Who I Love? (Chapter 5)


who-i-love

Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
o SNSD’s Jessica as Jessica Jung
o EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
o EXO-M’s LuHan as Xiao Lu Han
o EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol

Support Cast :
o SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
o SNSD’s YoonA as Im Yoona
o EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
o SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
o EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
o etc

Genre : Fluff, Romance, Friendship

Length : Series

    Poster by © pearlshafirablue

>>>

Jessica dan Sehun spontan mundur dan mereka berdua terjatuh dari atas ranjang ke lantai yang dingin.

“Aw!,” ringis keduanya.

Seohyun menghampiri Sehun dan membantunya berdiri, “Kau tidak apa-apa?,” tanyanya.

Sehun menggeleng seraya bangkit dengan bantuan Seohyun.

Sedangkan Jessica bangkit dengan sendirinya. Chanyeol, Baekhyun, dan Taeyeon pun menghampirinya.

“Apa yang terjadi, Jung-ya? Apa yang kalian lakukan?,” tanya Chanyeol panik.

“Aku tidak tahu. Aku lupa,” jawab Jessica.

Taeyeon mendesis, “Kau terlalu polos, Sica-ah,” cibirnya.

Seohyun menarik Sehun hingga menghampiri teman-temannya.

“Kalian berdua harus menjelaskannya sekarang!,” perintah Seohyun.

“Kami tidak melakukan apa-apa, Seohyun-ah. Tadi malam ia ketakutan karena listrik padam dan ia memintaku untuk menemaninya tidur,” jawab Sehun.

“APA?,” pekik Jessica, “Aku yang memintamu?,” tanyanya tak percaya.

“Ku rasa kepalamu terbentur saat kau jatuh tadi. Apa kau benar-benar lupa, Jessica Jung?,”

Jessica mengusap kepalanya, “Ingatanku belum bisa terkumpul jika baru bangun,” jawabnya, “Bagaimana jika kita bicarakan ini setelah mandi dan sarapan?,” usulnya.

“Ide bagus!,” setuju Chanyeol.

Taeyeon menggelengkan kepalanya, “Mengapa hal ini menjadi rumit?,” gumamnya prustasi.

***

Sesuai usul Jessica, mereka semua berkumpul di ruang tengah setelah mandi dan sarapan. Mereka tengah menanti penjelasan Jessica setelah Jessica berhasil memulihkan memorinya yang tadinya menghilang.

“Apa kau sudah mengingatnya?,” tanya Seohyun.

Jessica mengangguk, “Semua yang di katakan Sehun benar,” jawabnya.

Sehun tersenyum puas. Untunglah Jessica tidak membual dengan mempertinggi derajatnya. Ya, biasanya Jessica selalu seperti itu meskipun ia sedang terlibat dalam masalah besar.

“Tapi tetap saja Sehun yang duluan masuk ke kamarku,” tambah Jessica dengan ekspresi cemberutnya.

Baekhyun memukul kepala Sehun, “Untuk apa kau masuk ke kamarnya?,” tanyanya.

Sehun membalas memukul kepala Baekhyun, “Untuk tidur, tentu saja. Jika kalian tidak menguasai ranjangku, mungkin hal ini tidak akan terjadi,” jawabnya.

Baekhyun dan Chanyeol saling menatap. Lalu mereka menatap Sehun sambil menyengir seperti kuda.

“Sudah ku duga biang permasalahannya adalah mereka,” gumam Taeyeon.

“Jadi, semua ini berakhir sampai disini?,” tanya Chanyeol.

“TIDAK!,” jawab Seohyun.

Taeyeon, Chanyeol, dan Baekhyun menatap Seohyun bingung. Sedangkan Jessica dan Sehun menatap Seohyun horor. Mereka merasa mereka akan ketiban musibah setelah ini.

“Melanggar peraturan rumah dari haraboji yaitu tidur berdua dalam satu ranjang dan berbeda jenis akan di kenakan pasal—,”

“Seohyun-ah, kita ini bukan pemerintah, hakim, atau sejenisnya,” sahut Taeyeon datar.

Seohyun menyengir, “Maafkan aku. Aku terlalu berkeinginan menjadi seorang politikus,” jawabnya.

“Kami akan benar-benar di hukum?,” tanya Sehun.

Seohyun mengangguk, “Kita tidak bisa melupakan peraturan yang di buat dari haraboji, Sehun-ah. Beliau menginginkan rumah ini selalu menjadi suci,” jawabnya.

“Tapi, kami tidak melakukan apapun selain tidur, Seohyun-ah,” ucap Jessica.

“Maaf, Sica-ya. Aku tidak bisa. Ini adalah peraturan dari haraboji,” ucap Seohyun.

Sehun dan Jessica menghela napas berat kompak. Mereka sudah pasrah dengan hukuman apa yang akan di berikan oleh Seohyun.

“Tenang saja. Hukumannya ringan kok,” ucap Seohyun.

“Baiklah. Apa hukumannya?,” tanya Sehun.

Seohyun tersenyum, “Tangan kalian harus di borgol selama satu hari,” jawabnya.

“DI BORGOL??!!,” teriak Sehun dan Jessica tak percaya.

“Iya,” jawab Seohyun, “Kalian akan selalu bersama dalam satu hari,” lanjutnya.

“Aku tidak rela melihat Sehun bersama Jessica terus selama satu hari,” rengek Chanyeol.

“Seohyun-ah, apa ini tidak berlebihan?,” tanya Taeyeon.

Seohyun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.

“Satu hari? Tidak masalah. Kapan hukumannya di mulai?,” tanya Sehun.

“Besok, saat sekolah,” jawab Seohyun.

“APA?????!!!!,” teriak Sehun dan Jessica lagi.

***

“Ayo kita berangkat sekarang!,” seru Seohyun.

Sehun dan Jessica keluar dari rumah dalam keadaan terborgol satu sama lain. Itu artinya, mereka takkan bisa terpisahkan selama borgol tersebut tidak bisa di buka karena kuncinya ada di tangan Seohyun.

“Apa yang akan di katakan para guru, Seohyun-ah?,” tanya Sehun lemas.

“Akan ku katakan pada mereka bahwa ini adalah ritual yang di buat oleh haraboji,” jawab Seohyun.

“Benar-benar alasan yang tidak masuk akal,” gumam Sehun.

“Bagaimana jika aku ingin ke toilet?,” tanya Jessica.

“Kalian pasti bisa mengatasinya sendiri,” jawab Seohyun.

Sehun dan Jessica menghela napas kasar. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Sementara Seohyun mengambil alih mengemudi yang biasanya di pegang oleh Sehun.

***

Jessica merasakan aura kegelapan dimana-mana. Semua murid perempuan di kelasnya menatapnya tajam. Ya, tentu saja karena mereka tidak rela idola mereka terus menempel bersama si murid baru berdarah campuran itu.

“Meskipun itu ritual dari haraboji-nya, tetap saja aku tidak rela,” seru seorang murid perempuan.

“Kenapa bukan aku saja yang di borgol bersama Sehun?,”

“Ah, aku benar-benar iri pada Jessica itu,”

Jessica mengusap kupingnya yang memanas. Andai saja laki-laki yang di borgol bersamanya adalah Luhan, Jessica pasti sudah merasa berada di surga meskipun ia belum tiada.

“Aku ingin ke toilet,” ucap Sehun, dengan wajah yang memucat.

“K-Ke toilet?,”

Sehun beranjak berlari keluar dari kelas. Tentu saja Jessica ikut berlari karena tangannya akan terus mengikuti kemana Sehun pergi. Dan yang benar saja. Mereka pergi menuju toilet laki-laki.

“Sehun-ah, aku tidak mau!,” protes Jessica.

“Aku sudah tidak tahan, Jessica-ya. Ayo cepat masuk,” seru Sehun.

Dengan paksaan, akhirnya Sehun dan Jessica masuk ke dalam toilet. Minseok yang baru keluar dari toilet mengerjap kaget.

“Oh Sehun dan Jessica Jung—berdua di dalam toilet?,”

***

“Benarkah?,”

Minseok mengangguk cepat. Ia masih syok melihat dua murid yang masuk ke dalam toilet itu. Ia tampak berpikir keras, apa saja yang mereka lakukan disana?

Luhan menyeruput tehnya, “Itu artinya, aku sudah benar 100%, hyung,” ucapnya.

Minseok mengernyit heran, “Benar apanya?,” tanyanya.

“Soal Sehun dan Jessica. Itu artinya Sehun pasti menyukai Jessica,” jawab Luhan.

“Aku tidak bisa menyalahkan perkataanmu. Dua murid berbeda jenis masuk ke dalam toilet. Sangat wajar jika di katakan mereka memiliki ikatan,” ucap Minseok.

Luhan mengangguk mantap.

“Apa aku mengganggu?,” tanya seorang murid perempuan yang menghampiri meja Luhan dan Minseok di kantin, “Apa aku boleh bergabung?,” tanyanya.

“Tentu, Yoona-ah,” jawab Luhan, di sertai senyuman khasnya.

Yoona duduk di samping Luhan, “Aku benar-benar masih mengingat tempat ini, Luhan. Maksudku—meja ini. Kita selalu makan disini berdua, bukan?,”

Luhan mengangguk, “Meja kita,” ucapnya.

Wajah Yoona bersemu merah. Ia selalu seperti ini di setiap Luhan mengeluarkan kata demi kata yang mampu membuat jantungnya berdetak tidak normal. Yoona akui, ia masih mencintai lelaki oriental di sampingnya itu.

“Lihat! Yoona sunbae dan Luhan sunbae sepertinya akan memulai hubungan mereka lagi,”

“Aku iri pada mereka,”

“Mereka adalah pasangan yang sangat cocok,”

“Setidaknya Luhan sunbae lebih pantas di sandingkan dengan Yoona sunbae daripada si murid berdarah campuran itu,”

Telinga Jessica benar-benar panas mendengarnya. Ia segera bangkit dan ingin pergi. Namun, kekuatannya tidak cukup besar untuk menarik Sehun mengikutinya. Sehun masih melahap makanannya sambil menarik Jessica untuk duduk kembali.

“Kau cemburu, eoh?,” tanya Sehun.

“Tidak,” jawab Jessica.

“Bagus kalau begitu,” ucap Sehun.

Jessica menatap Sehun bingung, “Bagus apanya?,” tanyanya.

Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica, “Bukankah sudah ku bilang, jangan mendekati Luhan lagi. Dia bukan orang yang baik,” jawabnya.

Wajah Jessica memerah seperti tomat. Sehun menjauhkan wajahnya saat melihat mereka menjadi pusat perhatian semua murid di kantin. Sehun kembali melahap makanannya dan bertindak seolah ia tidak melakukan hal apapun.

Sedangkan jantung Jessica berdetak kencang. Untuk yang pertama kalinya, ia bisa melihat Sehun dengan jarak sedekat itu. Sebenarnya dua kali. Bukankah Sehun dan Jessica pernah berciuman sebelumnya? Tentu saja wajah mereka berjarak dekat. Hanya saja, saat itu Jessica tidak begitu menyadarinya karena Jessica terlalu syok dengan apa yang di lakukan Sehun kepadanya. Jadi, ia menganggap ini yang pertama kalinya. Dan Jessica akui, Jessica sempat terhipnotis dari mata indah milih musuh bebuyutannya itu.

Jessica menarik napas, “M-Mengapa kau selalu berkata dia bukan orang yang baik?,” tanyanya, mencoba mengalihkan pikiran anehnya tadi.

“Kau akan tahu nanti,” jawab Sehun.

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Jangan membuatku penasaran,” rengeknya.

“Aku akan memberitahumu jika kau mau menjadi kekasihku,” ucap Sehun.

“Itu mudah. Aku mau—,” Jessica tersadar, “APA??!!,” teriaknya, membuat mereka kembali menjadi pusat perhatian.

Sehun menjitak kepala Jessica, “Teriakanmu itu lebih parah daripada teriakan lumba-lumba,” cibirnya.

Jessica mengusap kepalanya, “Aku kaget,” ucapnya, “Jangan meminta yang aneh-aneh, bodoh,”

Sehun terkekeh, “Kau benar-benar tidak bisa di ajak bercanda, ya?,”

“Kau sendiri sangat payah untuk mengajak orang bercanda,” ucap Jessica kesal.

“Bukankah sudah ku bilang jangan lagi memanggilku payah? Aku sudah mengalahkanmu bertanding dua kali,” seru Sehun.

“Tapi, gelar payahmu tetap tidak bisa di hilangkan, payah,” jawab Jessica.

“Dasar darah campuran!,” ejek Sehun.

“Dasar payah!,” balas Jessica.

Perdebatan antara Sehun dan Jessica kembali menjadi pusat perhatian semua orang.

“Kau yakin mereka memiliki ikatan?,” tanya Minseok, yang melihat perdebatan di antara Sehun dan Jessica.

Luhan menggigit bibirnya, “Aku menjadi kurang yakin sekarang,” jawabnya.

“Mengapa tangan mereka di borgol?,” tanya Yoona.

Luhan dan Minseok menatap tangan mereka yang di borgol. Mereka baru menyadarinya sekarang.

“Pasti mereka melakukan hal bodoh lagi,” gumam Minseok.

Luhan menyeringai, “Pasti ini trik Sehun agar Jessica tidak bisa mendekatiku,” gumamnya pelan.

“Kau bicara apa, Luhan-ah?,” tanya Yoona.

Luhan menggeleng, “Bukan apa-apa,” jawabnya.

***

Seohyun sedari tadi senyum-senyum sendiri melihat Jessica dan Sehun duduk berdua meskipun keduanya masih berdebat. Taeyeon merasa ada yang tidak beres. Ia pun menghampiri Seohyun.

“Apa yang kau sembunyikan?,” selidik Taeyeon.

Seohyun mendadak grogi, “Ngg—a-aku tidak—,”

“Jangan bohong!,” potong Taeyeon, “Kau tidak bisa membohongiku, Seohyun-ah. Mungkin kau bisa membohongi Jessica yang polos itu,”

“Baiklah, akan ku katakan padamu,” ucap Seohyun akhirnya.

Taeyeon tersenyum puas. Ia pun memasang panca inderanya untuk mendengarkan perkataan Seohyun.

“Hukuman yang ku buat, ku tujukan untuk mereka, karena aku ingin mereka bersatu,”

“Sudah ku duga,” jawab Taeyeon.

Seohyun mengerjap, “K-Kau tahu?,” tanyanya tak percaya.

“Terlihat sangat jelas, Seohyun-ah. Bahkan Baekhyun juga mengira seperti itu. Sangat aneh kau membuat hukuman konyol itu jika alasannya bukan seperti itu,” jawab Taeyeon, “Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah—mengapa kau menginginkan mereka bersatu? Apa kau tidak cemburu?,” tanyanya.

Seohyun tersenyum, “Aku tidak cemburu. Dan—entah mungkin karena aku dan Sehun memiliki ikatan seperti saudara, aku bisa merasakan bahwa Sehun menyukai Jessica. Meskipun secara tidak langsung Sehun tak memberitahuku,” jawabnya.

“Kalian memang bersaudara, Seohyun-ah,” ucap Taeyeon, “Meskipun awalnya kalian hanya bersahabat,” lanjutnya.

Seohyun mengangguk. Ia kembali menatap Sehun dan Jessica yang sedang bertatapan. Ia kembali tersenyum melihatnya.

“Benar-benar pasangan yang cocok,” gumam Seohyun.

“Cocok darimana? Mereka selalu bertengkar setiap saat,” gumam Taeyeon pelan.

***

Waktu untuk pulang sekolah pun telah tiba. Seohyun berjalan di samping Sehun dan Jessica yang masih di borgol. Jessica senang karena sebentar lagi borgol mereka akan di lepas. Tetapi berbeda dengan Sehun. Sehun merasa dengan di borgol, Jessica takkan bisa bertemu dengan Luhan. Ya, Sehun selalu ingin melindungi Jessica dari Luhan.

“Astaga!,” pekik Seohyun tiba-tiba.

“Ada apa, Seohyun-ah?,” tanya Sehun.

“Buku matematika milikku tertinggal di kelas, Sehun-ah,” jawab Seohyun.

“Aku akan mengambilnya,” ucap Sehun.

“Tidak!,” seru Seohyun.

Sehun mengernyit, “Kenapa?,” tanyanya.

“Kau dan Jessica pergi ke mobil terlebih dahulu. Aku akan mengambilnya sendiri. Mana mungkin aku membiarkan kalian berdua kembali ke kelas dalam keadaan di borgol seperti itu. Kalian pasti akan kelelahan,” jawab Seohyun.

“Benar juga,” gumam Jessica.

“Aku segera kembali,” pamit Seohyun, lalu berlari menuju kelasnya.

Sehun dan Jessica kembali berjalan menelusuri koridor sekolah yang mulai menyepi. Tiba-tiba, mata mereka menangkap dua murid yang berada di ujung koridor sedang berpelukan.

“Luhan sunbae dan Yoona sunbae,” lirih Jessica.

