(Request FF) – Amnesia


Title : Amnesia

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
o SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
o EXO’s Chen as Kim Jongdae
o SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon

Support Cast :
o Super Junior’s Siwon as Choi Siwon (Dr. Choi)
o f(x)’s Krystal as Jung Soojung
o SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
o SNSD’s Yoona as Im Yoona
o SNSD’s Seohyun as Seo Joohyun (Seohyun)
o etc

Genre : Romance, Friendship, Angst

Length : Oneshot

A/N : Ini adalah ‘Request FF’ dari salah satu readers saya, Babosica_180489. Maaf sebelumnya kalau FF ini gak sesuai harapan, karena aku remake lagi summary buatan kamu. Menurutku, summary buatan kamu sama dengan FF ‘I Choose To Love You’. Jadi, aku remake. Mudah-mudahan kamu suka

    ***

Dua anak kecil—laki-laki dan perempuan—yang menginjak umur 10 tahun sedang duduk di padang rumput berwarna hijau sambil menikmati sunset yang begitu indah. Hening menyelimuti keduanya yang sedang sibuk memandangi saat-saat matahari tenggelam itu.

“Ah, indahnya,” gumam si anak perempuan.

“Kau selalu berkata begitu,” sahut si anak laki-laki.

“Kau bosan mendengarnya?,”

Anak laki-laki itu menggeleng, “Mana mungkin aku bosan mendengarnya. Justru aku merasa sedih karena kalimat itu akan menjadi kalimat terakhir yang ku dengar,” jawabnya.

“Jongdae-ah,”

Anak laki-laki itu menghela napas berat, “Kenapa kau harus pindah ke Scotland?,” tanyanya.

Anak perempuan itu menunduk, “A-Aku juga tidak tahu. Aku terpaksa,” jawabnya.

“Aku akan merindukan sahabat karibku yang sudah sejak lahir bersamaku,” ucap anak laki-laki itu.

“Aku juga,” sahut si anak perempuan.

Anak laki-laki itu berbalik menghadap anak perempuan yang duduk disampingnya. Sambil memegang tangan mungil anak perempuan itu, si anak laki-laki tersenyum lebar.

“Janji, ya? Jika kita bertemu saat dewasa nanti, kita akan menikah,”

Anak perempuan itu tersentak kaget. Namun, sedikit demi sedikit ia mulai tersenyum dengan pipi yang merona.

“Aku berjanji,”

Seorang gadis berusia 17 tahun tersenyum sambil memandangi figura kecil yang ia pegang. Didalamnya terdapat selembar foto berisikan dua orang anak kecil yang sedang berada di padang rumput. Disentuhnya wajah anak laki-laki dengan jari telunjuknya.

“Jongdae-ah, aku kembali. Apakah kau masih ingat dengan janji kita?,” gumamnya.

“Sooyeon-ah!,”

Gadis itu menoleh ke ambang pintu kamarnya. Seorang wanita setengah paruh lah yang memanggil namanya tadi.

“Ada apa, eomma?,” tanyanya.

“Sudah waktunya berangkat ke sekolah,”

>>>

Jung Sooyeon berjalan menelusuri koridor sekolah barunya. Semua mata tertuju padanya. Hal itu wajar terjadi karena Sooyeon adalah murid baru di sekolah itu. Lagi pula, Sooyeon memiliki paras wajah yang cantik.

“Hei, murid baru!,”

Sooyeon menoleh karena merasa dirinya-lah yang dipanggil. Sooyeon mendapati tiga murid perempuan yang berjalan ke arahnya dengan wajah yang cukup ganas.

“S-Siapa kalian?,” tanya Sooyeon sedikit takut.

“Kami? Tentu saja kami adalah YSY,” jawab salah satu dari tiga murid itu.

“Namaku adalah Yoona,”

“Aku adalah Seohyun,”

“Dan aku adalah ketua dari YSY, Yuri,”

“Ngg—s-salam kenal,” ucap Sooyeon.

“Karena kau adalah murid baru, kami ingin kau mengetahui peraturan yang kami buat,” ucap Yuri.

“P-Peraturan?,”

“Pertama, kau tidak boleh bersikap angkuh. Kedua, kau harus mematuhi perintah kami. Ketiga, jangan pernah pelit membagi jawaban. Keempat, jangan pernah merebut laki-laki yang kami sukai,” ucap Yoona.

“Dan yang terakhir, kau boleh bergabung menjadi anggota tim kami. Kebetulan kami sedang mencari murid cantik yang memiliki inisial S. Namamu Sooyeon, kan?,” tanya Seohyun.

“Benar,” jawab Sooyeon.

“Jadi, bagaimana?,” tanya Yuri.

Bergabung dengan mereka? Itu adalah mimpi buruk, batin Sooyeon.

“Jangan memaksa orang lain untuk bergabung dengan gang tidak jelas seperti kalian!,”

Keempat murid perempuan itu menoleh ke sumber suara. Suara itu berasal dari gadis sebaya mereka dengan ukuran tubuh yang mungil.

“Oh, Kim Taeyeon-ssi,” ucap Yuri kesal.

“Jangan mengacau. Pergi sana, pendek!,” bentak Yoona.

“Aku akan pergi dan membawa gadis ini menjauh dari jalan yang sesat,” ucap Taeyeon seraya menarik lengan Sooyeon.

“Kau mau membawaku kemana?,” tanya Sooyeon.

“Kemana saja. Asal bukan neraka yang di huni oleh para setan ini,” jawab Taeyeon lalu membawa Sooyeon pergi.

“KIM TAEYEON!!!!!,” teriak Yoona, Yuri, dan Seohyun penuh amarah.

>>>

“Jadi, kau murid pindahan dari Scotland?,” tanya Taeyeon lalu meminum milkshake yang ia pesan.

Sooyeon mengangguk mengiyakan.

“Hebat! Disana kan sangat indah,” kagum Taeyeon.

“Tak jauh berbeda dengan Seoul, kok,” ucap Sooyeon.

“Menemukan teman baru lalu melupakanku?,”

DEG!

Sooyeon kenal suara ini. Suara yang meskipun agak berbeda dengan suara yang ia dengar 7 tahun yang lalu. Serak suaranya sangat tidak asing di telinga milik Sooyeon.

“Jongdae-ah!,” seru Taeyeon.

“Jongdae,” gumam Sooyeon pelan.

Dengan spontan, Sooyeon berbalik dan menemukan murid laki-laki berparas tampan.

“Jongdae-ah, perkenalkan, gadis ini adalah murid baru pindahan dari Scotland, Jung Sooyeon,” ucap Taeyeon.

“Oh, salam kenal, Sooyeon-ssi,” ucap Jongdae.

Sooyeon merasa dirinya baru saja disambar petir yang sangat dahsyat. Kim Jongdae melupakan dirinya?

“K-Kau tidak ingat aku?,” tanya Sooyeon.

“Eh? Kalian saling mengenal?,” tanya Taeyeon bingung.

“Mungkin kau salah orang. Aku sama sekali tidak mengingatmu. Maaf,” jawab Jongdae.

Tidak mungkin!, pekik Sooyeon dalam hati. Ia tak percaya Jongdae melupakannya. Itu artinya Jongdae juga lupa dengan janji yang mereka utarakan 7 tahun yang lalu.

“Nah, Sooyeon-ssi, dia adalah Kim Jongdae, kekasihku,”

“APA???!!!,” teriak Sooyeon syok.

“K-Kenapa, Sooyeon-ssi? Ada masalah?,” tanya Taeyeon kaget.

“T-Tidak. Aku hanya tak percaya kalau kalian berdua berpacaran. Ku pikir kalian hanya berteman,” jawab Sooyeon berbohong.

“Awalnya kami hanya bersahabat saat kecil. Tapi, kami dipertemukan lagi. Lagi pula, saat kecil kami berjanji akan menikah di masa depan,” ucap Jongdae.

“A-Apa?,” Lagi-lagi Sooyeon merasa syok dibuatnya. Bukankah Jongdae bersahabat dengan Sooyeon? Apa hubungannya dengan Taeyeon?

KRINGGGG!! KRINGGG!!!

“Bel sudah berbunyi. Ayo kita ke kelas,” ajak Taeyeon.

Sooyeon mengangguk lemah.

>>>

“Aku masih tidak percaya,” gumam Sooyeon sambil mengaduk-aduk jus orange miliknya.

“Ada apa, eonni?,” tanya Soojung.

“Kim Jongdae melupakanku,” jawab Sooyeon.

“O-Oh. A-Aku turut berduka cita,” ucap Soojung grogi.

Sooyeon memandang Soojung intens. Matanya menyala-nyala, membuat Soojung tak bisa menahan apa yang harus ia pendam.

“Kim Jongdae kecelakaan, eonni!,” jawab Soojung menyerah.

“K-Kecelakaan?,” tanya Sooyeon tak percaya.

“Saat Jongdae oppa berusia 15 tahun, dia tertabrak oleh mobil saat ingin menyeberang ke kedai es krim. Jongdae oppa mengalami amnesia berat dan butuh waktu lama untuk memulihkannya. Sekarang, Jongdae oppa sudah bisa mengingat semuanya. Termasuk aku,” jawab Soojung.

“Tapi tidak denganku. Dia malah menganggap Taeyeon adalah sahabat kecilnya,” ucap Sooyeon.

“Soal itu, lebih baik eonni berkonsultasi kepada Dr. Choi,” usul Soojung.

Sooyeon menjitak kepala adiknya itu hingga sang adik meringis kesakitan.

“Eonni!,”

“Kau pikir aku sakit? Untuk apa aku berkonsultasi?,” tanya Sooyeon.

“Kau pikir aku bodoh? IQ-ku jelas jauh di atas mu, eonni. Dr. Choi adalah dokter yang menangani Jongdae oppa. Sampai sekarang pun, Jongdae masih check up dengan dokter itu. Jadi, ada baiknya kau menanyakan hal itu kepada Dr. Choi,” jawab Soojung.

“Tak ku sangka aku memiliki adik yang pintar,” ucap Sooyeon.

“AKU MEMANG PINTAR!!,”

>>>

“Jung Sooyeon,” panggil seorang perawat.

Sooyeon bangkit dari kursi dan masuk ke dalam ruangan Dr. Choi Siwon. Sesampai di dalam, Dr. Choi mempersilakan Sooyeon untuk duduk.

“Jadi, apa masalah anda, Sooyeon-ssi?,” tanya Dr. Choi.

“Saya ingin menanyakan soal pasien anda yang bernama Kim Jongdae,” jawab Sooyeon.

“Oh. Anda kerabatnya?,” tanya Dr. Choi.

“Saya sahabatnya saat kecil,” jawab Sooyeon.

“Jadi, Jongdae memiliki dua sahabat saat kecil, ya?,”

Sooyeon mengerutkan keningnya, “Maksud anda?,” tanyanya bingung.

“Selain Kim Taeyeon, ternyata anda juga sahabat kecil Kim Jongdae,” jawab Dr. Choi.

“Kim Taeyeon bukan sahabat kecil Kim Jongdae. Saya-lah sahabatnya!,” seru Sooyeon.

Dr. Choi tersenyum, “Jadi, maksud anda, Kim Jongdae salah mengira?,” tanyanya.

Sooyeon mengangguk mengiyakan.

