Who I Love? (Chapter 6 – END)


Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
o SNSD’s Jessica as Jessica Jung
o EXO’s Sehun as Oh Sehun
o EXO’s LuHan as Xiao Lu Han
o EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol

Support Cast :
o SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
o SNSD’s YoonA as Im Yoona
o EXO’s Baekhyun as Byun Baekhyun
o SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
o EXO’s Xiumin as Kim Minseok
o etc

Genre : Fluff, Romance, Friendship

Length : Series

who-i-love

    Poster © pearlshafirablue
    ***

“Jangan terlalu berharap kepadanya, Jessica-ya. Lihat dan tataplah lelaki yang selalu berada di sampingmu, bukan lelaki yang membuatmu bahagia dalam waktu sekejap,”

Kata-kata yang dilontarkan oleh Oh Sehun kemarin benar-benar membuat Jessica terus-menerus memikirkannya. Sehun berkata seolah-olah ada orang lain yang mencintai Jessica. Tetapi, siapa orang itu? Jessica masih tidak dapat bisa menyimpulkannya karena hal ini terlalu membingungkan untuknya.

“Baru kemarin Sehun berbicara sehangat itu. Dia bersikap sangat peduli kepadaku. Dia juga pernah menciumku. Tapi, apa mungkin Sehun mencintaiku? Atau orang yang Sehun maksud adalah Chanyeol?,” gumam Jessica.

Jessica mengacak-acak rambutnya prustasi. Hal ini lebih membingungkan dibandingkan pelajaran sejarah maupun matematika baginya. Jessica masih seorang gadis muda yang baru mempelajari tentang cinta. Tapi, mengapa Tuhan memberikan cinta serumit ini kepadanya?

“A-Aku menyukai Luhan sunbaenim. Tapi, aku merasa nyaman di dekat Sehun meskipun kami selalu bertengkar. Sedangkan dengan Park Chanyeol, aku sudah terbiasa diganggu olehnya. Jadi, kalau dia tidak menggangguku, rasanya sepi sekali,” ucapnya.

Jessica mengusap wajahnya kasar, “Apa yang harus aku lakukan? Dan sebenarnya, siapa yang ku cintai?,”

>>>

Luhan sedang berjalan masuk ke dalam kelasnya. Ia meletakkan tasnya dan duduk di samping Minseok. Minseok mulai mengajaknya mengobrol dengan topik ringan. Tetapi, Luhan lebih tertarik untuk melihat Yoona yang terlihat sangat mencurigakan.

Yoona tengah memasukkan isolasi besar berwarna hitam dan juga tali ke dalam tasnya. Luhan mengernyit bingung. ‘Untuk apa Im Yoona membawa benda seperti itu?’, batinnya.

Yoona berjalan keluar dengan tas miliknya. Luhan sebenarnya penasaran, tapi ia tak ingin menghampiri Yoona karena masih tak enak dengan penolakan dirinya kemarin kepada Yoona.

“Jadi, bagaimana menurutmu, Xiao Lu?,” tanya Minseok.

“Eh?,”

Minseok mendesis kesal, “Kau tak mendengarkanku?,” tanyanya.

Luhan tersenyum kaku, “Maaf. Bisa kau ulang dari awal?,”

>>>

Pelajaran telah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Semua murid terlihat menikmati pelajaran di kelas itu. Namun, tidak dengan Jessica. Mendadak ia ingin buang air kecil.

Jessica berdiri, “Songsaenim, dapatkah saya pergi ke toilet?,” pintanya.

“Jung-ya ingin pergi ke toilet? Ku temani, ya?,” tawar Chanyeol.

PLETAKK!!

Chanyeol langsung mendapatkan tiga jitakan sekaligus dari Sehun, Baekhyun, dan Taeyeon. Disambut tawa ringan dari Seohyun.

“T-Tidak. Aku bisa sendiri,” jawab Jessica.

“Baiklah, Jessica-ssi. Silakan,” jawab guru itu.

Jessica membungkuk sopan dan keluar dari kelas tersebut. Sehun menatap kepergian Jessica dari kelas. Entah kenapa, perasaannya jadi tidak enak.

“Sehun-ah, kau baik-baik saja?,” tanya Seohyun.

Sehun mengangguk pelan, “Iya. Aku baik-baik saja,” jawabnya.

>>>

Tepat dengan perasaan buruk Sehun, Jessica tidak kembali ke kelas sampai waktu istirahat. Awalnya, Sehun berniat ingin menyusul. Tetapi, guru memberikan mereka tugas ekstra saat itu.

“Aku dan Seohyun akan mencoba mengecek di toilet,” ucap Taeyeon.

“Baiklah. Kami akan mencari di tempat lain,” ucap Sehun.

Kelima sahabat itu pun berpencar untuk mencari Jessica agar dapat mempersingkat waktu.

“Kenapa harus ke toilet? Bisa saja Sica tertidur di perpustakaan,” ucap Seohyun.

“Bagaimana kalau Jessica pingsan di toilet? Atau Jessica terkunci di toilet?,” tanya Taeyeon.

Seohyun menggeleng, “Jangan berkata seperti itu. Kau membuatku semakin cemas,” ucapnya.

Taeyeon menarik tangan Seohyun, “Cepat. Kita harus bergegas!,” serunya. Dan mereka pun berlari menuju toilet.

>>>

“Tidak ada di perpustakaan,” ucap Chanyeol.

“Biasanya kan dia tertidur disini,” ucap Sehun.

“Oh, no,” gumam Baekhyun sambil melihat ponselnya.

Sehun dan Chanyeol menatap Baekhyun bingung, “Ada apa?,” tanya Sehun.

“Taeyeon meminta kita ke toilet perempuan sekarang,” jawab Baekhyun.

“Jung-ya pasti sudah mereka temukan,” ucap Chanyeol senang.

Sehun pun segera berlari di ikuti Chanyeol dan Baekhyun. Entah mengapa, lari Sehun sangat kencang. Chanyeol dan Baekhyun sampai letih mengejarnya. Padahal Sehun tidak pandai dalam olahraga lari.

Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun bingung karena toilet perempuan dipenuhi oleh banyak murid. Mereka bertiga pun menerobos masuk melalui murid-murid itu.

“SICA!!,”

“J-Jung-ya?,”

“Jessica-ya,”

Mereka bertiga melihat Jessica berada di dalam pelukan Seohyun. Wajahnya sangat pucat, napasnya tak beraturan, pergelangan tangannya merah sekali.

Sehun berjongkok dan memegang pipi Jessica, “Apa yang terjadi?,” tanyanya.

“Kami menemukannya terkunci di toilet dalam keadaan tangan di ikat oleh tali dan mulutnya di plester oleh isolasi hitam,” jawab Taeyeon.

“APA??!!,” teriak Chanyeol dan Baekhyun kompak.

“Kita harus membawanya ke ruang kesehatan sekarang, Sehun-ah,” usul Seohyun.

Sehun mengangguk. Tanpa aba-aba, Sehun langsung menggendong Jessica dan keluar dari toilet perempuan di ikuti oleh teman-temannya. Murid-murid yang tadinya di situ pun mulai bubar. Termasuk senior tampan yang juga menyaksikan peristiwa itu.

“Yoona-ah, kau pelakunya, benar?,” gumamnya pelan sambil berjalan pergi.

>>>

Jessica terbaring lemah di atas ranjang di ruang kesehatan. Di sekelilingnya ada Sehun, Seohyun, Taeyeon, Chanyeol, dan Baekhyun. Mereka menemani Jessica bahkan melupakan waktu mulainya jam pelajaran kembali.

“Bagaimana perasaanmu? Sudah membaik?,” tanya Taeyeon.

Jessica mengangguk lemah, “Terima kasih sudah datang dan menyelamatkanku,” ucapnya.

“Sebenarnya, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu, Sica-ya?,” tanya Seohyun.

Jessica terdiam. Mulutnya ingin sekali memberitahu, tetapi tidak dengan hatinya. Jessica terlalu takut untuk memberitahu kejadian sebenarnya kepada teman-temannya. Ia tak ingin bermasalah lebih serius dengan si pelaku.

“Hey, ayo jawab,” pinta Sehun.

“Ah—Ngg—A-Aku tidak mengingat apapun. Sebelumnya, aku pingsan dan bangun. Ternyata aku sudah dalam keadaan seperti itu,” jawab Jessica berbohong.

Sehun menghela napas berat. Ia tahu betul kalau Jessica sedang berbohong. ‘Kau adalah pembohong yang buruk, Jessica Jung’, batinnya.

“Ya sudah. Yang penting Jessica selamat,” ucap Baekhyun lega.

“Setelah kejadian ini, aku berjanji akan selalu berada disampingmu, Jung-ya. Takkan ku biarkan siapapun melukaimu. Itu adalah janjiku,” ucap Chanyeol serius.

“Chanyeol-ah,” gumam Jessica tak menyangka.

Seohyun menatap Chanyeol dalam diam. Di dalam hatinya, ia merasa iri kepada Jessica. Chanyeol selalu memberikan perhatian lebih kepada Jessica. ‘Apakah aku benar-benar menyukai Chanyeol?’, batinnya.

“Aku juga akan menjagamu, Sica-ya. Tenang saja,” ucap Sehun hangat.

Jessica tersenyum senang, “Terima kasih, teman-teman,”

>>>

“Im Yoona!,”

Yoona yang sedang membaca buku dibawah pohon pun menoleh ke sumber suara. Ternyata Luhan berjalan ke arahnya. Yoona pun segera berdiri dan tersenyum manis kepada Luhan.

“Akhirnya kau menyapaku juga,”

“Tidak. Aku ingin berbicara serius padamu,” ucap Luhan serius.

Senyuman Yoona memudar, “A-Apa yang ingin kau bicarakan?,” tanyanya.

“Kau—pelakunya, kan?,” tebak Luhan.

Yoona langsung membeku di tempat. Meskipun Luhan tak memberitahu secara detail, tetapi Yoona sangat mengerti apa yang Luhan maksud.

Yoona tertawa paksa, “Kau berbicara apa, Luhan-ah? Pelaku apa?,” tanyanya.

“Tak usah berpura-pura kalau kau tak mengerti apa maksudku, Im Yoona. Aku melihat sendiri kau membawa tali dan isolasi hitam,” jawab Luhan.

Yoona langsung bersujud di kaki Luhan, membuat Luhan terperangah kaget dan bingung.

“Ya! Im Yoona! Apa yang kau lakukan?,”

“Maafkan aku, Luhan-ah. Aku melakukan ini karena aku cemburu. Aku tidak mau Jessica mendapatkanmu. Aku ingin hanya aku yang memilikimu,” ucap Yoona sambil menangis.

“Obsesimu padaku terlalu tinggi atau kau terlalu bodoh?,” tanya Luhan.

“Aku hanya gadis biasa yang mengharapkan balasan cintamu, Luhan-ah. Aku terlanjur dan terlalu mencintaimu. Apapun akan ku lakukan demi mendapatkanmu. Membunuh Jessica pun akan ku lakukan,”

“Kau sangat gila,”

“Ya. Aku memang gila. Karenamu, Xiao Lu Han,”

Bukannya marah atau pergi, Luhan malah mengeluarkan seringaiannya. Hal itu membuat Yoona mendongak dan menatap Luhan bingung.

“Kau tidak marah?,” tanya Yoona.

Luhan membungkuk dan menyamakan posisinya dengan Yoona, “Kau benar-benar ingin bersamaku?,” tanyanya.

Yoona mengangguk, “Tentu saja,” jawabnya.

“Dan kau akan melakukan apapun agar dapat bersamaku?,” tanya Luhan.

Yoona mengangguk mantap.

Luhan tersenyum misterius. Ia menangkup wajah Yoona dengan tangannya dan mulai melumat bibir Yoona. Tanpa menunggu, Yoona pun membalas lumatan dari Luhan. Untungnya tempat itu sangatlah sepi, jadi tak ada yang melihat mereka.

Luhan melepaskan ciuman panas itu dan menatap Yoona dalam, “Maukah kau melakukan sesuatu untukku?,” tanyanya.

“Tentu saja. Apapun yang kau mau, akan ku berikan dengan senang hati,” jawab Yoona.

Luhan tersenyum penuh kemenangan, “Bunuh Jessica untukku,” pintanya.

Yoona mengerjap kaget, “Kau serius? Bukankah kau—,” ucapan Yoona terputus saat Luhan meletakkan telunjuknya di bibir Yoona.

“Lakukan saja, jika kau mau bersamaku,” ucap Luhan.

Yoona mengangguk mantap, “Baiklah. Aku akan melakukannya untukmu,” ucapnya.

Minseok mengintip kejadian itu dari balik pohon. Ia mendengar semuanya. Kim Minseok hanya bisa menghela napas berat.

“Kasihan sekali kau, Yoona-ssi. Otakmu benar-benar telah dicuci oleh Luhan,” gumam Minseok pelan.

>>>

Sehun dan Seohyun baru saja pulang dari sekolah. Semenjak kejadian itu, Sehun meminta Jessica istirahat di rumah paling sedikit satu hari. Dan Jessica sama sekali tidak keberatan. Berada di rumah adalah tempat teraman bagi Jessica.

“Kami pulang,”

“Selamat datang,”

“Sica-ya, kondisimu sudah membaik?,” tanya Seohyun.

Jessica mengangguk, “Aku sudah dapat kembali beraktivitas,” jawabnya.

“Taeyeon, Baekhyun, dan Chanyeol titip salam kepadamu,” ucap Sehun.

“Mereka minta maaf tidak bisa menjengukmu karena mereka punya urusan pribadi,” tambah Seohyun.

Jessica tersenyum tipis, “Tidak apa-apa. Aku memakluminya, kok,” jawabnya.

Seohyun berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Sehun memilih untuk duduk di sofa. Jessica pun ikut duduk disampingnya.

“Kenapa kau tidak mau jujur?,” tanya Sehun.

“Eh?,” Jessica mengerjap bingung.

“Mumpung tidak ada siapa-siapa selain kita, lebih baik kau ceritakan padaku kejadian kemarin. Aku tahu kau mengetahuinya,” ucap Sehun.

“A-Aku—,”

Sehun menghela napas berat, “Apa aku harus memaksamu, eh?,”

“Apa?,”

Tanpa aba-aba, Sehun langsung mendekati Jessica. Jessica langsung mundur dan akhirnya ia terbaring di atas sofa dengan Sehun berada di atasnya. Wajah Jessica memerah panas karenanya.

“A-Apa yang k-kau lakukan?,” tanya Jessica gugup.

“Ceritakan padaku yang sebenarnya atau—,”

“A-Atau apa?, tanya Jessica takut.

Tanpa menjawab pertanyaan dari Jessica, Sehun langsung mencium bibir Jessica. Mata Jessica membulat besar saat itu juga. Sehun mulai melumat bibir Jessica dengan lembut, memberikan sensasi yang nyaman untuk Jessica. Jessica pun mulai terbuai dengan ciuman lembut dari Sehun, dan mulai memejamkan matanya dan membalasnya secara lembut dan pelan. Keduanya begitu menikmati momen tersebut.

Namun, di dalam ciuman tersebut, pikiran Jessica jadi berputar. Di mulai dari Sehun bersikap dingin padanya, memarahinya, memeluknya, menciumnya, bersikap hangat padanya, memuji kecantikannya, dan memperhatikannya. Semua itu telah membuat Jessica yakin kalau Sehun benar-benar mencintainya. Mungkin awalnya memang buruk. Tetapi, Jessica sering menonton drama-drama di televisi kalau cinta itu berawal dari benci. Dan Jessica telah merasakan hal itu. Jessica awalnya sangat membenci Sehun, begitu pula sebaliknya. Dan sekarang, setiap berada di dekat Sehun, jantung Jessica berdetak sangat cepat, wajahnya memerah, dan bahkan ia merasa nyaman berada di dekat Sehun.

‘Apakah aku mencintai Sehun?’

Sehun melepaskan ciumannya pada Jessica dan mengatur napasnya, begitu pula dengan Jessica.

“Kau tidak menyerah? Kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya padaku?,” tanya Sehun.

“Aku tidak bisa mengatakannya,” jawab Jessica.

“Kenapa?,” tanya Sehun.

Jessica melingkarkan tangannya di leher Sehun, membuat Sehun terperanjat kaget. Tak pernah Jessica melakukan hal seperti ini. Apalagi, Sehun tahu kalau Jessica menyukai Luhan, bukan dirinya.

“Lebih baik, kita melupakan kejadian kemarin,” jawab Jessica.

“J-Jessica-ya-hmm!,” kalimat Sehun terputus saat Jessica menarik lehernya dan mencium bibir Sehun. Sehun tak menyangka, kali ini Jessica lah yang memintanya. ‘Apakah Jessica juga mencintaiku?’, batinnya.

“Ahem!,”

Keduanya saling melepaskan ciuman mereka dan menatap ke sumber suara. Mereka melihat Seohyun berkacak pinggang sambil menatap mereka kesal.

“Kalian ini tidak jera, ya? Kalian ingin mendapatkan hukuman lagi?,” tanya Seohyun.

“TIDAK!!,” jawab mereka serempak lalu segera berlari ke kamar masing-masing.

Seohyun tersenyum melihat tingkah mereka yang begitu kompak, “Ah! Mereka benar-benar cocok. Tapi, aku tak bisa membiarkan mereka berciuman terus. Takutnya nanti mereka akan berakhir di ranjang sungguhan. Ah, mereka kan harus lulus sekolah dulu baru menikah dan punya anak. Tidak boleh sekarang!,” serunya.

>>>

“Jadi, kalian berpacaran?,” tanya Taeyeon.

“T-Tidak!,” bantah Jessica dan Sehun kompak.

“Bohong. Aku melihat sendiri mereka berciuman panas sambil bertindih-tindihan di atas sofa. Kalau tidak ku cegat, pasti Jessica sudah hamil sekarang,” ucap Seohyun.

“KAU BERLEBIHAN!!,” teriak Jessica dan Sehun kesal.

“Sudahlah. Akui saja kalau kalian itu berpacaran,” ucap Baekhyun.

“Tidak bisa! Sehun belum menyatakan cintanya padaku,” ucap Jessica.

“Oh, jadi kau ingin Sehun menyatakan cintanya kepadamu?,” goda Taeyeon.

Wajah Jessica langsung memerah seperti kepiting rebus, “T-Tidak kok!,” bantahnya.

“Sehun-ah, kenapa kau tidak menyatakan cintamu pada Jung-ya? Bukankah kalau dua orang berciuman itu sudah jelas saling menyukai?,” tanya Chanyeol.

“Kau tidak cemburu?,” tanya Baekhyun.

“Ah, tidak. Jika Jung-ya senang, aku pun juga senang,” jawab Chanyeol.

Seohyun tersenyum senang mendengar jawaban dari Chanyeol.

“Sehun-ah, tunggu apa lagi? Ayo nyatakan cintamu pada Jessica!,” seru Baekhyun.

“A-Aku—,”

“Selamat pagi,”

Keenam sahabat itu menoleh ke sumber suara, “LUHAN?!!,” pekiknya.

“Apa yang kau lakukan di kelas kami, sunbaenim?,” tanya Taeyeon.

“Aku ingin berbicara dengan Jessica sebentar. Bisa, kan?,”

“T-Tentu saja,” jawab Jessica. ‘Jika aku bersama Luhan sunbaenim, Yoona sunbaenim tidak akan menggangguku. Dia takkan berani melakukan itu’, batinnya.

Sehun menahan Jessica, “Mau ku temani?,” tawarnya.

“Tidak perlu. Aku kan bersama Luhan sunbaenim,” jawab Jessica.

Luhan dan Jessica pun keluar dari kelas tersebut. Luhan berjalan di depan dan Jessica mengikuti dari belakang. Jauh sekali mereka berjalan hingga menuju ke belakang sekolah. Jessica merasakan firasat buruk di pikirannya.

“A-Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan, Luhan sunbaenim?,” tanya Jessica.

“Aku ingin memberitahumu tentang rahasia antara keluargaku dengan keluarga Oh,” jawab Luhan.

