Still (Chapter 3) – END


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong
  • SNSD’s Tiffany as Jung Miyoung
  • SNSD’s Seohyun as Seo Joohyun (Seohyun)
  • etc

Genre : Angst, Family, Romance, Friendship

Length : Series

Note : Final chapter! Kok cepat? Karena aku udah kehabisan ide buat FF ini. Lagi pula, jika di tambah dengan FF 2 versi sebelumnya, itu udah melengkapi FF ini, bukan? So, I hope you can enjoy for this final chapter.

>>> 

Jongin berada di dalam sebuah pesawat dan duduk tepat di samping Yoona. Matanya terus mengamati gumpalan awan putih dari jendela kaca di sampingnya. Sedari tadi ia tak mengeluarkan satu katapun. Yang ada di pikirannya saat ini adalah pernyataan istrinya sebelum kepulangan mendadaknya menuju Seoul.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!”

“Oppa, apa kau baik-baik saja?,” tanya Yoona.

Jongin tidak menjawab. Ia masih memandang keluar jendela kaca.

Yoona menggenggam tangan Jongin. Hal itu berhasil membuat Jongin tersadar kembali dan menatap Yoona.

“Oppa, Sooyeon eonni bukanlah yang terbaik untukmu. Masih ada aku yang mencintaimu,” ucap Yoona.

Jongin melepaskan tangan Yoona dari tangannya. Ia beralih menatap langit-langit pesawat.

“Mengapa penyesalan selalu datang di akhir, Yoona-ah?,” tanya Jongin.

Yoona ikut menatap langit-langit pesawat, “Mungkin karena itu adalah takdir,” jawabnya.

“Aku masih mencintainya. Dan aku menyesal telah menyakitinya,” lirih Jongin.

Yoona menatap Jongin dalam. Sebesar itukah rasa cintamu padanya? Lalu bagaimana denganku?, batinnya.

>>> 

“Sooyeon-ah, berhentilah menangis,” ucap Qian—seraya memeluk Sooyeon erat.

“Aku menyesal, Qian. Aku menyesal,” ucap Sooyeon, “Seharusnya aku tak mengatakan seperti itu. Awalnya aku ragu saat dia mengajakku kembali. Tapi ternyata, dia sungguhan,” tambahnya—di sela tangisnya.

“Aku mengerti, Sooyeon-ah. Ini memang berat. Pasti akan ada jalan keluarnya,” ucap Qian.

Luhan menatap Sooyeon antara miris dan kecewa. Ternyata Sooyeon telah membohonginya. Berkata bahwa ia adalah rekan kerja Jongin, namun kenyataannya ia adalah istri dari pengusaha muda itu.

“Maafkan aku, gege,”

Luhan menoleh ke sampingnya—tepat dimana Sehun berdiri, “Kenapa tidak kau ceritakan dari awal, Sehun?,” tanyanya.

“Aku ingin melakukannya, gege. Tapi, aku tak mungkin membongkar rahasia Jongin,” jawab Sehun.

Luhan menghela napas berat, “Ya sudah. Kau sendiri tidak pulang ke Seoul?,”

Sehun menggeleng, “Besok saja. Aku masih ingin jalan-jalan di Beijing dan membeli oleh-oleh untuk Seohyun,” jawabnya.

Luhan mengangguk mengerti.

>>> 

“Dimana Sooyeon?,” tanya Miyoung—pada Jongin yang duduk di hadapannya.

“Kenapa eommanim tiba-tiba datang kemari?,” tanya Jongin.

“Firasatku mengatakan kalau kau dan Sooyeon telah tiba di Seoul,” jawab Miyoung, “Sekarang dimana Sooyeon?,” tanyanya.

Jongin menjilat bibirnya, “Ngg—Sooyeon meminta untuk tetap disana beberapa hari lagi. Ia harus menghadiri acara pernikahan sahabatnya. Sedangkan aku harus kembali untuk menyelesaikan pekerjaanku,” jawabnya.

Miyoung mengangguk mengerti, “Tapi, mengapa ponsel Sooyeon tidak aktif?,” tanyanya.

Jongin menggaruk kepalanya, “K-Kemarin ponselnya tercebur di sungai. Aku berniat menggantikannya yang baru. Tapi, Sooyeon bilang nanti saja di gantinya,” jawabnya.

Lagi—Miyoung mengangguk mengerti. Sedangkan Jongin bisa menghela napas lega karena ia berhasil berbohong tanpa di curigai sedikit pun.

>>> 

Yuri menghampiri Yoona dan menarik rambut Yoona, membuat Yoona merintih kesakitan.

“Sakit, eonni. Apa yang kau lakukan?,”

Yuri melepaskan rambut Yoona dari genggamannya lalu beralih menampar Yoona tepat di pipinya.

PLAKKK!!

“EONNI!,” teriak Yoona—sambil memegang pipinya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Kau keterlaluan, Yoona-ah. Kau mempermalukan aku saja,” seru Yuri.

“Apa maksudmu?,” tanya Yoona.

“Kau sudah membuat hubungan Sooyeon dan Jongin hancur. Harusnya kau itu sadar diri, Yoona-ah. Jongin adalah suami dari orang lain. Kau tidak boleh merebutnya seperti kau merebut es krim orang lain,” jawab Yuri—murka.

“Aku hanya ingin mendapatkan apa yang ku inginkan, eonni,” ucap Yoona.

“Tapi bukan begitu caranya,” ucap Yuri.

Yoona beranjak berdiri, “Lalu, sekarang apa maumu, eonni?,” tanyanya.

“Lebih baik kau kembali ke Tokyo, Yoona-ah,” jawab Yuri.

“Aku tidak mau!,” tolak Yoona.

Yuri menggeram kesal, “Kalau begitu, keluar dari apartemenku!,” bentaknya.

Yoona menatap Yuri tajam, “Kau mengusirku? Beraninya kau,” ucapnya.

“Kau ingin melaporkan hal ini pada Ibumu? Kau pikir aku akan diam saja? Tinggal ku laporkan ulahmu selama disini yaitu menghancurkan rumah tangga orang lain dan kau akan di bunuh oleh Ibumu,” ancam Yuri.

Yoona terdiam. Jika Yuri melaporkan hal tersebut, Yoona pasti akan di kurung di rumahnya di Tokyo.

“Baiklah. Aku akan keluar dari apartemenmu,” putus Yoona.

>>> 

“Ini untukmu!,”

Seohyun mengerjap, “A-Apa ini?,” tanyanya.

Sehun tersenyum, “Ambil dan bukalah. Anggap saja sebagai tanda permintamaafanku,” jawabnya.

Seohyun pun meraih kado pemberian Sehun dan membukanya. Ia begitu kaget saat melihat sepasang sepatu di dalam kado tersebut dengan tanda tangan idolanya, Xiao Luhan.

“K-Kau bertemu dengan Xiao Luhan?,” tanya Seohyun—tak percaya.

“Aku tidak sengaja berpapasan dengannya. Dan aku pun meminta tanda tangannya pada sepatu yang ku belikan khusus untukmu,” jawab Sehun.

Seohyun segera melepas kado tersebut hingga jatuh ke lantai. Sehun cukup kaget melihat insiden tersebut. Apa Seohyun marah?, batinnya.

Namun ternyata Seohyun malah memeluk Sehun dengan erat.

“Aku mencintaimu, Sehun oppa,” ucap Seohyun.

Sehun tersenyum mendengarnya, “Aku juga mencintaimu, Seohyunnie,” balasnya.

>>> 

Sooyeon duduk di kursi yang terletak di taman dekat rumah Qian. Matanya memandang bunga-bunga yang tertiup oleh angin yang berhembus pelan.

“Sudahlah, noona,”

Sooyeon menoleh ke sampingnya. Ternyata Luhan telah duduk di sampingnya. Entah sejak kapan.

“Jangan selalu bersedih. Tidak baik untuk kesehatan,” ucap Luhan.

“Kau tidak mengerti, Lu,” ucap Sooyeon.

“Siapa bilang?,” tanya Luhan, “Aku mengerti kok perasaanmu, noona. Tapi, tidak seharusnya kau seperti ini terus. Tersenyumlah. Kebahagiaan pasti akan datang,” tambahnya.

Sooyeon menyandarkan kepalanya di bahu Luhan. Luhan sempat kaget namun ia mencoba bersikap biasa saja.

“Xie xie, Lu,” ucap Sooyeon.

“Hngg?,”

“Kau sudah mau menjadi sahabat terbaikku. Terima kasih,” ucap Sooyeon.

Luhan tersenyum mendengarnya. Tangannya bergerak untuk mengusap kepala Sooyeon.

“Sampai kapanpun, aku akan menjadi sahabat terbaik untukmu, noona,” gumam Luhan.

>>> 

“Untuk apa kau kemari?,” tanya Jongin, “Dengan koper-kopermu itu? Kau mau kembali ke Tokyo?,”

“Oppa, ijinkan aku untuk tinggal disini,” pinta Yoona.

Jongin membelalakkan matanya, “Apa? Kau gila? Appa akan membunuhku jika kau tinggal disini,”

Yoona langsung menangis, “Yuri eonni mengusirku, oppa. Aku harus tinggal dimana?,” tanyanya.

“Tinggal di hotel saja,” usul Jongin.

“Hotel terlalu mahal, oppa,” ucap Yoona.

“Kalau begitu, apartemen saja,” usul Jongin.

“Aku tidak punya uang untuk menyewa apartemen,” ucap Yoona.

Jongin menghela napas berat. Dasar menyusahkan, batinnya.

>>> 

Sooyeon mencoba menghubungi seseorang melalui tempat penelponan umum. Ia menunggu orang itu untuk menjawab panggilannya.

“Halo?,”

Sooyeon segera menutup teleponnya. Tangannya memegang dadanya. Napasnya pun tak beraturan.

“Akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi,” gumam Sooyeon.

>>> 

Jongin memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.

“Dari siapa, oppa?,” tanya Yoona.

“Tidak tahu. Mungkin orang iseng,” jawab Jongin.

“Jadi, bagaimana, sajangnim? Apakah teman anda bersedia untuk tinggal di apartemen ini?,” tanya seorang wanita setengah paruh.

“Bagaimana, Yoona-ah?,” tanya Jongin.

“Apartemen ini cukup nyaman. Aku mau kok,” jawab Yoona.

“Baiklah. Terima kasih sudah menyewa apartemen ini. Jika ada masalah, segera hubungi kami,” ucap wanita setengah paruh itu.

“Baiklah,” jawab Yoona.

“Terima kasih, Minseon-ssi,” ucap Jongin.

“Sama-sama, sajangnim. Saya permisi,”

Setelah wanita setengah paruh itu pergi, Yoona pun segera membawa koper-kopernya menuju kamarnya. Sedangkan Jongin memilih untuk duduk di sofa sambil menonton TV.

Namun, Jongin kembali teringat akan sosok yang ia cintai.

“Sudah tiga hari aku tak bertemu dengannya. Rasanya seperti tak bertemu selama tiga tahun,” gumam Jongin.

“Sooyeon-ah, apa yang sedang kau lakukan disana? Apa kau sedang memikirkan orang yang tak kau cintai lagi?,” tanya Jongin.

“Oppa, kau berbicara dengan siapa?,” tanya Yoona—yang berhasil memecahkan bayangan Jongin.

“Ah, tidak,” jawab Jongin.

>>> 

Sooyeon sedang makan malam bersama Qian dan Luhan. Mereka menikmati sup buatan Qian serta kalkun panggang buatan Luhan.

“Bagaimana kalkun buatanku, noona?,” tanya Luhan.

“Hmm—sangat enak. Gurihnya terasa dan bumbunya juga,” jawab Sooyeon—ceria.

“Bagaimana dengan sup buatanku?,” tanya Qian.

“Sup buatanmu tak kalah enak kok, jiejie,” jawab Luhan.

Sooyeon mengangguk, “Sup buatanmu tak kalah lezat dari sup buatan restoran Italie dan Prancis,” sahutnya.

Qian tersenyum mendengarnya. Sedangkan Luhan merasa senang karena Sooyeon sudah kembali ceria.