“Temui saya malam ini di rumah saya. Saya akan menceritakan semuanya kepada anda,” Dr. Choi memberikan kartu nama kepada Sooyeon, “Anda bisa menemukan alamat rumah saya disini,” tambahnya.

“T-Terima kasih,” ucap Sooyeon.

>>>

“Aku pulang,” ucap Sooyeon.

“SELAMAT DATANG!!!,”

“K-Kalian?,”

“Oh, Sooyeon sudah pulang? Kami sangat merindukanmu,” ucap seorang wanita setengah paruh.

“Kim ahjumma?,” gumam Sooyeon. Ibu dari Jongdae, batinnya.

“Eomma, maaf menunggu lam—,” kalimat Jongdae terhenti saat dirinya melihat Sooyeon.

Jongdae, gumam Sooyeon dalam hati.

“Sooyeon-ssi, benar? Murid baru di sekolahku?,” tebak Jongdae.

“Ingatan yang bagus, sayang,” ucap sang Ibu dari Jongdae.

Soojung menepuk dahinya melihat kejadian itu.

“Kau tinggal disini? Di rumah Taeyeon?,” tanya Jongdae.

“EH??,” pekik Sooyeon kaget.

“Ku rasa, kami harus segera pulang. Terima kasih,” pamit Ibu dari Jongdae.

“Sampai jumpa, Sooyeon-ssi,” pamit Jongdae.

“I-Iya,” jawab Sooyeon.

“Kau pasti bingung sekarang, Sooyeon-ah,” ucap Ibu dari Sooyeon dan Soojung.

“A-Aku sangat bingung,” jawab Sooyeon.

“Kau sudah berkonsultasi dengan Dr. Choi, benar? Mungkin kau telah menemukan jawabannya,” ucap Soojung.

“Dia sedang tidak ada waktu. Malam ini lah aku akan mendapatkan jawabannya,” ucap Sooyeon.

>>>

“Kim Taeyeon adalah pasien yang tinggal satu atap rumah sakit dengan Kim Jongdae,” ucap Dr. Choi.

“Jadi, disana-lah mereka akrab?,” tanya Sooyeon.

Dr. Choi mengangguk, “Karena tidak ingin kehilangan Jongdae, Kim Taeyeon mengaku sebagai dirimu,” ucapnya.

“Tapi, bagaimana caranya Taeyeon tahu bahwa aku dan Jongdae—,”

“Jongdae sendiri yang memberitahunya soal itu. Saat itu—,”

“T-Taeyeon-ah,” panggil Jongdae sambil memegang kepalanya.

“Kepalamu sakit lagi, ya?,” tanya Taeyeon cemas.

“A-Aku mengingat sesuatu lagi,” jawab Jongdae.

“Tentang apa?,” tanya Taeyeon.

“Sahabat masa kecil. Cantik, manis, dan aku berjanji padanya bahwa kami akan menikah saat kami dewasa nanti,” jawab Jongdae.

Taeyeon tersentak. Raut wajahnya yang ramah berubah seketika. Sekitar 30 detik hening melanda, akhirnya Taeyeon membuka suara dengan wajah seceria biasanya.

“Syukurlah!,” seru Taeyeon.

“Eh?,”

“Akhirnya Kim Jongdae berhasil mengingatku,” ucap Taeyeon.

“J-Jadi, kau adalah—,”

Taeyeon mengangguk, “Ya. Aku lah sahabat masa kecilmu. Dan aku senang kau mengingat janji itu,” jawabnya.

“Jahat sekali dia!,” gerutu Sooyeon kesal.

“Taeyeon ingin bersama Kim Jongdae. Ia pun memohon kepada keluargamu agar tinggal di rumah mu dalam beberapa hari,” ucap Dr. Choi.

“Eomma dan Soojung mengijinkannya?,” tanya Sooyeon tak percaya.

“Karena mereka pikir kau takkan kembali ke Seoul. Ternyata mereka salah. Kau kembali dan kau masih mengharapkan Jongdae,” jawab Dr. Choi.

Sooyeon bangkit dari kursinya, “Aku akan meminta Taeyeon menjelaskan semuanya kepada Jongdae. Aku tidak suka kebohongan,” ucapnya.

“Kim Jongdae takkan percaya,”

“A-Apa?,”

“Kim Jongdae sudah seratus persen percaya kepada Taeyeon. Tidak mungkin dia mempercayaimu semudah membalikkan telapak tangan,” jawab Dr. Choi.

Sooyeon kembali duduk, “Jadi, apa yang harus saya lakukan, Dr. Choi?,” tanyanya.

“Dekatilah Jongdae hingga kalian menjadi akrab. Dengan begitu, Jongdae akan bisa mengingat dirimu,”

>>>

“Taeyeon-ah, bisakah kau menemaniku ke toko buku hari ini?,” pinta Jongdae.

“Maaf. Aku hari ini ada kursus piano. Kau lupa, Jongdae-ah?,” tanya Taeyeon.

Jongdae menepuk dahinya, “Aku lupa,” ucapnya.

“Aku bisa menemanimu,” sahut Sooyeon.

“Kau?,”

“Ya. Keberatan?,”

“Tidak, sih. Selama Taeyeon mengijinkan,” ucap Jongdae.

“Tidak apa-apa kok. Kalian boleh pergi,” ucap Taeyeon.

“Terima kasih, Taeyeon-ah. Aku janji tidak akan macam-macam,” ucap Jongdae seraya mengacak-acak rambut Taeyeon.

“Ya! Hentikan, Kim Jongdae!,”

Sooyeon terdiam melihat pemandangan itu. Sooyeon ingin sekali ia berada di posisi Taeyeon. Sooyeon sangat iri melihat hal itu.

Jika Sooyeon tidak mengancam akan melaporkan kebenarannya kepada Jongdae, aku takkan mau mengijinkan mereka berdua pergi ke toko buku, batin Taeyeon kesal.

>>>

“Woah! Bukunya banyak sekali!,” kagum Sooyeon.

Jongdae terkekeh pelan, “Kau ini seperti baru masuk ke toko buku saja,” ucapnya.

“Sudah 7 tahun aku tidak ke toko buku,” ucap Sooyeon.

“Lama sekali, ya?,”

Sooyeon mengangguk, “Tempat ini, aku sering kesini bersama sahabat kecilku,” ucapnya.

“Kau dulu tinggal di Seoul?,” tanya Jongdae tak percaya.

“Tentu saja. Toko ini adalah toko favoritku dan sahabat kecilku,” jawab Sooyeon.

“Aku dan Taeyeon juga sangat menyukai tempat ini saat kecil hingga sekarang,” ucap Jongdae.

Bukan kau dan Taeyeon, bodoh! Tapi, kau dan aku, batin Sooyeon kesal.

>>>

Taeyeon sedang bersama Jongdae di sebuah kafe di pusat kota Seoul. Mereka tengah menikmati makanan cepat saji setelah berbelanja di mall.

“Taeyeon-ah,” panggil Jongdae.

“Hm?,”

“Kau satu rumah dengan Sooyeon?,”

Taeyeon tersentak kaget. Namun, ia berusaha menutupi kekagetannya itu dengan senyuman.

“S-Sooyeon adalah sepupuku,” jawab Taeyeon.

Jongdae menaikkan sebelah alisnya, “Bukankah kalian juga baru kenal saat Sooyeon masuk ke sekolah kita?,”

Taeyeon hanya bisa berkomat-kamit tanpa suara. Ia benar-benar kehabisan ide untuk menjawab pertanyaan sulit dari lelaki yang ia cintai itu.

“A-Aku—,” tiba-tiba Taeyeon memiliki sebuah ide, “Aku juga mengalami amnesia dulu. Aku tak tahu kalau Sooyeon itu sepupuku. Saat aku pulang, eomma langsung memberitahuku,” jawabnya.

“K-Kau juga amnesia? Kenapa tidak pernah menceritakannya padaku?,” tanya Jongdae sedikit kesal.

“Maaf. Menurutku sesuatu yang seperti itu tidak perlu untuk di ceritakan,” jawab Taeyeon.

“Tapi, aku ini kekasihmu, Kim Taeyeon! Rahasia seperti ini harusnya kau beritahu padaku,” ucap Jongdae semakin kesal.

“Sudahlah. Aku mohon kita tidak usah membahas ini,” pinta Taeyeon.

“Tiba-tiba saja aku kenyang!,” ucap Jongdae sinis, lalu beranjak dari kursinya.

“Ya! Kim Jongdae! Kau mau kemana?,”

“Kemana saja. Yang penting aku bisa menjauh dari orang yang tidak menganggapku,”

“Astaga! Kau kekanakan sekali,”

Jongdae menatap Taeyeon tajam. Ia tak menyangka Taeyeon mengatainya seperti itu, bukannya meminta maaf.

“Ya. Aku memang kekanakan,” jawab Jongdae lalu segera pergi dari sana.

“KIM JONGDAE! KEMBALI!,” teriak Taeyeon namun tak dihiraukan oleh Jongdae. Taeyeon menggeram kesal lalu menendang kursi di dekatnya.

“Ini semua karena Sooyeon kembali,” gumamnya kesal.

>>>

Sudah satu bulan Sooyeon berada di Seoul. Hubungan Sooyeon dan Jongdae semakin dekat. Namun, tidak ada tanda-tanda kalau Jongdae mengingat Sooyeon. Sedangkan hubungan Jongdae dan Taeyeon semakin menipis. Mereka sering bertengkar. Entah apa yang terjadi, Sooyeon pun merasa aneh dengan mereka.

Sooyeon membuka sebuah album foto dirinya dengan Jongdae saat kecil. Sooyeon sudah tidak tahan lagi. Ia memutuskan untuk memperlihatkan album ini sebagai tanda bukti bahwa Sooyeon lah sahabat Jongdae sejak kecil, bukan Taeyeon. Meskipun Sooyeon tak yakin hal ini efektif. Setidaknya, Sooyeon ingin Jongdae mengetahui sedikit saja tentang masa lalu yang sebenarnya.

“Apa yang kau lihat?,” tanya Taeyeon tiba-tiba.

Sooyeon tersentak kaget. Ia segera menyembunyikan album di balik tubuhnya.

“Album foto, eh? Berikan padaku!,” pinta Taeyeon.

Sooyeon menggeleng cepat, “Tidak mau!,”

“Berikan!,”

Taeyeon pun berusaha merampas album tersebut. Kini, mereka sedang saling menarik album tersebut.

“Lepaskan albumku!,” pinta Sooyeon.

“Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan aku mengakhiri hubunganku dengan Jongdae,”

“Apa masalahmu? Lagi pula, ini semua kan memang salahmu. Akui saja kalau kau itu bukan siapa-siapa Jongdae selain penipu licik,” ucap Sooyeon kesal.

“Ya. Memang. Aku memang penipu. Puas, eh? Lagi pula, Jongdae lebih percaya dengan ku daripada kau yang merupakan sahabat Jongdae yang sebenarnya,” balas Taeyeon.

“Apa kau yakin?,”

Taeyeon dan Sooyeon tersentak. Jongdae secara tiba-tiba muncul di antara mereka.

“J-Jongdae-ah,” gumam Taeyeon takut.

“Identitasmu sudah terbongkar, Taeyeon-ah. Terima kasih atas tipuanmu selama ini,” ucap Jongdae sinis.

