sooyeon.

Pintu ruang IGD pun terbuka. Jongin, Miyoung, Sehun dan Yoona segera menghampiri seorang pria berjas putih yang keluar dari ruangan tersebut.

“Bagaimana keadaan belau, uisa?,” tanya Jongin.

“Maafkan saya, Jongin-ssi. Nyawa Kim Jaejoong tidak bisa di selamatkan,” jawab Dokter itu.

“Oh, Tuhan,” ucap Miyoung—lalu menangis.

“T-Tidak mungkin. Kau pasti bohong,” ucap Jongin—tak percaya.

“Sayangnya saya berkata jujur, Jongin-ssi. Sekarang tubuh Kim Jaejoong sedang di jahit dan di bersihkan. Saya permisi,”

Jongin langsung terjatuh ke lantai. Seluruh anggota tubuhnya lemah tak berdaya. Yoona pun memeluknya erat. Sedangkan Sehun mengusap-usap punggung Jongin.

“EOMMA!!,”

Miyoung, Jongin, Yoona dan juga Sehun menoleh ke sumber suara. Sooyeon telah tiba bersama Luhan. Sooyeon pun segera menghampiri Miyoung dan memeluknya erat.

“Apa yang terjadi, eomma?,” tanya Sooyeon.

“Jaejoong sudah pergi. Dia sudah pergi,” jawab Miyoung—disela tangisannya.

“A-Apa?,” seru Sooyeon—syok. Ia juga tak bisa menerima keadaan ini.

>>> 

Jongin menatap foto Ayahnya yang terletak di dalam figura yang di letakkan di depan nisan. Proses pemakaman sudah berakhir tetapi Jongin masih betah di tempat tersebut.

“Saatnya pulang, Kim Jongin,”

Jongin menoleh, “Sooyeon-ah?,” lirihnya.

Sooyeon ikut berjongkok di samping Jongin, “Aku tahu ini berat. Kehilangan seseorang yang kita cintai itu sangat menyakitkan,” ucapnya.

Jongin menggenggam tangan Sooyeon, “Dan aku tidak ingin kehilangan orang yang ku cintai untuk kedua kalinya,” ucapnya.

“J-Jongin~”

“Apakah kau masih mencintaiku?,” tanya Jongin.

“Bukankah saat di Beijing—”

“Aku ingin kau mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku pun juga masih mencintaimu, Sooyeon-ah. Aku menyesal telah menyakitimu,” ucap Jongin.

Sooyeon perlahan mengangguk. Ia tak bisa membohongi perasaannya bahwa ia pun juga masih mencintai Jongin.

“Ya, aku masih mencintaimu,” jawab Sooyeon.

Jongin tersenyum. Di peluknya tubuh istri yang ia cintai dengan erat. Sooyeon pun melakukan hal yang sama.

“Aku takkan pernah mengecewakanmu lagi, Sooyeon-ah. Aku berjanji,” ucap Jongin.

“Ya, aku percaya padamu,” jawab Sooyeon.

Disisi lain, ada enam orang yang memperhatikan mereka berdua.

“Yoona-ah, lepaskanlah dia. Aku yakin di luar sana ada orang yang lebih baik darinya,” ucap Yuri.

Yoona terdiam. Ia tak mampu mengeluarkan satu kata pun.

“Aku tak menyangka ternyata hubungan mereka hampir musnah,” ucap Miyoung.

Seohyun memeluk Miyoung erat, “Yang penting, sekarang mereka sudah kembali bersama, immo,” ucapnya—lalu beralih menatap kekasihnya yang berada di sampingnya.

Sehun tersenyum seraya mengusap kepala Seohyun.

Sedangkan Luhan menyaksikan Jongin dan Sooyeon dengan perasaan yang miris.

“Mungkin Sooyeon bukan jodohku,” gumam Luhan pelan.

>>> 

2 years later~

“Tarik napas, keluarkan, dorong!,”

“Nggghhhhhhh!!!!,” seru Sooyeon—seraya mengejan. Tangannya meremas dan menarik rambut Jongin.

“Sakit, Sooyeon-ah,” ucap Jongin.

“Aku—hhh—begini—hhh—karena kau juga—hhh—kan?,” omel Sooyeon.

