(Request FF) – What Is Love


Title : What Is Love

 

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

 

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin (Kai)
  • SNSD’s Tiffany as Tiffany Hwang

Support Cast :

  • Sistar’s Hyorin as Kim Hyorin
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • T-Ara’s Jiyeon as Park Jiyeon
  • Ailee as Amy Lee
  • SNSD’s Hyoyeon as Kim Hyoyeon
  • etc

 

Genre : School-life, Romance, Friendship

 

Length : Oneshot

 

Note : Ini adalah ‘Request FF’ dari rani. Hopeful you can enjoy this story. And I hopeful ma readers can be enjoy, too! Happy reading!

 

***

 

Jessica dan Tiffany telah tiba di sekolah baru mereka. SM Art Academy, nama sekolah baru mereka yang terletak di kota Seoul, Korea Selatan. Suasana yang cukup ramai menyambut mereka. Semua mata tertuju kepada mereka karena tidak ada sebelumnya yang pernah melihat mereka.

 

“Murid baru, eh?,”

 

“Woah! Cantik sekali,”

 

“Mereka pindah dari sekolah mana, ya?,”

 

“Kira-kira mereka satu kelas denganku, tidak, ya?,”

 

Dan sebagainya desas-desus dari murid-murid itu.

 

“Tidak menyenangkan sekali,” gumam Jessica.

 

Tiffany mengernyit bingung, “Kenapa?,” tanyanya.

 

“Kita berada di kelas yang berbeda. Nanti aku duduk dengan siapa?,”

 

Tiffany tersenyum, “Kau maupun aku akan mendapatkan teman baru. Itu sudah pasti,” jawabnya.

 

Jessica menghela napas berat, “Aku tidak yakin murid-murid disini ramah-ramah,” ucapnya.

 

“Setidaknya penduduk Korea dikenal dengan kesopanannya. Aku rasa sekolah ini tidak akan lebih buruk daripada sekolah di United States,” ucap Tiffany.

 

Jessica memaksakan dirinya untuk tersenyum. Ia kurang menyukai Korea. Entahlah karena apa.

 

***

 

2-1’s Class

 

“Annyeonghaseyo. Nama saya Tiffany Hwang. Saya biasanya dipanggil Tiffany. Saya berasal dari United States dan pindah kemari bersama orangtua saya. Saya harap, kalian bisa menerima saya sebagai teman kalian,”

 

“Ah, tentu saja. Siapa yang tidak mau berteman dengan gadis secantik dirimu?,” sahut seorang murid laki-laki.

 

“Huuuuuu!!!!!!!!,” sorakan dari para murid perempuan menyambut murid laki-laki itu.

 

“Kau dari United States tapi bahasa Korea-mu fasih sekali. Meskipun nada bicaramu masih seperti penduduk Amerika pada umumnya,” sahut seorang murid perempuan.

 

“Terima kasih. Ayahku berasal dari Korea. Jadi, aku juga mempelajari bahasa Korea,” jawab Tiffany.

 

“Tiffany-ssi, silakan duduk dengan Amy Lee,” ucap seorang pengajar sambil menunjuk murid perempuan yang tadi berbicara dengan Tiffany, “Dia juga berasal dari Amerika. Ku pikir, kau akan merasa lebih mudah mengenal tempat ini jika berteman dengannya,” tambahnya.

 

“Terima kasih,”

 

Tiffany pun berjalan dan duduk disamping Amy. Amy tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya, “Namaku Amy Lee. Kau boleh memanggilku Amy,” ucapnya.

 

Tiffany menjabat tangan Amy, “Salam kenal, Amy-ssi,” ucapnya.

 

***

 

2-2’s Class

 

“Boleh aku tahu siapa namamu?,”

 

“Hyoyeon,” jawab seorang murid perempuan berambut pirang.

 

Jessica mendengus kesal. Teman sebangkunya benar-benar tidak ramah. Jessica merasa sangat tidak nyaman di kelas ini. Apalagi seorang murid laki-laki yang terus memandanginya.

 

“Hyoyeon-ssi, siapa sih murid laki-laki itu? Aku tidak suka dipandangi seolah-olah dia ingin memakanku,” bisik Jessica.

 

Hyoyeon memutar bola matanya, “Namanya Kai. Dia adalah the most killer boy in this academy,” jawabnya.

 

“K-Killer?,” pekik Jessica kaget.

 

“Jangan berani dekat-dekat dengannya. Dia adalah playboy cap kapak. Dia suka mempermainkan perempuan. Tapi, saat ini dia hanya berpacaran dengan murid perempuan terkaya di sekolah ini, Kim Hyorin!,” jawab Hyoyeon.

 

“Namanya hampir mirip denganmu,” ucap Jessica.

 

“Dia adalah sepupuku. Tapi, aku tidak suka dengannya karena dia suka memamerkan tubuhnya kepada orang-orang,” ucap Hyoyeon.

 

Jessica menatap murid perempuan yang duduk disamping Kai, “Apakah dia yang bernama Hyorin?,” tanyanya kepada Hyoyeon.

 

Hyoyeon mengangguk, “Hm,” jawabnya.

 

Jessica mengangguk mengerti. Sampai saat ini, Kai masih terus memandanginya. Jessica pun memutuskan untuk memperhatikan pelajaran daripada mempedulikan Kai.

 

***

 

Jessica dan Tiffany sedang makan siang di kantin. Semua murid masih memperhatikan dua murid baru itu. Tampaknya, mereka akan mudah terkenal.

 

“Yang berambut hitam itu—murid baru juga?,” tanya Hyorin.

 

Amy mengangguk, “Dia adalah teman sebangkuku,” jawabnya.

 

“Dia satu kelas denganmu?,” tanya Jiyeon kaget.

 

“Benar sekali,” jawab Amy.

 

“Ku akui, mereka lumayan cantik,” ucap Jiyeon.

 

“Kai juga sedari tadi memperhatikan si rambut cokelat itu!,” ucap Hyorin kesal.

 

“Si Jessica itu?,” tanya Jiyeon.

 

Hyorin mengangguk, “Sepertinya Kai tertarik padanya,” ucapnya.

 

“Tenang saja, Hyorin-ah. Kai tidak pernah benar-benar serius menyukai perempuan. Dia hanya menyukaimu,” ucap Amy.

 

“Tapi, aku tetap tidak suka pada Jessica itu. Popularitasnya dan temannya itu akan menurunkan popularitas kita,” ucap Hyorin.

 

“Kau benar juga,” ucap Jiyeon setuju.

 

“Pokoknya, kita harus menemukan cara untuk mempertahankan popularitas kita. Kita tidak boleh kalah dari mereka,” ucap Hyorin.

 

“Aku setuju!,” seru Jiyeon.

 

Amy mengusap tengkuknya, “Selama kita tidak melakukan kekerasan, aku juga setuju,” ucapnya.

 

***

 

Hari kedua Jessica dan Tiffany di sekolah baru mereka.

 

Jessica sedang membawa beberapa buku ditangannya. Karena hal itu, Jessica tidak bisa melihat apa yang ada didepannya. Dan…

 

BRAKKK!!!

 

Jessica menabrak seseorang. Buku-bukunya juga berserakan di lantai.

 

“Maafkan aku. Aku sangat menyesal,” ucap Jessica.

 

“Tidak apa-apa,” jawab murid yang Jessica tabrak. Jessica mengulurkan tangannya dan disambut oleh murid lelaki itu. Dan saat murid itu mendongak,

 

“K-Kai?,”

 

“Oh, kau tahu namaku?,” tanya murid lelaki itu yang tak lain adalah Kai.

 

“Hyoyeon memberitahuku,” jawab Jessica.

 

Kai tersenyum, “Jadi, kau mencari tahu namaku?,”

 

Jessica spontan syok, “Apa? Tidak. Jangan salah paham. Kau yang memperhatikanku saat itu. Jadi, aku menanyakannya kepada Hyoyeon,” jawabnya.

 

Kai menaikkan sebelah alisnya, “Aku? Memperhatikanmu?,”

 

“K-Kau tidak sadar?,” tanya Jessica tak percaya.

 

“Aku tidak pernah memperhatikanmu,” jawab Kai.

 

Wajah Jessica memerah karena malu. Jadi, selama ini aku salah paham? Aku terlalu percaya diri?, batinnya.

 

Jessica segera memunguti buku-bukunya, “Aku harus pergi!,” pamitnya lalu pergi dari sana.

 

Kai melihat tingkah Jessica pun tertawa menyeringai, “Manisnya gadis itu. Aku semakin tertarik,” gumamnya.

 

***

 

Kai dan Sehun sedang bermain catur di rumah Kai. Di sela-sela bermain, mereka membicarakan hal-hal ringan. Seperti..

 

“Bagaimana hubunganmu dengan Hyorin?,” tanya Sehun.

 

“Biasa saja. Aku sudah bosan dengan tubuhnya. Andai saja dia tidak memerasku dengan uang-uang milyaran darinya, hubungan ini pasti sudah berakhir sejak lama,” jawab Kai.

 

Sehun terkekeh pelan, “Padahal menurutku kalian cocok sekali, Kai. Kalian berdua adalah dua murid pembunuh di sekolah kita,” ucapnya.

 

“Aku sedang tertarik kepada gadis lain saat ini, Sehun-ah,” ucap Kai.

 

“Oh, ya? Siapa?,” tanya Sehun.

 

“Jessica Jung,” jawab Kai.

 

Sehun mengangguk, “Dia memang cantik. Tubuhnya mungil dan putih. Tidak salah kau tertarik dengannya,” ucapnya.

 

“Well—aku tidak ingin mencicipi tubuhnya seperti gadis-gadis lain. Dia terlalu manis untuk ku perlakukan seperti itu,” ucap Kai.

 

“J-Jangan bilang kau jatuh cinta padanya?,”

 

Kai terdiam sejenak. Keringat mulai keluar dari tubuhnya. Jatuh cinta? Apakah aku sedang jatuh cinta pada Jessica? Tapi, aku tidak tahu soal cinta. Jadi, bagaimana aku bisa jatuh cinta?, pikirnya.

 

“Ingin bertaruh denganku?,” tawar Sehun.

 

Kai mengernyit bingung, “Bertaruh soal apa?,” tanyanya.

 

“Berpacaran dengan Jessica selama satu minggu. Lalu, kau putusi dia dan katakan bahwa kau berpacaran dengannya hanya karena bertaruh,” jawab Sehun.

 

Kai terdiam kembali. Ia sibuk menimbang-nimbang tawaran Sehun.

 

“Setiap aku ingin menyakiti perempuan, aku tidak pernah ragu. Tapi, mengapa kali ini berbeda?,” gumam Kai pelan, sangat pelan.

 

“KAI!,” tegur Sehun.

 

“Ah— ngg—a-apa yang akan kau berikan jika aku berhasil melakukannya?,” tanya Kai.

 

Sehun tersenyum tipis, “Akan ku berikan mobilku,” jawabnya.

 

***

 

Jessica dan Tiffany sedang mengerjakan tugas di perpustakaan. Perpustakaan itu kosong, hanya ada Jessica, Tiffany, dan seorang pustakawati.

 

“Sica-ah, ku dengar Kai sering mendekatimu,” ucap Tiffany.

 

Wajah Jessica memerah. Ia spontan menundukkan kepalanya, “D-Darimana kau mendapatkan berita tak bermutu itu?,” tanyanya.

 

“Amy,” jawab Tiffany.

 

“Oh. Teman Hyorin dan Jiyeon itu?,”

 

“Sepertinya kau tidak menyukai mereka bertiga,” ucap Tiffany.

 

“Tentu saja. Mereka sombong dan suka memamerkan tubuh mereka,” jawab Jessica.

 

“Amy tidak seperti itu,” ucap Tiffany.

 

“Aku tidak tahu soal dia. Aku hanya tahu soal Hyorin dan Jiyeon,” ucap Jessica lalu kembali menulis.

 

Tiffany mengangkat bahunya. Ia pun juga kembali menulis.

 

***

 

Jessica berjalan menelusuri koridor dari toilet perempuan. Ia berjalan kembali menuju kelasnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Kai dan Sehun berada di ujung koridor.

 

“Apa yang mereka lakukan pada jam pelajaran seperti ini?,” gumam Jessica.

 

 Jessica pun memutuskan untuk mengintip dan mendengarkan pembicaraan mereka.

 

“Aku akan menyatakan cinta pada Jessica hari ini,”

 

DEG!

 

Jessica benar-benar syok mendengarnya. Kai mencintaiku?, tanyanya dalam hati dengan perasaan tak percaya. Yang benar saja. Mana mungkin lelaki sebejat Kai mencintai perempuan.

 

“Kau benar-benar akan melakukannya?,” tanya Sehun.

 

“Kai bukanlah lelaki yang tidak mau menerima taruhan dari siapapun,” ucap Kai.

 

Tubuh Jessica menegang, “T-Taruhan?,”

 

“Bersiap-siaplah mobilmu akan menjadi milikku,” ucap Kai.

 

“Aku tidak peduli. Yang ku inginkan adalah pertunjukan sempurna yang akan kau tampilkan minggu depan,” jawab Sehun.

 

Kai menyeringai paksa, “Tenang saja, Sehun-ah. Akan ku pastikan air mata Jessica habis pada minggu depan,” ucapnya.

 

Jessica mengepalkan tangannya. Ia segera pergi dari tempat itu tanpa ketahuan oleh Kai maupun Sehun.

 

***

 

“APA??!!!!,”

 

“Aku harus bagaimana, Fany-ah?,” tanya Jessica.

 

“Tolak saja cintanya,” jawab Tiffany.

 

“Betul juga!,” seru Jessica.

 

“Dengan begitu, kau akan menjadi perempuan pertama yang menolak cintanya,” ucap Tiffany.

 

“Kau benar,” ucap Jessica setuju.

 

“Jessica-ssi!,”

 

Jessica dan Tiffany menoleh ke sumber suara. Dan mereka kaget, orang yang mereka bicarakan sudah ada di dekat mereka.

 

“Kai?,” pekik Jessica.

 

“Bisa kita bicara sebentar?,” tanya Kai.

 

***

 

Kai terlihat seperti bukan Kai yang biasanya. Ia sedang tengkurap di atas ranjangnya. Sprei ranjangnya basah. Mata Kai memerah.

 

Kai sedang menangis.

 

Pasalnya, ini pertama kalinya cinta Kai ditolak. Dan entah kenapa, Kai merasa sangat sakit hati.

 

“Kenapa aku sakit hati begini? Apa aku mencintai Jessica?,” tanya Kai pada dirinya sendiri.

 

Kai mengacak-acak rambutnya prustasi. Tanpa ia sadari, Sehun mengintipnya dari balik pintu kamarnya yang terbuka sedikit.

 

Sehun tersenyum kecil, “Akhirnya Jessica datang juga ke kehidupanmu, Kai. Dengan begitu, hatimu akan kembali dihiasi oleh sesuatu yang bernama cinta,” gumamnya.

 

***

 

Jessica sedang membaca buku di perpustakaan sendirian. Namun, ia menghentikan aktivitasnya saat ia melihat seseorang duduk di seberangnya.

 

“Sehun-ssi?,”

 

“Boleh aku bicara denganmu sebentar?,” pinta Sehun.

 

Jessica menutup bukunya, “Jika kau ingin memintaku untuk menerima cinta Kai, lebih baik kau pergi,” ucapnya.

 

“Aku tahu kau tidak menyukai Kai. Tapi, Kai sangat mencintaimu,” ucap Sehun.

 

Jessica tertawa hambar, “Kau pikir aku tidak tahu soal taruhan kalian?,”

 

Sehun tersentak, “K-Kau tahu?,”

 

Jessica tersenyum paksa, “Pembicaraan kita selesai. Kau boleh pergi,” ucapnya.

 

“Tidak. Biarkan aku menjelaskan semuanya!,” pinta Sehun.

 

Jessica terdiam sejenak. Tanpa persetujuan dari Jessica, Sehun mulai berbicara.

 

“Kai adalah seorang broken home,” ucap Sehun.

 

“Aku tidak membutuhkan informasi itu,” ucap Jessica.