Taeyeon memegang tangan Jongdae, “Jongdae-ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud—,”

“Ku rasa hubungan kita cukup sampai disini,”

“Apa?,”

“Ayo kita pergi, Sooyeon-ah,” ajak Jongdae seraya menarik tangan Sooyeon dan pergi.

“Jongdae-ah? Jangan pergi! Ku mohon!,” pinta Taeyeon namun di abaikan oleh Jongdae maupun Sooyeon.

Tamatlah sudah riwayatmu, Kim Taeyeon!, batin dirinya sendiri.

>>>

Jongdae membawa Sooyeon ke halaman sekolah. Mereka duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih. Halaman itu tidak seramai biasanya mengingat hari ini ada diskon besar-besaran di kantin.

“J-Jongdae-ah—,”

“Hm. Sebenarnya aku mengetahui ini sejak lama,”

Sepasang mata Sooyeon membulat sempurna, “A-Apa?,” pekiknya.

Jongdae menunduk, “Ingatanku semakin lama semakin jelas. Apalagi semenjak kau hadir,” ucapnya.

“T-Tapi, aku tak melihat sama sekali tanda-tanda bahwa kau menyadari aku,” ucap Sooyeon.

“Aku ini kan jago akting. Eomma berkata kalau aku akan sukses jika menjadi aktor,” ucap Jongdae diselingi tawa khas-nya.

Sooyeon ikut tertawa mendengarnya, “Syukurlah, jika kau telah mengingatku,” ucapnya.

Tiba-tiba, Sooyeon merasa tangan kanannya hangat. Tangan Jongdae lah yang memegang tangan kanannya. Sooyeon dan Jongdae pun bertatapan.

“Sekarang kita telah dewasa. Bagaimana jika kita lakukan janji kita saat kecil?,” tanya Jongdae.

Wajah Sooyeon memerah seperti kepiting rebus. Ia memukul lengan Jongdae pelan, “Bodoh! Kita masih sekolah. Mana mungkin kita menikah,” ucapnya malu.

“Sebenarnya aku atau kau yang amnesia?,” tanya Jongdae.

“Eh?,”

“Kau lupa janji kita yang lain? Saat kita sudah dewasa, kita akan pergi ke Lotte World dan menaiki wahana yang tidak boleh di naiki oleh kita saat kita masih kecil dulu,”

“Hah?,” wajah Sooyeon pun semakin memerah karenanya.

Jongdae tersenyum sambil mengusap kepala Sooyeon, “Aigoo! Kau ini ingin sekali menikah dengan ku, ya?,” Jongdae mendekatkan wajahnya ke wajah Sooyeon, “Atau kau tak sabar ingin membuat anak denganku? Tenang saja. Kita akan membuat tiga puluh anak atau lebih,”

“BODOH!!!!!,” teriak Sooyeon malu.

Jongdae tertawa penuh kemenangan. Sedangkan Sooyeon sangat malu hingga menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jongdae tersenyum tulus lalu memandang langit.

“Tuhan, terima kasih karena telah mempertemukan kami kembali. Jangan pernah pisahkan kami lagi,” gumam Jongdae.

    END

Review-nya jangan lupa, ya? Komentar kalian sangat berharga dan dapat saya jadikan motivasi untuk menjadi yang lebih baik lagi. Jaaaa~ ne!

(Request FF) – Lie


Title : Lie

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • EXO-M’s LuHan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
  • f(x)’s Krystal as Krystal Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • etc

Genre : Friendship, Romance, Angst

Length : Oneshot

Note : FF ini merupakan ‘Request FF’ dari PiaChu. Semoga FF ini memuaskan, ya?—alias tidak mengecewakan. Keke~! Happy reading!

***

 

Seorang murid perempuan sedang berlari di sepanjang jalannya. Beberapa kali ia melirik arlojinya. Beberapa kali juga ia mempercepat larinya. Hingga waktu telah sampai ke detik 60, murid perempuan itu sampai di depan gerbang sekolahnya.

Namun, sayang sekali, gerbang telah tertutup.

“Ahjussi, tolong bukakan gerbangnya!,” pinta murid perempuan itu.

Security itu menggeleng, “Tidak bisa, Yoona-ssi. Kau terlambat dan artinya kau tidak boleh masuk—,”

“Ijinkan dia masuk, ahjussi!,”

Security dan murid perempuan bernama Yoona itu menoleh ke sumber suara. Security itu tersentak kaget, sedangkan Yoona tersenyum senang.

“Tapi, dia terlambat, Jessica-ssi,” ucap Security itu.

“Saya adalah ketua osis di sekolah ini. Saya akan memberikan hukuman pada Im Yoona. Jadi, ijinkan dia untuk masuk. Ini perintah dari Kepala Sekolah,” ucap murid perempuan itu tegas. Jessica namanya.

Security itu mengangguk mengerti. Ia segera menjalankan perintah dari Jessica. Yoona pun berhasil masuk.

“Ayo ikut dengan saya!,” ajak Jessica tegas.

Yoona mengangguk mengerti. Mereka berdua berjalan memasuki koridor sekolah hingga berada jauh dari tempat Security itu berada.

“WE DID IT!!!,” teriak Jessica dan Yoona bersamaan sambil melakukan hi-five.

“Kau hebat, Sica-ya. Tak sia-sia kau menjabat sebagai ketua osis. Apalagi ayahmu sendiri adalah Kepala Sekolah di sekolah ini,” ucap Yoona.

“Itu bukan apa-apa, Yoona-ya. Yang penting sekarang, ayo kita masuk ke kelas sebelum Kang songsaenim masuk,” jawab Jessica.

Mereka berdua pun berlari menuju kelas mereka.

***

“Annyeonghaseyo. Nama saya Xiao Luhan. Panggil saja Luhan. Senang berkenalan dengan kalian. Saya harap, kalian dapat membantu saya. Terima kasih,”

“Baik, Luhan-ssi. Kau boleh duduk disamping Kim Minseok,”

“Terima kasih, songsaenim,”

Luhan berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh guru Kang. Ia duduk disamping murid laki-laki yang memiliki pipi berisi. Mereka pun berjabat tangan.

“Namaku Minseok. Salam kenal,”

Luhan mengangguk ramah, “Salam kenal juga,” jawabnya.

Disisi lain, Yoona terus memperhatikan murid baru berwajah manis itu.

“Ah.. dia manis sekali,” gumam Yoona.

Jessica menoleh ke arah Yoona, “Siapa?,” tanyanya.

“Xiao Luhan. Ah, namanya juga sangat manis. Dia berbeda dengan lelaki lain,” jawab Yoona berbunga-bunga.

Jessica terkekeh pelan. Ia kembali melanjutkan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru Kang. Sedangkan Yoona masih sibuk memandangi Luhan, dan Luhan tak menyadari hal itu.

***

 

“Aku harus mendapatkan nomor teleponnya!,” tekad Yoona.

Jessica menaikkan sebelah alisnya, “Kau masih membicarakan soal murid baru itu?,” tanyanya.

“Sica-ya, aku sedang jatuh cinta padanya. Kau harus mengerti mengapa aku masih membicarakannya dan akan selalu membicarakannya!,” jawab Yoona.

“Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya,” ucap Jessica lalu memasukkan kimchi ke dalam mulutnya.

“Kau harus mendukungku, Sica-ya. Bukannya bersikap seperti ini,” ucap Yoona kesal.

“Oke, oke. Aku mendukungmu. Aku selalu mendukungmu, Yoona-ya. Kita adalah sahabat, ingat?,”

Yoona masih memasang wajah cemberut. Namun, beberapa detik kemudian, wajah ceria terpasang diwajah cantik Yoona.

“Biarkan aku memelukmu!,” seru Yoona seraya merentangkan tangannya.

“No! No! Jangan sekarang. Aku masih ingin menikmati kimchi-ku,” tolak Jessica waspada.

Yoona tertawa ringan, begitu juga dengan Jessica. Persahabatan mereka sangat manis. Bahkan semua orang berpendapat begitu.

“Siapa gadis itu?,” tanya Luhan.

Minseok menoleh ke arah yang dipandang oleh Luhan, “Yang mana?,” tanyanya.

“Yang memiliki rambut berwarna cokelat,” jawab Luhan.

“Oh, dia adalah Jessica. Ketua osis di sekolah ini,” jawab Minseok.

“Aku bisa bertanya tentang peraturan di sekolah ini, benar?,” tanya Luhan.

“Bertanya denganku juga bisa kok,” jawab Minseok.

“Tapi, dia pasti lebih tahu daripada kau,” ucap Luhan.

“Well—aku tidak bisa menyalahkan perkataanmu,” ucap Minseok.

Luhan tersenyum tipis, “Mungkin aku akan meminta nomor teleponnya,” gumamnya pelan.

***

 

Yoona dan Jessica mengemasi peralatan tulis dan buku mereka ke dalam tas mereka. Begitu juga dengan murid-murid yang lain. Namun, aktivitas Jessica maupun Yoona terhenti saat seseorang yang Yoona dambakan menghampiri meja mereka.

“L-Luhan-ssi?!,” pekik Yoona.

“Maaf mengganggu waktunya sebentar,” ucap Luhan.

“A-Ada apa?,” tanya Yoona.

“Hm.. aku ingin meminta nomor teleponmu—,”

Luhan meminta nomor teleponku? Apakah aku sedang bermimpi?, teriak Yoona di dalam hatinya.

“—Jessica-ssi,” lanjut Luhan.

Yoona spontan syok mendengarnya. Sedangkan Jessica bingung dan tidak enak hati kepada Yoona sendiri.

“Nomor teleponku?,” tanya Jessica tak percaya.

Luhan mengangguk, “Mari bertukar nomor telepon. Aku ingin—,”

“Bertukar nomor telepon denganku saja!,” sahut Yoona.

Luhan menjadi bingung. Ia mengusap tengkuknya pelan, “Maaf. Tapi, aku ingin—,”

“Ponselku rusak!,” seru Jessica memotong kalimat dari Luhan.

Yoona mengangguk, “Jadi, bertukar nomor telepon denganku saja,” ucapnya.

“O-Oke,”

***

 

Yoona terlihat tak seceria biasanya di kantin. Ia sedang mengaduk-aduk sup-nya dengan wajah yang terkesan tak berselera makan. Jessica menghela napas berat saat menyadari keanehan yang dipancarkan sahabatnya itu.

“Yoona-ya, berhenti bersikap aneh!,” pinta Jessica.

“Bagaimana aku bisa berhenti? Luhan telah membuatku patah hati,” ucap Yoona.

Jessica menaikkan sebelah alisnya, “Patah hati? Bukankah kau sudah mendapatkan nomor teleponnya?,” tanyanya.

“Iya. Tapi, di dalam pembicaraan kami di telepon, dia selalu menanyakan soal dirimu. Kalau pun dia menanyakan hal lain, dia hanya menanyakan tentang peraturan sekolah,” Yoona menghela napas berat, “Aku rasa dia menyukaimu,” tambahnya.

“Yoona-ya..,”

Yoona menggenggam kedua tangan Jessica, “Berjanjilah padaku kau tidak akan pernah menjalin hubungan dengan Luhan!,” serunya.

Jessica terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, ia menganggukan kepalanya.

“Ya. Aku berjanji. Bukankah kita sudah berjanji kalau kita takkan mencintai lelaki yang sama lagi?,”

Yoona mengangguk, “Kau benar,” jawabnya.