“Kalau tahu begini, lebih baik kemarin kita tidak usah melakukannya saja. Aku kan tidak bisa mengurus anak kecil,” ucap Jongin.

PLETAKK!!!

“HEI! KENAPA MEMUKULKU?!!,” teriak Jongin—murka.

“Jangan membuat kondisi istri anda semakin buruk, agassi. Anda harus mendukung dia,” ucap seorang bidan.

Jongin mengangguk, “I-Iya, aku mengerti,” jawabnya.

Sooyeon terus mengejan, dan..

“UWEEKKKK!!!,”

“Woah! Bayinya lahir!,” seru Jongin.

“Kau ini seperti anak kecil,” gumam Sooyeon.

“Bayinya perempuan,” ucap bidan itu.

“Kita beri nama siapa, Sooyeon-ah?,” tanya Jongin.

“Kim Luna,” jawab Sooyeon.

“Kenapa harus Luna? Seharusnya nama bayi kita itu adalah Jasmine, Elisabeth, atau Hermione,” protes Jongin.

“Luna artinya Luhan dan Yoona. Mereka adalah sahabat kita jadi aku ingin bayi kita bisa menjadi sahabat kita juga,” jawab Sooyeon.

Jongin menghela napas berat, “Baiklah. Terserahmu saja,” jawabnya.

“Kau seperti tidak menginginkan seorang anak saja,” ucap Sooyeon.

“Aku kan inginnya sebelas anak,” jawab Jongin.

PLETAKKK!!!

“KENAPA MEMUKULKU LAGI?!!,” teriak Jongin.

“Jangan berbicara yang aneh-aneh,” ucap Sooyeon.

Jongin merengut sambil mengusap kepalanya yang sepertinya sudah bengkak karena di pukul Sooyeon dua kali.

Namun, Sooyeon mengukir senyuman di bibir tipisnya. Ia tak menyangka jika ia akan berbaikan dengan Jongin dan memiliki seorang anak.

“Terima kasih, Tuhan,” gumam Sooyeon.

Jongin yang mendengarnya—ikut tersenyum seraya membelai halus rambut istrinya. Ia pun berharap dirinya akan selamanya bisa bersama Sooyeon.

END

Review, please!

Secret Admirer (Chapter 4)


Gambar

Title : Secret Admirer

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • Super Junior’s Kyuhyun as Cho Kyuhyun
  • 2PM’s Nickhun as Nickhun Horvejkul

Support Cast :

  • T-Ara’s Eunjung as Ham Eunjung
  • SNSD’s Tiffany as Tiffany Hwang
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • T-Ara’s Jiyeon as Park Jiyeon
  • 2PM’s Wooyoung as Jang Wooyoung
  • etc

Genre : Fluff, Romance, Angst, Friendship

Length : Series

>>> 

Kyuhyun berjalan masuk ke dalam kelasnya dan duduk di kursinya. Bahkan ia tak mempedulikan seorang guru yang sedari tadi ada di depan kelas.

“Darimana saja, Cho Kyuhyun?,”

“Dari toilet, songsaenim,” balas Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, dimana Jessica?,” bisik Tiffany—yang duduknya berada di belakang Kyuhyun.

Kyuhyun tersentak. Ia teringat akan Jessica. Kyuhyun pun beranjak berdiri.

“Ada apa, Cho Kyuhyun? Ingin ke toilet lagi?,” tanya Guru Ahn.

“Saya hanya menyampaikan, bahwa Jessica sedang sakit dan ia berada di UKS,” jawab Kyuhyun—lalu duduk kembali.

“Apa? Jessica sakit?,” tanya Tiffany, kaget.

“Apa sakitnya parah?,” tanya Taeyeon.

Kyuhyun menggeleng, “Tidak juga,” jawabnya.

>>> 

Jessica berjalan menuruni anak tangga dengan mata yang sayu. Namun, di lantai dasar—Jessica kembali bertemu dengan Nickhun.

“Ku dengar kau sakit,” ucap Nickhun.

Jessica menggeleng, “Aku tidak sakit,” jawabnya.

“Tapi, wajahmu sangat pucat,” ucap Nickhun.

“Sudah ku bilang, aku baik-baik saja,” tegas Jessica—lalu pergi meninggalkan Nickhun.

Nickhun menghela napas berat, “Dia masih marah padaku,” gumamnya.