‘Keluarga Oh? Keluarga Sehun, kan?’, batin Jessica.

“Kau pasti sering dilarang oleh Sehun untuk berbicara maupun dekat denganku,” ucap Luhan.

“Benar,” jawab Jessica.

“Ayahku adalah seorang psikolog terkenal. Beliau bekerja sama dengan perusahaan milik ayah Sehun. Kerja sama mereka terbilang baik dan sangat untung. Suatu hari, perusahaan milik ayah Sehun bangkrut. Ayahku dituduh karena menjadi penyebab kebangkrutan ini karena ayahku telah menghipnotis ayah Sehun dan karyawan-karyawannya. Ayahku pun di hukum masuk penjara selama lima belas tahun. Setelah kepergian ayahku, anehnya perusahaan mereka kembali memuncak. Ayahku mencoba kabur hanya untuk memberikan ucapan selamat, namun ayahku di bunuh oleh penjaga ayah Sehun. Semenjak itulah, keluargaku dan keluarganya tidak akur. Satu tahun kemudian, orangtua Sehun kecelakaan. Kami merasa sangat senang karena ayah Sehun telah mendapatkan balasannya. Tapi, aku belum puas karena Sehun masih ada di dunia ini. Aku tidak berniat untuk membunuhnya, menurutku membunuh itu tidak menyiksa batinnya. Aku ingin membuat ia kehilangan orang yang ia sayangi seperti aku kehilangan ayahku,” ucap Luhan.

“Dia sudah kehilangan ayahnya. Kalian sama sekarang, kan?,” tanya Jessica.

“Tidak. Dia tidak merasakan kepedihan seperti yang aku rasakan. Dia tidak merasakan seperti aku harus menunggu ayahku sekian tahun untuk melihatnya keluar dari sel tahanan. Ku pikir setelah beliau kabur, aku akan membawanya pergi dari Seoul dan kembali ke Beijing dan aku bisa selalu bersamanya. Tapi, ternyata aku salah. Beliau sudah tak bernyawa. Hebat, kan, keluarga Oh itu?,” ucap Luhan sambil tertawa.

“S-Sunbaenim,” gumam Jessica takut.

“Maafkan aku, Jessica-ssi. Aku membuatmu terlibat dalam masalahku. Tapi, aku melakukan ini karena aku tahu Sehun sangat mencintaimu, melebihi cintanya pada Seohyun,” ucap Luhan.

“Maksudmu, kau ingin membunuhku?,” tanya Jessica tak percaya.

Luhan menggeleng, “Bukan, bukan aku. Tapi—,”

“AKU!!,” teriak Yoona yang baru saja keluar dari balik pohon dengan pedang di tangannya dan mengarahkannya ke Jessica, namun..

Pedang lain menghalangi pedang milik Yoona. Dan pengendali pedang itu adalah Oh Sehun yang berada di depan Jessica sekarang.

“Sehun-ah,” gumam Jessica senang.

“Minggir kau, Oh Sehun!,” perintah Yoona.

“Jangan sentuh kekasihku,” ucap Sehun, yang langsung membuat Jessica kaget.

Sehun dan Yoona pun mulai bertarung dengan pedang mereka. Meskipun Yoona seorang perempuan, tetapi permainan pedangnya tak terkalahkan.

Luhan berdecak kesal melihat kejadian ini. Baru saja ia ingin membunuh Jessica dengan tangannya sendiri, namun Minseok menahannya.

“Hyung?,” pekik Luhan kaget.

“Hentikan kekonyolan ini, Luhan-ah,” pinta Minseok.

“Tidak. Dia harus merasakan apa yang ku rasakan,” ucap Luhan.

“Tapi, kau berlebihan, Xiao Lu Han! Kau gila! Dendam telah membutakan matamu!,” bentak Minseok.

“Aku tidak peduli. Lepaskan aku atau kau terlibat dalam pertarungan ini?,”

“Hentikan!,”

Semuanya menoleh ke sumber suara. Ternyata sekumpulan polisi telah datang di ikuti Taeyeon, Baekhyun, Chanyeol, dan Seohyun.

“Xiao Luhan! Im Yoona! Kalian kami tangkap,” ucap ketua dari polisi itu.

“Apa?,” pekik Luhan dan Yoona.

Mereka berdua pun di borgol oleh polisi-polisi itu.

“Aku tidak akan di penjara, kan?,” tanya Yoona.

“Kau akan di penjara karena kau telah berniat membunuh orang,” jawab polisi itu.

“Luhan-ah,” gumam Minseok.

“Tidak apa-apa, hyung. Kau benar. Dendam telah membutakan mataku,” ucap Luhan.

Luhan dan Yoona pun dibawa oleh sekelompok polisi itu. Minseok menghela napas berat dan tersenyum tipis. ‘Semoga dengan begini, kau bisa berubah menjadi Luhan yang ceria seperti dulu’, batinnya.

“Syukurlah kau baik-baik saja, Sica-ya,” ucap Seohyun seraya memeluk Jessica.

“Bagaimana kalian bisa ada disini?,” tanya Jessica.

“Sehun penasaran dan mengajak kami untuk mengikutimu,” jawab Baekhyun.

“Aku tak menyangka Luhan sunbaenim ingin membunuhku. Ternyata, selama ini dia—,”

“Maaf. Ini semua salahku. Karena ayahku, aku dan Luhan menjadi musuh. Padahal saat kecil, aku dan Luhan adalah sahabat,” ucap Sehun.

“Kau tidak salah, Sehun-ssi. Luhan yang salah. Ia tak mengetahui cerita yang sebenarnya,” ucap Minseok.

“Minseok sunbaenim?,”

“Sebenarnya, ayah Luhan lah yang salah. Ayahku mengetahui cerita yang sebenarnya dan memberitahuku tapi beliau memintaku untuk tak memberitahu Luhan,” ucap Minseok.

“Jadi, bagaimana cerita yang sebenarnya?,” tanya Jessica.

“Ayah Luhan memang bersalah. Pertama, beliau menghipnotis ayah Sehun dan seluruh karyawannya lalu mengambil uang milik perusahaan. Kedua, beliau kabur dari penjara untuk balas dendam pada ayah Sehun. Hampir saja beliau menusukkan pisau ke perut ayah Sehun kalau saja penjaga tidak menghentikannya dan menusuk balik ke perut beliau. Sayangnya, setelah kejadian itu, keluarga Oh maupun keluarga Xiao menutup rapat cerita ini. Cerita yang Luhan ceritakan padamu tadi adalah cerita yang dibuat-buat oleh masyarakat saja,” jawab Minseok.

“Jadi, begitu,” gumam Sehun.

“Terima kasih, sunbaenim. Kau sangat baik,” ucap Jessica.

“Tidak masalah. Dan, untuk Sehun-ssi,”

“Ya?,” sahut Sehun.

“Jaga kekasihmu. Jangan sampai hal ini terulang lagi,” ucap Minseok.

Sehun tersenyum, “Pasti!,” jawabnya.

“Eh? Siapa yang kau sebut kekasihmu?,” tanya Jessica tak terima.

“Tentu saja kau. Memangnya siapa lagi?,”

Wajah Jessica memerah, “T-Tapi, kau kan tidak menyatakan cinta kepadaku. Lagi pula, aku tidak bilang kalau aku mau menjadi kekasihmu,” ucapnya.

“Apakah caramu menciumku kemarin bukan berarti kau juga mencintaiku, eh?,” goda Sehun.

Wajah Jessica semakin memerah, “Apa? Ya! Kau ini!,” ia pun memukuli lengan Sehun. Sedangkan Sehun menanggapinya dengan tertawa. “Apa yang lucu?,” protes Jessica karena Sehun tak henti tertawa.

Taeyeon dan Baekhyun saling merangkul dan tertawa. Sedangkan Chanyeol dan Seohyun saling melemparkan senyuman. Minseok menghela napas lega karena semuanya telah berakhir. Kini, Minseok yakin, Sehun dan Luhan bukan lagi musuh seperti dulu. Sehun pasti mau memaafkan Luhan.

    END

Jaaaaaa~! Fic ‘gaje’ gue akhirnya selesai. Jangan lupa komentarnya, ya?

(Request FF) – Love Rival


Title : Love Rival

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
o SNSD’s Jessica as Jessica Jung
o EXO’s LuHan as Xiao Luhan
o SNSD’s Seohyun as Seo Joohyun
o SNSD’s YoonA as Im Yoona

Support Cast :
o EXO’s Kris as Kris Wu
o EXO’s Sehun as Oh Sehun
o EXO’s Chanyeol as Park Chanyeol
o SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
o SNSD’s Sooyoung as Choi Sooyoung
o etc

Genre : School-life, Friendship, Romance

Length : Oneshot

A/N : Fic ini merupakan ‘Request FF’ dari Jessie. Hopefully you like this story! It’s for you and my lovely readers. Enjoy^^

    ***

Suatu hari, di sebuah sekolah seni terpopuler di Korea Selatan—School of Performing Art—, ada tiga murid perempuan yang sangat populer bahkan tidak hanya di sekolah itu saja, tetapi mereka juga terkenal di seluruh sekolah di Korea Selatan. Mereka bertiga adalah puteri dari tiga konglomerat besar di Korea Selatan. Kecantikan mereka juga membuat semua orang berdecak kagum dan para murid lelaki tiada henti mengejar mereka. Mereka bertiga adalah Jessica Jung, Im Yoona, dan Seo Joohyun.

“I-Itu Jessica, Yoona, dan Joohyun telah tiba!,” seru seorang murid lelaki.

Para murid lelaki yang tadinya berada di dalam sekolah pun segera berlari ke halaman sekolah untuk menyambut tiga murid pujaan mereka itu.

Seperti biasa, Jessica berjalan paling depan dengan kecantikan mematikannya. Meskipun Jessica hanya sibuk memainkan tabletnya dan mengenakan earphone di sepasang telinganya tanpa memandang para penggemarnya itu, Jessica sudah berhasil membuat jantung para penggemarnya berdebar-debar. Dibelakangnya, Yoona dan Joohyun berjalan mengekorinya. Seperti biasa, Yoona dengan kecantikannya yang menyegarkan memasang senyuman ramahnya kepada para murid lelaki itu, sedangkan Joohyun berjalan disamping Yoona dengan menunduk malu. Meski begitu, Joohyun tetap dipuja oleh para penggemarnya. Meskipun di antara mereka bertiga, Joohyun lah yang paling sedikit memiliki penggemar.

Jessica, Yoona, dan Joohyun berjalan menuju kelas mereka di ikuti para penggemar mereka. Hal itu membuat para murid perempuan sangat iri dan kesal.

“Ah, lihat. Tiga tuan puteri telah tiba,” ucap Yuri—salah satu dari murid perempuan yang membenci Jessica, Yoona, dan Joohyun—kesal.

Sooyoung—sahabat Yuri—menghela napas kasar, “Mengapa hanya mereka memiliki kecantikan dan kekayaan yang begitu besar? Dunia ini sungguh tidak adil,” ucapnya tak kalah kesal dan iri.

“JESSICA-YA~!!!!,” teriak seorang murid lelaki bertubuh tinggi yang baru saja keluar dari ruang kelasnya seraya menghampiri Jessica bersama kedua sahabatnya itu.

“My Channie!,” pekik Sooyoung kesal.

“Ya! Jangan menghalangi jalanku, Park Chanyeol!,” bentak Jessica seraya memasukkan tablet dan earphone miliknya ke dalam tas.

“Aku kan hanya ingin menyambut kedatangan tuan puteri ku yang cantik ini,” ucap Chanyeol.

Jessica memutar bola matanya, “Jika kau masih menghalangi jalanku, akan ku pastikan ini adalah pertemuan terakhir kita,”

Chanyeol tersentak kaget, “Apa? T-Tidak! Oke, aku akan pergi. Sampai jumpa, sayang!, ucapnya lalu segera pergi dari hadapan Jessica.

“Sayang, sayang. Seenak jidatnya saja memanggilku dengan panggilan seperti itu,” gerutu Jessica kesal, lalu kembali berjalan.

Yoona hanya terkekeh pelan lalu mengikuti Jessica bersama Joohyun.

>>>

Jessica dan Yoona duduk berdua, sedangkan di belakang mereka adalah tempat Joohyun. Joohyun duduk hanya sendiri saja karena Joohyun merupakan tipe gadis pendiam dan pemalu. Meski begitu, Joohyun merupakan murid terpintar di sekolahnya. Jessica dan Yoona selalu bergantung padanya jika mereka harus bertemu dengan pelajaran yang sulit.

Tepat di sebelah kanan tempat Jessica dan Yoona, ada dua murid lelaki terpopuler di sekolah seni tersebut. Mereka adalah Kris Wu dan Oh Sehun. Sebenarnya, Park Chanyeol juga murid lelaki terpopuler di sekolah tersebut dan dia adalah sahabat dari Kris Wu dan Oh Sehun. Hanya saja Chanyeol dan Kris sering bertengkar karena mereka sama-sama menyukai Jessica, sedangkan Sehun sangat menyukai Yoona. Oh ya, Park Chanyeol juga berada di kelas yang berbeda dengan mereka.

Sedari tadi dan seperti biasa, Kris dan Sehun sedang memandangi pujaan hati mereka—Jessica dan Yoona. Mungkin jika murid perempuan lain yang dipandang seperti itu akan bahagia. Tapi, tidak dengan Jessica dan Yoona. Terutama Yoona yang sangat dan selalu merasa risih jika dipandangi oleh Sehun.

“Sica-ah, aku sangat merasa tidak nyaman dengan posisiku sekarang. Bisa bertukar tempat?,” bisik Yoona.

Jessica meletakkan buku yang ia baca ke meja dengan sedikit keras, lalu menatap sahabatnya itu. “Ini sudah kesekian-kalinya kau berkata seperti itu, Yoona-ah. Kau tidak perlu mempedulikannya. Anggap saja dia itu adalah sebuah bongkahan es yang baru saja di buang ke jurang terdalam di seluruh dunia,” balasnya, lalu kembali membaca bukunya.

Yoona mendesis kesal, “Imajinasimu terlalu buruk, Jessica Jung,” cibirnya.

“S-Su-Sudahlah, Yoona-ssi, Jessica-ssi. Kalian jangan b-bertengkar,” ucap Joohyun yang berada di belakang mereka.

“Aku dan Jessica tidak sedang bertengkar, Seo Joohyun. Apa kau tak mengerti?,” tanya Yoona lembut seperti biasa. Yoona memang tidak pernah bersikap tidak ramah kepada semua orang kecuali kepada Jessica.

Joohyun menunduk, “M-Maafkan aku, Yoona-ssi,” ucapnya.

Yoona tersenyum manis, “Kau ini selalu saja meminta maaf. Padahal kau tidak salah apa-apa. Dan juga, kau selalu memanggilku dan Jessica dengan formal. Kita ini kan sahabat? Tidak perlu seformal itu,” ucapnya.

“M-Maaf. A-Aku merasa nyaman seperti itu,” ucap Joohyun.

Yoona menghela napas kecil, “Baiklah. Jika itu membuatmu nyaman, Joohyun-ah,” ucapnya.

Joohyun tersenyum lega. Yoona memang selalu mengerti akan dirinya. Tidak seperti Jessica yang selalu tidak peduli dengan keadaan. Meski begitu, Joohyun tetap sangat menyayangi Jessica. Karena keluarga Jessica lah yang membantu bisnis keluarganya tetap memuncak. Dan Jessica sendiri yang meminta kepada orangtuanya untuk membantu bisnis keluarga Joohyun.

“Oh! Yoona-ku sangat baik hati. Seperti malaikat!,” seru Sehun.

“Kau ini sepertinya telah tertular oleh Chanyeol, ya? Sikapmu sangat menjijikan sekali,” komentar Kris.

“Aku tidak akan bersikap seperti ini di depan Yoona. Aku tahu, aku harus tetap menjaga image-ku. Lagi pula, kau yang selalu bersikap sok keren tetap tidak di lirik oleh Jessica,” ucap Sehun.

Kris langsung memukul kepala Sehun, “Kau ini bicara apa? Itu artinya, Jessica adalah tipe gadis terhormat. Ia tidak mudah tergoda dengan berbagai macam lelaki, meskipun dengan lelaki tampan seperti aku sekalipun,” ucapnya.

Sehun mengusap kepalanya, “Iya. Iya. Gadis pujaanmu memang luar biasa. Aku saja merasa pesimis jika disuruh untuk mendapatkannya,” ucapnya.

“Tentu saja kau pesimis. Kau kan tidak tampan seperti aku,” ucap Kris percaya diri.

Sehun hanya diam dengan raut wajah kesalnya. Di dalam hati, ia sedang sibuk mengutuki sahabatnya itu.

Tiba-tiba, seorang guru masuk di ekori seorang murid lelaki asing di kelas itu. Meskipun asing, tetapi semua murid perempuan langsung berteriak histeris melihat wajah murid lelaki itu. Termasuk Jessica dan Yoona sekalipun. Tapi, tidak dengan Joohyun. Well, she’s shy girl, isn’t? Tapi, di dalam hati, Joohyun sangat mengagumi lelaki itu.

“Dia tampan,” gumam Joohyun pelan.

“Manisnya!,” seru Yoona.

“A-Aku tidak pernah melihat lelaki sesempurna dia,” ucap Jessica grogi.

Melihat dua murid perempuan terpopuler itu juga terpikat, semua murid laki-laki maupun perempuan di kelas tersebut menghela napas berat. Bagi para lelaki, mereka merasa semakin jauh untuk menggapai idola mereka. Sedangkan bagi para perempuan, mereka merasa sangat tersaingi oleh dua murid cantik itu.

“Bisa tenang sebentar? Jika tidak, kalian tidak akan mengetahui identitas murid baru kita ini,” ucap guru itu.

Semua murid pun tenang dalam sekejap. Meskipun ada sedikit terdengar helaan napas berat dari para lelaki.

“Selamat pagi, semuanya. Nama saya Xiao Luhan. Kalian boleh memanggil saya Luhan. Saya adalah murid pindahan dari China. Saya harap, kita bisa berteman baik. Terima kasih,” ucap murid lelaki itu memperkenalkan diri.

“Nah, Luhan-ssi, kau boleh duduk di kursi yang kosong,”

“Baiklah,”

“Yoona-ah, cepat kau pindah tempat ke belakang. Kau duduk dengan Joohyun saja,” perintah Jessica.

“Enak saja. Kau saja yang pindah. Jadi, Luhan bisa duduk disampingku,” balas Yoona.

“Apa? Beraninya kamu!,”

“Memangnya aku takut padamu?,”

Kedua sahabat itu pun bertengkar. Kris dan Sehun mencoba melerai. Murid-murid lainnya mulai mengadakan taruhan dan berteriak mendukung salah satunya. Sedangkan guru yang berada di depan hanya bisa geleng-geleng kepala.

Luhan melewati sekumpulan murid-murid yang asik menonton pertengkaran antara Jessica dan Yoona lalu duduk disamping Joohyun. Joohyun terperangah saat Luhan sudah duduk disampingnya.

“K-Kau duduk di-disini?,” tanya Joohyun gugup.

“Iya. Boleh, kan?,” balas Luhan dengan senyuman terbaiknya.

Wajah cantik Joohyun memerah seperti kepiting rebus. Hal itu membuat Luhan mengacak-acak rambut Joohyun dengan gemas. Joohyun pun merasa semakin panas dan salah tingkah.

“Kau itu manis sekali. Aku jadi tertarik,” ucap Luhan.

“Eh?,”

Joohyun menundukkan kepalanya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Ia harap, Luhan tidak mendengar suara jantungnya tersebut.

>>>

Waktu istirahat telah tiba. Semua orang melakukan aktivitas mereka masing-masing. Jessica dan Yoona memilih makan di kantin, sedangkan Joohyun memisahkan diri dengan pergi ke perpustakaan.

“Uh, ini semua karena kau, Yoona-ah. Luhan jadi harus duduk dengan Joohyun. Padahal, aku tahu sekali kalau Luhan itu sangat menginginkan duduk disampingku. Dari awal dia masuk kelas, dia selalu memperhatikanku. Aku tahu dia sangat mengagumi kecantikanku,” ucap Jessica.

