I Love You, But I Hate You (Kai’s Version)


Gambar

Title : I Love You, But I Hate You

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • Miss A’s Suzy as Bae Suzy
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong (Kai’s Dad)
  • etc

Genre : Angst, Romance, Family

Length : Oneshoot

Rating : PG17

Note : Ini versi Kai. Semoga kalian suka!

>>> 

Aku benci menjadi diriku. Mengapa begitu? Karena kehidupanku sangatlah suram. Aku memang hidup mapan, aku di gilai banyak wanita, tapi mengapa aku memiliki Ayah yang tak pernah mencintaiku? Beliau lebih mencintai puteri angkatnya yang sekarang menjadi istriku, Jung Sooyeon.

Apa yang Jung Sooyeon inginkan, selalu di penuhi. Bagaimana dengan keinginanku? Ayah selalu berkata, ‘Kau seorang laki-laki. Kau tak boleh manja! Belajarlah untuk mandiri!’. Tapi, apa kata-kata itu pantas untuk seorang anak kecil berumur 7 tahun?

“Merry cristmast, appa!” ucap Sooyeon—pada Ayah.

 

“Merry cristmast, Sooyeon-ah!” ucap Ayah—seraya mengecup pipi Sooyeon singkat.

 

Aku memandang Sooyeon iri. Terakhir aku di kecup oleh Ayah saat umurku beranjak 1 tahun.

 

“Appa, apa aku mendapatkan kado natal?” tanya Sooyeon—manja. Cih!

 

“Tentu, sayang.” jawab Ayah, “Ini kado natal untukmu!” ucap beliau—seraya menyerahkan kado pada Sooyeon.

 

“Asyik!” seru Sooyeon—tampak gembira.

 

“Appa, bagaimana denganku?” tanyaku.

 

“Maafkan appa, Jongin-ah. Appa bingung ingin membelikanmu hadiah apa. Appa tidak tahu apa yang kau sukai.”

 

Selalu seperti ini. Giliran Sooyeon, Ayah tahu. Giliranku?

 

“Tenang, Jongin-ah. Setelah perayaan, appa akan mengajakmu membeli hadiah untukmu. Apa saja!” ucap Ayah.

 

Aku menghela nafas berat. Aku sudah membenci Sooyeon sejak kecil. Semenjak ia di temukan bersama Ibunya terlantar di tepi jalan, dan ia tinggal bersamaku, tak tahunya kelakuannya melunjak. Ia menjadi manja begitu juga dengan Ibunya. Hingga aku dan Sooyeon tumbuh remaja. Tetap saja Sooyeon yang selalu di nomor satukan.

Seandainya saja ada Ibu. Pasti keadaan takkan seperti ini.

“Jongin-ssi—”

Tsk! Itu suara Sooyeon. Aku sangat membenci suaranya. Menikah dengannya semakin membuat kehidupanku menjadi kelam.

“BERISIK! AKU BISA BANGUN SENDIRI! TAK USAH MENGURUSIKU!” teriakku.

Aku sadar aku memang kejam dan jahat padanya. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur membencinya sejak awal. Ia sudah banyak membuatku sakit hati. Tapi, setelah sekian lama bersamanya, kebencianku padanya mulai berkurang. Namun, aku berusaha untuk menutupi perasaan ini.

“Maafkan aku. Sarapan sudah ku siapkan di bawah.” ucapnya—dari luar kamarku.

Aku tak membalas perkataannya. Terkadang, aku merasa kasihan padanya. Aku tahu ia sudah berubah. Tapi, rasa sakit hati bercampur gengsi di diriku tetap bertahan.

Aku pun bangun dari ranjangku. Lebih baik aku bergegas mandi agar aku tak terlambat bekerja.

>>> 

Aku keluar dari kamarku dengan pakaian resmi serta tas di tanganku. Tak ada Sooyeon. Aku yakin saat ini ia sedang mengunci dirinya di kamarnya, seperti biasa. Semenjak aku mengatakan kata-kata yang ku yakini berhasil membuat perasaannya hancur, ia tak pernah muncul di hadapanku saat pagi hari.

Aku berjalan menuju ruang makan. Aku membuka tutup saji di atas meja makan. Menu sarapan pagi ini adalah sup rumput laut, masakan favoritku. Aku tersenyum melihatnya. Sooyeon memang mengetahui masakan favoritku. Terlebih lagi saat Ibu sering memasakkan sup rumput laut padaku dan Sooyeon.

Lagi, hal ini membuatku merasakan getaran yang aneh tentang Sooyeon.

>>> 

Aku merentangkan otot-ototku setelah selesai mengerjakan file. Aku segera bersandar di kursiku dan memejamkan mataku sejenak.

“Bagaimana hubunganmu dengan Sooyeon?”

Aku membuka mataku terpaksa. Pertanyaan Sehun—partner kerjaku sekaligus sahabatku sejak kecil—sangat tidak pas untuk suasana hatiku yang lelah.

“Seperti biasanya. Tak ada perubahan.” jawabku.

Sehun tampak mendesis,

“Kapan kalian berdamai? Ayolah, Jongin-ah. Sooyeon sudah baik padamu. Kapan kau membalasnya?”

“Never mind. Aku sendiri tak tahu, Sehun-ah. Rasa sakit hatiku masih kokoh mempertahankan bentengnya.” jawabku—di iringi helaan nafas berat.

“Sehun-ah~” panggilku.

“Hm?” balasnya.

“Apa kau punya teman kencan—lagi?” tanyaku.

Sehun mendesis lagi. Di saat seperti ini, aku masih bisa menanyakan hal konyol seperti itu. Memang, satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa stress ku ini adalah berkencan dengan seorang wanita—selain Sooyeon.

>>> 

Aku duduk di sebuah kursi di tepi sungai Han. Pemandangan sungai Han dan hembusan angin seperti sebuah penyegaran untukku.

“Jongin oppa?”

Aku menoleh ke sumber suara. Oh, rupanya teman kencan yang harusnya berkencan dengan Sehun sudah datang. Wanita ini tampaknya cukup cantik dan manis. Wajahnya sedikit mirip dengan—err Sooyeon.

“Selamat sore. Namaku Bae Suzy. Panggil saja aku Suzy!” ucap wanita itu.

“Oh, hai, Suzy-ssi.” sapaku.

Suzy merengut—membuatnya tampak semakin lucu.

“Jangan memanggilku seformal itu, oppa.” ucapnya.

Aku terkekeh pelan—seraya mengusap kepalanya perlahan. Namun, ia segera menarik tanganku hingga aku berdiri.

“A-Ada apa?” tanyaku.

“Ayo, kita berkeliling!” ajaknya.

Tiba-tiba, mataku menangkap dua sosok yang aku kenal. Astaga! Bukankah mereka adalah Ibu Sooyeon dan juga Taeyeon? Habislah sudah nyawaku. Jangan sampai Ayah tahu akan hal ini.

“Suzy-ah, ayo kita pergi.” ajakku—seraya menarik tangannya.

“Eh—kemana?” tanya Suzy—tampak bingung.

“Sudah, ikut saja.” perintahku—lalu membawanya pergi.

>>> 

Saat ini aku berada di sebuah restauran. Aku memesan ruangan VVIP untukku sendiri. Aku juga memesan vodka dan soju untukku sendiri. Saat ini rasa stress ku semakin meningkat. Aku terus memikirkan kejadian tadi sore. Bagaimana jika Ibu Sooyeon mengadukan hal ini pada Ayah? Hancur sudah tubuhku pasti karena di pukuli oleh Ayah.

Tiba-tiba, aku yang sudah setengah sadar ini teringat akan wajah Sooyeon. Aku tahu ia sangat mencintaiku. Bahkan aku ingat saat dirinya mencoba melindungiku dari pukulan Ayah. Hanya saja kebencian telah membutakan hatiku untuk mencintainya.

“Sajangnim~”

Sepertinya ada yang memanggilku. Aku menoleh ke sumber suara. Oh, ternyata Sooyeon.

“Ada apa kau kemari?” tanyaku.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mabuk, sajangnim?” tanyanya.

“Aku menyuruhmu untuk memanggilku dengan formal, tapi tidak menyebutku sajangnim.” ucapku.

“B-Baiklah, J-Jongin-ssi. Sekarang lebih baik anda pulang.”

Aku memandang wajah Sooyeon lekat-lekat. Sungguh sayang sekali selama ini aku memperlakukannya sangat kasar dan jahat.

Entah mengapa tanganku bergerak sendiri—menarik punggungnya dan mulai menempelkan bibirku ke bibirnya. Tanganku berjalan dan mencoba membuka kancing bajunya, namun Sooyeon segera menahannya.

“Jangan disini.” ucapnya.

Aku terkekeh mendengarnya. Tampaknya Sooyeon menerima perlakuanku. Mungkin memang sudah saatnya aku mengabulkan permintaan Ayah yaitu memberikan seorang cucu.

>>> 

Aku membuka mataku perlahan. Kepalaku terasa sangat berat. Aku menoleh ke arah sampingku. Betapa kagetnya aku saat melihat siapa yang ada di sampingku.

“YURI-SSI?”

“Ada apa, Jongin-ah?” tanyanya.

Aku segera bangkit dan melempar bantal ku ke wajahnya.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” teriaknya—seraya memakai pakaiannya.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” tanyaku.

“Apa kau lupa tadi malam kita melakukan apa?” tanyanya.

Astaga! Apa aku tidak melakukannya bersama Sooyeon, melainkan bersama Yuri?

“Gugurkan anakmu!” perintahku.

“A-Apa?” tanyanya—tampak syok.

“Atau kau akan ku pecat.” ancamku.

Yuri menyeringai—membuatku sedikit takut,

“Tenang saja, Jongin-ssi. Aku menggunakan kontrasepsi.” ucapnya.

Huh, syukurlah!

“PERGI DARI KAMARKU!” teriakku—mengusirnya.

Yuri dengan pakaiannya yang berantakan keluar dari kamarku. Aku segera menutup pintu kamarku sekencang mungkin. Pasti Sooyeon tahu akan hal ini. Lantas bagaimana dengannya? Aku kembali melukai hatinya.

>>> 

Sehun menatapku tajam setelah ku ceritakan semua yang terjadi padaku.

“Ini sudah terlanjur, Sehun-ah. Mau bagaimana lagi?” tanyaku—prustasi.