 

“Dia kehilangan ibunya saat dia lahir. Setelah itu, ayahnya selalu memukulnya karena ayahnya menganggap Kai adalah anak pembawa sial karena telah lahir hingga membunuh nyawa ibunya. Kai seumur hidup tak pernah merasakan cinta. Bahkan ayahnya membuangnya ke jalanan. Suatu hari, ayahku menemukan Kai di kolong jembatan. Dia sedang menangis. Ayahku pun membawa Kai pulang ke rumah. Kai tinggal bersama kami hingga dewasa. Meskipun Kai telah mendapatkan cinta dari keluargaku, tetapi Kai tidak pernah bisa merasakan cinta yang sebenarnya. Kai selalu mempermainkan perempuan dan menganggap perempuan adalah sampah, seperti yang dilakukan ayah Kai kepada Kai. Tapi, setelah kau hadir, aku sangat terkejut,”

 

“U-Untuk apa kau terkejut?,”

 

“Kau membuat Kai berubah. Bahkan, Kai mengakhiri hubungannya dengan semua kekasihnya termasuk Hyorin. Aku tahu, sebenarnya Kai mencintaimu. Kau berhasil membuat Kai jatuh cinta. Tapi, Kai tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Aku mengajaknya untuk bertaruh, semata-mata untuk mengujinya. Dan kau tahu, saat kau menolaknya, apa yang terjadi?,”

 

Jessica menggigit bibirnya, “A-Apa yang terjadi?,”

 

“Kai menangis dikamarnya dalam waktu yang lama. Dia juga membanting barang-barang miliknya. Dia sangat prustasi, Jessica-ssi. Dia sangat mencintaimu,” jawab Sehun.

 

“A-Aku masih tidak bisa percaya,” ucap Jessica.

 

“Aku berbicara jujur, Jessica-ssi. Aku tidak sedang berbohong. Aku meminta satu hal kepadamu. Tolong buat Kai berubah. Hanya kau yang bisa melakukannya. Ajari dia tentang cinta. Dan setelah itu, sifat buruknya akan menghilang. Hanya kau yang bisa melakukannya,”

 

Jessica menunduk. Ia masih bingung dan juga takut. Tapi, disisi lain, ia sangat ingin membantu. Lagipula, Kai juga berhasil menyinggahi hatinya.

 

***

 

Tok! Tok! Tok!

 

“Kai, bisakah hari ini kau memasukkan makanan atau air ke dalam perutmu?,” tanya Sehun dari luar kamar Kai.

 

“Aku tidak lapar,” jawab Kai dengan nada yang lemah.

 

Sehun menghela napas berat, “Aku membawakan seseorang untukmu. Jadi, tolong buka pintunya!,”

 

“Kau membawakan abeoji?,”

 

“Tolong buka pintunya, Kai-ssi,”

 

Kai terdiam. Kai mengenal suara ini. Suara yang sangat Kai sukai. Perlahan, Kai bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka pintunya.

 

“KAI???!!!!,” pekik Jessica dan Sehun kaget. Mereka melihat penampilan Kai yang acak-acakan. Wajah Kai pucat dan matanya bengkak. Jessica semakin cemas melihatnya.

 

“Apa yang kau lakukan? Penampilanmu seperti zombie!,” ucap Jessica cemas.

 

“Aku baik-baik saja,” jawab Kai.

 

“Aku tinggalkan kalian berdua,” ucap Sehun lalu pergi meninggalkan mereka.

 

“Apa yang membawamu kemari? Sehun memaksamu, bukan?,” tanya Kai.

 

Jessica menggeleng, “Ini adalah keinginanku sendiri. Kau tidak masuk selama tiga hari. Tentu saja aku sangat cemas,”

 

Kai tersentak, “Kau mencemaskanku?,”

 

“Kau harus makan. Kau juga harus membersihkan diri. Kau bisa sakit,” ucap Jessica.

 

“K-Kenapa kau mencemaskanku?,” tanya Kai.

 

Jessica terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, senyuman manis terukir dibibirnya.

 

“Aku mencemaskanmu karena aku peduli padamu. Aku peduli padamu karena aku menyayangimu. Aku menyayangimu karena aku mencintaimu,” jawab Jessica tulus.

 

Kai menggeleng cepat, “Tidak mungkin. Kalau kau mencintaiku, mengapa kau menolakku?,” tanyanya.

 

“Karena aku tahu soal taruhanmu dengan Sehun. Ku pikir kau ingin mempermainkanku saja,” jawab Jessica.

 

Kai lagi-lagi syok, “Bagaimana kau ta—,” kalimatnya terputus saat Jessica mencium bibir Kai singkat. Wajah Kai memerah padam, hingga Jessica tertawa melihatnya.

 

“Kau terlalu banyak bertanya, Kai. Seperti haraboji saja,” ucap Jessica.

 

Kai menjadi salah tingkah. Ia menggaruk-garuk kepalanya seperti orang bodoh.

 

Sehun dan Tiffany yang mengintip mereka pun cekikikan gemas.

 

“Aku seperti sedang menonton cinta monyet,” ucap Tiffany.

 

“Mereka berdua sangat menggemaskan,” ucap Sehun.

 

END

YEAH~! Selesai juga deh. Sorry buat rani kalau ceritanya kurang pas buat kamu. Aku bikin sebisaku. Dan inilah hasilnya. Semoga kamu suka, ya?

 

Don’t forget to review!

Iklan

(Request FF) – Lie


Title : Lie

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • EXO-M’s LuHan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
  • f(x)’s Krystal as Krystal Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • etc

Genre : Friendship, Romance, Angst

Length : Oneshot

Note : FF ini merupakan ‘Request FF’ dari PiaChu. Semoga FF ini memuaskan, ya?—alias tidak mengecewakan. Keke~! Happy reading!

***

 

Seorang murid perempuan sedang berlari di sepanjang jalannya. Beberapa kali ia melirik arlojinya. Beberapa kali juga ia mempercepat larinya. Hingga waktu telah sampai ke detik 60, murid perempuan itu sampai di depan gerbang sekolahnya.

Namun, sayang sekali, gerbang telah tertutup.

“Ahjussi, tolong bukakan gerbangnya!,” pinta murid perempuan itu.

Security itu menggeleng, “Tidak bisa, Yoona-ssi. Kau terlambat dan artinya kau tidak boleh masuk—,”

“Ijinkan dia masuk, ahjussi!,”

Security dan murid perempuan bernama Yoona itu menoleh ke sumber suara. Security itu tersentak kaget, sedangkan Yoona tersenyum senang.

“Tapi, dia terlambat, Jessica-ssi,” ucap Security itu.

“Saya adalah ketua osis di sekolah ini. Saya akan memberikan hukuman pada Im Yoona. Jadi, ijinkan dia untuk masuk. Ini perintah dari Kepala Sekolah,” ucap murid perempuan itu tegas. Jessica namanya.

Security itu mengangguk mengerti. Ia segera menjalankan perintah dari Jessica. Yoona pun berhasil masuk.

“Ayo ikut dengan saya!,” ajak Jessica tegas.

Yoona mengangguk mengerti. Mereka berdua berjalan memasuki koridor sekolah hingga berada jauh dari tempat Security itu berada.

“WE DID IT!!!,” teriak Jessica dan Yoona bersamaan sambil melakukan hi-five.

“Kau hebat, Sica-ya. Tak sia-sia kau menjabat sebagai ketua osis. Apalagi ayahmu sendiri adalah Kepala Sekolah di sekolah ini,” ucap Yoona.

“Itu bukan apa-apa, Yoona-ya. Yang penting sekarang, ayo kita masuk ke kelas sebelum Kang songsaenim masuk,” jawab Jessica.

Mereka berdua pun berlari menuju kelas mereka.

***

“Annyeonghaseyo. Nama saya Xiao Luhan. Panggil saja Luhan. Senang berkenalan dengan kalian. Saya harap, kalian dapat membantu saya. Terima kasih,”

“Baik, Luhan-ssi. Kau boleh duduk disamping Kim Minseok,”

“Terima kasih, songsaenim,”

Luhan berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh guru Kang. Ia duduk disamping murid laki-laki yang memiliki pipi berisi. Mereka pun berjabat tangan.

“Namaku Minseok. Salam kenal,”

Luhan mengangguk ramah, “Salam kenal juga,” jawabnya.

Disisi lain, Yoona terus memperhatikan murid baru berwajah manis itu.

“Ah.. dia manis sekali,” gumam Yoona.

Jessica menoleh ke arah Yoona, “Siapa?,” tanyanya.

“Xiao Luhan. Ah, namanya juga sangat manis. Dia berbeda dengan lelaki lain,” jawab Yoona berbunga-bunga.

Jessica terkekeh pelan. Ia kembali melanjutkan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru Kang. Sedangkan Yoona masih sibuk memandangi Luhan, dan Luhan tak menyadari hal itu.

***

 

“Aku harus mendapatkan nomor teleponnya!,” tekad Yoona.

Jessica menaikkan sebelah alisnya, “Kau masih membicarakan soal murid baru itu?,” tanyanya.

“Sica-ya, aku sedang jatuh cinta padanya. Kau harus mengerti mengapa aku masih membicarakannya dan akan selalu membicarakannya!,” jawab Yoona.

“Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya,” ucap Jessica lalu memasukkan kimchi ke dalam mulutnya.

“Kau harus mendukungku, Sica-ya. Bukannya bersikap seperti ini,” ucap Yoona kesal.

“Oke, oke. Aku mendukungmu. Aku selalu mendukungmu, Yoona-ya. Kita adalah sahabat, ingat?,”

Yoona masih memasang wajah cemberut. Namun, beberapa detik kemudian, wajah ceria terpasang diwajah cantik Yoona.

“Biarkan aku memelukmu!,” seru Yoona seraya merentangkan tangannya.

“No! No! Jangan sekarang. Aku masih ingin menikmati kimchi-ku,” tolak Jessica waspada.

Yoona tertawa ringan, begitu juga dengan Jessica. Persahabatan mereka sangat manis. Bahkan semua orang berpendapat begitu.

“Siapa gadis itu?,” tanya Luhan.

Minseok menoleh ke arah yang dipandang oleh Luhan, “Yang mana?,” tanyanya.

“Yang memiliki rambut berwarna cokelat,” jawab Luhan.

“Oh, dia adalah Jessica. Ketua osis di sekolah ini,” jawab Minseok.

“Aku bisa bertanya tentang peraturan di sekolah ini, benar?,” tanya Luhan.

“Bertanya denganku juga bisa kok,” jawab Minseok.

“Tapi, dia pasti lebih tahu daripada kau,” ucap Luhan.

“Well—aku tidak bisa menyalahkan perkataanmu,” ucap Minseok.

Luhan tersenyum tipis, “Mungkin aku akan meminta nomor teleponnya,” gumamnya pelan.

***

 

Yoona dan Jessica mengemasi peralatan tulis dan buku mereka ke dalam tas mereka. Begitu juga dengan murid-murid yang lain. Namun, aktivitas Jessica maupun Yoona terhenti saat seseorang yang Yoona dambakan menghampiri meja mereka.

“L-Luhan-ssi?!,” pekik Yoona.

“Maaf mengganggu waktunya sebentar,” ucap Luhan.

“A-Ada apa?,” tanya Yoona.

“Hm.. aku ingin meminta nomor teleponmu—,”

Luhan meminta nomor teleponku? Apakah aku sedang bermimpi?, teriak Yoona di dalam hatinya.

“—Jessica-ssi,” lanjut Luhan.

Yoona spontan syok mendengarnya. Sedangkan Jessica bingung dan tidak enak hati kepada Yoona sendiri.

“Nomor teleponku?,” tanya Jessica tak percaya.

Luhan mengangguk, “Mari bertukar nomor telepon. Aku ingin—,”

“Bertukar nomor telepon denganku saja!,” sahut Yoona.

Luhan menjadi bingung. Ia mengusap tengkuknya pelan, “Maaf. Tapi, aku ingin—,”

“Ponselku rusak!,” seru Jessica memotong kalimat dari Luhan.

Yoona mengangguk, “Jadi, bertukar nomor telepon denganku saja,” ucapnya.

“O-Oke,”

***

 

Yoona terlihat tak seceria biasanya di kantin. Ia sedang mengaduk-aduk sup-nya dengan wajah yang terkesan tak berselera makan. Jessica menghela napas berat saat menyadari keanehan yang dipancarkan sahabatnya itu.

“Yoona-ya, berhenti bersikap aneh!,” pinta Jessica.

“Bagaimana aku bisa berhenti? Luhan telah membuatku patah hati,” ucap Yoona.

Jessica menaikkan sebelah alisnya, “Patah hati? Bukankah kau sudah mendapatkan nomor teleponnya?,” tanyanya.

“Iya. Tapi, di dalam pembicaraan kami di telepon, dia selalu menanyakan soal dirimu. Kalau pun dia menanyakan hal lain, dia hanya menanyakan tentang peraturan sekolah,” Yoona menghela napas berat, “Aku rasa dia menyukaimu,” tambahnya.

“Yoona-ya..,”

Yoona menggenggam kedua tangan Jessica, “Berjanjilah padaku kau tidak akan pernah menjalin hubungan dengan Luhan!,” serunya.

Jessica terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, ia menganggukan kepalanya.

“Ya. Aku berjanji. Bukankah kita sudah berjanji kalau kita takkan mencintai lelaki yang sama lagi?,”

Yoona mengangguk, “Kau benar,” jawabnya.

Kini, giliran Jessica yang menangkup wajah Yoona dengan kedua tangannya. “Sekarang, kembalikan Im Yoona yang ceria. Aku tidak suka melihat wajahmu yang ditekuk seperti itu,” ucapnya.

Yoona tersenyum lebar, “Ijinkan aku memelukmu!,” serunya.

“Tidak mau!,”

***

 

Jessica sedang menikmati es krim di kedai dekat rumahnya. Musim panas seperti ini sangatlah nikmat untuk menyantap es krim. Apalagi es krim adalah salah satu makanan favorit Jessica.

“Boleh aku duduk disini?,”

Jessica mendongak hingga matanya membulat sempurna, “Luhan-ssi?,” pekiknya.

Luhan tersenyum, “Bolehkah?,” tanyanya lagi.

“Ah, oh, tentu saja boleh. Silakan,” jawab Jessica.

Luhan pun duduk disamping Jessica. Ia juga membawa es krim yang ia pesan. Dan es krim pesanan Luhan ternyata sama dengan pesanan Jessica.

“Woah! Es krim pesanan kita sama,” seru Luhan.

Jessica tertawa, “Kebetulan sekali, ya?,”

“Itu artinya kita berjodoh!,”

Jessica tersentak. Ia menatap Luhan tak percaya. Ketegangan yang dirasakan Jessica berhenti saat melihat Luhan tertawa renyah.

“Kau manis sekali. Aku hanya bercanda kok,” ucap Luhan.

Wajah Jessica memanas. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku sedang dipuji, pikirnya.

“Jangan bergerak!,” seru Luhan tiba-tiba.

Jessica spontan kaget kembali. Ia menahan anggota tubuhnya untuk tidak bergerak. Luhan menggerakkan tangannya hingga menyentuh bibir Jessica. Wajah Jessica semakin memanas bahkan memerah. Luhan kembali tertawa renyah.

“Aigoo! Kau sangat manis dan menggemaskan,” ucap Luhan.

Jessica tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya dimana. Ia benar-benar malu. Luhan mengusap kepalanya dengan lembut sambil tertawa. Dan untuk yang pertama kalinya, Jessica menyadari bahwa pendapat Yoona tentang Luhan itu benar. Luhan sangat manis, menurut Jessica saat ia melihat Luhan dari jarak dekat. Selama ini, Jessica tak pernah memperhatikan Luhan lebih dari lima detik.

***

 

Jessica menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia sedang memikirkan sesuatu. Ia kembali teringat memori masa lalunya dengan Yoona.

“Aku menyukaimu!,”

 

Jessica sangat syok mendengar pernyataan dari Sehun. Apalagi Yoona yang berada disamping Jessica. Jessica menatap Yoona takut, sedangkan Yoona menahan air matanya.

 

“Maukah kau menjadi kekasihku, Jessica-ya?,” tanya Sehun.

 

“Ngg—aku—aku tidak bisa,” jawab Jessica.

 

Yoona maupun Sehun menatap Jessica tak percaya.

 

“K-Kenapa?,” tanya Sehun.

 

“Aku tidak pernah tertarik padamu, Sehun-ssi. Aku hanya menganggapmu sebagai teman tidak lebih,” jawab Jessica.

 

“Sica-ya..,”

 

“Oke. Aku mengerti. Paling tidak, aku sudah mengungkapkan perasaanku,” ucap Sehun lalu pergi dari tempat itu.

 

Jessica beralih menatap Yoona yang sudah berlinangan air mata.

 

“Apa kau lakukan, bodoh? Membohongi dirimu sendiri?,” tanya Yoona.

 

“Aku memang tidak pernah menyukainya, Yoona-ya. Aku tidak pernah berbohong padamu, ingat?,”

 

“Apa kau benar-benar jujur? Atau kau menolaknya karena aku?,” tanya Yoona.

 

“Aku jujur, Yoona-ya. Aku berjanji takkan pernah menyukai lelaki yang sama dengan lelaki yang kau sukai. Aku tidak ingin ada yang tersakiti. Lagipula, aku memang tidak menyukai Sehun,” jawab Jessica.

 

Yoona mengacungkan kelingkingnya, “Pink promise?,”

 

Jessica tersenyum seraya mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Yoona, “I promise!,” jawabnya.

