Skool Luv Affair (Chapter 3)


Title:
Skool Luv Affair

Author:
Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast:
Jessica – Jin – V – Jungkook
Suga – Jimin – J-Hope – Rap Monster

Support Cast:
YoonA – Hyoyeon
Taeyeon – Tiffany – Seohyun
etc

Genre:
School-life – Romance – Friendship

Length:
Series

skool-luv-affair

*** Baca lebih lanjut

Iklan

Skool Luv Affair (Prolog)


Title:
Skool Luv Affair

Author:
Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast:
Jessica – Jin – V – Jungkook
Suga – Jimin – J-Hope – Rap Monster

Support Cast:
YoonA – Hyoyeon
Taeyeon – Tiffany – Seohyun
etc

Genre:
School-life – Romance – Friendship

Length:
Series

A/N:
Baca dulu teaser FF ini sebelum kamu baca prolog FF ini!

Gambar

*** Baca lebih lanjut

Who I Love? (Chapter 6 – END)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
o SNSD’s Jessica as Jessica Jung
o EXO’s Sehun as Oh Sehun
o EXO’s LuHan as Xiao Lu Han
o EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol

Support Cast :
o SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
o SNSD’s YoonA as Im Yoona
o EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun
o SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
o EXO’s Xiumin as Kim Minseok
o etc

Genre : Fluff, Romance, Friendship

Length : Series

who-i-love

    Poster © pearlshafirablue
    ***

“Jangan terlalu berharap kepadanya, Jessica-ya. Lihat dan tataplah lelaki yang selalu berada di sampingmu, bukan lelaki yang membuatmu bahagia dalam waktu sekejap,”

Kata-kata yang dilontarkan oleh Oh Sehun kemarin benar-benar membuat Jessica terus-menerus memikirkannya. Sehun berkata seolah-olah ada orang lain yang mencintai Jessica. Tetapi, siapa orang itu? Jessica masih tidak dapat bisa menyimpulkannya karena hal ini terlalu membingungkan untuknya.

“Baru kemarin Sehun berbicara sehangat itu. Dia bersikap sangat peduli kepadaku. Dia juga pernah menciumku. Tapi, apa mungkin Sehun mencintaiku? Atau orang yang Sehun maksud adalah Chanyeol?,” gumam Jessica.

Jessica mengacak-acak rambutnya prustasi. Hal ini lebih membingungkan dibandingkan pelajaran sejarah maupun matematika baginya. Jessica masih seorang gadis muda yang baru mempelajari tentang cinta. Tapi, mengapa Tuhan memberikan cinta serumit ini kepadanya?

“A-Aku menyukai Luhan sunbaenim. Tapi, aku merasa nyaman di dekat Sehun meskipun kami selalu bertengkar. Sedangkan dengan Park Chanyeol, aku sudah terbiasa diganggu olehnya. Jadi, kalau dia tidak menggangguku, rasanya sepi sekali,” ucapnya.

Jessica mengusap wajahnya kasar, “Apa yang harus aku lakukan? Dan sebenarnya, siapa yang ku cintai?,”

>>>

Luhan sedang berjalan masuk ke dalam kelasnya. Ia meletakkan tasnya dan duduk di samping Minseok. Minseok mulai mengajaknya mengobrol dengan topik ringan. Tetapi, Luhan lebih tertarik untuk melihat Yoona yang terlihat sangat mencurigakan.

Yoona tengah memasukkan isolasi besar berwarna hitam dan juga tali ke dalam tasnya. Luhan mengernyit bingung. ‘Untuk apa Im Yoona membawa benda seperti itu?’, batinnya.

Yoona berjalan keluar dengan tas miliknya. Luhan sebenarnya penasaran, tapi ia tak ingin menghampiri Yoona karena masih tak enak dengan penolakan dirinya kemarin kepada Yoona.

“Jadi, bagaimana menurutmu, Xiao Lu?,” tanya Minseok.

“Eh?,”

Minseok mendesis kesal, “Kau tak mendengarkanku?,” tanyanya.

Luhan tersenyum kaku, “Maaf. Bisa kau ulang dari awal?,”

>>>

Pelajaran telah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Semua murid terlihat menikmati pelajaran di kelas itu. Namun, tidak dengan Jessica. Mendadak ia ingin buang air kecil.

Jessica berdiri, “Songsaenim, dapatkah saya pergi ke toilet?,” pintanya.

“Jung-ya ingin pergi ke toilet? Ku temani, ya?,” tawar Chanyeol.

PLETAKK!!

Chanyeol langsung mendapatkan tiga jitakan sekaligus dari Sehun, Baekhyun, dan Taeyeon. Disambut tawa ringan dari Seohyun.

“T-Tidak. Aku bisa sendiri,” jawab Jessica.

“Baiklah, Jessica-ssi. Silakan,” jawab guru itu.

Jessica membungkuk sopan dan keluar dari kelas tersebut. Sehun menatap kepergian Jessica dari kelas. Entah kenapa, perasaannya jadi tidak enak.

“Sehun-ah, kau baik-baik saja?,” tanya Seohyun.

Sehun mengangguk pelan, “Iya. Aku baik-baik saja,” jawabnya.

>>>

Tepat dengan perasaan buruk Sehun, Jessica tidak kembali ke kelas sampai waktu istirahat. Awalnya, Sehun berniat ingin menyusul. Tetapi, guru memberikan mereka tugas ekstra saat itu.

“Aku dan Seohyun akan mencoba mengecek di toilet,” ucap Taeyeon.

“Baiklah. Kami akan mencari di tempat lain,” ucap Sehun.

Kelima sahabat itu pun berpencar untuk mencari Jessica agar dapat mempersingkat waktu.

“Kenapa harus ke toilet? Bisa saja Sica tertidur di perpustakaan,” ucap Seohyun.

“Bagaimana kalau Jessica pingsan di toilet? Atau Jessica terkunci di toilet?,” tanya Taeyeon.

Seohyun menggeleng, “Jangan berkata seperti itu. Kau membuatku semakin cemas,” ucapnya.

Taeyeon menarik tangan Seohyun, “Cepat. Kita harus bergegas!,” serunya. Dan mereka pun berlari menuju toilet.

>>>

“Tidak ada di perpustakaan,” ucap Chanyeol.