“Kau itu bodoh atau apa, Jongin-ah? Yuri itu bukan tipe orang yang akan diam saja. Bagaimana jika ia melaporkan hal ini pada Kim sajangnim? Bisa mati kau, Jongin-ah.” omelnya.

Aku mengutuki diriku sendiri. Benar juga apa yang di katakan Sehun.

“Jadi, aku harus bagaimana, Sehun-ah?” tanyaku.

“Pergi dan minta maaf kepadanya!” perintah Sehun.

“A-APA? MINTA MAAF PADA YURI?” teriakku—syok.

“Harga diri menurun atau di bunuh oleh Kim sajangnim?” tanyanya.

Aku menelan salivaku kasar. Pilihanku satu-satunya adalah meminta maaf pada Yuri.

>>> 

Aku mengetuk pintu ruangan Yuri. Aku malu sekali. Rasanya seperti menjilat ludah sendiri.

“Silakan masuk!” ucapnya.

Aku membuka pintunya perlahan. Aku masuk dengan sedikit gemetaran. Rasanya aku takut permintamaafan ku di tolak mentah-mentah oleh Yuri.

“Ada apa kemari, sajangnim?” tanyanya.

“A-Aku ingin—a-aku—”

“Anda tidak perlu bersusah payah untuk meminta maaf, sajangnim. Orang lain sudah mewakilkan permintamaafanmu kemarin sore.”

Aku membelalakan mataku mendengarnya. Siapa yang sudah mau mewakilkan ku dalam melakukan hal ini? Sehun? Tidak mungkin dia.

“Istrimu, Kim Sooyeon. Dia lah orang yang sudah mewakilkan anda, sajangnim.”

DEG!

Sooyeon melakukan ini? Setelah aku menyakiti hatinya lagi?

“Jangan berbohong, Yuri-ssi.” ucapku.

“Saya tidak akan mendapatkan keuntungan jika saya berbohong, sajangnim.”

Benar juga apa kata Yuri. Jadi, Sooyeon telah melakukan hal mulia seperti ini? Sungguh berdosanya aku. Aku sangat malu melebihi rasa malu jika permintamaafanku di tolak oleh Yuri.

>>> 

Aku melihat Sooyeon yang sedang menyiapkan makan malam. Hari ini aku sengaja pulang cepat. Aku tak ingin pulang tanpa melihat Sooyeon seperti biasanya karena ia akan tidur lebih dulu.

“Sooyeon-ah~” panggilku.

Ia menoleh—kaget. Mungkin ia ragu karena aku memanggilnya tidak formal.

“Terima kasih.” ucapku.

“Untuk apa, Jongin-ssi?” tanyanya.

Ku mohon, Sooyeon-ah. Jangan panggil aku seformal itu lagi. Maafkan aku!

“Hngg—sudah meminta maaf pada Yuri.” jawabku.

Sooyeon tampak terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum manis. Oh, senyuman yang sangat ku rindukan. Sudah sekian lama aku jarang melihatnya. Betapa bodohnya aku menyia-nyiakan wanita secantik dan sebaik Sooyeon.

>>> 

Akhirnya aku bisa tersenyum lega. Sehun pun selalu menggodaku hari ini. Namun, saat ada nomor asing masuk ke ponselku, senyumanku memudar. Perasaan aneh menyelimutiku. Aku segera mengangkat telepon dari orang asing itu.

“Halo?”

“Jongin oppa? Apa kau mengingatku?”

Aku menelan salivaku kasar. Suara ini..

“Yoona?”

>>> 

Aku dan Yoona berada di sebuah kedai es krim di Lotte World. Yoona adalah cinta pertamaku saat aku masih SMA. Namun, hubungan kami berakhir setelah ia pindah ke Tokyo bersama keluarganya.

“Oppa, apa kau merindukanku?” tanyanya.

Aku hanya tersenyum kecut. Merindukannya? Sangat, sangat merindukannya.

“Oppa, aku berpikir untuk memulai kembali hubungan kita. Bagaimana menurutmu?”

DEG!

Memulai kembali hubungan? Sementara aku sudah berstatus sebagai seorang suami?

“Oppa!”

“Ah? I-Iya? Ada apa?” tanyaku—gugup.

Yoona tampak merengut. Sedetik kemudian, ia menarik tanganku dan membawaku keluar dari restauran.

“K-Kita mau kemana?” tanyaku.

“Kemana saja. Kau menyebalkan!” jawabnya—terdengar kesal.

Aku memutar bola mataku. Yoona merupakan tipe orang yang mudah merajuk. Aku masih ingat akan hal itu.

“Yoona-ah?”

Aku menoleh ke sumber suara. Astaga! Bukankah itu Yuri? Dia sedang berjalan menghampiri kami—bersama Sooyeon?

“Yuri eonni?” ucap Yoona.

Tunggu dulu! Apa Yoona dan Yuri saling mengenal?

“Jongin oppa, perkenalkan dia adalah sepupuku, Yuri eonni. Dan Yuri eonni, dia ini adalah Jongin oppa, cinta pertamaku.” ucap Yoona.

Astaga! Yoona mengatakan semuanya. Aku bisa melihat reaksi Sooyeon yang tampak syok. Kemarin aku baru saja membuatnya tersenyum kembali. Sekarang aku telah menyakiti hatinya lagi.

“A-Aku—” ucapku tertahan. Aku sendiri bingung ingin mengatakan apa. Untuk menjelaskan yang sebenarnya, ini bukan waktu yang tepat.

“Eonni, siapa wanita ini?” tanya Yoona.

“Yoona-ah, sebaiknya kau menjauhi pria ini.” ucap Yuri.

Yuri akan mengatakan semuanya. Ku mohon Yuri, jangan sekarang.

“Memangnya kenapa?” tanya Yoona.

“Karena dia adalah—”

“Direktur perusahaan ternama di Seoul.” seru Sooyeon.

Aku menatapnya aneh. Oh, Sooyeon, itu bukan jawaban yang masuk akal.

“Jadi, Yuri tak ingin kau dekat dengan seorang direktur. Mungkin—karena kebanyakan direktur itu suka memainkan perasaan wanita.” jelasnya.

Jadi kau menganggapku suka memainkan perasaan wanita? Baiklah, jika itu yang kau mau, Sooyeon-ah. Aku bersedia mengabulkannya.

Yoona tertawa renyah,

“Jongin oppa tak seperti itu, eonni. Jongin oppa adalah orang yang setia.” ucapnya.

Aku tersenyum mendengarnya. Yoona memang mengetahui keadaanku. Hanya Yoona.

“Yoona-ah, mau bermain roller coaster?” tawarku.

“Tentu. Ayo, oppa!” jawab Yoona, “Sampai jumpa, eonni!”

“Ah, iya.” jawab Yuri.

Aku dan Yoona saling bergenggaman tangan dan berjalan menuju wahana roller coaster. Hari ini aku sedikit muak pada Sooyeon.

>>> 

Sudah satu bulan aku dan Yoona sering bersama. Bahkan aku melupakan keberadaan Sooyeon. Yoona yang mengetahui Sooyeon hanya sebagai seorang pelayan di rumahku—tak mempermasalahkannya. Bahkan setiap kami bercumbu, Yoona tak mempedulikan saat Sooyeon melihat kami.

Miris? Tentu saja. Aku kasihan pada Sooyeon. Aku sadar aku bukanlah suami yang baik untuknya. Aku mencintainya, tapi rasa cintaku sebagian ada pada Yoona. Jadi, aku harus bagaimana? Haruskah ku pilih salah satunya?

Aku telah tiba di rumah di sore hari. Saatnya untuk meminta maaf pada Sooyeon. Sakit hatinya pasti sudah banyak.

“Sooyeon-ah~” panggilku.

Tak ada jawaban. Apa hanya perasaanku saja? Rumah ini terasa hampa. Apa Sooyeon sedang keluar?

“Sooyeon-ah? Kau dimana?” panggilku—sedikit berteriak.

Aku mencoba masuk ke kamarnya—untuk yang pertama kali. Aku melihat kamarnya kosong. Hanya ada ranjang, meja rias, TV, lemari dan kulkas. Tak ada peralatan make-up di meja rias milik Sooyeon, tak ada sprei di ranjangnya. Dan saat ku buka lemarinya..

KOSONG!

Tak ada satupun pakaiannya.

Apakah Sooyeon telah pergi?

Aku berjalan menuju kamarku. Aku berteriak prustasi. Aku merebahkan tubuhku kasar di atas ranjang. Kemudian, tanganku masuk ke dalam saku celanaku—mencoba menggapai ponsel milikku. Setelah ketemu, aku segera menekan tombol 2 yang menjadi nomor khusus yaitu nomor Sooyeon, nomor yang sangat jarang ku hubungi.

“Halo. Disini Kim Sooyeon. Maaf, aku sedang sibuk. Silakan tinggalkan pesan jika penting. Terima kasih.”

Sial! Nomornya tidak aktif. Hanya ada rekaman yang di pasang oleh Sooyeon. Aku sedikit kaget ia menggunakan nama Kim Sooyeon.

“Sooyeon-ah, kau dimana? Jika kau mendengar pesan ini, segeralah menghubungiku.” ucapku—meninggalkan pesan.

Aku melempar ponselku. Namun, mataku menangkap sebuah kertas di samping tempat aku berbaring. Aku meraihnya dan mencoba membacanya.

Dear Kim Jongin, my beloved husband..

 

Kau pasti saat ini marah padaku, bukan? Aku pergi tanpa memberitahumu lebih awal. Aku sudah memutuskan ini. Ini adalah pilihan yang tepat. Aku akan mengurus surat perceraian kita, dan kau bisa menikah dengan Yoona.

 

“How dare she!” gumamku—tak percaya.

Aku memutuskan untuk pergi ke Beijing. Tak perlu khawatir dengan aku. Di Beijing, aku punya seorang teman. Tolong ucapkan terima kasih banyak pada Ayah karena sudah merawatku sejak kecil. Terima kasih juga karena telah membiayai pengobatan Ibuku. Aku juga berterima kasih padamu, Jongin. Kau sungguh pria yang baik. Andai kau mencintaiku, pasti kau akan selalu setia padaku. Sayangnya aku bukan orang yang kau cintai. Dan aku telah mengetahui bahwa orang yang kau cintai adalah Yoona.

 

“Sooyeon-ah~” gumamku.

Aku mencintaimu, Kim Jongin. Tapi, aku rela kau bersama Yoona. Asal itu bisa membuatmu bahagia, aku rela.