 

Jessica menghela napas berat. Ia sendiri yang membuat perjanjian itu, tapi ia sendiri yang melanggarnya.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu, eonni?,”

“Krystal?,” pekik Jessica seraya beranjak bangun, “Sejak kapan?,” tanyanya.

“Baru saja kok,” jawab Krystal seraya duduk di tepi ranjang Jessica, “Tell me, what happen?,” tanyanya.

Jessica menggeleng cepat, “Tidak ada apa-apa,” jawabnya.

“Mungkin kau bisa membohongi sahabatmu itu, tapi kau tak bisa membohongiku!,” ucap Krystal.

Jessica menatap adiknya tajam, “Krystal, jaga perkataanmu!,” bentaknya.

“Memang benar, kan? Kau selalu membohongi Yoona eonni dan menyimpan rasa perih sendiri. Sedangkan dia berbahagia di atas penderitaanmu. Kau sangat malang, eonni!,” ucap Krystal.

Jessica terdiam. Didalam hatinya, ia membenarkan perkataan Krystal. Selama ini, Jessica memang berkorban banyak untuk Yoona. Selalu ia lakukan, apapun itu, asal Yoona ceria.

***

 

Jessica sedang memunguti buku-buku di atas meja perpustakaan. Belum selesai Jessica memunguti, seseorang telah memunguti sebagian bukunya.

“Biarkan aku membantu, ya?,”

Jessica menggeleng, “Tidak perlu. Letakkan kembali buku-buku itu,” jawabnya.

“Ayolah. Aku kan ingin—,”

“Sudah ku bilang, tidak perlu! Aku tidak butuh bantuanmu! Pergi dari sini dan jangan pernah dekati aku lagi, Luhan-ssi!,” bentak Jessica marah.

“Kau marah padaku? Apa kesalahanku?,” tanya Luhan.

“Kesalahanmu adalah mendekatiku! Jauhi aku mulai detik ini!,” jawab Jessica.

“Aku tidak mau!,” ucap Luhan.

Jessica mengerjap kaget, “A-Apa?,”

“Kau tidak bisa melarangku untuk dekat denganmu. Aku punya hak untuk berteman dengan siapa saja,” ucap Luhan.

“Tapi, aku tidak mau berteman denganmu,” ucap Jessica.

“Kenapa?,” tanya Luhan.

“Karena aku tidak mau!,” jawab Jessica sambil meletakkan buku-buku yang ia pegang lalu pergi.

Namun, Luhan berhasil menahan kepergiannya.

“Kenapa kau menahanku?,” tanya Jessica kesal.

“Karena aku ingin menahanmu,” jawab Luhan.

“Kenapa kau selalu ingin mendekatiku? Kenapa bukan Yoona saja?,” tanya Jessica.

Luhan terdiam sejenak, “Yoona?,”

Jessica mendadak grogi, “Yah—ngg—Yoona dekat juga denganmu, bukan? Jadi, kenapa kau tidak berteman dengan Yoona saja?,” tanyanya.

“Karena dari awal, aku hanya ingin berteman denganmu. Aku tidak pernah ingin berteman dengan Yoona,” jawab Luhan.

“Apa? Tapi—kenapa?,”

“Karena aku menyukaimu!,” jawab Luhan.

Jessica sangat syok sekarang. Ia kembali ditembak oleh lelaki yang Yoona sukai. Dan kali ini, di dalam hatinya berteriak “Terima, Jessica! Bukankah kau juga mulai tertarik padanya?,”. Tapi, ia masih mengingat Yoona.

“Tapi, aku tidak menyukaimu!,” ucap Jessica.

“Bohong!,”

Jessica dan Luhan menoleh ke sumber suara. Jessica terperangah saat melihat sahabatnya sendiri berjalan menghampiri mereka.

“Yoona-ya..,”

“Sudah berapa banyak kau membohongiku, Sica-ya?,” tanya Yoona.

“A-Aku—,”

“Kenapa kau selalu tak mau jujur padaku? Kenapa kau membiarkanku bahagia di atas penderitaanmu?,” tanya Yoona.

“Aku tidak—,”

“Cukup! Akhiri semua kebohonganmu. Kau membuatku menjadi membenci diriku sendiri!,” ucap Yoona, air matanya tumpah begitu saja.

Jessica memeluk Yoona erat, “Maafkan aku. Memang benar. Selama ini aku selalu berbohong. Tapi, aku melakukan itu semua karena aku menyayangimu. Aku tak ingin kau bersedih,”

“Tapi, aku akan semakin sedih jika kau bersedih. Kau pikir aku ini sahabat macam apa, Sica-ya?,”

“Yoona-ya..,”

“Tolong akhiri semua ini. Jangan pernah berbohong padaku lagi. Dan kau juga menyukai Luhan, bukan? Aku melihat kalian berdua sangat mesra di kedai es krim,”

“Kau melihatnya?,” tanya Jessica dan Luhan kompak.

Yoona mengangguk, “Kalau kau mengira aku marah, ya aku sangat marah. Tapi, dunia ini tidak akan berhenti begitu saja, Sica-ya. Aku pasti akan menemukan seseorang yang tepat untukku, yang bisa membahagiakanku, seperti Luhan yang bisa membuatmu senang,”

“A-Aku minta maaf,” ucap Jessica.

“Tidak perlu minta maaf. Aku lah yang seharusnya minta maaf kepadamu karena kau sudah menderita selama bersamaku. Maafkan aku, Sica-ya,”

Jessica menggeleng, “Kau tidak membuatku menderita,” ucapnya.

Yoona mengusap air matanya, “Bolehkah aku memelukmu lagi?,” tanyanya.

Jessica mengangguk, “Tentu saja, sahabatku!,” jawabnya.

Mereka kembali berpelukan dengan tangis menyertai mereka. Luhan yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum tipis.

“Seperti inikah indahnya persahabatan,” gumam Luhan.

END

Flash Back

 

Yoona berlari sekencang-kencangnya setelah melihat sesuatu yang tak pernah ia ingin lihat. Kemesraan Luhan dan Jessica di kedai es krim membuat hatinya remuk. Entah kemana tujuannya sekarang, Yoona sendiri tidak tahu. Ia terus berlari tanpa tahu arah.

BRAKKK!!!

Karena tidak fokus, Yoona menabrak seorang lelaki jangkung yang sedang berdiri memandangi langit.

Yoona mengusap air matanya, “Maafkan aku,” sesalnya.

“Aku tidak mempermasalahkan soal itu. Kenapa kau menangis?,”

“Tidak apa-apa,” jawab Yoona.

Lelaki itu menyodorkan minuman kaleng kepada Yoona, “Minumlah ini. Minuman ini sangat segar dan akan membuat perasaanmu membaik,” ucapnya.

Yoona meraihnya dengan ragu. Ia meminum minuman tersebut hingga habis.

“Woah! Kau haus sekali ternyata,” ucap lelaki itu.

“Mungkin ini karena efek berlari tadi,” ucap Yoona sambil terkekeh pelan.

Lelaki itu menepuk pipi kanan Yoona pelan, “Nah, begini lebih baik. Kau sangat cantik jika sedang ceria,” ucapnya.

Yoona merasakan sesuatu yang panas menjalar diwajahnya. Semburat merah menghiasi pipinya yang putih. Lelaki itu terkekeh pelan sambil menjulurkan tangannya.

“Namaku Chanyeol. Senang bertemu denganmu, gadis manis,” ucap lelaki itu.

Yoona menunduk malu. Tetapi, ia tetap menjabat tangan lelaki itu, “Namaku Yoona,” ucapnya.

“Nama yang manis, seperti orangnya!,” puji Chanyeol.

Lagi, wajah Yoona kembali memanas dan memerah.

—————————————————————————————————————

Selesai \^v^/ semoga PiaChu suka dengan FF ini, ya? Juga readers setiaku. Jangan lupa tinggalkan jejak!

(Request FF) – Detective Love


Title : Detective Love

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-M’s LuHan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • SNSD’s Sunny as Lee Sunny
  • EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
  • etc

Genre : School-life, Romance, Friendship

Length : Oneshot

Note : FF ini adalah ‘Request FF’ dari AliyaGorjessspazzer. Semoga puas dengan cerita yang saya buat dan semoga tidak mengecewakan, ya? Buat readers, semoga kalian suka. Jangan lupa komentarnya dan jangan memplagiat cerita saya!

***

 

Keanehan, bau yang mencurigakan, situasi yang membingungkan. Ketiga hal itu sangat berkaitan erat dengan apa yang pernah dirasakan oleh seorang Detektif. Namun, kali ini bukan misi tentang pembunuhan, pencurian, atau penganiyayaan.

Misi kali ini adalah tentang…

Cinta.

Oh Sehun memakai kacamata hitam pemberian ayahnya yang menjabat sebagai seorang Detektif Internasional. Dengan barang-barang yang diperlukan seorang Detektif di dalam tas miliknya, Oh Sehun telah siap berangkat menuju sekolahnya.

“Misteri akan segera dipecahkan,” gumam Oh Sehun.

***

 

Oh Sehun adalah seorang murid dari Performing Art School di Seoul. Ia sangat terkenal karena jabatan yang dimiliki ayahnya. Bahkan, banyak yang memprediksi bahwa Oh Sehun juga akan seperti ayahnya di masa depan nanti.

Oh Sehun memiliki seorang kekasih yang sangat cantik. Namanya Jessica Jung. Murid berdarah Amerika-Korea itu sangat terkenal di sekolah tersebut karena selain sekolah, dia juga adalah seorang model di majalah-majalah terkenal. Meskipun begitu, Jessica bukanlah gadis yang sombong dan memilih teman. Jessica berteman dengan siapa saja. Termasuk lelaki berdarah China bernama Xiao Luhan.

Target tersangka tak lain adalah lelaki itu sendiri. Lelaki itu sangat dekat dengan Jessica—kekasih Oh Sehun. Hal itu tentu membuat Sehun terbakar cemburu. Meskipun Jessica mengatakan bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman, tetapi bau yang mencurigakan masih bisa tercium di hidung Sehun.

Untuk yang pertama kalinya, Oh Sehun tidak mempercayai Jessica Jung.

“Sehun-ah, selamat pagi!,” sapa Jessica.

“Selamat pagi, sayang,” balas Sehun.

Bibir mereka menyatu dalam sepuluh detik hingga mereka menjadi pusat perhatian karena telah berciuman di depan pintu kelas mereka. Semua murid juga tahu bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Jadi, tidak ada yang mempermasalahkan hal itu kecuali para penggemar Sehun dan Jessica.

“Kau membawa pekerjaan rumahmu?,” tanya Jessica.

“Jangan meremehkan orang jenius, sayang,” jawab Sehun.

Jessica tersenyum sambil memukul dada Sehun pelan. Mereka pun berjalan dan duduk di kursi mereka masing-masing.

Sehun duduk satu meja dengan Xiao Luhan—target tersangka dalam misinya. Sementara Jessica duduk satu meja dengan Im Yoona. Meskipun berteman, Sehun selalu curiga terhadap Luhan. Melihat ketampanan Luhan, Sehun merasa takut tersaingi. Murid tercantik di sekolah ini—Im Yoona—saja kagum kepada Luhan. Dan hal itu bisa jadi dirasakan oleh Jessica.

Tidak boleh! Jessica tidak boleh jatuh cinta pada lelaki China ini, batin Sehun.

“Apa yang mengganggumu, Sehun-ah?,” tanya Luhan.

“Eh? Tidak. Aku baik-baik saja,” jawab Sehun.

“Oke,” dan Luhan pun kembali memainkan rubiknya.

Selain Sehun, Luhan juga adalah murid yang jenius di sekolahnya. Permainan rubik dari Luhan sangat mengagumkan. Bagaimana bisa seseorang memecahkan teka-teki rubik kurang dari satu menit? Itu sangatlah tidak mudah, pikir Sehun.

“Luhan hebat sekali, ya?,” seru Yoona.

Jessica mengangguk setuju, “Memecahkan permainan rubik bukanlah hal yang mudah,” ucapnya.

“Aku jadi semakin menyukainya!,” ucap Yoona.

Jessica tersenyum, “Kalian pasti sangat cocok jika bersama,” ucapnya.

“Benarkah?,”

“Tentu saja. Kau cantik dan Luhan itu tampan. Pasangan yang sempurna,” jawab Jessica.

Wajah Yoona memerah seperti tomat setelah mendengarnya.

***

 

Jessica dan Sehun sedang makan berdua di kantin. Namun, tiba-tiba…

“Boleh aku ikut bergabung?,” tanya Luhan.

Sehun memutar bola matanya. Sedangkan Jessica tersenyum menyambut Luhan, “Silakan,” jawabnya.

Bahkan Luhan mengambil tempat disamping Jessica, bukan disamping Sehun.

“Menyebalkan!,” gumam Sehun pelan sambil menusuk-nusuk daging di piringnya dengan garpu yang ia pegang.

“Sehun-ah, ada masalah?,” tanya Jessica cemas.

“Ah, tidak,” jawab Sehun.

***

 

“Luhan itu sangatlah tampan,” ucap Taeyeon.

“Dia juga sangat manis,” ucap Sunny.

“Apa aku cocok dengannya?,” tanya Yoona.

Taeyeon dan Sunny mengangguk kompak.

“Tapi, kau harus berhati-hati dengan Jessica,” ucap Sunny.

“Kenapa? Bukankah Jessica sudah memiliki Sehun?,” tanya Taeyeon.

“Jessica dan Luhan sangatlah dekat. Aku curiga dengan hubungan mereka,” jawab Sunny.

“Kira-kira, Sehun yang berjiwa detektif curiga tidak, ya?,” tanya Taeyeon.

“Semoga saja begitu. Jadi, Luhan bisa menjadi milikku seorang!,” jawab Yoona.

Tanpa mereka sadari, seorang murid laki-laki mendengarkan percakapan mereka.

“Bahkan murid yang payah akan pelajaran seperti Sunny saja curiga dengan hubungan Jessica dan Luhan,” gumam murid laki-laki itu yang tak lain adalah Oh Sehun.

Sehun mengepalkan tangannya, “Aku harus menyusun strategi. Aku tidak akan membiarkan Luhan merebut Jessica!,”

***

 

“Luhan-ssi, ku dengar kau sedang mengincar seorang murid perempuan di sekolah ini,” ucap Baekhyun.

Luhan tersenyum malu, “Ya. Begitulah,” ucapnya.

Sehun berada di balik dinding mendengarkan percakapan mereka dengan memasang pendengaran yang tajam.

“Wah. Murid perempuan itu pasti sangat beruntung sekali, ya?,”

“Tidak. Aku lah yang beruntung jika aku berhasil mendapatkannya,”

Sehun menulis di buku catatan kecilnya, “Aku lah yang beruntung jika aku berhasil mendapatkannya,” gumamnya.

“Oh, ya? Memangnya murid itu sangat cantik, ya?,” tanya Baekhyun.

“Dia itu sempurna,” jawab Luhan.

Sehun kembali menulis, “Dia itu sempurna,” gumamnya.

“Beritahu aku ciri-cirinya!,” pinta Baekhyun penasaran.

“Dia memiliki mata yang indah, senyuman yang manis, wajah yang sempurna, dan sifat yang ramah,” jawab Luhan.

Sehun menulis seperti apa yang dikatakan Luhan.

“Aku jadi penasaran siapa perempuan itu,” ucap Baekhyun.

Luhan tertawa mendengarnya.

Sehun memasukkan buku catatan kecilnya ke dalam sakunya. Informasi berhasil ia dapatkan. Selanjutnya, ia harus menjalankan rencana B.

***

 

“Terima kasih, Jessica-ya. Selama ini kau sudah banyak membantuku,” ucap Luhan.

“Iya. Aku senang bisa membantumu, Lu,” jawab Jessica.

Sehun mengikuti mereka dari belakang namun ia berada sangat jauh dari mereka. Ia menggunakan alat pendengar pada jarak jauh di telinga kanannya sehingga ia dapat mendengarkan percakapan Jessica dan Luhan sangat jelas.

Luhan menghentikan langkahnya. Jessica juga ikut berhenti. Luhan pun berposisi berhadapan dengan Jessica.

Luhan memegang kedua bahu Jessica, “Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku. Dan sebentar lagi kau akan menjadi—,”

“SEHUN!!!!,” seru Baekhyun yang berada dibelakang Sehun.

“Astaga! Kau ini mengagetkanku saja. Sudah sana pergi,” usir Sehun.

“Iya deh,” jawab Baekhyun lalu pergi meninggalkan Sehun.

Sehun beralih kembali menatap Jessica dan Luhan. Matanya membulat sempurna saat melihat Luhan dan Jessica berpelukan.