Kini, giliran Jessica yang menangkup wajah Yoona dengan kedua tangannya. “Sekarang, kembalikan Im Yoona yang ceria. Aku tidak suka melihat wajahmu yang ditekuk seperti itu,” ucapnya.

Yoona tersenyum lebar, “Ijinkan aku memelukmu!,” serunya.

“Tidak mau!,”

***

 

Jessica sedang menikmati es krim di kedai dekat rumahnya. Musim panas seperti ini sangatlah nikmat untuk menyantap es krim. Apalagi es krim adalah salah satu makanan favorit Jessica.

“Boleh aku duduk disini?,”

Jessica mendongak hingga matanya membulat sempurna, “Luhan-ssi?,” pekiknya.

Luhan tersenyum, “Bolehkah?,” tanyanya lagi.

“Ah, oh, tentu saja boleh. Silakan,” jawab Jessica.

Luhan pun duduk disamping Jessica. Ia juga membawa es krim yang ia pesan. Dan es krim pesanan Luhan ternyata sama dengan pesanan Jessica.

“Woah! Es krim pesanan kita sama,” seru Luhan.

Jessica tertawa, “Kebetulan sekali, ya?,”

“Itu artinya kita berjodoh!,”

Jessica tersentak. Ia menatap Luhan tak percaya. Ketegangan yang dirasakan Jessica berhenti saat melihat Luhan tertawa renyah.

“Kau manis sekali. Aku hanya bercanda kok,” ucap Luhan.

Wajah Jessica memanas. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku sedang dipuji, pikirnya.

“Jangan bergerak!,” seru Luhan tiba-tiba.

Jessica spontan kaget kembali. Ia menahan anggota tubuhnya untuk tidak bergerak. Luhan menggerakkan tangannya hingga menyentuh bibir Jessica. Wajah Jessica semakin memanas bahkan memerah. Luhan kembali tertawa renyah.

“Aigoo! Kau sangat manis dan menggemaskan,” ucap Luhan.

Jessica tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya dimana. Ia benar-benar malu. Luhan mengusap kepalanya dengan lembut sambil tertawa. Dan untuk yang pertama kalinya, Jessica menyadari bahwa pendapat Yoona tentang Luhan itu benar. Luhan sangat manis, menurut Jessica saat ia melihat Luhan dari jarak dekat. Selama ini, Jessica tak pernah memperhatikan Luhan lebih dari lima detik.

***

 

Jessica menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia sedang memikirkan sesuatu. Ia kembali teringat memori masa lalunya dengan Yoona.

“Aku menyukaimu!,”

 

Jessica sangat syok mendengar pernyataan dari Sehun. Apalagi Yoona yang berada disamping Jessica. Jessica menatap Yoona takut, sedangkan Yoona menahan air matanya.

 

“Maukah kau menjadi kekasihku, Jessica-ya?,” tanya Sehun.

 

“Ngg—aku—aku tidak bisa,” jawab Jessica.

 

Yoona maupun Sehun menatap Jessica tak percaya.

 

“K-Kenapa?,” tanya Sehun.

 

“Aku tidak pernah tertarik padamu, Sehun-ssi. Aku hanya menganggapmu sebagai teman tidak lebih,” jawab Jessica.

 

“Sica-ya..,”

 

“Oke. Aku mengerti. Paling tidak, aku sudah mengungkapkan perasaanku,” ucap Sehun lalu pergi dari tempat itu.

 

Jessica beralih menatap Yoona yang sudah berlinangan air mata.

 

“Apa kau lakukan, bodoh? Membohongi dirimu sendiri?,” tanya Yoona.

 

“Aku memang tidak pernah menyukainya, Yoona-ya. Aku tidak pernah berbohong padamu, ingat?,”

 

“Apa kau benar-benar jujur? Atau kau menolaknya karena aku?,” tanya Yoona.

 

“Aku jujur, Yoona-ya. Aku berjanji takkan pernah menyukai lelaki yang sama dengan lelaki yang kau sukai. Aku tidak ingin ada yang tersakiti. Lagipula, aku memang tidak menyukai Sehun,” jawab Jessica.

 

Yoona mengacungkan kelingkingnya, “Pink promise?,”

 

Jessica tersenyum seraya mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Yoona, “I promise!,” jawabnya.

 

Jessica menghela napas berat. Ia sendiri yang membuat perjanjian itu, tapi ia sendiri yang melanggarnya.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu, eonni?,”

“Krystal?,” pekik Jessica seraya beranjak bangun, “Sejak kapan?,” tanyanya.

“Baru saja kok,” jawab Krystal seraya duduk di tepi ranjang Jessica, “Tell me, what happen?,” tanyanya.

Jessica menggeleng cepat, “Tidak ada apa-apa,” jawabnya.

“Mungkin kau bisa membohongi sahabatmu itu, tapi kau tak bisa membohongiku!,” ucap Krystal.

Jessica menatap adiknya tajam, “Krystal, jaga perkataanmu!,” bentaknya.

“Memang benar, kan? Kau selalu membohongi Yoona eonni dan menyimpan rasa perih sendiri. Sedangkan dia berbahagia di atas penderitaanmu. Kau sangat malang, eonni!,” ucap Krystal.

Jessica terdiam. Didalam hatinya, ia membenarkan perkataan Krystal. Selama ini, Jessica memang berkorban banyak untuk Yoona. Selalu ia lakukan, apapun itu, asal Yoona ceria.

***

 

Jessica sedang memunguti buku-buku di atas meja perpustakaan. Belum selesai Jessica memunguti, seseorang telah memunguti sebagian bukunya.

“Biarkan aku membantu, ya?,”

Jessica menggeleng, “Tidak perlu. Letakkan kembali buku-buku itu,” jawabnya.

“Ayolah. Aku kan ingin—,”

“Sudah ku bilang, tidak perlu! Aku tidak butuh bantuanmu! Pergi dari sini dan jangan pernah dekati aku lagi, Luhan-ssi!,” bentak Jessica marah.

“Kau marah padaku? Apa kesalahanku?,” tanya Luhan.

“Kesalahanmu adalah mendekatiku! Jauhi aku mulai detik ini!,” jawab Jessica.

“Aku tidak mau!,” ucap Luhan.

Jessica mengerjap kaget, “A-Apa?,”

“Kau tidak bisa melarangku untuk dekat denganmu. Aku punya hak untuk berteman dengan siapa saja,” ucap Luhan.

“Tapi, aku tidak mau berteman denganmu,” ucap Jessica.

“Kenapa?,” tanya Luhan.

“Karena aku tidak mau!,” jawab Jessica sambil meletakkan buku-buku yang ia pegang lalu pergi.

Namun, Luhan berhasil menahan kepergiannya.

“Kenapa kau menahanku?,” tanya Jessica kesal.

“Karena aku ingin menahanmu,” jawab Luhan.

“Kenapa kau selalu ingin mendekatiku? Kenapa bukan Yoona saja?,” tanya Jessica.

Luhan terdiam sejenak, “Yoona?,”

Jessica mendadak grogi, “Yah—ngg—Yoona dekat juga denganmu, bukan? Jadi, kenapa kau tidak berteman dengan Yoona saja?,” tanyanya.

“Karena dari awal, aku hanya ingin berteman denganmu. Aku tidak pernah ingin berteman dengan Yoona,” jawab Luhan.

“Apa? Tapi—kenapa?,”

“Karena aku menyukaimu!,” jawab Luhan.

Jessica sangat syok sekarang. Ia kembali ditembak oleh lelaki yang Yoona sukai. Dan kali ini, di dalam hatinya berteriak “Terima, Jessica! Bukankah kau juga mulai tertarik padanya?,”. Tapi, ia masih mengingat Yoona.

“Tapi, aku tidak menyukaimu!,” ucap Jessica.

“Bohong!,”

Jessica dan Luhan menoleh ke sumber suara. Jessica terperangah saat melihat sahabatnya sendiri berjalan menghampiri mereka.

“Yoona-ya..,”

“Sudah berapa banyak kau membohongiku, Sica-ya?,” tanya Yoona.

“A-Aku—,”

“Kenapa kau selalu tak mau jujur padaku? Kenapa kau membiarkanku bahagia di atas penderitaanmu?,” tanya Yoona.

“Aku tidak—,”

“Cukup! Akhiri semua kebohonganmu. Kau membuatku menjadi membenci diriku sendiri!,” ucap Yoona, air matanya tumpah begitu saja.

Jessica memeluk Yoona erat, “Maafkan aku. Memang benar. Selama ini aku selalu berbohong. Tapi, aku melakukan itu semua karena aku menyayangimu. Aku tak ingin kau bersedih,”

“Tapi, aku akan semakin sedih jika kau bersedih. Kau pikir aku ini sahabat macam apa, Sica-ya?,”

“Yoona-ya..,”

“Tolong akhiri semua ini. Jangan pernah berbohong padaku lagi. Dan kau juga menyukai Luhan, bukan? Aku melihat kalian berdua sangat mesra di kedai es krim,”

“Kau melihatnya?,” tanya Jessica dan Luhan kompak.

Yoona mengangguk, “Kalau kau mengira aku marah, ya aku sangat marah. Tapi, dunia ini tidak akan berhenti begitu saja, Sica-ya. Aku pasti akan menemukan seseorang yang tepat untukku, yang bisa membahagiakanku, seperti Luhan yang bisa membuatmu senang,”

“A-Aku minta maaf,” ucap Jessica.

“Tidak perlu minta maaf. Aku lah yang seharusnya minta maaf kepadamu karena kau sudah menderita selama bersamaku. Maafkan aku, Sica-ya,”

Jessica menggeleng, “Kau tidak membuatku menderita,” ucapnya.

Yoona mengusap air matanya, “Bolehkah aku memelukmu lagi?,” tanyanya.

Jessica mengangguk, “Tentu saja, sahabatku!,” jawabnya.

Mereka kembali berpelukan dengan tangis menyertai mereka. Luhan yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum tipis.

“Seperti inikah indahnya persahabatan,” gumam Luhan.

END

Flash Back

 

Yoona berlari sekencang-kencangnya setelah melihat sesuatu yang tak pernah ia ingin lihat. Kemesraan Luhan dan Jessica di kedai es krim membuat hatinya remuk. Entah kemana tujuannya sekarang, Yoona sendiri tidak tahu. Ia terus berlari tanpa tahu arah.

BRAKKK!!!

Karena tidak fokus, Yoona menabrak seorang lelaki jangkung yang sedang berdiri memandangi langit.

Yoona mengusap air matanya, “Maafkan aku,” sesalnya.

“Aku tidak mempermasalahkan soal itu. Kenapa kau menangis?,”

“Tidak apa-apa,” jawab Yoona.

Lelaki itu menyodorkan minuman kaleng kepada Yoona, “Minumlah ini. Minuman ini sangat segar dan akan membuat perasaanmu membaik,” ucapnya.

Yoona meraihnya dengan ragu. Ia meminum minuman tersebut hingga habis.

“Woah! Kau haus sekali ternyata,” ucap lelaki itu.

“Mungkin ini karena efek berlari tadi,” ucap Yoona sambil terkekeh pelan.

Lelaki itu menepuk pipi kanan Yoona pelan, “Nah, begini lebih baik. Kau sangat cantik jika sedang ceria,” ucapnya.