Yoona memutar bola matanya, “Luhan itu tidak sedang memandangmu. Matamu saja yang rabun. Jelas sekali kalau Luhan itu memandangiku dan terpesona oleh kecantikan alamiku, bukan dengan kecantikan make-up mu itu,” balasnya.

“APA? KECANTIKANKU INI ALAMI, NONA BERTUBUH KURUS!,” teriak Jessica kesal.

“KECANTIKANKU LEBIH ALAMI, NONA BERTUBUH PENDEK!,” teriak Yoona tak kalah kesal.

“Sudah, sudah! Jangan bertengkar demi memperebutkanku, Sica-ya, Yoona-ssi!,” ucap Chanyeol.

“SIAPA YANG MEMPEREBUTKANMU???!!,” teriak Jessica dan Yoona kepada Chanyeol hingga lelaki bertubuh tinggi itu harus terpental(?) ke lantai.

“Dasar, si bodoh itu,” cibir Kris.

“A-Aku tidak akan bersikap sepertinya lagi,” ucap Sehun takut.

Yuri tertawa senang melihat kejadian itu, “Ini kejadian langka. Dua sahabat bertengkar. Aku merasa berada di surga,” ucapnya.

Tapi, tidak dengan Sooyoung. Gadis itu sedang menggigit baju seragamnya dengan raut wajah sedih, “My Channie! Kasihan sekali dia harus menjadi korban angin puting beliungnya Jessica-ssi dan Yoona-ssi,” ucapnya.

Yuri menatap sahabatnya itu aneh, “Imajinasimu terlalu buruk, Sooyoung-ah,”

>>>

Joohyun sedang membaca buku sejarah di perpustakaan. Tiba-tiba, ia merasa seseorang duduk disampingnya. Dengan takut, Joohyun menoleh perlahan.

“Lu-Luhan-hmmm!,” hampir saja Joohyun berteriak keras jika Luhan tidak membungkam mulut gadis cantik itu. Bukan apa-apa, hanya saja Luhan tidak ingin mereka berdua dimarahi oleh penjaga perpustakaan lalu di usir.

Dengan perlahan, Luhan melepaskan dekapan tangannya di mulut Joohyun. Joohyun kini sangat malu karena bibirnya baru saja disentuh oleh telapak tangan yang lembut milik Luhan.

“M-Maaf,” ucap Luhan.

“T-Tidak. A-Aku yang seharusnya me-meminta ma-maaf,” ucap Joohyun.

Luhan tersenyum, dan bagi Joohyun itu adalah senyuman terindah yang pernah ia lihat. Luhan mengacak rambut Joohyun pelan, “Kau sangat menggemaskan. Berbeda dengan gadis yang lain. Aku jadi semakin tertarik,”

“Eh?,” dan wajah Joohyun kembali memerah.

“Nah, wajah memerahmu muncul lagi. Sepertinya wajahmu yang seperti ini akan menjadi wajah favoritku. Boleh ku foto?,”

Joohyun menggeleng cepat, “T-Tidak boleh. M-Maaf,”

Luhan tertawa pelan, “Aku hanya bercanda kok. Dan, jangan berkata maaf terus. Aku bosan mendengarnya,” ucapnya.

Joohyun menundukkan wajahnya. Ia sangat malu dengan lelaki di hadapannya itu. Seolah-olah, Luhan datang dan memberikan banyak harapan untuknya. Dan Joohyun tak ingin hanya sekedar harapan.

>>>

Satu minggu telah berlalu. Hubungan Joohyun dan Luhan semakin dekat saja. Meskipun Joohyun memang selalu gugup jika berada di dekat Luhan. Sedangkan Jessica dan Yoona tidak berhenti bertengkar dan mencoba berbagai cara untuk mendekati Luhan. Tetapi, Luhan selalu menanggapinya dengan bercanda.

“Argh! Susah sekali mendapatkan Luhan. Aku tak percaya Luhan tak luluh padaku,” gerutu Jessica kesal.

“Aku juga tidak percaya. Padahal aku selalu bersikap ramah padanya. Biasanya, kan, setiap lelaki menyukai tipe gadis yang ramah,” ucap Yoona.

“Tidak semua lelaki menyukai tipe gadis ramah. Buktinya, penggemarku lebih banyak darimu. Padahal kan aku selalu bersikap dingin pada mereka,” ucap Jessica.

“Iya, iya. Terserah apa katamu saja. Aku lelah bertengkar denganmu setiap hari,” ucap Yoona.

Jessica menghela napas berat, “Aku juga. Tapi, menurutmu, apakah ada yang aneh dengan Joohyun?,”

“Kau juga berpendapat seperti itu?,” tanya Yoona.

Jessica mengangguk, “Dia menjadi sering memisahkan diri dengan kita. Padahal, ia tak pernah seperti itu sebelum Luhan datang,”

“Dan anehnya, di saat yang sama, Luhan juga tidak ada,” ucap Yoona.

Jessica menggigit bibirnya, “Jangan bilang kalau mereka..,”

Yoona menggeleng cepat, “Tidak! Tidak mungkin Joohyun mengkhianati kita,” ucapnya.

Jessica mendesis, “Mungkin saja, kurus. Kau saja mau mengkhianatiku demi mendapatkan Luhan, apalagi Joohyun,” ucapnya.

“Tapi, Joohyun bukan tipe yang seperti itu. Lagi pula, Joohyun tidak pernah tertarik pada lelaki,” ucap Yoona.

“Tentu saja kita tidak tahu. Joohyun itu kan jarang sekali mau bercerita kepada kita. Apalagi tentang perasaannya,” ucap Jessica.

Yoona mengangguk pelan, “Benar juga, ya,” ucapnya setuju, “Jadi, kita harus bagaimana?,” tanyanya.

“Ya, bagaimana lagi? Tentu saja kita harus memastikan kebenarannya besok,” jawab Jessica.

>>>

Joohyun sedang membaca buku di kantin. Tetapi, ia tak bisa senyaman biasanya karena kedua sahabat yang ada dihadapannya itu sedang menatapinya dengan tatapan tajam mereka. Joohyun bergedik ngeri, apalagi ia baru pertama kali melihat Yoona bersikap seperti itu kepadanya.

“T-Teman-teman, a-ada apa?,” tanya Joohyun takut.

“Tell the truth,” Jessica mendekatkan wajahnya sedikit ke wajah Joohyun, “Are you like Luhan?,” tanyanya.

Seketika Joohyun membeku saat itu juga. Ia tak dapat mengeluarkan satu kata pun.

“Hm. Right. Seo Joohyun likes Luhan. See, Im Yoona? Dugaanku selalu benar,” ucap Jessica.

“A-Aku—,”

“Joohyun-ah, aku tidak percaya. Ternyata kau lebih jahat dari Jessica. Kau mengkhianatiku secara diam-diam. Ku pikir sainganku hanya Jessica, ternyata kau juga turut serta. Bahkan selama ini, kau lah yang paling dekat dengan Luhan,” ucap Yoona kecewa.

“Yoona-ssi, a-aku tidak—,”

“Tidak perlu mengelak, Seo Joohyun! Kalau kau menyukai Luhan, mengapa kau tak pernah mengatakannya kepada kami? Kalau kami mengetahuinya, kami kan bisa membantumu untuk mendapatkannya,” ucap Jessica.

“Eh?,” Joohyun mengerjap bingung.

Yoona dan Jessica saling memandang, dan seketika tertawa lepas.

“Astaga! Aktingmu benar-benar jelek, kurus,” ucap Jessica di sela tawanya.

“Kau pikir aktingmu bagus, pendek?,” balas Yoona di sela tawanya.

“K-Kalian—,”

“Jangan mengira kalau kami marah padamu, Joohyun-ah. Kami tahu kalau kau tak pernah merasakan cinta. Jadi, kami merasa senang sekali saat mengetahui Joohyun kami sudah jatuh cinta pada lelaki di sekolah ini,” ucap Yoona.

“Kalian tidak marah?,” tanya Joohyun takut.

“Sebenarnya kami marah karena kau tidak terang-terangan mengatakan hal ini kepada kami. Tapi, kami tahu kau sangat tertutup bahkan kepada sahabat-sahabatmu. Jadi, kami memakluminya,” jawab Jessica.

“Lagi pula, kami tidak mempermasalahkan siapa yang akan mendapatkan Luhan. Yang terpenting, kita tetap bersahabat. Lelaki di dunia ini kan banyak. Aku dan Jessica memiliki banyak penggemar. Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan,” ucap Yoona.

Joohyun menunduk, “Tidak. Kalian salah,” ucapnya.

Jessica dan Yoona menatap Joohyun bingung, “Apa maksudmu?,” tanya mereka serempak.

“Sebenarnya..,”

“Joohyun-ah,” panggil Luhan.

Joohyun menoleh dengan malu-malu, “A-Ada apa, Luhan-ssi?,” tanyanya.

Luhan terlihat gelisah sendiri, “Aish. Aku harus jujur atau tidak, ya?,” gumamnya.

Joohyun mendengar jelas gumaman lelaki yang ia kagumi itu. Jantung Joohyun semakin berdebar kencang. ‘Jangan katakan kalau Luhan-ssi ingin menyatakan cinta kepadaku?’, batinnya.

“Joohyun-ah, kita sudah cukup akrab, kan?,” tanya Luhan.

“I-Iya,” jawab Joohyun gugup.

“Boleh aku jujur padamu?,” tanya Luhan.

‘Bagaimana ini? Aku belum siap menjadi kekasih Luhan-ssi. Aku juga belum siap menjadi love rival Jessica-ssi dan Yoona-ssi’, batin Joohyun bingung.

Luhan menghela napas berat, “Sebenarnya, sejak aku masuk sekolah ini, aku sudah jatuh cinta pada—,”

Joohyun menggigit bibirnya sambil memejamkan matanya. Kedua tangannya meremas-remas rok yang ia kenakan.

“—Jessica,”

Joohyun tersentak kaget. Ia menatap Luhan tak percaya, “A-Apa?,”

“Dia memiliki kecantikan yang luar biasa. Aku sampai tidak tahan untuk menatapnya. Padahal, aku ingin sekali duduk disampingnya. Tapi, ia duduk bersama orang lain dan hanya tempatmu yang tersisa. Tapi, di saat itu juga, aku merasa nyaman denganmu meskipun kau terlalu kaku. Ku pikir kita sangat cocok menjadi teman. Terlebih lagi, kau adalah sahabat Jessica. Jadi, menurutku, aku bisa mencari tahu banyak hal tentang Jessica darimu,” ucap Luhan panjang lebar.

Joohyun masih syok. Ternyata dugaannya selama ini salah. Luhan menyukai Jessica, bukan dirinya maupun Yoona.

Luhan menggenggam kedua tangan Joohyun, “Kau mau membantuku agar aku bisa berpacaran dengan Jessica, kan?,” tanyanya penuh harap.

Joohyun mengangguk cepat dengan perasaan tak rela. Tapi, apa boleh buat? Cintanya bertepuk sebelah tangan. Mau tidak mau, cepat atau lambat, Joohyun harus merelakan Luhan.

“Tidak bisa dipercaya,” ucap Jessica kaget.

“Kau tidak mengarang cerita, kan?,” tanya Yoona tak percaya.

“Aku berkata jujur,” jawab Joohyun sambil menunduk sedih.

Yoona menatap Jessica, “Jadi, apa kau akan menerima Luhan?,” tanyanya.

Jessica terdiam sejenak. Namun, beberapa detik kemudian, ia merangkul Yoona dengan erat. Hal itu membuat Yoona maupun Joohyun bingung.

“Dan membiarkan kedua sahabatku sedih? Never!,” jawab Jessica.

“A-Aku tidak sama sekali keberatan,” ucap Yoona.

“Well, menurutku, lebih baik kita bertiga melupakan lelaki itu. Perasaan merelakan itu sangatlah menyakitkan. Meskipun kita bisa tersenyum di depan, tetapi kita akan menangis di belakang. Dan itu bukanlah hal yang baik. Sungguh tega aku sebagai sahabat membiarkan sahabatnya menangis,” ucap Jessica.

“Sica-ah,” gumam Yoona terharu.

“Yang terpenting adalah kita tetap bersahabat dan selalu bersama. Meskipun awalnya kita adalah love rival, tetapi pada akhirnya tidak ada yang memenangkan pertarungan ini. Kita tetap bersahabat karena persahabatan itu susah dicari sedangkan cinta mudah untuk dicari,” ucap Jessica.

Yoona mengangguk, “Apalagi kita adalah gadis-gadis cantik dan berkualitas. Pasti kita akan mendapatkan cinta dengan mudah. Benar, kan, Joohyun-ah?,”

Joohyun tersenyum dan mengangguk.

Mereka bertiga pun berpelukan. Murid-murid di kantin yang memperhatikan mereka turut senang. Apalagi lelaki berwajah oriental—Xiao Luhan. ‘Syukurlah jika persahabatan kalian tetap terjalin erat. Meskipun aku harus berbohong dengan mengatakan kalau aku jatuh cinta pada Jessica. Padahal sebenarnya, aku menyukaimu, Seo Joohyun. Tapi, aku lebih menginginkan kalian tetap bersama karena tidak ada yang bisa menggantikan persahabatan’, batinnya sambil tersenyum.

    END

Review, please~!

(Request FF) – What Is Love


Title : What Is Love

 

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

 

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin (Kai)
  • SNSD’s Tiffany as Tiffany Hwang

Support Cast :

  • Sistar’s Hyorin as Kim Hyorin
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • T-Ara’s Jiyeon as Park Jiyeon
  • Ailee as Amy Lee
  • SNSD’s Hyoyeon as Kim Hyoyeon
  • etc

 

Genre : School-life, Romance, Friendship

 

Length : Oneshot

 

Note : Ini adalah ‘Request FF’ dari rani. Hopeful you can enjoy this story. And I hopeful ma readers can be enjoy, too! Happy reading!

 

***

 

Jessica dan Tiffany telah tiba di sekolah baru mereka. SM Art Academy, nama sekolah baru mereka yang terletak di kota Seoul, Korea Selatan. Suasana yang cukup ramai menyambut mereka. Semua mata tertuju kepada mereka karena tidak ada sebelumnya yang pernah melihat mereka.

 

“Murid baru, eh?,”

 

“Woah! Cantik sekali,”

 

“Mereka pindah dari sekolah mana, ya?,”

 

“Kira-kira mereka satu kelas denganku, tidak, ya?,”

 

Dan sebagainya desas-desus dari murid-murid itu.

 

“Tidak menyenangkan sekali,” gumam Jessica.

 

Tiffany mengernyit bingung, “Kenapa?,” tanyanya.

 

“Kita berada di kelas yang berbeda. Nanti aku duduk dengan siapa?,”

 

Tiffany tersenyum, “Kau maupun aku akan mendapatkan teman baru. Itu sudah pasti,” jawabnya.

 

Jessica menghela napas berat, “Aku tidak yakin murid-murid disini ramah-ramah,” ucapnya.

 

“Setidaknya penduduk Korea dikenal dengan kesopanannya. Aku rasa sekolah ini tidak akan lebih buruk daripada sekolah di United States,” ucap Tiffany.

 

Jessica memaksakan dirinya untuk tersenyum. Ia kurang menyukai Korea. Entahlah karena apa.

 

***

 

2-1’s Class

 

“Annyeonghaseyo. Nama saya Tiffany Hwang. Saya biasanya dipanggil Tiffany. Saya berasal dari United States dan pindah kemari bersama orangtua saya. Saya harap, kalian bisa menerima saya sebagai teman kalian,”

 

“Ah, tentu saja. Siapa yang tidak mau berteman dengan gadis secantik dirimu?,” sahut seorang murid laki-laki.

 

“Huuuuuu!!!!!!!!,” sorakan dari para murid perempuan menyambut murid laki-laki itu.

 

“Kau dari United States tapi bahasa Korea-mu fasih sekali. Meskipun nada bicaramu masih seperti penduduk Amerika pada umumnya,” sahut seorang murid perempuan.

 

“Terima kasih. Ayahku berasal dari Korea. Jadi, aku juga mempelajari bahasa Korea,” jawab Tiffany.

 

“Tiffany-ssi, silakan duduk dengan Amy Lee,” ucap seorang pengajar sambil menunjuk murid perempuan yang tadi berbicara dengan Tiffany, “Dia juga berasal dari Amerika. Ku pikir, kau akan merasa lebih mudah mengenal tempat ini jika berteman dengannya,” tambahnya.

 

“Terima kasih,”

 

Tiffany pun berjalan dan duduk disamping Amy. Amy tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya, “Namaku Amy Lee. Kau boleh memanggilku Amy,” ucapnya.

 

Tiffany menjabat tangan Amy, “Salam kenal, Amy-ssi,” ucapnya.

 

***

 

2-2’s Class

 

“Boleh aku tahu siapa namamu?,”

 

“Hyoyeon,” jawab seorang murid perempuan berambut pirang.

 

Jessica mendengus kesal. Teman sebangkunya benar-benar tidak ramah. Jessica merasa sangat tidak nyaman di kelas ini. Apalagi seorang murid laki-laki yang terus memandanginya.

 

“Hyoyeon-ssi, siapa sih murid laki-laki itu? Aku tidak suka dipandangi seolah-olah dia ingin memakanku,” bisik Jessica.

 

Hyoyeon memutar bola matanya, “Namanya Kai. Dia adalah the most killer boy in this academy,” jawabnya.

 

“K-Killer?,” pekik Jessica kaget.

 

“Jangan berani dekat-dekat dengannya. Dia adalah playboy cap kapak. Dia suka mempermainkan perempuan. Tapi, saat ini dia hanya berpacaran dengan murid perempuan terkaya di sekolah ini, Kim Hyorin!,” jawab Hyoyeon.

 

“Namanya hampir mirip denganmu,” ucap Jessica.

 

“Dia adalah sepupuku. Tapi, aku tidak suka dengannya karena dia suka memamerkan tubuhnya kepada orang-orang,” ucap Hyoyeon.

 

Jessica menatap murid perempuan yang duduk disamping Kai, “Apakah dia yang bernama Hyorin?,” tanyanya kepada Hyoyeon.

 

Hyoyeon mengangguk, “Hm,” jawabnya.

 

Jessica mengangguk mengerti. Sampai saat ini, Kai masih terus memandanginya. Jessica pun memutuskan untuk memperhatikan pelajaran daripada mempedulikan Kai.

 

***

 

Jessica dan Tiffany sedang makan siang di kantin. Semua murid masih memperhatikan dua murid baru itu. Tampaknya, mereka akan mudah terkenal.

 

“Yang berambut hitam itu—murid baru juga?,” tanya Hyorin.

 

Amy mengangguk, “Dia adalah teman sebangkuku,” jawabnya.

 

“Dia satu kelas denganmu?,” tanya Jiyeon kaget.

 

“Benar sekali,” jawab Amy.

 

“Ku akui, mereka lumayan cantik,” ucap Jiyeon.

 

“Kai juga sedari tadi memperhatikan si rambut cokelat itu!,” ucap Hyorin kesal.

 

“Si Jessica itu?,” tanya Jiyeon.

 

Hyorin mengangguk, “Sepertinya Kai tertarik padanya,” ucapnya.

 

“Tenang saja, Hyorin-ah. Kai tidak pernah benar-benar serius menyukai perempuan. Dia hanya menyukaimu,” ucap Amy.

 

“Tapi, aku tetap tidak suka pada Jessica itu. Popularitasnya dan temannya itu akan menurunkan popularitas kita,” ucap Hyorin.

 

“Kau benar juga,” ucap Jiyeon setuju.

 

“Pokoknya, kita harus menemukan cara untuk mempertahankan popularitas kita. Kita tidak boleh kalah dari mereka,” ucap Hyorin.

 

“Aku setuju!,” seru Jiyeon.

 

Amy mengusap tengkuknya, “Selama kita tidak melakukan kekerasan, aku juga setuju,” ucapnya.