Namun, tiba-tiba ponsel Luhan berdering.

Luhan segera meraih ponselnya dan mengangkatnya, “Ada apa, Sehun?,” tanyanya.

“Bisa bicara dengan Sooyeon?,”

“U-Untuk apa?,” tanya Luhan.

“Ini penting. Dia harus tahu hal ini,”

“Baiklah,” ucap Luhan—lalu menyerahkan ponselnya pada Sooyeon.

“Dari siapa?,” tanya Sooyeon.

“Sehun,” jawab Luhan.

Sooyeon pun meraih ponsel tersebut dan meletakkannya tepat di telinga kanannya.

“Ada apa, Sehun-ssi?,” tanya Sooyeon.

“Sooyeon-ssi, ada kabar buruk,”

Sooyeon menelan salivanya, “Ada apa? Apa yang terjadi?,” tanyanya.

“Kim sajangnim, Jaejoong ahjussi berada di Rumah Sakit. Beliau mengalami kecelakaan dan sekarang beliau sedang di periksa,”

Sooyeon menutup mulutnya. Ia menjadi syok. Qian dan Luhan pun bertanya-tanya.

“Pulanglah ke Seoul dan datanglah ke Rumah Sakit International South Korea,”

“B-Baiklah. Aku akan segera kesana,” jawab Sooyeon.

>>> 

“Tenanglah, Jongin-ah. Kim sajangnim pasti baik-baik saja. Beliau pasti selamat,” ucap Sehun.

“Aku tidak bisa tenang, Sehun-ah. Aku takut kehilangan dia,” ucap Jongin—prustasi.

Yoona menggenggam tangan Jongin, “Tenanglah, oppa. Beliau pasti selamat,” ucapnya.

“Jangan menyentuh menantuku!,” bentak Miyoung, “Jongin sudah beristri. Kau hanyalah teman biasanya saja,”

Yoona segera melepaskan genggamannya. Ia lupa disini ada Ibu dari Sooyeon.

Pintu ruang IGD pun terbuka. Jongin, Miyoung, Sehun dan Yoona segera menghampiri seorang pria berjas putih yang keluar dari ruangan tersebut.

“Bagaimana keadaan belau, uisa?,” tanya Jongin.

“Maafkan saya, Jongin-ssi. Nyawa Kim Jaejoong tidak bisa di selamatkan,” jawab Dokter itu.

“Oh, Tuhan,” ucap Miyoung—lalu menangis.

“T-Tidak mungkin. Kau pasti bohong,” ucap Jongin—tak percaya.

“Sayangnya saya berkata jujur, Jongin-ssi. Sekarang tubuh Kim Jaejoong sedang di jahit dan di bersihkan. Saya permisi,”

Jongin langsung terjatuh ke lantai. Seluruh anggota tubuhnya lemah tak berdaya. Yoona pun memeluknya erat. Sedangkan Sehun mengusap-usap punggung Jongin.

“EOMMA!!,”

Miyoung, Jongin, Yoona dan juga Sehun menoleh ke sumber suara. Sooyeon telah tiba bersama Luhan. Sooyeon pun segera menghampiri Miyoung dan memeluknya erat.

“Apa yang terjadi, eomma?,” tanya Sooyeon.

“Jaejoong sudah pergi. Dia sudah pergi,” jawab Miyoung—disela tangisannya.

“A-Apa?,” seru Sooyeon—syok. Ia juga tak bisa menerima keadaan ini.

>>> 

Jongin menatap foto Ayahnya yang terletak di dalam figura yang di letakkan di depan nisan. Proses pemakaman sudah berakhir tetapi Jongin masih betah di tempat tersebut.

“Saatnya pulang, Kim Jongin,”

Jongin menoleh, “Sooyeon-ah?,” lirihnya.

Sooyeon ikut berjongkok di samping Jongin, “Aku tahu ini berat. Kehilangan seseorang yang kita cintai itu sangat menyakitkan,” ucapnya.

Jongin menggenggam tangan Sooyeon, “Dan aku tidak ingin kehilangan orang yang ku cintai untuk kedua kalinya,” ucapnya.

“J-Jongin~”

“Apakah kau masih mencintaiku?,” tanya Jongin.

“Bukankah saat di Beijing—”

“Aku ingin kau mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku pun juga masih mencintaimu, Sooyeon-ah. Aku menyesal telah menyakitimu,” ucap Jongin.

Sooyeon perlahan mengangguk. Ia tak bisa membohongi perasaannya bahwa ia pun juga masih mencintai Jongin.

“Ya, aku masih mencintaimu,” jawab Sooyeon.

Jongin tersenyum. Di peluknya tubuh istri yang ia cintai dengan erat. Sooyeon pun melakukan hal yang sama.

“Aku takkan pernah mengecewakanmu lagi, Sooyeon-ah. Aku berjanji,” ucap Jongin.

“Ya, aku percaya padamu,” jawab Sooyeon.

Disisi lain, ada enam orang yang memperhatikan mereka berdua.

“Yoona-ah, lepaskanlah dia. Aku yakin di luar sana ada orang yang lebih baik darinya,” ucap Yuri.

Yoona terdiam. Ia tak mampu mengeluarkan satu kata pun.

“Aku tak menyangka ternyata hubungan mereka hampir musnah,” ucap Miyoung.

Seohyun memeluk Miyoung erat, “Yang penting, sekarang mereka sudah kembali bersama, immo,” ucapnya—lalu beralih menatap kekasihnya yang berada di sampingnya.

Sehun tersenyum seraya mengusap kepala Seohyun.

Sedangkan Luhan menyaksikan Jongin dan Sooyeon dengan perasaan yang miris.

“Mungkin Sooyeon bukan jodohku,” gumam Luhan pelan.

>>> 

2 years later~

“Tarik napas, keluarkan, dorong!,”

“Nggghhhhhhh!!!!,” seru Sooyeon—seraya mengejan. Tangannya meremas dan menarik rambut Jongin.

“Sakit, Sooyeon-ah,” ucap Jongin.

“Aku—hhh—begini—hhh—karena kau juga—hhh—kan?,” omel Sooyeon.

“Kalau tahu begini, lebih baik kemarin kita tidak usah melakukannya saja. Aku kan tidak bisa mengurus anak kecil,” ucap Jongin.

PLETAKK!!!

“HEI! KENAPA MEMUKULKU?!!,” teriak Jongin—murka.

“Jangan membuat kondisi istri anda semakin buruk, agassi. Anda harus mendukung dia,” ucap seorang bidan.

Jongin mengangguk, “I-Iya, aku mengerti,” jawabnya.

Sooyeon terus mengejan, dan..

“UWEEKKKK!!!,”

“Woah! Bayinya lahir!,” seru Jongin.

“Kau ini seperti anak kecil,” gumam Sooyeon.

“Bayinya perempuan,” ucap bidan itu.

“Kita beri nama siapa, Sooyeon-ah?,” tanya Jongin.

“Kim Luna,” jawab Sooyeon.

“Kenapa harus Luna? Seharusnya nama bayi kita itu adalah Jasmine, Elisabeth, atau Hermione,” protes Jongin.

“Luna artinya Luhan dan Yoona. Mereka adalah sahabat kita jadi aku ingin bayi kita bisa menjadi sahabat kita juga,” jawab Sooyeon.

Jongin menghela napas berat, “Baiklah. Terserahmu saja,” jawabnya.

“Kau seperti tidak menginginkan seorang anak saja,” ucap Sooyeon.

“Aku kan inginnya sebelas anak,” jawab Jongin.

PLETAKKK!!!

“KENAPA MEMUKULKU LAGI?!!,” teriak Jongin.

“Jangan berbicara yang aneh-aneh,” ucap Sooyeon.

Jongin merengut sambil mengusap kepalanya yang sepertinya sudah bengkak karena di pukul Sooyeon dua kali.

Namun, Sooyeon mengukir senyuman di bibir tipisnya. Ia tak menyangka jika ia akan berbaikan dengan Jongin dan memiliki seorang anak.

“Terima kasih, Tuhan,” gumam Sooyeon.

Jongin yang mendengarnya—ikut tersenyum seraya membelai halus rambut istrinya. Ia pun berharap dirinya akan selamanya bisa bersama Sooyeon.

END

Review, please!

Who I Love? (Chapter 3)


Title : Who I Love

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
• SNSD’s Jessica as Jessica Jung
• EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
• EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
• EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :
• SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
• SNSD’s YoonA as Im Yoona
• EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
• SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
• EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
• etc

Genre : Romance, Fluff, Friendship

Length : Series

>>>

Jessica dan Seohyun sedang duduk di sofa sambil menonton TV di malam hari. Mereka hanya berdua, tanpa Sehun. Dan hal itu membuat Jessica sedikit bingung.

“Dimana Sehun?,” tanya Jessica, “Tidak biasanya dia tak hadir di sekitar kita,” tambahnya.

“Dia sudah tidur,” jawab Seohyun, “Hanya sekedar ku nyanyikan lagu tidur, dia sudah tertidur seperti anak kecil,” tambahnya.

Jessica tertawa renyah di buatnya. Ia tak menyangka Sehun bisa sepolos itu.

“Apa kau tahu—dulu Sehun adalah anak kecil yang cengeng dan penakut pada semua spesies serangga!,” ucap Seohyun.

Jessica mengerjap, “Benarkah? Sehun yang dingin dan pemarah itu ternyata cengeng dan penakut pada serangga?,” tanyanya—tak percaya.

Seohyun mengangguk, “Dan aku lah yang selalu menjadi harapannya untuk melindunginya,” jawabnya.

Jessica bertepuk tangan, “Kau hebat, Seohyun-ya. Kau yang melindunginya? Ku pikir selama ini Sehun yang melindungimu,” ucapnya.

“Sehun memang sekarang yang melindungiku. Dia berjanji akan membalas semua jasa-jasaku saat remaja hingga tua nanti,” ucap Seohyun.

Jessica tersenyum mendengarnya. Ia semakin tertarik dengan cerita masa lalu Seohyun dan Sehun.

“Kau pernah bilang bahwa kau dan Sehun awalnya hanya bersahabat. Dan pada akhirnya kalian tinggal berdua dan membentuk keluarga. Lantas, bagaimana ceritanya?,” tanya Jessica—penasaran.

Seohyun tersenyum simpul, “Setelah orangtua ku dan orangtua Sehun meninggal dunia, aku dan Sehun memutuskan untuk tinggal berdua. Kami menjadi pengamen dan mencari uang banyak. Kami tinggal di sebuah rumah haraboji yang baik hati. Setelah kami tinggal disana, Sehun yang manja berubah menjadi Sehun yang kuat. Dia mencari pekerjaan sedangkan aku membantu haraboji di rumah. Hingga kami tumbuh remaja dan Sehun menjadi sukses karena gaji pekerjaannya yang berlimpah,” ucapnya.

“Benarkah?,” tanya Jessica.

Seohyun mengangguk, “Sehun membeli rumah ini, dan mendaftarkan dirinya dan aku ke sekolah yang sekarang menjadi sekolahmu juga. Haraboji juga ikut tinggal bersama kami. Namun, beberapa hari kemudian, haraboji telah tiada. Kami pun hanya tinggal berdua,” jawabnya.

Jessica berdecak kagum, “Perjuangan kalian sungguh luar biasa, ya? Aku tidak menyangka,” ucapnya.

“Kau juga, Sica-ya,” ucap Seohyun.

Jessica menggeleng, “Kau lupa awal tahun aku mencoba melakukan bunuh diri di jembatan? Jika kalian tak menghentikan aksi ku, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini,” ucapnya.

Seohyun tersenyum, “Setidaknya saat ini kau menjadi gadis yang tegar dan kuat. Aku kagum padamu, Sica-ya,” ucapnya.

Jessica ikut tersenyum. Ia memang selalu tersenyum jika Seohyun tersenyum. Ia merasa ia melihat sosok Ibunya di balik seorang Seohyun.

>>>

Jessica menguap beberapa kali selama istirahat. Ia memang tak memutuskan untuk ke kantin atau kemana pun. Ia sangat lelah karena tadi malam ia bercerita dengan Seohyun hingga larut. Namun, tampaknya Seohyun dalam keadaan baik-baik saja.