Yoona merasakan sesuatu yang panas menjalar diwajahnya. Semburat merah menghiasi pipinya yang putih. Lelaki itu terkekeh pelan sambil menjulurkan tangannya.

“Namaku Chanyeol. Senang bertemu denganmu, gadis manis,” ucap lelaki itu.

Yoona menunduk malu. Tetapi, ia tetap menjabat tangan lelaki itu, “Namaku Yoona,” ucapnya.

“Nama yang manis, seperti orangnya!,” puji Chanyeol.

Lagi, wajah Yoona kembali memanas dan memerah.

—————————————————————————————————————

Selesai \^v^/ semoga PiaChu suka dengan FF ini, ya? Juga readers setiaku. Jangan lupa tinggalkan jejak!

(Request FF) – In The Fact


Title : In The Fact

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-M’s Kris as Kris Wu
  • EXO-K’s Suho as Kim Joonmyun

Support Cast :

  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • f(x)’s Sulli as Choi Jinri
  • SHINee’s Minho as Choi Minho
  • TVXQ’s Yunho as Jung Yunho
  • etc

Genre : Angst, Romance, Married-life, Friendship

Length : Oneshot

Note : FF ini merupakan ‘Request FF’ dari dua readerku (erikapratiwi6 dan ShitygorjessimOet). Sorry cuma summary kalian yang aku gabung dan ku jadikan satu FF. Soalnya summary kalian hampir mirip. Tokohnya juga sama. Jadi, aku jadiin satu deh. Gak papa, ya? Keke~!

***

 

Sooyeon terlihat gusar di kursi belajarnya. Wajahnya ia telungkupkan di atas kedua tangannya yang dilipat di atas meja belajarnya. Rambutnya yang rapi dan lurus pun menjadi berantakan. Tubuhnya bergetar pelan seiring dengan suara isak tangis yang keluar dari mulutnya.

KREKKK!!

Pintu kamar Sooyeon terbuka tidak lebar. Masuklah seorang perempuan berparas cantik ke dalam kamar tersebut. Ia berjalan menghampiri Sooyeon, namun memutuskan untuk duduk di tepi ranjang milik Sooyeon. Ia menatap Sooyeon dengan raut wajah yang sedih.

“Aku ingin sekali membantumu, eonni,”

“Aku tidak mengharapkan bantuanmu, Soojung-ah,”

Perempuan bernama Soojung itu menundukkan kepalanya. Di dalam hati, ia sibuk memaki dirinya sendiri yang tidak bisa membantu kakaknya.

“Aku memang adik yang tidak berguna, eonni,”

Sooyeon mengangkat kepalanya. Ia memutar kursinya hingga berhadapan dengan adiknya meskipun dihalangi oleh jarak setengah meter. Sooyeon berjalan menghampiri Soojung lalu memegang puncak kepala Soojung hingga Soojung mendongak.

“Kau selalu berguna untukku, Soojung-ah. Selalu dan selamanya. Kau selalu membantuku. Karena itu, aku sangat berterimakasih kepadamu,”

Soojung mengeluarkan air matanya, “Tapi, kali ini aku gagal, eonni. Aku gagal membantumu. Aku gagal mempertahankan kebahagiaanmu. Maafkan aku, eonni. Andai saja perjodohan ini bisa ku ambil alih, aku akan dengan senang hati mengambilnya demimu, eonni,”

“Sshhh!,” Sooyeon memeluk Soojung dengan erat, “Aku tak mungkin membiarkan adikku menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai,” ucapnya.

“Dan aku tak mungkin membiarkanmu menikah dengan lelaki yang tidak kau cintai, eonni,” ucap Soojung diikuti isak tangisnya.

Lagi, Sooyeon mengeluarkan air matanya. Namun, ia berusaha untuk berhenti menangis.

“Eonni, maafkan aku karena telah gagal,”

“Ini bukan salahmu, Soojung-ah. Tenang saja. Aku akan menerima keputusan apapun itu. Ini demi menjaga nama baik keluarga kita,”

Sooyeon melepaskan pelukannya kepada Soojung. Ia meraih ponsel miliknya dan mulai mengetik pesan kepada seseorang.

“Eonni, bagaimana kau menjelaskannya kepada Joonmyun oppa?,” tanya Soojung.

“Besok aku akan menjelaskan semuanya,” jawab Sooyeon.

Soojung tersentak, “Tapi, eonni, besok kan—,”

Sooyeon tersenyum pahit, “Tidak apa-apa, Soojung-ah. Aku sudah siap menjadi perempuan yang paling dibenci Joonmyun di dunia ini,” potongnya.

Soojung menatap kakaknya sedih, “Eonni..,”

***

 

Joonmyun telah tiba di puncak menara Namsan. Ia mencari seorang perempuan yang berjanji untuk menemuinya di tempat ini.

“Dimana Sooyeon, ya?,”

“Mencariku, Kim Joonmyun?,”

Joonmyun tersentak. Perlahan tapi pasti, ia menoleh ke belakang. Di belakangnya sudah ada perempuan berparas cantik yang sedang membawa kue yang dihiasi lilin-lilin kecil.

“Happy third anniversary!,”

Joonmyun memasang senyuman terbaiknya. Ia berjalan menghampiri perempuan itu dan mengusap kepala perempuan itu dengan lembut.

“Ternyata kau mengingatnya juga, Sooyeon-ah,” ucap Joonmyun.

“Jangan samakan aku dengan nenek tua yang pikun, Kim Joonmyun!,” seru Sooyeon dengan mimik wajah yang kesal.

“Aigoo! Maafkan aku, ya? Aku hanya bercanda,”

Sooyeon tersenyum lebar, “Ayo tiup lilin bersama!,” ajaknya.

Joonmyun mengangguk setuju. Mereka berdua pun memejamkan mata dan berdoa di dalam hati. Setelah itu, mereka meniup lilin bersama dan berakhir dengan kembang api yang menyala di langit malam.

“Kembang api?,” pekik Sooyeon.

“Untukmu,” ucap Joonmyun.

Sooyeon tersenyum senang. Ia terus memandangi kembang api dengan kagum. Sedangkan Joonmyun merogoh sebuah kotak cincin dari sakunya.

“Dan aku punya satu lagi hadiah,” ucap Joonmyun.

Sooyeon menoleh, “Apa itu?,” tanyanya.

Joonmyun membuka kotak cincin itu dan memperlihatkannya kepada Sooyeon, “Maukah kau menikah denganku?,”

Sooyeon tersentak. Tubuhnya pun menegang. Sooyeon menggigit bibirnya sambil memikirkan sesuatu hal.

“Soal cincin ini, ini bukan cincin berlian. Hanya sebuah cincin emas yang tidak mahal. Maafkan aku. Aku tidak punya banyak uang untuk membeli cincin berlian,” tambah Joonmyun.

Sooyeon menelan salivanya kasar, “A-Aku tidak bisa menerimanya!,” jawabnya.

Joonmyun kaget mendengarnya. Ia mengusap tengkuknya pelan, “A-Aku akan menabung untuk membeli cincin berlian,”

“Bukan begitu!,”

Joonmyun mengernyit bingung, “Jadi, maksudmu apa?,” tanyanya.

Sooyeon menarik napas dalam, “Aku tidak bisa menikah denganmu, Joonmyun-ah!,” jawabnya.

Joonmyun bagaikan sedang disambar petir yang dahsyat sekarang. Ia sangat syok mendengar jawaban dari kekasihnya selama tiga tahun itu. Selama menjalin hubungan, mereka tidak pernah bertengkar, tidak pernah memiliki masalah kecuali karena orangtua Sooyeon yang tidak menyetujui hubungan mereka.

“Apakah orangtuamu—,”

“Mereka menjodohkanku dengan lelaki lain,” jawab Sooyeon.

“Dan kau menyetujuinya?,” tanya Joonmyun tak percaya.

“Aku tak bisa berbuat apa-apa, Joonmyun-ah!,”

Joonmyun menjadi marah besar. Biasanya, Sooyeon tak mempedulikan apa yang dikatakan orangtuanya. Bahkan Joonmyun dan Sooyeon sudah berencana untuk menikah lari setahun yang lalu.

“Kau seperti bukan Sooyeon yang ku kenal. Dimana kau menyimpan janji-janji kita? Apa kau telah membuangnya jauh-jauh?,” tanya Joonmyun berapi-api.

“Kau tidak mengerti, Joonmyun-ah. Jika aku menolak, hubungan Soojung dan Minho akan berakhir!,”

“Kau menyetujuinya bahkan demi hubungan orang lain!,”

“Mereka bukan orang lain. Mereka adalah adik dan calon adik iparku. Soojung telah berbuat banyak untukku. Aku tidak ingin mengecewakannya,” ucap Sooyeon.

Joonmyun menendang kaleng yang berada di lantai hingga terlempar jatuh ke tanah di kaki menara Namsan. Wajahnya memerah seperti saus tomat. Sooyeon sebenarnya ketakutan namun ia berusaha menyembunyikan ketakutan tersebut. Bahkan Sooyeon tengah membendung air matanya.

“Aku kecewa kepadamu, Sooyeon-ah. Aku harap kau menyesal telah melakukan ini!,” ucap Joonmyun lalu pergi meninggalkan Sooyeon seorang diri di puncak menara Namsan.

Sooyeon hanya mematung ditempat. Air matanya mulai berjatuhan. Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya. Tapi, Sooyeon tetap tidak beranjak dari sana.

“KAU BENAR, KIM JOONMYUN! AKU MENYESAL! AKU SANGAT MENYESAL! TAPI, APA YANG BISA KU LAKUKAN? AKU TIDAK BISA BERBUAT APA-APA SELAIN MENYETUJUINYA!,” teriak Sooyeon ditengah hujan.

Sooyeon terjatuh ke lantai sambil terus menangis. Namun, sekuat apapun ia menangis, tetap saja keadaan tidak akan berubah.

***

 

Hari pernikahan telah tiba. Jung Sooyeon, puteri sulung dari keluarga Jung—salah satu konglomerat di Korea Selatan—sedang mengucapkan janji-janji pernikahan dengan lelaki berdarah China-Kanada. Mereka berada di sebuah gereja terbesar di Seoul bersama para keluarga dan tamu undangan.

“Pernikahan kalian telah sah. Tuan Kris Wu, silakan mencium pengantin wanita anda!,” ucap seorang pendeta.

Kris berhadapan dengan Sooyeon yang berbalut gaun pengantin yang sangat indah. Wajah Sooyeon terlihat bak dewi kayangan. Kris memegang bahu Sooyeon dan mendekatkan wajahnya. Para keluarga dan tamu undangan pun bertepuk tangan.

“Tak ku sangka, Sooyeon noona menikah dengan lelaki lain. Ku pikir, Sooyeon noona akan menikahi pedagang roti itu,” ucap Jongin.

“Meskipun begitu, Sooyeon eonni tetap mencintai Joonmyun oppa,” ucap Soojung.

Jongin menghela napas kasar, “Kisah cinta yang menyedihkan. Aku turut berduka cita saja deh,”

Soojung menjitak kepala Jongin, “Bisakah kau tutup mulutmu yang sembarangan itu? Kau memperburuk keadaan saja,” omelnya.

“Apa sih? Aku kan hanya mengatakan apa yang ingin ku katakan,”

“Soojung, Jongin, tutup mulut kalian!,” perintah Jung Yunho—ayah dari Sooyeon dan Soojung.