 

***

 

Hari kedua Jessica dan Tiffany di sekolah baru mereka.

 

Jessica sedang membawa beberapa buku ditangannya. Karena hal itu, Jessica tidak bisa melihat apa yang ada didepannya. Dan…

 

BRAKKK!!!

 

Jessica menabrak seseorang. Buku-bukunya juga berserakan di lantai.

 

“Maafkan aku. Aku sangat menyesal,” ucap Jessica.

 

“Tidak apa-apa,” jawab murid yang Jessica tabrak. Jessica mengulurkan tangannya dan disambut oleh murid lelaki itu. Dan saat murid itu mendongak,

 

“K-Kai?,”

 

“Oh, kau tahu namaku?,” tanya murid lelaki itu yang tak lain adalah Kai.

 

“Hyoyeon memberitahuku,” jawab Jessica.

 

Kai tersenyum, “Jadi, kau mencari tahu namaku?,”

 

Jessica spontan syok, “Apa? Tidak. Jangan salah paham. Kau yang memperhatikanku saat itu. Jadi, aku menanyakannya kepada Hyoyeon,” jawabnya.

 

Kai menaikkan sebelah alisnya, “Aku? Memperhatikanmu?,”

 

“K-Kau tidak sadar?,” tanya Jessica tak percaya.

 

“Aku tidak pernah memperhatikanmu,” jawab Kai.

 

Wajah Jessica memerah karena malu. Jadi, selama ini aku salah paham? Aku terlalu percaya diri?, batinnya.

 

Jessica segera memunguti buku-bukunya, “Aku harus pergi!,” pamitnya lalu pergi dari sana.

 

Kai melihat tingkah Jessica pun tertawa menyeringai, “Manisnya gadis itu. Aku semakin tertarik,” gumamnya.

 

***

 

Kai dan Sehun sedang bermain catur di rumah Kai. Di sela-sela bermain, mereka membicarakan hal-hal ringan. Seperti..

 

“Bagaimana hubunganmu dengan Hyorin?,” tanya Sehun.

 

“Biasa saja. Aku sudah bosan dengan tubuhnya. Andai saja dia tidak memerasku dengan uang-uang milyaran darinya, hubungan ini pasti sudah berakhir sejak lama,” jawab Kai.

 

Sehun terkekeh pelan, “Padahal menurutku kalian cocok sekali, Kai. Kalian berdua adalah dua murid pembunuh di sekolah kita,” ucapnya.

 

“Aku sedang tertarik kepada gadis lain saat ini, Sehun-ah,” ucap Kai.

 

“Oh, ya? Siapa?,” tanya Sehun.

 

“Jessica Jung,” jawab Kai.

 

Sehun mengangguk, “Dia memang cantik. Tubuhnya mungil dan putih. Tidak salah kau tertarik dengannya,” ucapnya.

 

“Well—aku tidak ingin mencicipi tubuhnya seperti gadis-gadis lain. Dia terlalu manis untuk ku perlakukan seperti itu,” ucap Kai.

 

“J-Jangan bilang kau jatuh cinta padanya?,”

 

Kai terdiam sejenak. Keringat mulai keluar dari tubuhnya. Jatuh cinta? Apakah aku sedang jatuh cinta pada Jessica? Tapi, aku tidak tahu soal cinta. Jadi, bagaimana aku bisa jatuh cinta?, pikirnya.

 

“Ingin bertaruh denganku?,” tawar Sehun.

 

Kai mengernyit bingung, “Bertaruh soal apa?,” tanyanya.

 

“Berpacaran dengan Jessica selama satu minggu. Lalu, kau putusi dia dan katakan bahwa kau berpacaran dengannya hanya karena bertaruh,” jawab Sehun.

 

Kai terdiam kembali. Ia sibuk menimbang-nimbang tawaran Sehun.

 

“Setiap aku ingin menyakiti perempuan, aku tidak pernah ragu. Tapi, mengapa kali ini berbeda?,” gumam Kai pelan, sangat pelan.

 

“KAI!,” tegur Sehun.

 

“Ah— ngg—a-apa yang akan kau berikan jika aku berhasil melakukannya?,” tanya Kai.

 

Sehun tersenyum tipis, “Akan ku berikan mobilku,” jawabnya.

 

***

 

Jessica dan Tiffany sedang mengerjakan tugas di perpustakaan. Perpustakaan itu kosong, hanya ada Jessica, Tiffany, dan seorang pustakawati.

 

“Sica-ah, ku dengar Kai sering mendekatimu,” ucap Tiffany.

 

Wajah Jessica memerah. Ia spontan menundukkan kepalanya, “D-Darimana kau mendapatkan berita tak bermutu itu?,” tanyanya.

 

“Amy,” jawab Tiffany.

 

“Oh. Teman Hyorin dan Jiyeon itu?,”

 

“Sepertinya kau tidak menyukai mereka bertiga,” ucap Tiffany.

 

“Tentu saja. Mereka sombong dan suka memamerkan tubuh mereka,” jawab Jessica.

 

“Amy tidak seperti itu,” ucap Tiffany.

 

“Aku tidak tahu soal dia. Aku hanya tahu soal Hyorin dan Jiyeon,” ucap Jessica lalu kembali menulis.

 

Tiffany mengangkat bahunya. Ia pun juga kembali menulis.

 

***

 

Jessica berjalan menelusuri koridor dari toilet perempuan. Ia berjalan kembali menuju kelasnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Kai dan Sehun berada di ujung koridor.

 

“Apa yang mereka lakukan pada jam pelajaran seperti ini?,” gumam Jessica.

 

 Jessica pun memutuskan untuk mengintip dan mendengarkan pembicaraan mereka.

 

“Aku akan menyatakan cinta pada Jessica hari ini,”

 

DEG!

 

Jessica benar-benar syok mendengarnya. Kai mencintaiku?, tanyanya dalam hati dengan perasaan tak percaya. Yang benar saja. Mana mungkin lelaki sebejat Kai mencintai perempuan.

 

“Kau benar-benar akan melakukannya?,” tanya Sehun.

 

“Kai bukanlah lelaki yang tidak mau menerima taruhan dari siapapun,” ucap Kai.

 

Tubuh Jessica menegang, “T-Taruhan?,”

 

“Bersiap-siaplah mobilmu akan menjadi milikku,” ucap Kai.

 

“Aku tidak peduli. Yang ku inginkan adalah pertunjukan sempurna yang akan kau tampilkan minggu depan,” jawab Sehun.

 

Kai menyeringai paksa, “Tenang saja, Sehun-ah. Akan ku pastikan air mata Jessica habis pada minggu depan,” ucapnya.

 

Jessica mengepalkan tangannya. Ia segera pergi dari tempat itu tanpa ketahuan oleh Kai maupun Sehun.

 

***

 

“APA??!!!!,”

 

“Aku harus bagaimana, Fany-ah?,” tanya Jessica.

 

“Tolak saja cintanya,” jawab Tiffany.

 

“Betul juga!,” seru Jessica.

 

“Dengan begitu, kau akan menjadi perempuan pertama yang menolak cintanya,” ucap Tiffany.

 

“Kau benar,” ucap Jessica setuju.

 

“Jessica-ssi!,”

 

Jessica dan Tiffany menoleh ke sumber suara. Dan mereka kaget, orang yang mereka bicarakan sudah ada di dekat mereka.

 

“Kai?,” pekik Jessica.

 

“Bisa kita bicara sebentar?,” tanya Kai.

 

***

 

Kai terlihat seperti bukan Kai yang biasanya. Ia sedang tengkurap di atas ranjangnya. Sprei ranjangnya basah. Mata Kai memerah.

 

Kai sedang menangis.

 

Pasalnya, ini pertama kalinya cinta Kai ditolak. Dan entah kenapa, Kai merasa sangat sakit hati.

 

“Kenapa aku sakit hati begini? Apa aku mencintai Jessica?,” tanya Kai pada dirinya sendiri.

 

Kai mengacak-acak rambutnya prustasi. Tanpa ia sadari, Sehun mengintipnya dari balik pintu kamarnya yang terbuka sedikit.

 

Sehun tersenyum kecil, “Akhirnya Jessica datang juga ke kehidupanmu, Kai. Dengan begitu, hatimu akan kembali dihiasi oleh sesuatu yang bernama cinta,” gumamnya.

 

***

 

Jessica sedang membaca buku di perpustakaan sendirian. Namun, ia menghentikan aktivitasnya saat ia melihat seseorang duduk di seberangnya.

 

“Sehun-ssi?,”

 

“Boleh aku bicara denganmu sebentar?,” pinta Sehun.

 

Jessica menutup bukunya, “Jika kau ingin memintaku untuk menerima cinta Kai, lebih baik kau pergi,” ucapnya.

 

“Aku tahu kau tidak menyukai Kai. Tapi, Kai sangat mencintaimu,” ucap Sehun.

 

Jessica tertawa hambar, “Kau pikir aku tidak tahu soal taruhan kalian?,”

 

Sehun tersentak, “K-Kau tahu?,”

 

Jessica tersenyum paksa, “Pembicaraan kita selesai. Kau boleh pergi,” ucapnya.

 

“Tidak. Biarkan aku menjelaskan semuanya!,” pinta Sehun.

 

Jessica terdiam sejenak. Tanpa persetujuan dari Jessica, Sehun mulai berbicara.

 

“Kai adalah seorang broken home,” ucap Sehun.

 

“Aku tidak membutuhkan informasi itu,” ucap Jessica.

 

“Dia kehilangan ibunya saat dia lahir. Setelah itu, ayahnya selalu memukulnya karena ayahnya menganggap Kai adalah anak pembawa sial karena telah lahir hingga membunuh nyawa ibunya. Kai seumur hidup tak pernah merasakan cinta. Bahkan ayahnya membuangnya ke jalanan. Suatu hari, ayahku menemukan Kai di kolong jembatan. Dia sedang menangis. Ayahku pun membawa Kai pulang ke rumah. Kai tinggal bersama kami hingga dewasa. Meskipun Kai telah mendapatkan cinta dari keluargaku, tetapi Kai tidak pernah bisa merasakan cinta yang sebenarnya. Kai selalu mempermainkan perempuan dan menganggap perempuan adalah sampah, seperti yang dilakukan ayah Kai kepada Kai. Tapi, setelah kau hadir, aku sangat terkejut,”

 

“U-Untuk apa kau terkejut?,”

 

“Kau membuat Kai berubah. Bahkan, Kai mengakhiri hubungannya dengan semua kekasihnya termasuk Hyorin. Aku tahu, sebenarnya Kai mencintaimu. Kau berhasil membuat Kai jatuh cinta. Tapi, Kai tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepadaku. Aku mengajaknya untuk bertaruh, semata-mata untuk mengujinya. Dan kau tahu, saat kau menolaknya, apa yang terjadi?,”

 

Jessica menggigit bibirnya, “A-Apa yang terjadi?,”

 

“Kai menangis dikamarnya dalam waktu yang lama. Dia juga membanting barang-barang miliknya. Dia sangat prustasi, Jessica-ssi. Dia sangat mencintaimu,” jawab Sehun.

 

“A-Aku masih tidak bisa percaya,” ucap Jessica.

 

“Aku berbicara jujur, Jessica-ssi. Aku tidak sedang berbohong. Aku meminta satu hal kepadamu. Tolong buat Kai berubah. Hanya kau yang bisa melakukannya. Ajari dia tentang cinta. Dan setelah itu, sifat buruknya akan menghilang. Hanya kau yang bisa melakukannya,”

 

Jessica menunduk. Ia masih bingung dan juga takut. Tapi, disisi lain, ia sangat ingin membantu. Lagipula, Kai juga berhasil menyinggahi hatinya.

 

***

 

Tok! Tok! Tok!

 

“Kai, bisakah hari ini kau memasukkan makanan atau air ke dalam perutmu?,” tanya Sehun dari luar kamar Kai.

 

“Aku tidak lapar,” jawab Kai dengan nada yang lemah.

 

Sehun menghela napas berat, “Aku membawakan seseorang untukmu. Jadi, tolong buka pintunya!,”

 

“Kau membawakan abeoji?,”

 

“Tolong buka pintunya, Kai-ssi,”

 

Kai terdiam. Kai mengenal suara ini. Suara yang sangat Kai sukai. Perlahan, Kai bangun dari tidurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka pintunya.

 

“KAI???!!!!,” pekik Jessica dan Sehun kaget. Mereka melihat penampilan Kai yang acak-acakan. Wajah Kai pucat dan matanya bengkak. Jessica semakin cemas melihatnya.

 

“Apa yang kau lakukan? Penampilanmu seperti zombie!,” ucap Jessica cemas.

 

“Aku baik-baik saja,” jawab Kai.

 

“Aku tinggalkan kalian berdua,” ucap Sehun lalu pergi meninggalkan mereka.

 

“Apa yang membawamu kemari? Sehun memaksamu, bukan?,” tanya Kai.

 

Jessica menggeleng, “Ini adalah keinginanku sendiri. Kau tidak masuk selama tiga hari. Tentu saja aku sangat cemas,”

 

Kai tersentak, “Kau mencemaskanku?,”

 

“Kau harus makan. Kau juga harus membersihkan diri. Kau bisa sakit,” ucap Jessica.

 

“K-Kenapa kau mencemaskanku?,” tanya Kai.

 

Jessica terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, senyuman manis terukir dibibirnya.

 

“Aku mencemaskanmu karena aku peduli padamu. Aku peduli padamu karena aku menyayangimu. Aku menyayangimu karena aku mencintaimu,” jawab Jessica tulus.

 

Kai menggeleng cepat, “Tidak mungkin. Kalau kau mencintaiku, mengapa kau menolakku?,” tanyanya.

 

“Karena aku tahu soal taruhanmu dengan Sehun. Ku pikir kau ingin mempermainkanku saja,” jawab Jessica.

 

Kai lagi-lagi syok, “Bagaimana kau ta—,” kalimatnya terputus saat Jessica mencium bibir Kai singkat. Wajah Kai memerah padam, hingga Jessica tertawa melihatnya.

 

“Kau terlalu banyak bertanya, Kai. Seperti haraboji saja,” ucap Jessica.

 

Kai menjadi salah tingkah. Ia menggaruk-garuk kepalanya seperti orang bodoh.

 

Sehun dan Tiffany yang mengintip mereka pun cekikikan gemas.

 

“Aku seperti sedang menonton cinta monyet,” ucap Tiffany.

 

“Mereka berdua sangat menggemaskan,” ucap Sehun.

 

END

YEAH~! Selesai juga deh. Sorry buat rani kalau ceritanya kurang pas buat kamu. Aku bikin sebisaku. Dan inilah hasilnya. Semoga kamu suka, ya?

 

Don’t forget to review!

(Request FF) – Lie


Title : Lie

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • EXO-M’s LuHan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
  • f(x)’s Krystal as Krystal Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol
  • etc

Genre : Friendship, Romance, Angst

Length : Oneshot

Note : FF ini merupakan ‘Request FF’ dari PiaChu. Semoga FF ini memuaskan, ya?—alias tidak mengecewakan. Keke~! Happy reading!

***

 

Seorang murid perempuan sedang berlari di sepanjang jalannya. Beberapa kali ia melirik arlojinya. Beberapa kali juga ia mempercepat larinya. Hingga waktu telah sampai ke detik 60, murid perempuan itu sampai di depan gerbang sekolahnya.

Namun, sayang sekali, gerbang telah tertutup.

“Ahjussi, tolong bukakan gerbangnya!,” pinta murid perempuan itu.

Security itu menggeleng, “Tidak bisa, Yoona-ssi. Kau terlambat dan artinya kau tidak boleh masuk—,”

“Ijinkan dia masuk, ahjussi!,”

Security dan murid perempuan bernama Yoona itu menoleh ke sumber suara. Security itu tersentak kaget, sedangkan Yoona tersenyum senang.

“Tapi, dia terlambat, Jessica-ssi,” ucap Security itu.

“Saya adalah ketua osis di sekolah ini. Saya akan memberikan hukuman pada Im Yoona. Jadi, ijinkan dia untuk masuk. Ini perintah dari Kepala Sekolah,” ucap murid perempuan itu tegas. Jessica namanya.

Security itu mengangguk mengerti. Ia segera menjalankan perintah dari Jessica. Yoona pun berhasil masuk.

“Ayo ikut dengan saya!,” ajak Jessica tegas.

Yoona mengangguk mengerti. Mereka berdua berjalan memasuki koridor sekolah hingga berada jauh dari tempat Security itu berada.

“WE DID IT!!!,” teriak Jessica dan Yoona bersamaan sambil melakukan hi-five.

“Kau hebat, Sica-ya. Tak sia-sia kau menjabat sebagai ketua osis. Apalagi ayahmu sendiri adalah Kepala Sekolah di sekolah ini,” ucap Yoona.

“Itu bukan apa-apa, Yoona-ya. Yang penting sekarang, ayo kita masuk ke kelas sebelum Kang songsaenim masuk,” jawab Jessica.

Mereka berdua pun berlari menuju kelas mereka.

***

“Annyeonghaseyo. Nama saya Xiao Luhan. Panggil saja Luhan. Senang berkenalan dengan kalian. Saya harap, kalian dapat membantu saya. Terima kasih,”

“Baik, Luhan-ssi. Kau boleh duduk disamping Kim Minseok,”

“Terima kasih, songsaenim,”

Luhan berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh guru Kang. Ia duduk disamping murid laki-laki yang memiliki pipi berisi. Mereka pun berjabat tangan.

“Namaku Minseok. Salam kenal,”

Luhan mengangguk ramah, “Salam kenal juga,” jawabnya.

Disisi lain, Yoona terus memperhatikan murid baru berwajah manis itu.

“Ah.. dia manis sekali,” gumam Yoona.

Jessica menoleh ke arah Yoona, “Siapa?,” tanyanya.

“Xiao Luhan. Ah, namanya juga sangat manis. Dia berbeda dengan lelaki lain,” jawab Yoona berbunga-bunga.

Jessica terkekeh pelan. Ia kembali melanjutkan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru Kang. Sedangkan Yoona masih sibuk memandangi Luhan, dan Luhan tak menyadari hal itu.

***

 

“Aku harus mendapatkan nomor teleponnya!,” tekad Yoona.

Jessica menaikkan sebelah alisnya, “Kau masih membicarakan soal murid baru itu?,” tanyanya.

“Sica-ya, aku sedang jatuh cinta padanya. Kau harus mengerti mengapa aku masih membicarakannya dan akan selalu membicarakannya!,” jawab Yoona.

“Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya,” ucap Jessica lalu memasukkan kimchi ke dalam mulutnya.

“Kau harus mendukungku, Sica-ya. Bukannya bersikap seperti ini,” ucap Yoona kesal.

“Oke, oke. Aku mendukungmu. Aku selalu mendukungmu, Yoona-ya. Kita adalah sahabat, ingat?,”

Yoona masih memasang wajah cemberut. Namun, beberapa detik kemudian, wajah ceria terpasang diwajah cantik Yoona.

“Biarkan aku memelukmu!,” seru Yoona seraya merentangkan tangannya.

“No! No! Jangan sekarang. Aku masih ingin menikmati kimchi-ku,” tolak Jessica waspada.

Yoona tertawa ringan, begitu juga dengan Jessica. Persahabatan mereka sangat manis. Bahkan semua orang berpendapat begitu.

“Siapa gadis itu?,” tanya Luhan.

Minseok menoleh ke arah yang dipandang oleh Luhan, “Yang mana?,” tanyanya.

“Yang memiliki rambut berwarna cokelat,” jawab Luhan.

“Oh, dia adalah Jessica. Ketua osis di sekolah ini,” jawab Minseok.

“Aku bisa bertanya tentang peraturan di sekolah ini, benar?,” tanya Luhan.

“Bertanya denganku juga bisa kok,” jawab Minseok.

“Tapi, dia pasti lebih tahu daripada kau,” ucap Luhan.

“Well—aku tidak bisa menyalahkan perkataanmu,” ucap Minseok.

Luhan tersenyum tipis, “Mungkin aku akan meminta nomor teleponnya,” gumamnya pelan.

