(Request FF) – We Aren’t Childish Couple


Title : We Aren’t Childish Couple

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica (Jung) Wu
  • EXO-M’s Kris as Kris Wu

Support Cast :

  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • Sistar’s Bora as Yoon Bora
  • SNSD’s Tiffany as Stephanie Young
  • EXO-M’s Tao as Edison Huang
  • etc

Genre : Romance, Married-life, Friendship, Comedy

Length : Oneshot

Note : Ini adalah ‘Request FF’ dari hepidiana. Hopeful you love this story. Dan semoga tidak mengecewakan, ya? ^^

***

 

Jessica keluar dari sebuah kamar di rumahnya dengan mengendap-endap. Ia berjalan berjingkat menuju ruang tengah yang terdapat sofa dan televisi disana. Pelan-pelan, ia duduk dan meraih sebuah benda bernama remote. Setelah menekan tombol on, Jessica mengurangi volume agar suara dari televisi itu tidak terdengar keras. Jessica tersenyum lega. Ia bersandar dikepala sofa dan memeluk bantal sofa sambil menonton film yang sedang diputar di salah satu chanel televisi.

“Whoo! Nicki dan teman-temannya sangat keren!,” kagum Jessica.

Di dalam kamar, Kris terlihat sedang tertidur. Namun, sebuah getaran yang berasal dari ponsel miliknya yang berada di bawah bantal berhasil membangunkannya. Kris dengan nyawa yang masih belum terkumpul meraih ponselnya dan membaca pesan masuk di ponsel miliknya.

Mata Kris membulat sempurna, “Barcelona melawan Real Madrid baru saja dimulai?!,” pekiknya.

Kris segera bangkit dari tidurnya. Ia melompat dari ranjang ke lantai, lalu berlari keluar dari kamar. Kris berlari menuju ruang tengah yang disana sudah ada isterinya yang sedang menonton film.

“K-Kau bangun?,” pekik Jessica tak percaya.

Kris tak menjawab melainkan mengambil remote televisi yang terletak di atas meja. Kris segera memindah chanel olahraga dan segera duduk disamping Jessica dengan jarak yang terhalang sekitar tiga puluh sentimeter.

“Ah, syukurlah baru dimulai,” ucap Kris seraya menghela napas lega.

Jessica mendengus, “Apa-apaan ini?,” tanyanya kesal.

“Apa sih?,” tanya Kris tanpa mengalihkan tatapannya dari televisi.

“Aku rela bangun di dini hari demi menonton film yang belum ku tonton di bioskop. Tapi, kau malah mengganti chanelnya,” ucap Jessica kesal.

“Film bisa ditonton di bioskop. Tapi, pertandingan liga Spanyol tidak bisa ditonton di bioskop,” ucap Kris.

“Kembalikan remote-nya!,” seru Jessica seraya mengambil remote televisi dari tangan Kris. Namun, Kris bisa menahannya. Jadi, mereka sedang saling menarik remote tersebut.

“Hentikan. Nanti bisa rusak!,” seru Kris.

“Tidak mau! Aku ingin menonton film The Bling Ring!,” jawab Jessica.

Kris berhenti menarik remote tersebut. Jessica juga ikut berhenti.

“The Bling Ring? Film tentang perampokan selebriti di United States itu?,” tanya Kris.

Jessica mengutuki dirinya sendiri di dalam hati. Jessica tahu, Kris tak mengijinkannya menonton film itu karena Jessica sedang mengandung. Takutnya, bayi mereka akan memiliki sifat yang sama dengan para perampok di film itu.

“Aku menyukai film itu, Kris. Film itu adalah film terkeren di musim panas ini!,” ucap Jessica.

Kris menggeleng, “Tidak, selama kau hamil. Aku tak ingin anak kita mengalami dampak buruk dari film itu!,”

“Tapi—Kris,”

“Tidak ada tapi-tapian. Lagipula, kau harus beristirahat. Tidak baik ibu hamil begadang,” ucap Kris.