Sampai jumpa, Jongin. Aku akan sangat merindukanmu. Pengacaraku akan datang menemuimu besok. Dia lah yang akan mengurus perceraian kita. Jadi, kau tak perlu khawatir. Aku sudah menandatangani surat perceraian kita.

 

Aku meremas kertas yang basah karena air mataku. Aku melemparnya hingga masuk ke tempat sampah. Aku terus menangisinya. Aku bukan suami yang baik. Aku tak bisa menjaga istriku. Aku telah mengecewakan Ayah. Aku tak bisa memberikan cucu untuk beliau. Aku harus bagaimana? Aku telah mengecewakan semua orang.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku segera meraihnya. Oh, itu Yoona. Aku merejectnya. Aku tak peduli Yoona akan marah. Saat ini, yang ku pikirkan adalah Sooyeon.

“Aku harus menyusulnya! Ya, aku harus menyusulnya dan menggagalkan perceraian ini.” ucapku—yakin.

Aku segera berkemas dan menghubungi Sehun  untuk memesan tiket ke Beijing. Sooyeon, aku takkan semudah itu melepaskanmu. Meskipun aku membencimu, terkadang rasa benci menghilang dan berganti dengan rasa cinta. Rasa cinta yang amat dalam. Begitu pula sebaliknya. Terkadang rasa cinta  bisa berganti menjadi benci. Aku tak mengerti dengan perasaanku. Yang pasti, pelajaran yang ku dapatkan adalah jangan menyia-nyiakan seseorang yang ku miliki. Karena orang itu akan menjadi orang yang sangat berharga untukku selama hidupku.

END

Iklan

Wife’s Not Considered (Jessica’s Version)


Gambar

Title : Wife’s Not Considered

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • Mom (Jessica’s)
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong (Kai’s Dad)
  • etc

Genre : Angst, Romance, Family

Length : Oneshoot

Rating : PG17

Note : Aku bikin dua versi, versi Jessica dan Kai. Semoga kalian suka, ya? Dan jangan lupa ninggalin jejak.

>>>

Mungkin sudah takdirku seperti ini. Mencintai tanpa di cintai. Hubungan ini terbentuk memang bukan karena cinta, melainkan rasa keterpaksaan. Tapi, setelah melewati hari bersamanya, akhirnya aku jatuh hati padanya. Tetapi bagaimana dengan dirinya? Dia masih kokoh mempertahankan keputusannya. Ia takkan pernah mencintaiku dan ia akan selamanya membenciku.

“Jongin-ssi, bangunlah. Hari ini kau harus bekerja, bukan?” ucapku—tepat di depan pintu kamar Jongin.

Setiap hari selalu seperti ini. Menyebut namanya dengan formal, membangunkannya dari luar kamarnya, dan tak boleh satu kali pun masuk ke dalam kamarnya. Selalu seperti ini. Tidak pernah berubah.

“Jongin-ssi—”

“BERISIK! AKU BISA BANGUN SENDIRI! TAK USAH MENGURUSIKU!”

Aku menggigit bibir bagian bawahku dengan tubuh yang gemetaran. Selalu saja seperti ini. Di bentak, di marahi, di salahi. Tapi aku tak pernah putus asa melakukannya. Karena jika aku tak membangunkannya, bisa saja posisinya sebagai direktur utama di perusahaannya terancam karena sikap ketidakprofesionalnya.

“Maafkan aku. Sarapan sudah ku siapkan di bawah.” ucapku.

Tak ada jawaban. Aku mulai melangkahkan kakiku menjauhi kamar Jongin dan menuju kamarku yang terletak di sebelah kamar Jongin. Aku segera masuk ke dalam kamarku dan menguncinya rapat. Jongin takkan senang jika ia keluar dan melihatku di pagi hari. Jika begitu, ia akan mengatakan, ‘Kenapa muncul di pagi hari? Aku tak berharap melihatmu pertama kali!’. Selalu seperti itu. Hingga akhirnya ku kabulkan keinginannya dengan mengunci diriku di dalam kamar yang hampa.

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjangku dan mulai memejamkan kedua mataku perlahan, berharap aku bisa tidur dengan tenang meskipun ini sudah pagi.

>>> 

Aku membuka mataku saat mendengar ponselku berdering. Aku segera meraihnya dan menatap layar ponselku dengan keadaan setengah sadar. Mata buramku mengira yang menelponku adalah Ibuku. Aku pun mengangkatnya.

“Halo?”

“Sooyeon-ah~”

Aku tersenyum. Benar, ini suara Ibu.

“Ada apa, eomma?” tanyaku.

“Eomma tadi pergi ke sungai Han, sayang.”

Aku menghela nafas berat. Ibu memang keras kepala. Kondisinya belum pulih total. Dokter belum mengijinkan Ibu melakukan aktivitas seperti biasa.

“Eomma—”

“Eomma bosan berada di rumah, sayang. Jadi, eomma memutuskan untuk keluar. Lagipula eomma di temani oleh sahabatmu, Taeyeon.”

Aku menghela nafas lega. Untunglah Taeyeon yang menemani Ibu. Taeyeon adalah sahabatku yang berprofesi sebagai seorang perawat di Rumah Sakit. Jadi, aku tak perlu khawatir.

“Katakan padanya terima kasih karena sudah mau menemani eomma.” pintaku.

“Tapi—”

“Tapi apa, eomma?” tanyaku.

“Eomma kurang yakin. Tapi, Taeyeon merasa yakin dengan siapa yang kami lihat.”

“Apa yang eomma lihat?” tanyaku—bingung.

“Itu—suamimu—”

Suamiku? Jongin maksudnya? Ada apa dengannya?

“Ada apa, eomma?” tanyaku—gugup dan khawatir.

“Kami melihatnya berjalan di sungai Han bersama wanita lain.”

DEG!

Aku menelan salivaku kasar. Hal ini tak perlu ku kageti karena hal ini memang sering terjadi hanya saja Ibu dan Taeyeon tak mengetahuinya. Tetapi, mendengar hal ini terjadi lagi membuat hatiku teriris pisau yang tajam.

“E-Eomma tidak yakin, Sooyeon-ah. Jadi, tidak usah takut dulu. Mungkin Taeyeon salah melihat.”

Aku memaksakan diriku untuk tersenyum,

“Tidak apa, eomma. Aku rasa wanita itu adalah rekan bisnis Jongin.” jawabku.

“Eomma harap begitu.”

Aku menghela nafas berat sekali lagi. Mengapa Jongin tak pernah berubah? Jika kejadian ini di lihat oleh Ayahnya, bisa saja Jongin kembali di pukul oleh Ayahnya.

PLAKK!!

 

Jongin tersungkur di lantai akibat tamparan Ayahnya yang sangat keras. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya menunduk ketakutan.

 

“DASAR PRIA BODOH! APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH? KAU SUDAH MENGKHIANATI SOOYEON! KAU JUGA MEMPERMALUKAN KAMI SEMUA KARENA KELAKUANMU ITU! KAU SUDAH BERISTRI, KIM JONGIN! SADARLAH! ISTRIMU ADALAH SOOYEON! KENAPA PERGI DENGAN WANITA LAIN?”

 

“Karena aku tidak mencintai Sooyeon sedikit pun! Aku menikah dengannya karena terpaksa.” jawab Jongin—yang sukses membuatku rapuh saat itu juga.

 

Ayahnya kembali menampar Jongin. Beliau juga memukul dan menendang Jongin hingga Jongin berteriak kesakitan.

 

Aku tak bisa diam saja. Ku hampiri Jongin dan memohon ampun pada mertuaku.

 

“Jangan sakiti Jongin, abeoji. Ku mohon!” mohonku.

 

“Jangan membelaku!” bentak Jongin.

 

“Tidak. Aku tidak mau kau seperti ini, Jongin-ah.” ucapku.

 

Aku beralih pada mertuaku. Ia masih memperlihatkan wajahnya yang penuh amarah.

 

“Tolong maafkan dia, abeoji! Maafkanlah dia.” pintaku.

 

“Sooyeon-ah~”

 

“Ku mohon, abeoji. Maafkanlah Jongin.” pintaku—sambil terus menangis.

 

Akhirnya Ayahnya Jongin mau memaafkan Jongin dengan syarat Jongin takkan melakukan hal ini lagi.

“Sooyeon-ah?”

Aku tersentak. Aku baru sadar ponselku masih menempel di telinga kananku.

“Iya, eomma?”

“Apa kau baik-baik saja?”

“Iya, aku baik-baik saja, eomma.” jawabku.

“Baiklah. Eomma tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa~”

“Iya, sampai jumpa, eomma.” balasku—lalu mengakhiri teleponnya.

Aku mengusap air mataku yang mengalir begitu saja. Kejadian itu selalu berhasil membuatku menangis jika mengingatnya.

>>> 

Aku membuka pintu utama setelah mendengar suara bel berbunyi. Aku kaget melihat Jongin di rangkul oleh sekretarisnya yang cantik bernama Kwon Yuri. Sebenarnya ini sudah biasa terjadi. Tapi, aku kaget saat melihat keduanya sedang mabuk.

“Selamat malam, Sooyeon-ssi. Kamar Jongin dimana, ya?” tanya Yuri.

“U-Untuk apa kau menanyakan itu?” tanyaku—bingung.

“Jongin memaksaku untuk melakukan ‘itu’. Ia meminta untuk melakukannya di kamarnya sendiri. Benar, kan, sayang?”

“Tentu saja, sayangku. Minggir kau. Jangan menghalangi jalanku, pelayan kampungan!” ucap Jongin.

Aku menunduk sedih. Jongin seperti ini lagi. Selalu saja menyakiti perasaanku.

“Cepat minggir!” bentak Jongin.

Aku mengangguk dan mempersilakan mereka untuk lewat. Setelah mereka menaiki anak tangga, aku segera menutup pintu.

Aku menangis lagi. Isakan mulai terdengar jelas. Aku berjongkok di depan pintu seraya menutup kedua wajahku dan terus menangis. Jongin keterlaluan. Bahkan dia berani bersetubuh dengan wanita lain.

Tapi, aku akan terus bertahan sampai kapan pun. Tuhan membenci makhluk-Nya yang berputus asa. Aku yakin, suatu saat nanti mukjizat akan datang kepadaku. Karena aku tahu, Tuhan itu maha adil.