“Biasanya kan dia tertidur disini,” ucap Sehun.

“Oh, no,” gumam Baekhyun sambil melihat ponselnya.

Sehun dan Chanyeol menatap Baekhyun bingung, “Ada apa?,” tanya Sehun.

“Taeyeon meminta kita ke toilet perempuan sekarang,” jawab Baekhyun.

“Jung-ya pasti sudah mereka temukan,” ucap Chanyeol senang.

Sehun pun segera berlari di ikuti Chanyeol dan Baekhyun. Entah mengapa, lari Sehun sangat kencang. Chanyeol dan Baekhyun sampai letih mengejarnya. Padahal Sehun tidak pandai dalam olahraga lari.

Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun bingung karena toilet perempuan dipenuhi oleh banyak murid. Mereka bertiga pun menerobos masuk melalui murid-murid itu.

“SICA!!,”

“J-Jung-ya?,”

“Jessica-ya,”

Mereka bertiga melihat Jessica berada di dalam pelukan Seohyun. Wajahnya sangat pucat, napasnya tak beraturan, pergelangan tangannya merah sekali.

Sehun berjongkok dan memegang pipi Jessica, “Apa yang terjadi?,” tanyanya.

“Kami menemukannya terkunci di toilet dalam keadaan tangan di ikat oleh tali dan mulutnya di plester oleh isolasi hitam,” jawab Taeyeon.

“APA??!!,” teriak Chanyeol dan Baekhyun kompak.

“Kita harus membawanya ke ruang kesehatan sekarang, Sehun-ah,” usul Seohyun.

Sehun mengangguk. Tanpa aba-aba, Sehun langsung menggendong Jessica dan keluar dari toilet perempuan di ikuti oleh teman-temannya. Murid-murid yang tadinya di situ pun mulai bubar. Termasuk senior tampan yang juga menyaksikan peristiwa itu.

“Yoona-ah, kau pelakunya, benar?,” gumamnya pelan sambil berjalan pergi.

>>>

Jessica terbaring lemah di atas ranjang di ruang kesehatan. Di sekelilingnya ada Sehun, Seohyun, Taeyeon, Chanyeol, dan Baekhyun. Mereka menemani Jessica bahkan melupakan waktu mulainya jam pelajaran kembali.

“Bagaimana perasaanmu? Sudah membaik?,” tanya Taeyeon.

Jessica mengangguk lemah, “Terima kasih sudah datang dan menyelamatkanku,” ucapnya.

“Sebenarnya, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu, Sica-ya?,” tanya Seohyun.

Jessica terdiam. Mulutnya ingin sekali memberitahu, tetapi tidak dengan hatinya. Jessica terlalu takut untuk memberitahu kejadian sebenarnya kepada teman-temannya. Ia tak ingin bermasalah lebih serius dengan si pelaku.

“Hey, ayo jawab,” pinta Sehun.

“Ah—Ngg—A-Aku tidak mengingat apapun. Sebelumnya, aku pingsan dan bangun. Ternyata aku sudah dalam keadaan seperti itu,” jawab Jessica berbohong.

Sehun menghela napas berat. Ia tahu betul kalau Jessica sedang berbohong. ‘Kau adalah pembohong yang buruk, Jessica Jung’, batinnya.

“Ya sudah. Yang penting Jessica selamat,” ucap Baekhyun lega.

“Setelah kejadian ini, aku berjanji akan selalu berada disampingmu, Jung-ya. Takkan ku biarkan siapapun melukaimu. Itu adalah janjiku,” ucap Chanyeol serius.

“Chanyeol-ah,” gumam Jessica tak menyangka.

Seohyun menatap Chanyeol dalam diam. Di dalam hatinya, ia merasa iri kepada Jessica. Chanyeol selalu memberikan perhatian lebih kepada Jessica. ‘Apakah aku benar-benar menyukai Chanyeol?’, batinnya.

“Aku juga akan menjagamu, Sica-ya. Tenang saja,” ucap Sehun hangat.

Jessica tersenyum senang, “Terima kasih, teman-teman,”

>>>

“Im Yoona!,”

Yoona yang sedang membaca buku dibawah pohon pun menoleh ke sumber suara. Ternyata Luhan berjalan ke arahnya. Yoona pun segera berdiri dan tersenyum manis kepada Luhan.

“Akhirnya kau menyapaku juga,”

“Tidak. Aku ingin berbicara serius padamu,” ucap Luhan serius.

Senyuman Yoona memudar, “A-Apa yang ingin kau bicarakan?,” tanyanya.

“Kau—pelakunya, kan?,” tebak Luhan.

Yoona langsung membeku di tempat. Meskipun Luhan tak memberitahu secara detail, tetapi Yoona sangat mengerti apa yang Luhan maksud.

Yoona tertawa paksa, “Kau berbicara apa, Luhan-ah? Pelaku apa?,” tanyanya.

“Tak usah berpura-pura kalau kau tak mengerti apa maksudku, Im Yoona. Aku melihat sendiri kau membawa tali dan isolasi hitam,” jawab Luhan.

Yoona langsung bersujud di kaki Luhan, membuat Luhan terperangah kaget dan bingung.

“Ya! Im Yoona! Apa yang kau lakukan?,”

“Maafkan aku, Luhan-ah. Aku melakukan ini karena aku cemburu. Aku tidak mau Jessica mendapatkanmu. Aku ingin hanya aku yang memilikimu,” ucap Yoona sambil menangis.

“Obsesimu padaku terlalu tinggi atau kau terlalu bodoh?,” tanya Luhan.

“Aku hanya gadis biasa yang mengharapkan balasan cintamu, Luhan-ah. Aku terlanjur dan terlalu mencintaimu. Apapun akan ku lakukan demi mendapatkanmu. Membunuh Jessica pun akan ku lakukan,”

“Kau sangat gila,”

“Ya. Aku memang gila. Karenamu, Xiao Lu Han,”

Bukannya marah atau pergi, Luhan malah mengeluarkan seringaiannya. Hal itu membuat Yoona mendongak dan menatap Luhan bingung.

“Kau tidak marah?,” tanya Yoona.

Luhan membungkuk dan menyamakan posisinya dengan Yoona, “Kau benar-benar ingin bersamaku?,” tanyanya.