“Tapi—,”

“Masuk kamar, Jess. Dan tidur nyenyak. Tidak baik begadang untukmu,” ucap Kris.

Jessica menghela napas kasar, “Okay. Okay. I will!,” jawabnya akhirnya, lalu berjalan menuju kamarnya dan Kris. Sepanjang jalan, Jessica terus menggerutu bahkan mengutuki Kris di sela gerutuannya.

Kris tak mempedulikan isterinya itu. Ia kembali fokus ke televisi. Dan…

“GOAL!!!!!!!!!,” teriak Kris sambil melompat-lompat di atas sofa.

***

 

“Stephanie! Aku bisa gila!,” seru Jessica prustasi.

Stephanie terlihat sedang mengaduk-aduk pasta pesanannya, “Tidak perlu seprustasi itu, Jess. Film itu takkan menghilang setelah kau melahirkan,” ucapnya.

“Tapi, itu masih lama, Steph. Tujuh bulan lagi. Kau bisa membayangkannya?,”

“Waktu itu terus berjalan, Jess. Kau pasti akan kaget jika waktu itu datang dengan cepat. Tenang saja. Kau hanya butuh bersabar,” jawab Stephanie.

Jessica mengusap wajahnya kasar, “Sekarang aku benar-benar stres,” ucapnya.

“Kau ini seperti anak-anak saja. Kris juga. Tidak ada yang bisa bersifat dewasa diantara kalian. Terkadang diantara kalian ada yang bersifat dewasa. Tapi, selanjutnya, kembali bersifat kekanak-kanakan,”

“Dan kau ingin menyebut kami ‘The Childish Couple’, begitu?,” tebak Jessica kesal.

“Memang begitu kenyataannya. Setiap hari kalian tidak pernah akur. Kalian selalu terlibat pertengkaran. Untungnya hanya pertengkaran kecil,”

“Ah, sudahlah. Berbicara denganmu membuatku semakin stres,” ucap Jessica.

Stephanie mendengus kesal, “Aku kan hanya ingin memberikan pendapatku,”

Jessica segera menyuap pasta ke mulutnya dan tak mendengarkan Stephanie yang terus mengomel seperti nenek tua.

***

 

“Aku pulang!,” seru Kris.

Kris menoleh ke seluruh ruangan dari ruang depan, “Dimana Jessica?,” gumamnya.

Kris berjalan masuk melewati ruang tengah. Masih tidak ada Jessica. Di ruang makan, juga tidak ada. Dan dikamar, akhirnya Kris temukan. Jessica sedang tertidur pulas di atas ranjang.

“Enak sekali dia tidur. Bagaimana dengan makan malam?,” gerutu Kris kesal.

Setelah mandi dan berpakaian, Kris berjalan menuju ruang makan. Awalnya, ia ingin memasak sendiri. Tapi, Kris merasa ingin membuka tutup saji di atas meja makan.

Kris pun membuka tutup saji tersebut. Mata Kris membulat sempurna saat melihat makan malam sudah siap dan ada selembar kertas di atas meja. Kris meraihnya dan membacanya.

Makan malam untukmu. Maaf, ya, aku makan duluan. Soalnya aku kelelahan sih!

Semoga masakanku kali ini lebih enak dari masakan kemarin.

Selamat makan!

 

–          Jessica

Kris tersenyum. Ternyata Jessica masih mengingat dirinya meskipun Jessica sedang kelelahan.

Akhirnya, Kris pun menikmati makan malam sendirian dengan penuh senyuman.

***

 

TING! TONG!

Kris membuka pintu utama rumahnya. Terdapat seorang lelaki dengan wajah asia namun memiliki kulit cokelat seperti western. Senyumannya lebar sekali saat melihat Kris yang membuka pintu.

Mereka pun berpelukan.

“Apa kabar, hyung?,”

“Baik. Sangat baik, Jongin-ah!,” jawab Kris, “Bagaimana dengan kabarmu? Keluarga Jung dan Kim?,” tanyanya.

“Kami semua baik-baik saja, hyung,” jawab Jongin.

“Ayo masuk! Jessica pasti senang jika tahu kau datang,” ajak Kris.