“Apakah tadi—Luhan telah menyatakan perasaannya kepada Jessica? Dan Jessica menerimanya?,” gumam Sehun tak percaya.

Tapi, Sehun bukan tipe orang yang langsung mengambil keputusan. Sehun masih belum mengumpulkan bukti yang akurat.

“Oke. Aku akan melakukan rencana B,” gumam Sehun.

***

 

Satu hari telah berlalu. Sekolah tetap aktif karena hari ini bukan hari minggu atau hari libur. Jadi, semua murid masih belajar di sekolah dan semua pengajar masih mengajar di sekolah.

Sehun memutuskan akan melakukan rencana B. Ia sudah memikirkan matang-matang selama satu malam hingga ia kurang tidur. Jessica pun berkali-kali menanyakan keadaannya yang sangat tidak baik.

“Kau begadang lagi?,” tanya Jessica.

Sehun mengangguk, “Ada eksperimen yang sedang ku lakukan,” jawabnya.

“Kau masih seorang pelajar, Sehun-ah. Berhenti melakukan hal yang mengganggu pelajaranmu,” ucap Jessica.

“Setelah eksperimen ini selesai, aku berjanji akan berhenti,” ucap Sehun.

Jessica tersenyum. Ia mengusap kepala Sehun dengan sayang. Sehun selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Jessica. Sehun sangat mencintai Jessica. Tak heran ia selalu melakukan apapun demi Jessica.

Tiba-tiba, seorang pengajar masuk ke kelas mereka. Semua murid kembali ke kursi masing-masing. Pengajar itu menjelaskan materi pelajaran yang disukai oleh Sehun. Tapi, Sehun lebih tertarik untuk menginterogasi teman sebangkunya itu.

“Luhan,” panggil Sehun.

Luhan menoleh, “Ya?,”

“Boleh aku menanyakan sesuatu?,” tanya Sehun.

“Tentu saja,” jawab Luhan.

Sehun menarik napas sejenak, “Bagaimana pendapatmu tentang Jessica?,”

Luhan mengernyit bingung, “Apa maksudmu?,” tanyanya.

“Maksudku, bagaimana Jessica itu menurutmu?,” tanya Sehun.

“Oh. Dia orang yang ramah,” jawab Luhan.

“Karakter fisiknya?,” tanya Sehun.

“Dia memiliki mata yang indah, senyuman yang manis, dan wajah yang sempurna—”

Tidak salah lagi, pikir Sehun. Jadi, selama ini Luhan memang menyukai Jessica? Dan saat mereka berpelukan itu ternyata benar sesuai dengan apa yang dipikirkan Sehun?

“Jadi mereka menjalin hubungan dibelakangku?,” gumam Sehun pelan.

“—seperti—eh, Sehun-ah?,”

Belum selesai Luhan berbicara, Sehun sudah keluar dari kelas tanpa meminta ijin dengan pengajar. Wajahnya terlihat marah. Jessica merasa cemas dan meminta ijin untuk ke toilet, bermaksud untuk mengejar Sehun.

***

 

Jessica sudah mencari ke seluruh ruangan di sekolah, tapi ia tak kunjung menemukan Sehun. Dan pencariannya berakhir di atap sekolah. Ia menemukan Sehun yang sedang menatapi langit biru.

“Sehun-ah,”

Sehun berbalik. Namun, bukan seperti harapan Jessica, Sehun melemparkan tatapan dinginnya kepada Jessica.

“Untuk apa kau kemari?,”

“Ada apa, Sehun-ah? Ceritakan semuanya kepadaku. Aku berjanji akan membantumu,” ucap Jessica.

“Kau tidak akan bisa membantu,” ucap Sehun.

“K-Kenapa?,”

“Bisakah kau membantu untuk menjelaskan perselingkuhanmu, eh?,” tanya Sehun berapi-api.

“Perselingkuhan apa maksudmu?,” tanya Jessica bingung.

“Tidak perlu berakting, Jessica Jung. Aku sudah tahu semuanya. Kau dan Luhan. Kalian berpacaran, bukan?,”

Jessica spontan syok mendengarnya. Ia menggeleng cepat, “Aku tidak pernah sekalipun memikirkan hal itu, Sehun-ah. Apalagi melakukannya,” jawabnya.

“Lalu, apa maksud pelukan kemarin di koridor?,” tanya Sehun.

“Saat itu Luhan berterima kasih karena aku sudah menjadi sahabat terbaiknya,” jawab Jessica.

“Dan sebentar lagi akan menjadi—,”

“Saudara terbaiknya! Itu yang Luhan katakan hingga aku memeluknya sebagai ucapan terima kasih,” potong Jessica.

Sehun mengerjap, “Saudara? Apa maksudmu? Kau dan Luhan—,”

“Ayahku dan ibunya sudah bertunangan. Dan sebentar lagi akan menikah. Maaf karena aku belum memberitahumu. Aku berniat menjadikan ini sebuah kejutan,” jawab Jessica.

“Tapi, Luhan menyukai seseorang yang cirinya sama persis denganmu!,” ucap Sehun.

“Dan kau belum mendengarkan kelanjutan dari kalimatku yang sempat terputus karena kepergianmu, Oh Sehun!,”

Sehun dan Jessica menoleh ke sumber suara, “LUHAN??!!,”

“Saat kau menanyakan bagaimana pendapatku tentang Jessica, aku menjawabnya dia memiliki mata yang indah, senyuman yang manis, wajah yang sempurna, dan sifat yang ramah. Seperti—,” Luhan tersenyum tipis, “—seseorang yang selama ini ku sukai, Im Yoona,” lanjutnya.

Sehun mengerjap kaget, “J-Jadi—kau—itu—,”

“Intinya, kau hanya salah paham, Sehun-ah. Aku dan Jessica bukan apa-apa selain sahabat dan saudara,” ucap Luhan.

Sehun tersenyum malu. Melihat itu, Jessica tertawa ringan.

“Ini pertama kalinya kau gagal menyimpulkan permasalahan, bukan?,” tebak Jessica.

Sehun mengusap tengkuknya, “Sepertinya begitu,” jawabnya.

Jessica memeluk Sehun erat, “Jangan pernah membuatku mencemaskanmu lagi, oke? Misimu sudah selesai sekarang. Jadi, kau tidak boleh begadang lagi,” ucapnya.

“Okay, master!,” jawab Sehun seraya mengusap kepala Jessica.

Luhan hanya tersenyum melihat pasangan dihadapannya itu.

Sehun menatap ke langit biru. Misi cintaku.. selesai!

END

Yang ini agak pendekan, ya? Sorry buat AliyaGorjessspazzer u.u

Tapi, semoga kamu suka ya sama ceritanya. Sorry aku bikin jadi aneh gini. Pengen ada nuansa baru aja sih. Soalnya cerita-cerita jaman sekarang udah banyak yang pasaran. Jadi, aku mencari sesuatu yang lain.

Buat readers dan khususnya AliyaGorjessspazzer, ayo tinggalkan jejak! ^^

(Request FF) – Fall In Love With Bad Girl


Title : Fall In Love With Bad Girl

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s LuHan as Xiao Luhan

Support Cast :

  •  SNSD’s Sooyoung as Choi Sooyoung
  •  SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  •  SNSD’s YoonA as Im Yoona
  •  EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • etc

Genre : School-life, Romance, Comedy

Length : Oneshot

Note : FF ini merupakan ‘Request FF’ dari Park Yuko. Semoga bisa diterima dan bisa memuaskan anda dan juga ma all beloved readers!

***

 

Menjadi seorang gadis tomboy adalah hal yang biasa. Tetapi, menjadi seorang gadis yang tidak memiliki kekasih seumur hidupnya bukanlah hal biasa. Statusnya sebagai gadis tomboy membuatnya tak bisa merasakan apa itu cinta, apa itu pacaran, apa itu kekasih. Padahal teman-temannya sering merasakan tiga hal itu. Iri, tentu saja. Meskipun memiliki jiwa seperti laki-laki, tetapi gadis ini juga ingin seperti teman-temannya.

Namanya Jessica Jung. Nama seorang murid di Seoul Performing Art School yang paling ditakuti oleh kaum adam maupun hawa. Nama yang sangat terkenal bahkan di luar sekolah sekali pun. Nama yang menyedihkan bagi Jessica sendiri karena baginya nama itu membawa penderitaan untuknya.

“Aku sudah tidak perawan lagi,”

“APA???!!!!,” teriak tiga sahabat Yoona.

“Dimana kalian melakukannya?,” tanya Yuri.

“Berapa ronde, eoh?,” tanya Sooyoung.

“SIAPA YANG BERANI MENGOTORIMU, IM YOONA? TAKKAN KU MAAFKAN LELAKI ITU!!!!,” teriak Jessica murka.

Yoona terkekeh pelan, “Tenang. Bukan miss V milikku yang tidak perawan. Tapi—,” wajah Yoona memerah, “—bibirku,” lanjutnya.

“Oh, jadi Yoona sudah melakukan ciuman pertama?,” tanya Yuri.

Yoona mengangguk malu.

“Akhirnya!,” seru Sooyoung turut senang.

Yuri menyikut lengan Jessica, “Bagaimana denganmu, eh?,” tanyanya.

Jessica menghela napas berat, “Aku tidak tertarik dengan yang namanya cinta,” jawabnya.

“Apa benar?,” tanya Sooyoung dengan tatapan menggodanya.

“Bawakan saja lelaki paling tampan di dunia ini. Aku tetap takkan jatuh cinta kepadanya,” ucap Jessica.

“Keras kepala sekali,” bisik Yoona kepada Yuri.

“Padahal kemarin aku mendengar dia mengigau ingin memiliki kekasih,” bisik Yuri kepada Yoona.

“Bagaimana kalau kita bertaruh?,” tawar Sooyoung.

Jessica mengernyit, “Bertaruh apa?,” tanyanya.

“Kau harus menjalin hubungan dengan Kim Jongin, si tampan yang jago kungfu itu,”

Jessica spontan syok, “WHAT THE HELL!!!,” teriaknya.

“Untuk apa itu, Sooyoung-ah?,” tanya Yoona.

“Jessica sendiri yang berkata kalau dia takkan jatuh cinta meskipun kita membawakan lelaki tampan. Jadi, jika Jessica menjalin hubungan dengan Jongin, pasti Jessica akan merasakan cinta,” jawab Sooyoung.

Jessica menggeleng cepat, “Tidak mungkin! Satu bulan berpacaran dengannya pun aku takkan jatuh cinta kepadanya,”

“Oke! Deal!,” seru Sooyoung.

“Eh?,”

“Satu bulan berpacaran dengan Kim Jongin. Jika kau jatuh cinta, kau kalah. Jika tidak, aku yang kalah. Terserah kau ingin minta apa dariku,” ucap Sooyoung.

“Tapi, bagaimana caranya Jessica bisa berpacaran dengan Kim Jongin? Bukankah itu hal yang mustahil?,” tanya Yuri.

Sooyoung tersenyum licik, “Tenang saja. Serahkan semuanya kepadaku,” jawabnya.

Jessica, Yuri, dan Yoona menatapnya horor.

***

 

BRAKKK!!!!

Jongin baru saja membanting temannya—Oh Sehun—ke lantai di ruangan lapangan basket. Semua teman-teman lelakinya dan beberapa murid perempuan bertepuk tangan.

“Hebat, Jongin! Permainan kungfumu tidak tertandingi,”

“Kau sangat baik bermain kungfu,”

“JONGIN OPPA, KAU SANGAT KEREN!!!!!,” teriak para murid perempuan.

Sehun beranjak berdiri, “Hebat, teman. Kau hampir meremukkan tulangku,” pujinya.

“Maaf jika membuatmu terluka, Sehun-ah,” ucap Jongin.

“Tidak apa. Aku tidak masalah,”

“HEI! KIM JONGIN!!!!!,”

Semua yang ada disana menoleh ke sumber suara. Choi Sooyoung yang sedang berada di ambang pintu. Suara itu berasal darinya.

“JANGAN SOMBONG DULU! KAU BELUM BERTANDING MELAWAN TEMANKU YANG LEBIH HEBAT DARIMU!,” teriak Sooyoung.

Mereka semua tertawa, termasuk Jongin sendiri.

“Siapa temanmu itu?,” tanya Jongin.

Sooyoung langsung menarik Jessica dan membawanya masuk. Para murid terkaget-kaget dan ketakutan.

“J-Jessica?,” pekik Sehun tak percaya.

“Oh. Jadi gadis tomboy ini yang lebih hebat dariku?,” tanya Jongin angkuh.

“Tentu saja!,” jawab Sooyoung.

Jessica hanya diam, tak berani berkata apapun.

“Bagaimana kalau kita bertaruh?,” tawar Sooyoung.

“Bertaruh apa?,” tanya Jongin.

“Jika kau berhasil menang, aku akan menjadi pembantumu selama satu bulan penuh,” ucap Sooyoung.

“Menarik,” bisik Sehun kepada Jongin.

“Dan jika gadis itu yang menang?,” tanya Jongin.

“Kau harus menjadi kekasihnya,”

“APA?????!!!!!!!!!,”

“Menjadi kekasihnya? Apa kau gila?,” tanya Jongin tak percaya.

Jessica menunduk sambil menutupi wajahnya yang memerah karena malu.

“Oh. Jadi, kau takut kalah?,” tanya Sooyoung.

“Enak saja. Tidak ada kata kalah di dalam kamusku,” jawab Jongin, “Oke. Aku terima. Mari kita mulai sekarang,”

Sooyoung menepuk bahu Jessica, “Kau harus menang!,” bisiknya.

“Aku tidak bisa bermain kungfu,” bisik Jessica.

“Kalahkan dia dan selesai. Kau untung, aku juga selamat dari neraka,” bisik Sooyoung.

“Bersedia ditempat. Saling membungkuk. Dan mulai!,” seru Sehun.

Jessica dan Jongin pun mulai bertanding.

***

 

Jessica merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini merupakan hari terburuk yang pernah ia alami. Jessica tidak kalah dalam pertandingan itu. Dan mulai hari ini, Jessica dan Jongin resmi menjadi sepasang kekasih.

“Apa yang harus aku lakukan? Bahkan aku tidak tahu harus melakukan apa! Atau aku berhenti sekolah saja?,”

Jessica mengacak-acak rambutnya prustasi. Ini benar-benar di luar dugaannya. Ia pikir, ia akan kalah dan keluar dari rencana gila yang disusun oleh Sooyoung. Tapi, ternyata, ia menang.

“Bagaimana nanti jika aku bertemu dengan Jongin? Atau dengan para penggemarnya itu?,”

Jessica sangat prustasi hari ini.

***

 

Jessica berjalan menelusuri koridor sekolahnya dengan suasana yang sangat suram. Para penggemar Kim Jongin menatapinya dengan penuh benci. Tapi, mereka tidak berani melawan ataupun mengejek Jessica. Karena mereka tahu jika mereka berani kepada Jessica, mereka akan segera dimasukkan ke dalam pemakaman.

“Jessica-ah!,” seru Yuri sambil merangkul bahu Jessica.

Jessica tersentak, “Kau mengagetkanku saja, Yuri-ah,” ucapnya sambil mengelus dadanya pelan, “Ada apa?,” tanyanya.

“Hanya ingin menyapa sahabatku yang baru saja memiliki kekasih,” jawab Yuri dengan senyuman lebarnya.

Wajah Jessica memanas. Ia segera melepaskan rangkulan Yuri dan segera berlari meninggalkannya. Yoona dan Sooyoung yang kebetulan lewat pun menghampiri Yuri.

“Kenapa Jessica pergi?,” tanya Yoona.

Yuri tersenyum lebar, “Dia sedang salah tingkah,” jawabnya.

Sementara itu, Jessica terus berlari di sepanjang koridor sekolah. Hingga ia menabrak seorang murid laki-laki yang baru saja keluar dari kelasnya.

“Aw!,”

“Maafkan aku. Aku sangat menyes—,” Jessica mendongak dan tercengang, “—Kim Jongin?,” pekiknya.

“Oh. Seorang gadis preman di sekolah meminta maaf? Tidak biasanya,” ucap Jongin.

“Tentu saja dia harus meminta maaf kepadamu, Jongin-ah. Dia kan kekasihmu,” sahut Sehun yang berada disamping Jongin.

Wajah Jessica kembali memanas. Ia segera berlari meninggalkan mereka berdua.

“Kau ini bicara apa, Sehun-ah? Aku bukan kekasihnya!,”

“Jangan pernah lupa fakta bahwa kau kalah taruhan dengan Choi Sooyoung,” ucap Sehun.

Jongin mengacak-acak rambutnya, “Gah! Aku benar-benar tertimpa sial!,” gerutunya.