“Baik, appa,”

“Baik, samchon,”

***

 

Sooyeon dan Kris telah tiba di rumah yang diberikan orangtua Kris kepada mereka. Sooyeon berdecak kagum melihat rumah barunya. Benar-benar mewah dan dekorasinya sangat western, batinnya.

“Hei,” panggil Kris.

Sooyeon menoleh, “Ya?,”

“Kamarmu disana dan kamarku disitu. Mengerti?,”

Sooyeon menelan salivanya kasar, “Aku mengerti,” jawabnya.

Kris membawa koper-kopernya ke dalam kamarnya. Sooyeon menghela napas berat. Ternyata bukan hanya Sooyeon saja yang tidak menyetujui pernikahan ini. Kris juga merasakan hal yang sama. Tapi, bedanya, Kris mengaku masih menjalin hubungan dengan kekasihnya dan mengancam Sooyeon untuk tidak mengadukannya. Dan saat di altar, Sooyeon dan Kris hanya berpura-pura ciuman.

Sooyeon membawa koper-kopernya masuk ke dalam kamarnya. Setelah Sooyeon masuk ke kamarnya, ia melongo. Desain kamarnya sangatlah indah. Langit-langit kamarnya adalah langit malam bertaburan bintang-bintang.

“Tidak buruk,” komentar Sooyeon sambil tersenyum.

***

 

Kris keluar dengan pakaian seperti ingin pergi jalan-jalan. Ia memasuki ruang makan yang sudah dipenuhi makanan di atas meja makan. Kris melihat Sooyeon tengah mengaduk sup di dalam mangkuk.

“Selamat pagi, Kris!,” sapa Sooyeon ramah.

“Hm,” balas Kris lalu segera berbalik.

“Mau kemana? Tidak sarapan dulu?,” tanya Sooyeon.

“Aku tidak lapar. Dan mau kemana aku, itu bukan urusanmu,” jawab Kris dengan nada yang dingin lalu segera pergi.

Sooyeon menghela napas berat. Ia pun memutuskan untuk sarapan sendirian.

***

 

Satu bulan telah berlalu. Namun, perubahan positif tidak Sooyeon dapatkan. Kris selalu bersikap dingin terhadapnya. Kris selalu pergi di pagi hari, dan pulang di malam hari. Bahkan, Kris pernah membawa kekasihnya ke rumah mereka. Dan entah kenapa, Sooyeon merasa nyeri di dadanya saat melihat Kris dan kekasihnya berciuman di kamar Kris yang pintunya tengah terbuka lebar.

Sooyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin aku jatuh cinta kepada Kris. Aku hanya mencintai Joonmyun, batinnya. Namun, seperti kata pepatah, karma itu selalu berlaku dan akan datang cepat atau lambat. Akhirnya Sooyeon mengerti. Ia mendapatkan karma karena telah meninggalkan Joonmyun dan menikah dengan lelaki lain.

“Tapi, bagaimana bisa aku mencintai Kris? Bahkan Kris tidak pernah bersikap manis di depanku,” gumam Sooyeon.

Sooyeon akui, ia selalu terpesona dengan wajah tampan milik lelaki berdarah campuran itu. Setiap Kris pulang malam dan tertidur dengan posisi yang sembarangan, Sooyeon selalu merapikan sepatu, jaket, dan tas milik Kris. Sooyeon selalu menyelimuti Kris. Dan Sooyeon pun tak sadar bahwa ia telah masuk ke tempat yang seharusnya tidak ia masuki, yaitu kamar milik Kris sendiri.

Tinggal bersama lelaki yang statusnya adalah suaminya selama satu bulan tak menutup kemungkinan untuk Sooyeon yang akan merasakan jatuh cinta lagi. Apalagi faktor pendukungnya adalah wajah tampan yang diinginkan oleh sejuta perempuan yang dimiliki oleh Kris. Terkadang Sooyeon bersyukur, dan terkadang Sooyeon menyesal.

Entahlah. Rasanya, sia-sia saja berharap Kris akan membalas cinta Sooyeon. Kris tidak pernah memandang Sooyeon lebih dari dua detik. Kris tidak pernah mengeluarkan kata-kata lembut kepada Sooyeon. Kris tidak pernah memperlakukan Sooyeon dengan mesra seperti Kris memperlakukan kekasihnya. Bahkan, Sooyeon ingin sekali merebut posisi kekasih Kris itu.

“Ada apa, Jinri-ya?,”

Sooyeon menoleh ke belakang. Dilihatnya, Kris sedang menelpon seseorang.

“Jinri..,” gumam Sooyeon pelan. Sooyeon tahu nama itu. Nama kekasih Kris yang selalu Kris agung-agungkan. Nama yang dimiliki seorang perempuan yang selalu membuat Sooyeon iri. Nama yang Sooyeon benci.

“Ke rumahmu? Untuk apa?,”

Sial!, umpat Sooyeon dalam hati. Pasti setelah ini, Sooyeon akan ditinggal sendirian lagi.

Kris terkekeh, “Belum puas dengan yang kemarin, ya? Apa permainan kita yang kemarin belum cukup?,”

Mendengar itu, Sooyeon merinding dibuatnya. Sooyeon pun segera beranjak menuju kamarnya. Kris yang melihatnya, hanya diam tak mempedulikan hal tersebut. Ia meneruskan pembicaraannya dengan kekasihnya.

“Okay, sweetheart! Aku akan ke rumahmu sekarang. Siapkan caturnya dan aku akan membawakan pizza. Sampai jumpa di rumahmu, ya? Bye,”

***

 

Sooyeon tak menyangka ia akan mengeluarkan air mata untuk seorang lelaki yang tidak mencintainya sama sekali. Ternyata selama ini Kris sudah melakukan hal yang seharusnya Kris lakukan dengannya dengan Jinri. Sooyeon tahu, pernikahan yang ia jalani dengan Kris hanya pernikahan yang tidak disetujui oleh kedua pengantin itu. Tetapi, Kris dan Jinri tidak terikat hubungan pernikahan. Bagaimana bisa Kris melakukan hal itu?, pikirnya.

Ponsel Sooyeon berdering. Sooyeon mengusap air matanya dan segera mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menelponnya.

“Halo?,”

“SELAMAT MALAM, SOOYEON NOONA!!,”

Sooyeon mengusap telinga kanannya, “Astaga, Kim Jongin! Kau ini bodoh atau apa? Kau membuat telinga kananku sakit!,” omelnya kesal.

Terdengar cengiran dari seberang sana, “Maafkan aku, noona. Aku terlalu bersemangat,” ucapnya.

Sooyeon memutar bola matanya, “Apa maumu, eoh? Untuk apa kau menelponku?,”

“Ish, galak sekali. Nanti keriputmu makin banyak, lho,”

“KIM JONGIN!!!!,” teriak Sooyeon.

“Aigoo, noona, teriakanmu mengalahkan teriakan lumba-lumba,”

“Jangan meledekku!,” omel Sooyeon.

“Oke, oke. Langsung saja ke poinnya, oke?,”

“Memang itu yang ku inginkan,” ucap Sooyeon kesal.

“Aku baru saja tiba di rumah Yunho samchon. Kuliahku di Oxford sedang libur, jadi aku memutuskan untuk berlibur ke Seoul,”

“Oh,”

“Cuma begitu reaksinya?,” tanya Jongin tak terima.

“Memangnya apa lagi?,” tanya Sooyeon.

“Huh. Kau sama saja dengan Soojung. Kedatanganku tidak disambut dengan meriah,” gerutu Jongin.

“Memangnya kau ini selebriti papan atas?,”

“Sebentar lagi aku akan mengalahkan popularitas Robert Pattinson,”

“Jangan bermimpi,”

“Oke. Besok aku akan mengunjungi rumahmu dan suamimu,”

Sooyeon membelalakan matanya, “A-Apa? K-Kau ingin kemari? Yang benar saja,”

“Memang benar. Soojung tak bisa menemaniku karena nenek sihir itu sedang ada kencan dengan Minho. Jadi, aku akan pergi sendirian. Jangan lupa siapkan makanan yang banyak, ya?,”

“Tidak mau,”

“Oh,  ayolah, noona. Aku sudah lama tak menyicipi masakan buatanmu. Oh, aku tutup dulu telponnya, ya? Sepertinya Yuri immo sedang memanggilku untuk makan malam,”

“Iya,” jawab Sooyeon malas.

“Sampai jumpa!,”

Dan telpon pun ditutup.

Sooyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya. Ia menghela napas berat.

“Bagaimana ini? Jika Jongin melihat kamarku yang berpisah dengan kamar Kris, si idiot itu pasti akan mengadukan hal ini kepada orangtuaku,”

***

 

Kris sedang ingin menghirup udara segar di luar. Ia melewati ruang tengah yang disana sedang ada Sooyeon yang sedang menonton televisi. Kris pun membuka pintu utama rumahnya, dan ia sangat kaget saat melihat seorang lelaki yang tidak ia kenal berada dihadapannya.

“S-Siapa kau?,” tanya Kris.

“Oh, jadi Sooyeon noona tidak pernah menceritakan tentangku kepadamu, ya?,” tanya lelaki itu.

Jangan-jangan lelaki ini kekasih Sooyeon, pikir Kris.

“Dimana Sooyeon noona?,” tanya lelaki itu.

“D-Di dalam. Sedang menonton televisi,” jawab Kris.

Lelaki itu pun langsung menyelonong masuk melewati Kris. Kris merasa sedikit kesal di dalam hatinya. Entah kesal karena lelaki itu tidak sopan atau kesal karena hal lain. Kris sendiri pun tak tahu.

Lelaki itu melihat Sooyeon sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Lelaki itu pun memeluk leher Sooyeon dari belakang. Kris tersentak kaget melihat hal itu.

“NOONA!!,”

“Astaga! Kim Jongin! Kau—,” kalimat Sooyeon terhenti saat melihat Kris yang memandang ke arahnya.

“Kau tidak menyiapkan apapun untukku?,” tanya Jongin.

Sooyeon beralih ke Jongin, “Menyiapkan apa?,” tanyanya berpura-pura lupa.

“Aigoo! Cepat memasak. Aku merindukan masakanmu yang sangat lezat itu, noona!,” seru Jongin.

“Aku—,”

“Cepat memasak!,” seru Jongin seraya mendorong Sooyeon menuju dapur.

Kris yang melihat itu merasakan nyeri di dadanya. Ia merasa iri dengan hubungan mereka yang terlihat sangat dekat. Tidak salah lagi, lelaki itu pasti kekasihnya, batinnya.

***

 

“Noona, masakanmu sangat enak!,” puji Jongin.

Sooyeon tersenyum mendengarnya. Setidaknya, kehadiran Jongin disini membawa keceriaan di rumah ini. Meskipun hanya sementara.

“Suamimu tidak ikut makan?,” tanya Jongin.

Sooyeon mendadak grogi, “Ah—Ngg—d-dia sudah makan tadi. Ya, dia sudah makan,” jawabnya berbohong.

Jongin mengangguk mengerti.

Di balik pintu ruang makan, Kris telah mendengar perkataan Sooyeon. Kris segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke kamarnya.

“Hubungan kalian selama ini, baik-baik saja, kan?,” tanya Jongin.

Sooyeon tersenyum kecut, “B-Begitulah,” jawabnya.