“Sica-ah,”

Jessica terlonjak kaget saat seseorang yang muncul di sampingnya mengeluarkan suara. Ia mengusap dadanya perlahan.

“Taeyeon-ah! Kau mengagetkan ku saja,” ucap Jessica—syok.

Taeyeon terkekeh pelan, “Maafkan aku,” ucapnya, “Aku hanya ingin meminta pendapatmu,” tambahnya.

Jessica mengernyit bingung, “Pendapat apa?,” tanyanya.

Taeyeon tersenyum malu, “Menurutmu Baekhyun itu bagaimana? Apa yang kau ketahui dari Baekhyun?,” tanyanya.

Jessica masih bingung. Namun, ia mencoba menjawab setahunya.

“Yang ku tahu—Baekhyun itu pandai bermain musik, pintar matematika dan cukup tampan,” jawab Jessica.

Taeyeon tersenyum manis—dan itu membuat Jessica semakin bingung.

“Kau hanya tahu sisi luarnya saja. Itu artinya kau tidak menyukai Baekhyun!,” seru Taeyeon.

“A-Apa? Apa maksudmu?,” tanya Jessica—semakin tak mengerti.

“Baekhyun itu bijaksana, penyayang, suka memberikan solusi, dewasa, rendah hati, suka menyumbang apa yang ia miliki pada orang yang tidak mampu, pandai memainkan piano dan harmonika, pintar matematika dan fisika, sangat tampan, dan sangat menyayangi anjing peliharaannya sampai-sampai ia rela jatuh sakit demi melindungi anjingnya,” jawab Taeyeon.

Jessica menganga di buatnya. Ia tampak seperti orang bodoh. Taeyeon sangat mengetahui tentang Baekhyun! Hebat!, batinnya.

“Menurutmu apa inti dari maksud ku tadi?,” tanya Taeyeon.

“Rupanya selama ini kau sering memata-matai Baekhyun. Pantas saja kau tahu semuanya,” jawab Jessica—yang berhasil membuat Taeyeon tersungkur ke lantai.

“Dasar tidak peka!,” omel Taeyeon.

Jessica menggaruk kepalanya, “Habisnya aku tidak mengerti, Taeyeon-ah,” ucapnya.

“Itu artinya—aku menyukai Baekhyun,” ucap Taeyeon.

Jessica membelalakan matanya, “Kau—menyukai—Baekhyun?,” tanyanya—tak percaya.

Taeyeon mendesis, “Terpaksa aku memberitahumu karena kau tak pandai menebak,” ucapnya—kesal.

“Ah, sekarang aku mengerti. Jadi, jika seseorang sedang menyukai orang lain, maka orang itu mengetahui apa yang ada di dalam diri orang yang di sukainya?,” tanya Jessica.

“Tepat sekali,” jawab Taeyeon, “Apakah kau mempunyai orang yang kau sukai?,” tanyanya.

Jessica mendadak grogi, “A-Aku—tentu saja tidak ada,” jawabnya.

Taeyeon menatapnya curiga, “Kau bohong, kan? Ceritakan saja padaku,” serunya.

“Ngg—I-ITU BAEKHYUN!!,” teriak Jessica.

Taeyeon segera berbalik. Namun, ternyata tidak ada Baekhyun. Ia mendesis kesal. Ia segera beralih menatap Jessica, namun Jessica sudah tidak ada lagi di tempatnya.

“Kemana gadis blasteran itu pergi?,” geram Taeyeon.

>>>

Jessica berlari hingga ke halaman sekolah. Ia berjalan menuju pohon kesayangannya dan duduk di bawahnya.

Jessica masih memikirkan kejadian tadi bersama Taeyeon. Ia memikirkan sosok yang ia sukai yaitu Luhan.

“Apa yang ku ketahui tentang Luhan sunbae, ya?,” gumam Jessica.

Jessica berpikir sejenak.

“Aha!,” serunya, “Aku tahu! Luhan sunbae itu orangnya keren, senior yang baik tidak seperti Minseok sunbae yang terkesan mengerikan, dan—apa, ya?,”

Jessica menggaruk kepalanya. Ia masih memikirkan apa yang ia ketahui tentang Luhan.

“Luhan sunbae itu tampan, sepertinya suka makan es krim, dan—apa lagi?,”

Jessica mendadak prustasi. Ia mengacak-acak rambutnya.

“Aku hanya tahu itu. Dan itu semua hanya dari sisi luarnya saja,” ucap Jessica.

“Jung-ya~”

“KYAAAAA!!!!!!,” teriak Jessica—kaget.

“M-Maafkan aku, Jung-ya. Tidak bermaksud untuk mengagetkanmu,” ucap seorang siswa—yang tak lain adalah Chanyeol.

Jessica mendengus kesal. Tiba-tiba, ia memikirkan sesuatu.

“Ngg—Chanyeol-ah, apa yang kau ketahui tentang orang yang kau sukai?,” tanya Jessica.

Chanyeol tersenyum, “Dia orang yang cantik, sangat cantik. Dia juga cerewet, pemarah, suka makan es krim, bodoh soal matematika, dan payah memasak. Bisanya hanya memasak belut dan itu pun belut gosong!,” jawabnya.

Jessica meraih buku yang di pegang Chanyeol—lalu memukuli Chanyeol dengan buku tersebut.

“Kau itu menceritakan orang yang kau sukai atau mengejekku, Park Chanyeol?,” tanya Jessica—murka.

“Ah, ampun, Jung-ya. Ini sakit!,” ringis Chanyeol—yang terus menerima pukulan dari Jessica.

Jessica melempar buku itu ke sembarang tempat. Ia segera berjalan pergi meninggalkan Chanyeol seorang diri.

Chanyeol tersenyum, “Aku hanya menjawab pertanyaanmu, Jung-ya. Itu saja,” gumamnya.

>>>

Sehun dan Jessica sedang berada di kamar Jessica. Kini Sehun telah menjadi guru private untuk mengajari Jessica pelajaran matematika. Awalnya Jessica menolak, namun Sehun tetap memaksa untuk menerima ajaran dari Sehun.

“Kenapa kau menghilang saat jam istirahat tadi siang?,” tanya Sehun.

“Oh, itu. Aku hanya keluar sebentar,” jawab Jessica.

“Kau tidak sedang menemui Luhan, kan?,” tanya Sehun.

Jessica merengut, “Kenapa kau terus melarangku untuk menemuinya?,” tanyanya—kesal.

“Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan bahwa Luhan itu—”

“Kau tidak punya bukti apa-apa, Sehun-ah,” potongnya, “Aku tidak akan percaya pada hal yang tidak memiliki bukti,” tambahnya.

Sehun mendesis. Jessica memang keras kepala, batinnya.

“Sehun-ah~”

Sehun dan Jessica menoleh ke sumber suara. Mereka mendapati Seohyun yang muncul dengan gaun berwarna putih nan indah.

“Whoa! Kau sangat cantik, Seohyun-ya,” puji Jessica.

Seohyun tersenyum, “Bagaimana menurutmu, Sehun-ah?,” tanyanya.

Sehun mengangguk, “Bagus. Kau terlihat cantik seperti bidadari,” jawabnya.

Pipi Seohyun memerah karenanya. Jessica yang melihat hal tersebut menjadi curiga.

“Baiklah. Pelajaran kita selesai. Aku lelah. Aku kembali ke kamar, ya?,” seru Sehun—seraya bangkit dari ranjang Jessica lalu keluar dari kamar Jessica.

Seohyun segera duduk menggantikan posisi Sehun dengan wajah yang masih memerah.

“Ada apa denganmu, Seohyun-ya? What’s happen with your face?,” tanya Jessica.

Seohyun menyentuh pipinya, “Apakah bedakku terlalu tebal?,” tanyanya.

Jessica menggeleng, “Wajahmu memerah saat Sehun memujimu,” jawabnya.

Seohyun mendadak malu. Ia menundukkan kepalanya. Tiba-tiba, suatu ide muncul di otak Jessica.

“Apa yang kau ketahui tentang Sehun?,” tanya Jessica.

Seohyun mengangkat kepalanya. Ia menatap Jessica bingung.

“Apa maksudmu?,” tanya Seohyun.

“Sudah, jawab saja,” ucap Jessica.

Seohyun memejamkan kedua matanya, “Sehun itu sangat penyayang, meskipun dari luar ia sangat dingin, namun ia sangat penyayang. Sehun selalu melindungiku, Sehun selalu membelaku, dia sangat rendah hati, dia juga sering menangis saat ia teringat haraboji. Sehun sangat gemar membaca, Sehun juga suka mengoleksi foto-foto orangtuanya di belakang pintu kamarnya. Sebenarnya masih banyak yang ku ketahui tentangnya,” jelasnya.

“Dan—kau menyukainya, kan?,” tebak Jessica.

Seohyun membuka matanya, “Ya, aku menyukainya,” jawabnya.

Jessica tersenyum sumringah. Tebakanku tidak meleset.

“Tetapi bukan sebagai pria,” ucap Seohyun.

Jessica terdiam. Ia sedikit bingung maksud perkataan Seohyun.

“Aku menyukainya, sangat menyukainya. Sehun adalah orang yang ku sukai, ku kagumi, ku idolakan. Dia sudah ku anggap sebagai oppa, sebagai appa, dan sebagai haraboji. Tapi tidak sebagai pria yang akan ku nikahi nanti. Aku memang sering salah tingkah jika ia memujiku. Tapi, aku seperti itu karena aku sangat senang. Aku senang Sehun peduli padaku. Aku senang Sehun masih menyayangiku seperti appa ku sendiri,” ucap Seohyun.

Kini Jessica mengerti apa maksud perkataan Seohyun. Ia sempat terlena mendengarkan kata demi kata yang di lontarkan oleh Seohyun dengan tulus.

“Tapi, kenapa aku tidak bisa mengetahui tentang Luhan sunbae?,” gumam Jessica—sambil menangis.

“Sica-ya, apa cerita ku sangat menyentuh?,” tanya Seohyun.

>>>

Jessica bertekad untuk menemui Luhan hari ini. Ia sangat penasaran akan apa saja yang ada di dalam diri seorang Luhan. Maka dari itu, Jessica akan menginterogasi Luhan habis-habisan.

“Luhan sunbae? Kau dimana?,” gumam Jessica—sambil mencari-cari sosok idolanya itu.

Namun, matanya menangkap sebuah pemandangan yang tak pernah Jessica harapkan. Ia melihat Luhan bersama seorang siswi yang tampaknya merupakan senior Jessica juga. Jessica pun memutuskan untuk mengintipnya dari balik pohon kesayangannya.

“Sudah hampir satu bulan kau tidak masuk, Yoona-ah,” ucap Luhan.

Siswi—bernama Yoona—itu tertawa renyah, “Aku harus menjalani operasi pada perutku, Luhan-ah. Tumor itu menyiksaku,” jawabnya.

“Tapi, syukurlah sekarang kau sudah sembuh,” ucap Luhan.

Yoona tersenyum, “Aku merindukanmu, Luhan-ah,” ucapnya.

“Aku juga,” jawab Luhan, tangannya menyentuh kepala Yoona, “Aku merindukan kebaikanmu, kepolosanmu, kecerdasanmu, masakanmu, dan segala yang ada di dalam dirimu,” ucapnya.

Jessica meneteskan air matanya. Ia tak menyangka, Luhan mengetahui segala yang ada di dalam diri Yoona.

“Jangan-jangan, Luhan sunbae dan Yoona sunbae adalah sepasang kekasih?,” gumam Jessica.

Jessica pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Ia berlari hingga menabrak seseorang.

“Jessica-ya? Jangan menabrak orang sembarangan,” omel orang itu—yang tak lain adalah Sehun.

Jessica menatap Sehun dengan tajam dengan air mata yang terus berlinang.

“K-Kau menangis? A-Ada apa?,” tanya Sehun—takut.