>>> 

“Jessie, kau sakit apa?,” tanya Tiffany.

Jessica menggeleng, “Kyuhyun membohongi kalian. Aku tidak sakit kok,” jawabnya.

“Teganya kau, Kyuhyun-ah,” ucap Taeyeon.

Kyuhyun menggaruk kepalanya, “Aku kehabisan akal,” jelasnya.

“Memangnya tadi kau kemana?,” tanya Tiffany.

“Di atap sekolah,” jawab Jessica.

“Apa yang kau lakukan disana?,” tanya Taeyeon.

“Menangis, dan Kyuhyun menghiburku,” jawab Jessica.

“Apa ini berhubungan dengan Nickhun?,” tanya Taeyeon.

Jessica mengangguk, “Sudah cukup aku di permainkannya. Aku selalu termakan oleh rayuannya. Padahal sebenarnya niatnya jahat. Ia masih bersama Eunjung,” jawab Jessica.

“Keterlaluan pria itu,” geram Tiffany.

“Bukankah sudah ku katakan bahwa Nickhun itu bukan pria yang baik,” cibir Kyuhyun.

Tiffany dan Taeyeon tersenyum mendengarnya. Ini kali pertama mereka melihat Kyuhyun menunjukkan rasa cemburunya di depan Jessica.

Jessica mengangguk, “Maafkan aku, Kyuhyun-ah,” ucapnya.

Kyuhyun mengangguk—seraya mengusap kepala Jessica, “Ya, aku memaafkanmu kok,” jawabnya.

>>> 

“APA??,” teriak Kyuhyun, kaget.

“Ayahmu memintaku untuk memindahkanmu sekolah di U.S. Jadi, minggu ini adalah minggu terakhirmu berada disini,” ucap Kepala Sekolah.

“Tapi—bagaimana dengan olimpiade matematika?,” tanya Kyuhyun.

“Kim Kibum akan menggantikanmu,” jawab Kepala Sekolah.

“Katakan pada appa, aku tidak akan pindah,” perintah Kyuhyun.

“Aku tidak bisa, Kyuhyun-ssi. Ayahmu adalah pemilik yayasan sekolah ini. Aku tidak bisa berbuat apapun,” jawab Kepala Sekolah.

Kyuhyun berdecik kesal. Ia segera keluar dari ruang Kepala Sekolah.

>>> 

Jessica mengutak-atik ponselnya dengan wajah di tekuk. Jessica yang merasa suntuk dan kesepian itu—kini sedang berada di tepi kolam renangnya.

Tiba-tiba, tertera nama seseorang di layar ponselnya. Jessica segera menekan tombol reject. Rupanya seseorang itu adalah Nickhun.

“Aku tidak akan percaya lagi padamu, Nickhun-ssi. You’re freak!,” geram Jessica, murka.

Terdengar suara nada dering kembali dari ponsel Jessica. Kini berupa pesan teks, dan itu bukan dari Nickhun, melainkan Kyuhyun.

Jessica pun segera membuka dan membacanya.

Temui aku sekarang di kedai es krim biasa. Tidak perlu berdandan banyak. Dan jangan menanyakan alasan mengapa aku memintamu untuk menemuiku. Lebih baik kau manfaatkan waktumu untuk berganti pakaian karena aku tahu kau pasti mengenakan pakaian dalam.

Jessica terkekeh membacanya. Tebakan Kyuhyun meleset. Sebenarnya saat ini Jessica hanya mengenakan t-shirt dengan hotpants.

Jessica pun mengetik pesan sebagai balasan pesan dari Kyuhyun.

Aku akan segera kesana, Cho Kyuhyun.

>>> 

Kyuhyun menunggu Jessica sambil memainkan PSP miliknya. Matanya terus fokus pada permainan yang ia mainkan sehingga ia tak sadar bahwa Jessica telah tiba di hadapannya.

“Kau lebih mencintai permainan di bandingkan aku,”

Kyuhyun mengangkat kepalanya. Kaget, tentu saja. Kyuhyun langsung mematikan PSP miliknya.

Jessica pun duduk di hadapan Kyuhyun, “Apa aku terlalu lama?,” tanyanya.

Kyuhyun menggeleng sambil terkekeh, “Tidak kok. Kau datang lebih cepat dari biasanya,” jawabnya.