Yoona mengangguk, “Tentu saja,” jawabnya.

“Dan kau akan melakukan apapun agar dapat bersamaku?,” tanya Luhan.

Yoona mengangguk mantap.

Luhan tersenyum misterius. Ia menangkup wajah Yoona dengan tangannya dan mulai melumat bibir Yoona. Tanpa menunggu, Yoona pun membalas lumatan dari Luhan. Untungnya tempat itu sangatlah sepi, jadi tak ada yang melihat mereka.

Luhan melepaskan ciuman panas itu dan menatap Yoona dalam, “Maukah kau melakukan sesuatu untukku?,” tanyanya.

“Tentu saja. Apapun yang kau mau, akan ku berikan dengan senang hati,” jawab Yoona.

Luhan tersenyum penuh kemenangan, “Bunuh Jessica untukku,” pintanya.

Yoona mengerjap kaget, “Kau serius? Bukankah kau—,” ucapan Yoona terputus saat Luhan meletakkan telunjuknya di bibir Yoona.

“Lakukan saja, jika kau mau bersamaku,” ucap Luhan.

Yoona mengangguk mantap, “Baiklah. Aku akan melakukannya untukmu,” ucapnya.

Minseok mengintip kejadian itu dari balik pohon. Ia mendengar semuanya. Kim Minseok hanya bisa menghela napas berat.

“Kasihan sekali kau, Yoona-ssi. Otakmu benar-benar telah dicuci oleh Luhan,” gumam Minseok pelan.

>>>

Sehun dan Seohyun baru saja pulang dari sekolah. Semenjak kejadian itu, Sehun meminta Jessica istirahat di rumah paling sedikit satu hari. Dan Jessica sama sekali tidak keberatan. Berada di rumah adalah tempat teraman bagi Jessica.

“Kami pulang,”

“Selamat datang,”

“Sica-ya, kondisimu sudah membaik?,” tanya Seohyun.

Jessica mengangguk, “Aku sudah dapat kembali beraktivitas,” jawabnya.

“Taeyeon, Baekhyun, dan Chanyeol titip salam kepadamu,” ucap Sehun.

“Mereka minta maaf tidak bisa menjengukmu karena mereka punya urusan pribadi,” tambah Seohyun.

Jessica tersenyum tipis, “Tidak apa-apa. Aku memakluminya, kok,” jawabnya.

Seohyun berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Sehun memilih untuk duduk di sofa. Jessica pun ikut duduk disampingnya.

“Kenapa kau tidak mau jujur?,” tanya Sehun.

“Eh?,” Jessica mengerjap bingung.

“Mumpung tidak ada siapa-siapa selain kita, lebih baik kau ceritakan padaku kejadian kemarin. Aku tahu kau mengetahuinya,” ucap Sehun.

“A-Aku—,”

Sehun menghela napas berat, “Apa aku harus memaksamu, eh?,”

“Apa?,”

Tanpa aba-aba, Sehun langsung mendekati Jessica. Jessica langsung mundur dan akhirnya ia terbaring di atas sofa dengan Sehun berada di atasnya. Wajah Jessica memerah panas karenanya.

“A-Apa yang k-kau lakukan?,” tanya Jessica gugup.

“Ceritakan padaku yang sebenarnya atau—,”

“A-Atau apa?, tanya Jessica takut.

Tanpa menjawab pertanyaan dari Jessica, Sehun langsung mencium bibir Jessica. Mata Jessica membulat besar saat itu juga. Sehun mulai melumat bibir Jessica dengan lembut, memberikan sensasi yang nyaman untuk Jessica. Jessica pun mulai terbuai dengan ciuman lembut dari Sehun, dan mulai memejamkan matanya dan membalasnya secara lembut dan pelan. Keduanya begitu menikmati momen tersebut.

Namun, di dalam ciuman tersebut, pikiran Jessica jadi berputar. Di mulai dari Sehun bersikap dingin padanya, memarahinya, memeluknya, menciumnya, bersikap hangat padanya, memuji kecantikannya, dan memperhatikannya. Semua itu telah membuat Jessica yakin kalau Sehun benar-benar mencintainya. Mungkin awalnya memang buruk. Tetapi, Jessica sering menonton drama-drama di televisi kalau cinta itu berawal dari benci. Dan Jessica telah merasakan hal itu. Jessica awalnya sangat membenci Sehun, begitu pula sebaliknya. Dan sekarang, setiap berada di dekat Sehun, jantung Jessica berdetak sangat cepat, wajahnya memerah, dan bahkan ia merasa nyaman berada di dekat Sehun.

‘Apakah aku mencintai Sehun?’

Sehun melepaskan ciumannya pada Jessica dan mengatur napasnya, begitu pula dengan Jessica.

“Kau tidak menyerah? Kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya padaku?,” tanya Sehun.

“Aku tidak bisa mengatakannya,” jawab Jessica.

“Kenapa?,” tanya Sehun.

Jessica melingkarkan tangannya di leher Sehun, membuat Sehun terperanjat kaget. Tak pernah Jessica melakukan hal seperti ini. Apalagi, Sehun tahu kalau Jessica menyukai Luhan, bukan dirinya.

“Lebih baik, kita melupakan kejadian kemarin,” jawab Jessica.

“J-Jessica-ya-hmm!,” kalimat Sehun terputus saat Jessica menarik lehernya dan mencium bibir Sehun. Sehun tak menyangka, kali ini Jessica lah yang memintanya. ‘Apakah Jessica juga mencintaiku?’, batinnya.

“Ahem!,”

Keduanya saling melepaskan ciuman mereka dan menatap ke sumber suara. Mereka melihat Seohyun berkacak pinggang sambil menatap mereka kesal.

“Kalian ini tidak jera, ya? Kalian ingin mendapatkan hukuman lagi?,” tanya Seohyun.

“TIDAK!!,” jawab mereka serempak lalu segera berlari ke kamar masing-masing.

Seohyun tersenyum melihat tingkah mereka yang begitu kompak, “Ah! Mereka benar-benar cocok. Tapi, aku tak bisa membiarkan mereka berciuman terus. Takutnya nanti mereka akan berakhir di ranjang sungguhan. Ah, mereka kan harus lulus sekolah dulu baru menikah dan punya anak. Tidak boleh sekarang!,” serunya.