>>> 

“PERGI DARI KAMARKU!”

Aku tersentak mendengar teriakan yang sangat keras dari lantai atas. Itu teriakan Jongin. Aku segera keluar dari dapur dan berdiri di dekat anak tangga seraya melihat ke atas. Aku kaget saat melihat Yuri dengan pakaian berantakan turun dari anak tangga.

BLAMM!!

Suara pintu kamar Jongin di tutup dengan keras terasa di gendang telingaku. Tampaknya Jongin tak menyadari apa yang ia lakukan bersama Yuri. Tentu saja, mereka kan sedang mabuk.

Saat Yuri sudah sampai di lantai dasar, ia menatapku tajam.

“Akan ku pastikan suamimu mendapatkan balasannya, Sooyeon-ssi!” ucapnya—lalu segera pergi.

Aku menelan salivaku kasar. Bagaimana jika ia mengadukan ini pada Ayah dan Jongin akan kembali di hukum oleh Ayahnya? Bagaimana ini?

Oke, satu-satunya cara adalah untuk meminta maaf pada Yuri.

>>> 

Aku menunggu Yuri di sebuah kafe dekat kantor Jongin. Setelah menunggu sepuluh menit, akhirnya Yuri muncul dari balik pintu kafe. Ia segera menghampiriku setelah berusaha mencari keberadaanku. Setelah sampai, ia segera duduk di kursi yang ada di hadapanku.

“Ada apa, Sooyeon-ssi?” tanya Yuri.

“Hm, begini, langsung saja, aku ingin meminta maaf—”

“Mau pesan apa, agasshi?” tanya seorang pelayan.

Aku menghela nafas berat. Pelayan ini berhasil memotong pembicaraan kami.

“Moccalatte.” ucapku.

“Sama dengannya.” ucap Yuri.

“Baiklah. Harap menunggu.” ucap pelayan itu—lalu segera pergi.

Yuri menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi wajahnya. Sungguh, ia sangat cantik. Jauh lebih cantik di bandingkan aku.

“Kau ingin meminta maaf atas perlakuan suamimu itu?” tanya Yuri.

Oh, selain cantik, ia di berkahi kecerdasan dalam menebak. Ia sangat pantas menjadi sekretaris di perusahaan besar milik Jongin.

“Tepat.” jawabku.

“Aku tak bisa semudah itu memaafkan pria bajingan itu.” ucap Yuri.

Aku mengulum senyumanku. Bajingan? Aku tak terima dengan perkataan itu.

“Maaf, Yuri-ssi. Kata-katamu—”

“Dia memang bajingan. Buktinya dia berselingkuh dengan wanita lain selain dirimu. Apa kau tak sadar, Sooyeon-ssi? Kenapa kau diam saja?” tanya Yuri.

Yuri, kau benar. Tapi aku tak bisa menganggapnya seperti itu.

“Sooyeon-ssi, harusnya kau sadar. Kau adalah istrinya. Apa kau tak lelah di sakitinya terus menerus?” tanya Yuri.

Aku menutup mulutku karena isakan mulai keluar. Air mataku tak dapat ku bendung lagi. Mulai saat ini, Yuri ku percaya sebagai orang yang bisa menerima curahan hatiku.

>>> 

Aku tak menyangka bisa berteman dengan Yuri. Bahkan saat ini kami sedang bermain di Lotte World. Yuri mengusulkan ini. Ia ingin aku melupakan masalahku sejenak dan bersenang-senang. Memang sudah lama aku tak bersenang-senang seperti ini.

Setelah selesai menikmati wahana permainan, aku dan Yuri memutuskan untuk makan di sebuah restoran di Lotte World.

“Pesan salad dua, ya?” pinta Yuri.

“Baik. Harap menunggu.” ucap pelayan—lalu pergi.

“Yuri-ah, hari ini sangat menyenangkan.” seruku.

“Iya. Aku juga merasakannya. Sudah lama aku tak kesini. Mungkin karena aku terlalu serius dengan pekerjaanku.” ucapnya.

Aku mengangguk ceria. Ah, hari yang indah.

“Sooyeon-ah~” panggil Yuri.

“Ada apa, Yuri-ah?” tanyaku.

“Bukankah itu—”

Aku mengikuti arah pandang Yuri. Aku menelan salivaku kasar setelah melihat apa yang Yuri lihat. Jongin bersama wanita lain. Siapa lagi kali ini?

Yuri bangkit dan menarikku. Aku menggeleng dan menolak. Tapi Yuri tetap bersikeras menarikku. Akhirnya aku pasrah dan keluar dari restoran.

Aku dan Yuri menghampiri Jongin bersama wanita yang tidak ku kenal. Tapi aku sempat kaget karena merasa wanita itu mirip dengan Yuri.

“Yoona-ah?”

“Yuri eonni?”

Apa? Mereka saling mengenal?

“Jongin oppa, perkenalkan dia adalah sepupuku, Yuri eonni. Dan Yuri eonni, dia ini adalah Jongin oppa, cinta pertamaku.”

DEG!

Cinta pertama? Jadi, wanita ini adalah cinta pertama Jongin?

“A-Aku—” Jongin menahan kata-katanya. Apa yang ingin ia katakan?

“Eonni, siapa wanita ini?” tanya wanita itu.

“Yoona-ah, sebaiknya kau menjauhi pria ini.” ucap Yuri.

Tidak, Yuri-ah. Jangan katakan yang sebenarnya.

“Memangnya kenapa?” tanya Yoona.

“Karena dia adalah—”

“Direktur perusahaan ternama di Seoul.” potongku cepat.

Mereka bertiga menatapku aneh.

“Jadi, Yuri tak ingin kau dekat dengan seorang direktur. Mungkin—karena kebanyakan direktur itu suka memainkan perasaan wanita.” jelasku.

Yoona tertawa renyah, dan itu membuatnya tampak sangat cantik.

“Jongin oppa tak seperti itu, eonni. Jongin oppa adalah orang yang setia.” ucap Yoona.

Setia? Setia darimana? Mungkin Jongin memang setia jika ia dengan orang yang ia cintai. Tentu saja ia tak setia padaku. Bukankah ia membenciku?

“Yoona-ah, mau bermain roller coaster?” tawar Jongin.

“Tentu. Ayo, oppa!” jawab Yoona, “Sampai jumpa, eonni!”

“Ah, iya.” jawab Yuri.

Aku melihat mereka berlalu sambil berpegangan tangan. Uh, andai saja aku berada di posisi Yoona. Pasti sangat menyenangkan bisa berpegangan tangan dengan Jongin.

“Sooyeon-ah, kau adalah wanita terbodoh yang pernah ku temui.” ucap Yuri.

Aku menggeleng sambil tersenyum,

“Tidak, Yuri-ah. Hanya orang bodoh yang mau menghancurkan momen kedua sejoli yang sedang bernostalgia.” ucapku.

“Hanya orang bodoh yang mau menyembunyikan fakta, Sooyeon-ah.” ucap Yuri—lalu pergi.

Aku tahu Yuri pasti kecewa padaku. Tapi, apa daya? Aku tak mungkin membuat Jongin bertambah benci padaku.

>>> 

Hari mulai berlalu, minggu bahkan bulan juga berlalu. Jongin dan Yoona semakin dekat saja. Bahkan yang menyakitkan adalah, aku sering melihat mereka bercumbu di kamar Jongin. Ini sangat menyakitkan. Tapi, aku rela.

Memang seharusnya aku tak menerima tawaran seorang Kim Jaejoong untuk menikah dengan puteranya bernama Kim Jongin. Hanya karena aku harus mencari biaya untuk pengobatan Ibuku, aku harus menerima tawaran ini. Kim Jaejoong beralasan karena sampai saat ini Jongin tak memiliki pasangan, bisanya hanya bermain saja. Kini aku mengetahui jawabannya. Jongin tak memiliki pasangan karena ia menunggu kehadiran Yoona.

Kini Yoona telah kembali. Kebahagiaan datang kembali di hati Jongin. Aku merasakannya. Sangat merasakannya.

Aku segera meraih kertas dan pena. Aku mulai menulis kata demi kata. Setelah itu, aku masuk ke kamar Jongin.

Kebetulan Jongin sedang bekerja. Ia pasti akan marah padaku karena aku telah lancang masuk ke kamarnya. Tapi, inilah satu-satunya cara agar ia menemukan suratku.

Aku melihat kamar Jongin yang sangat tertata rapi dan wangi. Jongin memang tipe orang yang bersih. Benar-benar tipe idealku. Tapi, inilah nasibku. Cintaku bertepuk sebelah tangan.

Aku meletakkan kertas tersebut di atas meja rias milik Jongin. Aku mencoba membendung air mataku dan keluar dari kamar Jongin. Aku kembali ke kamarku dan membawa tas serta koper yang telah ku persiapkan sejak tadi keluar. Aku keluar dari rumah dan mencari taksi. Setelah menemukan taksi, aku pergi ke bandara.

Akhirnya aku sampai di bandara. Aku memesan tiket dan naik ke pesawat dengan cepat meskipun waktu penerbangan tinggal 10 menit lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke Beijing. Mungkin disana aku bisa menemukan kehidupan yang baru.

Aku mengetik pesan kepada Yuri.

To: Yuri

Jaga dirimu baik-baik. Semoga kau tak bernasib sama denganku, Yuri-ah. Aku senang bisa bersahabat denganmu. Aku menyayangimu~

Aku menyentuh tombol mengirim. Aku bersandar perlahan. Waktu tinggal 5 menit lagi. Aku akan meninggalkan negera Korea Selatan.

Ibu, semoga kau lekas sembuh. Taeyeon, tolong jaga Ibuku. Yuri, kau harus banyak makan. Belakangan ini kau sangat kurus.

Dan untuk Jongin, semoga kau bahagia bersama Yoona.

END

Little Misunderstanding


Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
EXO-M Kris
SNSD Jessica
SNSD Yuri

Support Cast :
EXO (K&M)
SNSD
etc

Genre : Romance, Comedy, Angst

Length : Oneshoot

>>>

BUKK!!

Jessica menutup laptopnya kasar. Matanya mulai berair. Ia segera beranjak pergi dari ranjangnya menuju keluar kamarnya.

“Morning, Jessi.” sapa Tiffany.

Jessica melewati Tiffany tanpa membalas sapaan Tiffany.

“Hey! Whats wrong with you?” tanya Tiffany, ia mendengus kesal karena lagi- Jessica tak menjawab pertanyaannya.