Ya, mereka adalah Luhan dan Yoona. Terlihat jelas bahwa Yoona sedang menangis di dalam pelukan Luhan. Jessica yang merupakan penggemar berat Luhan merasa miris melihatnya. Tak tahan, Jessica pun berlari dan spontan Sehun juga ikut berlari karena tangannya di borgol.

Dan entah setan apa yang merasuki diri Jessica, Jessica memiliki kekuatan yang sangat besar. Bahkan untuk menarik Sehun yang lebih besar darinya saja ia bisa melakukannya dengan mudah. Sehun terus mengerjap tak percaya. Bahkan ia merasa lelah karena Jessica terus berlari dan membuatnya mau tidak mau harus berlari juga.

Sehun kaget saat Jessica berlari ke balkon sekolah. Ia pikir Jessica akan membawanya ke lantai dasar. Tapi, Sehun mengerti, Jessica sedang sedih karena sakit hati. Sehun membenci fakta tersebut.

Jessica duduk di kursi panjang bersama Sehun. Angin menyapu wajah keduanya dengan lembut. Air mata terus merembes membasahi pipi halus milik Jessica. Jessica terus menunduk seolah tidak peduli Sehun berada di sampingnya.

“Hentikan, payah. Kau tidak cantik saat menangis,” seru Sehun.

“Diam, bodoh. Memangnya aku peduli?,” balas Jessica setengah berteriak.

Sehun menelan salivanya kasar. Sepertinya Jessica benar-benar kelewatan batas. Hanya karena lelaki bajingan itu kau seperti ini, Jessica-ya? Konyol sekali, batin Sehun kesal.

“Oh, hentikan!,” ucap Sehun, seraya menarik Jessica ke dalam pelukannya. Kini Jessica terisak di dalam pelukan seorang Oh Sehun. Sehun memeluknya erat dengan penuh kebencian di dalam hatinya karena seorang Xiao Luhan berhasil melukai gadis yang menyinggahi hatinya. Ya, Sehun menyukai Jessica.

“Apakah aku kurang cantik, Sehun-ah? Atau aku sama sekali tidak cantik?,” tanya Jessica, yang masih berada di dalam pelukan Sehun.

“Kau ini bicara apa? Tentu saja kau cantik,” jawab Sehun.

“Tadi kau bilang aku tidak cantik?,” tanya Jessica.

“Hei, kau hanya tidak cantik saat menangis, payah,” jawab Sehun.

Jessica memukul dada Sehun kesal. Ia melepaskan diri dari pelukan Sehun sambil mengusap air matanya. Sehun benar-benar tidak bisa membuat perasaanku membaik, tidak seperti Luhan sunbae, gumamnya dalam hati.

Sehun tersenyum tulus, “Tapi—,” ia menahan kalimatnya sejenak hingga Jessica menoleh ke arahnya. “Di saat kau tersenyum, tertawa, kesal, marah, bahkan tidak tersenyum pun, kau selalu terlihat sangat cantik,” lanjut Sehun.

“S-Sehun-ah,” lirih Jessica.

“Sebenarnya cantik atau tidak, itu tidak terlalu penting,” Sehun menoleh ke arah Jessica, “Tetapi, yang paling penting adalah—apakah lelaki bisa menerima perempuan itu apa adanya dan mencintainya setulus hatinya?,”

Mata Jessica berkaca-kaca mendengarnya. Kata-kata terindah yang pernah Jessica dengar. Dan kata-kata itu berasal dari seorang lelaki yang selalu bersikap dingin dan tidak ada romantisnya sama sekali. Lelaki itu adalah Oh Sehun.

“Sehun-ah, kau—,”

“Apakah kau yakin Luhan bisa menerimamu apa adanya?,” tanya Sehun, memotong perkataan Jessica.

Jessica menunduk, “A-Aku tidak tahu,” jawabnya.

Sehun tersenyum, “Jangan terlalu berharap kepadanya, Jessica-ya. Lihat dan tataplah lelaki yang selalu berada di sampingmu, bukan lelaki yang membuatmu bahagia dalam waktu sekejap,” ucapnya.

Jessica mengangkat kepalanya. Speechless? Tentu saja. Jessica bahkan merasa lelaki yang berada di sampingnya saat ini bukanlah Oh Sehun.

“Oh, ternyata kalian disini!,”

Jessica dan Sehun menoleh ke belakang. Seohyun berhasil menemukan mereka dan menghampiri mereka.

“Kita harus pulang sekarang. Aku lapar,” rengek Seohyun.

“Hngg—bukumu sudah di temukan, Seohyun-ya?,” tanya Jessica.

Seohyun mengangguk, “Hm,” jawabnya, “Sebenarnya bukan aku yang menemukannya, tapi Chanyeol,” lanjutnya.

Sehun mengusap kepala Seohyun, “Oh, ada apa denganmu dan Chanyeol, uh? Kau tidak memberitahu kakakmu ini?,” godanya.

Wajah Seohyun memerah, “Kau ini bicara apa, Sehun-ah? Aku dan Chanyeol hanya teman kok,” bantahnya malu-malu.

Jessica dan Sehun terkekeh melihat Seohyun salah tingkah. Untuk yang pertama kalinya, Jessica melihat Seohyun seperti sedang jatuh ke dalam jurang cinta. Jessica yakin, Seohyun jatuh cinta pada Chanyeol. Pertanyaannya adalah, apakah Chanyeol juga menyukai Seohyun?, pikir Jessica.

***

Luhan dan Minseok berjalan menelusuri koridor sekolah. Tiba-tiba, seorang perempuan menghampiri mereka.

“Oh, Yoona-ah?,”

“Hm—Minseok-ya, bisa aku pinjam Luhan sebentar?,” pinta Yoona.

“Oh, tentu saja,” jawab Minseok, lalu pergi mendahului mereka.

“Ada apa, Yoona-ah?,” tanya Luhan.

Yoona menggigit bibirnya, “Aku berpikir bahwa—kita dapat memulai kembali hubungan kita,” ucapnya.

Luhan mengerjap, “Ngg—k-kau—,”

“Aku masih mencintaimu, Luhan-ah,” ungkap Yoona, “Selama di United States, aku tidak bisa melupakanmu. Aku selalu memikirkan kenangan kita bersama dan—aku berharap kita bisa kembali bersama lagi,”

Luhan mengusap tengkuknya, “A-Aku tak pernah memikirkan hal ini,” ucapnya.

Tubuh Yoona menegang, “M-Maksudmu—kau t-tidak lagi men-mencintaiku?,” tanyanya takut.

Luhan mengangguk pelan. Saat itu pula, air mata Yoona berlinang membasahi pipinya.

“Jadi, perhatianmu selama beberapa hari ini—hanya sebagai apa?,” tanya Yoona.

“Ku pikir kita hanya bisa berteman, Yoona-ah,” jawab Luhan.

Yoona mulai terisak. Berat baginya untuk menerima kenyataan ini. Namun, sesuatu melintasi pikirannya.

“Semua ini karena Jessica Jung, bukan?,” tebak Yoona.

“A-Apa?,”

“Sooyoung memberitahuku bahwa kau dekat dengan Jessica selama aku tidak ada. Kau mencintainya, bukan? Hingga kau melupakanku,”

“Y-Yoona-ah, b-bukan seperti itu,”

“Lalu apa, Luhan-ah? Lalu mengapa kau tidak mencintaiku lagi?,” tanya Yoona.

Luhan segera menarik Yoona ke dalam pelukannya. Yoona menangis hebat di dalam pelukan Luhan. Sedangkan Luhan hanya memeluk Yoona erat sambil memikirkan sesuatu.

Setelah tangisan Yoona mulai reda, Luhan melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata Yoona.

“Aku hanya ingin kita menjadi teman, Yoona-ah. Hanya teman,” ucap Luhan, lalu pergi meninggalkan Yoona sendirian. Di dalam hatinya, ia sibuk merutuki dirinya. Sebenarnya Luhan juga masih mencintai Yoona. Tetapi, demi membalas dendamnya kepada Oh Sehun, ia terpaksa melakukan ini semua.

“Aku tidak akan membiarkanmu hidup, Jessica Jung. Kau telah mengambil separuh jiwaku yaitu Luhan. Akan ku pastikan kau mati!,” gumam Yoona murka.

    TBC

Wuaahhh! Konflik mulai bertebaran. Hehe! Habis gue kurang srek kalo bikin FF yang jalan ceritanya mulus gitu aja. Jadi, gue tambahin deh konfliknya. Kayaknya Chanyeol udah tereleminasi nih? Benarkah? Jangan salah! Kita kan belum tau Chanyeol suka atau gak sama Seohyun. Meskipun Chanyeol pernah deg-degan ngeliat Seohyun, tapi kita tau kalo Chanyeol itu sukanya sama Jessica. Duh, kok jadi cerita gue? Ya udah lah, komen aja mah!

By the way, terima kasih buat kalian semua karena udah berhasil membuat gue ngelanjutin FF ini dengan komentar yang banyak. Komentar terbanyak yang pernah aku punya dari semua FF ku.

Iklan

Sacred In The Dust


Title : Sacred In The Dust

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
• SNSD’s Jessica as Jessica Jung
• EXO-K’s Suho as Kim Joonmyun

Support Cast :
• EXO-M’s LuHan as Xiao Lu Han
• EXO-K’s Kai as Kim Jongin
• EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
• SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
• SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
• SNSD’s Seohyun as Seohyun Jo
• SNSD’s YoonA as Im Yoona
• etc

Genre : Angst, Romance, Friendship

Length : Oneshot

Rating : PG17

Note : Terinspirasi dari lagu malaysia, lupa siapa penyanyinya yang pasti judul lagunya ‘Suci dalam debu’ sama dengan arti judul FF ini. Saya jatuh cinta sama liriknya apalagi pas di bawain oleh Alex Rudiart di X-Factor. Keke

    Poster © AzaleaChoi74 @ Graphics Art

>>>

Jessica sedang berjalan menelusuri koridor kampus di iringi ejekan dari para mahasiswa di kampus tersebut yang di tujukan kepadanya. Jessica sudah terbiasa dengan hal ini karena memang setiap hari mereka melakukan hal tersebut kepada Jessica.

Menyakitkan?

Tentu saja. Hingga Jessica harus meng-nonaktifkan pendengarannya. Bahkan Jessica sangat berharap bahwa ia bisa menjadi tunarungu. Namun, inilah pemberian Tuhan untuknya. Kesalahan harus di bayar dengan kesalahan. Kesalahan fatal yang ia buat membuahkan hasil yang sangat menakutkan.

Dan akhirnya.. Jessica sampai di kelasnya—ruang kelas jurusan bisnis manajemen. Jessica duduk di kursinya. Hingga datanglah dosen tampan dan muda masuk di kelas mereka.

“Good morning, everyone!,”

“Good morning, Mr. Kris,” balas semua mahasiswa.

Kris menatap Jessica yang sedang menunduk. Ia tersenyum kecil.

“What’s wrong, Jessica Jung?,” tanya Kris.

Jessica spontan mengangkat kepalanya. Wajah murungnya ia hapus sebisanya. Ia hanya menggelengkan kepalanya.

“If you sick, you must go to clinic!,” ucap Kris.

“No, thanks. I’m very well, sir,” jawab Jessica.

“Mana mungkin Jessica Jung sakit!,” seru Yuri.

“Pasti dia kelelahan karena sudah bercinta dengan banyak pria,” sahut Seohyun.

Seisi kelas menertawakan Jessica, kecuali Kris dan Kim Joonmyun—salah satu mahasiswa di kelas tersebut.

“Silent!,” ucap Kris, setengah berteriak.

Semua mahasiswa mengatup rapat mulut mereka. Jika Kris marah, kelas mereka akan hancur. Kris merupakan dosen muda yang sering sekali emosi. Bahkan para mahasiswa menganggapnya adalah seorang psikopat.

Kelas tersebut memulai pelajaran. Semuanya tampak sedang serius mengisi lembar soal yang di berikan Kris. Termasuk Jessica. Jessica sangat bersungguh-sungguh dengan jurusannya ini. Cita-citanya adalah menjadi seorang pebisnis atas yang ternama. Namun, cita-citanya seperti sekedar bayangan semu karena sedikitpun tak bisa ia capai karena statusnya yang jelek di mata semua orang.

Segumpal kertas tiba-tiba saja muncul di atas mejanya. Jessica mencari-cari sumber yang melemparkan kertas tersebut. Oh, ternyata player nomor 1 di kampusnya—Kim Jongin. Jongin sedang tersenyum kepada Jessica.

Jessica pun membuka kertas tersebut dan membaca isinya.

I want a beautiful night tonight. Please go to Swan Hotel in Busan. Don’t worry, I’ll pay you and I’m not tell anybody. Okay, honey?

Jessica menghela napas kasar. Terlebih lagi Jongin memakai bahasa Inggris yang sangat mudah ia mengerti. Jongin memintanya untuk melayaninya di Hotel Swan di Busan. Dia berjanji akan membayarnya dan tidak memberitahu orang lain.

Namun, segumpal kertas kembali ia dapatkan. Tanpa basa-basi, Jessica langsung membukanya.

WANITA JALANG!

Jessica bisa melihat Yuri yang menatapnya tajam. Oh, Yuri adalah mantan kekasih Jongin yang sampai saat ini masih mengejar Jongin.

Jessica tidak tahu harus berbuat apa. Keadaan memaksa dirinya untuk menyandang status tersebut. Dan seharusnya, Jessica di keluarkan dari kampusnya karena Jessica sudah mencemarkan nama baik kampus tersebut. Hanya saja banyak pihak yang masih tidak percaya dengan isu yang sudah tersebar luas di seluruh Korea Selatan. Jessica merupakan mahasiswa berprestasi. Sangat sulit untuk mempercayai bahwa Jessica adalah seorang wanita jalang.

>>>

Jessica sudah tiba di Hotel Swan. Jongin sudah mengirimkan nomor kamar melalui pesan teks. Setelah menanyakan resepsionis, Jessica segera pergi menuju kamar bernomor 121.

Dan.. Jessica sudah tiba di kamar tersebut. Jongin adalah pelanggan setia Jessica. Mereka sudah sering melakukan seks hingga Jessica mempercayai bahwa Jongin tak akan melaporkan ini kepada siapapun. Jessica sangat mengharapkan itu.

Pintu kamar tersebut terbuka. Jongin dengan keadaan telanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek memasang wajah polosnya. Ia tersenyum melihat Jessica mengenakan dress merah sepaha yang memperlihatkan paha mulus yang tak pernah membosankan seorang Kim Jongin.

“Ayo masuk, sayang. Aku sudah tidak sabar,” ucap Jongin.

Jessica menghela napas kasar. Terkadang dirinya ingin menangis. Ia sudah terjebak di dunia ini. Ia hanyalah debu yang sudah tak suci lagi.

Jongin berjalan hingga ia berada di belakang Jessica. Tangannya melingkari perut Jessica dan berusaha mendorong agar Jessica yang sedari tadi melamun untuk masuk ke dalam kamar yang sudah ia pesan.

>>>

Jessica terbangun dari tidurnya. Ia menemukan dirinya berada di tempat asing. Oh, ia hampir lupa apa yang ia lakukan tadi malam bersama pria yang saat ini masih terlelap di sampingnya. Mereka berdua tak mengenakan busana dan hanya terbalut oleh selimut. Jessica pun segera beranjak dan meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Jessica pergi menuju kamar mandi di kamar tersebut untuk membersihkan diri.

Setelah selesai berpakaian lengkap, Jessica melihat Jongin yang juga sudah berpakaian lengkap berjalan menghampirinya. Jongin memberikan uang dengan angka yang lumayan besar kepada Jessica.

“Tadi malam kau lemas sekali. Harusnya kau membalasku. Aku menginginkan malam seperti malam pertama kita bertemu lain kali. Aku akan membayarmu lebih,” ucap Jongin.

Jessica terkisap dengan pria yang berada di hadapannya. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Jessica yakin, bukan hanya dirinya yang menjadi partner seks seorang Kim Jongin.

>>>

Jessica dan sahabatnya—Taeyeon—sedang makan siang di sebuah kafe. Hari ini merupakan hari libur untuk kelas mereka. Jadi, mereka bisa bebas tanpa harus penat memikirkan pelajaran.

“Tadi malam kau melayani Jongin lagi?,” tanya Taeyeon.

Jessica mengangguk lemas.

“Dia membayarmu berapa?,” tanya Taeyeon.

“Lima puluh juta won,” jawab Jessica.

Taeyeon sedikit kaget mendengar jumlah yang banyak. Namun ini sudah biasa untuk Jessica karena biasanya ia di bayar lebih oleh pria-pria lain. Namun, sepertinya hanya Kim Jongin yang paling banyak membayar Jessica. Sebelumnya Jongin pernah membayar Jessica sekitar satu milyar won.

“Pasti madam Rose sangat mencintaimu,” ucap Taeyeon.