>>>

“Jadi, kalian berpacaran?,” tanya Taeyeon.

“T-Tidak!,” bantah Jessica dan Sehun kompak.

“Bohong. Aku melihat sendiri mereka berciuman panas sambil bertindih-tindihan di atas sofa. Kalau tidak ku cegat, pasti Jessica sudah hamil sekarang,” ucap Seohyun.

“KAU BERLEBIHAN!!,” teriak Jessica dan Sehun kesal.

“Sudahlah. Akui saja kalau kalian itu berpacaran,” ucap Baekhyun.

“Tidak bisa! Sehun belum menyatakan cintanya padaku,” ucap Jessica.

“Oh, jadi kau ingin Sehun menyatakan cintanya kepadamu?,” goda Taeyeon.

Wajah Jessica langsung memerah seperti kepiting rebus, “T-Tidak kok!,” bantahnya.

“Sehun-ah, kenapa kau tidak menyatakan cintamu pada Jung-ya? Bukankah kalau dua orang berciuman itu sudah jelas saling menyukai?,” tanya Chanyeol.

“Kau tidak cemburu?,” tanya Baekhyun.

“Ah, tidak. Jika Jung-ya senang, aku pun juga senang,” jawab Chanyeol.

Seohyun tersenyum senang mendengar jawaban dari Chanyeol.

“Sehun-ah, tunggu apa lagi? Ayo nyatakan cintamu pada Jessica!,” seru Baekhyun.

“A-Aku—,”

“Selamat pagi,”

Keenam sahabat itu menoleh ke sumber suara, “LUHAN?!!,” pekiknya.

“Apa yang kau lakukan di kelas kami, sunbaenim?,” tanya Taeyeon.

“Aku ingin berbicara dengan Jessica sebentar. Bisa, kan?,”

“T-Tentu saja,” jawab Jessica. ‘Jika aku bersama Luhan sunbaenim, Yoona sunbaenim tidak akan menggangguku. Dia takkan berani melakukan itu’, batinnya.

Sehun menahan Jessica, “Mau ku temani?,” tawarnya.

“Tidak perlu. Aku kan bersama Luhan sunbaenim,” jawab Jessica.

Luhan dan Jessica pun keluar dari kelas tersebut. Luhan berjalan di depan dan Jessica mengikuti dari belakang. Jauh sekali mereka berjalan hingga menuju ke belakang sekolah. Jessica merasakan firasat buruk di pikirannya.

“A-Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan, Luhan sunbaenim?,” tanya Jessica.

“Aku ingin memberitahumu tentang rahasia antara keluargaku dengan keluarga Oh,” jawab Luhan.

‘Keluarga Oh? Keluarga Sehun, kan?’, batin Jessica.

“Kau pasti sering dilarang oleh Sehun untuk berbicara maupun dekat denganku,” ucap Luhan.

“Benar,” jawab Jessica.

“Ayahku adalah seorang psikolog terkenal. Beliau bekerja sama dengan perusahaan milik ayah Sehun. Kerja sama mereka terbilang baik dan sangat untung. Suatu hari, perusahaan milik ayah Sehun bangkrut. Ayahku dituduh karena menjadi penyebab kebangkrutan ini karena ayahku telah menghipnotis ayah Sehun dan karyawan-karyawannya. Ayahku pun di hukum masuk penjara selama lima belas tahun. Setelah kepergian ayahku, anehnya perusahaan mereka kembali memuncak. Ayahku mencoba kabur hanya untuk memberikan ucapan selamat, namun ayahku di bunuh oleh penjaga ayah Sehun. Semenjak itulah, keluargaku dan keluarganya tidak akur. Satu tahun kemudian, orangtua Sehun kecelakaan. Kami merasa sangat senang karena ayah Sehun telah mendapatkan balasannya. Tapi, aku belum puas karena Sehun masih ada di dunia ini. Aku tidak berniat untuk membunuhnya, menurutku membunuh itu tidak menyiksa batinnya. Aku ingin membuat ia kehilangan orang yang ia sayangi seperti aku kehilangan ayahku,” ucap Luhan.

“Dia sudah kehilangan ayahnya. Kalian sama sekarang, kan?,” tanya Jessica.

“Tidak. Dia tidak merasakan kepedihan seperti yang aku rasakan. Dia tidak merasakan seperti aku harus menunggu ayahku sekian tahun untuk melihatnya keluar dari sel tahanan. Ku pikir setelah beliau kabur, aku akan membawanya pergi dari Seoul dan kembali ke Beijing dan aku bisa selalu bersamanya. Tapi, ternyata aku salah. Beliau sudah tak bernyawa. Hebat, kan, keluarga Oh itu?,” ucap Luhan sambil tertawa.

“S-Sunbaenim,” gumam Jessica takut.

“Maafkan aku, Jessica-ssi. Aku membuatmu terlibat dalam masalahku. Tapi, aku melakukan ini karena aku tahu Sehun sangat mencintaimu, melebihi cintanya pada Seohyun,” ucap Luhan.

“Maksudmu, kau ingin membunuhku?,” tanya Jessica tak percaya.

Luhan menggeleng, “Bukan, bukan aku. Tapi—,”

“AKU!!,” teriak Yoona yang baru saja keluar dari balik pohon dengan pedang di tangannya dan mengarahkannya ke Jessica, namun..

Pedang lain menghalangi pedang milik Yoona. Dan pengendali pedang itu adalah Oh Sehun yang berada di depan Jessica sekarang.

“Sehun-ah,” gumam Jessica senang.

“Minggir kau, Oh Sehun!,” perintah Yoona.

“Jangan sentuh kekasihku,” ucap Sehun, yang langsung membuat Jessica kaget.

Sehun dan Yoona pun mulai bertarung dengan pedang mereka. Meskipun Yoona seorang perempuan, tetapi permainan pedangnya tak terkalahkan.

Luhan berdecak kesal melihat kejadian ini. Baru saja ia ingin membunuh Jessica dengan tangannya sendiri, namun Minseok menahannya.

“Hyung?,” pekik Luhan kaget.

“Hentikan kekonyolan ini, Luhan-ah,” pinta Minseok.

“Tidak. Dia harus merasakan apa yang ku rasakan,” ucap Luhan.