Jessica langsung memukuli dada Sehun dengan kuat, “Kenapa aku tak mengetahui apa yang ada di dirinya? Padahal aku menyukainya. Di bandingkan Oh Sehun yang keras kepala, kasar, suka emosi, payah, tidak terlalu tampan, menyebalkan, dingin, tidak pandai di bidang olahraga, dan tidak tahu sopan santun!!!,”

Sehun membeku mendengar apa yang di katakan Jessica. Sedangkan Jessica menyentuh bibirnya.

“Mengapa aku tahu apa yang ada di diri Sehun? Mengapa aku tahu terlalu banyak?,” gumam Jessica.

Jessica segera berlari meninggalkan Sehun yang masih mematung di tempat.

“Aku—payah?,” gumam Sehun.

To Be Contiuned

Who I Love? (Chapter 2)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Lu Han

Support Cast :

  • SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
  • etc

Genre : Fluff, Romance, School Life, Friendship

Length : Series

Note : Posternya nyusul, ya? Gak papa kan sementara gak pake poster. Lagi males bikin soalnya. Soalnya karakternya banyak. Jadi aku pengen request poster ke orang pinter aja XD

>>> 

Aku menatapi langit-langit kamarku. Aku masih memikirkan kalimat yang di keluarkan dari mulut Sehun.

“Selamat, ya? Kau pasti sangat puas bisa berkencan dengan Luhan,”

 

Aku mengusap wajahku pelan. Aneh, untuk apa aku memikirkannya? Apa dia cemburu? Ah, itu sangat mustahil. Mana mungkin seorang Oh Sehun yang dingin dan selalu membuatku kesal menjadi cemburu. Masa dia menyukai Luhan sunbae? Atau dia menyukaiku?

Ah, sangat mustahil!

“Sica-ya~”

Aku menoleh ke sumber suara. Oh ternyata itu Seohyun. Ia muncul dari balik pintu kamarku.

Aku segera bangkit dan duduk, “Masuklah, Seohyun-ya,” ucapku.

Seohyun mengangguk dan masuk ke kamarku. Ia duduk di hadapanku.

“Kau dan Sehun—bertengkar lagi?,” tanyanya.

Bertengkar? Kapan? Bukankah Sehun hanya mengucapkan selamat padaku?

“M-Memangnya kenapa, Seohyun-ya? Dia menceritakan sesuatu padamu?,” tanyaku.

Seohyun menggeleng, “Hanya saja—tadi aku melihat Sehun membanting playstationnya di kamarnya. Ku pikir kalian sehabis bertengkar,” jawabnya.

Astaga! Apakah Sehun semarah itu? Tapi, untuk apa dia marah?

“Apa kau menanyakan apa yang terjadi padanya?,” tanyaku.

“Tadi aku sempat bertanya. Tapi, dia malah membentakku dan menyuruhku untuk keluar dari kamarnya,” jawab Seohyun.

Tidak! Sehun tidak pernah sebelumnya membentak Seohyun. Aku harus memberi Sehun pelajaran.

“Kau tunggu disini, Seohyun-ya. Don’t go anywhere,” pintaku.

“U-Untuk apa?,” tanyanya.

“Tunggu saja disini. Tetap disini hingga aku kembali,” jawabku.

Setelah Seohyun menganggukan kepalanya, aku segera keluar dari kamarku dan berlari menuju kamar Sehun. Awas saja kau, Oh Sehun. Akan ku beri kau pelajaran karena sudah membentak Seohyun.

“OH SEHUN, BUKA PINTUNYA!!,” teriakku—seraya menggendah pintu kamarnya.

“HEI! OH SEHUN!!,” teriakku lagi. Apa dia tuli? Kenapa pintunya belum di buka juga?

“Baik, aku akan mendobrak pintu kamarmu,” ucapku.

Aku segera mundur. Aku menarik napas dalam dan mengeluarkannya. Setelah itu, aku bersiap untuk berlari dan mendobrak pintu kamar raja iblis itu.

“AAAAAA!!!!!!!,” teriakku—seraya mulai berlari menuju pintu kamar Sehun.

Namun,

“ARGH!!,”

Aku membuka mataku. Bukannya mendobrak pintu, tapi aku malah mendobrak perut Oh Sehun. Dia pasti kesakitan.

“Kau ini!,” geramnya.

“Makanya, jangan membuka pintu di saat aku ingin mendobraknya,” ucapku.

Sehun masih memegangi perutnya. Wajahnya terkesan pahit. Terdengar ringisan yang cukup keras dan tertahan. Apakah sesakit itu rasanya?

“M-Maafkan aku, Sehun-ah,” ucapku—takut.

BRUKKK!!!

“OH SEHUN!!!!,” teriakku—kaget. Sehun tiba-tiba terjatuh ke lantai seperti orang yang sedang pingsan. Hanya saja Sehun masih sadar.

“A-Aku akan membawamu ke Rumah Sakit,” ucapku.

Baru saja aku ingin beranjak, tapi Sehun memegang lenganku. Aku menatapnya bingung.

“T-Tidak perlu ke Rumah Sakit. Cukup di kompres dengan handuk hangat, pasti sembuh!,” ucapnya—di ikuti ringisannya.

Aku menatap Sehun kagum. Ternyata dia cukup kuat.

“Baiklah,” ucapku—lalu membantunya berdiri.

>>> 

“Bagaimana kau bisa seperti ini?,” tanya Seohyun—seraya mengompresi perut Sehun.

“Maafkan aku, Seohyun-ya,” ucapku—menyesal.

“Tidak—ini bukan salahmu, Jessica-ya,” ucap Sehun—dan tersenyum.

Aku terpaku melihat senyumannya. Ini yang pertama kalinya. Aku baru pertama kali bisa melihat seorang Oh Sehun tersenyum. Dan senyuman itu di tujukan untukku.

“Sehun-ah, apa kau baik-baik saja?,”

Aku menoleh ke belakang. Ternyata Chanyeol, Baekhyun dan Taeyeon sudah datang. Tadi aku yang menghubungi mereka.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit nyeri di bagian perutku,” jawab Sehun.

“Bagaimana hal ini bisa terjadi?,” tanya Taeyeon.

Aku menunduk, “Aku meninju perutnya,” jawabku.

“A-Apa?,”

“Jung-ya, kau luar biasa!,” seru Chanyeol—seraya memegang bahuku. Dasar Chanyeol. Di saat seperti ini sangat tidak tepat untuk memuji keahlianku.

“Sehun-ah, besok kau tidak usah masuk sekolah,” ucap Baekhyun.

“Tidak mau. Aku akan tetap masuk,” protes Sehun.

“Dasar keras kepala!,” seruku—yang sukses membuat semuanya memandang ke arahku.

“Apa katamu?,” tanya Sehun.

“Kau—keras kepala, Oh Sehun!,” jawabku, “Kau sedang sakit. Jangan memaksakan dirimu. Kau hanya akan membuat orang-orang di sekitarmu menjadi repot!,” seruku.

Semua yang ada di sekitarku masih diam. Begitu juga dengan Sehun.

“Aku tidak bermaksud untuk menghinamu. Tapi, aku hanya ingin kau mandiri, Sehun-ah. Mandiri dalam artian kau harus bisa menjaga kondisimu. Jangan masuk sekolah besok. Minimal satu hari saja. Beristirahatlah dulu. Jangan membuat orang lain mencemaskanmu,” ucapku.

“Jessica-ya~”

“Kau selalu menjadi nomor satu di mata semua orang. Di mata Seohyun, dan di mata teman-teman. Sedangkan aku?,” aku menarik napas sejenak, “Aku iri padamu, Oh Sehun. Semua orang selalu mencemaskanmu, peduli padamu. Dan sekarang aku ingin teman-teman tidak perlu mencemaskanmu. Maka dari itu, beristirahatlah!,”

“Sica-ya!,”

Seohyun menghampiriku dan memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Beberapa detik kemudian, aku merasakan banyak yang memelukku.

“Kami semua peduli padamu, Sica-ya,” ucap Seohyun.

“Seohyun benar, Jung-ya. Kami peduli padamu,” ucap Chanyeol.

“Bukankah kita berteman?,” tanya Baekhyun.

“Teman harus saling peduli,” ucap Taeyeon.

Aku tersenyum dan terharu. Ku usap air mataku yang mulai jatuh. Aku melirik Sehun. Ia juga tersenyum padaku.

>>> 

Aku sedang duduk bawah pohon rindang di halaman sekolah. Dengan lantunan musik yang keluar dari earphone yang menempel di sepasang telingaku, aku menggambar seseorang yang ada di hadapanku.

“Apakah sudah selesai, Jung-ya?,”

Aku menghela napas berat, “Kau sangat payah, Chanyeol-ah. Begitu saja sudah lelah,” cibirku.

“Tentu saja lelah, Jung-ya. Aku bukan patung yang bisa berdiam diri dalam waktu yang lama,” ucap Chanyeol.

Aku mendesis, “Ini baru sedikit, Park Chanyeol. Aku baru melukis bagian wajahmu,” ucapku.

Chanyeol menghela napas berat, “Masih lama, ya?,” tanyanya.

“Salahmu sendiri karena bersedia sebagai model lukisku,” ucapku.

“Aku bersedia menjadi model lukismu,”

Aku menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, pemilik suara tersebut adalah Luhan sunbae.

“L-Luhan sunbae?,”

Luhan segera duduk di sampingku, “Mungkin Chanyeol sudah lelah. Aku siap menjadi patung untuk di lukis,” ucapnya.

Aku mengerjapkan mataku. Apa bisa ya aku melukis Luhan sunbae? Aku takut hasilnya jelek. Seorang Luhan sunbae yang sangat sempurna tidak mungkin bisa di lukiskan apalagi yang melukisnya adalah pelukis amatir seperti aku.

“Bagaimana?,” tanya Luhan sunbae.

“Ngg—baiklah,” jawabku.

Luhan sunbae pun beranjak berdiri dan menggantikan posisi Chanyeol. Chanyeol dengan wajah kusutnya segera menyingkir dan duduk di sampingku.

“Kau tega sekali menggantikanku dengannya, Jung-ya,” bisik Chanyeol.

“Bukankah kau kelelahan?,” tanyaku.

Chanyeol mengerucutkan bibirnya—membuat dirinya tampak konyol dan err…menggemaskan.

Aku mulai menggambar bagian wajah Luhan sunbae. Aku melakukannya dengan hati-hati. Aku takut aku salah menggambarnya.

>>> 

“Kami pulang!!,” seruku dan Seohyun.

Kami menemukan Sehun yang sedang menonton TV sambil duduk di sofa. Aku pun duduk di samping Sehun, sementara Seohyun duduk di sofa lainnya.

“Bagaimana keadaanmu?,” tanyaku.

“Seperti yang kau lihat,” jawabnya—datar.

Hei, ada apa lagi dengannya? Kenapa the real of Oh Sehun telah kembali? Padahal aku lebih suka sikapnya yang tadi malam.

“Sehun-ah, kau ingin ku buatkan sup?,” tawar Seohyun.

Sehun mengangguk, “Kebetulan aku sedang lapar,” jawabnya.

Seohyun segera bangkit dan pergi menuju dapur. Baru saja aku ingin menyusulnya, tapi Sehun menahanku dengan menggenggam lenganku.

“Tetap disini, temani aku,” ucapnya.

Aku menghela napas berat. Berhubung dia sedang sakit, dan penyebabnya adalah aku, maka mau tidak mau aku harus menurutinya.

“Apa hari ini kau bersama dengan Luhan lagi?,”

Aku menelan salivaku kasar. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah Sehun keturunan seorang peramal?

“Hei, jawab aku!,”

“Ngg—iya, bersama Chanyeol juga,” jawabku.

Aku mendengar Sehun menghela napas kasar. Aku menjadi sedikit takut. Bagaimana jika ia marah seperti tadi malam?

“Sudah ku duga,” gumamnya.

“K-Kenapa kau tampaknya tak suka jika aku bersama Luhan sunbae?,” tanyaku.

Sepertinya aku salah bertanya. Kini, Sehun menatapku tajam. Seohyun, cepatlah datang. Cairkan suasana yang menegangkan ini.

Sehun mengalihkan pandangannya ke TV, “Luhan bukan orang yang baik,” jawabnya.

Aku menoleh ke arahnya dan sedikit kaget akan pernyataan Sehun.