“Maksudmu?,”

“Kau adalah mesin pencetak uang untuknya. Maka dari itu, sampai saat ini ia tak pernah mengijinkanmu berhenti menjadi pekerjanya. Jika kau melepas pekerjaan ini, maka ia akan melaporkan tentang perbuatanmu selama ini kepada semua orang,” jawab Taeyeon.

Jessica menghela napas berat, “Dia benar-benar mengancamku. Aku ingin sekali berhenti,” ucapnya.

“Kau sudah berada di posisi itu, Sica-ya. Mau tidak mau, kau harus menyelesaikan posisimu hingga akhir,” ucap Taeyeon.

Jessica terdiam. Inilah resikonya. Ia merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling sial di dunia. Ya, ia selalu merasa seperti itu.

>>>

Jessica sedang memeluk sebuah buku tebalnya sambil berjalan menelusuri koridor kampusnya. Saat ia melewati tikungan, tiba-tiba saja ia menabrak seorang mahasiswa. Buku yang Jessica peluk menjadi terjatuh ke lantai.

“M-Maafkan aku. Aku sangat menyesal,” sesal Jessica.

Mahasiswa itu tersenyum lalu meraih buku tebal milik Jessica dan memberikannya pada Jessica.

“Lain kali hati-hati, Jessica-shi,” ucapnya lembut.

Jessica terpana akan senyuman dan suara lembutnya. Siapa yang tak terpana dengan kesempurnaan Kim Joonmyun—mahasiswa tampan dengan kepribadian yang sangat baik. Jessica merasa tidak pantas berteman dengan pria sesuci Kim Joonmyun yang sering berdoa ke gereja dan menyumbang dana yang ia dan keluarganya punya untuk orang-orang yang tidak mampu.

“A-Aku permisi dulu, Joonmyun-shi,” ucap Jessica, seraya membungkuk sopan lalu meninggalkan Joomnyun.

Joonmyun berbalik dan menatap punggung Jessica yang semakin menjauh. Ia mengukir senyuman di bibirnya. Benar-benar gadis yang manis, batinnya.

>>>

Jessica masuk ke dalam kelasnya. Ia melihat Jongin yang sedang bersama teman-temannya tersenyum ke arahnya. Jessica tak mempedulikan pria yang menidurinya kemarin malam itu. Jessica segera duduk di tempatnya.

Seperti biasa, di mejanya penuh dengan gumpalan kertas. Jessica membukanya satu persatu. Semua isinya sama saja. Kertas yang mengatai Jessica adalah seorang pelacur sialan. Jessica memasukkan gumpalan kertas tersebut ke dalam tasnya daripada ia harus melihat keadaan mejanya yang berantakan.

Jessica baru saja ingin mengambil pena miliknya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Pena miliknya ia letakkan di dalam buku tebalnya. Tetapi, ia sudah mengobrak-abrik setiap halaman buku tersebut dan ia belum mendapatkannya.

“Mencari ini?,”

Jessica mendongakkan kepalanya. Oh, ternyata pria suci—Kim Joonmyun. Jessica mendadak grogi. Selalu saja grogi di setiap ia berjumpa dengan Joonmyun yang selalu ramah pada semua orang. Ia pikir Joonmyun berbeda dengan pria-pria lain yang bajingan.

Jessica perlahan meraih pena yang di pegang oleh Joonmyun, “T-Terima kasih,” ucapnya.

Joonmyun tersenyum, membuat Jessica menelan salivanya kasar. Oh my goodness, senyumannya seperti malaikat, pikir Jessica.

“Aku harap kita bisa berteman,” ucap Joonmyun, lalu kembali ke kursinya.

Jessica terdiam sembari memikirkan kalimat terakhir Joonmyun. Berteman? Apa Joonmyun tidak salah bicara?, pikirnya.

Jessica sangat menyadari bahwa ia seribu kali tidak pantas untuk berteman dengan Joonmyun. Maka dari itu, ia masih tak percaya Joonmyun mengatakan kalimat hangat seperti itu.

>>>

Sudah dua hari berlalu, ia tak mendapatkan pekerjaan. Mungkin saat ini pekerja-pekerja Madam Rose masih sanggup melayani pria-pria brengsek selagi Jessica masih sibuk kuliah.

Tiba-tiba, Tao—mahasiswa satu kelas dengan Jessica—menghampiri Jessica. Jessica sempat kaget. Ia sempat berpikir apakah pria asal China itu ingin di layani olehnya juga seperti Jongin. Karena yang ia tahu, Tao dan Jongin adalah sahabat, juga dengan Sehun dan Chanyeol.

“Jessica-shi, ada kabar buruk,” seru Tao.

Jessica spontan berdiri. Ia melihat wajah panik dari Tao, “Apa yang terjadi?,” tanyanya.

“Sahabatmu—Kim Taeyeon jurusan kelas seni, dia terjatuh dari tangga dan sekarang sedang di rawat di ruang kesehatan,” jawab Tao.

Jessica pun segera berlari keluar dari kelasnya. Melihat itu, Tao tersenyum puas. Ia mulai mengetik pesan melalui ponselnya untuk sahabatnya Sehun.

Mission complete. Sekarang aku tinggal mengurus Jongin dan Chanyeol agar mereka tak mengetahui hal ini.

>>>

Jessica segera berlari menuju ruang kesehatan. Setelah ia sampai, ia segera membuka pintu ruang tersebut.

“Taeyeon-ah?,” panggil Jessica.

Tidak ada seorang pun di ruang kesehatan. Kasur-kasur di ruang tersebut pun tak ada yang menempati.

Tiba-tiba, seorang pria yang muncul di belakang Jessica segera menutup dan mengunci rapat pintu tersebut. Otomatis Jessica berbalik. Jessica pun menjadi syok.

“S-Sehun-shi?,” pekiknya.

Sehun tersenyum sambil berjalan mendekati Jessica. Namun Jessica terus berjalan mundur hingga punggung Jessica menabrak kasur di hadapannya.

“Semakin hari, kau semakin menggoda saja, Jessica-shi,” ucap Sehun.

“Apa maumu?,” tanya Jessica, was-was.

“Mauku?,” tanya Sehun, seraya membuka kancing kemeja yang di kenakan Jessica satu persatu.

Kini Jessica mengerti. Rupanya ada lagi pria brengsek yang mau bermain denganku, batinnya.

“Aku tidak akan memberitahu siapapun. Aku juga akan membayarmu. Tapi, aku meminta satu hal darimu,” ucap Sehun seraya memberikan sentuhan di setiap tubuh Jessica dengan tangannya.

“Apa?,” tanya Jessica.

“Kau harus merahasiakan ini dari partner seksmu, Jongin,” jawab Sehun, lalu mulai melumat bibir tipis Jessica.

Jessica pun hanya pasrah. Ya, apa yang bisa ia lakukan? Jika ia menolak, ia akan tahu apa resikonya. Sehun bisa saja memotret apa yang mereka lakukan dan melaporkannya kepada pihak kampus.

>>>

Jessica berjalan masuk ke dalam rumahnya. Ada sebuah pemandangan yang sangat ia benci. Tepat di ruang tengah, ia melihat Ayahnya dan seorang wanita yang tidak ia kenal sedang melakukan seks di atas sofa.

Jessica naik ke lantai atas tanpa mempedulikan aktivitas Ayahnya. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan penuh air mata. Di raihnya sebuah figura yang di dalamnya terdapat foto seorang wanita cantik yang mirip dengannya.

“Mom, andai kau disini. Aku yakin, sampai saat ini pun aku masih perawan. Dan kita semua akan hidup bahagia. Dad tidak akan mabuk-mabukan dan suka berhutang hingga saat Dad tak punya uang, Dad akan menjual puteri tunggalnya sendiri,” ucap Jessica, terisak.

Jessica merebahkan tubuhnya sambil memeluk figura tersebut, “Aku harap kebahagiaan akan datang. Dan kesedihan akan segera berakhir,” gumamnya.

>>>

“Lancang sekali Tao dan Sehun!,” geram Taeyeon.

“Jangan keras-keras,” bisik Jessica.

“Tapi mengapa mereka memakai aku? Sampai mengatakan bahwa aku terjatuh dari tangga,” gerutu Taeyeon.

Jessica tersenyum pahit, “Namanya juga pria. Semuanya brengsek,” ucapnya.

“Tapi tidak dengan pria yang berjalan menuju kemari,” bisik Taeyeon.

Jessica mengernyit bingung. Ia mengikuti arah pandang Taeyeon. Ia begitu kaget saat Joonmyun sudah ada di dekatnya.

“Selamat pagi, Jessica-shi!,” sapa Joonmyun.

Jessica kembali grogi, “S-Selamat pagi,” balasnya.

“Boleh aku duduk disini?,” ijin Joonmyun.

Jessica mengangguk perlahan. Joonmyun tersenyum dan duduk di antara Jessica dan Taeyeon. Jessica menjadi canggung.

“Apa kau adalah Kim Taeyeon?,” tanya Joonmyun.

Taeyeon mengangguk, “Ya, salam kenal,” jawabnya.

Joonmyun membalasnya dengan senyuman. Taeyeon saja yang memiliki kriteria pria di atas rata-rata merasa terpesona pada Joonmyun, apalagi Jessica.

Mereka berada di kantin kampus. Ketiganya mulai melahap sarapan mereka.

“Jessica-shi, rumahmu dimana?,” tanya Joonmyun.

Jessica menggigit bibirnya, “U-Untuk apa kau menanyakan hal itu?,” tanyanya.

Joonmyun tersenyum tipis, “Siapa tahu suatu saat aku ingin berkunjung ke rumahmu,”

Rumahku di kunjungi oleh Joonmyun yang suci?, batinnya tak percaya.

Taeyeon menendang kaki Jessica, membuat Jessica kembali tersadar dalam lamunannya.

“Rumahku di kawasan gangnam,” jawab Jessica.

“Woah! Rupanya rumah kita berdekatan,” seru Joonmyun.

“B-Benarkah?,” tanya Jessica tak percaya.

Joonmyun mengangguk, “Kalau aku mengetahui ini dari awal, aku pasti akan sering bermain ke rumahmu,” jawabnya.

Jessica tersenyum tipis. Ia melihat inisiatif Joonmyun untuk berteman dengannya seperti besar sekali.

Terima kasih karena sudah mau berteman denganku, Kim Joonmyun, gumam Jessica dalam hati.

>>>

Jessica membuka lokernya yang penuh dengan gumpalan kertas. Ia menghela napas berat. Baru ia ingin meraih salah satu dari gumpalan kertas tersebut, tiba-tiba ada yang menari rambutnya kasar.

“Aw!,” rintih Jessica.

“Dasar wanita jalang! Apa kau kurang puas dengan pria-pria yang lain? Sekarang kau mau menodai pria sesuci Joonmyun?,” bentak Seohyun.

“Aku tidak pernah berniat untuk melakukan itu, Seohyun-shi,” ucap Jessica.

“Jangan sok suci. Kau itu hanyalah debu. Kau itu wanita kotor!,” seru Yoona, lalu menampar pipi Jessica.

“Aku tidak pernah menginginkan itu semua,” ucap Jessica, terisak. Akhirnya ia menangis.

“Alasan apa kali ini, Jessica Jung? Kau memang hebat karena semua dosen mempercayaimu. Tapi, kami tidak akan pernah mempercayaimu. Kau sering melakukan seks dengan Jongin, dan dua hari yang lalu bersama Sehun, bukan?,” seru Yuri.

“A-Aku tidak—”

“Jika Jongin mengetahui apa yang kau lakukan dengan Sehun, pasti mereka akan bertengkar hebat,” ucap Yoona.

“Lalu, apa peduli wanita murahan sepertimu? Kau tidak peduli bukan jika persahabatan mereka hancur? Kau hanya menginginkan kenikmatan, bukan?,” tebak Seohyun.

“CUKUP!!!,”

Mereka berempat menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, Joonmyun lah orangnya. Ia menghampiri empat wanita itu dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya. Ia tampak marah.

“Joonmyun-ah, wanita yang akhir-akhir ini dekat denganmu adalah seorang wanita jalang. Benar, kan, Jessica-shi?,” tanya Seohyun, seraya menarik rambut Jessica.

“Hentikan~” pinta Jessica, kesakitan sambil menangis.

“Cukup, Seohyun-shi. Jangan menyakitinya,” ucap Joonmyun.

“Wanita kotor sepertinya pantas untuk—”

PLAK!!

Seohyun memegang pipinya. Ia syok saat pria sebaik Joonmyun menamparnya. Pria yang selama ini ia kagumi telah menamparnya.

“Sebelum kalian memaki orang lain, lebih baik kalian bercermin,” ucap Joonmyun.

“Apa maksudmu?,” tanya Yuri.

“Yuri, kau juga merupakan partner seks Jongin, bukan?,” tebak Joonmyun.

“A-Aku tidak—”

“Aku sudah tahu belang kalian seperti apa. Dan Yoona, kau juga sering ke Hotel bersama pria-pria, bukan?,”

Yoona menelan salivanya kasar, “A-Aku—”

“Dan kau—Seohyun—saat kita mengerjakan tugas di kediaman Jongin, kau dan Chanyeol dan Tao melakukan seks ganda,” seru Joonmyun.

“Darimana kau tahu itu semua?,” tanya Seohyun.

“Soalmu, Sehun merekamnya melalui pentilasi di pintu kamar mandi milik Jongin. Sedangkan momen seks Yuri dan Jongin di abadikan oleh Jongin sendiri di kamera video miliknya. Dan soal Yoona, aku pernah melihatnya sendiri,” jawab Joonmyun.

Jessica menatap ketiga wanita yang menyiksanya tadi dengan tatapan tak percaya. Ternyata mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan, batinnya.

“Tapi, Jessica lebih parah. Dia sudah bermain dengan banyak pria,” seru Yuri.

“Tapi kenyataannya Jessica tak memiliki niat untuk melakukan hal tersebut. Ia melakukannya karena terpaksa,” ucap Joonmyun.

Jessica menatap Joonmyun tak percaya. Darimana Joonmyun mengetahui hal itu?, pikirnya.

“Sedangkan kalian—kalian menikmatinya dan menganggap itu bukan dosa besar. Setidaknya, Jessica lebih baik daripada kalian,” ucap Joonmyun, lalu menarik lengan Jessica dan pergi meninggalkan ketiga wanita itu.

>>>

Jessica berada di belakang kampusnya bersama Joonmyun. Mereka duduk di kursi sambil memandangi danau di hadapan mereka.

Jessica mengusap air matanya, “Darimana kau mengetahui identitasku?,” tanyanya.

Joonmyun tersenyum, “Madam Rose,” jawabnya.

Jessica menatap Joonmyun tak percaya, “K-Kalian saling mengenal?,” tanyanya.

“Mungkin kau tak akan percaya. Tetapi, aku akan mengatakan fakta bahwa aku adalah anak kandung dari wanita yang kau anggap bos-mu itu,” jawab Joonmyun.

Jessica menggeleng cepat, “Tidak mungkin,” gumamnya.

Joonmyun terkekeh, “Sudah ku bilang, kau tak akan percaya. Eomma adalah wanita yang baik dan selamanya menjadi yang terbaik. Namun, suatu hari beliau di jebak oleh seorang ahjussi. Mereka di dapati berada dalam satu kamar di hotel tanpa mengenakan busana apapun. Saat itu umurku masih 3 tahun dan saat itulah eomma dan appa bercerai dan appa menikah lagi dengan seorang wanita yang ayahnya adalah seorang pendeta di gereja,”

“Maka dari itu kau sangat suka berdoa disana?,” tanya Jessica.

Joonmyun mengangguk, “Aku senang punya eomma seperti dia. Tapi, aku tetap menyayangi eomma kandungku. Aku sering mengunjunginya dan beliau bercerita banyak tentangmu dan keluargamu. Aku saja yang berpura-pura tidak mengenalmu,” jawabnya.

Jessica menunduk. Ia memikirkan apakah bisa dengan pertolongan Joonmyun, ia meninggalkan profesi buruknya itu, pikirnya.

“Eomma sangat menyayangimu maka dari itu beliau tak ingin kau berhenti bekerja dengannya. Bukan karena beliau menginginkan uang penghasilanmu,” ucap Joonmyun.

Jessica menoleh ke arah Joonmyun.

“Tapi, cara eomma salah. Eomma sadar bahwa eomma telah membuatmu ternodai. Aku terus membujuk beliau untuk mengijinkanmu berhenti. Akhirnya beliau mau asalkan kau memang berniat untuk berhenti,” ucap Joonmyun, seraya menatap Jessica.

“Madam Rose mengijinkanku berhenti?,” tanya Jessica, dengan mata yang berbinar-binar.

Joonmyun mengangguk. Hal itu membuat Jessica hampir memeluknya. Namun, Jessica ingat bahwa Joonmyun adalah pria yang suci. Ia tak mungkin menodai seorang Kim Joonmyun, cucu tiri dari seorang pendeta.

“Tidak apa jika kau ingin memelukku,” ucap Joonmyun.