Jessica mengangguk mengerti, “Sekarang katakan apa yang membuatmu untuk memintaku kemari?,” tanyanya.

Kyuhyun menjilat bibirnya, “Ngg—bagaimana kalau kita memesan es krim terlebih dahulu?,” usulnya.

Jessica terkekeh, “Kau memang paling pintar mengalihkan pembicaraan orang lain,” ucapnya.

Kyuhyun ikut terkekeh. Ia pun memanggil pelayan dan segera memesan.

“Berikan aku rasa mocca,” pinta Kyuhyun. “Bagaimana denganmu, Sica-ah?,” tanyanya.

“Aku mau vanilla,” jawab Jessica.

“Baiklah. Harap menunggu,” ucap seorang pelayan—lalu pergi.

“Jadi?,” tanya Jessica.

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya, “Apa?,” tanyanya.

Jessica menghela napas berat, “Jangan berpura-pura lupa, Kyuhyun-ah. Kau memiliki IQ tertinggi di sekolah,” ucapnya.

“Aku harus ke toilet dulu,” ucap Kyuhyun.

“Jangan!,” seru Jessica, “Katakan dulu,” pintanya.

Kyuhyun tersenyum jahil, “Akan ku katakan jika kau ingin ikut denganku ke toilet,” ucapnya.

Jessica mencubit lengan Kyuhyun hingga Kyuhyun harus meringis kesakitan.

“Sakit, Sica-ah,” ringis Kyuhyun.

“Itu akibatnya karena kau berani padaku,” ucap Jessica, kesal.

>>> 

Nickhun membanting ponselnya ke sembarang tempat. Ia sudah menghubungi Jessica sebanyak hampir seratus kali. Tapi, Jessica tak kunjung menjawab. Dan sekarang nomor ponsel Jessica tidak aktif.

“Oppa, jangan risau seperti itu,” ucap Jiyeon.

“Bagaimana aku tidak risau, Jiyeon-ah? Jessica pasti sangat membenciku sekarang,” ucap Nickhun, prustasi.

“Lupakan saja dia, oppa. Kan masih ada Eunjung,” ucap Jiyeon.

Nickhun mengacak-acak rambutnya, “Wanita itu—dia yang ada di balik semua ini, Jiyeon-ah. Kalian bekerja sama, kan?,”

Jiyeon menggeleng, “Tidak,” jawabnya.

Nickhun mengusap wajahnya kasar, “Aku takkan memaafkan wanita itu. She’s damn girl,” gerutunya.

Jiyeon mengangkat bahunya. Meskipun dirinya adalah sahabat Eunjung, tapi ia tak terlalu suka mencampuri urusan Eunjung dan Nickhun, kakak tirinya sendiri.

>>> 

Tiffany dan Taeyeon sedang menonton film di bioskop bersama teman kencan mereka. Mereka melangsungkan kencan ganda. Saat ini, mereka tengah menyaksikan film romantis dan dramatis berjudul The Perks of Being a Wallflower yang di perankan oleh aktris mendunia, Emma Watson.

Disisi lain, ada dua sahabat yang turut menyaksikan film tersebut. Mereka adalah Kyuhyun dan Jessica. Mereka duduk terpisah dengan Taeyeon dan Tiffany. Mereka juga saling tidak mengetahui keberadaan masing-masing.

“Bagaimana menurutmu filmnya?,” tanya Kyuhyun.

“Membosankan,” jawab Jessica, “Kau tahu sendiri bahwa aku menyukai film action,” tambahnya.

Kyuhyun terkekeh pelan, “Sesekali kita menonton film romantis kan tidak apa,” guraunya.

Jessica menghela napas berat. Meskipun pemerannya adalah aktris favoritnya, tetapi ia tetap saja tidak nyaman dengan film tersebut.

“Lebih baik kita menonton film Harry Potter and the Deathly Hallows part 2 saja,” usul Jessica.

Kyuhyun menggeleng, “Kita sudah menontonnya sebanyak 15 kali, Sica-ah,” jawabnya, “Apa kau tidak bosan?,” tanyanya.

Jessica menggeleng, “Tidak. Film dari novel karangan J.K. Rowling itu memiliki unsur animasi yang terlihat nyata dan keren. Film itu jauh lebih menantang,” jawabnya.