“Apa maksudmu Luhan sunbae bukan orang yang baik?,” tanyaku—tak terima.

Sehun beranjak berdiri, “Kau akan tahu nanti. Jadi, ku sarankan untuk menjauhinya mulai hari ini,”

Aku terdiam. Apa benar Luhan sunbae bukan orang yang baik? Melihat karakter wajahnya, sulit untuk mempercayai perkataan Sehun.

>>> 

“Apa kau masih mendekati gadis blasteran itu?,” tanya Minseok.

“Namanya Jessica, hyung,” ucap Luhan.

Minseok memutar bola matanya, “Terserah apa katamu, Luhan.” ucapnya, “Lebih baik kau berhenti mendekatinya. Kau tahu dia tinggal bersama siapa,”

Luhan menyeringai, “Aku tahu apa yang ku lakukan, hyung. Percayalah padaku!,” ucapnya.

Minseok menatapnya sedikit bingung. Rencana apa lagi yang di susun olehnya?, batinnya.

To Be Contiuned

 

Review, please ^^

Komentar minimal 20. Kalo gak lebih, gak aku lanjutin FF ini.

Still (Chapter 2)


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong
  • SNSD’s Tiffany as Jung Miyoung
  • etc

Genre : Romance, Family, Angst, Friendship

Length : Series

>>> 

Sooyeon mengerjapkan matanya, begitu juga dengan Jongin. Mereka sama-sama kaget dan tak percaya.

“Kalian saling mengenal?,” tanya Luhan.

Sooyeon mengangguk, begitu juga dengan Jongin.

Luhan tersenyum, “Baguslah. Itu artinya aku tak perlu memperkenalkan kalian berdua lagi,” serunya.

Jongin tertawa paksa, “Ah, iya,” ucapnya.

Jessica pun memamerkan senyuman paksanya. Bagaimana mungkin Jongin berada disini?, batinnya.

>>> 

Luhan, Sooyeon dan Jongin beristirahat di sebuah bangku di taman. Disana banyak sekali orang-orang yang bersantai setelah joging.

“Jadi, kalian adalah rekan kerja, ya?,” tanya Luhan.

“Iya,” jawab Sooyeon dan Jongin bersamaan.

“Pasti enak sekali punya sekretaris cantik seperti Sooyeon. Benar, kan, Jongin-ssi?,” tanya Luhan.

Jongin tersenyum paksa, “Begitulah~” jawabnya.

Tiba-tiba, sebuah truk es krim muncul dan berhenti di ujung taman yang jaraknya lumayan dekat dengan mereka. Mata Sooyeon langsung berbinar saat melihat es krim.

“Akan ku belikan kau es krim, noona,” ucap Luhan—yang mengerti maksud dari tatapan Sooyeon.

“Ah? Terima kasih, Lu,” ucap Sooyeon—gembira.

“Bagaimana denganmu, Jongin-ssi?,” tanya Luhan.

Jongin mengibaskan tangannya, “Tidak, terima kasih,” jawabnya.

Luhan mengangguk mengerti. Ia pun segera pergi menghampiri truk es krim tersebut.

Dan kini, hanya ada Sooyeon dan Jongin yang duduk di bangku tersebut. Suasana berubah menjadi canggung.

“Ngg—bagaimana kabarmu?,” tanya Jongin—mencoba membuka pembicaraan.

“Disini aku baik, sangat baik,” jawab Sooyeon.

Jongin hanya ber-oh pelan. Sepertinya Sooyeon sangat betah disini, batinnya.

“Baru dua hari berpisah, sudah bertemu lagi.” gumam Sooyeon.

Jongin  menoleh ke arah Sooyeon. Ia mulai tersenyum jahil, “Tapi, kau senang, kan?” goda Jongin.

Sooyeon menoleh cepat ke arah Jongin. Ia menatap Jongin tajam. Sedangkan Jongin membalasnya dengan tatapan hangat, dan itu berhasil membuat Sooyeon luluh.

“Tentu saja aku senang. Tapi, kau tenang saja, Jongin-ssi. Aku sudah mengurus perceraian—”

“Tidak!,” potong Jongin cepat—membuat Sooyeon kaget mendengarnya.

“Aku tidak akan pernah bercerai denganmu, Sooyeon-ah. Tidak akan pernah!,” ucap Jongin.

Sooyeon menatap Jongin dengan tatapan sulit di artikan. Bingung, takut, cemas, tak percaya, senang, sedih, itulah yang saat ini ada di pikirannya.

“Es krim sudah datang!,” seru Luhan—seraya membawa dua cup es krim.

“Wah~” seru Sooyeon—seraya meraih satu es krim yang ada di tangan Luhan. “Terima kasih, Lu. Kau yang terbaik,”

Luhan tersipu mendengarnya. Ia tak dapat menutupi senyumannya. Sedangkan Jongin harus menahan rasa cemburu yang membakar hatinya.

Sakit, kenapa rasanya sakit sekali?, batinnya.

>>> 

“Ku mohon, Seohyun-ah. Dengarkan penjelasanku dulu,” pinta Sehun—melalui ponselnya—pada Seohyun, kekasihnya.

Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Sehun mengacak-acak rambutnya prustasi.

“Dia marah?,” tanya Jongin.

“Sangat. Dan kau harus bertanggung jawab,” jawab Sehun—kesal.

“Saat kita kembali ke Seoul, aku berjanji akan mendamaikan kalian berdua,” ucap Jongin.

Tiba-tiba ponsel Jongin berdering. Ia menatap layar ponselnya. Jongin mendadak takut dan cemas. Sehun dapat melihat hal itu dari wajahnya.

“Apakah itu Ayahmu?,” tanya Sehun.

Jongin mengangguk lemah. Ia segera mengangkat teleponnya sebelum Ayahnya semakin marah.

“Ada apa, appa?,” tanya Jongin.

“Kau dimana?,”

“Ngg—aku—”

“Saat ini aku berada di kantormu. Aku menanyakan pada semua karyawan. Tapi, mereka tidak tahu. Rumahmu juga terkunci tak ada penghuni kata Miyoung. Lantas, dimana kau dan Sooyeon?,”

Jongin menelan salivanya kasar, “Aku dan Sooyeon berada di Beijing. Maaf kami lupa memberitahumu, appa. Kami lupa,” ucapnya.

“Astaga! Harusnya kau memberitahuku terlebih dahulu,”

“Maafkan aku, appa,” ucap Jongin.

“Ya sudah. Tidak apa. Bersenang-senanglah di Beijing. Aku tahu kalian lelah bekerja. Jadi kalian memang butuh penyegaran,”

“Kau adalah Ayah yang pengertian, appa,” ucap Jongin—senang.

“Tentu saja. Aku tutup dulu, ya?,”

“Baiklah,” jawab Jongin—lalu mengakhiri teleponnya.

Jongin bersandar dan menghela napas lega. Untunglah ia berhasil membuat Ayahnya tak marah dan tak curiga.

“Kali ini kau selamat, Jongin-ah,” ucap Sehun.

Jongin hanya tersenyum mendengarnya.

>>> 

“Ya sudah. Tidak apa. Bersenang-senanglah di Beijing. Aku tahu kalian lelah bekerja. Jadi kalian memang butuh penyegaran,”

Yoona menangkap kalimat dari mantan direktur perusahaan terbesar di Korea Selatan yaitu Kim Jaejoong yang membuat jantungnya tak berhenti berdetak cepat. Saat ini, Yoona sedang menemani Yuri bekerja. Lumayan daripada ia menganggur di rumah.

“Jongin oppa di Beijing?,” gumam Yoona, “Apakah dia bersama Sooyeon eonni?,” pikirnya.

Yuri menatap Yoona tajam. Pasti Yoona merencanakan hal yang aneh lagi, batinnya.

>>> 

Sooyeon sedang berbaring seraya menatap langit-langit kamarnya. Ia masih memikirkan perkataan Jongin tadi pagi di taman.

“Aku tidak akan pernah bercerai denganmu, Sooyeon-ah. Tidak akan pernah!,”

 

“ARGH!!,” teriak Sooyeon—prustasi. Ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.

“Ku dengar, Jongin tinggal di rumah Luhan, ya?,” tanya Qian—yang tiba-tiba muncul di balik pintu kamar Sooyeon.

Sooyeon menghela napas berat, “Ya, begitulah,” jawabnya.

“Aku mengerti akan perasaanmu, Sooyeon-ah,” ucap Qian.

“Terima kasih sudah peduli, Qian,” balas Sooyeon.

“Jika kau masih mencintainya, kembalilah padanya. Ku pikir, Jongin juga masih mencintaimu. Jika tidak, untuk apa ia kemari?,”

Sooyeon terdiam. Perkataan Qian benar juga, batinnya.

“Apa aku memang harus kembali padanya, ya?,” tanya Sooyeon—ragu.

“Kau ragu?,” tanya Qian.

Sooyeon mengangguk, “Aku masih ragu dengan Jongin yang sekarang. Mengapa ia tiba-tiba mengejarku setelah menyakitiku?,”

“Karena ia menyesal,” jawab Qian.

“Kau benar. Tapi, hati kecil ku masih ragu,” ucap Sooyeon.

Qian menghela napas berat, “Kalau begitu, biarkan waktu terus berjalan. Kau lihat dulu perkembangannya sekaligus kau mantapkan isi hatimu,” sarannya.

Sooyeon tersenyum, “Kau adalah penyaran terbaik yang pernah ku temui, Qian,” ucapnya.

“Thats me!,” ucap Qian—percaya diri.

>>> 

Yuri melemparkan tasnya ke atas ranjangnya. Hari yang melelahkan, batinnya. Bagaimana tidak lelah? Hari ini ia mendapatkan pekerjaan ekstra selama Sehun tidak ada. Tetapi, untungnya, gajinya menjadi bertambah.

“Tiba-tiba aku merindukan Sooyeon. Kira-kira, dia sedang apa, ya?,” gumam Yuri.

BUKK!!

Yuri tersentak saat mendengar suara keras dari kamar sebelah. Khawatir dengan apa yang terjadi, Yuri pun segera pergi ke kamar sebelah.

“Yoona-ah, kau mau kemana?” tanya Yuri—saat melihat Yoona mengemasi pakaiannya.

“Aku ingin menyusul Jongin oppa ke Beijing!” jawab Yoona.

Yuri membelalakan matanya. Ia tak percaya Yoona senekat ini. Yuri pun segera mengeluarkan pakaian Yoona dari koper.

“Apa yang kau lakukan, eonni?,” tanya Yoona—kesal.

“Kau tidak boleh pergi,” larang Yuri.

“Dan membiarkan Jongin oppa dan Sooyeon eonni tidak jadi bercerai? Tidak akan!,” seru Yoona.

“K-Kau tahu?,” tanya Yuri.

Yoona mengangguk, “Ya, aku sudah tahu semuanya,” jawabnya.

“Yoona-ah, ku mohon jangan rusak hubungan mereka,” pinta Yuri.

“Aku tidak mau, eonni!,” tolak Yoona, “Jongin oppa adalah cinta pertamaku, hidup dan matiku. Aku tidak mau kehilangan dia,” ucapnya.

“Yoona-ah, kau terlalu terobsesi pada Jongin,” ucap Yuri.

“Memang iya. Aku terobsesi dan tergila-gila pada Jongin oppa,” jawab Yoona—seraya kembali mengemasi baju-bajunya.

Yuri mengacak rambutnya prustasi. Saat ini, ia sedang memikirkan cara untuk mencegah kepergian Yoona.

>>> 

Miyoung menekan bel di kediaman Kim Jaejoong. Pintu pun di buka oleh salah satu pelayan di rumah seperti Mansion tersebut.

“Sajangnim, silakan masuk!,”

Miyoung mengangguk seraya masuk ke dalam rumah milik Jaejoong. Ia mendapati Jaejoong sedang menonton TV di ruang tengah.

“Miyoung-ah? Silakan duduk,” ucap Jaejoong.

“Terima kasih,” ucap Miyoung—seraya duduk di sofa nan empuk, “Dimana anakku, tuan Kim?” tanya Miyoung.