“Tapi, kau berlebihan, Xiao Lu Han! Kau gila! Dendam telah membutakan matamu!,” bentak Minseok.

“Aku tidak peduli. Lepaskan aku atau kau terlibat dalam pertarungan ini?,”

“Hentikan!,”

Semuanya menoleh ke sumber suara. Ternyata sekumpulan polisi telah datang di ikuti Taeyeon, Baekhyun, Chanyeol, dan Seohyun.

“Xiao Luhan! Im Yoona! Kalian kami tangkap,” ucap ketua dari polisi itu.

“Apa?,” pekik Luhan dan Yoona.

Mereka berdua pun di borgol oleh polisi-polisi itu.

“Aku tidak akan di penjara, kan?,” tanya Yoona.

“Kau akan di penjara karena kau telah berniat membunuh orang,” jawab polisi itu.

“Luhan-ah,” gumam Minseok.

“Tidak apa-apa, hyung. Kau benar. Dendam telah membutakan mataku,” ucap Luhan.

Luhan dan Yoona pun dibawa oleh sekelompok polisi itu. Minseok menghela napas berat dan tersenyum tipis. ‘Semoga dengan begini, kau bisa berubah menjadi Luhan yang ceria seperti dulu’, batinnya.

“Syukurlah kau baik-baik saja, Sica-ya,” ucap Seohyun seraya memeluk Jessica.

“Bagaimana kalian bisa ada disini?,” tanya Jessica.

“Sehun penasaran dan mengajak kami untuk mengikutimu,” jawab Baekhyun.

“Aku tak menyangka Luhan sunbaenim ingin membunuhku. Ternyata, selama ini dia—,”

“Maaf. Ini semua salahku. Karena ayahku, aku dan Luhan menjadi musuh. Padahal saat kecil, aku dan Luhan adalah sahabat,” ucap Sehun.

“Kau tidak salah, Sehun-ssi. Luhan yang salah. Ia tak mengetahui cerita yang sebenarnya,” ucap Minseok.

“Minseok sunbaenim?,”

“Sebenarnya, ayah Luhan lah yang salah. Ayahku mengetahui cerita yang sebenarnya dan memberitahuku tapi beliau memintaku untuk tak memberitahu Luhan,” ucap Minseok.

“Jadi, bagaimana cerita yang sebenarnya?,” tanya Jessica.

“Ayah Luhan memang bersalah. Pertama, beliau menghipnotis ayah Sehun dan seluruh karyawannya lalu mengambil uang milik perusahaan. Kedua, beliau kabur dari penjara untuk balas dendam pada ayah Sehun. Hampir saja beliau menusukkan pisau ke perut ayah Sehun kalau saja penjaga tidak menghentikannya dan menusuk balik ke perut beliau. Sayangnya, setelah kejadian itu, keluarga Oh maupun keluarga Xiao menutup rapat cerita ini. Cerita yang Luhan ceritakan padamu tadi adalah cerita yang dibuat-buat oleh masyarakat saja,” jawab Minseok.

“Jadi, begitu,” gumam Sehun.

“Terima kasih, sunbaenim. Kau sangat baik,” ucap Jessica.

“Tidak masalah. Dan, untuk Sehun-ssi,”

“Ya?,” sahut Sehun.

“Jaga kekasihmu. Jangan sampai hal ini terulang lagi,” ucap Minseok.

Sehun tersenyum, “Pasti!,” jawabnya.

“Eh? Siapa yang kau sebut kekasihmu?,” tanya Jessica tak terima.

“Tentu saja kau. Memangnya siapa lagi?,”

Wajah Jessica memerah, “T-Tapi, kau kan tidak menyatakan cinta kepadaku. Lagi pula, aku tidak bilang kalau aku mau menjadi kekasihmu,” ucapnya.

“Apakah caramu menciumku kemarin bukan berarti kau juga mencintaiku, eh?,” goda Sehun.

Wajah Jessica semakin memerah, “Apa? Ya! Kau ini!,” ia pun memukuli lengan Sehun. Sedangkan Sehun menanggapinya dengan tertawa. “Apa yang lucu?,” protes Jessica karena Sehun tak henti tertawa.

Taeyeon dan Baekhyun saling merangkul dan tertawa. Sedangkan Chanyeol dan Seohyun saling melemparkan senyuman. Minseok menghela napas lega karena semuanya telah berakhir. Kini, Minseok yakin, Sehun dan Luhan bukan lagi musuh seperti dulu. Sehun pasti mau memaafkan Luhan.

    END

Jaaaaaa~! Fic ‘gaje’ gue akhirnya selesai. Jangan lupa komentarnya, ya?

(Request FF) – The Way You Are


Title : The Way You Are

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
o SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
o SNSD’s Taeyeon as Jung Taeyeon
o SNSD’s Seohyun as Jung Seohyun

Support Cast :
o TVXQ’s Yunho as Jung Yunho
o EXO’s Kris as Kris Wu
o EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun
o EXO’s LuHan as Xiao Luhan
o SNSD’s YoonA as Im Yoona
o etc

Genre : School-life, Family, Romance, Friendship

Length : One-shot

A/N : Fic ini adalah ‘Request FF’ dari jihaan love sica. Hope you like this fic ^^

    ***

Berbagai channel televisi di Korea Selatan sedang dihebohkan dengan berita munculnya ketiga puteri dari pemilik Jung International Corp—sebuah perusahaan terbesar dan berpengaruh di Korea Selatan—, Jung Yunho. Ketiga puteri duda kaya raya itu baru saja pulang dari Amerika setelah menjalani sekolah mereka. Berdasarkan permintaan mereka sendiri, ketiganya ingin melanjutkan kuliah di Seoul. Hal itu membuat semua orang bertanya-tanya, mengapa mereka memilih kuliah di negara sendiri sedangkan bersekolah di luar negeri.

“Kami mencintai negara kami. Dan kami percaya, sekarang Seoul telah menjadi negara yang tak kalah berkualitas dibandingkan negara lain. Lagipula, kami akan melanjutkan bisnis ayah kami. Jadi, kami rasa kampus terbaik adalah tempat dimana perusahaan ayah berada,” ucap Taeyeon, kakak tertua dari ketiga puteri Jung Yunho.

“Jadi, kalian akan melanjutkan kuliah di kampus apa?,” tanya seorang wartawan.