***

 

Yoona dan Jessica mengemasi peralatan tulis dan buku mereka ke dalam tas mereka. Begitu juga dengan murid-murid yang lain. Namun, aktivitas Jessica maupun Yoona terhenti saat seseorang yang Yoona dambakan menghampiri meja mereka.

“L-Luhan-ssi?!,” pekik Yoona.

“Maaf mengganggu waktunya sebentar,” ucap Luhan.

“A-Ada apa?,” tanya Yoona.

“Hm.. aku ingin meminta nomor teleponmu—,”

Luhan meminta nomor teleponku? Apakah aku sedang bermimpi?, teriak Yoona di dalam hatinya.

“—Jessica-ssi,” lanjut Luhan.

Yoona spontan syok mendengarnya. Sedangkan Jessica bingung dan tidak enak hati kepada Yoona sendiri.

“Nomor teleponku?,” tanya Jessica tak percaya.

Luhan mengangguk, “Mari bertukar nomor telepon. Aku ingin—,”

“Bertukar nomor telepon denganku saja!,” sahut Yoona.

Luhan menjadi bingung. Ia mengusap tengkuknya pelan, “Maaf. Tapi, aku ingin—,”

“Ponselku rusak!,” seru Jessica memotong kalimat dari Luhan.

Yoona mengangguk, “Jadi, bertukar nomor telepon denganku saja,” ucapnya.

“O-Oke,”

***

 

Yoona terlihat tak seceria biasanya di kantin. Ia sedang mengaduk-aduk sup-nya dengan wajah yang terkesan tak berselera makan. Jessica menghela napas berat saat menyadari keanehan yang dipancarkan sahabatnya itu.

“Yoona-ya, berhenti bersikap aneh!,” pinta Jessica.

“Bagaimana aku bisa berhenti? Luhan telah membuatku patah hati,” ucap Yoona.

Jessica menaikkan sebelah alisnya, “Patah hati? Bukankah kau sudah mendapatkan nomor teleponnya?,” tanyanya.

“Iya. Tapi, di dalam pembicaraan kami di telepon, dia selalu menanyakan soal dirimu. Kalau pun dia menanyakan hal lain, dia hanya menanyakan tentang peraturan sekolah,” Yoona menghela napas berat, “Aku rasa dia menyukaimu,” tambahnya.

“Yoona-ya..,”

Yoona menggenggam kedua tangan Jessica, “Berjanjilah padaku kau tidak akan pernah menjalin hubungan dengan Luhan!,” serunya.

Jessica terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, ia menganggukan kepalanya.

“Ya. Aku berjanji. Bukankah kita sudah berjanji kalau kita takkan mencintai lelaki yang sama lagi?,”

Yoona mengangguk, “Kau benar,” jawabnya.

Kini, giliran Jessica yang menangkup wajah Yoona dengan kedua tangannya. “Sekarang, kembalikan Im Yoona yang ceria. Aku tidak suka melihat wajahmu yang ditekuk seperti itu,” ucapnya.

Yoona tersenyum lebar, “Ijinkan aku memelukmu!,” serunya.

“Tidak mau!,”

***

 

Jessica sedang menikmati es krim di kedai dekat rumahnya. Musim panas seperti ini sangatlah nikmat untuk menyantap es krim. Apalagi es krim adalah salah satu makanan favorit Jessica.

“Boleh aku duduk disini?,”

Jessica mendongak hingga matanya membulat sempurna, “Luhan-ssi?,” pekiknya.

Luhan tersenyum, “Bolehkah?,” tanyanya lagi.

“Ah, oh, tentu saja boleh. Silakan,” jawab Jessica.

Luhan pun duduk disamping Jessica. Ia juga membawa es krim yang ia pesan. Dan es krim pesanan Luhan ternyata sama dengan pesanan Jessica.

“Woah! Es krim pesanan kita sama,” seru Luhan.

Jessica tertawa, “Kebetulan sekali, ya?,”

“Itu artinya kita berjodoh!,”

Jessica tersentak. Ia menatap Luhan tak percaya. Ketegangan yang dirasakan Jessica berhenti saat melihat Luhan tertawa renyah.

“Kau manis sekali. Aku hanya bercanda kok,” ucap Luhan.

Wajah Jessica memanas. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku sedang dipuji, pikirnya.

“Jangan bergerak!,” seru Luhan tiba-tiba.

Jessica spontan kaget kembali. Ia menahan anggota tubuhnya untuk tidak bergerak. Luhan menggerakkan tangannya hingga menyentuh bibir Jessica. Wajah Jessica semakin memanas bahkan memerah. Luhan kembali tertawa renyah.

“Aigoo! Kau sangat manis dan menggemaskan,” ucap Luhan.

Jessica tidak tahu harus menyembunyikan wajahnya dimana. Ia benar-benar malu. Luhan mengusap kepalanya dengan lembut sambil tertawa. Dan untuk yang pertama kalinya, Jessica menyadari bahwa pendapat Yoona tentang Luhan itu benar. Luhan sangat manis, menurut Jessica saat ia melihat Luhan dari jarak dekat. Selama ini, Jessica tak pernah memperhatikan Luhan lebih dari lima detik.

***

 

Jessica menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia sedang memikirkan sesuatu. Ia kembali teringat memori masa lalunya dengan Yoona.

“Aku menyukaimu!,”

 

Jessica sangat syok mendengar pernyataan dari Sehun. Apalagi Yoona yang berada disamping Jessica. Jessica menatap Yoona takut, sedangkan Yoona menahan air matanya.

 

“Maukah kau menjadi kekasihku, Jessica-ya?,” tanya Sehun.

 

“Ngg—aku—aku tidak bisa,” jawab Jessica.

 

Yoona maupun Sehun menatap Jessica tak percaya.

 

“K-Kenapa?,” tanya Sehun.

 

“Aku tidak pernah tertarik padamu, Sehun-ssi. Aku hanya menganggapmu sebagai teman tidak lebih,” jawab Jessica.

 

“Sica-ya..,”

 

“Oke. Aku mengerti. Paling tidak, aku sudah mengungkapkan perasaanku,” ucap Sehun lalu pergi dari tempat itu.

 

Jessica beralih menatap Yoona yang sudah berlinangan air mata.

 

“Apa kau lakukan, bodoh? Membohongi dirimu sendiri?,” tanya Yoona.

 

“Aku memang tidak pernah menyukainya, Yoona-ya. Aku tidak pernah berbohong padamu, ingat?,”

 

“Apa kau benar-benar jujur? Atau kau menolaknya karena aku?,” tanya Yoona.

 

“Aku jujur, Yoona-ya. Aku berjanji takkan pernah menyukai lelaki yang sama dengan lelaki yang kau sukai. Aku tidak ingin ada yang tersakiti. Lagipula, aku memang tidak menyukai Sehun,” jawab Jessica.

 

Yoona mengacungkan kelingkingnya, “Pink promise?,”

 

Jessica tersenyum seraya mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Yoona, “I promise!,” jawabnya.

 

Jessica menghela napas berat. Ia sendiri yang membuat perjanjian itu, tapi ia sendiri yang melanggarnya.

“Apa yang terjadi dengan wajahmu, eonni?,”

“Krystal?,” pekik Jessica seraya beranjak bangun, “Sejak kapan?,” tanyanya.

“Baru saja kok,” jawab Krystal seraya duduk di tepi ranjang Jessica, “Tell me, what happen?,” tanyanya.

Jessica menggeleng cepat, “Tidak ada apa-apa,” jawabnya.

“Mungkin kau bisa membohongi sahabatmu itu, tapi kau tak bisa membohongiku!,” ucap Krystal.

Jessica menatap adiknya tajam, “Krystal, jaga perkataanmu!,” bentaknya.

“Memang benar, kan? Kau selalu membohongi Yoona eonni dan menyimpan rasa perih sendiri. Sedangkan dia berbahagia di atas penderitaanmu. Kau sangat malang, eonni!,” ucap Krystal.

Jessica terdiam. Didalam hatinya, ia membenarkan perkataan Krystal. Selama ini, Jessica memang berkorban banyak untuk Yoona. Selalu ia lakukan, apapun itu, asal Yoona ceria.

***

 

Jessica sedang memunguti buku-buku di atas meja perpustakaan. Belum selesai Jessica memunguti, seseorang telah memunguti sebagian bukunya.

“Biarkan aku membantu, ya?,”

Jessica menggeleng, “Tidak perlu. Letakkan kembali buku-buku itu,” jawabnya.

“Ayolah. Aku kan ingin—,”

“Sudah ku bilang, tidak perlu! Aku tidak butuh bantuanmu! Pergi dari sini dan jangan pernah dekati aku lagi, Luhan-ssi!,” bentak Jessica marah.

“Kau marah padaku? Apa kesalahanku?,” tanya Luhan.

“Kesalahanmu adalah mendekatiku! Jauhi aku mulai detik ini!,” jawab Jessica.

“Aku tidak mau!,” ucap Luhan.

Jessica mengerjap kaget, “A-Apa?,”

“Kau tidak bisa melarangku untuk dekat denganmu. Aku punya hak untuk berteman dengan siapa saja,” ucap Luhan.

“Tapi, aku tidak mau berteman denganmu,” ucap Jessica.

“Kenapa?,” tanya Luhan.

“Karena aku tidak mau!,” jawab Jessica sambil meletakkan buku-buku yang ia pegang lalu pergi.

Namun, Luhan berhasil menahan kepergiannya.

“Kenapa kau menahanku?,” tanya Jessica kesal.

“Karena aku ingin menahanmu,” jawab Luhan.

“Kenapa kau selalu ingin mendekatiku? Kenapa bukan Yoona saja?,” tanya Jessica.

Luhan terdiam sejenak, “Yoona?,”

Jessica mendadak grogi, “Yah—ngg—Yoona dekat juga denganmu, bukan? Jadi, kenapa kau tidak berteman dengan Yoona saja?,” tanyanya.

“Karena dari awal, aku hanya ingin berteman denganmu. Aku tidak pernah ingin berteman dengan Yoona,” jawab Luhan.

“Apa? Tapi—kenapa?,”

“Karena aku menyukaimu!,” jawab Luhan.

Jessica sangat syok sekarang. Ia kembali ditembak oleh lelaki yang Yoona sukai. Dan kali ini, di dalam hatinya berteriak “Terima, Jessica! Bukankah kau juga mulai tertarik padanya?,”. Tapi, ia masih mengingat Yoona.

“Tapi, aku tidak menyukaimu!,” ucap Jessica.

“Bohong!,”

Jessica dan Luhan menoleh ke sumber suara. Jessica terperangah saat melihat sahabatnya sendiri berjalan menghampiri mereka.

“Yoona-ya..,”

“Sudah berapa banyak kau membohongiku, Sica-ya?,” tanya Yoona.

“A-Aku—,”

“Kenapa kau selalu tak mau jujur padaku? Kenapa kau membiarkanku bahagia di atas penderitaanmu?,” tanya Yoona.

“Aku tidak—,”

“Cukup! Akhiri semua kebohonganmu. Kau membuatku menjadi membenci diriku sendiri!,” ucap Yoona, air matanya tumpah begitu saja.

Jessica memeluk Yoona erat, “Maafkan aku. Memang benar. Selama ini aku selalu berbohong. Tapi, aku melakukan itu semua karena aku menyayangimu. Aku tak ingin kau bersedih,”

“Tapi, aku akan semakin sedih jika kau bersedih. Kau pikir aku ini sahabat macam apa, Sica-ya?,”

“Yoona-ya..,”

“Tolong akhiri semua ini. Jangan pernah berbohong padaku lagi. Dan kau juga menyukai Luhan, bukan? Aku melihat kalian berdua sangat mesra di kedai es krim,”

“Kau melihatnya?,” tanya Jessica dan Luhan kompak.

Yoona mengangguk, “Kalau kau mengira aku marah, ya aku sangat marah. Tapi, dunia ini tidak akan berhenti begitu saja, Sica-ya. Aku pasti akan menemukan seseorang yang tepat untukku, yang bisa membahagiakanku, seperti Luhan yang bisa membuatmu senang,”

“A-Aku minta maaf,” ucap Jessica.

“Tidak perlu minta maaf. Aku lah yang seharusnya minta maaf kepadamu karena kau sudah menderita selama bersamaku. Maafkan aku, Sica-ya,”

Jessica menggeleng, “Kau tidak membuatku menderita,” ucapnya.

Yoona mengusap air matanya, “Bolehkah aku memelukmu lagi?,” tanyanya.

Jessica mengangguk, “Tentu saja, sahabatku!,” jawabnya.

Mereka kembali berpelukan dengan tangis menyertai mereka. Luhan yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum tipis.

“Seperti inikah indahnya persahabatan,” gumam Luhan.

END

Flash Back

 

Yoona berlari sekencang-kencangnya setelah melihat sesuatu yang tak pernah ia ingin lihat. Kemesraan Luhan dan Jessica di kedai es krim membuat hatinya remuk. Entah kemana tujuannya sekarang, Yoona sendiri tidak tahu. Ia terus berlari tanpa tahu arah.

BRAKKK!!!

Karena tidak fokus, Yoona menabrak seorang lelaki jangkung yang sedang berdiri memandangi langit.

Yoona mengusap air matanya, “Maafkan aku,” sesalnya.

“Aku tidak mempermasalahkan soal itu. Kenapa kau menangis?,”

“Tidak apa-apa,” jawab Yoona.

Lelaki itu menyodorkan minuman kaleng kepada Yoona, “Minumlah ini. Minuman ini sangat segar dan akan membuat perasaanmu membaik,” ucapnya.

Yoona meraihnya dengan ragu. Ia meminum minuman tersebut hingga habis.

“Woah! Kau haus sekali ternyata,” ucap lelaki itu.

“Mungkin ini karena efek berlari tadi,” ucap Yoona sambil terkekeh pelan.

Lelaki itu menepuk pipi kanan Yoona pelan, “Nah, begini lebih baik. Kau sangat cantik jika sedang ceria,” ucapnya.

Yoona merasakan sesuatu yang panas menjalar diwajahnya. Semburat merah menghiasi pipinya yang putih. Lelaki itu terkekeh pelan sambil menjulurkan tangannya.

“Namaku Chanyeol. Senang bertemu denganmu, gadis manis,” ucap lelaki itu.

Yoona menunduk malu. Tetapi, ia tetap menjabat tangan lelaki itu, “Namaku Yoona,” ucapnya.

“Nama yang manis, seperti orangnya!,” puji Chanyeol.

Lagi, wajah Yoona kembali memanas dan memerah.

—————————————————————————————————————

Selesai \^v^/ semoga PiaChu suka dengan FF ini, ya? Juga readers setiaku. Jangan lupa tinggalkan jejak!

(Request FF) – Detective Love


Title : Detective Love

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • EXO-M’s LuHan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
  • SNSD’s Sunny as Lee Sunny
  • EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
  • etc

Genre : School-life, Romance, Friendship

Length : Oneshot

Note : FF ini adalah ‘Request FF’ dari AliyaGorjessspazzer. Semoga puas dengan cerita yang saya buat dan semoga tidak mengecewakan, ya? Buat readers, semoga kalian suka. Jangan lupa komentarnya dan jangan memplagiat cerita saya!

***

 

Keanehan, bau yang mencurigakan, situasi yang membingungkan. Ketiga hal itu sangat berkaitan erat dengan apa yang pernah dirasakan oleh seorang Detektif. Namun, kali ini bukan misi tentang pembunuhan, pencurian, atau penganiyayaan.

Misi kali ini adalah tentang…

Cinta.

Oh Sehun memakai kacamata hitam pemberian ayahnya yang menjabat sebagai seorang Detektif Internasional. Dengan barang-barang yang diperlukan seorang Detektif di dalam tas miliknya, Oh Sehun telah siap berangkat menuju sekolahnya.

“Misteri akan segera dipecahkan,” gumam Oh Sehun.

***

 

Oh Sehun adalah seorang murid dari Performing Art School di Seoul. Ia sangat terkenal karena jabatan yang dimiliki ayahnya. Bahkan, banyak yang memprediksi bahwa Oh Sehun juga akan seperti ayahnya di masa depan nanti.

Oh Sehun memiliki seorang kekasih yang sangat cantik. Namanya Jessica Jung. Murid berdarah Amerika-Korea itu sangat terkenal di sekolah tersebut karena selain sekolah, dia juga adalah seorang model di majalah-majalah terkenal. Meskipun begitu, Jessica bukanlah gadis yang sombong dan memilih teman. Jessica berteman dengan siapa saja. Termasuk lelaki berdarah China bernama Xiao Luhan.

Target tersangka tak lain adalah lelaki itu sendiri. Lelaki itu sangat dekat dengan Jessica—kekasih Oh Sehun. Hal itu tentu membuat Sehun terbakar cemburu. Meskipun Jessica mengatakan bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman, tetapi bau yang mencurigakan masih bisa tercium di hidung Sehun.

Untuk yang pertama kalinya, Oh Sehun tidak mempercayai Jessica Jung.

“Sehun-ah, selamat pagi!,” sapa Jessica.

“Selamat pagi, sayang,” balas Sehun.

Bibir mereka menyatu dalam sepuluh detik hingga mereka menjadi pusat perhatian karena telah berciuman di depan pintu kelas mereka. Semua murid juga tahu bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Jadi, tidak ada yang mempermasalahkan hal itu kecuali para penggemar Sehun dan Jessica.

“Kau membawa pekerjaan rumahmu?,” tanya Jessica.

“Jangan meremehkan orang jenius, sayang,” jawab Sehun.

Jessica tersenyum sambil memukul dada Sehun pelan. Mereka pun berjalan dan duduk di kursi mereka masing-masing.

Sehun duduk satu meja dengan Xiao Luhan—target tersangka dalam misinya. Sementara Jessica duduk satu meja dengan Im Yoona. Meskipun berteman, Sehun selalu curiga terhadap Luhan. Melihat ketampanan Luhan, Sehun merasa takut tersaingi. Murid tercantik di sekolah ini—Im Yoona—saja kagum kepada Luhan. Dan hal itu bisa jadi dirasakan oleh Jessica.

Tidak boleh! Jessica tidak boleh jatuh cinta pada lelaki China ini, batin Sehun.

“Apa yang mengganggumu, Sehun-ah?,” tanya Luhan.

“Eh? Tidak. Aku baik-baik saja,” jawab Sehun.

“Oke,” dan Luhan pun kembali memainkan rubiknya.

Selain Sehun, Luhan juga adalah murid yang jenius di sekolahnya. Permainan rubik dari Luhan sangat mengagumkan. Bagaimana bisa seseorang memecahkan teka-teki rubik kurang dari satu menit? Itu sangatlah tidak mudah, pikir Sehun.

“Luhan hebat sekali, ya?,” seru Yoona.

Jessica mengangguk setuju, “Memecahkan permainan rubik bukanlah hal yang mudah,” ucapnya.

“Aku jadi semakin menyukainya!,” ucap Yoona.

Jessica tersenyum, “Kalian pasti sangat cocok jika bersama,” ucapnya.

“Benarkah?,”

“Tentu saja. Kau cantik dan Luhan itu tampan. Pasangan yang sempurna,” jawab Jessica.

Wajah Yoona memerah seperti tomat setelah mendengarnya.

***

 

Jessica dan Sehun sedang makan berdua di kantin. Namun, tiba-tiba…

“Boleh aku ikut bergabung?,” tanya Luhan.

Sehun memutar bola matanya. Sedangkan Jessica tersenyum menyambut Luhan, “Silakan,” jawabnya.

Bahkan Luhan mengambil tempat disamping Jessica, bukan disamping Sehun.

“Menyebalkan!,” gumam Sehun pelan sambil menusuk-nusuk daging di piringnya dengan garpu yang ia pegang.

“Sehun-ah, ada masalah?,” tanya Jessica cemas.

“Ah, tidak,” jawab Sehun.

***

 

“Luhan itu sangatlah tampan,” ucap Taeyeon.

“Dia juga sangat manis,” ucap Sunny.

“Apa aku cocok dengannya?,” tanya Yoona.