Jessica meraih jaket yang bergantung di dinding. Ia juga mengambil shall, sarung tangan, masker, kaus kaki serta sepatunya.

“Ya! Musim dingin seperti ini kau mau keluar?” tegur Taeyeon.

Jessica tak menggubrisnya. Ia tampak sibuk memasang benda-benda yang ia ambil ke anggota tubuhnya.

“Sica~ah, mobilmu takkan bisa berjalan di musim seperti ini. Banyak salju di daratan.” ucap Yuri.

Jessica melemparkan death-glare-nya pada Yuri. Yuri sempat bergedik ngeri.

“Kau marah?” tanya Yuri berhati-hati.

Setelah Jessica selesai memasang semua benda yang ia ambil ke anggota tubuhnya, ia segera mengambil tasnya lalu keluar.

BLAMMM!!!

Pintu di tutup dengan kasarnya.

“Aigoo! Apakah Sica onnie marah padaku?” tanya Yoona seraya memasang wajah sedih.

“Memangnya apa yang kau lakukan?” tanya Hyoyeon penasaran.

“Aku mengambil snack di laci lemarinya.” jawab Yoona polos.

“YA! ITU SNACK MILIKKU!!” protes Sooyoung.

“Hehehehe…” Yoona hanya menyengir tidak jelas.

“Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Sica.” ucap Sunny.

“Ayo kita selidiki!” seru Seohyun bersemangat.

“Ya! Kenapa kau begitu bersemangat, magnae?” tanya Taeyeon.

“Daripada tidak ada kerjaan.” jawab Seohyun.

“Lebih baik kau duduk yang manis di depan TV, karena sebentar lagi Keroro-mu akan tayang.” saran Tiffany.

“Ah! Gomawo onnie. Aku hampir saja lupa.” ucap Seohyun lalu segera pergi dan duduk di depan TV.

“Sepertinya Sica marah padaku.” ucap Yuri.

“Mana mungkin dia marah padamu karena kau mengingatkan soal mobilnya!” kata Sooyoung.

“Bukan. Mungkin saja Sica marah bukan soal itu tetapi menyangkut diriku. Karena tadi- Sica melemparkan death-glare-nya padaku. Terakhir dia melakukan itu saat training.” jawab Yuri.

“Majayo. Sica onnie jarang sekali marah pada seobang-nya!” ucap Yoona setuju.

“Sudah ku bilang, ini harus segera di selidiki, onniedeul.” ucap Seohyun yang matanya fokus pada TV.

Sooyoung mengangguk,
“Joohyun benar! Ada baiknya jika kita menyelidiki.”

Taeyeon menghela nafas,
“Keunde.. ottokhe?” tanyanya.

“TIDAKKKK!!!!!!!”

Semuanya refleks menoleh ke sumber suara. Ternyata suara itu adalah teriakan dari Sunny yang berada di kamar Jessica dan Sooyoung.

Semua anggota- terkecuali Seohyun segera menghampiri Sunny.

“Waegeurae, Sunkyu~ah?” tanya Tiffany.

“Bwa!” Sunny menunjuk ke layar laptop Jessica, “Keunde- Yuri tidak boleh melihat!” tambahnya.

“Ye?” Yuri tersentak, “Wae?”

“Aniya. Kau diam saja disana.” jawab Sunny.

“Pantas saja!” ucap Taeyeon- yang asyik menatap layar laptop Jessica dengan seksama.

“Ternyata cemburu!” ucap Hyoyeon- seraya mengangguk-anggukan kepalanya.

“Ya! Waegeurae?” tanya Yuri penasaran.

“Aniya! Yuri onnie tidak boleh melihat!” seru Yoona- sembari menutupi layar laptop Jessica dengan bantal.

“Yoongie.. Jebalyo~” mohon Yuri.

“Seobang suka seobang. Bagaimana bisa?” tanya Sooyoung kebingungan.

“Maksudnya?” tanya Yuri tak mengerti.

“OK. Sebaiknya kita beritahu Yuri.” ucap Taeyeon.

“Nde. Ppaliwa!”

“Yuri~ah, Kris..”

“Kris? Wae?” tanya Yuri.

“He likes you.” jawab Tiffany.

“MWORAGU??? JINJCHAGIDERO???” teriak Yuri shock.

“Di artikel ini, anggota EXO-M memilih anggota tercantik di SNSD. Luhan dan Tao memilih Yoona..”

“Jinjcha? Gomawo~” ucap Yoona- tersenyum malu.

“Ya! Orangnya tidak ada disini. Kau ini berlebihan!” cibir Tiffany.

“Lay memilih Taeyeon..”

“Double WOW! Fanboy-ku bertambah.” seru Taeyeon dengan aegyeo-nya.

“Semakin berlebihan.” cibir Tiffany.

“Dan Kris memilihmu!” lanjut Sunny.

“Ige mwoya? Baboneun Kris. Dia itu namja chingu Sica. Tapi kenapa memilihku? Neomu baboya!” gerutu Yuri tak terima.

“Disini tertulis, alasannya memilihmu saat melihatmu di IY 1. Katanya kau sangat cantik.” ucap Sunny.

“Aku ingin berterima kasih. Tapi Sica..”

“Kita pasrah saja, Yuri~ah. Kita tunggu reaksi Sica saat pulang nanti.” ucap Sooyoung.

“Semoga saja hubungan mereka tak kandas di tengah jalan.” harap Yuri.

>>>

Jessica melewati badai salju yang lebat. Dengan amarah yang penuh, ia terus berjalan menuju asrama EXO-K. Kebetulan EXO-M juga ada disana.

Jessica menghela nafas lega karena pada akhirnya ia sampai di asrama EXO-K.

“Nuguseyo?” tanya Security.

Jessica membuka maskernya,
“Jessica!” jawabnya.

“Silakan masuk, sajangnim.” ucap Security itu.

Jessica pun masuk ke asrama EXO-K.

Jessica membersihkan salju yang menempel pada jaketnya. Dingin, tentu saja. Tapi itu semua bagaikan angin lalu bagi Jessica. Di saat marah seperti ini, hal yang dingin pun bisa menjadi panas.

Ting! Tong!

Jessica menekan bel beberapa kali. Tak lama kemudian, seorang pria berwajah manis membuka pintu.

“Annyeonghaseo, Sica noona!” sapanya.

“Annyeong, Luhan~ya.” balas Jessica.

“Kris?” tebak Luhan.

Jessica mengangguk membenarkan.

“Mari masuk. Kau sudah melewati badai salju yang dingin, noona.” ucap Luhan.

Jessica pun masuk, di iringi Luhan dari belakang.

“Noona?”

Semua anggota EXO yang tadinya sedang mengerjakan sesuatu, langsung mengakhirinya. Mereka berbaris lalu membungkuk sopan kepada senior mereka, Jessica.

“Annyeonghaseo, Sica noona.”

“Annyeong~” balas Jessica.

“Aigoo.. Noona, kau melewati badai salju?” tanya Suho tak percaya.

“Sudah biasa.” jawab Jessica santai.

“Hebat!” kagum yang lainnya.

“Kau pasti kedinginan. Ku buatkan cokelat panas dulu. Chankkamanyo, noona.” seru D.O lalu pergi ke dapur.

“Kyungsoo~ya, tak usah rep- repot.” ucap Jessica- namun D.O sudah pergi.

“Ku bantu melepaskan jaket ya?” tawar Luhan.

“Gomawo, Luhan~ya..”

Luhan membantu melepaskan jaket Jessica. Semua anggota memandangi mereka.

“Manis sekali.. seperti ibu dan anak.” ucap Chanyeol.

“Kalau begitu, siapa ayahnya?” tanya Chen.

“Tentu saja Kris gege.” jawab Tao.

“Ya! Biar bagaimanapun, aku lebih tua dari Kris.” protes Luhan.

“Hanya beberapa bulan, hyung.” jawab Kai.

Jessica melepaskan kaus kaki dan sepatunya. Ia juga melepaskan sarung tangan, shall, dan maskernya.

“Noona, kukumu cantik sekali.” kagum Baekhyun- yang melihat kuku tangan dan kaki Jessica.

“Gomawo. Kau mau? Akan aku bantu men-cat kukumu.” tawar Jessica.

“JANGAN!!!!!!!!” teriak yang lain.

“Hancur sudah image EXO jika ada anggota yang menggunakan nail di kukunya.” ucap Sehun.

“Aku hanya bercanda.” ucap Jessica- untuk sementara amarahnya sedikit menghilang.

“Ya! Kris eoddiga? Sica noona kemari untuk menemuinya.” ucap Luhan kesal.

“Kris gege sedang tidur.” jawab Tao.

“Jika kau mau, bangunkan dia, noona.” ucap Suho.

“Anni. Biarkan dia tidur.” jawab Jessica.

“Duduk dulu, noona. Akan ku ambilkan ember berisikan air panas.” ucap Xiumin.

“Gomawo..”

Xiumin segera ke dapur.

Jessica duduk di sofa, di temani anggota yang lain.

“Aku merasa tidak enak. Aku yeoja sendiri disini.” ucap Jessica.

“Baekhyun juga yeoja. Hobinya memakai eyeliner sepanjang hari.” ucap Chanyeol- membuka aib(?) Baekhyun.

“Ya! Jangan mempermalukan ku di depan Sica noona.” gerutu Baekhyun.

“Wah.. kita punya banyak kesamaan, ya? Aku juga suka memakai eyeliner.” ucap Jessica.

Baekhyun tersipu malu mendengarnya. Sedangkan anggota yang lain sibuk menahan tawa.

“Ini dia cokelat panas untuk Snow White yang cantik.” seru D.O- yang datang dengan cokelat panas di sebuah cangkir.

“Ya! Sica noona bukan Snow White. Sica noona adalah Ice Princess.” protes Sehun.

Jessica memandang pria yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri dengan gemas. Kemudian ia beralih kepada D.O dan mengambil secangkir cokelat panas buatannya.

“Gomawo, Kyungsoo~ya.”

Jessica menyeruput cokelat panas buatan D.O.

“Otte?” tanya D.O.

“Yumm.. Mashita!” jawab Jessica.

“Ah~ kamsahamnida.”

“Ini air panasnya!” seru Xiumin- yang membawa air panas di dalam ember.

“Tidak mendidih, kan?” tanya Jessica.

Xiumin terkekeh pelan, “Ini air hangat.” jawabnya.