Jessica hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia mendongak ke langit di angkasa.

Akhirnya, kebahagiaan datang, mom, batinnya.

>>>

Jessica keluar dari ruang ujian dengan perasaan lega. Ia tak sabar menunggu hasil ujiannya. Apakah ia lulus atau tidak.

“Kau pasti lulus, Sica-ya,”

Jessica tersenyum pada pemilik suara hangat tersebut. Semenjak hari itu, persahabatan Jessica dan Joonmyun semakin dekat. Jessica juga tak lagi melayani pria-pria terutama Jongin maupun Sehun. Pernah suatu hari mereka berdua mengancam akan melaporkan apa profesi Jessica selama ini jika Jessica tidak melayani mereka. Namun, tampaknya Joonmyun berhasil menghandel masalah tersebut dengan ancaman akan menyebarkan video mesum Jongin dan Yuri, juga akan melaporkan pada Jongin bahwa Sehun sudah mengkhianati persahabatan mereka. Akhirnya, Jessica bebas dari tangan Jongin dan Sehun.

Namun, yang sampai saat ini masih Jessica sedihkan adalah Ayahnya yang tidak mau berubah. Masih saja senang berjudi dan melakukan seks dengan wanita-wanita lain.

“Jessica Jung~” panggil seorang dosen.

“Ya, Kang songsaenim?,” balas Jessica.

Dosen Kang memberikan sebuah amplop pada Jessica. Jessica meraihnya dan membungkuk sopan. Setelah dosen Kang pergi, Jessica segera duduk di sebuah kursi di ikuti Joonmyun.

“Haruskah ku buka sekarang?,” tanya Jessica ragu.

“Bukalah,” jawab Joonmyun.

Jessica perlahan membuka isi amplop tersebut. Dengan penuh perasaan takut, ia membaca isi surat tersebut.

“LULUS?,” pekik Jessica, tak percaya.

“Benar. Kau lulus, Sica-ya,” ucap Joonmyun.

Jessica terlalu senang hingga ia memeluk Joonmyun untuk yang pertama kalinya. Namun, dengan cepat ia melepaskan pelukan tersebut dan menunduk. Semburat merah menghiasi wajahnya.

“Maafkan aku,” ucap Jessica menyesal.

Joonmyun mengacak rambut Jessica, “Kau memang wanita yang lucu, Sica-ya. Tidak apa kok. Kita kan sahabat,”

Jessica mengangguk. Yeah, sahabat. Apakah selamanya kami akan menjadi sahabat? Ugh, jangan berharap lebih, Jessica. Kau itu bekas wanita kotor dan berdebu. Mana mungkin kau akan menikah dengan pria sesuci Kim Joonmyun, pikirnya.

>>>

Jessica merapikan map yang ada di mejanya. Ya, sekarang Jessica telah berhasil menggapai cita-citanya meskipun ia hanya menjadi sekretaris seorang pebisnis besar di Beijing, yaitu Xiao Lu Han. Jessica bekerja di sebuah perusahaan besar di Beijing, China. Pekerjaan ini membuatnya harus terpisah dengan sahabatnya, Joonmyun. Namun Joonmyun dan Jessica sering mengirim email dan seminggu sekali Joonmyun mengunjungi Jessica.

Jessica masih tak menyangka ternyata Tuhan memberikannya kesempatan untuk memperbaiki jalannya. Ini semua juga berkat Joonmyun yang selalu setia bersamanya. Bahkan Jessica sangat terkenal di negara Korea Selatan dan China berkat kecerdasan otaknya, ia berhasil membuat eksperimen untuk mendamaikan dua negara yang terlibat perseteruan dua tahun silam. Nama jeleknya di mata orang-orang yang mengatainya wanita kotor sepertinya sudah bersih kembali.

Tiba-tiba, telepon berdering di mejanya. Jessica mengangkat telepon tersebut.

“Nihao~”

“Jessica Jung, bisakah kau antarkan berkas hasil rapat kemarin ke ruanganku? Ini Luhan,”

Jessica mengangguk, “Baiklah. Saya akan segera kesana,” jawabnya.

Jessica segera menutup teleponnya. Ia membawa map hasil rapat dan segera keluar dari ruangannya menuju ruangan direktur, Luhan.

Jessica mengetuk pintu ruangan atasannya tersebut. Setelah mendengar suara mempersilakan masuk, Jessica pun membuka pintunya dan masuk dan tak lupa menutup pintu tersebut. Jessica menghampiri Luhan dengan map di tangannya.

Luhan melihat penampilan Jessica saat ini. Ia menyeringai. Betapa seksinya sekertarisnya itu. Jessica mengenakan seragam ketat dengan rok sepaha. Sebenarnya Jessica mempunyai seragam yang baru, tetapi karena belum kering, Jessica harus mengenakan seragam yang lama dan sudah mengecil.

“Maafkan aku karena seragamku—”

“Tidak apa. Aku lebih suka kau mengenakan seragam ini,” ucap Luhan, seraya bangkit dari kursinya.

Jessica mendadak takut saat Luhan menariknya untuk duduk bersama di sofa yang ada di ruangannya.

“J-Jadi—”

Luhan tersenyum misterius, “Apa kau lajang?,” tanyanya.

Jessica mengangguk pelan. Bagus, pikir Luhan.

Luhan pun menyergap Jessica dalam dekapannya. Jessica terbaring di atas sofa dengan Luhan di atasnya.

“Apa yang kau lakukan, tuan?,” tanya Jessica, takut.

Luhan mendekatkan bibirnya ke telinga Jessica, “Diam dan nikmatilah,” bisiknya, lalu mulai menghisap leher milik Jessica.

>>>

Jessica menangis dengan keadaan telanjang sambil duduk di lantai. Seragamnya sudah sobek akibat ulah direkturnya. Luhan pun dalam keadaan yang sama dengan Jessica namun Luhan masih terbaring lemah di atas sofa.

“Jangan menangis, sayang,” ucap Luhan.

Jessica tak mempedulikan perkataan Luhan. Jessica terus menangis. Ia tak menyangka ia kembali ternodai. Padahal ia sangat senang sudah berhasil melewati hari-harinya tanpa seks. Ia merasa ketakutan dan sepertinya..ia trauma.

“Aku akan bertanggung jawab jika kau hamil. Tenang saja,” ucap Luhan.

Tidak, bukan itu yang aku inginkan, pikir Jessica. Jessica mencintai Joonmyun, bukan Luhan. Tapi, sepertinya Jessica memang lebih pantas menikah dengan Luhan daripada dengan Joonmyun yang terlalu suci untuk Jessica.

>>>

Luhan dan Jessica pergi ke dokter kandungan untuk mengecek apa yang Jessica alami. Apakah hamil atau tidak.

“Saya tidak tahu harus berkata apa,” ucap dokter kandungan itu.

“A-Ada apa, dokter?,” tanya Jessica takut. Ia menggenggam erat tangan Luhan.

“Nona Jessica mengalami kanker rahim,”

Jessica merasa petir yang sangat dahsyat menghantam hatinya. Hancur sudah masa depannya memiliki seorang momongan. Air mata Jessica berlinang deras.

“T-Tidak mungkin, dokter. Coba kau periksa sekali lagi,” pinta Luhan.

“Penyakit ini sudah stadium 4. Dan hal ini menyebabkan nona Jessica takkan memiliki anak bahkan bisa menyebabkan kematian,”

Jessica mendadak lemas mendengarnya. Pandangan Jessica mulai kabur hingga gelap.

>>>

Jessica membuka matanya perlahan. Ia kaget saat seorang pria tertidur di atas tangannya. Rambutnya berwarna hitam. Sudah pasti bukan Luhan, pikirnya.

Pria itu bangun dan bangkit. Jessica merasakan sesak pada pernafasannya. Ternyata pria itu adalah Kim Joonmyun—orang yang ia cintai.

“Kau sudah sadar,” ucap Joonmyun sambil tersenyum.

“Bagaimana kau bisa ada disini?,” tanya Jessica.

“Bosmu yang menghubungiku,” jawab Joonmyun.

“D-Dimana dia sekarang?,” tanya Jessica.

“Dia berada di Beijing,” jawab Joonmyun.

“J-Jadi, aku berada di—”

“Rumah sakit Mary. Seoul, Korea Selatan,” jawab Joonmyun seraya mengusap pipi Jessica.

“J-Joonmyun-ah, aku—nyawaku—”

“Sshh!,” seru Joonmyun, “Jangan berbicara yang aneh-aneh. Kau akan tetap hidup,”

“Tapi, aku takkan punya anak. Seandainya aku memeriksa kandunganku dari saat kita kuliah. Penyakitku pasti takkan separah ini,” ucap Jessica, sambil menangis, “Tak akan ada pria yang mau menikah denganku,” tambahnya.

“Aku mau kok,” ucap Joonmyun sambil tersenyum hangat.

Jessica menggeleng, “Aku bukan wanita yang pantas untukmu, Kim Joonmyun,”

“Lalu wanita seperti apa yang pantas untukku? Aku tak pernah mempedulikan bagaimanapun bentuknya, rupanya, statusnya. Asal dia bisa menerimaku apa adanya, aku siap untuknya,” ucap Joonmyun.

“J-Joonmyun-ah—”

“Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Sica-ah. Kecuali Tuhan,” ucap Joonmyun.

Jessica tersenyum mendengarnya. Ia senang bisa bertemu dengan Joonmyun. Memori pertama kali mereka bertemu muncul di benak Jessica.

“Aku mencintaimu, Kim Joonmyun,” ucap Jessica.

Joonmyun mengecup punggung tangan Jessica, “Aku juga mencintaimu, Jessica Jung,”

Kalimat yang selalu di harapkan Jessica akhirnya dapat Jessica dengar. Meskipun kalimat itu hadir di detik-detik terakhirnya.

Jessica memejamkan matanya perlahan. Senyuman khas di bibirnya mulai memudar. Mesin perekam jantung terlihat datar dan mulai mengeluarkan suara tanpa henti.

Wajah Joonmyun memucat. Ia tak menyangka Jessica akan meninggalkannya secepat ini. Air matanya mulai merembes saat itu juga.

“JESSICA!!!!,”

>>>

Joonmyun menaburi bunga di atas makam seorang wanita yang sangat ia cintai. Hari ini memperingati hari ke-100 setelah kepergian kekasih hatinya. Ia menyesal karena ia tak mengungkapkan perasaannya dari awal. Tapi, Joonmyun bahagia karena wanitanya berhasil mencapai cita-citanya dan berkat perjuangannya selamai ini, namanya selalu di kenang oleh dua negara yang sempat bersekutu, Korea Selatan dan China.

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Aku disini baik-baik saja. Jika kau menanyakan aku sudah punya pacar atau belum, aku katakan padamu bahwa dari dulu sampai sekarang aku belum punya pacar apalagi istri,” ucap Joonmyun.

Joonmyun menghela napas berat.

“Aku tak menginginkan pernikahan di dunia. Aku ingin kita bertemu di surga dan menikah. Asal disana kau jangan mencari pacar, ya?,”

“Lucu sekali, Joonmyun-shi,”

Joonmyun menoleh ke sumber suara. Ternyata suara itu berasal dari Luhan. Ia jadi teringat saat dirinya menghajar Luhan setelah tahu apa yang Luhan lakukan pada wanitanya di ruangannya.

“Jessica, ini aku calon suamimu. Apa kau masih ingat?,” tanya Luhan pada nisan.

Joonmyun mendesis, “Calon suami? In your dream,” cibirnya.

Luhan memicingkan matanya, “Aku adalah ayah dari bayi yang di kandung Jessica,”

“Apa kau sudah gila? Tidak ada bayi dalam kandungan Jessica,” ucap Joonmyun sedikit kesal.

Tiba-tiba, dua wanita berpakaian seperti perawat menghampiri Luhan dan memegang lengan kanan dan kirinya.

“Ayo kembali, tuan Luhan. Kita harus pulang ke rumah sakit,”

“Tidak mau. Aku mau ikut jika calon istriku juga ikut,” ucap Luhan, “Oh, ya, mana anakku?,” tanyanya.

Perawat itu menyerahkan boneka bayi pada Luhan. Luhan menimangnya dengan sayang.

“Joonmyun-shi, lihat. Ini buktinya. Aku dan Jessica punya bayi,” ucap Luhan, sambil tertawa.

Kedua perawat itu pun segera menyeret paksa Luhan dan pergi meninggalkan Joonmyun. Joonmyun hanya bisa melongo.

“Luhan ternyata memang gila. Aku rasa dia seperti itu karena merasa bersalah denganmu,” ucap Joonmyun, sambil kembali menaburi bunga di makam Jessica.

    END!

Fiuh! Akhirnya selesai juga. Pasti gaje, kan? Luhan di bikin gila. Pasti nanti pas pulang gue di jewer sama Luhan di rumah.
Minta reviewnya, ya? Ini request-an dari temen ku yang ngepens banget sama Suho-Sica. Semoga FF ini memuaskan, ya.

Who I Love? (Chapter 4)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-M’s LuHan as Xiao Lu Han
  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol

Support Cast :

  • SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
  • etc

Genre : Romance, Fluff, Friendship

Length : Series

>>> 

Jessica berbaring di atas ranjang yang berada di kamarnya. Ia terus memikirkan kejadian tadi siang.

“Mengapa aku mengetahui Sehun begitu banyak?,” gumam Jessica.

Jessica menggigit bibirnya, “Jangan katakan aku menyukainya,”

Jessica beranjak bangun dan mengacak-acak rambutnya prustasi. Mungkin penampilannya saat ini seperti pengemis jalanan yang tinggal di kolong jembatan di Indonesia.

Namun, sebuah akal muncul di otaknya, “T-Tunggu dulu,” ucap Jessica.

“Aku dan Sehun kan tinggal satu rumah? Otomatis aku banyak mengetahui dirinya,” ucap Jessica—seraya mengangguk-anggukan kepalanya.

Jessica mengusap dadanya pelan sambil tertawa keras. Jika tadinya seperti pengemis, tampaknya kita harus mengubahnya menjadi orang gila yang ada di rumah sakit jiwa.

Jessica menghela napas lega, “Syukurlah!,” gumamnya, “Ku pikir aku menyukainya. Pasti aneh jika aku menyukai pria semenyebalkan Sehun,” ucapnya.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu Jessica. Jessica segera bangkit dari ranjangnya. Saat ia melintasi cermin, ia langsung mengoreksi dirinya di depan cermin. Betapa buruknya penampilannya sekarang.

“Ini semua karena omong kosong Taeyeon. Aku menjadi stres seperti ini,” gumam Jessica.

“Sica-ya~”

Jessica lupa. Tadi ada yang mengetuk pintu kamarnya. Jessica pun segera membuka pintu kamarnya.

“A-Astaga!,” seru Seohyun, kaget—akan penampilan Jessica.

Jessica terkekeh, “Aku tidak apa-apa kok,” ucapnya, “Saatnya makan malam, kan?,” tanyanya.

Seohyun hanya menganggukan kepalanya. Ia masih syok melihat penampilan Jessica.

“Aku akan segera turun. Kalian duluan saja,” ucap Jessica—lalu menutup pintunya kembali.

>>> 

“Sica-ya, sepertinya kau bahagia sekali,” seru Seohyun—melihat Jessica melahap porsi makannya dengan semangat dan penuh senyuman.

Jessica mengangguk cepat, “Iya. Aku bahagia sekali,” jawabnya.

Sedangkan Sehun terlihat tidak nafsu makan. Ia hanya mengaduk-aduk porsi makanannya dengan tatapan menyedihkan.

“Sehun-ah, apa kau baik-baik saja?” tanya Seohyun, cemas.

Sehun mengangguk lemah, “Aku hanya tidak nafsu makan saja,” jawabnya.

Seohyun mengangguk mengerti. Tampaknya Sehun memiliki masalah, batinnya.

Jessica pun ikut cemas dengan keadaan Sehun. Biasanya, Sehun akan menjadi cerewet dan banyak bertanya jika Jessica sedang bahagia. Tapi, sepertinya saat ini Sehun sedang sibuk dengan dunianya sendiri.

“Aku—payah?,” gumam Sehun, dalam hati.

>>> 

Luhan dan Minseok sedang mengerjakan data-data sekolah. Well, mereka adalah ketua dan wakil ketua osis. Jadi, wajar saja jika mereka selalu di sibukkan dengan tugas sekolah.

“Luhan-ah~” panggil Minseok.

Luhan mendongak, “Ada apa, hyung?,” tanyanya.

“Ku dengar, Yoona sudah kembali,” jawab Minseok, “Apa itu benar?,”

Luhan mengangguk mengiyakan.

“Dan—itu artinya hubunganmu dengan Yoona akan kembali?,” tanya Minseok.

“Inginku seperti itu, hyung. Tapi, aku harus menyelesaikan tugasku terlebih dahulu,” jawab Luhan.

“Tugas apa?,” tanya Minseok.

“Mengejar Jessica, hyung,” jawab Luhan.