Taeyeon dan Sunny mengangguk kompak.

“Tapi, kau harus berhati-hati dengan Jessica,” ucap Sunny.

“Kenapa? Bukankah Jessica sudah memiliki Sehun?,” tanya Taeyeon.

“Jessica dan Luhan sangatlah dekat. Aku curiga dengan hubungan mereka,” jawab Sunny.

“Kira-kira, Sehun yang berjiwa detektif curiga tidak, ya?,” tanya Taeyeon.

“Semoga saja begitu. Jadi, Luhan bisa menjadi milikku seorang!,” jawab Yoona.

Tanpa mereka sadari, seorang murid laki-laki mendengarkan percakapan mereka.

“Bahkan murid yang payah akan pelajaran seperti Sunny saja curiga dengan hubungan Jessica dan Luhan,” gumam murid laki-laki itu yang tak lain adalah Oh Sehun.

Sehun mengepalkan tangannya, “Aku harus menyusun strategi. Aku tidak akan membiarkan Luhan merebut Jessica!,”

***

 

“Luhan-ssi, ku dengar kau sedang mengincar seorang murid perempuan di sekolah ini,” ucap Baekhyun.

Luhan tersenyum malu, “Ya. Begitulah,” ucapnya.

Sehun berada di balik dinding mendengarkan percakapan mereka dengan memasang pendengaran yang tajam.

“Wah. Murid perempuan itu pasti sangat beruntung sekali, ya?,”

“Tidak. Aku lah yang beruntung jika aku berhasil mendapatkannya,”

Sehun menulis di buku catatan kecilnya, “Aku lah yang beruntung jika aku berhasil mendapatkannya,” gumamnya.

“Oh, ya? Memangnya murid itu sangat cantik, ya?,” tanya Baekhyun.

“Dia itu sempurna,” jawab Luhan.

Sehun kembali menulis, “Dia itu sempurna,” gumamnya.

“Beritahu aku ciri-cirinya!,” pinta Baekhyun penasaran.

“Dia memiliki mata yang indah, senyuman yang manis, wajah yang sempurna, dan sifat yang ramah,” jawab Luhan.

Sehun menulis seperti apa yang dikatakan Luhan.

“Aku jadi penasaran siapa perempuan itu,” ucap Baekhyun.

Luhan tertawa mendengarnya.

Sehun memasukkan buku catatan kecilnya ke dalam sakunya. Informasi berhasil ia dapatkan. Selanjutnya, ia harus menjalankan rencana B.

***

 

“Terima kasih, Jessica-ya. Selama ini kau sudah banyak membantuku,” ucap Luhan.

“Iya. Aku senang bisa membantumu, Lu,” jawab Jessica.

Sehun mengikuti mereka dari belakang namun ia berada sangat jauh dari mereka. Ia menggunakan alat pendengar pada jarak jauh di telinga kanannya sehingga ia dapat mendengarkan percakapan Jessica dan Luhan sangat jelas.

Luhan menghentikan langkahnya. Jessica juga ikut berhenti. Luhan pun berposisi berhadapan dengan Jessica.

Luhan memegang kedua bahu Jessica, “Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku. Dan sebentar lagi kau akan menjadi—,”

“SEHUN!!!!,” seru Baekhyun yang berada dibelakang Sehun.

“Astaga! Kau ini mengagetkanku saja. Sudah sana pergi,” usir Sehun.

“Iya deh,” jawab Baekhyun lalu pergi meninggalkan Sehun.

Sehun beralih kembali menatap Jessica dan Luhan. Matanya membulat sempurna saat melihat Luhan dan Jessica berpelukan.

“Apakah tadi—Luhan telah menyatakan perasaannya kepada Jessica? Dan Jessica menerimanya?,” gumam Sehun tak percaya.

Tapi, Sehun bukan tipe orang yang langsung mengambil keputusan. Sehun masih belum mengumpulkan bukti yang akurat.

“Oke. Aku akan melakukan rencana B,” gumam Sehun.

***

 

Satu hari telah berlalu. Sekolah tetap aktif karena hari ini bukan hari minggu atau hari libur. Jadi, semua murid masih belajar di sekolah dan semua pengajar masih mengajar di sekolah.

Sehun memutuskan akan melakukan rencana B. Ia sudah memikirkan matang-matang selama satu malam hingga ia kurang tidur. Jessica pun berkali-kali menanyakan keadaannya yang sangat tidak baik.

“Kau begadang lagi?,” tanya Jessica.

Sehun mengangguk, “Ada eksperimen yang sedang ku lakukan,” jawabnya.

“Kau masih seorang pelajar, Sehun-ah. Berhenti melakukan hal yang mengganggu pelajaranmu,” ucap Jessica.

“Setelah eksperimen ini selesai, aku berjanji akan berhenti,” ucap Sehun.

Jessica tersenyum. Ia mengusap kepala Sehun dengan sayang. Sehun selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Jessica. Sehun sangat mencintai Jessica. Tak heran ia selalu melakukan apapun demi Jessica.

Tiba-tiba, seorang pengajar masuk ke kelas mereka. Semua murid kembali ke kursi masing-masing. Pengajar itu menjelaskan materi pelajaran yang disukai oleh Sehun. Tapi, Sehun lebih tertarik untuk menginterogasi teman sebangkunya itu.

“Luhan,” panggil Sehun.

Luhan menoleh, “Ya?,”

“Boleh aku menanyakan sesuatu?,” tanya Sehun.

“Tentu saja,” jawab Luhan.

Sehun menarik napas sejenak, “Bagaimana pendapatmu tentang Jessica?,”

Luhan mengernyit bingung, “Apa maksudmu?,” tanyanya.

“Maksudku, bagaimana Jessica itu menurutmu?,” tanya Sehun.

“Oh. Dia orang yang ramah,” jawab Luhan.

“Karakter fisiknya?,” tanya Sehun.

“Dia memiliki mata yang indah, senyuman yang manis, dan wajah yang sempurna—”

Tidak salah lagi, pikir Sehun. Jadi, selama ini Luhan memang menyukai Jessica? Dan saat mereka berpelukan itu ternyata benar sesuai dengan apa yang dipikirkan Sehun?

“Jadi mereka menjalin hubungan dibelakangku?,” gumam Sehun pelan.

“—seperti—eh, Sehun-ah?,”

Belum selesai Luhan berbicara, Sehun sudah keluar dari kelas tanpa meminta ijin dengan pengajar. Wajahnya terlihat marah. Jessica merasa cemas dan meminta ijin untuk ke toilet, bermaksud untuk mengejar Sehun.

***

 

Jessica sudah mencari ke seluruh ruangan di sekolah, tapi ia tak kunjung menemukan Sehun. Dan pencariannya berakhir di atap sekolah. Ia menemukan Sehun yang sedang menatapi langit biru.

“Sehun-ah,”

Sehun berbalik. Namun, bukan seperti harapan Jessica, Sehun melemparkan tatapan dinginnya kepada Jessica.

“Untuk apa kau kemari?,”

“Ada apa, Sehun-ah? Ceritakan semuanya kepadaku. Aku berjanji akan membantumu,” ucap Jessica.

“Kau tidak akan bisa membantu,” ucap Sehun.

“K-Kenapa?,”

“Bisakah kau membantu untuk menjelaskan perselingkuhanmu, eh?,” tanya Sehun berapi-api.

“Perselingkuhan apa maksudmu?,” tanya Jessica bingung.

“Tidak perlu berakting, Jessica Jung. Aku sudah tahu semuanya. Kau dan Luhan. Kalian berpacaran, bukan?,”

Jessica spontan syok mendengarnya. Ia menggeleng cepat, “Aku tidak pernah sekalipun memikirkan hal itu, Sehun-ah. Apalagi melakukannya,” jawabnya.

“Lalu, apa maksud pelukan kemarin di koridor?,” tanya Sehun.

“Saat itu Luhan berterima kasih karena aku sudah menjadi sahabat terbaiknya,” jawab Jessica.

“Dan sebentar lagi akan menjadi—,”

“Saudara terbaiknya! Itu yang Luhan katakan hingga aku memeluknya sebagai ucapan terima kasih,” potong Jessica.

Sehun mengerjap, “Saudara? Apa maksudmu? Kau dan Luhan—,”

“Ayahku dan ibunya sudah bertunangan. Dan sebentar lagi akan menikah. Maaf karena aku belum memberitahumu. Aku berniat menjadikan ini sebuah kejutan,” jawab Jessica.

“Tapi, Luhan menyukai seseorang yang cirinya sama persis denganmu!,” ucap Sehun.

“Dan kau belum mendengarkan kelanjutan dari kalimatku yang sempat terputus karena kepergianmu, Oh Sehun!,”

Sehun dan Jessica menoleh ke sumber suara, “LUHAN??!!,”

“Saat kau menanyakan bagaimana pendapatku tentang Jessica, aku menjawabnya dia memiliki mata yang indah, senyuman yang manis, wajah yang sempurna, dan sifat yang ramah. Seperti—,” Luhan tersenyum tipis, “—seseorang yang selama ini ku sukai, Im Yoona,” lanjutnya.

Sehun mengerjap kaget, “J-Jadi—kau—itu—,”

“Intinya, kau hanya salah paham, Sehun-ah. Aku dan Jessica bukan apa-apa selain sahabat dan saudara,” ucap Luhan.

Sehun tersenyum malu. Melihat itu, Jessica tertawa ringan.

“Ini pertama kalinya kau gagal menyimpulkan permasalahan, bukan?,” tebak Jessica.

Sehun mengusap tengkuknya, “Sepertinya begitu,” jawabnya.

Jessica memeluk Sehun erat, “Jangan pernah membuatku mencemaskanmu lagi, oke? Misimu sudah selesai sekarang. Jadi, kau tidak boleh begadang lagi,” ucapnya.

“Okay, master!,” jawab Sehun seraya mengusap kepala Jessica.

Luhan hanya tersenyum melihat pasangan dihadapannya itu.

Sehun menatap ke langit biru. Misi cintaku.. selesai!

END

Yang ini agak pendekan, ya? Sorry buat AliyaGorjessspazzer u.u

Tapi, semoga kamu suka ya sama ceritanya. Sorry aku bikin jadi aneh gini. Pengen ada nuansa baru aja sih. Soalnya cerita-cerita jaman sekarang udah banyak yang pasaran. Jadi, aku mencari sesuatu yang lain.

Buat readers dan khususnya AliyaGorjessspazzer, ayo tinggalkan jejak! ^^

(Request FF) – Fall In Love With Bad Girl


Title : Fall In Love With Bad Girl

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jessica Jung
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s LuHan as Xiao Luhan

Support Cast :

  •  SNSD’s Sooyoung as Choi Sooyoung
  •  SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  •  SNSD’s YoonA as Im Yoona
  •  EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • etc

Genre : School-life, Romance, Comedy

Length : Oneshot

Note : FF ini merupakan ‘Request FF’ dari Park Yuko. Semoga bisa diterima dan bisa memuaskan anda dan juga ma all beloved readers!

***

 

Menjadi seorang gadis tomboy adalah hal yang biasa. Tetapi, menjadi seorang gadis yang tidak memiliki kekasih seumur hidupnya bukanlah hal biasa. Statusnya sebagai gadis tomboy membuatnya tak bisa merasakan apa itu cinta, apa itu pacaran, apa itu kekasih. Padahal teman-temannya sering merasakan tiga hal itu. Iri, tentu saja. Meskipun memiliki jiwa seperti laki-laki, tetapi gadis ini juga ingin seperti teman-temannya.

Namanya Jessica Jung. Nama seorang murid di Seoul Performing Art School yang paling ditakuti oleh kaum adam maupun hawa. Nama yang sangat terkenal bahkan di luar sekolah sekali pun. Nama yang menyedihkan bagi Jessica sendiri karena baginya nama itu membawa penderitaan untuknya.

“Aku sudah tidak perawan lagi,”

“APA???!!!!,” teriak tiga sahabat Yoona.

“Dimana kalian melakukannya?,” tanya Yuri.

“Berapa ronde, eoh?,” tanya Sooyoung.

“SIAPA YANG BERANI MENGOTORIMU, IM YOONA? TAKKAN KU MAAFKAN LELAKI ITU!!!!,” teriak Jessica murka.

Yoona terkekeh pelan, “Tenang. Bukan miss V milikku yang tidak perawan. Tapi—,” wajah Yoona memerah, “—bibirku,” lanjutnya.

“Oh, jadi Yoona sudah melakukan ciuman pertama?,” tanya Yuri.

Yoona mengangguk malu.

“Akhirnya!,” seru Sooyoung turut senang.

Yuri menyikut lengan Jessica, “Bagaimana denganmu, eh?,” tanyanya.

Jessica menghela napas berat, “Aku tidak tertarik dengan yang namanya cinta,” jawabnya.

“Apa benar?,” tanya Sooyoung dengan tatapan menggodanya.

“Bawakan saja lelaki paling tampan di dunia ini. Aku tetap takkan jatuh cinta kepadanya,” ucap Jessica.

“Keras kepala sekali,” bisik Yoona kepada Yuri.

“Padahal kemarin aku mendengar dia mengigau ingin memiliki kekasih,” bisik Yuri kepada Yoona.

“Bagaimana kalau kita bertaruh?,” tawar Sooyoung.

Jessica mengernyit, “Bertaruh apa?,” tanyanya.

“Kau harus menjalin hubungan dengan Kim Jongin, si tampan yang jago kungfu itu,”

Jessica spontan syok, “WHAT THE HELL!!!,” teriaknya.

“Untuk apa itu, Sooyoung-ah?,” tanya Yoona.

“Jessica sendiri yang berkata kalau dia takkan jatuh cinta meskipun kita membawakan lelaki tampan. Jadi, jika Jessica menjalin hubungan dengan Jongin, pasti Jessica akan merasakan cinta,” jawab Sooyoung.

Jessica menggeleng cepat, “Tidak mungkin! Satu bulan berpacaran dengannya pun aku takkan jatuh cinta kepadanya,”

“Oke! Deal!,” seru Sooyoung.

“Eh?,”

“Satu bulan berpacaran dengan Kim Jongin. Jika kau jatuh cinta, kau kalah. Jika tidak, aku yang kalah. Terserah kau ingin minta apa dariku,” ucap Sooyoung.

“Tapi, bagaimana caranya Jessica bisa berpacaran dengan Kim Jongin? Bukankah itu hal yang mustahil?,” tanya Yuri.

Sooyoung tersenyum licik, “Tenang saja. Serahkan semuanya kepadaku,” jawabnya.

Jessica, Yuri, dan Yoona menatapnya horor.

***

 

BRAKKK!!!!

Jongin baru saja membanting temannya—Oh Sehun—ke lantai di ruangan lapangan basket. Semua teman-teman lelakinya dan beberapa murid perempuan bertepuk tangan.

“Hebat, Jongin! Permainan kungfumu tidak tertandingi,”

“Kau sangat baik bermain kungfu,”

“JONGIN OPPA, KAU SANGAT KEREN!!!!!,” teriak para murid perempuan.

Sehun beranjak berdiri, “Hebat, teman. Kau hampir meremukkan tulangku,” pujinya.

“Maaf jika membuatmu terluka, Sehun-ah,” ucap Jongin.

“Tidak apa. Aku tidak masalah,”

“HEI! KIM JONGIN!!!!!,”

Semua yang ada disana menoleh ke sumber suara. Choi Sooyoung yang sedang berada di ambang pintu. Suara itu berasal darinya.

“JANGAN SOMBONG DULU! KAU BELUM BERTANDING MELAWAN TEMANKU YANG LEBIH HEBAT DARIMU!,” teriak Sooyoung.

Mereka semua tertawa, termasuk Jongin sendiri.

“Siapa temanmu itu?,” tanya Jongin.

Sooyoung langsung menarik Jessica dan membawanya masuk. Para murid terkaget-kaget dan ketakutan.

“J-Jessica?,” pekik Sehun tak percaya.

“Oh. Jadi gadis tomboy ini yang lebih hebat dariku?,” tanya Jongin angkuh.

“Tentu saja!,” jawab Sooyoung.

Jessica hanya diam, tak berani berkata apapun.

“Bagaimana kalau kita bertaruh?,” tawar Sooyoung.

“Bertaruh apa?,” tanya Jongin.

“Jika kau berhasil menang, aku akan menjadi pembantumu selama satu bulan penuh,” ucap Sooyoung.

“Menarik,” bisik Sehun kepada Jongin.

“Dan jika gadis itu yang menang?,” tanya Jongin.

“Kau harus menjadi kekasihnya,”

“APA?????!!!!!!!!!,”

“Menjadi kekasihnya? Apa kau gila?,” tanya Jongin tak percaya.

Jessica menunduk sambil menutupi wajahnya yang memerah karena malu.

“Oh. Jadi, kau takut kalah?,” tanya Sooyoung.

“Enak saja. Tidak ada kata kalah di dalam kamusku,” jawab Jongin, “Oke. Aku terima. Mari kita mulai sekarang,”

Sooyoung menepuk bahu Jessica, “Kau harus menang!,” bisiknya.

“Aku tidak bisa bermain kungfu,” bisik Jessica.

“Kalahkan dia dan selesai. Kau untung, aku juga selamat dari neraka,” bisik Sooyoung.

“Bersedia ditempat. Saling membungkuk. Dan mulai!,” seru Sehun.

Jessica dan Jongin pun mulai bertanding.

***

 

Jessica merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini merupakan hari terburuk yang pernah ia alami. Jessica tidak kalah dalam pertandingan itu. Dan mulai hari ini, Jessica dan Jongin resmi menjadi sepasang kekasih.

“Apa yang harus aku lakukan? Bahkan aku tidak tahu harus melakukan apa! Atau aku berhenti sekolah saja?,”

Jessica mengacak-acak rambutnya prustasi. Ini benar-benar di luar dugaannya. Ia pikir, ia akan kalah dan keluar dari rencana gila yang disusun oleh Sooyoung. Tapi, ternyata, ia menang.

“Bagaimana nanti jika aku bertemu dengan Jongin? Atau dengan para penggemarnya itu?,”

Jessica sangat prustasi hari ini.

***

 

Jessica berjalan menelusuri koridor sekolahnya dengan suasana yang sangat suram. Para penggemar Kim Jongin menatapinya dengan penuh benci. Tapi, mereka tidak berani melawan ataupun mengejek Jessica. Karena mereka tahu jika mereka berani kepada Jessica, mereka akan segera dimasukkan ke dalam pemakaman.

“Jessica-ah!,” seru Yuri sambil merangkul bahu Jessica.

Jessica tersentak, “Kau mengagetkanku saja, Yuri-ah,” ucapnya sambil mengelus dadanya pelan, “Ada apa?,” tanyanya.

“Hanya ingin menyapa sahabatku yang baru saja memiliki kekasih,” jawab Yuri dengan senyuman lebarnya.

Wajah Jessica memanas. Ia segera melepaskan rangkulan Yuri dan segera berlari meninggalkannya. Yoona dan Sooyoung yang kebetulan lewat pun menghampiri Yuri.

“Kenapa Jessica pergi?,” tanya Yoona.

Yuri tersenyum lebar, “Dia sedang salah tingkah,” jawabnya.

Sementara itu, Jessica terus berlari di sepanjang koridor sekolah. Hingga ia menabrak seorang murid laki-laki yang baru saja keluar dari kelasnya.

“Aw!,”

“Maafkan aku. Aku sangat menyes—,” Jessica mendongak dan tercengang, “—Kim Jongin?,” pekiknya.

“Oh. Seorang gadis preman di sekolah meminta maaf? Tidak biasanya,” ucap Jongin.

“Tentu saja dia harus meminta maaf kepadamu, Jongin-ah. Dia kan kekasihmu,” sahut Sehun yang berada disamping Jongin.

Wajah Jessica kembali memanas. Ia segera berlari meninggalkan mereka berdua.

“Kau ini bicara apa, Sehun-ah? Aku bukan kekasihnya!,”

“Jangan pernah lupa fakta bahwa kau kalah taruhan dengan Choi Sooyoung,” ucap Sehun.