“Syukurlah,” ucap Jongin, “Sesuai dengan harapan Joonmyun,” tambahnya.

Sooyeon mengerjap kaget, “J-Joonmyun?,”

“Aku bertemu dengannya tadi malam saat Yuri immo menyuruhku untuk membeli roti. Dia menanyakan kabarmu dan hubunganmu dengan suamimu. Aku bilang aku tidak tahu karena aku belum menemuimu. Dia berharap kalian baik-baik saja dan dia juga berharap noona bahagia bersama suami noona,” ucap Jongin.

Sooyeon terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, senyuman manis terukir dibibirnya.

“Katakan kepadanya terima kasih dariku,” perintah Sooyeon.

“Enak saja. Katakan saja sendiri,”

“KIM JONGIN!!!,” teriak Sooyeon kesal.

Jongin tertawa, “Iya, iya. Aku hanya bercanda, noona. Kau ini galak sekali,”

***

 

Sooyeon menghela napas lega. Jongin telah pulang dan Jongin tak meminta masuk ke kamarnya. Rahasianya dan Kris aman.

Sooyeon berjalan memasuki ruang tengah. Disana sudah ada Kris yang menatapnya tajam. Sooyeon merinding ngeri melihatnya.

“K-Kris? A-Ada apa?,”

“Aku ingin bicara,” ucap Kris.

“O-Oke,”

“Jadi, selama ini, kau mengkhianatiku?,” tanya Kris.

“E-Eh? Apa maksudmu, Kris? Aku tidak mengerti,” ucap Sooyeon bingung.

“Kau dan lelaki yang tadi—berpacaran, bukan?,” tebak Kris.

Sooyeon terdiam sebentar. Beberapa detik kemudian, tawanya pun meledak. Kris menaikkan alisnya melihat hal itu.

“Apanya yang lucu?,” tanya Kris bingung.

“Aku dan Jongin berpacaran? Yang benar saja,”

“E-Eh?,”

Sooyeon menghentikan tawanya, “Kim Jongin adalah saudara sepupuku yang tinggal di London. Dia mengunjungiku karena kami sudah lama tak bertemu. Bahkan dia hadir di hari pernikahan kita,”

Wajah Kris memerah mendengarnya. Sooyeon kebingungan melihatnya. Wajah Kris memerah, berarti..

“Kau cemburu?,” tanya Sooyeon.

“T-Tidak! Untuk apa?,”

“Lalu, kenapa wajahmu memerah?,” tanya Sooyeon.

“I-Ini, panas. Ya, udaranya disini panas. Aku rasa, aku harus mandi sekarang,” jawab Kris lalu segera pergi ke kamarnya.

“Panas? Bukankah ruangan ini terpasang AC?,” gumam Sooyeon bingung.

***

 

Kris sedang mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja di sebuah kafe. Ia tengah menunggu seseorang. Seiring berbunyi suara lonceng di pintu kafe tersebut, munculah seorang perempuan berambut pendek dan berparas manis.

“Oppa!,”

“Hai!,”

Perempuan itu menghampiri Kris dan duduk di seberangnya, “Maaf karena terlambat. Tugas kuliahku banyak sekali. Minho oppa juga memberikan sebagian tugas miliknya kepadaku dan pergi berkencan dengan Soojung,”

“Tidak apa-apa. Aku juga baru tiba kok,” jawab Kris.

“Jadi—bagaimana hubunganmu dengan Sooyeon eonni?,” tanya perempuan itu.

Wajah Kris memerah, “A-Aku hampir ketahuan cemburu,” jawabnya.

“Hah? Apa benar? Bukankah itu awal yang bagus?,” tanya perempuan itu senang.

“Awal yang bagus bagaimana? Kau lupa kalau Sooyeon tidak menyetujui pernikahan kami? Itu artinya, dia tak mencintaiku,” ucap Kris.

“Bukankah Sooyeon eonni selalu bersikap ramah dan lembut terhadapmu? Kau saja yang berakting dingin dihadapannya. Bahkan dia cemburu kan saat kau ingin ke rumahku untuk bermain catur saat itu?,”

“Kalau itu, aku tidak yakin dia cemburu atau tidak,” jawab Kris.

“Bagaimana dengan ciuman pura-pura kita? Aku melihat sendiri, oppa. Wajahnya seperti sedih dan marah,”

“Jinri-ya, aku rasa itu tidak mungkin,” ucap Kris.

Jadi, perempuan itu adalah Jinri—saudara sepupu Kris.

“Oppa, kau hanya tidak yakin. Kau harus segera mengungkapkan kebenarannya. Kau mencintainya. Apapun jawaban dari Sooyeon eonni, kau harus bisa menerimanya. Yang penting, kau sudah mengungkapkannya, oppa. Kalian sudah satu rumah selama satu setengah bulan. Itu waktu yang lama, oppa. Bahkan kalian belum membuat anak. Padahal uncle Kevin ingin sekali memiliki cucu,” ucap Jinri.

“A-Aku belum siap, Jinri-ya. Aku terlalu takut,” ucap Kris.

Jinri memegang kedua bahu Kris, “Oppa, kau harus bisa mengungkapkan yang sebenarnya. Percayalah kepadaku. Aku yakin, Sooyeon eonni juga mencintaimu,”

Di luar kafe yang berdinding kaca itu, dua perempuan telah melihat kejadian itu. Salah satu dari perempuan itu berlari dari tempat itu.

“Sooyeon eonni!,” panggil Soojung, namun tak dihiraukan kakaknya itu.

Soojung menatap perempuan yang sedang bersama dengan Kris. Matanya membulat sempurna.

“CHOI JINRI??!!,”

***

 

Kris telah memutuskan. Malam ini, ia harus mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya kepada Sooyeon. Meskipun, ketakutan masih menyelimuti pikiran Kris.

Kris sudah berada di depan kamar Sooyeon. Kris ingin mengetuk pintu tersebut, namun ia tahan. Ketika ia bersiap mengetuk, ia kembali menahannya. Dan ia lakukan hal itu terus menerus hingga pintu itu terbuka sendiri.

“E-Eh?,”

“Kris? Sejak kapan?,”

Kris menggaruk kepalanya, “Ngg—aku—,” ia menghentikan kalimatnya saat melihat mata Sooyeon yang merah dan basah, “K-Kau menangis?,” tanyanya.

Sooyeon menggeleng cepat, “A-Aku hanya kelilipan,” jawabnya.

“Oh,”

Sooyeon kembali teringat kejadian saat ia melihat Kris bersama Jinri, “Sudah selesai berkencan dengan kekasihmu, Kris?,”

Kris tersentak, “A-Apa? Kau melihat—,”

“Ya. Aku melihatnya. Maaf, aku tidak sengaja,” jawab Sooyeon.

“Hm, sebenarnya, ada yang ingin ku jelaskan kepadamu,” ucap Kris.

“Oh, ya? Apa itu?,” tanya Sooyeon penasaran. Oh, mungkin Kris ingin memintaku untuk bercerai dengannya, batinnya.

“Jinri bukan kekasihku,”

Sooyeon tersentak kaget dan syok, “A-Apa?,”

“Jinri adalah saudara sepupuku. Kami memang dekat. Dan yang kau lihat tadi, kami tidak sedang berkencan. Dan soal aku ingin ke rumahnya untuk melanjutkan permainan, itu bukan permainan seperti yang kau kira. Kami hanya melanjutkan permainan catur kami. Dan soal ciuman—,” Sooyeon menunggu Kris melanjutkan perkataannya, “—itu kami hanya berpura-pura. Sama seperti kita berpura-pura ciuman saat di altar,”

Sooyeon sangat syok mendengar hal ini. Ia masih tidak bisa mempercayai perkataan Kris. Ini terlalu sulit untuk dicerna.

“A-Aku tidak bisa mempercayaimu, Kris,”

“Memang. Tapi, inilah faktanya. Inilah kejadian yang sebenarnya. Semua yang ku lakukan selama ini hanyalah akting belaka,” ucap Kris.

“Tapi, untuk apa kau melakukan ini semua? Kau sangat dingin terhadapku,”

Kris menunduk, “K-Karena aku tahu, kau tidak mencintaiku,”

Sooyeon tersentak kaget.

“Dari awal, kau tidak menyetujui pernikahan ini. Jadi, ku anggap kau tidak mencintaiku. Jadi, aku bersikap seolah-olah aku sama denganmu. Padahal, faktanya, aku—aku—,”

“Ya?,”

Kris menarik napas dalam, “Aku sangat mencintaimu,”

Sooyeon terharu biru mendengarnya. Jadi, selama ini, Kris juga mencintainya. Cintanya terbalaskan. Sesuai dengan harapan mantan kekasihnya, Kim Joonmyun. Sooyeon akan bahagia setelah ini. Sooyeon yakin akan hal itu.

Tanpa aba-aba, Sooyeon memeluk Kris erat. Kris tentu saja terperangah. Ia teringat perkataan Jinri tadi sore.

“Aku yakin, Sooyeon eonni juga mencintaimu,”

“Aku juga, Kris. Selama ini, aku juga mencintaimu!,”

Air mata Kris tumpah saat itu juga. Perasaannya terbalaskan. Sesuai dengan harapannya selama ini. Gadis yang ia kagumi sejak ia berumur 10 tahun. Gadis yang ia jumpai saat ia sedang berlibur ke Korea Selatan untuk pertama kalinya.

“Jinri, what’s this place?,” tanya seorang anak laki-laki berdarah China-Kanada.

“This place has be named Han river, oppa.” jawab seorang anak perempuan berambut pendek. “Is beautiful place, isn’t?,”

Baru saja anak laki-laki itu ingin mengangguk, tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang anak perempuan yang sedang mengobrol bersama sepupu laki-lakinya dan seorang perempuan yang lain. Anak laki-laki itu langsung terpesona pada pandangan pertama dengan anak perempuan yang ia lihat itu.

“Yeah. She’s really really beautiful,”

Jinri mengernyit bingung, “She?,” Jinri pun mengikuti arah pandang sepupunya itu. Jinri tersenyum setelah mengetahui jawabannya.

“Her name is Jung Sooyeon. She’s older sister of Minho’s friend, Jung Soojung,” ucap Jinri.

“Beautiful names, beautiful faces. I think I’m fall in love in first time. With her,” gumam anak laki-laki itu sambil tersenyum manis.

Kris membalas pelukan Sooyeon. Tak kalah erat dari Sooyeon. Setelah beberapa detik kemudian, mereka mengakhiri pelukan itu dan saling berpandangan.

Dan untuk yang pertama kalinya, bibir mereka bersentuhan.

END

Selesai. Sorry buat erikapratiwi6 dan ShitygorjessimOet kalo ceritanya gak semuanya mirip dengan summary yang kalian buat. Aku bikin yang kayak begini karena mencampu

rkan summary kalian. Dan sorry kalo mengecewakan. Aku harap sih FF ini bisa kalian terima dan kalian suka ^^

Dan buat readers setiaku, jangan lupa reviewnya, yaks?

Your coment is my spirit \m/

Secret Admirer Chapter 2


Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
SNSD Jessica
Super Junior Kyuhyun
2PM Nickhun

Support Cast :
SNSD Tiffany
SNSD Taeyeon
T-Ara Eunjung
f(x) Krystal
etc

Genre : AU, Romance, Friendship, Series

Length : Chaptered

Credit poster : elf4kimchi@mellowchicken.wp.com

>>>

Jessica POV

“Nickhun???!!!