Minseok mengerjap, “J-Jadi, kau masih mengejar gadis berdarah campuran itu?,” tanyanya.

Luhan tersenyum sinis, “Jessica adalah mangsaku, hyung. Setelah aku menghabisinya, maka semua dendam kita pada keluarga Oh Sehun akan terbalaskan,” jawabnya.

“Tapi—kenapa harus Jessica? Kenapa bukan Seohyun saja? Sudah jelas Sehun sangat menyayangi Seohyun,”

Luhan terkekeh pelan, “Apa gunanya aku menjadi putera dari seorang psikolog ternama di Asia, hyung?,” guraunya.

Minseok mengernyit bingung. Ia masih kurang mengerti.

“Aku bisa membaca Oh Sehun, hyung. Dan aku tahu, Jessica lebih berharga untuknya di bandingkan Seohyun. Percayalah padaku,”

>>> 

Jessica berjalan menuju kelasnya bersama Sehun dan Seohyun. Namun, di depan pintu ruang kelas mereka, Taeyeon sudah menghadang mereka. Dengan tangan di rentangkan di kanan dan kiri seperti orang-orangan sawah. Hanya saja Taeyeon tidak cocok di katakan seperti itu karena tubuhnya tidak seramping dan setinggi orang-orangan sawah.

“Beri jalan untukku, Kim Taeyeon,” ucap Jessica.

“Tidak akan,” jawab Taeyeon, “Kecuali kau mau ikut denganku,” tambahnya.

“Memangnya ada apa, Taeyeon-ah?,” tanya Seohyun.

“Ini urusan penting, Seohyun-ah. Ini masalah hati! Percintaan!,” jawab Taeyeon—dan ia menekankan kata hati dan percintaan.

Mendengar itu, pikiran Sehun menjadi semakin kacau. Ia menjadi penasaran apa yang sebenarnya mereka bahas. Sampai-sampai Sehun harus tersangkut-paut sehingga Jessica mengatainya payah.

Jessica menghela napas kasar, “Kita masih membahas hal kemarin?,” tanyanya.

“Aku hanya ingin keadilan, Jessica Jung. Aku sudah menceritakan tentang orang yang ku sukai. Sekarang, giliran kau menceritakan tentang orang yang kau sukai,” seru Taeyeon.

“Hei, aku tidak pernah memintamu untuk melakukan itu,” ucap Jessica, kesal.

“You—must—follow—me!,” seru Taeyeon—lalu menyeret Jessica pergi ke luar kelas.

“Seohyun-ah, tolong aku!,” pinta Jessica.

Seohyun hanya tersenyum kaku sambil melambai-lambaikan tangannya. Ia menggeleng pelan. Ada-ada saja mereka, batinnya—lalu masuk ke dalam kelas.

Sementara Sehun masih mematung di tempat. Siapa orang yang di sukai Jessica?, batinnya.

>>> 

“Sehun-ah, apa kau melihat Taeyeon?,” tanya Baekhyun—pada Sehun yang sedang duduk dengan tatapan kosong.

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Sehun. Sehun tidak seperti biasanya, batin Baekhyun.

“Sehun-ah, apa yang terjadi padamu?,” tanya Seohyun, cemas.

“Calm down, guys,” seru Chanyeol.

“Bagaimana bisa tenang? Sahabat kita sedang aneh seperti ini,” jawab Baekhyun, “Apa Sehun memiliki penyakit, Seohyun-ah?,” tanyanya.

Seohyun menggeleng cepat, “Sehun tidak punya penyakit kok,” jawabnya.

“Ku rasa Sehun sedang galau,” ucap Chanyeol.

Seohyun dan Baekhyun menatap Chanyeol dengan ekspresi bingung.

“Penyakit macam apa itu?,” tanya Baekhyun.

Chanyeol memainkan telunjuknya, “Itu bukan penyakit. Sebenarnya bisa di katakan penyakit. Tapi, cara menyembuhkannya bukan pada tim medis,” jawabnya.

“Lalu, bagaimana caranya?,” tanya Seohyun.

“Cukup dengan hibur dia hingga dia melupakan semua masalah yang membuatnya menjadi seperti ini,” jawab Chanyeol.

“Bagaimana cara menghiburnya? Di ajak bicara saja tidak bisa,” ucap Baekhyun.

Chanyeol tersenyum misterius, “Hanya ada satu cara,” ucapnya.

>>> 

“Kenapa bukan Seohyun saja?,” protes Jessica.

“Ayolah, Jung-ya. Sehun hanya akan mau bicara jika ia bersamamu,” ucap Chanyeol.

Jessica melipat tangannya di depan dadanya, “Sok tahu!,” ucapnya, “Sehun juga mau kok berbicara pada Seohyun,” ucapnya.

Chanyeol menggaruk kepalanya. Gadis ini tidak mengerti maksudku, batinnya.

“Kalian kan selalu bertengkar. Jadi kalian tampak akrab. Ah, kalian pokoknya harus berkencan,” seru Chanyeol.

“Masa aku harus berkencan dengan setan itu?,” gumam Jessica, malas.

“Ayolah, demi Sehun,” bujuk Chanyeol.

“Iya, iya. Aku mau,” jawab Jessica, akhirnya.

Chanyeol tersenyum. Aku melakukan ini karena aku tahu Sehun menyukaimu, Jung-ya. Aku melihatnya dari sorot matanya. Sangat terlihat jelas, batinnya.

>>> 

Jessica dan Sehun berada di sebuah kafe di Lotte World. Mereka baru selesai menaiki wahana bermain. Memang, tampaknya Sehun terkena virus galau. Meskipun bersama Jessica, meskipun menaiki wahana-wahana yang menyenangkan, wajah datarnya tetap tidak berubah. Sehun juga tidak banyak bicara sedari tadi.

“Sebenarnya ada apa denganmu?,” tanya Jessica, kesal.

Sehun menggeleng pelan. Hanya itu jawabannya.

Jessica mendesis, “Kau ini memang payah, ya?,”

DEG!

Sehun merasakan rasa sakit di dadanya saat Jessica kembali mengatainya payah. Jika kalian tak bisa membayangkan rasa sakitnya, bayangkan saja jika pacar atau orang yang kalian sukai mengatai kalian payah dalam artian yang buruk (bukan bercanda).

“S-Sehun-ah—”

Sehun memejamkan matanya. Ia mencoba menahan rasa sakitnya. Saat ia membuka matanya, ia memasang wajah marahnya. Dan itu membuat Jessica gelabakan kaget.

Sehun mencengkram kuat lengan Jessica, “Ikut aku!,” perintahnya.

“K-Kita mau kemana?,” tanya Jessica, takut.

Sehun tidak mempedulikan pertanyaan Jessica. Ia menarik tangan Jessica hingga keluar dari Kafe.

“Lepaskan aku, Sehun-ah,” berontak Jessica—seraya berusaha melepaskan cengkraman kuat Sehun dari lengannya.

Sehun terus menyeretnya hingga mendorong Jessica masuk ke dalam mobil milik Sehun. Sehun juga masuk dan mengunci pintu mobilnya. Sehun mengenakan sabuk pengaman, dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.

“Sehun-ah, hentikan! Kau ingin kita mati?,” tanya Jessica, geram.

Sehun tak mempedulikan perkataan Jessica. Ia terus fokus pada setirannya.

Dan, sampailah mereka ke tempat yang ingin di tuju oleh Sehun.

“Untuk apa kita ke tempat pelatihan bowling?,” tanya Jessica, bingung.

Sehun tak menjawab. Ia segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Jessica. Jessica segera keluar. Ia masih bingung sebenarnya ada apa dengan Sehun.

“Ayo masuk!,” ajak Sehun—seraya menarik lengan Jessica lagi. Kali ini tidak sekuat yang tadi.

Mereka pun masuk ke dalam tempat tersebut. Sehun segera mengambil bola bowling.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan, Oh Sehun? Aku tidak mengerti,” ucap Jessica.

Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica, “Aku ingin membuktikan bahwa aku tidak payah.” jawabnya.

“Eh?,”

Sehun memfokuskan matanya ke kumpulan benda-benda berwarna putih yang harus ia robohkan dengan bola bowling yang ada di tangannya.

“Siapa bilang aku payah di bidang olahraga?,” tanya Sehun—seraya melempar bola bowling hingga sukses mencetak angka.

Jessica memandang mata Sehun. Sehun pun melakukan hal yang sama. Sedetik kemudian, mereka tertawa renyah.

“Maksudku kau payah pada olahraga sepak bola dan lari maraton,” ucap Jessica.

“Oh—kau meremehkanku, Jessica Jung?,” tanya Sehun.

Jessica tersenyum dan mengangguk, “Bagaimana jika kita bertanding sepak bola?,” usulnya, “Jika aku menang, kau harus menghabiskan belut gosongku tiga piring,” taruhnya.

“A-Apa? Tidak mau. Belutmu kan tidak ada enaknya sama sekali,” tolak Sehun.

“Kalau begitu, aku akan menyebutmu payah setiap hari,” ucap Jessica.

Sehun mendesis, “Baiklah. Aku mau,” jawabnya, “Tapi, jika aku yang menang—”

“Uh-hu?,”

“Kau harus mau menjadi kekasihku,”

Jessica terkekeh, “Hanya itu? Mudah seka—” ucapnya tertahan karena merasa ada suatu kejanggalan. Saat ia sudah mendapatkan kejanggalan itu, “APA? JADI KEKASIHMU?,” teriaknya, syok.

Sehun terkekeh pelan, “Aku hanya bercanda,” jawabnya, “Kau tidak boleh memanggilku payah lagi saja. Bagaimana?,”

“Baiklah,” jawab Jessica.

>>> 

Seohyun melirik ke arah jam dinding, “Sudah pukul 9 malam. Tapi, mereka belum pulang juga,” ucap Seohyun, cemas.

Chanyeol memegang bahu Seohyun, “Tenang saja. Menurutku, mereka sedang bersenang-senang kok,” ucapnya.

Seohyun mengangguk sambil tersenyum manis. Chanyeol sempat terpana melihatnya. Mengapa aku baru sadar bahwa Seohyun sangat manis?, batinnya.

“Kau yakin Jessica berhasil menyembuhkan penyakit Sehun?,” tanya Baekhyun, ragu.

Chanyeol tersenyum, “Percayalah padaku,” jawabnya.

“KAMI PULANG!!!,”

Seohyun, Chanyeol, Baekhyun dan Taeyeon reflek berdiri. Mereka kaget melihat wajah berbinar dari Sehun.

“Chanyeol-ah, kau benar,” seru Baekhyun.

Chanyeol hanya tersenyum bangga.

“Sehun-ah, kenapa sampai selarut ini?,” tanya Seohyun.

Sehun tersenyum, “Aku dan Jessica bertanding sepak bola, dan aku menang. Tapi, Jessica meminta untuk tanding kembali dalam lari maraton. Dan sekali lagi, aku yang menang,” jawabnya, bersemangat.

“Woah! Hebat!,” seru Baekhyun, “Setahuku kau lemah dalam dua olahraga itu,” ucapnya.

“Tentu saja karena lawannya itu Jessica. Jessica kan perempuan,” ucap Taeyeon.

“Sica-ya, ada apa dengan wajahmu?,” tanya Seohyun—yang melihat wajah Jessica yang menegang.

Jessica mengerjap dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, “A-Aku tidak apa-apa,” jawabnya, “Aku istirahat dulu, ya,” ucapnya—lalu segera berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Sehun tersenyum melihat tingkah Jessica. Tiba-tiba, ia merasakan sakit di punggungnya, “Sepertinya sang juara juga butuh istirahat,” ucapnya.

Chanyeol menghela napas berat, “Padahal kami ingin mengajakmu bermain monopoli,” ucapnya, kecewa.

“Iya, iya, aku mau main. Tapi, aku mandi dulu, ya,”

“Tapi—apa ini tidak terlalu malam?,” tanya Taeyeon.

Baekhyun mengusap kepala Taeyeon, “Besok kan hari minggu. Jadi, tidak apa jika kau bangun kesiangan,” jawabnya.

Semburat merah merekah di wajah Taeyeon. Perlahan, ia menganggukan kepalanya.

“Bagaimana jika kalian menginap disini?,” usul Seohyun.

“Ide bagus, Seohyun-ah,” seru Taeyeon, Baekhyun, Chanyeol dan Sehun.

“Taeyeon tidur bersamaku saja,” ucap Seohyun.

Taeyeon mengangguk, “Baiklah,” jawabnya.

“Asyik! Aku tidur dengan Jung,” seru Chanyeol.

PLETAKKK!!!

“Kau tidur di kamarku bersama Baekhyun juga,” ucap Sehun.

>>> 

Jessica menyisir rambutnya yang habis di keringkan dengan hairdryer. Jessica baru selesai mandi. Sekujur tubuhnya tadi lengket karena keringat yang begitu banyak.

Namun, Jessica kembali teringat kejadian saat ia kalah tanding lari maraton tadi.

“Masa aku kalah lagi!,” gerutu Jessica, kesal.

 

Sehun terkekeh, “Ternyata yang payah itu kau, ya?,” ledeknya.

 

Jessica memicingkan matanya, “Apa-apaan itu payah? Aku tidak payah. Aku perempuan. Wajar jika kalah dengan laki-laki,” ucapnya.

 

Sehun hanya tertawa mendengarnya.

 

“Aku masih tidak terima. Masa aku kalah dengan Oh Sehun yang payah? Padahal saat tinggal di Amerika, aku selalu menjadi juara. Tapi, mengapa aku kalah? Apa lagi harus kalah dengan Oh Sehun yang pay—”

 

CHU~

 

Jessica terdiam saat Sehun mencium bibirnya. Sehun menempelkan bibirnya pada bibir Jessica sekitar 15 detik. Setelah itu, Sehun mulai memejamkan matanya dan melumat bibir Jessica. Jessica yang masih kaget dan syok hanya bisa diam selagi Sehun bermain dengan bibirnya. Namun, lama-kelamaan Jessica mulai menikmati ciuman Sehun. Jessica ikut memejamkan matanya dan membalas lumatan Sehun.

 

Jessica menepuk pipinya, “Ah, kenapa aku membalas ciumannya?,” tanyanya, prustasi.

“Apalagi ini adalah ciuman pertamaku. Kenapa harus Sehun yang merebutnya? Kenapa bukan Luhan sunbae saja yang jelas lebih tampan?,”

Lagi, Jessica harus melewati malamnya dengan pikiran yang membuatnya tak bisa tidur.

>>> 

Sehun keluar dari toilet di kamarnya. Sehun tersentak saat melihat Chanyeol dan Baekhyun sudah terlelap di ranjangnya. Bahkan, tidak ada tempat yang mereka sisakan untuk Sehun.

“Sebenarnya yang punya kamar itu siapa?,” gumam Sehun, kesal.

Sehun pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju kamar Jessica. Di bukanya pintu kamar Jessica. Ternyata Jessica belum tidur.

“A-Ada apa kau kemari?,” tanya Jessica, was-was.

Sehun menutup pintu kamar Jessica, “Boleh aku tidur disini?,” tanyanya.

Mata Jessica membulat sempurna, “Enak saja. Tidur di kamarmu,” serunya.

“Baekhyun dan Chanyeol tidur di ranjangku. Aku tak di sisakan tempat,” jawab Sehun.

“K-Kalau begitu, tidur saja di sofa,” ucap Jessica, gugup.

Sehun berjalan menuju sofa yang terletak di kamar Jessica, “Kau pikir aku mau tidur di ranjangmu? Aku bukan pria mesum,” ucapnya.

Jessica mengerucutkan bibirnya. Namun, tiba-tiba saja listrik padam. Jessica berteriak keras. Sehun pun segera menyalakan ponselnya dan menghampiri Jessica dan memeluknya.

“Kau takut?,” tanya Sehun.

“Aku takut gelap,” jawab Jessica.

Sehun baru ingin beranjak pergi untuk mencari lampu, tapi Jessica menahannya.

“Tetap disini,” mohon Jessica.

“T-Tapi—”

“Aku takut, Oh Sehun,” ucap Jessica, takut.

Sehun mengangguk mengerti. Ia mendorong Jessica agar Jessica berbaring. Sehun ikut berbaring di sebelahnya sambil memeluknya. Posisi mereka saat ini berhadapan.

“Aku takut,” ucap Jessica.

“Tenang. Ada aku disini,” ucap Sehun, “Sekarang tidurlah,”

“Janji ya jangan tinggalkan aku,” ucap Jessica.

Sehun mengangguk, “Aku berjanji,” jawabnya.

Jessica pun mulai memejamkan matanya. Sehun terus mengusap punggung Jessica dengan tangannya yang melingkari perut Jessica. Lama-kelamaan, Sehun juga mengantuk. Akhirnya, Sehun pun memejamkan matanya dan tertidur.

>>> 

“Sehun menghilang!!,” seru Chanyeol dan Baekhyun.

“Kalian bercanda,” ucap Taeyeon.