“Jongin menghubungiku kemarin. Dia berkata dia dan Sooyeon sedang berlibur ke Beijing.” jawab Jaejoong.

Miyoung hanya ber-oh pelan. Syukurlah jika Sooyeon baik-baik saja, batinnya.

>>> 

Sooyeon dan Luhan sedang makan siang di halaman Luhan. Sebenarnya berempat bersama Jongin dan Sehun. Tapi, keduanya begitu pasif sehingga rasanya hanya ada Sooyeon dan Luhan saja.

“Kenapa kalian berdua diam?,” tanya Luhan.

“Aku hanya mengikuti tradisi eomma,” jawab Sehun.

Luhan terkekeh mendengarnya, “Bagaimana denganmu, Jongin-ssi?,” tanyanya.

“Aku hanya sedang ingin menikmati masakanmu saja,” jawab Jongin—asal. Padahal sedari tadi ia sibuk memandangi Sooyeon. Maka dari itu Sooyeon merasa gelisah.

Selesai makan, Sooyeon meminta ijin untuk ke rumah Qian sebentar. Namun tampaknya Jongin mengikutinya hingga Sooyeon menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang rumah Luhan.

“Berhenti mengikutiku, Jongin-ssi,” pinta Sooyeon.

“Aku hanya ingin kau menjawab pernyataanku kemarin,” ucap Jongin.

Sooyeon menelan salivanya kasar. Ia belum siap untuk menjawab. Bukankah ia berencana untuk melihat dulu dalam waktu yang lama setelah itu mengevaluasinya?

“J-Jongin—”

“Hanya jawab saja. Dan katakan—kau ingin kembali lagi padaku,” pinta Jongin.

“Lebih baik kau pulang, Kim Jongin!” usir Sooyeon.

Jongin mengernyit heran, “Aku berada di depan rumah tempat aku tinggal sementara,” jawabnya.

“Maksudku pulang ke Seoul,” ucap Sooyeon.

“Aku kesini untuk membawamu kembali.” ucap Jongin.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!” ucap Sooyeon.

DEG!

Perkataan Sooyeon bagaikan sengatan listrik baginya. Wajah Jongin tak bisa di artikan. Tampak seperti syok berat pada umumnya.

“J-Jongin~” gumam Sooyeon—takut.

“Ku pegang kata-katamu, eonni,”

Sooyeon dan Jongin menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, pemilik suara itu tak lain adalah Yoona.

“Yoona-ah?,” gumam Jongin—kaget.

Yoona segera merangkul lengan Jongin, “Dia sudah tak mencintaimu lagi, oppa. Percuma mengharapkannya. Yang ada, kau hanya menerima luka,” ucapnya.

“A-Aku hanya—”

“Oppa, ayo kemasi barang-barangmu dan kita pulang,” seru Yoona.

“J-Jongin, tapi—”

Yoona membawa Jongin berjalan masuk ke rumah Luhan. Jongin tampak seperti boneka yang dengan lemah di perintahkan oleh majikannya. Ia menurut apa yang di katakan Yoona. Mungkin ini karena efek syok yang tadi Jongin rasakan.

Mata yang awalnya berkaca-kaca, kini sudah merembeskan kristal-kristal bening. Sooyeon tak bisa mengeluarkan satu kata pun. Berteriak pun tidak bisa. Rasanya ia kehilangan oksigen.

Awalnya hanya ingin mencoba apakah Jongin langsung menyerah begitu saja, ternyata mengefekkan suatu dampak yang besar. Memang, penyesalan selalu datang di akhir.

Hujan pun turun dengan derasnya. Namun, Sooyeon tetap mematung di tempat yang tadi. Hingga seseorang memayunginya di tengah hujan yang deras.

“Apa kau baik-baik saja, noona?,” tanya Luhan.

Namun yang di tanya lagi-lagi tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Kini, Luhan merasa seperti orang yang aneh sedang berbicara dengan patung manequin yang sangat cantik.

To Be Contiuned

 

Chapter 2 selesai. Akhirnya! Lega, deh! Lanjutannya nyusul, ya? Gak tau sih kapan. Tapi di usahain deh!

Don’t forget about review, okay? ^^

Who I Love? (Chapter 1)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
– SNSD’s Jessica as Jessica Jung
– EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
– EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan
– EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol

Support Cast :
– SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
– SNSD’s YoonA as Im Yoona
– EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
– SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
– EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok

Genre : Fluff, Romance, School Life, Comedy

Length : Series

Note : Terinspirasi dari anime favorit saya, Kamichama Karin. Enjoy!

>>>

Disinilah aku tinggal, bersama dengan dua orang yang seumuran denganku. Mereka adalah orang asing yang kini menjadi akrab denganku. Aku tinggal bersama mereka sudah lima bulan lamanya setelah kematian kedua Orangtuaku.

Namaku Jessica Jung. Biasa di panggil Jessica atau Sica. Aku lahir di U.S dan tumbuh besar di Seoul, Korea Selatan. Di hari ulang tahunku beberapa bulan yang lalu, aku dan kedua Orangtuaku merayakannya di sebuah Fila yang terletak di pulau Jeju. Namun, setelah kami pulang menuju Seoul, kecelakaan menimpa kami. Kedua Orangtuaku tewas dan aku terluka kecil.

Setelah kejadian itu, aku menjadi prustasi. Rumahku di sita karena hutang Ayahku yang belum terlunasi. Aku tak tahu lagi harus tinggal dimana. Bahkan aku di usir dari sekolah karena tak punya biaya untuk pembayaran di sekolah.

Hampir saja aku mati karena bunuh diri jika tidak ada dua orang asing yang mencegatku.

“BERHENTI!!”

Aku menoleh ke sumber suara. Disana ada dua orang asing, yang satu lelaki dan yang satunya lagi perempuan.

“APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH?” teriak lelaki asing itu.

Seenaknya saja memanggilku bodoh. Memangnya dia siapa?

“NAMAKU BUKAN BODOH!!” balasku berteriak.

“Apa yang kau lakukan itu bukan tindakan bodoh? Kau pikir apa yang kau lakukan itu benar?” omelnya.

Kenapa dia mengomeliku? Dia pikir dia itu Ibuku?

“Hentikan, Sehun-ah. Jangan bertindak kasar padanya.” seru perempuan itu—kepada lelaki itu.

Rasakan itu!

“Lebih baik kalian pergi. Jika kalian disini, polisi akan mengira kalian sebagai tersangka.” ucapku—menakuti mereka.

“Dan membiarkanmu melompat ke sungai sana? Tidak akan.” ucap perempuan itu.

Aku tertegun mendengar pernyataannya. Dia berbicara dengan mimik wajah yang serius. Memangnya aku ini temannya? Tidak seharusnya bukan dia peduli padaku?

“Kau tak tahu apa yang ku alami.” ucapku.

“Maka dari itu, kau harus memberitahu kami.” ucap lelaki itu.

Aku mendesah. Memangnya mereka bisa di percaya? Memangnya dengan memberitahu mereka, aku bisa keluar dari permasalahan ini?

“Percayalah pada kami. Kami akan membantumu.” ucap perempuan itu—terkesan hangat.

Kini, mereka berdua lah yang merawatku, menjagaku, dan melindungiku. Mereka adalah dua saudara sepupu yang baik. Yang lelaki bernama Sehun, dan yang perempuan bernama Seohyun. Seohyun yang memiliki paras cantik, berhati seperti malaikat dan pintar—sedangkan Sehun yang sedikit tampan namun sering bertindak kasar dan menyebalkan, tetapi terkadang dia baik, tapi besoknya pasti dia jahat lagi. Huft!

Aku tinggal bertiga bersama mereka. Hanya bertiga, di sebuah rumah yang lumayan besar. Bahkan sekarang aku sekolah di sekolah bergengsi di Korea Selatan, yaitu Performing Art School. Aku tidak mengerti. Mengapa Sehun dan Seohyun dapat hidup dengan kemewahan tetapi mereka tak bersama Orangtua mereka? Sedangkan aku, di tinggal Orangtuaku menjadi terpuruk.

“Sica-ya?”

Aku tersentak saat Seohyun memanggil namaku. Aku tersenyum kecut karenanya. Ternyata sedari tadi aku melamun. Bahkan sarapanku belum ku habiskan.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Sica-ya?”

Aku menggeleng pelan di selingi senyuman tipis,
“Tidak ada yang ku pikirkan, Seohyun-ya.” jawabku.

“Cepat habiskan sarapanmu. Aku tidak mau terlambat karenamu.” sahut Sehun—dengan nada yang ketus.

Menyebalkan!

“Sehun-ah~” rujuk Seohyun.

Sehun tampak mendesah,
“Aku tak bisa bersikap baik pada orang yang tak mau mengikuti perintahku, Seohyun-ah.”

Aku mengutuki Sehun di dalam hatiku. Ah, dia sangat menyebalkan.

>>>

“SELAMAT PAGI, OH FAMILY!” teriak Baekhyun dan Taeyeon—dua teman baikku, juga Seohyun dan Sehun.

“Selamat pagi~” balas kami kompak.

“SELAMAT PAGI, JUNG-YA!” teriak Chanyeol—teman teraneh yang pernah ku temui.

“Sudah ku katakan berkali-kali, jangan memanggilku seperti itu.” protesku.

Chanyeol tak menjawab, melainkan memelukku erat. Aku tak merasa gugup atau apalah, karena Chanyeol memang sering memelukku seperti ini. Pelukannya sama dengan Ayahku.

“Aku sangat merindukanmu, Jung-ya. Liburan semester sangat menyiksaku.” ucapnya—yang membuatku memutar bola mataku.

“Rupanya Chanyeol sangat merindukan Jessica, ya?” seru Taeyeon.

“Tentu saja. Jessica adalah kekasihku.” ucap Chanyeol.

BUKK!!

Chanyeol mendadak kesakitan akibat pukulanku yang mendarat di perutnya. Rasakan itu! Seenaknya saja menganggapku kekasihnya. Memangnya aku ini boneka?

“Jung-ya, kau jahat sekali.” ucap Chanyeol.

“Jangan sembarangan menyebutku sebagai kekasihmu.” ucapku kesal.

Chanyeol terkekeh pelan,
“Maaf. Aku kan hanya bercanda.”

Aku memutar bola mataku. Chanyeol dan Sehun sama menyebalkannya.

>>>

Aku sedang duduk di sebuah kursi panjang di taman sekolah. Aku sedang sendirian sambil membaca buku pelajaran. Nilai matematikaku merah, sehingga aku harus remedial. Sungguh enaknya menjadi Seohyun maupun Sehun. Mereka di berkahi otak yang cerdas. Sedangkan aku, seringkali di bodohi. Miris sekali nasibku ini.

“Jessica-ssi?”

Aku mengangkat kepalaku— mencari sumber suara.

“Luhan sunbaenim?”

Ternyata orang yang memanggilku adalah Luhan sunbae. Dia adalah sunbae terbaik yang pernah ku temui. Dia itu tampan, manis, cantik juga, ramah, dan suka menolong. Aku sangat mengidolakannya!

“Boleh aku duduk di sampingmu?” pintanya.

“Oh, tentu saja, sunbae!” jawabku.

Luhan sunbae tersenyum manis, sangat manis! Kemudian, dia duduk di sampingku. Aku harap dia tak mendengar suara jantungku yang berdegup kencang.

“Membaca buku, ya?” tanyanya.

“I-Iya.” jawabku—gugup.

Payah!

“Kau harus semangat, Jessica-ssi.” seru Luhan sunbae—menyemangatiku.

Aku tak dapat menutupi senyuman ku. Ia juga membalas senyuman ku. Aku yakin, senyumanku kalah manis dengan senyumannya.

“Jessica-ssi, di kepalamu ada daun!”

Ah, benarkah?

Aku pun berusaha mencari daun tersebut di kepala ku. Nihil! Usaha ku tak berhasil. Hingga Luhan sunbae lah yang mengambil daun itu di kepala ku.

DEG!

Jantung ku berdetak sangat cepat. Ada apa ini? Jangan sampai Luhan sunbae mendengarnya.

“Sekarang kau sudah terlihat cantik.”