“Kami memutuskan untuk kuliah di universitas Kyunghee, jurusan bisnis manajemen,” jawab Taeyeon.

“Kalian telah muncul sebagai bintang. Apakah kalian berniat untuk muncul sebagai artis?,”

Seohyun—puteri ketiga Jung Yunho—langsung menggeleng cepat, “Kami tidak tertarik dengan dunia entertainment,” jawabnya.

“Apakah kalian akan menekuni bisnis ayah kalian?,”

“Enough!,” seru Sooyeon—puteri kedua Jung Yunho—, membuat semua wartawan dan kedua sahabatnya kaget. “Mengapa harus membuang waktu dengan menanyakan hal yang sudah pasti diketahui jawabannya? Think before, do after! Kami juga memiliki banyak kesibukan,” omelnya.

“Ngg—maafkan adikku. Dia memang sedikit sensitif. Ya, kami rasa cukup sampai disini wawancaranya. Terima kasih,” ucap Taeyeon.

>>>

“Jaga sikapmu, Jung Sooyeon! Kau adalah salah satu dari tiga puteri-ku. Kau yang paling ahli dalam masalah intelektual. Kau bisa membuat appa sukses. Tapi, dengan sikapmu seperti ini, citra appa di depan semua orang akan tercoreng,” omel Jung Yunho pada Sooyeon.

“Tolong maafkan Sooyeon eonni, appa,” pinta Seohyun.

“Appa, kau berlebihan. Kau tahu sendiri kan sikap Sooyeon seperti apa,” ucap Taeyeon.

“Shut up. Biarkan dia berbicara sampai selesai. Setelah itu, aku bisa beristirahat di kamar,” ucap Sooyeon.

Yunho menghela napas berat. Sooyeon memang selalu bersikap seperti ini semenjak isterinya meninggal dunia. Sooyeon bukan lagi gadis yang ceria, melainkan gadis dingin dan pemarah. Dan Yunho pun harus berusaha sabar untuk menghadapinya.

“Maafkan appa. Kau boleh beristirahat sekarang,” ucap Yunho.

Tanpa basa-basi, Sooyeon langsung beranjak pergi menuju kamarnya. Yunho pun juga menyuruh Taeyeon dan Seohyun untuk beristirahat karena besok mereka sudah harus masuk ke kampus baru mereka.

>>>

Pagi yang cerah menyambut kota Seoul. Tepat saat ketiga puteri cantik dan kaya raya tiba di kampus baru mereka—Kyunghee University. Banyak mahasiswa memandang mereka dengan pandangan kaget, senang, jatuh cinta, dan sebagainya. Dan saat itulah, mereka bertiga resmi menjadi idola baru di kampus tersebut.

Semua mahasiswa menyapa mereka. Taeyeon dan Seohyun mencoba ramah, sedangkan Sooyeon lebih memilih untuk diam dan memperhatikan keadaan sekitarnya.

Karena usia mereka berbeda satu tahun, mereka pun harus berpisah kelas. Taeyeon berada di semester lima, Sooyeon di semester tiga, dan Seohyun di semester pertama. Meskipun mereka berada di jurusan yang sama.

“Annyeonghaseyo. Nama saya adalah Jung Taeyeon. Saya adalah mahasiswa pindahan dari Amerika. Salam kenal,” ucap Taeyeon memperkenalkan diri.

Taeyeon mendapatkan sambutan yang positif dari teman-teman sekelasnya. Taeyeon pun duduk di samping mahasiswa berkacamata dengan name-tag yang sempat dibaca oleh Taeyeon, Byun Baekhyun. Dan Baekhyun sedang tersenyum aneh kepada Taeyeon. Sebenarnya senyuman aneh itu adalah deskripsi Baekhyun menurut Taeyeon.

“Ngg—salam kenal, Baekhyun-ssi,” ucap Taeyeon ragu.

“Iya! Salam kenal, Taeyeonnie!,” balas Baekhyun bersemangat.

Kini, Taeyeon merasa dilanda mimpi buruk karena harus duduk di dekat pria aneh seperti Baekhyun. Sekali lagi, hal itu hanyalah deskripsi Baekhyun menurut Taeyeon.

>>>

Sama seperti Taeyeon, Seohyun memperkenalkan diri secara santun hanya saja lebih panjang. Teman-temannya membalas dengan ramah dan Seohyun sangat menyukai hal itu. Seohyun pun duduk di antara seorang pria dan wanita.

Seohyun baru saja menoleh ke kanan, dan langsung kaget saat pria disampingnya itu sedang tersenyum. Senyuman yang sangat manis, sesuai dengan wajah manis pria itu. Tapi, Seohyun merasa ada yang janggal. Senyuman itu seperti bukan untuknya.

Seohyun pun menoleh ke kiri dan melihat wanita disampingnya juga tersenyum. Oh, ternyata, mereka sedang saling tersenyum. Seohyun merasa malu sendiri karena merasa dirinya yang sedang diberikan senyuman oleh pria manis disampingnya itu.

“Bodoh sekali kau, Jung Seohyun!,” gumamnya pelan.

>>>

“Annyeonghaseyo. Nama saya Jung Sooyeon. Terima kasih,”

Berbeda dengan Taeyeon dan Seohyun, Sooyeon memperkenalkan diri secara singkat dan dengan nada terkesan malas. Dan hal itu membuat dirinya tak disambut baik oleh teman-teman sekelasnya. But, who cares? Jung Sooyeon tidak akan mempedulikan hal tersebut.

“Baiklah, Sooyeon-ssi. Kau boleh duduk,”

Sooyeon pun duduk di kursi yang kosong. Dan sialnya, Sooyeon duduk disamping pria yang terus-terusan memperhatikannya.

“Namaku Kris,”

“Tidak bertanya,” jawab Sooyeon.

Sial, umpat Kris dalam hati. “Sama sepertimu, aku juga anak orang kaya,” ucap Kris.

Sooyeon menatap pria itu tajam, “Bisakah kau diam? Aku tidak memiliki niat untuk bertanya atau mengetahui apa yang kau katakan,” bentaknya.

Semua orang di dalam kelas tersebut melihat ke arah mereka berdua. Namun, hal itu sepertinya tidak mengganggu Sooyeon. Sooyeon kembali membaca bukunya.