Jongin mengacak-acak rambutnya, “Gah! Aku benar-benar tertimpa sial!,” gerutunya.

***

 

“Annyeonghaseyo. Nama saya Xiao Luhan. Panggil saja Luhan. Senang berkenalan dengan kalian. Saya harap, kalian dapat membantu saya. Terima kasih,”

“WHOA!!!!!!,”

“TAMPANNYA!!!!!!!,”

“MANIS!!!!!!!!!,”

Seperti itulah teriakan dari para murid perempuan di kelas tersebut. Luhan pun duduk disamping gadis yang ditakuti hampir semua murid, Jessica Jung.

“Namaku Luhan,” ucap Luhan.

“Aku sudah tahu,” jawab Jessica dingin.

“Bagaimana dengan namamu?,” tanya Luhan.

“Jessica,”

Luhan mengusap tengkuknya, “Oh. Senang berkenalan denganmu, Jessica-ssi,” ucapnya.

“Hm,”

Luhan tersenyum sambil memandangi Jessica yang tengah fokus mendengarkan pelajaran di kelas. Diam-diam, Luhan telah jatuh ke dalam pesona rahasia yang dimiliki oleh Jessica. Pesona yang hanya bisa dilihat dari jarak dekat.

“Menarik,” gumam Luhan pelan.

***

 

Jessica sedang makan di kantin bersama ketiga sahabatnya. Kantin itu cukup dipenuhi oleh murid-murid.

“Jessica-ah, kau tidak makan bersama kekasihmu?,” tanya Sooyoung sambil menunjuk Jongin dengan dagunya.

“Dia itu bukan kekasihku,” ucap Jessica.

“Kalian sudah resmi berpacaran, Sica-ah. Kalian adalah sepasang kekasih,” ucap Yoona.

“Ini semua kan karena ide gila dari Sooyoung,” ucap Jessica kesal.

“Permisi,”

Keempat murid perempuan itu menoleh ke sumber suara. Yoona, Sooyoung, dan Yuri terperangah melihat siapa yang menyapa mereka.

“Tampannya!,” kagum Yuri.

“Manis!,” kagum Yoona.

“Juniornya besar tidak, ya?,” gumam Sooyoung pelan. Pelan sekali hingga hanya Yoona yang mendengarnya. Yoona menahan tawanya setelah mendengar gumaman Sooyoung.

“T-Terima kasih. Bolehkah aku bergabung disini?,”

“Kau bisa duduk di tempat lain, Luhan-ssi,” ucap Jessica.

“K-Kalian saling kenal?,” tanya Yuri tak percaya.

“Dia murid baru di kelasku,” jawab Jessica santai.

“Disini, hanya Jessica yang ku kenal. Jadi, boleh aku bergabung disini, ya?,” pinta Luhan.

“Boleh boleh!,” jawab Sooyoung.

“Tentu saja!,” jawab Yuri.

“Silakan duduk,” ucap Yoona.

Luhan pun mengambil tempat disamping Jessica. Sehun yang melihatnya dari kejauhan pun menyikut lengan Jongin.

“Ada apa?,”

“Lihat! Kekasihmu bersama Luhan, murid baru yang sudah menjadi sangat populer di sekolah ini,” ucap Sehun.

Jongin menaikkan alisnya, “Lalu?,”

“Kau tidak cemburu?,” tanya Sehun.

“Memangnya aku ingin berpacaran dengannya? Aku melakukan ini hanya karena kalah taruhan. Lagipula, mana mungkin aku jatuh cinta kepada gadis preman itu,” seru Jongin.

“Jaga kata-katamu, Jongin-ah. Hati-hati kalau kau sampai menjilat ludahmu sendiri,”

“Aku tidak akan termakan oleh kata-kataku. Tenang saja,” ucap Jongin yakin. Ia kembali melanjutkan makannya sambil menatap Jessica bersama Luhan. Apa yang dilihat Luhan tentang Jessica? Mengapa dia mau mendekati Jessica?, batinnya.

***

 

Satu minggu telah berlalu. Hubungan Jessica dan Jongin semakin parah. Keduanya terus bertengkar. Benar-benar tidak seperti sepasang kekasih pada umumnya.

Sementara itu, hubungan Jessica dan Luhan semakin dekat. Luhan selalu berusaha mendekati Jessica hingga Jessica menyerah. Mereka pun mulai berteman dan Jongin semakin curiga akan hubungan mereka.

“Kau benar-benar tidak cemburu pada si Luhan itu?,” tanya Sehun.

“Tidak akan pernah, Oh Sehun!,” jawab Jongin.

Di perpustakaan, Jessica dan Luhan sedang membaca buku pelajaran.

“Jessica-ya, bisakah kau menjelaskan apa maksud pertanyaan yang ini?,” tanya Luhan.

Jessica pun menjelaskannya kepada Luhan. Dan diam-diam, Luhan tak memperhatikan penjelasan Jessica. Melainkan memperhatikan wajah Jessica.

“Cantik,”

“Apa?,” tanya Jessica.

“T-Tidak. Maksudku, aku mengerti,” jawab Luhan grogi.

Jessica mengangguk pelan, “Oke,” ucapnya.

***

 

“Berkencan?,” pekik Jessica kaget.

“Kau tidak mungkin bisa jatuh cinta kepada Jongin jika hubungan kalian terus seperti ini. Kalian harusnya pergi jalan-jalan berdua,” jawab Sooyoung.

“Sooyoung-ah, ini gila. Sangat gila. Bagaimana dengan dia? Memangnya dia mau?,”

Sooyoung mengangguk, “Tentu saja dia mau!,” jawabnya.

“Berkencan? Yang benar saja!,”

 

“Kim Jongin, jika kau menolaknya, itu artinya kau takut jatuh cinta pada Jessica,” ucap Sooyoung.

 

Jongin menggeleng cepat, “Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada gadis preman itu, Sooyoung-ssi,” bantahnya.

 

“So?,”

 

Jongin menghela napas berat, “Baiklah. Aku setuju. Aku akan berkencan dengannya,” jawabnya akhirnya.

 

“Oke. Jemput Jessica di alamat ini,” ucap Sooyoung seraya memberikan selembar kertas kecil kepada Jongin.

 

“Oke,” jawab Jongin pasrah.

 

***

 

Jongin sedang bersandar di mobilnya yang sedang diparkir di depan rumah milik Jessica. Beberapa kali Jongin melirik jamnya. Jongin tak menyangka, gadis tomboy seperti Jessica yang tidak suka berdandan ternyata bisa lama juga. Benar-benar di luar dugaan, pikirnya.

“Maaf. Aku membuatmu lama menunggu!,”

“Ya sudah. Tidak apa-ap—,” kalimat Jongin terhenti dan ia tercengang pada seorang gadis yang berdiri dihadapannya itu, “K-Kau Jessica?,” tanyanya ragu.

“Maaf. Bukan aku yang menginginkan ini. Yuri memaksaku untuk berdandan. Dia lah yang mendandaniku seperti ini,”

Jongin masih tercengang melihat penampilan Jessica. Wajahnya memang sangat mirip Jessica. Tapi, penampilannya sangat berbeda. Jongin masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Aku masih tidak percaya,” gumam Jongin pelan.

“Kau bicara apa, Jongin-ssi?,” tanya Jessica.

Jongin mengibaskan tangannya dengan cepat, “Tidak. Bukan apa-apa. Ngg—ayo berangkat!,”

Jessica mengangguk setuju. Keduanya masuk ke dalam mobil milik Jongin. Dan mereka akan melangsungkan kencan pertama mereka.

***

 

Jongin sedang berbaring di ranjangnya. Ia memainkan ponselnya dan melihat-lihat folder foto di ponselnya. Terdapat banyak foto pemandangan, wahana bermain, dan satu foto yang sangat menarik baginya. Hingga foto tersebut ia jadikan sebagai walpaper ponselnya.

Gambar

Jongin tertawa sambil mengingat bagaimana caranya ia mendapatkan foto tersebut.

“Akhirnya aku telah mencoba wahana paling berbahaya itu!,” seru Jessica.

Jongin menaikkan alisnya, “Memangnya kau tidak pernah menaiki wahana yang tadi itu sebelumnya?,” tanyanya.

“Setiap pergi ke Lotte World bersama Yoona, Sooyoung, dan Yuri, mereka pasti tidak mau menemaniku naik wahana itu. Terima kasih karena kau sudah mau menemaniku,”

Wajah Jongin memanas. Ia menundukkan kepalanya agar wajah merahnya tak terlihat oleh Jessica.

“Ya. Tidak masalah,” jawab Jongin.

“Oke. Mari kita menaiki wahana yang lain!,” seru Jessica seraya berjalan mendahului Jongin.

Jongin mengeluarkan ponselnya saat ponselnya mulai bergetar. Ia membaca pesan dari Sooyoung.

From : Sooyoung-evil friend

Selamat bersenang-senang! Semoga kalian akan menyadari perasaan kalian masing-masing. Keke~!

Jongin terkekeh pelan. Kemudian, ia mendapatkan ide yang bagus. Ia arahkan ponselnya ke arah Jessica, dan..

“Jessica-ssi,”

Jessica berbalik, “Ya?,” jawabnya. Dan suara kamera serta sinar flash pun terdengar dan terlihat.

“YA! KIM JONGIN! UNTUK APA MENGAMBIL FOTOKU?,” teriak Jessica kesal.

“Penampilanmu saat ini sangat langka. Aku akan menyebarkannya!,” jawab Jongin.

“TIDAK! TIDAK BOLEH! KAU TIDAK BOLEH MENYEBARKANNYA!,”

“AKU AKAN MENYEBARKANNYA!,”

“Kau jahat, Kim Jongin! Ku mohon, jangan!,”

Jongin tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Jessica.. Jessica.. Mana mungkin aku menyebarkan fotomu. Kalau aku melakukannya, aku pasti akan segera kehilanganmu karena semua lelaki akan merebutmu dariku,”

Tersadar akan ucapannya, Jongin menepuk mulutnya sendiri.

“Apa yang ku katakan tadi? Untuk apa aku peduli pada Jessica? Kenapa aku tidak ingin kehilangan Jessica?,”

Jongin mengacak-acak rambutnya.

***

 

“Jessica-ya!,” panggil Luhan sambil berlari mengejar Jessica.

“Eh? Ada apa, Lu? Bukankah kau harus segera pulang karena kau akan pergi ke China?,” tanya Jessica.

“Ngg—ada yang ingin ku sampaikan kepadamu sebelum aku pergi ke China,” jawab Luhan.

“Sangat penting, ya? Kalau tidak penting, kau sampaikan saat setelah kau kembali ke Seoul saja,” ucap Jessica.

“Tidak bisa. Itu terlalu lama,” ucap Luhan.

“Oke. Jadi, ada apa?,”

“Ngg—,” Luhan menarik napas dalam, “—maukah kau menjadi kekasihku?,”

“A-Apa?,” pekik Jessica tak percaya.

Luhan mengangguk, “Jadilah kekasihku. A-Aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Aku ingin hubungan kita lebih dari sahabat,”

“A-Aku—aku—,”

“Jessica tidak bisa menjadi kekasihmu!,” seru seorang murid laki-laki seraya menghampiri mereka.

“J-Jongin?,”

“Siapa kau?,” tanya Luhan.

“Aku adalah kekasih Jessica,” jawab Jongin.

Luhan mendadak syok dibuatnya. Ia menatap Jessica meminta penjelasan.

“Memang benar aku kekasihnya. Tapi, hubungan kami tidak—,”

“Ku sarankan kau segera menjauh dari kehidupan Jessica. Aku tidak ingin Jessica dekat dengan lelaki lain selain aku,” ucap Jongin lalu segera menarik Jessica pergi.

“J-Jongin-ssi, lepaskan!,”

Jongin terus menarik tangan Jessica dan membawanya ke belakang sekolah.

“Untuk apa kau membawaku kemari? Dan apa maksud perkataanmu kepada Luhan tadi?,” tanya Jessica marah.

“Bukankah sudah jelas? Aku adalah kekasihmu,” jawab Jongin.

“Tapi, kita tidak saling mencintai,” ucap Jessica.

“Mungkin itu kau. Tapi, tidak dengan aku,”

Jessica tersentak, “A-Apa?,”

“Selama ini aku sangat tidak menyukaimu. Tapi, aku tidak tahu mengapa seiring berjalannya waktu, aku mulai tertarik kepadamu meskipun aku masih tidak yakin. Dan sekarang, aku sudah memantapkan perasaanku. Aku selalu marah jika kau dekat dengan Luhan. Aku tidak suka kau bersama lelaki lain. Dan aku hanya ingin menjadi satu-satunya lelaki yang dekat denganmu,” ucap Jongin.

“J-Jongin..,”

“Aku tahu kau tidak mencintaiku. Aku bisa mengerti. Aku tidak akan memaksa. Jika kau ingin mengakhiri hubungan ini, aku tidak apa-apa. Tidak usah pedulikan aku. Yang penting, aku sudah mengatakan bahwa—,” Jongin menarik napas dalam, “—aku mencintaimu!,”

Jongin berbalik, berniat ingin pergi. Namun, Jongin menahan langkahnya saat ia merasakan sepasang tangan melingkari perutnya. Jessica sedang memeluknya dari belakang.

“Aku juga mencintaimu, bodoh!,”

“A-Apa?,”

“Selama ini aku menutupi perasaanku. Selama ini aku sudah jatuh cinta kepadamu. Kau berbeda dengan yang lain. Kehebatan kungfumu membuatku semakin tertarik kepadamu. Kau bukan lelaki yang lemah, dan aku suka itu. Setelah Sooyoung bertaruh denganmu, aku selalu menghindarimu. Aku takut, sikap salah tingkahku kepadamu dapat kau ketahui dengan mudah. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku mulai nyaman dan terbiasa bersamamu. Dan perasaan itu semakin menjadi. Dan aku tidak pernah menyukai Luhan lebih dari sahabat,” ucap Jessica.

Jongin berbalik dan memeluk Jessica erat, “Jadi, perasaanku terbalaskan?,” tanyanya.

“Tentu saja,” jawab Jessica.

“Tak ku sangka, aku akhirnya bisa jatuh cinta kepada gadis preman. Padahal aku mati-matian bersumpah bahwa aku takkan pernah jatuh cinta kepadamu,” ucap Jongin.

“Aku juga melakukan hal yang demikian kepada ketiga sahabatku yang selalu ingin tahu soal hubungan kita,” ucap Jessica.

“Tapi, aku tidak peduli. Sekarang, tidak ada lagi kecanggungan diantara kita,” ucap Jongin.

Jessica mengangguk. Mereka bertatapan dalam diam. Hal itu berlangsung selama satu menit. Dan akhirnya sesuatu yang baru telah terjadi. Sehun dan Sooyoung berhasil mengabadikan ciuman pertama Jessica dan Jongin di kamera milik mereka.

END

Huah! Selesai, deh! Buat Park Yuko, semoga kamu suka dengan FF ini, ya? Readers juga, ya. Dan jangan lupa komentarnya.

Baca juga ‘Request FF’ lainnya, yaks? ^^

Who I Love? (Chapter 5)


who-i-love

Title : Who I Love?

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :
o SNSD’s Jessica as Jessica Jung
o EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
o EXO-M’s LuHan as Xiao Lu Han
o EXO-K’s Chanyeol as Park Chanyeol

Support Cast :
o SNSD’s Seohyun as Oh Seohyun
o SNSD’s YoonA as Im Yoona
o EXO-K’s Baekhyun as Byun Baekhyun
o SNSD’s Taeyeon as Kim Taeyeon
o EXO-M’s Xiumin as Kim Minseok
o etc

Genre : Fluff, Romance, Friendship

Length : Series

    Poster by © pearlshafirablue

>>>

Jessica dan Sehun spontan mundur dan mereka berdua terjatuh dari atas ranjang ke lantai yang dingin.

“Aw!,” ringis keduanya.

Seohyun menghampiri Sehun dan membantunya berdiri, “Kau tidak apa-apa?,” tanyanya.

Sehun menggeleng seraya bangkit dengan bantuan Seohyun.

Sedangkan Jessica bangkit dengan sendirinya. Chanyeol, Baekhyun, dan Taeyeon pun menghampirinya.

“Apa yang terjadi, Jung-ya? Apa yang kalian lakukan?,” tanya Chanyeol panik.

“Aku tidak tahu. Aku lupa,” jawab Jessica.

Taeyeon mendesis, “Kau terlalu polos, Sica-ah,” cibirnya.

Seohyun menarik Sehun hingga menghampiri teman-temannya.

“Kalian berdua harus menjelaskannya sekarang!,” perintah Seohyun.

“Kami tidak melakukan apa-apa, Seohyun-ah. Tadi malam ia ketakutan karena listrik padam dan ia memintaku untuk menemaninya tidur,” jawab Sehun.

“APA?,” pekik Jessica, “Aku yang memintamu?,” tanyanya tak percaya.

“Ku rasa kepalamu terbentur saat kau jatuh tadi. Apa kau benar-benar lupa, Jessica Jung?,”

Jessica mengusap kepalanya, “Ingatanku belum bisa terkumpul jika baru bangun,” jawabnya, “Bagaimana jika kita bicarakan ini setelah mandi dan sarapan?,” usulnya.

“Ide bagus!,” setuju Chanyeol.

Taeyeon menggelengkan kepalanya, “Mengapa hal ini menjadi rumit?,” gumamnya prustasi.

***

Sesuai usul Jessica, mereka semua berkumpul di ruang tengah setelah mandi dan sarapan. Mereka tengah menanti penjelasan Jessica setelah Jessica berhasil memulihkan memorinya yang tadinya menghilang.

“Apa kau sudah mengingatnya?,” tanya Seohyun.

Jessica mengangguk, “Semua yang di katakan Sehun benar,” jawabnya.

Sehun tersenyum puas. Untunglah Jessica tidak membual dengan mempertinggi derajatnya. Ya, biasanya Jessica selalu seperti itu meskipun ia sedang terlibat dalam masalah besar.

“Tapi tetap saja Sehun yang duluan masuk ke kamarku,” tambah Jessica dengan ekspresi cemberutnya.

Baekhyun memukul kepala Sehun, “Untuk apa kau masuk ke kamarnya?,” tanyanya.

Sehun membalas memukul kepala Baekhyun, “Untuk tidur, tentu saja. Jika kalian tidak menguasai ranjangku, mungkin hal ini tidak akan terjadi,” jawabnya.

Baekhyun dan Chanyeol saling menatap. Lalu mereka menatap Sehun sambil menyengir seperti kuda.

“Sudah ku duga biang permasalahannya adalah mereka,” gumam Taeyeon.

“Jadi, semua ini berakhir sampai disini?,” tanya Chanyeol.

“TIDAK!,” jawab Seohyun.

Taeyeon, Chanyeol, dan Baekhyun menatap Seohyun bingung. Sedangkan Jessica dan Sehun menatap Seohyun horor. Mereka merasa mereka akan ketiban musibah setelah ini.

“Melanggar peraturan rumah dari haraboji yaitu tidur berdua dalam satu ranjang dan berbeda jenis akan di kenakan pasal—,”

“Seohyun-ah, kita ini bukan pemerintah, hakim, atau sejenisnya,” sahut Taeyeon datar.

Seohyun menyengir, “Maafkan aku. Aku terlalu berkeinginan menjadi seorang politikus,” jawabnya.

“Kami akan benar-benar di hukum?,” tanya Sehun.

Seohyun mengangguk, “Kita tidak bisa melupakan peraturan yang di buat dari haraboji, Sehun-ah. Beliau menginginkan rumah ini selalu menjadi suci,” jawabnya.

“Tapi, kami tidak melakukan apapun selain tidur, Seohyun-ah,” ucap Jessica.

“Maaf, Sica-ya. Aku tidak bisa. Ini adalah peraturan dari haraboji,” ucap Seohyun.

Sehun dan Jessica menghela napas berat kompak. Mereka sudah pasrah dengan hukuman apa yang akan di berikan oleh Seohyun.

“Tenang saja. Hukumannya ringan kok,” ucap Seohyun.