Pipi ku memanas. Pasti sekarang wajah ku memerah.

“Apa yang terjadi, Jessica-ssi? Kau sakit?” tanya Luhan sunbae.

Aku menggeleng cepat,
“Aku baik-baik saja, sunbae.”

Aku bangkit dan membungkuk 90˚ kepada Luhan sunbae. Setelah itu, aku segera berlari dari tempat tersebut. Yang benar saja, mana mungkin aku bisa bertahan berada di dekat Luhan sunbae. Bisa-bisa aku menjadi kepiting rebus nantinya.

>>>

Aku duduk di meja makan dengan anggota tubuh yang melemah. Bagaimana tidak, aku baru saja melakukan kegagalan kembali dalam memasak. Belut gosong? Makanan macam apa itu?

“Aku tidak mau makan! Sudah ku katakan berkali-kali, biar Seohyun saja yang memasak.” omel Sehun—padaku.

“Aku minta maaf. Aku hanya merasa tidak enak jika aku tinggal disini tapi aku tidak bekerja.” ucapku.

“Tidak, Sica-ya. Kau adalah keluarga kami. Jadi, jangan sungkan.” ucap Seohyun.

Huft! Seohyun sangat ramah dan berhati seperti malaikat. Sedangkan Sehun? Like devil.

“Jangan sering memanjakan dia, Seohyun-ah.”

Apa-apaan Sehun itu? Dia tidak suka Seohyun baik padaku? Keterlaluan!

“Aku akan buatkan sarapan baru. Untung saja hari ini hari minggu. Jadi, kita tidak perlu takut terlambat.” ucap Seohyun.

“Baiklah.” jawabku dan Sehun bersamaan.

Apa-apaan dia itu?

“Kalian kompak sekali. Kata Nenek, jika laki-laki dan perempuan kompak, berarti jodoh.” seru Seohyun.

APA??!!

“TIDAK MAU!!!!” teriakku dan Sehun bersamaan—lagi.

“Berhenti mengikuti kata-kataku!” omelku.

“Siapa yang mengikutimu? Kau yang mengikutiku!” balasnya.

“KAU!” teriakku.

“KAU!” balasnya.

“HENTIKAN!!”

Aku dan Sehun berhenti saat Seohyun berteriak. Aku tidak menyangka Seohyun bisa berteriak seperti ini.

“JUNG-YA!!!”

Aku menoleh ke sumber suara. Panggilan itu—pasti Chanyeol.

“Bagaimana kau bisa masuk, Chanyeol-ssi?” tanya Sehun.

“Pintu kalian terbuka lebar. Jadi, aku masuk saja.” jawab Chanyeol.

“Pasti kau yang membukanya, Jessica-ssi!” omel Sehun.

“Apa? Bukankah kau yang meminta ku untuk membuka pintu?” tanyaku.

“Tapi tidak usah lebar.”

“Salahmu tidak jelas dalam memintaku!” balasku.

“Jangan bertengkar lagi~” pinta Seohyun.

“Sepertinya mood mu sedang tidak baik, Jung-ya. Padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan.” ucap Chanyeol.

Chanyeol ingin mengajakku jalan-jalan? Kesempatan yang bagus untuk menjauhi iblis itu.

“Chanyeol-ah, aku mau kok!” jawabku.

“Apa benar?” tanya Chanyeol.

Aku mengangguk bersemangat.

“Apa boleh aku dan Sehun juga ikut?” tanya Seohyun.

A-APA? Mereka ingin ikut?

“Boleh saja.” jawab Chanyeol.

Tamatlah riwayatku!

“Aku malas, Seohyun-ah. Lebih baik tidur.” ucap Sehun.

Bagus, Sehun-ssi! Alasan yang sangat bagus.

“Kalau begitu, aku tidak mau membuatkan sarapan.” seru Seohyun.

“T-Tidak! Baiklah aku ikut.”

Huft! Gagal rencana ku untuk menjauhi Sehun.

>>>

Sekarang aku, Chanyeol, Seohyun dan iblis itu sedang duduk di sebuah kedai es krim. Kami menikmati es krim setelah menaiki wahana di Lotte World. Ternyata menyenangkan juga bersama Chanyeol. Terkadang Chanyeol terlihat seperti teman, dan terkadang seperti musuh. Entahlah~

“Bagaimana perasaanmu, Jung-ya? Apakah mood mu sudah membaik?” tanya Chanyeol.

“Sangat baik, Chanyeol-ah. Terima kasih. Aku belum pernah sebelumnya ke Lotte World bersama teman-teman. Biasanya aku kemari bersama Orangtuaku.” jawabku.

“Sica-ya~” lirih Seohyun.

Aku tahu, Seohyun pasti selalu merasa prihatin jika aku membicarakan tentang Orangtuaku. Dia selalu saja berinisiatif untuk melindungiku. Ya, itulah Seohyun!

“Tidak apa, Seohyun-ya.” ucapku.

“Es krim milikmu sepertinya enak.” ucap Chanyeol.

“Tentu saja.” jawabku.

Tanpa ku sangka, Chanyeol menjilat es krim milikku. Setelah itu dia tersenyum tulus. Tulus sekali. Tak pernah ku lihat Chanyeol seperti ini sebelumnya.

“Jangan memandangiku seperti itu, Jung-ya. Nanti kau jatuh cinta padaku.” ucapnya.

PLETAKK!!

Chanyeol mengusap kepalanya sambil meringis. Inilah yang sering ku lakukan pada Chanyeol jika dia berbicara yang aneh-aneh.

“Jung-ya, kau tega sekali.”

“Biar saja.” balasku—kesal.

“Kalian seperti Ibu dan anak, ya?” seru Seohyun.

Aku mengernyitkan keningku,
“A-Apa?”

“Sica selalu memukul dan menjitak Chanyeol jika Chanyeol melakukan kesalahan. Tepat seperti Ibu yang menghukum anaknya. Lucu sekali~”

Aku melihat Seohyun tertawa. Melihatnya, aku menjadi senang. Entahlah, rasanya nyaman sekali jika melihat Seohyun bahagia.

“Bukan seperti Ibu dan anak, tetapi seperti majikan dan pembantunya.”

Aku melirik Sehun dengan tatapan sinisku. Huft, dia selalu saja merusak suasana. Pikirannya selalu saja tidak bermutu.

“Jessica-ssi~”

Aku dan ketiga temanku—menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, itu kan Luhan sunbaenim bersama saudara sepupunya yang juga senior kami, Minseok sunbaenim.

“Annyeonghaseyo, sunbaenim!” sapaku—riang.

“Annyeonghaseo, sunbaenim!” sapa Seohyun dan Chanyeol pada Luhan dan Minseok sunbaenim. Sedangkan Sehun tampak asyik dengan PSP miliknya. Tidak sopan!

“Kalian sedang makan es krim, ya?” tanya Luhan sunbae.

“Seperti yang kau lihat, sunbae.” jawabku.

“Boleh kami bergabung disini?” pintanya.

“Kita bisa duduk di tempat lain, Luhan-ah.” seru Minseok sunbae.

“Aku yakin jika bersama mereka lebih menyenangkan, hyung.” ucap Luhan sunbae, “Jadi, bagaimana?”

Aku menggaruk kepalaku. Boleh saja, tapi aku tidak tahu dengan yang lain.

“Boleh kok.” jawab Seohyun.

“Lebih banyak lebih menyenangkan.” tambah Chanyeol.

Aku tersenyum senang. Ternyata mereka satu pikiran denganku.

“Maaf!”

Aku dan yang lainnya menoleh ke sumber suara. Suara itu berasal dari Sehun. Mau apa lagi dia?

“Aku memiliki kesibukan. Aku harus pergi.” katanya.

“Mendadak sekali, Sehun-ah.” ucap Chanyeol.

“Ini penting, Chanyeol-ssi.” jawab Sehun.

“Ya sudah, pergi saja.” ucapku.

Aku baru sadar kini aku menjadi objek perhatian teman-teman, termasuk Sehun sedang menatapku tajam. Apa aku salah bicara?

“Aku ikut, ya?” ucap Seohyun—pada Sehun.

“Terserahmu saja, Seohyun-ah.” jawab Sehun.

“Seohyun-ya~” lirihku.

Seohyun tersenyum padaku,
“Kami pergi dulu, ya?” pamitnya.

“Hati-hati, ya.” seru Chanyeol.

“Aku titip Sica, Chanyeol-ssi.” ucap Seohyun.

“Tenang saja. Sica tidak akan terluka jika bersamaku.” ucap Chanyeol.

Aku melirik Chanyeol sinis.

Sehun dan Seohyun pun pergi. Sementara itu, Luhan dan Minseok sunbaenim duduk menggantikan posisi Sehun dan Seohyun.

“Apa kalian tadi sedang kencan ganda?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan dari Luhan sunbae. Kencan ganda? Siapa yang kencan ganda?

“Tentu saja. Sehun bersama Seohyun, dan aku bersama Jessica.” jawab Chanyeol.

Untung saja ada Luhan sunbae. Jika tidak, aku akan membunuhmu hidup-hidup, Chanyeol-ah!

>>>

“Aku pulang!” seruku.

Tiba-tiba, aku melihat Sehun keluar dari kamarnya.

“Kau pulang larut sekali.” katanya.

Aku menggembungkan pipiku,
“Kenapa? Bukankah kau senang jika aku tidak ada di rumah?”

“Selamat, ya? Kau pasti sangat puas bisa berkencan dengan Luhan.” ucap Sehun—lalu masuk kembali ke kamarnya.

Aku membeku di tempat. Mengapa kali ini nada bicara Sehun terdengar aneh? Seperti sangat marah namun berusaha untuk di sembunyikan. Atau ini hanya perasaanku saja? Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Mana mungkin Sehun marah hanya karena aku berkencan dengan Luhan sunbae. Lagipula, siapa yang berkencan? Yang ada, aku selalu bersama Chanyeol.

To Be Contiuned

Ayo! Di koment yang banyak! Kalo dikit, saya gak lanjutin loh!

Still (Chapter 1)


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • etc

Genre : Romance, Family, Angst, Friendship

Length : Series

Note : FF ini merupakan sekuel dari FF dua versi (Wife’s Not Considered dan I Love You, But I Hate You). Enjoy!

>>> 

Yuri melempar ponselnya ke atas ranjangnya. Tubuhnya yang mulai melemas memaksakan dirinya untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya. Apalagi yang membuatnya seperti ini?

“Sooyeon-ah—gadis itu benar-benar!” gerutu Yuri—prustasi.

Yuri baru saja mendapatkan pesan dari Sooyeon yang mengabarkan bahwa ia telah pergi ke Beijing dan akan bercerai dengan Jongin. Ini sungguh di luar kepala Yuri. Yuri tahu Sooyeon tidak akan pernah mau bercerai dengan Jongin, karena Sooyeon pernah bilang bahwa ia akan bertahan. Tapi, nyatanya?

“Eonni~”

Yuri tersentak saat sadar bahwa seseorang telah duduk di sampingnya. Mungkin karena terlalu prustasi berefek ia tak sadar jika sepupunya sudah ada di sampingnya.

“Apa kau sudah puas, Yoona-ah?” tanya Yuri.

Yoona mengernyit heran, “Apa maksudmu, eonni? Aku tidak mengerti.” balasnya.

“Tidak mengerti, katamu?” tanya Yuri—murka.

Yoona menatap Yuri sedikit takut.

“Kau sudah menghancurkan rumah tangga orang lain, Yoona-ah!” bentak Yuri.

Yoona mengerjap—kaget, “Aku tidak mengerti!” ucapnya.

“Sooyeon bukan pembantu Jongin, melainkan istri Jongin!”

Yoona merasa dirinya seperti tersengat listrik. Tangannya menutup mulutnya yang mulai mengeluarkan isakan tangis. Air matanya tak mau kalah—merembes begitu saja. Namun, kepalanya terus menggeleng mengikuti kata hatinya.

“Jongin oppa belum menikah. Dia akan menikahiku akhir tahun ini. Eonni pasti berbohong!” seru Yoona—di selingi isak tangisnya.