Jongin mengangguk setuju. Mereka pun masuk ke dalam rumah besar milik Kris dan Jessica.

***

 

“Noona, kau jahat sekali tidak menyambut kedatanganku!,” gerutu Jongin kesal.

“Kehadiranmu di rumah ini membawa masalah, Jongjin!,” ucap Jessica tak kalah kesal.

“Namaku Jongin!,” protes Jongin, “Lagipula, masalah bagaimana?,”

“Kau selalu berbohong kepadaku ataupun Kris hingga kami bertengkar,” jawab Jessica.

Jongin menyengir pelan, “Kalau itu, aku kan hanya bercanda,” ucapnya.

“Dan candaanmu sangat tidak lucu, Jongjin!,”

“JONGIN!!,” teriak Jongin kesal, karena namanya terus disebut salah oleh sepupunya itu.

“Yeah. Whatever,” ucap Jessica sambil memutar bola matanya.

“Ayolah, Jess. Jangan kau perlakukan Jongin seperti ini. Dia adalah sepupu—,”

“Kau ini bagaimana sih? Kenapa lebih membela dia daripada aku? Atau kau menjalin hubungan dibelakangku dengan Jongjin?,” semprot Jessica berapi-api.

Jongin sweatdrop dibuatnya.

“Jangan berbicara yang tidak-tidak. Kau pikir aku ini gay?,” protes Kris tak terima.

“Ya. Kau itu gay. Bahkan kau selalu makan siang bersama Edison setelah bekerja!,” ucap Jessica.

“Edison adalah sahabat sekaligus rekan kerjaku. Kau ini kekanak-kanakan sekali!,”\

“Kau yang kekanak-kanakan!,”

“KAU!,”

“KAU!,”

“KAU!,”

“KAU!,”

“SHUT UP!!!!!!!!!!,” teriak Jongin yang sukses membuat sepasang suami isteri itu terdiam.

“Kalian sama saja. Kalian adalah pasangan yang paling kekanak-kanakan yang pernah aku lihat!,” omel Jongin.

“WE ARE NOT CHILDISH COUPLE!!!!!!!!,” teriak Jessica dan Kris serempak hingga Jongin terjatuh ke lantai.

***

 

Jongin sedang memakan roti buatan Jessica di ruang makan bersama Jessica. Kris sudah berangkat kerja karena ia sedang ada rapat pagi hari ini. Jadi, Kris akan sarapan di tempat kerja saja.

“Pekerjaan Kris hyung masih sebagai pengusaha?,” tanya Jongin.

Jessica mengangguk sambil memberi selai pada rotinya.

“Tidak takut resiko pekerjaan itu?,”

Jessica menatap Jongin tajam, “Pekerjaan itu tidak memakan nyawa, Jongjin,”

Jongin menghela napas berat, “Bukan begitu maksudku. Perusahaan identik dengan karyawan. Dan biasanya banyak karyawan wanita. Apalagi status Kris hyung adalah direktur utama. Kris hyung juga memiliki wajah yang tampan. Apa noona tidak takut jika para karyawan wanita itu mendekati bahkan menggoda Kris hyung?,”

Jessica memutar bola matanya, “Kali ini kau takkan bisa menipuku lagi, Jongjin. Aku sudah kebal dengan tipuan busukmu itu,” ucapnya, sambil kembali memberi selai pada rotinya.

“Aku kan hanya berandai-andai saja, noona. Bukankah hal itu tidak mustahil terjadi?,”

Tenangkan dirimu, Jessica. Jangan tertangkap tipuan busuknya. Jangan sampai kau mempercayai kata-katanya. Dia selalu membohongimu, Jessica. So, please calm down!, batin Jessica.

Jongin tertawa melihat sepupunya yang sedang menahan amarahnya. Ia memang senang sekali menggoda Jessica. Jessica noona memang mudah tertipu sih, batinnya.

***

 

“Terima kasih atas rapat kali ini,” ucap Kris pada seluruh karyawan di perusahaannya.