“Untuk apa kami bohong? Dia tidak ada di kamar,” ucap Baekhyun.

“Ayo kita cari dia,” ucap Seohyun.

Seohyun, Baekhyun, Taeyeon dan Chanyeol pun berpatroli di rumah Sehun dan Seohyun. Saat Chanyeol tiba di depan kamar Jessica, dengan isengnya ia membuka pintu tersebut dengan lebar.

“ASTAGA!!,” teriak Chanyeol, syok.

Mendengar teriakan Chanyeol, otomatis Taeyeon, Baekhyun dan Seohyun menghampiri Chanyeol. Mereka pun melihat apa yang Chanyeol lihat.

“ASTAGA!!,” pekik ketiganya.

Mendengar teriakan itu, Jessica dan Sehun terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Sehun dan Jessica bangkit dan saling memandang. Setelah merasa sadar dan merasa ada kejanggalan, mereka berdua pun sama-sama berteriak.

“AAAAAA!!!!!,”

To Be Contiuned

Review, please!

Jangan ngecewain saya ya dengan komentar yang sedikit. Saya juga butuh komentar berisi kritikan dan saran. Dan saya harap tidak ada siders disini. Kali ini saya gak boongan lagi. Chapter kemaren komentarnya kurang dari 20, tapi tetep saya lanjutin. Tapi, di chapter ini, jika komentarnya kurang dari 30, saya gak akan lanjutin FF ini. Suwer! Kalo saya ngelanggar, saya bakal bikin FF sebanyak 20 dalam waktu satu hari (FF Oneshot). Itu jika saya tetap memposting lanjutannya meskipun komentarnya kurang dari 30.

Still (Chapter 3) – END


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong
  • SNSD’s Tiffany as Jung Miyoung
  • SNSD’s Seohyun as Seo Joohyun (Seohyun)
  • etc

Genre : Angst, Family, Romance, Friendship

Length : Series

Note : Final chapter! Kok cepat? Karena aku udah kehabisan ide buat FF ini. Lagi pula, jika di tambah dengan FF 2 versi sebelumnya, itu udah melengkapi FF ini, bukan? So, I hope you can enjoy for this final chapter.

>>> 

Jongin berada di dalam sebuah pesawat dan duduk tepat di samping Yoona. Matanya terus mengamati gumpalan awan putih dari jendela kaca di sampingnya. Sedari tadi ia tak mengeluarkan satu katapun. Yang ada di pikirannya saat ini adalah pernyataan istrinya sebelum kepulangan mendadaknya menuju Seoul.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!”

“Oppa, apa kau baik-baik saja?,” tanya Yoona.

Jongin tidak menjawab. Ia masih memandang keluar jendela kaca.

Yoona menggenggam tangan Jongin. Hal itu berhasil membuat Jongin tersadar kembali dan menatap Yoona.

“Oppa, Sooyeon eonni bukanlah yang terbaik untukmu. Masih ada aku yang mencintaimu,” ucap Yoona.

Jongin melepaskan tangan Yoona dari tangannya. Ia beralih menatap langit-langit pesawat.

“Mengapa penyesalan selalu datang di akhir, Yoona-ah?,” tanya Jongin.

Yoona ikut menatap langit-langit pesawat, “Mungkin karena itu adalah takdir,” jawabnya.

“Aku masih mencintainya. Dan aku menyesal telah menyakitinya,” lirih Jongin.

Yoona menatap Jongin dalam. Sebesar itukah rasa cintamu padanya? Lalu bagaimana denganku?, batinnya.

>>> 

“Sooyeon-ah, berhentilah menangis,” ucap Qian—seraya memeluk Sooyeon erat.

“Aku menyesal, Qian. Aku menyesal,” ucap Sooyeon, “Seharusnya aku tak mengatakan seperti itu. Awalnya aku ragu saat dia mengajakku kembali. Tapi ternyata, dia sungguhan,” tambahnya—di sela tangisnya.

“Aku mengerti, Sooyeon-ah. Ini memang berat. Pasti akan ada jalan keluarnya,” ucap Qian.

Luhan menatap Sooyeon antara miris dan kecewa. Ternyata Sooyeon telah membohonginya. Berkata bahwa ia adalah rekan kerja Jongin, namun kenyataannya ia adalah istri dari pengusaha muda itu.

“Maafkan aku, gege,”

Luhan menoleh ke sampingnya—tepat dimana Sehun berdiri, “Kenapa tidak kau ceritakan dari awal, Sehun?,” tanyanya.

“Aku ingin melakukannya, gege. Tapi, aku tak mungkin membongkar rahasia Jongin,” jawab Sehun.

Luhan menghela napas berat, “Ya sudah. Kau sendiri tidak pulang ke Seoul?,”

Sehun menggeleng, “Besok saja. Aku masih ingin jalan-jalan di Beijing dan membeli oleh-oleh untuk Seohyun,” jawabnya.

Luhan mengangguk mengerti.

>>> 

“Dimana Sooyeon?,” tanya Miyoung—pada Jongin yang duduk di hadapannya.

“Kenapa eommanim tiba-tiba datang kemari?,” tanya Jongin.

“Firasatku mengatakan kalau kau dan Sooyeon telah tiba di Seoul,” jawab Miyoung, “Sekarang dimana Sooyeon?,” tanyanya.

Jongin menjilat bibirnya, “Ngg—Sooyeon meminta untuk tetap disana beberapa hari lagi. Ia harus menghadiri acara pernikahan sahabatnya. Sedangkan aku harus kembali untuk menyelesaikan pekerjaanku,” jawabnya.

Miyoung mengangguk mengerti, “Tapi, mengapa ponsel Sooyeon tidak aktif?,” tanyanya.

Jongin menggaruk kepalanya, “K-Kemarin ponselnya tercebur di sungai. Aku berniat menggantikannya yang baru. Tapi, Sooyeon bilang nanti saja di gantinya,” jawabnya.

Lagi—Miyoung mengangguk mengerti. Sedangkan Jongin bisa menghela napas lega karena ia berhasil berbohong tanpa di curigai sedikit pun.

>>> 

Yuri menghampiri Yoona dan menarik rambut Yoona, membuat Yoona merintih kesakitan.

“Sakit, eonni. Apa yang kau lakukan?,”

Yuri melepaskan rambut Yoona dari genggamannya lalu beralih menampar Yoona tepat di pipinya.

PLAKKK!!

“EONNI!,” teriak Yoona—sambil memegang pipinya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kau keterlaluan, Yoona-ah. Kau mempermalukan aku saja,” seru Yuri.

“Apa maksudmu?,” tanya Yoona.

“Kau sudah membuat hubungan Sooyeon dan Jongin hancur. Harusnya kau itu sadar diri, Yoona-ah. Jongin adalah suami dari orang lain. Kau tidak boleh merebutnya seperti kau merebut es krim orang lain,” jawab Yuri—murka.

“Aku hanya ingin mendapatkan apa yang ku inginkan, eonni,” ucap Yoona.

“Tapi bukan begitu caranya,” ucap Yuri.

Yoona beranjak berdiri, “Lalu, sekarang apa maumu, eonni?,” tanyanya.

“Lebih baik kau kembali ke Tokyo, Yoona-ah,” jawab Yuri.

“Aku tidak mau!,” tolak Yoona.

Yuri menggeram kesal, “Kalau begitu, keluar dari apartemenku!,” bentaknya.

Yoona menatap Yuri tajam, “Kau mengusirku? Beraninya kau,” ucapnya.

“Kau ingin melaporkan hal ini pada Ibumu? Kau pikir aku akan diam saja? Tinggal ku laporkan ulahmu selama disini yaitu menghancurkan rumah tangga orang lain dan kau akan di bunuh oleh Ibumu,” ancam Yuri.

Yoona terdiam. Jika Yuri melaporkan hal tersebut, Yoona pasti akan di kurung di rumahnya di Tokyo.

“Baiklah. Aku akan keluar dari apartemenmu,” putus Yoona.

>>> 

“Ini untukmu!,”

Seohyun mengerjap, “A-Apa ini?,” tanyanya.

Sehun tersenyum, “Ambil dan bukalah. Anggap saja sebagai tanda permintamaafanku,” jawabnya.

Seohyun pun meraih kado pemberian Sehun dan membukanya. Ia begitu kaget saat melihat sepasang sepatu di dalam kado tersebut dengan tanda tangan idolanya, Xiao Luhan.

“K-Kau bertemu dengan Xiao Luhan?,” tanya Seohyun—tak percaya.

“Aku tidak sengaja berpapasan dengannya. Dan aku pun meminta tanda tangannya pada sepatu yang ku belikan khusus untukmu,” jawab Sehun.

Seohyun segera melepas kado tersebut hingga jatuh ke lantai. Sehun cukup kaget melihat insiden tersebut. Apa Seohyun marah?, batinnya.

Namun ternyata Seohyun malah memeluk Sehun dengan erat.

“Aku mencintaimu, Sehun oppa,” ucap Seohyun.

Sehun tersenyum mendengarnya, “Aku juga mencintaimu, Seohyunnie,” balasnya.

>>> 

Sooyeon duduk di kursi yang terletak di taman dekat rumah Qian. Matanya memandang bunga-bunga yang tertiup oleh angin yang berhembus pelan.

“Sudahlah, noona,”

Sooyeon menoleh ke sampingnya. Ternyata Luhan telah duduk di sampingnya. Entah sejak kapan.

“Jangan selalu bersedih. Tidak baik untuk kesehatan,” ucap Luhan.

“Kau tidak mengerti, Lu,” ucap Sooyeon.

“Siapa bilang?,” tanya Luhan, “Aku mengerti kok perasaanmu, noona. Tapi, tidak seharusnya kau seperti ini terus. Tersenyumlah. Kebahagiaan pasti akan datang,” tambahnya.

Sooyeon menyandarkan kepalanya di bahu Luhan. Luhan sempat kaget namun ia mencoba bersikap biasa saja.

“Xie xie, Lu,” ucap Sooyeon.

“Hngg?,”

“Kau sudah mau menjadi sahabat terbaikku. Terima kasih,” ucap Sooyeon.

Luhan tersenyum mendengarnya. Tangannya bergerak untuk mengusap kepala Sooyeon.

“Sampai kapanpun, aku akan menjadi sahabat terbaik untukmu, noona,” gumam Luhan.

>>> 

“Untuk apa kau kemari?,” tanya Jongin, “Dengan koper-kopermu itu? Kau mau kembali ke Tokyo?,”

“Oppa, ijinkan aku untuk tinggal disini,” pinta Yoona.

Jongin membelalakkan matanya, “Apa? Kau gila? Appa akan membunuhku jika kau tinggal disini,”

Yoona langsung menangis, “Yuri eonni mengusirku, oppa. Aku harus tinggal dimana?,” tanyanya.

“Tinggal di hotel saja,” usul Jongin.

“Hotel terlalu mahal, oppa,” ucap Yoona.

“Kalau begitu, apartemen saja,” usul Jongin.

“Aku tidak punya uang untuk menyewa apartemen,” ucap Yoona.

Jongin menghela napas berat. Dasar menyusahkan, batinnya.

>>> 

Sooyeon mencoba menghubungi seseorang melalui tempat penelponan umum. Ia menunggu orang itu untuk menjawab panggilannya.

“Halo?,”

Sooyeon segera menutup teleponnya. Tangannya memegang dadanya. Napasnya pun tak beraturan.

“Akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi,” gumam Sooyeon.

>>> 

Jongin memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.

“Dari siapa, oppa?,” tanya Yoona.

“Tidak tahu. Mungkin orang iseng,” jawab Jongin.

“Jadi, bagaimana, sajangnim? Apakah teman anda bersedia untuk tinggal di apartemen ini?,” tanya seorang wanita setengah paruh.

“Bagaimana, Yoona-ah?,” tanya Jongin.

“Apartemen ini cukup nyaman. Aku mau kok,” jawab Yoona.

“Baiklah. Terima kasih sudah menyewa apartemen ini. Jika ada masalah, segera hubungi kami,” ucap wanita setengah paruh itu.

“Baiklah,” jawab Yoona.

“Terima kasih, Minseon-ssi,” ucap Jongin.

“Sama-sama, sajangnim. Saya permisi,”

Setelah wanita setengah paruh itu pergi, Yoona pun segera membawa koper-kopernya menuju kamarnya. Sedangkan Jongin memilih untuk duduk di sofa sambil menonton TV.

Namun, Jongin kembali teringat akan sosok yang ia cintai.

“Sudah tiga hari aku tak bertemu dengannya. Rasanya seperti tak bertemu selama tiga tahun,” gumam Jongin.

“Sooyeon-ah, apa yang sedang kau lakukan disana? Apa kau sedang memikirkan orang yang tak kau cintai lagi?,” tanya Jongin.

“Oppa, kau berbicara dengan siapa?,” tanya Yoona—yang berhasil memecahkan bayangan Jongin.

“Ah, tidak,” jawab Jongin.

>>> 

Sooyeon sedang makan malam bersama Qian dan Luhan. Mereka menikmati sup buatan Qian serta kalkun panggang buatan Luhan.

“Bagaimana kalkun buatanku, noona?,” tanya Luhan.

“Hmm—sangat enak. Gurihnya terasa dan bumbunya juga,” jawab Sooyeon—ceria.

“Bagaimana dengan sup buatanku?,” tanya Qian.

“Sup buatanmu tak kalah enak kok, jiejie,” jawab Luhan.

Sooyeon mengangguk, “Sup buatanmu tak kalah lezat dari sup buatan restoran Italie dan Prancis,” sahutnya.

Qian tersenyum mendengarnya. Sedangkan Luhan merasa senang karena Sooyeon sudah kembali ceria.

Namun, tiba-tiba ponsel Luhan berdering.

Luhan segera meraih ponselnya dan mengangkatnya, “Ada apa, Sehun?,” tanyanya.

“Bisa bicara dengan Sooyeon?,”

“U-Untuk apa?,” tanya Luhan.

“Ini penting. Dia harus tahu hal ini,”

“Baiklah,” ucap Luhan—lalu menyerahkan ponselnya pada Sooyeon.

“Dari siapa?,” tanya Sooyeon.

“Sehun,” jawab Luhan.

Sooyeon pun meraih ponsel tersebut dan meletakkannya tepat di telinga kanannya.

“Ada apa, Sehun-ssi?,” tanya Sooyeon.

“Sooyeon-ssi, ada kabar buruk,”

Sooyeon menelan salivanya, “Ada apa? Apa yang terjadi?,” tanyanya.

“Kim sajangnim, Jaejoong ahjussi berada di Rumah Sakit. Beliau mengalami kecelakaan dan sekarang beliau sedang di periksa,”

Sooyeon menutup mulutnya. Ia menjadi syok. Qian dan Luhan pun bertanya-tanya.

“Pulanglah ke Seoul dan datanglah ke Rumah Sakit International South Korea,”

“B-Baiklah. Aku akan segera kesana,” jawab Sooyeon.

>>> 

“Tenanglah, Jongin-ah. Kim sajangnim pasti baik-baik saja. Beliau pasti selamat,” ucap Sehun.

“Aku tidak bisa tenang, Sehun-ah. Aku takut kehilangan dia,” ucap Jongin—prustasi.

Yoona menggenggam tangan Jongin, “Tenanglah, oppa. Beliau pasti selamat,” ucapnya.

“Jangan menyentuh menantuku!,” bentak Miyoung, “Jongin sudah beristri. Kau hanyalah teman biasanya saja,”

Yoona segera melepaskan genggamannya. Ia lupa disini ada Ibu dari Sooyeon.

Pintu ruang IGD pun terbuka. Jongin, Miyoung, Sehun dan Yoona segera menghampiri seorang pria berjas putih yang keluar dari ruangan tersebut.

“Bagaimana keadaan belau, uisa?,” tanya Jongin.

“Maafkan saya, Jongin-ssi. Nyawa Kim Jaejoong tidak bisa di selamatkan,” jawab Dokter itu.

“Oh, Tuhan,” ucap Miyoung—lalu menangis.

“T-Tidak mungkin. Kau pasti bohong,” ucap Jongin—tak percaya.

“Sayangnya saya berkata jujur, Jongin-ssi. Sekarang tubuh Kim Jaejoong sedang di jahit dan di bersihkan. Saya permisi,”

Jongin langsung terjatuh ke lantai. Seluruh anggota tubuhnya lemah tak berdaya. Yoona pun memeluknya erat. Sedangkan Sehun mengusap-usap punggung Jongin.

“EOMMA!!,”

Miyoung, Jongin, Yoona dan juga Sehun menoleh ke sumber suara. Sooyeon telah tiba bersama Luhan. Sooyeon pun segera menghampiri Miyoung dan memeluknya erat.

“Apa yang terjadi, eomma?,” tanya Sooyeon.

“Jaejoong sudah pergi. Dia sudah pergi,” jawab Miyoung—disela tangisannya.

“A-Apa?,” seru Sooyeon—syok. Ia juga tak bisa menerima keadaan ini.