***

 

“Annyeonghaseyo. Nama saya Xiao Luhan. Panggil saja Luhan. Senang berkenalan dengan kalian. Saya harap, kalian dapat membantu saya. Terima kasih,”

“WHOA!!!!!!,”

“TAMPANNYA!!!!!!!,”

“MANIS!!!!!!!!!,”

Seperti itulah teriakan dari para murid perempuan di kelas tersebut. Luhan pun duduk disamping gadis yang ditakuti hampir semua murid, Jessica Jung.

“Namaku Luhan,” ucap Luhan.

“Aku sudah tahu,” jawab Jessica dingin.

“Bagaimana dengan namamu?,” tanya Luhan.

“Jessica,”

Luhan mengusap tengkuknya, “Oh. Senang berkenalan denganmu, Jessica-ssi,” ucapnya.

“Hm,”

Luhan tersenyum sambil memandangi Jessica yang tengah fokus mendengarkan pelajaran di kelas. Diam-diam, Luhan telah jatuh ke dalam pesona rahasia yang dimiliki oleh Jessica. Pesona yang hanya bisa dilihat dari jarak dekat.

“Menarik,” gumam Luhan pelan.

***

 

Jessica sedang makan di kantin bersama ketiga sahabatnya. Kantin itu cukup dipenuhi oleh murid-murid.

“Jessica-ah, kau tidak makan bersama kekasihmu?,” tanya Sooyoung sambil menunjuk Jongin dengan dagunya.

“Dia itu bukan kekasihku,” ucap Jessica.

“Kalian sudah resmi berpacaran, Sica-ah. Kalian adalah sepasang kekasih,” ucap Yoona.

“Ini semua kan karena ide gila dari Sooyoung,” ucap Jessica kesal.

“Permisi,”

Keempat murid perempuan itu menoleh ke sumber suara. Yoona, Sooyoung, dan Yuri terperangah melihat siapa yang menyapa mereka.

“Tampannya!,” kagum Yuri.

“Manis!,” kagum Yoona.

“Juniornya besar tidak, ya?,” gumam Sooyoung pelan. Pelan sekali hingga hanya Yoona yang mendengarnya. Yoona menahan tawanya setelah mendengar gumaman Sooyoung.

“T-Terima kasih. Bolehkah aku bergabung disini?,”

“Kau bisa duduk di tempat lain, Luhan-ssi,” ucap Jessica.

“K-Kalian saling kenal?,” tanya Yuri tak percaya.

“Dia murid baru di kelasku,” jawab Jessica santai.

“Disini, hanya Jessica yang ku kenal. Jadi, boleh aku bergabung disini, ya?,” pinta Luhan.

“Boleh boleh!,” jawab Sooyoung.

“Tentu saja!,” jawab Yuri.

“Silakan duduk,” ucap Yoona.

Luhan pun mengambil tempat disamping Jessica. Sehun yang melihatnya dari kejauhan pun menyikut lengan Jongin.

“Ada apa?,”

“Lihat! Kekasihmu bersama Luhan, murid baru yang sudah menjadi sangat populer di sekolah ini,” ucap Sehun.

Jongin menaikkan alisnya, “Lalu?,”

“Kau tidak cemburu?,” tanya Sehun.

“Memangnya aku ingin berpacaran dengannya? Aku melakukan ini hanya karena kalah taruhan. Lagipula, mana mungkin aku jatuh cinta kepada gadis preman itu,” seru Jongin.

“Jaga kata-katamu, Jongin-ah. Hati-hati kalau kau sampai menjilat ludahmu sendiri,”

“Aku tidak akan termakan oleh kata-kataku. Tenang saja,” ucap Jongin yakin. Ia kembali melanjutkan makannya sambil menatap Jessica bersama Luhan. Apa yang dilihat Luhan tentang Jessica? Mengapa dia mau mendekati Jessica?, batinnya.

***

 

Satu minggu telah berlalu. Hubungan Jessica dan Jongin semakin parah. Keduanya terus bertengkar. Benar-benar tidak seperti sepasang kekasih pada umumnya.

Sementara itu, hubungan Jessica dan Luhan semakin dekat. Luhan selalu berusaha mendekati Jessica hingga Jessica menyerah. Mereka pun mulai berteman dan Jongin semakin curiga akan hubungan mereka.

“Kau benar-benar tidak cemburu pada si Luhan itu?,” tanya Sehun.

“Tidak akan pernah, Oh Sehun!,” jawab Jongin.

Di perpustakaan, Jessica dan Luhan sedang membaca buku pelajaran.

“Jessica-ya, bisakah kau menjelaskan apa maksud pertanyaan yang ini?,” tanya Luhan.

Jessica pun menjelaskannya kepada Luhan. Dan diam-diam, Luhan tak memperhatikan penjelasan Jessica. Melainkan memperhatikan wajah Jessica.

“Cantik,”

“Apa?,” tanya Jessica.

“T-Tidak. Maksudku, aku mengerti,” jawab Luhan grogi.

Jessica mengangguk pelan, “Oke,” ucapnya.

***

 

“Berkencan?,” pekik Jessica kaget.

“Kau tidak mungkin bisa jatuh cinta kepada Jongin jika hubungan kalian terus seperti ini. Kalian harusnya pergi jalan-jalan berdua,” jawab Sooyoung.

“Sooyoung-ah, ini gila. Sangat gila. Bagaimana dengan dia? Memangnya dia mau?,”

Sooyoung mengangguk, “Tentu saja dia mau!,” jawabnya.

“Berkencan? Yang benar saja!,”

 

“Kim Jongin, jika kau menolaknya, itu artinya kau takut jatuh cinta pada Jessica,” ucap Sooyoung.

 

Jongin menggeleng cepat, “Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada gadis preman itu, Sooyoung-ssi,” bantahnya.

 

“So?,”

 

Jongin menghela napas berat, “Baiklah. Aku setuju. Aku akan berkencan dengannya,” jawabnya akhirnya.

 

“Oke. Jemput Jessica di alamat ini,” ucap Sooyoung seraya memberikan selembar kertas kecil kepada Jongin.

 

“Oke,” jawab Jongin pasrah.

 

***

 

Jongin sedang bersandar di mobilnya yang sedang diparkir di depan rumah milik Jessica. Beberapa kali Jongin melirik jamnya. Jongin tak menyangka, gadis tomboy seperti Jessica yang tidak suka berdandan ternyata bisa lama juga. Benar-benar di luar dugaan, pikirnya.

“Maaf. Aku membuatmu lama menunggu!,”

“Ya sudah. Tidak apa-ap—,” kalimat Jongin terhenti dan ia tercengang pada seorang gadis yang berdiri dihadapannya itu, “K-Kau Jessica?,” tanyanya ragu.

“Maaf. Bukan aku yang menginginkan ini. Yuri memaksaku untuk berdandan. Dia lah yang mendandaniku seperti ini,”

Jongin masih tercengang melihat penampilan Jessica. Wajahnya memang sangat mirip Jessica. Tapi, penampilannya sangat berbeda. Jongin masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Aku masih tidak percaya,” gumam Jongin pelan.

“Kau bicara apa, Jongin-ssi?,” tanya Jessica.

Jongin mengibaskan tangannya dengan cepat, “Tidak. Bukan apa-apa. Ngg—ayo berangkat!,”

Jessica mengangguk setuju. Keduanya masuk ke dalam mobil milik Jongin. Dan mereka akan melangsungkan kencan pertama mereka.

***

 

Jongin sedang berbaring di ranjangnya. Ia memainkan ponselnya dan melihat-lihat folder foto di ponselnya. Terdapat banyak foto pemandangan, wahana bermain, dan satu foto yang sangat menarik baginya. Hingga foto tersebut ia jadikan sebagai walpaper ponselnya.

Gambar

Jongin tertawa sambil mengingat bagaimana caranya ia mendapatkan foto tersebut.

“Akhirnya aku telah mencoba wahana paling berbahaya itu!,” seru Jessica.

Jongin menaikkan alisnya, “Memangnya kau tidak pernah menaiki wahana yang tadi itu sebelumnya?,” tanyanya.

“Setiap pergi ke Lotte World bersama Yoona, Sooyoung, dan Yuri, mereka pasti tidak mau menemaniku naik wahana itu. Terima kasih karena kau sudah mau menemaniku,”

Wajah Jongin memanas. Ia menundukkan kepalanya agar wajah merahnya tak terlihat oleh Jessica.

“Ya. Tidak masalah,” jawab Jongin.

“Oke. Mari kita menaiki wahana yang lain!,” seru Jessica seraya berjalan mendahului Jongin.

Jongin mengeluarkan ponselnya saat ponselnya mulai bergetar. Ia membaca pesan dari Sooyoung.

From : Sooyoung-evil friend

Selamat bersenang-senang! Semoga kalian akan menyadari perasaan kalian masing-masing. Keke~!

Jongin terkekeh pelan. Kemudian, ia mendapatkan ide yang bagus. Ia arahkan ponselnya ke arah Jessica, dan..

“Jessica-ssi,”

Jessica berbalik, “Ya?,” jawabnya. Dan suara kamera serta sinar flash pun terdengar dan terlihat.

“YA! KIM JONGIN! UNTUK APA MENGAMBIL FOTOKU?,” teriak Jessica kesal.

“Penampilanmu saat ini sangat langka. Aku akan menyebarkannya!,” jawab Jongin.

“TIDAK! TIDAK BOLEH! KAU TIDAK BOLEH MENYEBARKANNYA!,”

“AKU AKAN MENYEBARKANNYA!,”

“Kau jahat, Kim Jongin! Ku mohon, jangan!,”

Jongin tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Jessica.. Jessica.. Mana mungkin aku menyebarkan fotomu. Kalau aku melakukannya, aku pasti akan segera kehilanganmu karena semua lelaki akan merebutmu dariku,”

Tersadar akan ucapannya, Jongin menepuk mulutnya sendiri.

“Apa yang ku katakan tadi? Untuk apa aku peduli pada Jessica? Kenapa aku tidak ingin kehilangan Jessica?,”

Jongin mengacak-acak rambutnya.

***

 

“Jessica-ya!,” panggil Luhan sambil berlari mengejar Jessica.

“Eh? Ada apa, Lu? Bukankah kau harus segera pulang karena kau akan pergi ke China?,” tanya Jessica.

“Ngg—ada yang ingin ku sampaikan kepadamu sebelum aku pergi ke China,” jawab Luhan.

“Sangat penting, ya? Kalau tidak penting, kau sampaikan saat setelah kau kembali ke Seoul saja,” ucap Jessica.

“Tidak bisa. Itu terlalu lama,” ucap Luhan.

“Oke. Jadi, ada apa?,”

“Ngg—,” Luhan menarik napas dalam, “—maukah kau menjadi kekasihku?,”

“A-Apa?,” pekik Jessica tak percaya.

Luhan mengangguk, “Jadilah kekasihku. A-Aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Aku ingin hubungan kita lebih dari sahabat,”

“A-Aku—aku—,”

“Jessica tidak bisa menjadi kekasihmu!,” seru seorang murid laki-laki seraya menghampiri mereka.

“J-Jongin?,”

“Siapa kau?,” tanya Luhan.

“Aku adalah kekasih Jessica,” jawab Jongin.

Luhan mendadak syok dibuatnya. Ia menatap Jessica meminta penjelasan.

“Memang benar aku kekasihnya. Tapi, hubungan kami tidak—,”

“Ku sarankan kau segera menjauh dari kehidupan Jessica. Aku tidak ingin Jessica dekat dengan lelaki lain selain aku,” ucap Jongin lalu segera menarik Jessica pergi.

“J-Jongin-ssi, lepaskan!,”

Jongin terus menarik tangan Jessica dan membawanya ke belakang sekolah.

“Untuk apa kau membawaku kemari? Dan apa maksud perkataanmu kepada Luhan tadi?,” tanya Jessica marah.

“Bukankah sudah jelas? Aku adalah kekasihmu,” jawab Jongin.

“Tapi, kita tidak saling mencintai,” ucap Jessica.

“Mungkin itu kau. Tapi, tidak dengan aku,”

Jessica tersentak, “A-Apa?,”

“Selama ini aku sangat tidak menyukaimu. Tapi, aku tidak tahu mengapa seiring berjalannya waktu, aku mulai tertarik kepadamu meskipun aku masih tidak yakin. Dan sekarang, aku sudah memantapkan perasaanku. Aku selalu marah jika kau dekat dengan Luhan. Aku tidak suka kau bersama lelaki lain. Dan aku hanya ingin menjadi satu-satunya lelaki yang dekat denganmu,” ucap Jongin.

“J-Jongin..,”

“Aku tahu kau tidak mencintaiku. Aku bisa mengerti. Aku tidak akan memaksa. Jika kau ingin mengakhiri hubungan ini, aku tidak apa-apa. Tidak usah pedulikan aku. Yang penting, aku sudah mengatakan bahwa—,” Jongin menarik napas dalam, “—aku mencintaimu!,”

Jongin berbalik, berniat ingin pergi. Namun, Jongin menahan langkahnya saat ia merasakan sepasang tangan melingkari perutnya. Jessica sedang memeluknya dari belakang.

“Aku juga mencintaimu, bodoh!,”

“A-Apa?,”

“Selama ini aku menutupi perasaanku. Selama ini aku sudah jatuh cinta kepadamu. Kau berbeda dengan yang lain. Kehebatan kungfumu membuatku semakin tertarik kepadamu. Kau bukan lelaki yang lemah, dan aku suka itu. Setelah Sooyoung bertaruh denganmu, aku selalu menghindarimu. Aku takut, sikap salah tingkahku kepadamu dapat kau ketahui dengan mudah. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku mulai nyaman dan terbiasa bersamamu. Dan perasaan itu semakin menjadi. Dan aku tidak pernah menyukai Luhan lebih dari sahabat,” ucap Jessica.

Jongin berbalik dan memeluk Jessica erat, “Jadi, perasaanku terbalaskan?,” tanyanya.

“Tentu saja,” jawab Jessica.

“Tak ku sangka, aku akhirnya bisa jatuh cinta kepada gadis preman. Padahal aku mati-matian bersumpah bahwa aku takkan pernah jatuh cinta kepadamu,” ucap Jongin.

“Aku juga melakukan hal yang demikian kepada ketiga sahabatku yang selalu ingin tahu soal hubungan kita,” ucap Jessica.

“Tapi, aku tidak peduli. Sekarang, tidak ada lagi kecanggungan diantara kita,” ucap Jongin.

Jessica mengangguk. Mereka bertatapan dalam diam. Hal itu berlangsung selama satu menit. Dan akhirnya sesuatu yang baru telah terjadi. Sehun dan Sooyoung berhasil mengabadikan ciuman pertama Jessica dan Jongin di kamera milik mereka.

END

Huah! Selesai, deh! Buat Park Yuko, semoga kamu suka dengan FF ini, ya? Readers juga, ya. Dan jangan lupa komentarnya.

Baca juga ‘Request FF’ lainnya, yaks? ^^

(Request FF) – We Aren’t Childish Couple


Title : We Aren’t Childish Couple

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica (Jung) Wu
  • EXO-M’s Kris as Kris Wu

Support Cast :

  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • Sistar’s Bora as Yoon Bora
  • SNSD’s Tiffany as Stephanie Young
  • EXO-M’s Tao as Edison Huang
  • etc

Genre : Romance, Married-life, Friendship, Comedy

Length : Oneshot

Note : Ini adalah ‘Request FF’ dari hepidiana. Hopeful you love this story. Dan semoga tidak mengecewakan, ya? ^^

***

 

Jessica keluar dari sebuah kamar di rumahnya dengan mengendap-endap. Ia berjalan berjingkat menuju ruang tengah yang terdapat sofa dan televisi disana. Pelan-pelan, ia duduk dan meraih sebuah benda bernama remote. Setelah menekan tombol on, Jessica mengurangi volume agar suara dari televisi itu tidak terdengar keras. Jessica tersenyum lega. Ia bersandar dikepala sofa dan memeluk bantal sofa sambil menonton film yang sedang diputar di salah satu chanel televisi.

“Whoo! Nicki dan teman-temannya sangat keren!,” kagum Jessica.

Di dalam kamar, Kris terlihat sedang tertidur. Namun, sebuah getaran yang berasal dari ponsel miliknya yang berada di bawah bantal berhasil membangunkannya. Kris dengan nyawa yang masih belum terkumpul meraih ponselnya dan membaca pesan masuk di ponsel miliknya.

Mata Kris membulat sempurna, “Barcelona melawan Real Madrid baru saja dimulai?!,” pekiknya.

Kris segera bangkit dari tidurnya. Ia melompat dari ranjang ke lantai, lalu berlari keluar dari kamar. Kris berlari menuju ruang tengah yang disana sudah ada isterinya yang sedang menonton film.

“K-Kau bangun?,” pekik Jessica tak percaya.

Kris tak menjawab melainkan mengambil remote televisi yang terletak di atas meja. Kris segera memindah chanel olahraga dan segera duduk disamping Jessica dengan jarak yang terhalang sekitar tiga puluh sentimeter.