“Annyeonghaseo..” sapanya.

“A-apa yang kau lakukan disini?” tanyaku.

“Ingin menemui seseorang.”

Aku menelan saliva-ku.

“Jadi kau adalah- hmmppphh!!!” aku langsung membungkam mulut Taeyeon.

“Waeyo?” tanya Nickhun tampak kebingungan.

“Tidak apa-apa.” jawabku sambil terkekeh pelan.

“Jessi, kami pergi dulu ya.” kata Tiffany seraya menyeret Taeyeon pergi, Kyuhyun mengikuti mereka.

Bagus! Sekarang aku tinggal berdua dengan Nickhun. Apa yang harus ku lakukan?

“Bisa kita bicara sebentar?”

“Ye?”

“Sebenarnya yang ingin ku temui adalah kau.”

“Mwo? Jinjchayo?” tanyaku tak percaya.

“Engg- malam ini kau jadi ke rumah ku, kan?” tanyanya.

“Geurom. Aku pasti datang.” jawabku bersemangat.

“Aku senang kau bisa datang. Aku sangat mengharapkan kedatanganmu. Berjanjilah untuk tidak mengecewakan ku, Jess.” ucapnya.

“A-arasseo.” jawabku mengerti.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Annyeong!” pamitnya.

“Nde. Annyeong~” balasku.

Apakah Nickhun benar-benar penggemar rahasia-ku? Oh Tuhan, aku butuh petunjuk. Semoga saja penggemar rahasia-ku mengirim surat lagi.

>>>

“Jess, sorry. Aku tak bisa menemanimu malam ini. Malam ini aku ada les piano.” ucap Tiffany.

“Really?” tanyaku seraya memasang ekspresi sedih. Padahal aku sangat senang.

“Na do, Sic. Malam ini ada film Action yang tak bisa ku lewatkan.” ucap Taeyeon.

“Yahh!” keluhku. Padahal aku sangat gembira.

“Aku bisa menemanimu, Sic.”

Aku menoleh ke sumber suara,
“Kyuhyun?”

“Untunglah Kyuhyun bisa.” ucap Tiffany.

“K-keunde..”

“Nanti malam jam berapa memangnya?” tanya Kyuhyun.

Tsk! Kyuhyun benar-benar akan ikut. Otte? Aku tidak bisa melakukan pendekatan dengan Nickhun deh.

“Kyu, bisa kita bicara sebentar?” tanyaku.

“Geuraeyo.” jawabnya.

Aku menarik tangannya dan membawanya ke tempat yang cukup sepi.

“Untuk apa kita kesini?” tanyanya.

“Kyu, jebal. Kau tak usah ikut ya?” pintaku.

“Mwo? Wae?”

“Malam ini harus menjadi malam terspesial untukku. Aku harus datang sendiri supaya bisa bersama Nickhun berdua. Kau harus paham padaku, Kyu. Kau tahu kan aku menyukainya?”

“Baiklah. Kalau itu yang kau inginkan. Aku tidak ikut.” jawab Kyuhyun.

Aku tersenyum lalu memeluknya erat,
“Gomawo, Kyu. You’re the best!” ucapku.

End Jessica POV

Kyuhyun POV

Sica benar-benar telah di pengaruhi oleh Nickhun. Dia jadi sangat menyukai pria itu. Rasanya kesal sekali. Kenapa Nickhun juga ada di Perpustakaan? Rencana ku jadi gagal total. Apa aku harus mengirim surat lagi ya pada Sica?

“Kyu!”

“Nickhun? Wae?” tanyaku.

“Kau jadi datang kan malam ini?” tanyanya.

“Anni.” jawabku dingin.

“Mwo? Waeyo?” tanyanya.

“Aku sibuk malam ini” jawabku.

“Arasseo.” ucapnya.

Aku segera pergi meninggalkannya. Melihat wajahnya, rasanya ingin ku cabik-cabik. Betapa kesalnya aku padanya karena telah mengambil hati wanita yang ku sukai.

End Kyuhyun POV

>>>

Jessica POV

Aku sedang sibuk memilih pakaian. Sebentar lagi pukul 20:00. Aku harus cepat-cepat.

“Onnie~” tiba-tiba saja Krystal muncul dari balik pintu kamarku.

“Kryssie, bantu aku memilih gaun.” pintaku.

“Arasseo.” jawabnya.

Dia memilihkan beberapa gaun untukku. Aku mencobanya satu persatu sampai aku menemukan gaun yang cocok. Aku memilih gaun biru selutut yang cukup elegan.

“Sekarang tinggal berdandan!”

Aku segera mempermak wajahku. Sedangkan Krystal merias rambutku.

“Onnie, kau sangat cantik.”

“Gomawo, Kryssie. Ini semua berkat bantuanmu juga.” jawabku.

>>>

Aku telah sampai di sebuah club di hotel bintang 5. Aku melihat beberapa orang yang tak asing di mataku.

“Jess!”

Aku menoleh ke sumber suara, “Nickhun?”

“Whoa! Neomu yeppeoda!” pujinya.

“Gomapsheumnida..” jawabku tersipu.

“Taeyeon Tiffany eoddiga?”

“Mereka tak bisa datang. Katanya sibuk.” jawabku.

Tiba-tiba ponsel Nickhun berdering. Ia segera merogoh ponselnya.

“Hyung? Sebentar Jess. Aku angkat dulu.” katanya lalu pergi.

Tiba-tiba seseorang mendorongku dari belakang.

“Eunjung?”

“Dasar wanita murahan. Nickhun dan aku belum resmi putus. Tapi kau sudah berani dekat-dekat dengannya?” bentaknya padaku.

“M-mollasheumnida.” ucapku.

“Tidak usah pura-pura tidak tahu.”

“Tapi aku benar-benar tidak tahu.” ucapku.

“JANGAN MENGELAK!!”

BYURR!!!

Dia menyiramku dengan wine-nya. Lihat dirimu, Jessica. Berantakan!

“DASAR WANITA GENIT!! PENGGODA!! PEREBUT KEKASIH ORANG!!” hinanya.

Semua orang melihatku. Mereka terlihat sedang mengejekku walau tidak secara langsung. Ok, aku benar-benar ingin menangis sekarang.

“Eunjung, apa yang kau lakukan pada Jessica?”

“Nickhun?”

“Jess, gwenchana?” tanya Nickhun padaku.

Aku tak menggubris pertanyaannya. Aku langsung pergi berlari dari tempat ini. Aku ingin pulang. Aku menyesal tidak mengajak Kyuhyun.

End Jessica POV

Author POV

Jessica pulang ke rumah dengan keadaan basah kuyup. Krystal benar-benar kaget melihatnya. Jessica langsung berlari ke kamarnya dan mengunci rapat pintu kamarnya. Sedangkan Krystal hanya bisa mengetuk pintu beberapa kali, memohon agar kakaknya segera keluar.

“Aku harus menelpon Tiffany onnie.”

Krystal mencari kontak Tiffany dan menghubunginya. Namun tidak aktif. Ia menghubungi Taeyeon, namun tidak di angkat.

“Aish~ ottokhe?” gumamnya.

Tiba-tiba ponsel Krystal berdering. Krystal segera mengangkatnya.

“Yoboseyo?”

“Krystal? Ini aku Kyuhyun.”

“Kyu oppa?”

“Krystal, ku dengar kau sudah pulang ke Seoul.”

“Majayo.”

“Onnie-mu sudah pergi ke pesta?”

“Oppa, Sica onnie sedang bersedih.”

“Mworagu?”

“Cepatlah kemari dan bujuk dia untuk keluar dari kamarnya!”

“Arasheumnida. Aku segera kesana.”

End Author POV

Jessica POV

Aku benar-benar bodoh. Apa selama ini Nickhun mempermainkanku? Tega sekali dia bohong padaku. Dia bilang dia sudah putus dengan Eunjung. Tapi nyatanya?

Tok! Tok!

Aku segera mematikan hairdrayer. Aku beranjak ke depan pintu dan membukanya.

“KYU!!” seruku lalu segera memeluknya erat.

“Sic, gwenchana?”

“Nde.” jawabku.

“Kau wangi?”

“Hah??”

“Kau baru selesai mandi?” tanyanya.

“Nde.”

“Pantas saja kau tak membukakan pintu. Krystal panik. Dia pikir kau kenapa-napa!” omelnya.

“Mianhe. Aku harus mandi. Tubuhku bau wine tadinya.”

“Apa yang Nickhun lakukan padamu?” tanyanya.

“D-dia berbohong padaku.” jawabku.

“Berbohong apa?”

“Katanya, dia dan Eunjung sudah putus. Tapi nyatanya tidak. Eunjung memakiku dan menyiramkan wine ke tubuhku!”

“Keterlaluan.”

“Mianhe, Kyu. Aku menyesal tak memperbolehkanmu ikut.” ucapku.

“Gwenchana.”

“Kyu, kau sudah makan? Ku buatkan makanan dulu ya.” tawarku.

“Anni. Biar Krystal saja yang masak. Nanti aku sakit perut!”

“Pelecehan. Kau pikir masakanku sangat tidak enak?” tanyaku kesal.

“Bercanda.”

End Jessica POV

Next day.

Author POV

Taeyeon dan Tiffany sudah mendengar semuanya dari Kyuhyun. Mereka minta maaf pada Jessica karena tak bisa datang ke rumahnya. Jessica dengan senang hati memaafkan mereka.

“Jess, apakah sampai sekarang kau masih yakin kalau Nickhun adalah penggemar rahasiamu?” tanya Tiffany.

“Petunjuk memang mengarah ke dia. Tapi aku belum bisa yakin. Aku harap penggemar rahasia-ku mengirimkan surat lagi.” jawab Jessica.

Mendengar itu, Kyuhyun tersenyum puas. Ia memang sudah menyelipkan surat di loker Jessica. Kali ini ia berharap kalau dia tak gagal lagi.

>>>

Jessica berjalan menuju lokernya. Ia menemukan surat. Dibukanya perlahan dengan jantung yang berdebar-debar.

Jessica..

Mungkin kau sempat mengiraku orang lain.
Tapi itu bukan aku.
Aku sedikit kesal saat kau tak menemuiku.
Kali ini aku tidak ingin kau salah lagi.

Temui aku di atap sekolah jam istirahat pertama.

Your Secret Admirer

“Jadi benar bukan Nickhun?” tanyaku pada diriku sendiri.

Jessica segera berlari menuju atap sekolah. Ia ingin menaiki anak tangga, namun Nickhun mencegatnya.

“Mau apa kau ke atas? Kau mau bunuh diri?” tanya Nickhun.

Jessica melepaskan lengannya dari genggaman Nickhun,
“Bukan urusanmu!”

Nickhun kembali menarik tangan Jessica,
“Jadi benar kau mau bunuh diri?”

“Lepaskan! Apa pedulimu?”

“Jess, listen me!” pinta Nickhun.

“Lepaskan aku, Nickhun!”

“Shireoyo!” tolak Nickhun.

“Wae?”

“B-because, I think.. I- I-”

“Mwo?” tanya Jessica penasaran.

“I like you..”

TBC!

Jangan lupa komentarnya yang banyak yaa! Kalau kurang, saya akan protect chapter selanjutnya.