>>> 

Jongin menatap foto Ayahnya yang terletak di dalam figura yang di letakkan di depan nisan. Proses pemakaman sudah berakhir tetapi Jongin masih betah di tempat tersebut.

“Saatnya pulang, Kim Jongin,”

Jongin menoleh, “Sooyeon-ah?,” lirihnya.

Sooyeon ikut berjongkok di samping Jongin, “Aku tahu ini berat. Kehilangan seseorang yang kita cintai itu sangat menyakitkan,” ucapnya.

Jongin menggenggam tangan Sooyeon, “Dan aku tidak ingin kehilangan orang yang ku cintai untuk kedua kalinya,” ucapnya.

“J-Jongin~”

“Apakah kau masih mencintaiku?,” tanya Jongin.

“Bukankah saat di Beijing—”

“Aku ingin kau mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku pun juga masih mencintaimu, Sooyeon-ah. Aku menyesal telah menyakitimu,” ucap Jongin.

Sooyeon perlahan mengangguk. Ia tak bisa membohongi perasaannya bahwa ia pun juga masih mencintai Jongin.

“Ya, aku masih mencintaimu,” jawab Sooyeon.

Jongin tersenyum. Di peluknya tubuh istri yang ia cintai dengan erat. Sooyeon pun melakukan hal yang sama.

“Aku takkan pernah mengecewakanmu lagi, Sooyeon-ah. Aku berjanji,” ucap Jongin.

“Ya, aku percaya padamu,” jawab Sooyeon.

Disisi lain, ada enam orang yang memperhatikan mereka berdua.

“Yoona-ah, lepaskanlah dia. Aku yakin di luar sana ada orang yang lebih baik darinya,” ucap Yuri.

Yoona terdiam. Ia tak mampu mengeluarkan satu kata pun.

“Aku tak menyangka ternyata hubungan mereka hampir musnah,” ucap Miyoung.

Seohyun memeluk Miyoung erat, “Yang penting, sekarang mereka sudah kembali bersama, immo,” ucapnya—lalu beralih menatap kekasihnya yang berada di sampingnya.

Sehun tersenyum seraya mengusap kepala Seohyun.

Sedangkan Luhan menyaksikan Jongin dan Sooyeon dengan perasaan yang miris.

“Mungkin Sooyeon bukan jodohku,” gumam Luhan pelan.

>>> 

2 years later~

“Tarik napas, keluarkan, dorong!,”

“Nggghhhhhhh!!!!,” seru Sooyeon—seraya mengejan. Tangannya meremas dan menarik rambut Jongin.

“Sakit, Sooyeon-ah,” ucap Jongin.

“Aku—hhh—begini—hhh—karena kau juga—hhh—kan?,” omel Sooyeon.

“Kalau tahu begini, lebih baik kemarin kita tidak usah melakukannya saja. Aku kan tidak bisa mengurus anak kecil,” ucap Jongin.

PLETAKK!!!

“HEI! KENAPA MEMUKULKU?!!,” teriak Jongin—murka.

“Jangan membuat kondisi istri anda semakin buruk, agassi. Anda harus mendukung dia,” ucap seorang bidan.

Jongin mengangguk, “I-Iya, aku mengerti,” jawabnya.

Sooyeon terus mengejan, dan..

“UWEEKKKK!!!,”

“Woah! Bayinya lahir!,” seru Jongin.

“Kau ini seperti anak kecil,” gumam Sooyeon.

“Bayinya perempuan,” ucap bidan itu.

“Kita beri nama siapa, Sooyeon-ah?,” tanya Jongin.

“Kim Luna,” jawab Sooyeon.

“Kenapa harus Luna? Seharusnya nama bayi kita itu adalah Jasmine, Elisabeth, atau Hermione,” protes Jongin.

“Luna artinya Luhan dan Yoona. Mereka adalah sahabat kita jadi aku ingin bayi kita bisa menjadi sahabat kita juga,” jawab Sooyeon.

Jongin menghela napas berat, “Baiklah. Terserahmu saja,” jawabnya.

“Kau seperti tidak menginginkan seorang anak saja,” ucap Sooyeon.

“Aku kan inginnya sebelas anak,” jawab Jongin.

PLETAKKK!!!

“KENAPA MEMUKULKU LAGI?!!,” teriak Jongin.

“Jangan berbicara yang aneh-aneh,” ucap Sooyeon.

Jongin merengut sambil mengusap kepalanya yang sepertinya sudah bengkak karena di pukul Sooyeon dua kali.

Namun, Sooyeon mengukir senyuman di bibir tipisnya. Ia tak menyangka jika ia akan berbaikan dengan Jongin dan memiliki seorang anak.

“Terima kasih, Tuhan,” gumam Sooyeon.

Jongin yang mendengarnya—ikut tersenyum seraya membelai halus rambut istrinya. Ia pun berharap dirinya akan selamanya bisa bersama Sooyeon.

END

Review, please!

Who I Love? (Chapter 3)


Title : Who I Love

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
• SNSD’s Jessica as Jessica Jung
• EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
• EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
• EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :
• SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
• SNSD’s YoonA as Im Yoona
• EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
• SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
• EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
• etc

Genre : Romance, Fluff, Friendship

Length : Series

>>>

Jessica dan Seohyun sedang duduk di sofa sambil menonton TV di malam hari. Mereka hanya berdua, tanpa Sehun. Dan hal itu membuat Jessica sedikit bingung.

“Dimana Sehun?,” tanya Jessica, “Tidak biasanya dia tak hadir di sekitar kita,” tambahnya.

“Dia sudah tidur,” jawab Seohyun, “Hanya sekedar ku nyanyikan lagu tidur, dia sudah tertidur seperti anak kecil,” tambahnya.

Jessica tertawa renyah di buatnya. Ia tak menyangka Sehun bisa sepolos itu.

“Apa kau tahu—dulu Sehun adalah anak kecil yang cengeng dan penakut pada semua spesies serangga!,” ucap Seohyun.

Jessica mengerjap, “Benarkah? Sehun yang dingin dan pemarah itu ternyata cengeng dan penakut pada serangga?,” tanyanya—tak percaya.

Seohyun mengangguk, “Dan aku lah yang selalu menjadi harapannya untuk melindunginya,” jawabnya.

Jessica bertepuk tangan, “Kau hebat, Seohyun-ya. Kau yang melindunginya? Ku pikir selama ini Sehun yang melindungimu,” ucapnya.

“Sehun memang sekarang yang melindungiku. Dia berjanji akan membalas semua jasa-jasaku saat remaja hingga tua nanti,” ucap Seohyun.

Jessica tersenyum mendengarnya. Ia semakin tertarik dengan cerita masa lalu Seohyun dan Sehun.

“Kau pernah bilang bahwa kau dan Sehun awalnya hanya bersahabat. Dan pada akhirnya kalian tinggal berdua dan membentuk keluarga. Lantas, bagaimana ceritanya?,” tanya Jessica—penasaran.

Seohyun tersenyum simpul, “Setelah orangtua ku dan orangtua Sehun meninggal dunia, aku dan Sehun memutuskan untuk tinggal berdua. Kami menjadi pengamen dan mencari uang banyak. Kami tinggal di sebuah rumah haraboji yang baik hati. Setelah kami tinggal disana, Sehun yang manja berubah menjadi Sehun yang kuat. Dia mencari pekerjaan sedangkan aku membantu haraboji di rumah. Hingga kami tumbuh remaja dan Sehun menjadi sukses karena gaji pekerjaannya yang berlimpah,” ucapnya.

“Benarkah?,” tanya Jessica.

Seohyun mengangguk, “Sehun membeli rumah ini, dan mendaftarkan dirinya dan aku ke sekolah yang sekarang menjadi sekolahmu juga. Haraboji juga ikut tinggal bersama kami. Namun, beberapa hari kemudian, haraboji telah tiada. Kami pun hanya tinggal berdua,” jawabnya.

Jessica berdecak kagum, “Perjuangan kalian sungguh luar biasa, ya? Aku tidak menyangka,” ucapnya.

“Kau juga, Sica-ya,” ucap Seohyun.

Jessica menggeleng, “Kau lupa awal tahun aku mencoba melakukan bunuh diri di jembatan? Jika kalian tak menghentikan aksi ku, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini,” ucapnya.

Seohyun tersenyum, “Setidaknya saat ini kau menjadi gadis yang tegar dan kuat. Aku kagum padamu, Sica-ya,” ucapnya.

Jessica ikut tersenyum. Ia memang selalu tersenyum jika Seohyun tersenyum. Ia merasa ia melihat sosok Ibunya di balik seorang Seohyun.

>>>

Jessica menguap beberapa kali selama istirahat. Ia memang tak memutuskan untuk ke kantin atau kemana pun. Ia sangat lelah karena tadi malam ia bercerita dengan Seohyun hingga larut. Namun, tampaknya Seohyun dalam keadaan baik-baik saja.

“Sica-ah,”

Jessica terlonjak kaget saat seseorang yang muncul di sampingnya mengeluarkan suara. Ia mengusap dadanya perlahan.

“Taeyeon-ah! Kau mengagetkan ku saja,” ucap Jessica—syok.

Taeyeon terkekeh pelan, “Maafkan aku,” ucapnya, “Aku hanya ingin meminta pendapatmu,” tambahnya.

Jessica mengernyit bingung, “Pendapat apa?,” tanyanya.

Taeyeon tersenyum malu, “Menurutmu Baekhyun itu bagaimana? Apa yang kau ketahui dari Baekhyun?,” tanyanya.

Jessica masih bingung. Namun, ia mencoba menjawab setahunya.

“Yang ku tahu—Baekhyun itu pandai bermain musik, pintar matematika dan cukup tampan,” jawab Jessica.

Taeyeon tersenyum manis—dan itu membuat Jessica semakin bingung.

“Kau hanya tahu sisi luarnya saja. Itu artinya kau tidak menyukai Baekhyun!,” seru Taeyeon.

“A-Apa? Apa maksudmu?,” tanya Jessica—semakin tak mengerti.

“Baekhyun itu bijaksana, penyayang, suka memberikan solusi, dewasa, rendah hati, suka menyumbang apa yang ia miliki pada orang yang tidak mampu, pandai memainkan piano dan harmonika, pintar matematika dan fisika, sangat tampan, dan sangat menyayangi anjing peliharaannya sampai-sampai ia rela jatuh sakit demi melindungi anjingnya,” jawab Taeyeon.

Jessica menganga di buatnya. Ia tampak seperti orang bodoh. Taeyeon sangat mengetahui tentang Baekhyun! Hebat!, batinnya.

“Menurutmu apa inti dari maksud ku tadi?,” tanya Taeyeon.

“Rupanya selama ini kau sering memata-matai Baekhyun. Pantas saja kau tahu semuanya,” jawab Jessica—yang berhasil membuat Taeyeon tersungkur ke lantai.

“Dasar tidak peka!,” omel Taeyeon.

Jessica menggaruk kepalanya, “Habisnya aku tidak mengerti, Taeyeon-ah,” ucapnya.

“Itu artinya—aku menyukai Baekhyun,” ucap Taeyeon.

Jessica membelalakan matanya, “Kau—menyukai—Baekhyun?,” tanyanya—tak percaya.

Taeyeon mendesis, “Terpaksa aku memberitahumu karena kau tak pandai menebak,” ucapnya—kesal.

“Ah, sekarang aku mengerti. Jadi, jika seseorang sedang menyukai orang lain, maka orang itu mengetahui apa yang ada di dalam diri orang yang di sukainya?,” tanya Jessica.

“Tepat sekali,” jawab Taeyeon, “Apakah kau mempunyai orang yang kau sukai?,” tanyanya.

Jessica mendadak grogi, “A-Aku—tentu saja tidak ada,” jawabnya.

Taeyeon menatapnya curiga, “Kau bohong, kan? Ceritakan saja padaku,” serunya.

“Ngg—I-ITU BAEKHYUN!!,” teriak Jessica.

Taeyeon segera berbalik. Namun, ternyata tidak ada Baekhyun. Ia mendesis kesal. Ia segera beralih menatap Jessica, namun Jessica sudah tidak ada lagi di tempatnya.

“Kemana gadis blasteran itu pergi?,” geram Taeyeon.

>>>

Jessica berlari hingga ke halaman sekolah. Ia berjalan menuju pohon kesayangannya dan duduk di bawahnya.

Jessica masih memikirkan kejadian tadi bersama Taeyeon. Ia memikirkan sosok yang ia sukai yaitu Luhan.

“Apa yang ku ketahui tentang Luhan sunbae, ya?,” gumam Jessica.

Jessica berpikir sejenak.

“Aha!,” serunya, “Aku tahu! Luhan sunbae itu orangnya keren, senior yang baik tidak seperti Minseok sunbae yang terkesan mengerikan, dan—apa, ya?,”

Jessica menggaruk kepalanya. Ia masih memikirkan apa yang ia ketahui tentang Luhan.

“Luhan sunbae itu tampan, sepertinya suka makan es krim, dan—apa lagi?,”

Jessica mendadak prustasi. Ia mengacak-acak rambutnya.

“Aku hanya tahu itu. Dan itu semua hanya dari sisi luarnya saja,” ucap Jessica.

“Jung-ya~”

“KYAAAAA!!!!!!,” teriak Jessica—kaget.

“M-Maafkan aku, Jung-ya. Tidak bermaksud untuk mengagetkanmu,” ucap seorang siswa—yang tak lain adalah Chanyeol.

Jessica mendengus kesal. Tiba-tiba, ia memikirkan sesuatu.

“Ngg—Chanyeol-ah, apa yang kau ketahui tentang orang yang kau sukai?,” tanya Jessica.

Chanyeol tersenyum, “Dia orang yang cantik, sangat cantik. Dia juga cerewet, pemarah, suka makan es krim, bodoh soal matematika, dan payah memasak. Bisanya hanya memasak belut dan itu pun belut gosong!,” jawabnya.

Jessica meraih buku yang di pegang Chanyeol—lalu memukuli Chanyeol dengan buku tersebut.

“Kau itu menceritakan orang yang kau sukai atau mengejekku, Park Chanyeol?,” tanya Jessica—murka.

“Ah, ampun, Jung-ya. Ini sakit!,” ringis Chanyeol—yang terus menerima pukulan dari Jessica.

Jessica melempar buku itu ke sembarang tempat. Ia segera berjalan pergi meninggalkan Chanyeol seorang diri.

Chanyeol tersenyum, “Aku hanya menjawab pertanyaanmu, Jung-ya. Itu saja,” gumamnya.

>>>

Sehun dan Jessica sedang berada di kamar Jessica. Kini Sehun telah menjadi guru private untuk mengajari Jessica pelajaran matematika. Awalnya Jessica menolak, namun Sehun tetap memaksa untuk menerima ajaran dari Sehun.

“Kenapa kau menghilang saat jam istirahat tadi siang?,” tanya Sehun.

“Oh, itu. Aku hanya keluar sebentar,” jawab Jessica.

“Kau tidak sedang menemui Luhan, kan?,” tanya Sehun.

Jessica merengut, “Kenapa kau terus melarangku untuk menemuinya?,” tanyanya—kesal.

“Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan bahwa Luhan itu—”

“Kau tidak punya bukti apa-apa, Sehun-ah,” potongnya, “Aku tidak akan percaya pada hal yang tidak memiliki bukti,” tambahnya.

Sehun mendesis. Jessica memang keras kepala, batinnya.

“Sehun-ah~”

Sehun dan Jessica menoleh ke sumber suara. Mereka mendapati Seohyun yang muncul dengan gaun berwarna putih nan indah.

“Whoa! Kau sangat cantik, Seohyun-ya,” puji Jessica.

Seohyun tersenyum, “Bagaimana menurutmu, Sehun-ah?,” tanyanya.

Sehun mengangguk, “Bagus. Kau terlihat cantik seperti bidadari,” jawabnya.

Pipi Seohyun memerah karenanya. Jessica yang melihat hal tersebut menjadi curiga.

“Baiklah. Pelajaran kita selesai. Aku lelah. Aku kembali ke kamar, ya?,” seru Sehun—seraya bangkit dari ranjang Jessica lalu keluar dari kamar Jessica.

Seohyun segera duduk menggantikan posisi Sehun dengan wajah yang masih memerah.

“Ada apa denganmu, Seohyun-ya? What’s happen with your face?,” tanya Jessica.

Seohyun menyentuh pipinya, “Apakah bedakku terlalu tebal?,” tanyanya.

Jessica menggeleng, “Wajahmu memerah saat Sehun memujimu,” jawabnya.

Seohyun mendadak malu. Ia menundukkan kepalanya. Tiba-tiba, suatu ide muncul di otak Jessica.

“Apa yang kau ketahui tentang Sehun?,” tanya Jessica.

Seohyun mengangkat kepalanya. Ia menatap Jessica bingung.

“Apa maksudmu?,” tanya Seohyun.

“Sudah, jawab saja,” ucap Jessica.