“Sayangnya aku berkata jujur, Yoona-ah.” ucap Yuri.

Yoona mengusap air matanya. Ia segera bangkit dan melemparkan tatapan tajamnya pada Yuri.

“Kalau begitu, aku akan membuat hubungan mereka semakin hancur!” tekadnya—lalu segera pergi.

“Tidak, Yoona-ah!” seru Yuri—namun tak di hiraukan Yoona, “Kau tidak boleh melakukan ini, Yoona-ah!”

>>> 

Seorang pria berpakaian rapi—berdiri di depan sebuah rumah besar sejak tadi. Ia sudah menekan bel berpuluh kali, tapi tak ada jawaban. Akhirnya, pria itu memutuskan untuk menghubungi seseorang.

“Nyonya Jung, sepertinya tuan Kim tidak ada di rumah. Apa yang harus saya lakukan?”

“Letakkan surat-surat tersebut di kotak surat di samping pintu. Dia akan membacanya sendiri.”

“Baiklah, akan saya lakukan.”

“Ya, terima kasih.” ucap Sooyeon—lalu mematikan ponselnya.

“Ada apa?” tanya Qian—sahabat Sooyeon di Beijing.

Sooyeon menghela nafas berat, “Jongin tidak ada di rumah. Pengacaraku datang ke rumah untuk meminta tanda tangannya.” jawabnya.

“Mungkin Jongin sedang sibuk di kantor.” ucap Qian.

“Mungkin~” gumam Sooyeon.

“Jiejie, mengapa pintu tidak di kun—” seorang pria menghentikan kalimatnya saat melihat Sooyeon.

“Maafkan aku, Lu. Tadi saat mengambil susu, aku lupa mengunci pintu.” ucap Qian.

“Saat ini sedang marak perampokan dan penculikan, jiejie. Aku tak ingin kau dan temanmu dalam bahaya.” ucap pria itu. “Ngg—by the way, siapa temanmu itu, jiejie? Wajahnya tampak asing, dan bukan seperti penduduk China.”

Sooyeon segera berdiri dan membungkuk 90˚, “Nihao. Namaku Jung Sooyeon, panggil saja Sooyeon.” ucapnya.

“Oh, penduduk Korea, ya?” tanya pria itu.

Sooyeon mengangguk, “Iya, tepat sekali.” jawabnya.

“Ngg—namaku Luhan. Salam kenal.” balas pria—Luhan—itu.

Sooyeon tersenyum manis. Hal itu membuat Luhan sedikit kagum pada Sooyeon.

“Hm!” seru Qian—merusak momen mereka.

“Ah, jiejie, aku ingin pergi membeli es krim. Mau ikut?” tawar Luhan.

“Kau bersama Sooyeon saja. Aku sedang kurang enak badan. Belikan saja aku es krim.” jawab Qian.

“Aku akan menjagamu.” ucap Sooyeon.

Qian menggeleng, “Kau pikir aku anak kecil, hah? Sudah sana pergi. Aku bisa jaga diri.”

Sooyeon mengangguk. Luhan segera menarik lengannya. “Ayo, noona!” ajaknya.

Sooyeon menatap lengannya yang di pegang oleh Luhan. Menyadari hal itu, Luhan segera melepas genggamannya dari lengan Sooyeon. Wajah Luhan kini bersemu merah.

“Maafkan aku, noona.” ucap Luhan.

“Tidak apa, Lu—han.” jawab Sooyeon.

“Lu saja juga tidak apa.” ucap Luhan.

Sooyeon tersenyum manis, “Baiklah!” ucapnya.

“Ayo, kita pergi!” ajak Luhan, “Sekalian aku ingin mengajakmu berkeliling kota Beijing.”

“Wah! Aku jadi tidak sabar.” ucap Sooyeon—girang.

Qian tersenyum melihat mereka, “Tampaknya kehadiran Luhan dapat membuat Sooyeon berpindah ke lain hati dengan cepat. Ya, semoga saja.” gumamnya.

>>> 

“Jongin-ah, apa kau serius mengajakku ke Beijing?” tanya Sehun.

“Kau pikir aku bermain-main?” tanya Jongin.

“Seohyun pasti marah jika aku pergi secara mendadak.” gumam Sehun.

“Tenang saja. Aku yang akan bertanggung jawab.” ucap Jongin.

“Pesawat menuju China akan berangkat 5 menit lagi. Penumpang di harap segera menaiki pesawat.”

“Ayo, Sehun-ah.” ajak Jongin.

Sehun mengangguk lemah. Ia terus memikirkan kekasih hatinya itu.

“Seohyun pasti takkan mau memberi jatah padaku lagi.” gumam Sehun.

>>> 

Yoona terus menekan bel di rumah Jongin. Ia menggerutu kesal karena Jongin tak kunjung membuka pintu. Padahal ini sudah merupakan waktu kepulangan Jongin bekerja. Yoona juga menghubunginya, tapi nomor Jongin tidak aktif.

“Jongin oppa, kau dimana?” gerutu Yoona—kesal.

Tiba-tiba saja mata Yoona tertuju pada sebuah map di dalam kotak surat yang terbuka. Ia meraih map tersebut tanpa adanya rasa bersalah. Di bukanya map tersebut dan tak lupa ia baca isinya.

Mata Yoona membesar saat membaca inti dari isi map tersebut. Map yang ia pegang jatuh ke lantai. Tangannya memegang mulutnya dan ekspresinya tak bisa di ungkapkan, seperti seseorang yang baru mendapat kabar bahwa suami atau orangtuanya mengalami kecelakaan.

“Jongin oppa dan Sooyeon eonni—akan bercerai?”

>>> 

Sooyeon dan Luhan mengelilingi kota Beijing menaiki mobil Luhan bermerk California Ferarri berwarna merah. Mobil terbuka tersebut membuat keduanya bisa melihat kota Beijing lebih jelas lagi.

“Es krimnya sangat enak. Qian pasti akan merasa lebih baik setelah mencicipinya.” ucap Sooyeon—seraya menatap bungkusan yang berisikan es krim dalam bentuk wadah.

“Iya. Jiejie sangat menyukai es krim.” ucap Luhan—seraya terus mengemudikan mobilnya.

“Oh, ya, kau dan Qian—memiliki hubungan apa? Kalian keluarga?” tanya Sooyeon.

Luhan menggeleng, “Bukan. Kami hanya sekedar tetangga.” jawabnya.

“Tetangga?”

Luhan mengangguk, “Kami adalah tetangga sejak kecil hingga sekarang. Karena dia lebih tua dariku, aku pun memanggilnya kakak.” jawabnya.

Sooyeon mengangguk mengerti.

“Dan kau? Mengapa bisa berada disini?” tanya Luhan.

Sooyeon menggigit bibirnya. Ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Luhan. Waktunya belum tepat.

“Noona?”

Sooyeon tersentak, “Ah, aku hanya ingin mengunjungi Qian. Aku juga sedang liburan. Makanya aku kemari.” jawabnya.

“Apa profesi noona?” tanya Luhan.

“Ngg—pegawai di perusahaan.” jawab Sooyeon.

Luhan mengangguk mengerti.

“Kau sendiri bagaimana, Lu? Apa profesimu?” tanya Sooyeon.

“Hanya seorang komposer dan pelukis.” jawab Luhan.

“Komposer? Kau bisa menciptakan lagu?” tanya Sooyeon—tak percaya.

“Bukannya sombong. Tapi, sudah banyak penyanyi maupun grup di China yang membeli lagu ciptaanku.” jawab Luhan.

Sooyeon bertepuk tangan, “Wow! Kau hebat, Lu. Keren!” pujinya.

Luhan tersipu mendengarnya. Ia hanya bisa tersenyum untuk membalas pujian dari Sooyeon.

>>> 

“Woah! Rumah sepupumu besar juga.” ucap Jongin.

“Iya. Tentu saja. Dia adalah seorang komposer dan pelukis terkenal.” ucap Sehun.

Jongin mengangguk mengerti, “Sebaiknya aku tinggal di Hotel saja, ya?” tanyanya.

“Kau sudah mengajakku kesini. Itu artinya kau harus tinggal disini.” jawab Sehun.

“Tapi, ini memalukan. Seorang pengusaha kaya di Korea menumpang di rumah orang?” seru Jongin.

Sehun memutar bola matanya, “Jika sifatmu selalu seperti ini, Sooyeon tidak akan mau kembali padamu.”

Jongin menelan salivanya kasar. Perkataan Sehun berhasil membuatnya membeku sesaat.

TIN! TIN!

Jongin dan Sehun berbalik. Mereka kaget di depan mereka ada sebuah mobil.

“Bisa kalian minggir?” pinta si pemilik mobil tersebut.

“Gege, kau membenciku, ya?” tanya Sehun.

Si pemilik mobil tertawa renyah. Ia segera turun dari mobilnya dan menghampiri Sehun dan Jongin.

Sehun memeluk pria itu, “Aku merindukanmu, gege.” ucapnya.

“Aku juga merindukanmu.” jawab pria itu.

“Gege, perkenalkan, dia adalah rekan kerjaku, Kim Jongin.” ucap Sehun.

“Kim Jongin, pengusaha nomor satu di Korea Selatan.” ucap Jongin—seraya menyurungkan tangannya.

Sehun memutar bola matanya. Dia sombong lagi, batinnya.

Pria itu menjabat tangan Jongin, “Xiao Luhan, komposer dan pelukis.” balasnya.

“Gege, bisa kami tinggal di rumahmu untuk beberapa hari? Soalnya, Jongin ingin mencari is—” kalimat Sehun terhenti saat Jongin membungkam mulutnya.

“Aku memiliki bisnis disini. Awalnya aku ingin tinggal di Hotel. Tapi, Sehun memaksaku untuk tinggal disini.” ucap Jongin.

Luhan tertawa mendengarnya, “Tidak usah sungkan. Anggap saja rumah ku sebagai rumah kalian juga. Aku juga kesepian. Mari, silakan masuk.” ucapnya.

Jongin membungkuk sopan. Sedangkan Sehun mencoba mengatur nafasnya.

“Jongin benar-benar!” gumam Sehun—kesal.

>>> 

Jongin keluar dari rumah milik Luhan. Ia mengenakan pakaian jogingnya. Setelah ia sudah berada di luar gerbang rumah Luhan, ia segera melakukan pemanasan.

“Udara di Beijing ternyata segar juga.” ucap Jongin.

Tiba-tiba, Jongin melihat seorang wanita berpakaian olahraga keluar dari rumah sebelah. Ia tak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu karena wajahnya tertutupi oleh rambut yang bergelombang indah.

“Selamat pagi, Jongin.” sapa Luhan—yang baru saja ada di sampingnya.

“Luhan? Mau joging juga?” tanya Jongin.

“Iya. Aku ada janji dengan seorang wanita untuk joging bersama. Kau boleh ikut jika kau mau.” jawab Luhan.

Aku rasa aku harus menerima tawarannya atau aku akan tersesat, batin Jongin.

“Ah, itu dia.” ucap Luhan, “Sooyeon noona?” panggilnya.

Sooyeon noona?, batin Jongin.

“Selamat pagi, Lu.” sapa wanita itu.

Suara ini.., batin Jongin.

Jongin pun segera menoleh ke arah wanita yang ia lihat tadi.

“SOOYEON?”

“KIM JONGIN?”

~To Be Contiuned~

 

Teaser Next Chapter :

“Baru dua hari berpisah, sudah bertemu lagi.” gumam Sooyeon.

“Tapi, kau senang, kan?” goda Jongin.

“Yoona-ah, kau mau kemana?” tanya Yuri—saat melihat Yoona mengemasi pakaiannya.

“Aku ingin menyusul Jongin oppa ke Beijing!” jawab Yoona.

“Dimana anakku, tuan Kim?” tanya Miyoung.

“Jongin menghubungiku kemarin. Dia berkata dia dan Sooyeon sedang berlibur ke Beijing.” jawab Jaejoong.

“Lebih baik kau pulang, Kim Jongin!” usir Sooyeon.

“Aku kesini untuk membawamu kembali.” ucap Jongin.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!” ucap Sooyeon.

Note : Jangan lupa tinggalin jejak .__.