“Ah, syukurlah baru dimulai,” ucap Kris seraya menghela napas lega.

Jessica mendengus, “Apa-apaan ini?,” tanyanya kesal.

“Apa sih?,” tanya Kris tanpa mengalihkan tatapannya dari televisi.

“Aku rela bangun di dini hari demi menonton film yang belum ku tonton di bioskop. Tapi, kau malah mengganti chanelnya,” ucap Jessica kesal.

“Film bisa ditonton di bioskop. Tapi, pertandingan liga Spanyol tidak bisa ditonton di bioskop,” ucap Kris.

“Kembalikan remote-nya!,” seru Jessica seraya mengambil remote televisi dari tangan Kris. Namun, Kris bisa menahannya. Jadi, mereka sedang saling menarik remote tersebut.

“Hentikan. Nanti bisa rusak!,” seru Kris.

“Tidak mau! Aku ingin menonton film The Bling Ring!,” jawab Jessica.

Kris berhenti menarik remote tersebut. Jessica juga ikut berhenti.

“The Bling Ring? Film tentang perampokan selebriti di United States itu?,” tanya Kris.

Jessica mengutuki dirinya sendiri di dalam hati. Jessica tahu, Kris tak mengijinkannya menonton film itu karena Jessica sedang mengandung. Takutnya, bayi mereka akan memiliki sifat yang sama dengan para perampok di film itu.

“Aku menyukai film itu, Kris. Film itu adalah film terkeren di musim panas ini!,” ucap Jessica.

Kris menggeleng, “Tidak, selama kau hamil. Aku tak ingin anak kita mengalami dampak buruk dari film itu!,”

“Tapi—Kris,”

“Tidak ada tapi-tapian. Lagipula, kau harus beristirahat. Tidak baik ibu hamil begadang,” ucap Kris.

“Tapi—,”

“Masuk kamar, Jess. Dan tidur nyenyak. Tidak baik begadang untukmu,” ucap Kris.

Jessica menghela napas kasar, “Okay. Okay. I will!,” jawabnya akhirnya, lalu berjalan menuju kamarnya dan Kris. Sepanjang jalan, Jessica terus menggerutu bahkan mengutuki Kris di sela gerutuannya.

Kris tak mempedulikan isterinya itu. Ia kembali fokus ke televisi. Dan…

“GOAL!!!!!!!!!,” teriak Kris sambil melompat-lompat di atas sofa.

***

 

“Stephanie! Aku bisa gila!,” seru Jessica prustasi.

Stephanie terlihat sedang mengaduk-aduk pasta pesanannya, “Tidak perlu seprustasi itu, Jess. Film itu takkan menghilang setelah kau melahirkan,” ucapnya.

“Tapi, itu masih lama, Steph. Tujuh bulan lagi. Kau bisa membayangkannya?,”

“Waktu itu terus berjalan, Jess. Kau pasti akan kaget jika waktu itu datang dengan cepat. Tenang saja. Kau hanya butuh bersabar,” jawab Stephanie.

Jessica mengusap wajahnya kasar, “Sekarang aku benar-benar stres,” ucapnya.

“Kau ini seperti anak-anak saja. Kris juga. Tidak ada yang bisa bersifat dewasa diantara kalian. Terkadang diantara kalian ada yang bersifat dewasa. Tapi, selanjutnya, kembali bersifat kekanak-kanakan,”

“Dan kau ingin menyebut kami ‘The Childish Couple’, begitu?,” tebak Jessica kesal.

“Memang begitu kenyataannya. Setiap hari kalian tidak pernah akur. Kalian selalu terlibat pertengkaran. Untungnya hanya pertengkaran kecil,”

“Ah, sudahlah. Berbicara denganmu membuatku semakin stres,” ucap Jessica.

Stephanie mendengus kesal, “Aku kan hanya ingin memberikan pendapatku,”

Jessica segera menyuap pasta ke mulutnya dan tak mendengarkan Stephanie yang terus mengomel seperti nenek tua.

***

 

“Aku pulang!,” seru Kris.

Kris menoleh ke seluruh ruangan dari ruang depan, “Dimana Jessica?,” gumamnya.

Kris berjalan masuk melewati ruang tengah. Masih tidak ada Jessica. Di ruang makan, juga tidak ada. Dan dikamar, akhirnya Kris temukan. Jessica sedang tertidur pulas di atas ranjang.

“Enak sekali dia tidur. Bagaimana dengan makan malam?,” gerutu Kris kesal.

Setelah mandi dan berpakaian, Kris berjalan menuju ruang makan. Awalnya, ia ingin memasak sendiri. Tapi, Kris merasa ingin membuka tutup saji di atas meja makan.

Kris pun membuka tutup saji tersebut. Mata Kris membulat sempurna saat melihat makan malam sudah siap dan ada selembar kertas di atas meja. Kris meraihnya dan membacanya.

Makan malam untukmu. Maaf, ya, aku makan duluan. Soalnya aku kelelahan sih!

Semoga masakanku kali ini lebih enak dari masakan kemarin.

Selamat makan!

 

–          Jessica

Kris tersenyum. Ternyata Jessica masih mengingat dirinya meskipun Jessica sedang kelelahan.

Akhirnya, Kris pun menikmati makan malam sendirian dengan penuh senyuman.

***

 

TING! TONG!

Kris membuka pintu utama rumahnya. Terdapat seorang lelaki dengan wajah asia namun memiliki kulit cokelat seperti western. Senyumannya lebar sekali saat melihat Kris yang membuka pintu.

Mereka pun berpelukan.

“Apa kabar, hyung?,”

“Baik. Sangat baik, Jongin-ah!,” jawab Kris, “Bagaimana dengan kabarmu? Keluarga Jung dan Kim?,” tanyanya.

“Kami semua baik-baik saja, hyung,” jawab Jongin.

“Ayo masuk! Jessica pasti senang jika tahu kau datang,” ajak Kris.

Jongin mengangguk setuju. Mereka pun masuk ke dalam rumah besar milik Kris dan Jessica.

***

 

“Noona, kau jahat sekali tidak menyambut kedatanganku!,” gerutu Jongin kesal.

“Kehadiranmu di rumah ini membawa masalah, Jongjin!,” ucap Jessica tak kalah kesal.

“Namaku Jongin!,” protes Jongin, “Lagipula, masalah bagaimana?,”

“Kau selalu berbohong kepadaku ataupun Kris hingga kami bertengkar,” jawab Jessica.

Jongin menyengir pelan, “Kalau itu, aku kan hanya bercanda,” ucapnya.

“Dan candaanmu sangat tidak lucu, Jongjin!,”

“JONGIN!!,” teriak Jongin kesal, karena namanya terus disebut salah oleh sepupunya itu.

“Yeah. Whatever,” ucap Jessica sambil memutar bola matanya.

“Ayolah, Jess. Jangan kau perlakukan Jongin seperti ini. Dia adalah sepupu—,”

“Kau ini bagaimana sih? Kenapa lebih membela dia daripada aku? Atau kau menjalin hubungan dibelakangku dengan Jongjin?,” semprot Jessica berapi-api.

Jongin sweatdrop dibuatnya.

“Jangan berbicara yang tidak-tidak. Kau pikir aku ini gay?,” protes Kris tak terima.

“Ya. Kau itu gay. Bahkan kau selalu makan siang bersama Edison setelah bekerja!,” ucap Jessica.

“Edison adalah sahabat sekaligus rekan kerjaku. Kau ini kekanak-kanakan sekali!,”\

“Kau yang kekanak-kanakan!,”

“KAU!,”

“KAU!,”

“KAU!,”

“KAU!,”

“SHUT UP!!!!!!!!!!,” teriak Jongin yang sukses membuat sepasang suami isteri itu terdiam.

“Kalian sama saja. Kalian adalah pasangan yang paling kekanak-kanakan yang pernah aku lihat!,” omel Jongin.

“WE ARE NOT CHILDISH COUPLE!!!!!!!!,” teriak Jessica dan Kris serempak hingga Jongin terjatuh ke lantai.

***

 

Jongin sedang memakan roti buatan Jessica di ruang makan bersama Jessica. Kris sudah berangkat kerja karena ia sedang ada rapat pagi hari ini. Jadi, Kris akan sarapan di tempat kerja saja.

“Pekerjaan Kris hyung masih sebagai pengusaha?,” tanya Jongin.

Jessica mengangguk sambil memberi selai pada rotinya.

“Tidak takut resiko pekerjaan itu?,”

Jessica menatap Jongin tajam, “Pekerjaan itu tidak memakan nyawa, Jongjin,”

Jongin menghela napas berat, “Bukan begitu maksudku. Perusahaan identik dengan karyawan. Dan biasanya banyak karyawan wanita. Apalagi status Kris hyung adalah direktur utama. Kris hyung juga memiliki wajah yang tampan. Apa noona tidak takut jika para karyawan wanita itu mendekati bahkan menggoda Kris hyung?,”

Jessica memutar bola matanya, “Kali ini kau takkan bisa menipuku lagi, Jongjin. Aku sudah kebal dengan tipuan busukmu itu,” ucapnya, sambil kembali memberi selai pada rotinya.

“Aku kan hanya berandai-andai saja, noona. Bukankah hal itu tidak mustahil terjadi?,”

Tenangkan dirimu, Jessica. Jangan tertangkap tipuan busuknya. Jangan sampai kau mempercayai kata-katanya. Dia selalu membohongimu, Jessica. So, please calm down!, batin Jessica.

Jongin tertawa melihat sepupunya yang sedang menahan amarahnya. Ia memang senang sekali menggoda Jessica. Jessica noona memang mudah tertipu sih, batinnya.

***

 

“Terima kasih atas rapat kali ini,” ucap Kris pada seluruh karyawan di perusahaannya.

Para karyawan itu satu persatu mulai keluar. Edison berjalan menghampiri Kris, “Mau sarapan bersama?,” tawarnya.

“Oke,” jawab Kris.

“Sajangnim,” panggil seorang karyawati cantik dan cukup seksi.

“Oh, ada apa, Bora-ssi?,” tanya Kris.

“Anda sangat dermawan dan bijaksana. Saya semakin—mengagumi anda,”

Edison menyenggol lengan Kris sambil menahan tawa. Sedangkan Kris tersenyum tipis kepada Bora, “Terima kasih karena sudah mengagumi saya,” ucapnya.

“Anda adalah panutan saya, sajangnim. Mohon terus memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini. Permisi,”

Bora pun keluar dari ruangan tersebut menyisakan Kris dan Edison berdua.

“Bora selalu mengatakan secara langsung, ya? Apa dia tak tahu direktur kita ini memiliki seorang isteri?,”

Kris mendesis, “Tutup mulutmu dan ayo kita ke restauran,” ucapnya.

“Oke. Kali ini, aku yang traktir, ya?,” usul Edison.

“Terserah apa maumu saja,” jawab Kris.

***

 

“Bora?,”

“Ya. Dia adalah karyawati tercantik di perusahaanku. Memangnya untuk apa kau menanyakan hal itu?,”

Jongin tersenyum sambil menggeleng, “Tidak ada. Hanya iseng saja,” jawabnya.

Kris memicingkan matanya kepada Jongin, “Aku jadi curiga,” ucapnya.

“Oh, yang benar saja. Aku tidak akan berbuat apa-apa lagi kok. Janji deh!,”

“Apa yang kalian bicarakan?,” tanya Jessica yang berada di anak tangga, melihat Kris dan Jongin berada di ruang tengah.

“Tidak ada,” jawab Jongin.

“Jess, bagaimana besok kita pergi makan malam berdua?,” tawar Kris.

Jessica menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri Kris, “Tidak biasanya kau mengajakku makan malam diluar. Ada apa kau tiba-tiba mengajakku?,”

“Temanku sewaktu di sekolah menengah atas mengundangku untuk makan malam di restauran miliknya. Kebetulan restauran itu akan dibuka untuk pertama kalinya besok malam. Jadi, dia akan memberikan diskon besar-besaran. Restauran itu memasak masakan Perancis. Kau suka, kan?,”

Jessica mengangguk bersemangat, “Ya. Aku suka!,” jawabnya.

“Bagaimana denganku?,” tanya Jongin.

“Kau jaga rumah saja. Nanti, akan ku bawakan untukmu,” jawab Kris.

“Aku juga ingin pergi kesana,” ucap Jongin.

“Tidak usah membantah. Tinggal saja di rumah. Kau ini seperti anak-anak saja yang merengek ingin ikut orangtuanya pergi,” ucap Jessica.

Jongin mendengus kesal. Tiba-tiba, ia mendapatkan ide yang sangat bagus. Kau akan ku hantui dengan tipuanku, noona!, batinnya.

***

 

From : Kris-ma husband

 

Sepulang kerja, kita akan langsung berangkat. Jadi, bersiap-siaplah dari sekarang.

 

Jessica tersenyum setelah membaca pesan dari Kris. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Jessica sangat senang kali ini. Bukan hanya karena diskon besar-besaran di restauran milik teman Kris, tetapi Jessica juga senang karena mereka akan makan malam berdua. Akhir-akhir ini, Jessica dan Kris memang jarang makan bersama. Kris terlalu banyak pekerjaan sehingga Kris selalu berangkat di pagi hari dan pulang di malam hari.

“Bora,”

Jessica menoleh ke sumber suara. Ia melihat Jongin masuk ke kamarnya.

“Untuk apa kau kemari?,” tanya Jessica.

“Hanya menyampaikan berita,” jawab Jongin.

Jessica menaikkan sebelah alisnya, “Aku tidak mengerti apa maksudmu,” ucapnya.

Jongin duduk di tepi ranjang milik Jessica dan Kris, “Bora adalah seorang karyawati cantik yang memiliki hubungan dekat dengan Kris hyung,”

Jessica mendesis, “Aku tak percaya,”

“Kris hyung sendiri yang memberitahuku,” ucap Jongin.

“Aku tak ingin mempercayai kata-katamu lagi, Kim Jongjin! Jadi, tutup mulutmu atau ku masukkan semua peralatan make-up ku ke dalam mulutmu!,”

Jongin bergedik ngeri, “Noona menyeramkan sekali. Aku kan hanya bercanda,” ucapnya.

Jessica tak mempedulikan perkataan Jongin melainkan sibuk mempercantik diri.

***

 

Jessica telah sampai di kantor perusahaan milik Kris. Ia sudah menghubungi Kris namun nomornya tidak aktif. Kris sudah terlambat menjemputnya setengah jam. Akhirnya, Jessica pergi ke kantor menaiki taksi.

“Selamat malam, Mrs. Wu,” sapa para karyawan kepada Jessica. Jessica tak membalas melainkan terus berjalan menuju ruangan Kris. Jessica sangat panik. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada suaminya itu.

KREKKK!!!

“KRIS, KAU—,”

Perkataan Jessica berhenti saat melihat Kris sedang berpegangan tangan dengan seorang karyawati. Jessica kembali teringat dengan perkataan Jongin. Jangan-jangan.., batinnya.

“Jess, perkenalkan, dia ini—,”

Belum selesai Kris berbicara, Jessica sudah pergi dari tempat itu.

***

 

“Jess, kau marah?,” tanya Kris yang sedang berada di depan pintu kamar mereka.

“Kau salah paham, Jess. Dia bukan siapa-siapa selain seorang karyawati di perusahaanku. Dia memegang tanganku karena dia berterima kasih karena aku sudah membebaskan dirinya dari hutang-hutangnya,”

Masih tidak ada jawaban.

“Jess, kau ini kekanakkan sekali sih,”

Pintu terbuka. Kris kaget saat melihat Jessica keluar membawa ember. Dan lebih kagetnya, Jessica menumpahkan isi ember tersebut kepada Kris hingga Kris basah kuyup.

“Apa maksudnya ini?,” tanya Kris kesal.

“Kau berselingkuh!,” jawab Jessica.

“Tidak. Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya? Lagipula, Bora itu—,”

“Oh, jadi dia yang bernama Bora?,” tanya Jessica sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Kau tahu dia?,” tanya Kris.

“Selingkuhan gay-mu yang memberitahuku,” jawab Jessica sambil menunjuk Jongin dengan dagunya.

Kris menoleh. Jongin mengeluarkan senyuman tiga jarinya. Tanpa basa-basi, Kris langsung menyeretnya dan membawanya ke hadapan Jessica.

“Ampun, hyung!,”

“Jelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Jessica!,” perintah Kris kesal.

Jongin menyengir pelan, “Sebenarnya, Bora itu tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan Kris hyung, noona. Aku hanya menggodamu saja,” ucapnya.

“Jadi, kau—,”

Jongin tertawa, “Noona tertangkap di dalam tipuanku lagi, ya? Noona ternyata masih mempercayai tipuanku,”

“TUTUP MULUTMU!!!!,” teriak Jessica seraya menendang Jongin hingga tersungkur ke lantai.