Para karyawan itu satu persatu mulai keluar. Edison berjalan menghampiri Kris, “Mau sarapan bersama?,” tawarnya.

“Oke,” jawab Kris.

“Sajangnim,” panggil seorang karyawati cantik dan cukup seksi.

“Oh, ada apa, Bora-ssi?,” tanya Kris.

“Anda sangat dermawan dan bijaksana. Saya semakin—mengagumi anda,”

Edison menyenggol lengan Kris sambil menahan tawa. Sedangkan Kris tersenyum tipis kepada Bora, “Terima kasih karena sudah mengagumi saya,” ucapnya.

“Anda adalah panutan saya, sajangnim. Mohon terus memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini. Permisi,”

Bora pun keluar dari ruangan tersebut menyisakan Kris dan Edison berdua.

“Bora selalu mengatakan secara langsung, ya? Apa dia tak tahu direktur kita ini memiliki seorang isteri?,”

Kris mendesis, “Tutup mulutmu dan ayo kita ke restauran,” ucapnya.

“Oke. Kali ini, aku yang traktir, ya?,” usul Edison.

“Terserah apa maumu saja,” jawab Kris.

***

 

“Bora?,”

“Ya. Dia adalah karyawati tercantik di perusahaanku. Memangnya untuk apa kau menanyakan hal itu?,”

Jongin tersenyum sambil menggeleng, “Tidak ada. Hanya iseng saja,” jawabnya.

Kris memicingkan matanya kepada Jongin, “Aku jadi curiga,” ucapnya.

“Oh, yang benar saja. Aku tidak akan berbuat apa-apa lagi kok. Janji deh!,”

“Apa yang kalian bicarakan?,” tanya Jessica yang berada di anak tangga, melihat Kris dan Jongin berada di ruang tengah.

“Tidak ada,” jawab Jongin.

“Jess, bagaimana besok kita pergi makan malam berdua?,” tawar Kris.

Jessica menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri Kris, “Tidak biasanya kau mengajakku makan malam diluar. Ada apa kau tiba-tiba mengajakku?,”

“Temanku sewaktu di sekolah menengah atas mengundangku untuk makan malam di restauran miliknya. Kebetulan restauran itu akan dibuka untuk pertama kalinya besok malam. Jadi, dia akan memberikan diskon besar-besaran. Restauran itu memasak masakan Perancis. Kau suka, kan?,”

Jessica mengangguk bersemangat, “Ya. Aku suka!,” jawabnya.

“Bagaimana denganku?,” tanya Jongin.

“Kau jaga rumah saja. Nanti, akan ku bawakan untukmu,” jawab Kris.

“Aku juga ingin pergi kesana,” ucap Jongin.

“Tidak usah membantah. Tinggal saja di rumah. Kau ini seperti anak-anak saja yang merengek ingin ikut orangtuanya pergi,” ucap Jessica.

Jongin mendengus kesal. Tiba-tiba, ia mendapatkan ide yang sangat bagus. Kau akan ku hantui dengan tipuanku, noona!, batinnya.

***

 

From : Kris-ma husband

 

Sepulang kerja, kita akan langsung berangkat. Jadi, bersiap-siaplah dari sekarang.

 

Jessica tersenyum setelah membaca pesan dari Kris. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Jessica sangat senang kali ini. Bukan hanya karena diskon besar-besaran di restauran milik teman Kris, tetapi Jessica juga senang karena mereka akan makan malam berdua. Akhir-akhir ini, Jessica dan Kris memang jarang makan bersama. Kris terlalu banyak pekerjaan sehingga Kris selalu berangkat di pagi hari dan pulang di malam hari.

“Bora,”

Jessica menoleh ke sumber suara. Ia melihat Jongin masuk ke kamarnya.

“Untuk apa kau kemari?,” tanya Jessica.

“Hanya menyampaikan berita,” jawab Jongin.

Jessica menaikkan sebelah alisnya, “Aku tidak mengerti apa maksudmu,” ucapnya.