Xiumin meletakkan embernya tepat di dekat kaki Jessica. Jessica pun mencelup(?)kan kakinya ke dalam ember tersebut.

“Hangat.. gomawo, Minseok~ya..”

“Nde. Cheonma.” jawab Xiumin.

“Hey! What are you guys doing with my wife?”

Semuanya menoleh ke sumber suara. Ternyata suara itu milik seorang pria bertubuh tinggi, berambut pirang, Kris.

“Seobang is coming!” seru Chen.

Semuanya terkekeh- tapi tidak dengan Jessica. Ia menatap Kris tajam.

“What’s up, babe? Are you miss me?” tanya Kris seraya berjalan menghampiri Jessica.

“Aku ingin bicara.” jawab Jessica- dengan nada yang dingin.

“Sepertinya serius sekali. Kita bicara di kamar?” tanya Kris.

“Whatever. Yang pasti, kita harus bicara empat mata.” jawab Jessica.

Semua anggota- tepatnya selain Kris saling memandang.

“Follow me!” Kris meraih pergelangan tangan Jessica- membawanya pergi ke surga milik Kris, yaitu kamarnya.

“What’s wrong, babe?” tanya Kris.

“Let’s to break up, Kris.”

“WHAT???!!!”

Mata Kris membulat sempurna. Ia tak menyangka akan hal ini. Mengapa Jessica meminta untuk mengakhiri hubungan mereka?

“Apa salah ku?” tanya Kris.

“Kau tidak salah apa-apa, Kris. Ini adalah keputusan yang terbaik. Aku harap kau bahagia dengan keputusan ini.” jawab Jessica sembari menunduk- tak berani menatap mata Kris.

Jessica berbalik dan berniat pergi. Namun Kris menarik tangannya dan membawanya kedalam pelukan Kris.

Kris membalikkan tubuh Jessica hingga posisi mereka berhadapan.

“Mana mungkin aku bahagia, Jess. Aku meminta alasan yang tepat. Tell me, Jess!” ucap Kris- dengan mimik wajah yang serius.

Jessica menghela nafas berat,
“You like Yuri, right?”

“What?”

“If you love her, you can leave me. I’m happy if you happy, Kris.”

“No, Jess. I never love her.” bantah Kris.

“Lalu- apa maksud artikel itu, Kris? Apa maksudnya?” tanya Jessica mulai terisak.

Tes!

Air mata Jessica jatuh perlahan. Kris mengusap air mata Jessica.

“Artikel? Aku tidak tahu tentang artikel. Aku tidak mencintai Yuri. OK, aku akui aku adalah fan-nya. Tapi hanya sekedar fan, Jess. Hanya sekedar fan!” Kris mencoba menjelaskan.

Jessica menatap Kris dengan isyarat, jelaskan-lebih-detail-lagi.

“Aha! I know! Pasti ini semua tentang pertanyaan siapa anggota tercantik di SNSD itu, kan? Right that?” tanya Kris menebak.

Jessica mengangguk.

Tawa Kris langsung meledak. Sementara Jessica mengembungkan pipinya lalu memukul dada Kris.

“Aww! Apheo!” ringis Kris.

“Payah~ pukulan seperti itu saja sudah sakit. Lagipula kenapa tertawa?” tanya Jessica kesal.

“Kau lupa kau itu jago tinju? Pukulanmu menyakitkan, tau! Dan soal aku tertawa, karena lucu saja.” jawab Kris.

“Lucu apanya?”

“Kau marah karena aku memilih Yuri sebagai yang tercantik? Hanya karena itu kau marah? Jadi menurutmu aku harus memilihmu sebagai yang anggota yang tercantik?” tanya Kris- dengan nada bercanda di iringi tawanya.

Jessica mengembungkan pipinya,
“Aku ingin pulang!”

Jessica segera melepaskan diri dari pelukan Kris.

Jessica berjalan ke pintu kamar Kris. Ia memutar knop pintu-nya.

“Terkunci?” gumam Jessica.

“Mencari ini, babe?”

Jessica menoleh dan mendapati Kris sedang memainkan kunci kamarnya di tangannya.

“Berikan!” pinta Jessica seraya menengadahkan telapak tangannya.

“Mau mendengarkan alasan mengapa aku memilih Yuri- atau mau pulang?” tanya Kris.

“PULANG!!” jawab Jessica.

“Yakin?” goda Kris- seraya mengedipkan sebelah matanya.

Jessica menghela nafas berat,
“Haruskah aku kibarkan bendera putih sekarang?” tanya Jessica pasrah.

Kris tersenyum. Ia kembali menarik Jessica ke dalam pelukannya. Di angkatnya dagu indah milik Jessica- meminta Jessica untuk menatap matanya.

“Aku memilih Yuri, karena aku tidak ingin yeoja ku di sakiti. Aku tahu kau sudah banyak menerima ejekan dan hinaan dari Antifans. Kau sudah cukup tegar, Jess. Aku tidak ingin kau di sakiti lagi. Sorry, aku memilih Yuri karena itu.” ucap Kris menjelaskan.

“Jeongmalo?”

Kris mengangguk,
“Katakan maaf pada Yuri noona. Aku jahat sekali sudah memilihnya tapi alasannya seperti ini. Tapi aku hanya tak ingin kau-”

Jessica meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Kris,
“Ssshhh! Aku mengerti. Aku sudah mengerti. Kesalahpahaman kecil ini kita lupakan saja. Sorry too, Kris. Aku hampir saja membuat hubungan kita kandas.” ucapnya.

“It’s okay. Yang penting kita tetap bersama. Right that?”

“That’s right!”

Kris melepaskan pelukannya,
“Bagaimana jika sekarang kita tidur bersama?”

BUKKK!!!

Jessica meninju perut Kris hingga Kris merintih kesakitan.

“YADONG!!” cibir Jessica lalu mengambil kunci di tepi ranjang Kris.

Jessica segera memasukkan kunci di lubang kunci- dan memutar knopnya. Namun..

“Oow!”

“SEDANG APA KALIAN DISINI???” teriak Jessica mendapati teman-temannya berkumpul di depan pintu kamar Kris.

“OOPS! Ketahuan!” seru Yoona.

“Kalian juga disini?” tanya Jessica tak percaya.

Anggota SNSD lainnya hanya terkekeh tidak jelas.

Kris keluar menyusul Jessica,
“Apa kalian menguping?” tanyanya.

“ANIYA! ANIYA!” bantah anggota EXO ketakutan pada leader EXO-M itu.

“Ini semua ide Baekhyun!” seru Taeyeon.

“B-bukan!” bantah Baekhyun.

“Yuri~ah..” panggil Jessica.

“Sica~ah..”

Jessica memeluk Yuri erat,
“Mianhe- Jeongmal mianheyo. Soal tadi pagi-”

“Gwenchana, Sica~ah. Kau tidak salah.” jawab Yuri- seraya melepaskan pelukannya.

Yuri menunjuk Kris,
“Kris yang salah!”

“Kris harus di hukum!!” seru Tiffany.

“NDE!!!” setuju yang lainnya.

“Alright! Alright! Apa hukumannya?” tanya Kris.

“TIDUR DENGAN SICA NOONA!!!” jawab semua anggota EXO- kecuali Sehun yang tidak ada di TKP.

“Dengan senang hati..” jawab Kris.

“ANDWEE!!! DASAR YADONG!!!” teriak semua anggota SNSD- kecuali Seohyun yang juga tidak ada di TKP.

“By the way, kalian hanya bertujuh. Uri Joohyun eoddisseo?” tanya Jessica.

Ke-7 anggota SNSD saling memandang.

“Kalian lupa? Itu Seohyun noona!” ucap Kai seraya menunjuk Seohyun yang sedang duduk manis di depan TV- di temani Sehun di sampingnya.

“Ya! Sejak kapan Sehunnie menjadi penggemar Keroro?” tanya Jessica tak percaya.

“Sejak menyukai magnae kalian. Oops!!” jawab Baekhyun keceplosan.

“HYUNG!!!!!!!!!!!!!!” teriak Sehun malu.

Sedangkan Seohyun masih fokus menyaksikan Keroro-nya, tak tahu jika ia sedang di bicarakan.

Terkadang kesalahpahaman dapat terjadi dalam suatu hubungan. Sekecil apapun kesalahpahaman itu, harus segera di selesaikan dengan kepala dingin. Jika tidak, akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

Epilog (SNSD & EXO vers)

“Gawat! Sepertinya terjadi sesuatu di antara mereka.” ucap Suho cemas.

“Taeyeon noona mengirimi ku pesan, katanya apakah Sica noona ada disini?” ucap Baekhyun.

“Katakan iya padanya. Pinta padanya untuk segera kemari.” perintah Chen.

Baekhyun segera mengetik pesan dan mengirimnya kepada Taeyeon.

“Ottokhe? Kita tidak mungkin diam saja, kan?” tanya Luhan panik.

“Aku punya ide!” ucap Baekhyun.

“MWORAGU???!!!” tanya anggota yang lain penuh inisiatif.

“Kita dengarkan saja percakapan mereka.”

“SETUJU!!!”

Mereka semua pun menjalankan ide Baekhyun.

“ANNYEONGHASEO!!”

Semua anggota menoleh ke sumber suara,
“SONYEOSHIDAE???”

“Bagaimana kalian bisa masuk?” tanya Kai.

“Pintunya terbuka.” jawab Sunny.

Luhan menepuk dahinya,
“Aku lupa menutup pintu!”

Hyoyeon memandangi anggota EXO dengan aneh,
“Kalian sedang apa?”

“Mendengarkan percakapan empat mata antara Kris dan Sica noona. Tampaknya serius sekali.” jawab Suho.

“Aku mau dengar!” seru Yuri lalu ikut bergabung.

“Na do!” seru anggota SNSD bergantian- kecuali Seohyun.

Mereka semua menempelkan telinga mereka di pintu kamar Kris.

“Sempit! Geser sedikit!” pinta Yoona.

“Jika aku bergeser, aku tidak dapat mendengar.” jawab Tao.

“Ya! Kamu Tao, kan? Yang memilihku sebagai anggota tercantik?” tanya Yoona dengan penuh percaya diri.

“Nde. Aku memilihmu, noona.” jawab Tao.

“Apa alasannya?” tanya Yoona.

“YA! BISAKAH KALIAN DIAM? KAMI TAK DAPAT MENDENGAR!!” omel Yuri.