“Noona jahat sekali,” gumam Jongin sambil mengusap pantatnya.

Kris tersenyum, “Sekarang kau mempercayaiku, kan?,” tanyanya.

“Tidak semudah itu,” jawab Jessica.

“Jessica..,”

“Aku tidak bisa percaya begitu saj—,” kalimat Jessica terhenti saat Kris mencium bibirnya.

Jongin yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya, “Dasar pasangan suami isteri yang kekanak-kanakan,”

END

Yey! Selesai lagi satu FF! Semoga FF ini bisa memuaskan kalian semua terutama hepidiana. Jangan lupa reviewnya, yaks? ^^

Next, masih ada ‘Request FF’ yang lain. Yuk dibaca dan dikomentari!

(Request FF) – In The Fact


Title : In The Fact

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-M’s Kris as Kris Wu
  • EXO-K’s Suho as Kim Joonmyun

Support Cast :

  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • f(x)’s Sulli as Choi Jinri
  • SHINee’s Minho as Choi Minho
  • TVXQ’s Yunho as Jung Yunho
  • etc

Genre : Angst, Romance, Married-life, Friendship

Length : Oneshot

Note : FF ini merupakan ‘Request FF’ dari dua readerku (erikapratiwi6 dan ShitygorjessimOet). Sorry cuma summary kalian yang aku gabung dan ku jadikan satu FF. Soalnya summary kalian hampir mirip. Tokohnya juga sama. Jadi, aku jadiin satu deh. Gak papa, ya? Keke~!

***

 

Sooyeon terlihat gusar di kursi belajarnya. Wajahnya ia telungkupkan di atas kedua tangannya yang dilipat di atas meja belajarnya. Rambutnya yang rapi dan lurus pun menjadi berantakan. Tubuhnya bergetar pelan seiring dengan suara isak tangis yang keluar dari mulutnya.

KREKKK!!

Pintu kamar Sooyeon terbuka tidak lebar. Masuklah seorang perempuan berparas cantik ke dalam kamar tersebut. Ia berjalan menghampiri Sooyeon, namun memutuskan untuk duduk di tepi ranjang milik Sooyeon. Ia menatap Sooyeon dengan raut wajah yang sedih.

“Aku ingin sekali membantumu, eonni,”

“Aku tidak mengharapkan bantuanmu, Soojung-ah,”

Perempuan bernama Soojung itu menundukkan kepalanya. Di dalam hati, ia sibuk memaki dirinya sendiri yang tidak bisa membantu kakaknya.

“Aku memang adik yang tidak berguna, eonni,”

Sooyeon mengangkat kepalanya. Ia memutar kursinya hingga berhadapan dengan adiknya meskipun dihalangi oleh jarak setengah meter. Sooyeon berjalan menghampiri Soojung lalu memegang puncak kepala Soojung hingga Soojung mendongak.

“Kau selalu berguna untukku, Soojung-ah. Selalu dan selamanya. Kau selalu membantuku. Karena itu, aku sangat berterimakasih kepadamu,”

Soojung mengeluarkan air matanya, “Tapi, kali ini aku gagal, eonni. Aku gagal membantumu. Aku gagal mempertahankan kebahagiaanmu. Maafkan aku, eonni. Andai saja perjodohan ini bisa ku ambil alih, aku akan dengan senang hati mengambilnya demimu, eonni,”

“Sshhh!,” Sooyeon memeluk Soojung dengan erat, “Aku tak mungkin membiarkan adikku menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai,” ucapnya.

“Dan aku tak mungkin membiarkanmu menikah dengan lelaki yang tidak kau cintai, eonni,” ucap Soojung diikuti isak tangisnya.

Lagi, Sooyeon mengeluarkan air matanya. Namun, ia berusaha untuk berhenti menangis.

“Eonni, maafkan aku karena telah gagal,”

“Ini bukan salahmu, Soojung-ah. Tenang saja. Aku akan menerima keputusan apapun itu. Ini demi menjaga nama baik keluarga kita,”

Sooyeon melepaskan pelukannya kepada Soojung. Ia meraih ponsel miliknya dan mulai mengetik pesan kepada seseorang.

“Eonni, bagaimana kau menjelaskannya kepada Joonmyun oppa?,” tanya Soojung.

“Besok aku akan menjelaskan semuanya,” jawab Sooyeon.

Soojung tersentak, “Tapi, eonni, besok kan—,”

Sooyeon tersenyum pahit, “Tidak apa-apa, Soojung-ah. Aku sudah siap menjadi perempuan yang paling dibenci Joonmyun di dunia ini,” potongnya.

Soojung menatap kakaknya sedih, “Eonni..,”

***

 

Joonmyun telah tiba di puncak menara Namsan. Ia mencari seorang perempuan yang berjanji untuk menemuinya di tempat ini.

“Dimana Sooyeon, ya?,”

“Mencariku, Kim Joonmyun?,”

Joonmyun tersentak. Perlahan tapi pasti, ia menoleh ke belakang. Di belakangnya sudah ada perempuan berparas cantik yang sedang membawa kue yang dihiasi lilin-lilin kecil.

“Happy third anniversary!,”

Joonmyun memasang senyuman terbaiknya. Ia berjalan menghampiri perempuan itu dan mengusap kepala perempuan itu dengan lembut.

“Ternyata kau mengingatnya juga, Sooyeon-ah,” ucap Joonmyun.

“Jangan samakan aku dengan nenek tua yang pikun, Kim Joonmyun!,” seru Sooyeon dengan mimik wajah yang kesal.

“Aigoo! Maafkan aku, ya? Aku hanya bercanda,”

Sooyeon tersenyum lebar, “Ayo tiup lilin bersama!,” ajaknya.

Joonmyun mengangguk setuju. Mereka berdua pun memejamkan mata dan berdoa di dalam hati. Setelah itu, mereka meniup lilin bersama dan berakhir dengan kembang api yang menyala di langit malam.

“Kembang api?,” pekik Sooyeon.

“Untukmu,” ucap Joonmyun.

Sooyeon tersenyum senang. Ia terus memandangi kembang api dengan kagum. Sedangkan Joonmyun merogoh sebuah kotak cincin dari sakunya.

“Dan aku punya satu lagi hadiah,” ucap Joonmyun.

Sooyeon menoleh, “Apa itu?,” tanyanya.

Joonmyun membuka kotak cincin itu dan memperlihatkannya kepada Sooyeon, “Maukah kau menikah denganku?,”

Sooyeon tersentak. Tubuhnya pun menegang. Sooyeon menggigit bibirnya sambil memikirkan sesuatu hal.

“Soal cincin ini, ini bukan cincin berlian. Hanya sebuah cincin emas yang tidak mahal. Maafkan aku. Aku tidak punya banyak uang untuk membeli cincin berlian,” tambah Joonmyun.

Sooyeon menelan salivanya kasar, “A-Aku tidak bisa menerimanya!,” jawabnya.

Joonmyun kaget mendengarnya. Ia mengusap tengkuknya pelan, “A-Aku akan menabung untuk membeli cincin berlian,”

“Bukan begitu!,”

Joonmyun mengernyit bingung, “Jadi, maksudmu apa?,” tanyanya.

Sooyeon menarik napas dalam, “Aku tidak bisa menikah denganmu, Joonmyun-ah!,” jawabnya.

Joonmyun bagaikan sedang disambar petir yang dahsyat sekarang. Ia sangat syok mendengar jawaban dari kekasihnya selama tiga tahun itu. Selama menjalin hubungan, mereka tidak pernah bertengkar, tidak pernah memiliki masalah kecuali karena orangtua Sooyeon yang tidak menyetujui hubungan mereka.

“Apakah orangtuamu—,”

“Mereka menjodohkanku dengan lelaki lain,” jawab Sooyeon.

“Dan kau menyetujuinya?,” tanya Joonmyun tak percaya.

“Aku tak bisa berbuat apa-apa, Joonmyun-ah!,”

Joonmyun menjadi marah besar. Biasanya, Sooyeon tak mempedulikan apa yang dikatakan orangtuanya. Bahkan Joonmyun dan Sooyeon sudah berencana untuk menikah lari setahun yang lalu.

“Kau seperti bukan Sooyeon yang ku kenal. Dimana kau menyimpan janji-janji kita? Apa kau telah membuangnya jauh-jauh?,” tanya Joonmyun berapi-api.

“Kau tidak mengerti, Joonmyun-ah. Jika aku menolak, hubungan Soojung dan Minho akan berakhir!,”

“Kau menyetujuinya bahkan demi hubungan orang lain!,”

“Mereka bukan orang lain. Mereka adalah adik dan calon adik iparku. Soojung telah berbuat banyak untukku. Aku tidak ingin mengecewakannya,” ucap Sooyeon.

Joonmyun menendang kaleng yang berada di lantai hingga terlempar jatuh ke tanah di kaki menara Namsan. Wajahnya memerah seperti saus tomat. Sooyeon sebenarnya ketakutan namun ia berusaha menyembunyikan ketakutan tersebut. Bahkan Sooyeon tengah membendung air matanya.

“Aku kecewa kepadamu, Sooyeon-ah. Aku harap kau menyesal telah melakukan ini!,” ucap Joonmyun lalu pergi meninggalkan Sooyeon seorang diri di puncak menara Namsan.

Sooyeon hanya mematung ditempat. Air matanya mulai berjatuhan. Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya. Tapi, Sooyeon tetap tidak beranjak dari sana.

“KAU BENAR, KIM JOONMYUN! AKU MENYESAL! AKU SANGAT MENYESAL! TAPI, APA YANG BISA KU LAKUKAN? AKU TIDAK BISA BERBUAT APA-APA SELAIN MENYETUJUINYA!,” teriak Sooyeon ditengah hujan.

Sooyeon terjatuh ke lantai sambil terus menangis. Namun, sekuat apapun ia menangis, tetap saja keadaan tidak akan berubah.

***

 

Hari pernikahan telah tiba. Jung Sooyeon, puteri sulung dari keluarga Jung—salah satu konglomerat di Korea Selatan—sedang mengucapkan janji-janji pernikahan dengan lelaki berdarah China-Kanada. Mereka berada di sebuah gereja terbesar di Seoul bersama para keluarga dan tamu undangan.

“Pernikahan kalian telah sah. Tuan Kris Wu, silakan mencium pengantin wanita anda!,” ucap seorang pendeta.

Kris berhadapan dengan Sooyeon yang berbalut gaun pengantin yang sangat indah. Wajah Sooyeon terlihat bak dewi kayangan. Kris memegang bahu Sooyeon dan mendekatkan wajahnya. Para keluarga dan tamu undangan pun bertepuk tangan.

“Tak ku sangka, Sooyeon noona menikah dengan lelaki lain. Ku pikir, Sooyeon noona akan menikahi pedagang roti itu,” ucap Jongin.

“Meskipun begitu, Sooyeon eonni tetap mencintai Joonmyun oppa,” ucap Soojung.

Jongin menghela napas kasar, “Kisah cinta yang menyedihkan. Aku turut berduka cita saja deh,”

Soojung menjitak kepala Jongin, “Bisakah kau tutup mulutmu yang sembarangan itu? Kau memperburuk keadaan saja,” omelnya.

“Apa sih? Aku kan hanya mengatakan apa yang ingin ku katakan,”

“Soojung, Jongin, tutup mulut kalian!,” perintah Jung Yunho—ayah dari Sooyeon dan Soojung.

“Baik, appa,”

“Baik, samchon,”

***

 

Sooyeon dan Kris telah tiba di rumah yang diberikan orangtua Kris kepada mereka. Sooyeon berdecak kagum melihat rumah barunya. Benar-benar mewah dan dekorasinya sangat western, batinnya.

“Hei,” panggil Kris.

Sooyeon menoleh, “Ya?,”

“Kamarmu disana dan kamarku disitu. Mengerti?,”

Sooyeon menelan salivanya kasar, “Aku mengerti,” jawabnya.

Kris membawa koper-kopernya ke dalam kamarnya. Sooyeon menghela napas berat. Ternyata bukan hanya Sooyeon saja yang tidak menyetujui pernikahan ini. Kris juga merasakan hal yang sama. Tapi, bedanya, Kris mengaku masih menjalin hubungan dengan kekasihnya dan mengancam Sooyeon untuk tidak mengadukannya. Dan saat di altar, Sooyeon dan Kris hanya berpura-pura ciuman.

Sooyeon membawa koper-kopernya masuk ke dalam kamarnya. Setelah Sooyeon masuk ke kamarnya, ia melongo. Desain kamarnya sangatlah indah. Langit-langit kamarnya adalah langit malam bertaburan bintang-bintang.

“Tidak buruk,” komentar Sooyeon sambil tersenyum.

***

 

Kris keluar dengan pakaian seperti ingin pergi jalan-jalan. Ia memasuki ruang makan yang sudah dipenuhi makanan di atas meja makan. Kris melihat Sooyeon tengah mengaduk sup di dalam mangkuk.

“Selamat pagi, Kris!,” sapa Sooyeon ramah.

“Hm,” balas Kris lalu segera berbalik.

“Mau kemana? Tidak sarapan dulu?,” tanya Sooyeon.

“Aku tidak lapar. Dan mau kemana aku, itu bukan urusanmu,” jawab Kris dengan nada yang dingin lalu segera pergi.

Sooyeon menghela napas berat. Ia pun memutuskan untuk sarapan sendirian.

***

 

Satu bulan telah berlalu. Namun, perubahan positif tidak Sooyeon dapatkan. Kris selalu bersikap dingin terhadapnya. Kris selalu pergi di pagi hari, dan pulang di malam hari. Bahkan, Kris pernah membawa kekasihnya ke rumah mereka. Dan entah kenapa, Sooyeon merasa nyeri di dadanya saat melihat Kris dan kekasihnya berciuman di kamar Kris yang pintunya tengah terbuka lebar.

Sooyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin aku jatuh cinta kepada Kris. Aku hanya mencintai Joonmyun, batinnya. Namun, seperti kata pepatah, karma itu selalu berlaku dan akan datang cepat atau lambat. Akhirnya Sooyeon mengerti. Ia mendapatkan karma karena telah meninggalkan Joonmyun dan menikah dengan lelaki lain.

“Tapi, bagaimana bisa aku mencintai Kris? Bahkan Kris tidak pernah bersikap manis di depanku,” gumam Sooyeon.

Sooyeon akui, ia selalu terpesona dengan wajah tampan milik lelaki berdarah campuran itu. Setiap Kris pulang malam dan tertidur dengan posisi yang sembarangan, Sooyeon selalu merapikan sepatu, jaket, dan tas milik Kris. Sooyeon selalu menyelimuti Kris. Dan Sooyeon pun tak sadar bahwa ia telah masuk ke tempat yang seharusnya tidak ia masuki, yaitu kamar milik Kris sendiri.

Tinggal bersama lelaki yang statusnya adalah suaminya selama satu bulan tak menutup kemungkinan untuk Sooyeon yang akan merasakan jatuh cinta lagi. Apalagi faktor pendukungnya adalah wajah tampan yang diinginkan oleh sejuta perempuan yang dimiliki oleh Kris. Terkadang Sooyeon bersyukur, dan terkadang Sooyeon menyesal.

Entahlah. Rasanya, sia-sia saja berharap Kris akan membalas cinta Sooyeon. Kris tidak pernah memandang Sooyeon lebih dari dua detik. Kris tidak pernah mengeluarkan kata-kata lembut kepada Sooyeon. Kris tidak pernah memperlakukan Sooyeon dengan mesra seperti Kris memperlakukan kekasihnya. Bahkan, Sooyeon ingin sekali merebut posisi kekasih Kris itu.

“Ada apa, Jinri-ya?,”

Sooyeon menoleh ke belakang. Dilihatnya, Kris sedang menelpon seseorang.

“Jinri..,” gumam Sooyeon pelan. Sooyeon tahu nama itu. Nama kekasih Kris yang selalu Kris agung-agungkan. Nama yang dimiliki seorang perempuan yang selalu membuat Sooyeon iri. Nama yang Sooyeon benci.

“Ke rumahmu? Untuk apa?,”

Sial!, umpat Sooyeon dalam hati. Pasti setelah ini, Sooyeon akan ditinggal sendirian lagi.

Kris terkekeh, “Belum puas dengan yang kemarin, ya? Apa permainan kita yang kemarin belum cukup?,”

Mendengar itu, Sooyeon merinding dibuatnya. Sooyeon pun segera beranjak menuju kamarnya. Kris yang melihatnya, hanya diam tak mempedulikan hal tersebut. Ia meneruskan pembicaraannya dengan kekasihnya.