“Kembali ke materi, semuanya,” ucap dosen tersebut.

>>>

Taeyeon, Sooyeon, dan Seohyun merebahkan diri mereka di sebuah ranjang di kamar Sooyeon. Mereka tampaknya lelah di hari pertama kuliah di Seoul.

“Hari yang menyebalkan,” ucap Taeyeon.

“Agree,” sahut Sooyeon setuju.

“Kenapa?,” tanya Seohyun.

“Aku harus duduk disamping pria aneh nan culun. Bayangkan dia selalu menempel disampingku saat pelajaran maupun sedang istirahat,” jawab Taeyeon.

“Bagaimana denganmu, Sooyeon eonni?,” tanya Seohyun.

“Same with Taeyeon eonni. Aku juga duduk disamping pria sok tampan, keren, dan kaya raya. Dia pikir aku akan tergoda dengan pria seperti itu? Never!,” jawab Sooyeon.

“Bagaimana denganmu, Seohyun-ah?,” tanya Taeyeon.

Seohyun terdiam. Apa ia harus menceritakan betapa malunya dirinya pada pria manis yang duduk disampingnya itu?

“T-Tidak ada yang terjadi. Semuanya berjalan baik,” jawab Seohyun.

>>>

Taeyeon baru saja masuk ke kelasnya. Tiba-tiba..

“Taeyeonnie!,”

“Aish, Baekhyun-ssi. Kau mengagetkanku saja!,” omel Taeyeon kesal.

“Maaf. Apa kau marah?,”

Taeyeon menghela napas berat, “Tidak. Aku tidak marah,” jawabnya.

Spontan, Baekhyun memeluk Taeyeon karena senang.

“YA! LEPASKAN AKU, BODOH!,”

>>>

“Perusahaan keluargaku terletak di Kanada dan China. Hebat, kan?,”

Sooyeon memutar kedua bola matanya. Kris masih saja senang mengatakan tentang dirinya. Sombong sekali, batin Sooyeon.

“Perusahaan kami sangat sukses. Makanya, aku sangat kaya. Jika kau menginginkan sesuatu, aku akan membelikannya untukmu,” ucap Kris.

“Tidak. Aku masih punya uang,” tolak Sooyeon.

“Tentu saja. Kau kan juga kaya raya,” seru Kris sambil tertawa.

Tidak lucu, batin Sooyeon kesal.

“Seperti di film-film yang ku tonton, kedua pengusaha akan menjodohkan anak-anak mereka. Dan perusahaan mereka berdua akan menjadi sangat besar. Itu seperti kita, kan? Kau menyadarinya?,”

“Oh my goodness! Kau itu sombong sekali, ya? Kau juga terlalu percaya diri. Aku tidak suka pria sepertimu. Dan kau pikir aku mau dijodohkan meskipun dengan pria terkaya di dunia sekalipun? Aku lebih menginginkan menikah dengan pria miskin tetapi kami saling mencintai,” seru Sooyeon lalu beranjak keluar dari kelas.

Kris terdiam sejenak. Ia menghela napas berat, “Maafkan aku, Sooyeon-ssi. Aku akan berhenti,” gumamnya.

>>>

Seohyun sedang membaca buku di tempat duduknya. Tiba-tiba, seseorang menyodorkan sebungkus cokelat untuknya.

Seohyun mendongak, “Terima kasih—KAU?,”

“Sebagai tanda perkenalan,” pria itu duduk di tempat duduknya yang berada disamping tempat Seohyun, “Namaku Luhan. Maaf sebelumnya kita belum berkenalan,” ucapnya.

Seohyun menggeleng, “Tidak apa-apa. Aku senang sekarang kita sudah berkenalan,”

“Benarkah?,”

Wajah Seohyun memerah, “Eh, namaku—,”

“Sudah tahu kok. Jung Seohyun, kan? Kau sudah mengenalkan dirimu kemarin,” ucap Luhan.

Seohyun semakin malu, “Kau benar,” ucapnya.

“Namaku Im Yoona,”

Seohyun menoleh kepada wanita yang duduk disampingnya, “Kau boleh memanggilku Yoona,” ucap Yoona,

“Yoona adalah sahabatku. Dia sangat cantik dan baik,” ucap Luhan.

“Berhenti memujiku, Lu,” ucap Yoona.

“Berhenti memanggilku Lu, rusa,” balas Luhan.

Seohyun terdiam dan menunduk. Mereka terlihat akrab, batinnya sedih.

>>>

Hari demi hari telah berlalu. Taeyeon terus-terusan diganggu oleh Baekhyun, untungnya dia masih bisa sabar. Seohyun terus-terusan memendam rasa cemburu melihat Luhan dan Yoona yang sangat dekat meskipun Seohyun dan Luhan juga sudah cukup dekat. Sedangkan Sooyeon, ia merasa sedikit kesepian karena semenjak Sooyeon mengomeli Kris pada hari kedua ia kuliah, Kris tidak pernah muncul lagi. Sudah satu bulan Kris tidak masuk. Bahkan kabar tentangnya pun tak terdengar.

Tiba-tiba, sesuatu yang mencengangkan muncul di media.

“Pengusaha besar di Korea Selatan, Jung Yunho terbukti telah melakukan suap kepada pengadilan untuk menjatuhkan sebuah perusahaan dari China. Perusahaan dari China itu pun menuntut agar Jung Yunho dipenjarakan dan hartanya diserahkan kepada negara,”

“APPA! JANGAN BAWA APPA KAMI!,” teriak Taeyeon sambil menangis.

“APPA!,” teriak Seohyun yang juga menangis.

“Maafkan appa, anak-anak. Appa telah mengecewakan kalian,” ucap Yunho.

Jung Yunho pun dibawa ke kantor polisi. Harta mereka habis tak tersisa. Dan sekarang, Taeyeon, Sooyeon, maupun Seohyun tak tahu harus tinggal dimana.

“Tinggalah di rumahku, Taeyeonnie,” ucap Baekhyun.

Taeyeon terdiam. Taeyeon tahu Baekhyun adalah orang miskin. Itu artinya, Baekhyun memiliki rumah kecil yang kumuh. Apa Taeyeon sanggup tinggal di rumah seperti itu?