Yoona dan Tao hanya bisa mengerucutkan bibir mereka- pertanda bahwa mereka kesal.

“Sebenarnya ini ide konyol milik siapa?” tanya Taeyeon kesal- karena harus berdempetan demi mendengarkan percakapan di dalam.

“Ide Baekhyun!” jawab Chanyeol.

“Sudah ku duga..” gumam Taeyeon.

“Menyusahkan sekali. Lebih baik aku menonton Keroro!” ucap Seohyun- lalu pergi dan duduk manis di depan TV.

“Aku mau ikut Seohyun noona saja.” ucap Sehun lalu minggat dari tempat sempit- alias pintu kamar Kris.

“Syukurlah.. Berkurang satu.” ucap Lay lega.

“Dasar magnae Sehun. Cari kesempatan dalam kesempitan.” cibir Luhan.

“Eh! Ada suara tangisan!” seru D.O.

“Majayo. Suara tangisan Sica noona.” sahut Xiumin.

“Apa yang Kris lakukan pada Sica? Aku harus menghajarnya!” seru Yuri penuh amarah.

“Sabar, noona..”

“Sabar, Yuri~ah..”

“Tapi dia menyakiti Sica.” ucap Yuri tak terima.

“Kau salah paham, onnie. Mungkin mereka sedang akting!” sahut Yoona.

PLETAKK!!!

Sooyoung menjitak kepala Yoona,
“Di saat seperti ini tidak tepat untuk bercanda!”

Yoona mengangguk seraya mengusap kepalanya,
“Apheo, onnie..”

“Sepertinya sudah tidak ada suara tangisan lagi.” ucap D.O.

“Cepat pergi! Knop pintunya bergerak.” seru Luhan.

Semuanya segera mundur. Namun nyatanya orang yang ada di dalam tak kunjung keluar.

“Aku rasa pintunya terkunci.” ucap Lay.

“Haruskah ku dobrak?” tanya Yuri.

“Aku rasa ini trik milik Kris hyung.” ucap Kai sembari mengeluarkan seringaiannya.

“Trik apa? Jangan bilang dia ingin melakukan ‘itu’? Andwee! Mereka masih muda. Mereka belum menikah! Mereka tidak boleh-”

“SHUT UP, YURI~AH!!!” teriak ke-6 anggota SNSD.

KREKKK!!

“Oow!”

“SEDANG APA KALIAN DISINI???”

~The End~

    Akhirnya selesai juga. Aku bikin ff ini setelah keingetan soal Kris milih Yuri sebagai anggota tercantik di SNSD.
    Kesel? Tentu saja. Kenapa gak milih Sica? fufufu ToT *aura shipper kumat*

    Minta koment-nya yha~ gomawo *wink

[Ficlet] Sorry Sorry


Tittle : Sorry Sorry

Cast : Jessica/Tiffany/Taeyeon/Yuri

Length : Sequel of New Friend

Genre : AU, Friendship, Family

=====Sorry Sorry=====

Sepulang sekolah, Jessica mencoba mencari Tiffany. Namun dia tak kunjung menemukannya. Akhirnya Jessica memutuskan untuk bertanya pada murid-murid lain.

“Apa kalian melihat Tiffany?” tanyanya.

“Bukankah dia sudah pulang?”

Mata Jessica terbelalak,

“Sudah pulang?” tanyanya tak percaya.

“Tadi dia naik taksi.” seru salah satu murid itu.

“Jinjcha?”

“Awalnya kami heran kenapa dia pulang sendiri, biasanya kan bersamamu. Kami pikir kalian bertengkar!” ucap murid yang lain.

Wajah Jessica memucat,

“Engg- gomawo infonya!” ucapnya lalu berlari menuju parkiran.

Pikiran Jessica berkecamuk. Dia benar-benar telah mengabaikan Tiffany hari ini. Sesungguhnya yang ia inginkan ialah berteman dengan Yuri. Tapi sepertinya caranya salah. Tidak harus melupakan teman lama bukan?

-O-

Jessica masuk ke kamarnya. Namun yang membuat ia terkejut, ia menemukan sepupunya Taeyeon yang ada di kamarnya sendiri.

“Taeyeon? Sejak kapan kau ada disini?” tanyanya kaget.

“Kau tak mau memeluk sepupumu ini?” tanya Taeyeon seraya merentangkan lebar tangannya.

Jessica tersenyum lalu menghambur pelukan pada sepupunya itu.

“I miss you so much, my cousin!” ucap Jessica senang.

“Me too!” jawab Taeyeon.

Jessica melepaskan pelukannya dan duduk bersama Taeyeon di tepi ranjangnya.

“Kapan kau sampai?” tanya Jessica.

“Tadi pagi!” jawab Taeyeon.

“Yakk! Kenapa kau tak bilang lebih awal kalau kau mau ke Seoul?” tanya Jessica pura-pura kesal.

“Surprize!” seru Taeyeon dengan gaya cute-nya. Sedangkan Jessica mengacak rambut Taeyeon dengan gemas.

“Err.. Jess, ku dengar kau mengabaikan Fany. Maja?” tanya Taeyeon hati-hati.

Jessica menelan ludahnya,

“D-d-darimana kau tau?” tanyanya gugup.

“Dia sendiri yang bilang padaku!” jawab Taeyeon.

“Kalian saling mengenal? Sejak kapan?” tanya Jessica kaget.

“Sejak tadi pagi. Tepatnya saat aku pergi ke sekolahmu dan menemukan dia sedang menangis di belakang sekolah.” jawab Taeyeon.

“Dia menangis?” tanya Jessica tak percaya.

“Geurom!” jawab Taeyeon.

Jessica merasa di hantam oleh perlakuannya sendiri. Tega sekali dirinya membuat Tiffany menangis. Dan ia akui, ini adalah pertama kalinya dia membuat Tiffany menangis.

“Aku jahat sekali!” lirih Jessica.

Butiran kristal jatuh dari pelupuk mata indah milik Jessica. Taeyeon segera menarik tubuh Jessica ke dalam pelukannya. Membiarkan dia merasakan kehangatan dari pelukan sepupunya itu.

“Taeyeon, aku salah! Neomu paboya!” ucap Jessica sambil memukuli kepalanya sendiri.

“Pabo! Kalau kau memukul kepalamu, tentu saja kau akan menjadi bodoh!” seru Taeyeon seraya menyingkirkan tangan Jessica yang sedari tadi memukuli kepalanya sendiri.

“Mianhe~” ucap Jessica.

“Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah padanya. Aku yakin dia pasti memaafkanmu. Dan jangan lupa berikan alasan yang tepat! Ara?” usul Taeyeon.

“Bagaimana kalau dia tak mau memaafkanku?” tanya Jessica polos.

“Kau harus berusaha, princess!” jawab Taeyeon.

“Arasso~ aku akan pergi meminta maaf padanya!” ucap Jessica seraya mengepalkan tangannya ke atas.

“Good! Itu baru Jessica yang aku kenal!” ucap Taeyeon senang.

Ditempat lain..

Tiffany sedang berbelanja di mini market sendirian. Dia disuruh omma-nya untuk membeli bumbu-bumbu masakan. Tiba-tiba Tiffany melihat sosok yang tak asing baginya.

“Kwon Yuri..” gumamnya.

“KAU!” seru Yuri lalu menghampiri Tiffany.

“Kau Stephanie, ah tidak- maksudku Tiffany kan?” tanya Yuri.

“Stephanie? Darimana kau tau panggilan nama itu?” tanya Tiffany bingung. Setahunya hanya ia dan Jessica yang mengetahui nama itu. Apalagi Yuri kan murid baru.

“Dari Jessica!” jawab Yuri yang langsung membuat Tiffany kaget bukan kepalang.

“Jinjcha?”

“Kalau kau mau berbicara dengan ku, kita bicara di luar saja. Tidak enak berbicara disini.” usul Yuri.

“Baiklah. Aku ke kasir dulu!” ucap Tiffany.

-O-

Tiffany dan Yuri duduk di sebuah kursi yang terletak di depan mini market.

“Err.. soal Jessica.. apakah dia baik padamu?” tanya Tiffany memulai pembicaraan.

“Geurom~ dia sangat baik. Dia suka menceritakan semua tentangmu!” jawab Yuri.

Tiffany terlonjak kaget. Mana mungkin Jessica melakukan itu, pikirnya dalam hati.

“Jinjchayo?” tanya Tiffany karena tak percaya.

“Ne~ dia menceritakan tentang persahabatan kalian. Dan dia bilang, kau adalah orang yang spesial baginya.” jawab Yuri.

Tiffany tak bisa menutupi kesenangannya. Dia tersenyum lebar sangking bahagianya.

“Itu artinya dia tidak membenciku..” gumamnya pelan.

“Tiffany, gwenchanayo?” tanya Yuri.

“Ah? Ne~ gwenchana!” jawav Tiffany.

Next day

Tiffany berangkat sekolah sendirian. Bahkan dia datang pagi sekali. Dia hanya sedikit jaim pada Jessica. Padahal dia tau kalau ternyata Jessica tak membencinya.

Jessica pun datang juga cukup pagi. Dia berlari menuju kelasnya. Dan sesampainya dia di kelas, dia menemukan Tiffany yang sedang membaca buku.

Perlahan tapi pasti, Jessica menghampiri Tiffany.

“Steph-”

“What?” tanggap Tiffany sinis.

“A-a-aku..”

“Cepat! Aku tak punya banyak waktu.” ucap Tiffany pura-pura sibuk.

“Mianhe~” ucap Jessica tertunduk.

“Untuk apa?” tanya Tiffany dingin.

“Soal kemarin. Aku mengacuhkan dan mengabaikanmu. Mianhe~ Jeongmal mianhe!” ucap Jessica merasa bersalah.

“Alasannya?” tanya Tiffany seraya memperhatikan kuku-kukunya yang cantik.

“Aku hanya ingin berteman dengan Yuri. Dari awal aku melihatnya, aku merasa tertarik padanya. Akan kah bagus kalau dia menjadi sahabat kita? Tapi sepertinya caraku salah. Aku malah melupakanmu. Aku memang jahat. Mianhe~” jawab Jessica bersungguh-sungguh.

“Hmm.. bagaimana ya?” ucap Tiffany berpura-pura berfikir.

“Come on, Steph! I’m so sorry!” ucap Jessica memelas.