“Okay, sweetheart! Aku akan ke rumahmu sekarang. Siapkan caturnya dan aku akan membawakan pizza. Sampai jumpa di rumahmu, ya? Bye,”

***

 

Sooyeon tak menyangka ia akan mengeluarkan air mata untuk seorang lelaki yang tidak mencintainya sama sekali. Ternyata selama ini Kris sudah melakukan hal yang seharusnya Kris lakukan dengannya dengan Jinri. Sooyeon tahu, pernikahan yang ia jalani dengan Kris hanya pernikahan yang tidak disetujui oleh kedua pengantin itu. Tetapi, Kris dan Jinri tidak terikat hubungan pernikahan. Bagaimana bisa Kris melakukan hal itu?, pikirnya.

Ponsel Sooyeon berdering. Sooyeon mengusap air matanya dan segera mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menelponnya.

“Halo?,”

“SELAMAT MALAM, SOOYEON NOONA!!,”

Sooyeon mengusap telinga kanannya, “Astaga, Kim Jongin! Kau ini bodoh atau apa? Kau membuat telinga kananku sakit!,” omelnya kesal.

Terdengar cengiran dari seberang sana, “Maafkan aku, noona. Aku terlalu bersemangat,” ucapnya.

Sooyeon memutar bola matanya, “Apa maumu, eoh? Untuk apa kau menelponku?,”

“Ish, galak sekali. Nanti keriputmu makin banyak, lho,”

“KIM JONGIN!!!!,” teriak Sooyeon.

“Aigoo, noona, teriakanmu mengalahkan teriakan lumba-lumba,”

“Jangan meledekku!,” omel Sooyeon.

“Oke, oke. Langsung saja ke poinnya, oke?,”

“Memang itu yang ku inginkan,” ucap Sooyeon kesal.

“Aku baru saja tiba di rumah Yunho samchon. Kuliahku di Oxford sedang libur, jadi aku memutuskan untuk berlibur ke Seoul,”

“Oh,”

“Cuma begitu reaksinya?,” tanya Jongin tak terima.

“Memangnya apa lagi?,” tanya Sooyeon.

“Huh. Kau sama saja dengan Soojung. Kedatanganku tidak disambut dengan meriah,” gerutu Jongin.

“Memangnya kau ini selebriti papan atas?,”

“Sebentar lagi aku akan mengalahkan popularitas Robert Pattinson,”

“Jangan bermimpi,”

“Oke. Besok aku akan mengunjungi rumahmu dan suamimu,”

Sooyeon membelalakan matanya, “A-Apa? K-Kau ingin kemari? Yang benar saja,”

“Memang benar. Soojung tak bisa menemaniku karena nenek sihir itu sedang ada kencan dengan Minho. Jadi, aku akan pergi sendirian. Jangan lupa siapkan makanan yang banyak, ya?,”

“Tidak mau,”

“Oh,  ayolah, noona. Aku sudah lama tak menyicipi masakan buatanmu. Oh, aku tutup dulu telponnya, ya? Sepertinya Yuri immo sedang memanggilku untuk makan malam,”

“Iya,” jawab Sooyeon malas.

“Sampai jumpa!,”

Dan telpon pun ditutup.

Sooyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya. Ia menghela napas berat.

“Bagaimana ini? Jika Jongin melihat kamarku yang berpisah dengan kamar Kris, si idiot itu pasti akan mengadukan hal ini kepada orangtuaku,”

***

 

Kris sedang ingin menghirup udara segar di luar. Ia melewati ruang tengah yang disana sedang ada Sooyeon yang sedang menonton televisi. Kris pun membuka pintu utama rumahnya, dan ia sangat kaget saat melihat seorang lelaki yang tidak ia kenal berada dihadapannya.

“S-Siapa kau?,” tanya Kris.

“Oh, jadi Sooyeon noona tidak pernah menceritakan tentangku kepadamu, ya?,” tanya lelaki itu.

Jangan-jangan lelaki ini kekasih Sooyeon, pikir Kris.

“Dimana Sooyeon noona?,” tanya lelaki itu.

“D-Di dalam. Sedang menonton televisi,” jawab Kris.

Lelaki itu pun langsung menyelonong masuk melewati Kris. Kris merasa sedikit kesal di dalam hatinya. Entah kesal karena lelaki itu tidak sopan atau kesal karena hal lain. Kris sendiri pun tak tahu.

Lelaki itu melihat Sooyeon sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Lelaki itu pun memeluk leher Sooyeon dari belakang. Kris tersentak kaget melihat hal itu.

“NOONA!!,”

“Astaga! Kim Jongin! Kau—,” kalimat Sooyeon terhenti saat melihat Kris yang memandang ke arahnya.

“Kau tidak menyiapkan apapun untukku?,” tanya Jongin.

Sooyeon beralih ke Jongin, “Menyiapkan apa?,” tanyanya berpura-pura lupa.

“Aigoo! Cepat memasak. Aku merindukan masakanmu yang sangat lezat itu, noona!,” seru Jongin.

“Aku—,”

“Cepat memasak!,” seru Jongin seraya mendorong Sooyeon menuju dapur.

Kris yang melihat itu merasakan nyeri di dadanya. Ia merasa iri dengan hubungan mereka yang terlihat sangat dekat. Tidak salah lagi, lelaki itu pasti kekasihnya, batinnya.

***

 

“Noona, masakanmu sangat enak!,” puji Jongin.

Sooyeon tersenyum mendengarnya. Setidaknya, kehadiran Jongin disini membawa keceriaan di rumah ini. Meskipun hanya sementara.

“Suamimu tidak ikut makan?,” tanya Jongin.

Sooyeon mendadak grogi, “Ah—Ngg—d-dia sudah makan tadi. Ya, dia sudah makan,” jawabnya berbohong.

Jongin mengangguk mengerti.

Di balik pintu ruang makan, Kris telah mendengar perkataan Sooyeon. Kris segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke kamarnya.

“Hubungan kalian selama ini, baik-baik saja, kan?,” tanya Jongin.

Sooyeon tersenyum kecut, “B-Begitulah,” jawabnya.

“Syukurlah,” ucap Jongin, “Sesuai dengan harapan Joonmyun,” tambahnya.

Sooyeon mengerjap kaget, “J-Joonmyun?,”

“Aku bertemu dengannya tadi malam saat Yuri immo menyuruhku untuk membeli roti. Dia menanyakan kabarmu dan hubunganmu dengan suamimu. Aku bilang aku tidak tahu karena aku belum menemuimu. Dia berharap kalian baik-baik saja dan dia juga berharap noona bahagia bersama suami noona,” ucap Jongin.

Sooyeon terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, senyuman manis terukir dibibirnya.

“Katakan kepadanya terima kasih dariku,” perintah Sooyeon.

“Enak saja. Katakan saja sendiri,”

“KIM JONGIN!!!,” teriak Sooyeon kesal.

Jongin tertawa, “Iya, iya. Aku hanya bercanda, noona. Kau ini galak sekali,”

***

 

Sooyeon menghela napas lega. Jongin telah pulang dan Jongin tak meminta masuk ke kamarnya. Rahasianya dan Kris aman.

Sooyeon berjalan memasuki ruang tengah. Disana sudah ada Kris yang menatapnya tajam. Sooyeon merinding ngeri melihatnya.

“K-Kris? A-Ada apa?,”

“Aku ingin bicara,” ucap Kris.

“O-Oke,”

“Jadi, selama ini, kau mengkhianatiku?,” tanya Kris.

“E-Eh? Apa maksudmu, Kris? Aku tidak mengerti,” ucap Sooyeon bingung.

“Kau dan lelaki yang tadi—berpacaran, bukan?,” tebak Kris.

Sooyeon terdiam sebentar. Beberapa detik kemudian, tawanya pun meledak. Kris menaikkan alisnya melihat hal itu.

“Apanya yang lucu?,” tanya Kris bingung.

“Aku dan Jongin berpacaran? Yang benar saja,”

“E-Eh?,”

Sooyeon menghentikan tawanya, “Kim Jongin adalah saudara sepupuku yang tinggal di London. Dia mengunjungiku karena kami sudah lama tak bertemu. Bahkan dia hadir di hari pernikahan kita,”

Wajah Kris memerah mendengarnya. Sooyeon kebingungan melihatnya. Wajah Kris memerah, berarti..

“Kau cemburu?,” tanya Sooyeon.

“T-Tidak! Untuk apa?,”

“Lalu, kenapa wajahmu memerah?,” tanya Sooyeon.

“I-Ini, panas. Ya, udaranya disini panas. Aku rasa, aku harus mandi sekarang,” jawab Kris lalu segera pergi ke kamarnya.

“Panas? Bukankah ruangan ini terpasang AC?,” gumam Sooyeon bingung.

***

 

Kris sedang mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja di sebuah kafe. Ia tengah menunggu seseorang. Seiring berbunyi suara lonceng di pintu kafe tersebut, munculah seorang perempuan berambut pendek dan berparas manis.

“Oppa!,”

“Hai!,”

Perempuan itu menghampiri Kris dan duduk di seberangnya, “Maaf karena terlambat. Tugas kuliahku banyak sekali. Minho oppa juga memberikan sebagian tugas miliknya kepadaku dan pergi berkencan dengan Soojung,”

“Tidak apa-apa. Aku juga baru tiba kok,” jawab Kris.

“Jadi—bagaimana hubunganmu dengan Sooyeon eonni?,” tanya perempuan itu.

Wajah Kris memerah, “A-Aku hampir ketahuan cemburu,” jawabnya.

“Hah? Apa benar? Bukankah itu awal yang bagus?,” tanya perempuan itu senang.

“Awal yang bagus bagaimana? Kau lupa kalau Sooyeon tidak menyetujui pernikahan kami? Itu artinya, dia tak mencintaiku,” ucap Kris.

“Bukankah Sooyeon eonni selalu bersikap ramah dan lembut terhadapmu? Kau saja yang berakting dingin dihadapannya. Bahkan dia cemburu kan saat kau ingin ke rumahku untuk bermain catur saat itu?,”

“Kalau itu, aku tidak yakin dia cemburu atau tidak,” jawab Kris.

“Bagaimana dengan ciuman pura-pura kita? Aku melihat sendiri, oppa. Wajahnya seperti sedih dan marah,”

“Jinri-ya, aku rasa itu tidak mungkin,” ucap Kris.

Jadi, perempuan itu adalah Jinri—saudara sepupu Kris.

“Oppa, kau hanya tidak yakin. Kau harus segera mengungkapkan kebenarannya. Kau mencintainya. Apapun jawaban dari Sooyeon eonni, kau harus bisa menerimanya. Yang penting, kau sudah mengungkapkannya, oppa. Kalian sudah satu rumah selama satu setengah bulan. Itu waktu yang lama, oppa. Bahkan kalian belum membuat anak. Padahal uncle Kevin ingin sekali memiliki cucu,” ucap Jinri.

“A-Aku belum siap, Jinri-ya. Aku terlalu takut,” ucap Kris.

Jinri memegang kedua bahu Kris, “Oppa, kau harus bisa mengungkapkan yang sebenarnya. Percayalah kepadaku. Aku yakin, Sooyeon eonni juga mencintaimu,”

Di luar kafe yang berdinding kaca itu, dua perempuan telah melihat kejadian itu. Salah satu dari perempuan itu berlari dari tempat itu.

“Sooyeon eonni!,” panggil Soojung, namun tak dihiraukan kakaknya itu.

Soojung menatap perempuan yang sedang bersama dengan Kris. Matanya membulat sempurna.

“CHOI JINRI??!!,”

***

 

Kris telah memutuskan. Malam ini, ia harus mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya kepada Sooyeon. Meskipun, ketakutan masih menyelimuti pikiran Kris.

Kris sudah berada di depan kamar Sooyeon. Kris ingin mengetuk pintu tersebut, namun ia tahan. Ketika ia bersiap mengetuk, ia kembali menahannya. Dan ia lakukan hal itu terus menerus hingga pintu itu terbuka sendiri.

“E-Eh?,”

“Kris? Sejak kapan?,”

Kris menggaruk kepalanya, “Ngg—aku—,” ia menghentikan kalimatnya saat melihat mata Sooyeon yang merah dan basah, “K-Kau menangis?,” tanyanya.

Sooyeon menggeleng cepat, “A-Aku hanya kelilipan,” jawabnya.

“Oh,”

Sooyeon kembali teringat kejadian saat ia melihat Kris bersama Jinri, “Sudah selesai berkencan dengan kekasihmu, Kris?,”

Kris tersentak, “A-Apa? Kau melihat—,”

“Ya. Aku melihatnya. Maaf, aku tidak sengaja,” jawab Sooyeon.

“Hm, sebenarnya, ada yang ingin ku jelaskan kepadamu,” ucap Kris.

“Oh, ya? Apa itu?,” tanya Sooyeon penasaran. Oh, mungkin Kris ingin memintaku untuk bercerai dengannya, batinnya.

“Jinri bukan kekasihku,”

Sooyeon tersentak kaget dan syok, “A-Apa?,”

“Jinri adalah saudara sepupuku. Kami memang dekat. Dan yang kau lihat tadi, kami tidak sedang berkencan. Dan soal aku ingin ke rumahnya untuk melanjutkan permainan, itu bukan permainan seperti yang kau kira. Kami hanya melanjutkan permainan catur kami. Dan soal ciuman—,” Sooyeon menunggu Kris melanjutkan perkataannya, “—itu kami hanya berpura-pura. Sama seperti kita berpura-pura ciuman saat di altar,”

Sooyeon sangat syok mendengar hal ini. Ia masih tidak bisa mempercayai perkataan Kris. Ini terlalu sulit untuk dicerna.

“A-Aku tidak bisa mempercayaimu, Kris,”

“Memang. Tapi, inilah faktanya. Inilah kejadian yang sebenarnya. Semua yang ku lakukan selama ini hanyalah akting belaka,” ucap Kris.

“Tapi, untuk apa kau melakukan ini semua? Kau sangat dingin terhadapku,”

Kris menunduk, “K-Karena aku tahu, kau tidak mencintaiku,”

Sooyeon tersentak kaget.

“Dari awal, kau tidak menyetujui pernikahan ini. Jadi, ku anggap kau tidak mencintaiku. Jadi, aku bersikap seolah-olah aku sama denganmu. Padahal, faktanya, aku—aku—,”

“Ya?,”

Kris menarik napas dalam, “Aku sangat mencintaimu,”

Sooyeon terharu biru mendengarnya. Jadi, selama ini, Kris juga mencintainya. Cintanya terbalaskan. Sesuai dengan harapan mantan kekasihnya, Kim Joonmyun. Sooyeon akan bahagia setelah ini. Sooyeon yakin akan hal itu.

Tanpa aba-aba, Sooyeon memeluk Kris erat. Kris tentu saja terperangah. Ia teringat perkataan Jinri tadi sore.

“Aku yakin, Sooyeon eonni juga mencintaimu,”

“Aku juga, Kris. Selama ini, aku juga mencintaimu!,”

Air mata Kris tumpah saat itu juga. Perasaannya terbalaskan. Sesuai dengan harapannya selama ini. Gadis yang ia kagumi sejak ia berumur 10 tahun. Gadis yang ia jumpai saat ia sedang berlibur ke Korea Selatan untuk pertama kalinya.

“Jinri, what’s this place?,” tanya seorang anak laki-laki berdarah China-Kanada.

“This place has be named Han river, oppa.” jawab seorang anak perempuan berambut pendek. “Is beautiful place, isn’t?,”

Baru saja anak laki-laki itu ingin mengangguk, tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang anak perempuan yang sedang mengobrol bersama sepupu laki-lakinya dan seorang perempuan yang lain. Anak laki-laki itu langsung terpesona pada pandangan pertama dengan anak perempuan yang ia lihat itu.

“Yeah. She’s really really beautiful,”

Jinri mengernyit bingung, “She?,” Jinri pun mengikuti arah pandang sepupunya itu. Jinri tersenyum setelah mengetahui jawabannya.

“Her name is Jung Sooyeon. She’s older sister of Minho’s friend, Jung Soojung,” ucap Jinri.

“Beautiful names, beautiful faces. I think I’m fall in love in first time. With her,” gumam anak laki-laki itu sambil tersenyum manis.

Kris membalas pelukan Sooyeon. Tak kalah erat dari Sooyeon. Setelah beberapa detik kemudian, mereka mengakhiri pelukan itu dan saling berpandangan.

Dan untuk yang pertama kalinya, bibir mereka bersentuhan.

END

Selesai. Sorry buat erikapratiwi6 dan ShitygorjessimOet kalo ceritanya gak semuanya mirip dengan summary yang kalian buat. Aku bikin yang kayak begini karena mencampu

rkan summary kalian. Dan sorry kalo mengecewakan. Aku harap sih FF ini bisa kalian terima dan kalian suka ^^

Dan buat readers setiaku, jangan lupa reviewnya, yaks?

Your coment is my spirit \m/