Seohyun memejamkan kedua matanya, “Sehun itu sangat penyayang, meskipun dari luar ia sangat dingin, namun ia sangat penyayang. Sehun selalu melindungiku, Sehun selalu membelaku, dia sangat rendah hati, dia juga sering menangis saat ia teringat haraboji. Sehun sangat gemar membaca, Sehun juga suka mengoleksi foto-foto orangtuanya di belakang pintu kamarnya. Sebenarnya masih banyak yang ku ketahui tentangnya,” jelasnya.

“Dan—kau menyukainya, kan?,” tebak Jessica.

Seohyun membuka matanya, “Ya, aku menyukainya,” jawabnya.

Jessica tersenyum sumringah. Tebakanku tidak meleset.

“Tetapi bukan sebagai pria,” ucap Seohyun.

Jessica terdiam. Ia sedikit bingung maksud perkataan Seohyun.

“Aku menyukainya, sangat menyukainya. Sehun adalah orang yang ku sukai, ku kagumi, ku idolakan. Dia sudah ku anggap sebagai oppa, sebagai appa, dan sebagai haraboji. Tapi tidak sebagai pria yang akan ku nikahi nanti. Aku memang sering salah tingkah jika ia memujiku. Tapi, aku seperti itu karena aku sangat senang. Aku senang Sehun peduli padaku. Aku senang Sehun masih menyayangiku seperti appa ku sendiri,” ucap Seohyun.

Kini Jessica mengerti apa maksud perkataan Seohyun. Ia sempat terlena mendengarkan kata demi kata yang di lontarkan oleh Seohyun dengan tulus.

“Tapi, kenapa aku tidak bisa mengetahui tentang Luhan sunbae?,” gumam Jessica—sambil menangis.

“Sica-ya, apa cerita ku sangat menyentuh?,” tanya Seohyun.

>>>

Jessica bertekad untuk menemui Luhan hari ini. Ia sangat penasaran akan apa saja yang ada di dalam diri seorang Luhan. Maka dari itu, Jessica akan menginterogasi Luhan habis-habisan.

“Luhan sunbae? Kau dimana?,” gumam Jessica—sambil mencari-cari sosok idolanya itu.

Namun, matanya menangkap sebuah pemandangan yang tak pernah Jessica harapkan. Ia melihat Luhan bersama seorang siswi yang tampaknya merupakan senior Jessica juga. Jessica pun memutuskan untuk mengintipnya dari balik pohon kesayangannya.

“Sudah hampir satu bulan kau tidak masuk, Yoona-ah,” ucap Luhan.

Siswi—bernama Yoona—itu tertawa renyah, “Aku harus menjalani operasi pada perutku, Luhan-ah. Tumor itu menyiksaku,” jawabnya.

“Tapi, syukurlah sekarang kau sudah sembuh,” ucap Luhan.

Yoona tersenyum, “Aku merindukanmu, Luhan-ah,” ucapnya.

“Aku juga,” jawab Luhan, tangannya menyentuh kepala Yoona, “Aku merindukan kebaikanmu, kepolosanmu, kecerdasanmu, masakanmu, dan segala yang ada di dalam dirimu,” ucapnya.

Jessica meneteskan air matanya. Ia tak menyangka, Luhan mengetahui segala yang ada di dalam diri Yoona.

“Jangan-jangan, Luhan sunbae dan Yoona sunbae adalah sepasang kekasih?,” gumam Jessica.

Jessica pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Ia berlari hingga menabrak seseorang.

“Jessica-ya? Jangan menabrak orang sembarangan,” omel orang itu—yang tak lain adalah Sehun.

Jessica menatap Sehun dengan tajam dengan air mata yang terus berlinang.

“K-Kau menangis? A-Ada apa?,” tanya Sehun—takut.

Jessica langsung memukuli dada Sehun dengan kuat, “Kenapa aku tak mengetahui apa yang ada di dirinya? Padahal aku menyukainya. Di bandingkan Oh Sehun yang keras kepala, kasar, suka emosi, payah, tidak terlalu tampan, menyebalkan, dingin, tidak pandai di bidang olahraga, dan tidak tahu sopan santun!!!,”

Sehun membeku mendengar apa yang di katakan Jessica. Sedangkan Jessica menyentuh bibirnya.

“Mengapa aku tahu apa yang ada di diri Sehun? Mengapa aku tahu terlalu banyak?,” gumam Jessica.

Jessica segera berlari meninggalkan Sehun yang masih mematung di tempat.

“Aku—payah?,” gumam Sehun.

To Be Contiuned

Who I Love? (Chapter 2)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Lu Han

Support Cast :

  • SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
  • etc

Genre : Fluff, Romance, School Life, Friendship

Length : Series

Note : Posternya nyusul, ya? Gak papa kan sementara gak pake poster. Lagi males bikin soalnya. Soalnya karakternya banyak. Jadi aku pengen request poster ke orang pinter aja XD

>>> 

Aku menatapi langit-langit kamarku. Aku masih memikirkan kalimat yang di keluarkan dari mulut Sehun.

“Selamat, ya? Kau pasti sangat puas bisa berkencan dengan Luhan,”

 

Aku mengusap wajahku pelan. Aneh, untuk apa aku memikirkannya? Apa dia cemburu? Ah, itu sangat mustahil. Mana mungkin seorang Oh Sehun yang dingin dan selalu membuatku kesal menjadi cemburu. Masa dia menyukai Luhan sunbae? Atau dia menyukaiku?

Ah, sangat mustahil!

“Sica-ya~”

Aku menoleh ke sumber suara. Oh ternyata itu Seohyun. Ia muncul dari balik pintu kamarku.

Aku segera bangkit dan duduk, “Masuklah, Seohyun-ya,” ucapku.

Seohyun mengangguk dan masuk ke kamarku. Ia duduk di hadapanku.

“Kau dan Sehun—bertengkar lagi?,” tanyanya.

Bertengkar? Kapan? Bukankah Sehun hanya mengucapkan selamat padaku?

“M-Memangnya kenapa, Seohyun-ya? Dia menceritakan sesuatu padamu?,” tanyaku.

Seohyun menggeleng, “Hanya saja—tadi aku melihat Sehun membanting playstationnya di kamarnya. Ku pikir kalian sehabis bertengkar,” jawabnya.

Astaga! Apakah Sehun semarah itu? Tapi, untuk apa dia marah?

“Apa kau menanyakan apa yang terjadi padanya?,” tanyaku.

“Tadi aku sempat bertanya. Tapi, dia malah membentakku dan menyuruhku untuk keluar dari kamarnya,” jawab Seohyun.

Tidak! Sehun tidak pernah sebelumnya membentak Seohyun. Aku harus memberi Sehun pelajaran.

“Kau tunggu disini, Seohyun-ya. Don’t go anywhere,” pintaku.

“U-Untuk apa?,” tanyanya.

“Tunggu saja disini. Tetap disini hingga aku kembali,” jawabku.

Setelah Seohyun menganggukan kepalanya, aku segera keluar dari kamarku dan berlari menuju kamar Sehun. Awas saja kau, Oh Sehun. Akan ku beri kau pelajaran karena sudah membentak Seohyun.

“OH SEHUN, BUKA PINTUNYA!!,” teriakku—seraya menggendah pintu kamarnya.

“HEI! OH SEHUN!!,” teriakku lagi. Apa dia tuli? Kenapa pintunya belum di buka juga?

“Baik, aku akan mendobrak pintu kamarmu,” ucapku.

Aku segera mundur. Aku menarik napas dalam dan mengeluarkannya. Setelah itu, aku bersiap untuk berlari dan mendobrak pintu kamar raja iblis itu.

“AAAAAA!!!!!!!,” teriakku—seraya mulai berlari menuju pintu kamar Sehun.

Namun,

“ARGH!!,”

Aku membuka mataku. Bukannya mendobrak pintu, tapi aku malah mendobrak perut Oh Sehun. Dia pasti kesakitan.

“Kau ini!,” geramnya.

“Makanya, jangan membuka pintu di saat aku ingin mendobraknya,” ucapku.

Sehun masih memegangi perutnya. Wajahnya terkesan pahit. Terdengar ringisan yang cukup keras dan tertahan. Apakah sesakit itu rasanya?

“M-Maafkan aku, Sehun-ah,” ucapku—takut.

BRUKKK!!!

“OH SEHUN!!!!,” teriakku—kaget. Sehun tiba-tiba terjatuh ke lantai seperti orang yang sedang pingsan. Hanya saja Sehun masih sadar.

“A-Aku akan membawamu ke Rumah Sakit,” ucapku.

Baru saja aku ingin beranjak, tapi Sehun memegang lenganku. Aku menatapnya bingung.

“T-Tidak perlu ke Rumah Sakit. Cukup di kompres dengan handuk hangat, pasti sembuh!,” ucapnya—di ikuti ringisannya.

Aku menatap Sehun kagum. Ternyata dia cukup kuat.

“Baiklah,” ucapku—lalu membantunya berdiri.

>>> 

“Bagaimana kau bisa seperti ini?,” tanya Seohyun—seraya mengompresi perut Sehun.

“Maafkan aku, Seohyun-ya,” ucapku—menyesal.

“Tidak—ini bukan salahmu, Jessica-ya,” ucap Sehun—dan tersenyum.

Aku terpaku melihat senyumannya. Ini yang pertama kalinya. Aku baru pertama kali bisa melihat seorang Oh Sehun tersenyum. Dan senyuman itu di tujukan untukku.

“Sehun-ah, apa kau baik-baik saja?,”

Aku menoleh ke belakang. Ternyata Chanyeol, Baekhyun dan Taeyeon sudah datang. Tadi aku yang menghubungi mereka.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit nyeri di bagian perutku,” jawab Sehun.

“Bagaimana hal ini bisa terjadi?,” tanya Taeyeon.

Aku menunduk, “Aku meninju perutnya,” jawabku.

“A-Apa?,”

“Jung-ya, kau luar biasa!,” seru Chanyeol—seraya memegang bahuku. Dasar Chanyeol. Di saat seperti ini sangat tidak tepat untuk memuji keahlianku.

“Sehun-ah, besok kau tidak usah masuk sekolah,” ucap Baekhyun.

“Tidak mau. Aku akan tetap masuk,” protes Sehun.

“Dasar keras kepala!,” seruku—yang sukses membuat semuanya memandang ke arahku.

“Apa katamu?,” tanya Sehun.

“Kau—keras kepala, Oh Sehun!,” jawabku, “Kau sedang sakit. Jangan memaksakan dirimu. Kau hanya akan membuat orang-orang di sekitarmu menjadi repot!,” seruku.

Semua yang ada di sekitarku masih diam. Begitu juga dengan Sehun.

“Aku tidak bermaksud untuk menghinamu. Tapi, aku hanya ingin kau mandiri, Sehun-ah. Mandiri dalam artian kau harus bisa menjaga kondisimu. Jangan masuk sekolah besok. Minimal satu hari saja. Beristirahatlah dulu. Jangan membuat orang lain mencemaskanmu,” ucapku.

“Jessica-ya~”

“Kau selalu menjadi nomor satu di mata semua orang. Di mata Seohyun, dan di mata teman-teman. Sedangkan aku?,” aku menarik napas sejenak, “Aku iri padamu, Oh Sehun. Semua orang selalu mencemaskanmu, peduli padamu. Dan sekarang aku ingin teman-teman tidak perlu mencemaskanmu. Maka dari itu, beristirahatlah!,”

“Sica-ya!,”

Seohyun menghampiriku dan memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Beberapa detik kemudian, aku merasakan banyak yang memelukku.

“Kami semua peduli padamu, Sica-ya,” ucap Seohyun.

“Seohyun benar, Jung-ya. Kami peduli padamu,” ucap Chanyeol.

“Bukankah kita berteman?,” tanya Baekhyun.

“Teman harus saling peduli,” ucap Taeyeon.

Aku tersenyum dan terharu. Ku usap air mataku yang mulai jatuh. Aku melirik Sehun. Ia juga tersenyum padaku.

>>> 

Aku sedang duduk bawah pohon rindang di halaman sekolah. Dengan lantunan musik yang keluar dari earphone yang menempel di sepasang telingaku, aku menggambar seseorang yang ada di hadapanku.

“Apakah sudah selesai, Jung-ya?,”

Aku menghela napas berat, “Kau sangat payah, Chanyeol-ah. Begitu saja sudah lelah,” cibirku.

“Tentu saja lelah, Jung-ya. Aku bukan patung yang bisa berdiam diri dalam waktu yang lama,” ucap Chanyeol.

Aku mendesis, “Ini baru sedikit, Park Chanyeol. Aku baru melukis bagian wajahmu,” ucapku.

Chanyeol menghela napas berat, “Masih lama, ya?,” tanyanya.

“Salahmu sendiri karena bersedia sebagai model lukisku,” ucapku.

“Aku bersedia menjadi model lukismu,”

Aku menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, pemilik suara tersebut adalah Luhan sunbae.

“L-Luhan sunbae?,”

Luhan segera duduk di sampingku, “Mungkin Chanyeol sudah lelah. Aku siap menjadi patung untuk di lukis,” ucapnya.

Aku mengerjapkan mataku. Apa bisa ya aku melukis Luhan sunbae? Aku takut hasilnya jelek. Seorang Luhan sunbae yang sangat sempurna tidak mungkin bisa di lukiskan apalagi yang melukisnya adalah pelukis amatir seperti aku.

“Bagaimana?,” tanya Luhan sunbae.

“Ngg—baiklah,” jawabku.

Luhan sunbae pun beranjak berdiri dan menggantikan posisi Chanyeol. Chanyeol dengan wajah kusutnya segera menyingkir dan duduk di sampingku.

“Kau tega sekali menggantikanku dengannya, Jung-ya,” bisik Chanyeol.

“Bukankah kau kelelahan?,” tanyaku.

Chanyeol mengerucutkan bibirnya—membuat dirinya tampak konyol dan err…menggemaskan.

Aku mulai menggambar bagian wajah Luhan sunbae. Aku melakukannya dengan hati-hati. Aku takut aku salah menggambarnya.

>>> 

“Kami pulang!!,” seruku dan Seohyun.

Kami menemukan Sehun yang sedang menonton TV sambil duduk di sofa. Aku pun duduk di samping Sehun, sementara Seohyun duduk di sofa lainnya.

“Bagaimana keadaanmu?,” tanyaku.

“Seperti yang kau lihat,” jawabnya—datar.

Hei, ada apa lagi dengannya? Kenapa the real of Oh Sehun telah kembali? Padahal aku lebih suka sikapnya yang tadi malam.

“Sehun-ah, kau ingin ku buatkan sup?,” tawar Seohyun.

Sehun mengangguk, “Kebetulan aku sedang lapar,” jawabnya.

Seohyun segera bangkit dan pergi menuju dapur. Baru saja aku ingin menyusulnya, tapi Sehun menahanku dengan menggenggam lenganku.

“Tetap disini, temani aku,” ucapnya.

Aku menghela napas berat. Berhubung dia sedang sakit, dan penyebabnya adalah aku, maka mau tidak mau aku harus menurutinya.

“Apa hari ini kau bersama dengan Luhan lagi?,”

Aku menelan salivaku kasar. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah Sehun keturunan seorang peramal?

“Hei, jawab aku!,”

“Ngg—iya, bersama Chanyeol juga,” jawabku.

Aku mendengar Sehun menghela napas kasar. Aku menjadi sedikit takut. Bagaimana jika ia marah seperti tadi malam?

“Sudah ku duga,” gumamnya.

“K-Kenapa kau tampaknya tak suka jika aku bersama Luhan sunbae?,” tanyaku.

Sepertinya aku salah bertanya. Kini, Sehun menatapku tajam. Seohyun, cepatlah datang. Cairkan suasana yang menegangkan ini.

Sehun mengalihkan pandangannya ke TV, “Luhan bukan orang yang baik,” jawabnya.

Aku menoleh ke arahnya dan sedikit kaget akan pernyataan Sehun.

“Apa maksudmu Luhan sunbae bukan orang yang baik?,” tanyaku—tak terima.

Sehun beranjak berdiri, “Kau akan tahu nanti. Jadi, ku sarankan untuk menjauhinya mulai hari ini,”

Aku terdiam. Apa benar Luhan sunbae bukan orang yang baik? Melihat karakter wajahnya, sulit untuk mempercayai perkataan Sehun.

>>> 

“Apa kau masih mendekati gadis blasteran itu?,” tanya Minseok.

“Namanya Jessica, hyung,” ucap Luhan.

Minseok memutar bola matanya, “Terserah apa katamu, Luhan.” ucapnya, “Lebih baik kau berhenti mendekatinya. Kau tahu dia tinggal bersama siapa,”

Luhan menyeringai, “Aku tahu apa yang ku lakukan, hyung. Percayalah padaku!,” ucapnya.

Minseok menatapnya sedikit bingung. Rencana apa lagi yang di susun olehnya?, batinnya.

To Be Contiuned

 

Review, please ^^

Komentar minimal 20. Kalo gak lebih, gak aku lanjutin FF ini.