“Maafkan, tidak, maafkan, tidak..” seru Tiffany seraya memainkan jari-jarinya.

“Kau mau aku menyanyikan lagu untuk meminta maaf?” tanya Jessica.

“Boleh juga! Tapi kalau jelek, aku takkan memaafkanmu!” jawab Tiffany.

“Tenang! Ini lagu boyband favorit kita!” seru Jessica.

Jessica menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Dia segera mengambil posisi. Sedangkan Tiffany menatapnya geli.

“Sorry Sorry Sorry Sorry naega naega naega meonjeo nege nege nege ppajyeo ppajyeo ppajyeo beoryeo baby Shawty Shawty Shawty Shawty nuni busyeo busyeo busyeo sumi makhyeo makhyeo makhyeo naega michyeo michyeo baby” seru Jessica seraya menirukan tarian boyband favorit mereka itu.

“Hentikan! Itu tidak lucu!” seru Tiffany menahan tawa.

“Ttanttan ttanttada tta ttaranttan Ttanttan ttanttada tta Nege banhaebeoryeosseo baby Ttanttan ttanttada tta ttaranttan Ttanttan ttanttada tta ttarappappara”

“STOP! PLEASE!!” pinta Tiffany menyerah.

Jessica tersenyum penuh kemenangan,

“Otto?” tanyanya.

“Baik, aku memaafkanmu!” jawab Tiffany serius.

“AAA!!! JINJCHA!!!!” teriak Jessica yang spontan langsung memeluk Tiffany dengan erat.

“SESAK!!!” teriak Tiffany.

Jessica melepaskan pelukannya.

“I’m sorry, Steph. I’m very happy!” ucapnya.

“It’s okay!” ucap Tiffany seraya memasang eye-smile-nya itu.

“So.. kita masih bersahabat?” tanya Jessica.

“Of course, baby!” jawab Tiffany bersemangat.

“YEY!!!” teriak mereka bersamaan sambil berpegangan tangan dan melompat-lompat. *bayangin pas SNSD menang Artist Of The Year, JeTi lompat-lompat*

Disisi lain, ada dua orang yang menyaksikan mereka.

“Persahabatan yang manis.” ucap Yuri terharu.

“Sudah ku duga, mereka takkan bisa dipisahkan.” ucap Taeyeon.

FIN!

Annyeong~ aku datang membawa sequel lagi.

Mudah-mudahan ini bagus ya.. aku ingin mengembalikan feel kalian semua tentang JeTi.

Dan jangan sedih, ini masih ada lanjutannya loh!Saia akan berhenti bikin sequel sampe saia bener-bener kapok bikin ff.. keke~

Jangan lupa RCL ^^

[Ficlet] New Friend


Tittle : New Friend
Cast : Jessica/Tiffany/Taeyeon/Yuri
Length : Sequel of Treats Friends
Genre : AU, Friendship, Sad, Romance(?)

=============New Friend==============

Jessica mendengus kesal karena menunggu Tiffany terlalu lama di mobil. Sekarang Jessica berada di depan rumah Tiffany. Seperti biasa, Jessica selalu menjemput Tiffany sebelum berangkat sekolah.

“Stephanie lama sekali.. seperti biasa!” gumamnya kesal.

Tak lama kemudian, terlihat dari kaca mobil Jessica, Tiffany berlari menghampiri mobil lalu masuk ke dalam mobil Jessica.

“Mianhe, Jess~” ucap Tiffany seraya memasang sabuk pengaman.

“Kalau kau selalu lama begini, bisa-bisa aku bosan untuk menjemputmu!” ucap Jessica seraya menjalankan mobilnya.

“Jeongmal mianheyo!” ucap Tiffany merasa bersalah.

#*#*#*#*#

“Annyeonghaseo~ Kwon Yuri imnida! Kalian bisa memanggilku Yuri. Bangapsheumnida~” ucap seorang murid baru di kelas JeTi.

“Steph, kamu pindah ke belakang!” usir Jessica.

“Mwo? Keunde-”

“Ppali!” pekiki Jessica.

Dengan berat hati, Tiffany pun pasrah dan berpindah duduk ke belakang.

“Yuri-ssi, kamu bisa duduk di- tempat Jessica!” seru songsaenim seraya menunjuk tempat Jessica.

“Arraso! Gomasheumnida songsaenim.” ucap Yuri membungkuk sopan lalu menghampiri tempat Jessica.

Yuri duduk tepat di samping Jessica,
“Annyeonghaseo~” sapanya.

“Annyeonghaseo~” balas Jessica.

#*#*#*#*#

Jam istirahat pun tiba. Semua murid berlarian menuju kantin. Namun tidak dengan Jessica, Tiffany, dan Yuri.

“Aku lapar. Aku ingin ke kantin, tapi aku tidak tau tempatnya!” ucap Yuri.

“Mau ku temani?” tawar Jessica rendah hati.

“Mau!” jawab Yuri bersemangat.

“Jessie~ kita ke kantin yuk!” ajak Tiffany seraya merangkul lengan Jessica.

Jessica langsung menepis tangan Tiffany,
“Kau sendiri saja. Aku sibuk!” bisiknya.

“Sibuk? Hmm.. okay!” jawab Tiffany pasrah lalu keluar dari kelas.

“Jessica-ssi, tadi dia mengajakmu ke kantin, bukan? Kenapa kau tak terima? Kita kan bisa ke kantin bersama?” tanya Yuri.

“Kau jangan urusi dia. Kajja! Kita ke kantin!” jawab Jessica lalu menarik tangan Yuri.

@Canteen

Tiffany melahap mie ramen sendirian. Dia sedih sekali hari ini Jessica tak perhatian lagi padanya. Biasanya Jessica rela melepaskan pekerjaan pentingnya demi Tiffany.

Tiba-tiba mata Tiffany terbelalak saat melihat Jessica bersama Yuri menuju kantin. Terlihat mereka mengambil makanan di meja pesanan lalu duduk ke tempat makan dan makan bersama. Butiran kristal mulai berjatuhan dari pelupuk mata indah milik Tiffany. Dia tak percaya Jessica lebih memilih bersama teman baru di bandingkan teman lama.

Dan hebohnya lagi, Jessica dan Yuri tampak bersuap-suapan. Saat di bibir Jessica ada butiran nasi, Yuri segera menyekanya dengan tisu. Memori seakan terputar di pikiran Tiffany. Bagaimana dulu perjuangan Jessica demi berteman dengan Tiffany. Dulu Tiffany adalah orang yang berhati dingin dan cuek. Sangking ingin berteman dengan Tiffany, Jessica rela di permalukan. Padahal Jessica adalah milyader dan termasuk orang penting di sekolah.

Tiffany ingat saat dia dan Jessica makan bersama, sangat menyenangkan. Saat mereka berbelanja bersama, belajar bersama, bermain ke taman hiburan bersama, semuanya mereka lalui bersama-sama. Bagaikan burung dengan sayapnya. Tanpa sayap, burung tak bisa terbang. Begitu juga dengan mereka. Tanpa Tiffany, Jessica tak bisa berbuat apa-apa, dan sebaliknya. Walaupun Jessica sering membuat Tiffany kesal dengan ulah konyolnya. Tapi Tiffany menyadari kalau dia sangat menyukai Jessica apa adanya.

Namun semua itu telah berakhir bagi Tiffany. Karena tak kuasa menahan tangis, ia pun berlari menuju belakang sekolah.

Tiffany duduk di bawah pohon. Dia menangis sekeras-kerasnya. Dia merasakan patah hati. Bukan karena pria, tapi karena sahabat.

“Kenapa menangis?” tanya seorang wanita dengan pakaian casual.

Tiffany mendongak,
“Nuguseyo?” tanyanya.

Wanita itu tersenyum hangat dan menampilkan deretan giginya yang rapi.
“Taeyeon imnida~” jawabnya.

Tiffany mengusap air matanya,
“Kau? Kau bukan murid disini kan? Kenapa kau bisa ada disini?” tanyanya heran.

Lagi-lagi Taeyeon tersenyum manis.
“Kebetulan aku lewat sini. Aku ingin bertemu dengan Jessica!” jawabnya.

“Jessica? Kau siapanya Jessica?” tanya Tiffany penasaran.

“Kau kenal Jessica? Aku sepupunya dari Amerika. Well~ walaupun aku berasal dari Seoul, tapi saat umurku 11 tahun, aku langsung pindah ke Amerika bersama orangtua ku!” jawab Taeyeon.

“Aku sahabat- maksudku mantan sahabat Jessica.” ucap Tiffany sambil tersenyum pahit.

“Mantan sahabat?” Taeyeon mengerutkan keningnya.

“Ne~ maseyo!” jawab Tiffany tertunduk.

“Sejak kapan?” tanya Taeyeon.

“Baru saja. Sejak dia mendapat teman baru!” jawab Tiffany.

“Keterlaluan! Jadi karena itu kau menangis?” tanya Taeyeon prihatin.

Tiffany hanya membalas dengan anggukan kepala.

“Jessica tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Pasti dia punya alasan!” seru Taeyeon.

“Entahlah~ tapi tidak apa-apa. Kalau Jessica bahagia, aku juga bahagia!” ucap Tiffany.

“Don’t worry, baby! Kau bisa jadi teman ku kalau kau mau!” ucap Taeyeon.

“Jinjcha?” tanya Tiffany memastikan.

“Ne~ jinjcha!” jawab Taeyeon.

“Ahh~ gomawo!” seru Tiffany seraya memeluk Taeyeon. Taeyeon membalas pelukan Tiffany.

“By the way, what’s your name?” tanya Taeyeon.

“I’m Tiffany. Usually, Jessica call me Steph or Stephanie!” jawab Tiffany.

“Bagaimana kalau aku memanggilmu Fany?” tanya Taeyeon.

“Bagaimana kalau aku memanggilmu Taengoo?” tanya Tiffany.

“Taengoo?” Taeyeon mengerutkan keningnya.

“Wae? Kau tidak suka?” tanya Tiffany mulai cemberut.

“Aku suka kok. Well~ namanya lumayan lucu dan cocok untuk wanita imut sepertiku!” jawab Taeyeon bergurau.

“Ha Ha Ha!” mereka tertawa bersama.

FIN!

Yang ini gak lucu kayak biasanya kan? Emang sengaja bikin kayak gini!
Jangan lupa RCL ya ^^
Insya Allah saia bikin sequel-nya lagi..

Gomasheumnida~