Kyuhyun memutar bola matanya, “Terserah apa katamu saja,” ucapnya.

Kyuhyun akui, hari ini Jessica cukup menyebalkan. Tapi, inilah yang akan selalu ia kenang. Dan Kyuhyun tidak mau kehilangan kenangan tersebut.

>>> 

Eunjung sedang memandangi danau di belakang sekolahnya dengan pandangan sedikit kosong. Entah apa yang ia pikirkan sekarang.

“Ku rasa kau harus membiarkan Nickhun bersama Jessica,”

Eunjung menoleh ke sumber suara, “Wooyoung-ssi?,”

Wooyoung tersenyum, “Nickhun sudah tidak mencintaimu lagi,” ucapnya.

Eunjung memicingkan matanya, “Jangan sok tahu, Wooyoung-ssi,” ucapnya, sarkatis.

Wooyoung tertawa renyah—seolah ada hal yang lucu yang baru ia lihat, “Jangan mengataiku seperti itu. Aku adalah sahabat Nickhun. Dia sendiri yang mengatakan hal itu padaku,” ucapnya.

Eunjung kembali meluruskan pandangannya menuju danau yang tenang, “Aku lebih mengetahui Nickhun. Meskipun sekarang dia berjalan bersama Jessica, tapi aku tahu dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih mencintaiku,” ucapnya.

“Ucapanmu terdengar seperti harapan palsu, Eunjung-ssi,” ucap Wooyoung.

Eunjung menatap Wooyoung geram, “Pergi kau dari sini, sialan. Kau pikir wajahmu itu cukup tampan untuk bicara selancang itu? Bahkan sampai saat ini kau tidak punya pacar,” hinanya.

Wooyoun menatap Eunjung intens, “Aku tidak punya pacar, bukan berarti aku jelek,” ucapnya—lalu pergi meninggalkan Eunjung sendirian.

Butiran kristal pun jatuh dari pelupuk mata indah milik Eunjung. Namun, ia segera mengusapnya.

“KENAPA TIDAK ADA YANG SATU PIKIRAN DENGANKU??!!!,” teriak Eunjung.

>>> 

Nickhun menahan lengan Jessica, “Aku ingin bicara,” pintanya.

Jessica menepis tangan Nickhun dari lengannya, “Sayangnya aku sedang tidak ingin bicara,” jawabnya—lalu pergi.

Namun, Nickhun tetap mengejar Jessica.

“Tolong dengarkan penjelasanku,” pinta Nickhun.

“Semuanya sudah jelas, Nickhun-ssi,” ucap Jessica.

“Eunjung memelukku, bukan atas kehendakku,” ucap Nickhun.

“Tapi kau senang, bukan?,” tebak Jessica.

“Aku membencinya, Jessica-ya,” ucap Nickhun.

“Tidak semua orang berubah dengan cepat, Nickhun-ssi. Untuk mempercayaimu membutuhkan waktu yang lama,” ucap Jessica—lalu kembali pergi.

Kali ini Nickhun tak mengejar. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia tahu ia salah. Dan ia prustasi dan bingung apa yang harus ia lakukan agar Jessica kembali mempercayainya.

>>> 

Hari sabtu telah tiba. Hari terakhirnya di Seoul. Besok, Kyuhyun akan terbang menuju U.S. Kyuhyun akan meninggalkan sahabat-sahabatnya yang mengiranya hanya pergi dalam kurun waktu satu minggu atas terlaksananya olimpiade matematika. Namun, sayangnya, itu semua salah.

“Kyuhyun-ah, apa tidak bisa di tunda lagi?,” tanya Taeyeon.

Kyuhyun menggeleng lemah, “Besok aku harus pergi,” jawabnya.

“Tenang saja, Taeyeon-ah. Kyuhyun hanya pergi selama satu minggu saja,” ucap Jessica.

Kyuhyun tersenyum kecut mendengarnya.

“Oh, ya, ngomong-ngomong, dimana Tiffany?,” tanya Taeyeon.

Jessica mengangkat bahunya, “Biasanya dia bersamamu,” ucapnya.

“Mungkin sedang piket,” ucap Kyuhyun.