Jongin duduk di tepi ranjang milik Jessica dan Kris, “Bora adalah seorang karyawati cantik yang memiliki hubungan dekat dengan Kris hyung,”

Jessica mendesis, “Aku tak percaya,”

“Kris hyung sendiri yang memberitahuku,” ucap Jongin.

“Aku tak ingin mempercayai kata-katamu lagi, Kim Jongjin! Jadi, tutup mulutmu atau ku masukkan semua peralatan make-up ku ke dalam mulutmu!,”

Jongin bergedik ngeri, “Noona menyeramkan sekali. Aku kan hanya bercanda,” ucapnya.

Jessica tak mempedulikan perkataan Jongin melainkan sibuk mempercantik diri.

***

 

Jessica telah sampai di kantor perusahaan milik Kris. Ia sudah menghubungi Kris namun nomornya tidak aktif. Kris sudah terlambat menjemputnya setengah jam. Akhirnya, Jessica pergi ke kantor menaiki taksi.

“Selamat malam, Mrs. Wu,” sapa para karyawan kepada Jessica. Jessica tak membalas melainkan terus berjalan menuju ruangan Kris. Jessica sangat panik. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada suaminya itu.

KREKKK!!!

“KRIS, KAU—,”

Perkataan Jessica berhenti saat melihat Kris sedang berpegangan tangan dengan seorang karyawati. Jessica kembali teringat dengan perkataan Jongin. Jangan-jangan.., batinnya.

“Jess, perkenalkan, dia ini—,”

Belum selesai Kris berbicara, Jessica sudah pergi dari tempat itu.

***

 

“Jess, kau marah?,” tanya Kris yang sedang berada di depan pintu kamar mereka.

“Kau salah paham, Jess. Dia bukan siapa-siapa selain seorang karyawati di perusahaanku. Dia memegang tanganku karena dia berterima kasih karena aku sudah membebaskan dirinya dari hutang-hutangnya,”

Masih tidak ada jawaban.

“Jess, kau ini kekanakkan sekali sih,”

Pintu terbuka. Kris kaget saat melihat Jessica keluar membawa ember. Dan lebih kagetnya, Jessica menumpahkan isi ember tersebut kepada Kris hingga Kris basah kuyup.

“Apa maksudnya ini?,” tanya Kris kesal.

“Kau berselingkuh!,” jawab Jessica.

“Tidak. Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya? Lagipula, Bora itu—,”

“Oh, jadi dia yang bernama Bora?,” tanya Jessica sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Kau tahu dia?,” tanya Kris.

“Selingkuhan gay-mu yang memberitahuku,” jawab Jessica sambil menunjuk Jongin dengan dagunya.

Kris menoleh. Jongin mengeluarkan senyuman tiga jarinya. Tanpa basa-basi, Kris langsung menyeretnya dan membawanya ke hadapan Jessica.

“Ampun, hyung!,”

“Jelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Jessica!,” perintah Kris kesal.

Jongin menyengir pelan, “Sebenarnya, Bora itu tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan Kris hyung, noona. Aku hanya menggodamu saja,” ucapnya.

“Jadi, kau—,”

Jongin tertawa, “Noona tertangkap di dalam tipuanku lagi, ya? Noona ternyata masih mempercayai tipuanku,”

“TUTUP MULUTMU!!!!,” teriak Jessica seraya menendang Jongin hingga tersungkur ke lantai.

“Noona jahat sekali,” gumam Jongin sambil mengusap pantatnya.

Kris tersenyum, “Sekarang kau mempercayaiku, kan?,” tanyanya.

“Tidak semudah itu,” jawab Jessica.

“Jessica..,”

“Aku tidak bisa percaya begitu saj—,” kalimat Jessica terhenti saat Kris mencium bibirnya.

Jongin yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepalanya, “Dasar pasangan suami isteri yang kekanak-kanakan,”

END

Yey! Selesai lagi satu FF! Semoga FF ini bisa memuaskan kalian semua terutama hepidiana. Jangan lupa reviewnya, yaks? ^^

Next, masih ada ‘Request FF’ yang lain. Yuk dibaca dan dikomentari!

Iklan