Disisi lain, Luhan juga menawarkan Seohyun untuk tinggal bersamanya.

“Rumahku kecil, tapi paling tidak aku punya satu kamar lagi untukmu,” ucap Luhan.

“Apa Yoona juga tinggal di rumahmu?,” tanya Seohyun.

“Tentu saja tidak,” jawab Luhan.

Tanpa basa-basi, Seohyun langsung mengangguk setuju.

Sedangkan Sooyeon tidak tahu harus tinggal dimana. Teman-teman sekelasnya tidak ada yang ramah padanya. Sooyeon menyesal atas sikapnya yang begitu dingin sehingga tidak ada yang peduli padanya.

Tapi, sesuatu mengejutkan Sooyeon. Kris akhirnya masuk juga. Sooyeon pun langsung mengajak Kris keluar untuk berbicara empat mata.

“Tinggal di rumahku?,” tanya Kris kaget.

Sooyeon mengangguk, “Rumahmu besar, kan? Kau kaya raya, kan? Ijinkan aku tinggal di rumahmu,”

Kris menunduk, “Aku ingin jujur padamu, Sooyeon-ssi,”

“Jujur soal apa?,”

“Sebenarnya semua perkataanku tentang aku kaya itu hanyalah rekayasaku saja. Aku bukanlah orang kaya yang memiliki dua perusahaan besar. Mungkin dulu memang iya. Tapi, semenjak perusahaan dad bangkrut, kami hidup miskin,” jawab Kris.

Sooyeon sangat syok mendengar pernyataan dari Kris. Pupus sudah harapannya.

“Kau boleh tinggal di rumahku jika kau mau. Meskipun mungkin tidak pantas untukmu,”

>>>

Taeyeon, Sooyeon, dan Seohyun sudah cukup lama tinggal di rumah ketiga pria terdekat mereka. Meskipun awalnya tidak menerima, tapi akhirnya mereka mulai menerima untuk tinggal di rumah yang kecil. Mereka juga sadar kalau mereka bukan orang kaya lagi. Jadi, mereka harus bisa menerima keadaan.

Namun, sesuatu yang aneh muncul di hati mereka. Mungkin tidak aneh untuk Seohyun, tapi aneh untuk Taeyeon dan Sooyeon. Taeyeon jatuh cinta kepada Baekhyun, dan Sooyeon jatuh cinta kepada Kris. Tapi, mereka malu mengatakannya karena pasti Baekhyun atau Kris tak mau menerima mereka yang sudah bukan siapa-siapa lagi.

“Aku ingin jujur padamu, Baekhyun-ssi,”

“Ada apa, Taeyeonnie?,” tanya Baekhyun.

“Mungkin aku sedikit kurang ajar dan tak tahu diri, tapi aku rasa aku sudah jatuh cinta kepadamu,” ucap Taeyeon blak-blakan.

“Eh?,” Baekhyun masih mencerna perkataan Taeyeon.

“Aku memang bukan orang kaya lagi—,”

“Kaya atau tidak, itu tidak masalah bagiku,” Taeyeon menatap Baekhyun tak percaya, “Karena kau tetaplah Taeyeonnie-ku!,” tambah Baekhyun.

Taeyeon tersenyum lalu memeluk Baekhyun erat,

>>>

“Apa kau menyukai Yoona?,”

Luhan menoleh, “Kenapa bertanya seperti itu?,” tanyanya.

“Hanya bertanya,” jawab Seohyun.

“Dia hanya sekedar sahabat. Aku sedang menyukai orang lain,”

“S-Siapa?,” tanya Seohyun penasaran.

“Jung Seohyun,” jawab Luhan sambil tersenyum.

Seohyun kaget bercampur senang. Tapi, ia masih tak percaya. “Bagaimana mungkin kau menyukaiku yang miskin—,”

“Aku tidak pernah memandangmu miskin atau tidak. Aku jatuh cinta padamu bukan pada kekayaanmu,” ucap Luhan.

“Kau serius?,” tanya Seohyun.

Luhan mengangguk lalu mengecup dahi Seohyun, “Dan aku tahu, kalau kau juga menyukaiku,” ucapnya.

Wajah Seohyun memerah saat mendengar Luhan berkata seperti itu.

>>>

Kris sedang duduk di tepi sungai. Sooyeon menghampirinya dan duduk disampingnya.

“Selamat pagi, Sooyeon-ah!,”

Sooyeon tersenyum tipis sebagai balasannya, “Ngg—boleh aku bertanya?,”

“Apapun itu, aku akan menjawab,” jawab Kris.

“Kenapa kau membohongiku dengan berkata kau itu kaya raya?,” tanya Sooyeon.

“Karena ku pikir kau akan menyukai pria kaya jika aku mengaku kaya. Terdengar aneh, bukan? Tapi, setelah kau mengomeliku saat itu, aku sadar. Kau lebih memilih menikah dengan pria miskin. Aku pun memutuskan untuk jujur padamu,” jawab Kris.

“Dan mengapa kau tidak hadir selama sebulan?,” tanya Sooyeon.

“Aku sedang mengunjungi keluargaku di China. Kebetulan, aku baru gajian dari kerja sampingan. Jadi, uangnya aku gunakan untuk mengunjungi keluargaku di China,” jawab Kris.

“Hebat! Kerja sampingan!,” kagum Sooyeon.

“Aku akan mengajakmu melakukannya jika kau mau,” ucap Kris.

“Tentu saja aku mau,”

“Apa kau yakin? Bukankah tidak pantas kalau seorang puteri—,”

“Aku bukan lagi orang kaya, sama sepertimu. Kita sama. Dan aku mengaku, aku lebih menyukaimu seperti ini daripada yang dulu,” ucap Sooyeon.

“Apa? Kau menyukaiku?,”

Wajah Sooyeon memerah, “A-Aku—tidak—,”

“Aku juga menyukaimu, Jung Sooyeon. Sejak dulu,” ucap Kris lalu mencium pipi Sooyeon cepat.

“YA! KRIS!,”

Kris berlari jauh karena takut Sooyeon akan memukulnya. Sooyeon tersenyum lega. Akhirnya perasaannya tersampaikan. Dan yang paling penting, Kris maupun dirinya bisa saling menerima apa adanya.

    END

Review, come in!