>>> 

Tiffany membasuh wajahnya di wastafel di toilet perempuan. Ia melihat dirinya di sebuah cermin di hadapannya. Penampilannya terlihat hancur dan berantakkan. Matanya memerah dan bengkak.

“Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana aku memberitahu Taeyeon dan Jessica?,” gumam Tiffany, bingung.

“Ada apa, Tiffany-ssi? Kau seperti habis menangis,” seru Jiyeon.

Tiffany menggeleng, “Aku tidak apa-apa,” jawabnya.

Tiffany pun segera keluar dari toilet. Ia terus berjalan tanpa melihat ke depan melainkan menunduk ke bawah. Akibatnya, Tiffany menabrak seseorang.

BRUKK!!

“Fany-ah, perhatikan jalanmu,” tegur seseorang yang Tiffany tabrak.

Mengenali suara tersebut, Tiffany segera mengangkat kepalanya. Setelah merasa dugaannya benar, Tiffany spontan memeluk orang itu dengan isakan tangis yang keluar dari mulutnya.

“F-Fany-ah, ada apa?,” tanya orang itu, cemas.

“Dasar Cho Kyuhyun. Apa yang harus ku lakukan sekarang, bodoh?,” tanya Tiffany.

“A-Apa maksudmu?,” tanya Kyuhyun, bingung.

“Kau akan pindah. Dan kau akan meninggalkan kami, sahabat-sahabat terbaikmu. Kau sangat jahat!,” ucap Tiffany—seraya memukuli dada Kyuhyun.

“M-Maafkan aku. Ini bukan kehendakku,” ucap Kyuhyun.

“Kalau begitu, batalkan saja. Kau penguasa disini,” usul Tiffany.

Kyuhyun menggeleng, “Tidak semudah itu, Fany-ah,” ucapnya.

“Lalu, apa yang harus ku katakan pada Jessica dan Taeyeon?,” tanya Tiffany.

“Rahasiakan ini sampai aku sendiri yang memberitahu mereka, terutama Jessica,” pinta Kyuhyun.

“T-Tapi—kapan?,” tanya Tiffany.

“Sampai aku siap untuk memberitahunya,” jawab Kyuhyun.

Tiffany kembali memeluk Kyuhyun. Kyuhyun merupakan sahabatnya yang paling dekat dengannya. Jadi, wajar saja jika dirinya takut kehilangan Kyuhyun.

>>> 

Jessica dan Taeyeon menemukan Tiffany dan Kyuhyun yang sudah menunggu di area parkir. Mereka pun langsung menghampiri dua sahabat itu.

“Fany-ah, kau darimana saja?,” tanya Taeyeon, cemas.

Tiffany terkekeh, “Aku ada tugas piket di perpustakaan,” jawabnya.

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Ku pikir kau di culik alien,” ucapnya.

Taeyeon menengadahkan tangannya pada Jessica, “Aku menang. Berikan aku 10 galleons,” tagihnya.

“Galleons?,” tanya Tiffany, “Bukankah itu mata uang di dunia sihir?,” tanyanya.

Taeyeon dan Jessica tertawa, “Kami bertaruh jika Jessica kalah, ia akan memberikanku 10 galleons seperti di film Harry Potter. Sedangkan kita sendiri tak menggunakannya. Jadi, Jessica akan menggantinya dengan bayaran mentraktir kita semua makan sepuasnya,” jelas Taeyeon.

“Benarkah?,” tanya Tiffany.

Jessica mengangguk, “Aku mengakui kekalahanku. Kalian mau makan dimana?,”

“Bagaimana kalau di restoran Perancis?,” usul Kyuhyun.

“Ah, itu restoran mahal,” ucap Jessica.

Tiffany menggeleng cepat, “Aku akan patungan denganmu,” ucapnya.

“Benarkah?,” tanya Jessica.

“Ngg—Fany-ah,” tegur Kyuhyun, tidak enak.

Tiffany tersenyum pada Kyuhyun. Setidaknya aku ingin makan di restoran impian kita berempat di hari terakhir kita bersama, batinnya.

“Asyik! Makan di restoran Perancis,” seru Taeyeon dan Jessica, bahagia.

Kyuhyun tersenyum melihat ketiga sahabatnya tampak ceria. Aku berjanji meski kita berpisah, aku akan selalu mengunjungi kalian, batinnya.

To Be Contiuned