“Baiklah. Apa hukumannya?,” tanya Sehun.

Seohyun tersenyum, “Tangan kalian harus di borgol selama satu hari,” jawabnya.

“DI BORGOL??!!,” teriak Sehun dan Jessica tak percaya.

“Iya,” jawab Seohyun, “Kalian akan selalu bersama dalam satu hari,” lanjutnya.

“Aku tidak rela melihat Sehun bersama Jessica terus selama satu hari,” rengek Chanyeol.

“Seohyun-ah, apa ini tidak berlebihan?,” tanya Taeyeon.

Seohyun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.

“Satu hari? Tidak masalah. Kapan hukumannya di mulai?,” tanya Sehun.

“Besok, saat sekolah,” jawab Seohyun.

“APA?????!!!!,” teriak Sehun dan Jessica lagi.

***

“Ayo kita berangkat sekarang!,” seru Seohyun.

Sehun dan Jessica keluar dari rumah dalam keadaan terborgol satu sama lain. Itu artinya, mereka takkan bisa terpisahkan selama borgol tersebut tidak bisa di buka karena kuncinya ada di tangan Seohyun.

“Apa yang akan di katakan para guru, Seohyun-ah?,” tanya Sehun lemas.

“Akan ku katakan pada mereka bahwa ini adalah ritual yang di buat oleh haraboji,” jawab Seohyun.

“Benar-benar alasan yang tidak masuk akal,” gumam Sehun.

“Bagaimana jika aku ingin ke toilet?,” tanya Jessica.

“Kalian pasti bisa mengatasinya sendiri,” jawab Seohyun.

Sehun dan Jessica menghela napas kasar. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Sementara Seohyun mengambil alih mengemudi yang biasanya di pegang oleh Sehun.

***

Jessica merasakan aura kegelapan dimana-mana. Semua murid perempuan di kelasnya menatapnya tajam. Ya, tentu saja karena mereka tidak rela idola mereka terus menempel bersama si murid baru berdarah campuran itu.

“Meskipun itu ritual dari haraboji-nya, tetap saja aku tidak rela,” seru seorang murid perempuan.

“Kenapa bukan aku saja yang di borgol bersama Sehun?,”

“Ah, aku benar-benar iri pada Jessica itu,”

Jessica mengusap kupingnya yang memanas. Andai saja laki-laki yang di borgol bersamanya adalah Luhan, Jessica pasti sudah merasa berada di surga meskipun ia belum tiada.

“Aku ingin ke toilet,” ucap Sehun, dengan wajah yang memucat.

“K-Ke toilet?,”

Sehun beranjak berlari keluar dari kelas. Tentu saja Jessica ikut berlari karena tangannya akan terus mengikuti kemana Sehun pergi. Dan yang benar saja. Mereka pergi menuju toilet laki-laki.

“Sehun-ah, aku tidak mau!,” protes Jessica.

“Aku sudah tidak tahan, Jessica-ya. Ayo cepat masuk,” seru Sehun.

Dengan paksaan, akhirnya Sehun dan Jessica masuk ke dalam toilet. Minseok yang baru keluar dari toilet mengerjap kaget.

“Oh Sehun dan Jessica Jung—berdua di dalam toilet?,”

***

“Benarkah?,”

Minseok mengangguk cepat. Ia masih syok melihat dua murid yang masuk ke dalam toilet itu. Ia tampak berpikir keras, apa saja yang mereka lakukan disana?

Luhan menyeruput tehnya, “Itu artinya, aku sudah benar 100%, hyung,” ucapnya.

Minseok mengernyit heran, “Benar apanya?,” tanyanya.

“Soal Sehun dan Jessica. Itu artinya Sehun pasti menyukai Jessica,” jawab Luhan.

“Aku tidak bisa menyalahkan perkataanmu. Dua murid berbeda jenis masuk ke dalam toilet. Sangat wajar jika di katakan mereka memiliki ikatan,” ucap Minseok.

Luhan mengangguk mantap.

“Apa aku mengganggu?,” tanya seorang murid perempuan yang menghampiri meja Luhan dan Minseok di kantin, “Apa aku boleh bergabung?,” tanyanya.

“Tentu, Yoona-ah,” jawab Luhan, di sertai senyuman khasnya.

Yoona duduk di samping Luhan, “Aku benar-benar masih mengingat tempat ini, Luhan. Maksudku—meja ini. Kita selalu makan disini berdua, bukan?,”

Luhan mengangguk, “Meja kita,” ucapnya.

Wajah Yoona bersemu merah. Ia selalu seperti ini di setiap Luhan mengeluarkan kata demi kata yang mampu membuat jantungnya berdetak tidak normal. Yoona akui, ia masih mencintai lelaki oriental di sampingnya itu.

“Lihat! Yoona sunbae dan Luhan sunbae sepertinya akan memulai hubungan mereka lagi,”

“Aku iri pada mereka,”

“Mereka adalah pasangan yang sangat cocok,”

“Setidaknya Luhan sunbae lebih pantas di sandingkan dengan Yoona sunbae daripada si murid berdarah campuran itu,”

Telinga Jessica benar-benar panas mendengarnya. Ia segera bangkit dan ingin pergi. Namun, kekuatannya tidak cukup besar untuk menarik Sehun mengikutinya. Sehun masih melahap makanannya sambil menarik Jessica untuk duduk kembali.

“Kau cemburu, eoh?,” tanya Sehun.

“Tidak,” jawab Jessica.

“Bagus kalau begitu,” ucap Sehun.

Jessica menatap Sehun bingung, “Bagus apanya?,” tanyanya.

Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica, “Bukankah sudah ku bilang, jangan mendekati Luhan lagi. Dia bukan orang yang baik,” jawabnya.

Wajah Jessica memerah seperti tomat. Sehun menjauhkan wajahnya saat melihat mereka menjadi pusat perhatian semua murid di kantin. Sehun kembali melahap makanannya dan bertindak seolah ia tidak melakukan hal apapun.

Sedangkan jantung Jessica berdetak kencang. Untuk yang pertama kalinya, ia bisa melihat Sehun dengan jarak sedekat itu. Sebenarnya dua kali. Bukankah Sehun dan Jessica pernah berciuman sebelumnya? Tentu saja wajah mereka berjarak dekat. Hanya saja, saat itu Jessica tidak begitu menyadarinya karena Jessica terlalu syok dengan apa yang di lakukan Sehun kepadanya. Jadi, ia menganggap ini yang pertama kalinya. Dan Jessica akui, Jessica sempat terhipnotis dari mata indah milih musuh bebuyutannya itu.

Jessica menarik napas, “M-Mengapa kau selalu berkata dia bukan orang yang baik?,” tanyanya, mencoba mengalihkan pikiran anehnya tadi.

“Kau akan tahu nanti,” jawab Sehun.

Jessica mengerucutkan bibirnya, “Jangan membuatku penasaran,” rengeknya.

“Aku akan memberitahumu jika kau mau menjadi kekasihku,” ucap Sehun.

“Itu mudah. Aku mau—,” Jessica tersadar, “APA??!!,” teriaknya, membuat mereka kembali menjadi pusat perhatian.

Sehun menjitak kepala Jessica, “Teriakanmu itu lebih parah daripada teriakan lumba-lumba,” cibirnya.

Jessica mengusap kepalanya, “Aku kaget,” ucapnya, “Jangan meminta yang aneh-aneh, bodoh,”

Sehun terkekeh, “Kau benar-benar tidak bisa di ajak bercanda, ya?,”

“Kau sendiri sangat payah untuk mengajak orang bercanda,” ucap Jessica kesal.

“Bukankah sudah ku bilang jangan lagi memanggilku payah? Aku sudah mengalahkanmu bertanding dua kali,” seru Sehun.

“Tapi, gelar payahmu tetap tidak bisa di hilangkan, payah,” jawab Jessica.

“Dasar darah campuran!,” ejek Sehun.

“Dasar payah!,” balas Jessica.

Perdebatan antara Sehun dan Jessica kembali menjadi pusat perhatian semua orang.

“Kau yakin mereka memiliki ikatan?,” tanya Minseok, yang melihat perdebatan di antara Sehun dan Jessica.

Luhan menggigit bibirnya, “Aku menjadi kurang yakin sekarang,” jawabnya.

“Mengapa tangan mereka di borgol?,” tanya Yoona.

Luhan dan Minseok menatap tangan mereka yang di borgol. Mereka baru menyadarinya sekarang.

“Pasti mereka melakukan hal bodoh lagi,” gumam Minseok.

Luhan menyeringai, “Pasti ini trik Sehun agar Jessica tidak bisa mendekatiku,” gumamnya pelan.

“Kau bicara apa, Luhan-ah?,” tanya Yoona.

Luhan menggeleng, “Bukan apa-apa,” jawabnya.

***

Seohyun sedari tadi senyum-senyum sendiri melihat Jessica dan Sehun duduk berdua meskipun keduanya masih berdebat. Taeyeon merasa ada yang tidak beres. Ia pun menghampiri Seohyun.

“Apa yang kau sembunyikan?,” selidik Taeyeon.

Seohyun mendadak grogi, “Ngg—a-aku tidak—,”

“Jangan bohong!,” potong Taeyeon, “Kau tidak bisa membohongiku, Seohyun-ah. Mungkin kau bisa membohongi Jessica yang polos itu,”

“Baiklah, akan ku katakan padamu,” ucap Seohyun akhirnya.

Taeyeon tersenyum puas. Ia pun memasang panca inderanya untuk mendengarkan perkataan Seohyun.

“Hukuman yang ku buat, ku tujukan untuk mereka, karena aku ingin mereka bersatu,”

“Sudah ku duga,” jawab Taeyeon.

Seohyun mengerjap, “K-Kau tahu?,” tanyanya tak percaya.

“Terlihat sangat jelas, Seohyun-ah. Bahkan Baekhyun juga mengira seperti itu. Sangat aneh kau membuat hukuman konyol itu jika alasannya bukan seperti itu,” jawab Taeyeon, “Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah—mengapa kau menginginkan mereka bersatu? Apa kau tidak cemburu?,” tanyanya.

Seohyun tersenyum, “Aku tidak cemburu. Dan—entah mungkin karena aku dan Sehun memiliki ikatan seperti saudara, aku bisa merasakan bahwa Sehun menyukai Jessica. Meskipun secara tidak langsung Sehun tak memberitahuku,” jawabnya.

“Kalian memang bersaudara, Seohyun-ah,” ucap Taeyeon, “Meskipun awalnya kalian hanya bersahabat,” lanjutnya.

Seohyun mengangguk. Ia kembali menatap Sehun dan Jessica yang sedang bertatapan. Ia kembali tersenyum melihatnya.

“Benar-benar pasangan yang cocok,” gumam Seohyun.

“Cocok darimana? Mereka selalu bertengkar setiap saat,” gumam Taeyeon pelan.

***

Waktu untuk pulang sekolah pun telah tiba. Seohyun berjalan di samping Sehun dan Jessica yang masih di borgol. Jessica senang karena sebentar lagi borgol mereka akan di lepas. Tetapi berbeda dengan Sehun. Sehun merasa dengan di borgol, Jessica takkan bisa bertemu dengan Luhan. Ya, Sehun selalu ingin melindungi Jessica dari Luhan.

“Astaga!,” pekik Seohyun tiba-tiba.

“Ada apa, Seohyun-ah?,” tanya Sehun.

“Buku matematika milikku tertinggal di kelas, Sehun-ah,” jawab Seohyun.

“Aku akan mengambilnya,” ucap Sehun.

“Tidak!,” seru Seohyun.

Sehun mengernyit, “Kenapa?,” tanyanya.

“Kau dan Jessica pergi ke mobil terlebih dahulu. Aku akan mengambilnya sendiri. Mana mungkin aku membiarkan kalian berdua kembali ke kelas dalam keadaan di borgol seperti itu. Kalian pasti akan kelelahan,” jawab Seohyun.

“Benar juga,” gumam Jessica.

“Aku segera kembali,” pamit Seohyun, lalu berlari menuju kelasnya.

Sehun dan Jessica kembali berjalan menelusuri koridor sekolah yang mulai menyepi. Tiba-tiba, mata mereka menangkap dua murid yang berada di ujung koridor sedang berpelukan.

“Luhan sunbae dan Yoona sunbae,” lirih Jessica.

Ya, mereka adalah Luhan dan Yoona. Terlihat jelas bahwa Yoona sedang menangis di dalam pelukan Luhan. Jessica yang merupakan penggemar berat Luhan merasa miris melihatnya. Tak tahan, Jessica pun berlari dan spontan Sehun juga ikut berlari karena tangannya di borgol.

Dan entah setan apa yang merasuki diri Jessica, Jessica memiliki kekuatan yang sangat besar. Bahkan untuk menarik Sehun yang lebih besar darinya saja ia bisa melakukannya dengan mudah. Sehun terus mengerjap tak percaya. Bahkan ia merasa lelah karena Jessica terus berlari dan membuatnya mau tidak mau harus berlari juga.

Sehun kaget saat Jessica berlari ke balkon sekolah. Ia pikir Jessica akan membawanya ke lantai dasar. Tapi, Sehun mengerti, Jessica sedang sedih karena sakit hati. Sehun membenci fakta tersebut.

Jessica duduk di kursi panjang bersama Sehun. Angin menyapu wajah keduanya dengan lembut. Air mata terus merembes membasahi pipi halus milik Jessica. Jessica terus menunduk seolah tidak peduli Sehun berada di sampingnya.

“Hentikan, payah. Kau tidak cantik saat menangis,” seru Sehun.

“Diam, bodoh. Memangnya aku peduli?,” balas Jessica setengah berteriak.

Sehun menelan salivanya kasar. Sepertinya Jessica benar-benar kelewatan batas. Hanya karena lelaki bajingan itu kau seperti ini, Jessica-ya? Konyol sekali, batin Sehun kesal.

“Oh, hentikan!,” ucap Sehun, seraya menarik Jessica ke dalam pelukannya. Kini Jessica terisak di dalam pelukan seorang Oh Sehun. Sehun memeluknya erat dengan penuh kebencian di dalam hatinya karena seorang Xiao Luhan berhasil melukai gadis yang menyinggahi hatinya. Ya, Sehun menyukai Jessica.

“Apakah aku kurang cantik, Sehun-ah? Atau aku sama sekali tidak cantik?,” tanya Jessica, yang masih berada di dalam pelukan Sehun.

“Kau ini bicara apa? Tentu saja kau cantik,” jawab Sehun.

“Tadi kau bilang aku tidak cantik?,” tanya Jessica.

“Hei, kau hanya tidak cantik saat menangis, payah,” jawab Sehun.

Jessica memukul dada Sehun kesal. Ia melepaskan diri dari pelukan Sehun sambil mengusap air matanya. Sehun benar-benar tidak bisa membuat perasaanku membaik, tidak seperti Luhan sunbae, gumamnya dalam hati.

Sehun tersenyum tulus, “Tapi—,” ia menahan kalimatnya sejenak hingga Jessica menoleh ke arahnya. “Di saat kau tersenyum, tertawa, kesal, marah, bahkan tidak tersenyum pun, kau selalu terlihat sangat cantik,” lanjut Sehun.

“S-Sehun-ah,” lirih Jessica.

“Sebenarnya cantik atau tidak, itu tidak terlalu penting,” Sehun menoleh ke arah Jessica, “Tetapi, yang paling penting adalah—apakah lelaki bisa menerima perempuan itu apa adanya dan mencintainya setulus hatinya?,”

Mata Jessica berkaca-kaca mendengarnya. Kata-kata terindah yang pernah Jessica dengar. Dan kata-kata itu berasal dari seorang lelaki yang selalu bersikap dingin dan tidak ada romantisnya sama sekali. Lelaki itu adalah Oh Sehun.

“Sehun-ah, kau—,”

“Apakah kau yakin Luhan bisa menerimamu apa adanya?,” tanya Sehun, memotong perkataan Jessica.

Jessica menunduk, “A-Aku tidak tahu,” jawabnya.

Sehun tersenyum, “Jangan terlalu berharap kepadanya, Jessica-ya. Lihat dan tataplah lelaki yang selalu berada di sampingmu, bukan lelaki yang membuatmu bahagia dalam waktu sekejap,” ucapnya.

Jessica mengangkat kepalanya. Speechless? Tentu saja. Jessica bahkan merasa lelaki yang berada di sampingnya saat ini bukanlah Oh Sehun.

“Oh, ternyata kalian disini!,”

Jessica dan Sehun menoleh ke belakang. Seohyun berhasil menemukan mereka dan menghampiri mereka.

“Kita harus pulang sekarang. Aku lapar,” rengek Seohyun.

“Hngg—bukumu sudah di temukan, Seohyun-ya?,” tanya Jessica.

Seohyun mengangguk, “Hm,” jawabnya, “Sebenarnya bukan aku yang menemukannya, tapi Chanyeol,” lanjutnya.

Sehun mengusap kepala Seohyun, “Oh, ada apa denganmu dan Chanyeol, uh? Kau tidak memberitahu kakakmu ini?,” godanya.

Wajah Seohyun memerah, “Kau ini bicara apa, Sehun-ah? Aku dan Chanyeol hanya teman kok,” bantahnya malu-malu.

Jessica dan Sehun terkekeh melihat Seohyun salah tingkah. Untuk yang pertama kalinya, Jessica melihat Seohyun seperti sedang jatuh ke dalam jurang cinta. Jessica yakin, Seohyun jatuh cinta pada Chanyeol. Pertanyaannya adalah, apakah Chanyeol juga menyukai Seohyun?, pikir Jessica.

***

Luhan dan Minseok berjalan menelusuri koridor sekolah. Tiba-tiba, seorang perempuan menghampiri mereka.

“Oh, Yoona-ah?,”

“Hm—Minseok-ya, bisa aku pinjam Luhan sebentar?,” pinta Yoona.

“Oh, tentu saja,” jawab Minseok, lalu pergi mendahului mereka.

“Ada apa, Yoona-ah?,” tanya Luhan.

Yoona menggigit bibirnya, “Aku berpikir bahwa—kita dapat memulai kembali hubungan kita,” ucapnya.

Luhan mengerjap, “Ngg—k-kau—,”

“Aku masih mencintaimu, Luhan-ah,” ungkap Yoona, “Selama di United States, aku tidak bisa melupakanmu. Aku selalu memikirkan kenangan kita bersama dan—aku berharap kita bisa kembali bersama lagi,”

Luhan mengusap tengkuknya, “A-Aku tak pernah memikirkan hal ini,” ucapnya.

Tubuh Yoona menegang, “M-Maksudmu—kau t-tidak lagi men-mencintaiku?,” tanyanya takut.

Luhan mengangguk pelan. Saat itu pula, air mata Yoona berlinang membasahi pipinya.

“Jadi, perhatianmu selama beberapa hari ini—hanya sebagai apa?,” tanya Yoona.

“Ku pikir kita hanya bisa berteman, Yoona-ah,” jawab Luhan.

Yoona mulai terisak. Berat baginya untuk menerima kenyataan ini. Namun, sesuatu melintasi pikirannya.

“Semua ini karena Jessica Jung, bukan?,” tebak Yoona.

“A-Apa?,”

“Sooyoung memberitahuku bahwa kau dekat dengan Jessica selama aku tidak ada. Kau mencintainya, bukan? Hingga kau melupakanku,”

“Y-Yoona-ah, b-bukan seperti itu,”

“Lalu apa, Luhan-ah? Lalu mengapa kau tidak mencintaiku lagi?,” tanya Yoona.

Luhan segera menarik Yoona ke dalam pelukannya. Yoona menangis hebat di dalam pelukan Luhan. Sedangkan Luhan hanya memeluk Yoona erat sambil memikirkan sesuatu.

Setelah tangisan Yoona mulai reda, Luhan melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata Yoona.

“Aku hanya ingin kita menjadi teman, Yoona-ah. Hanya teman,” ucap Luhan, lalu pergi meninggalkan Yoona sendirian. Di dalam hatinya, ia sibuk merutuki dirinya. Sebenarnya Luhan juga masih mencintai Yoona. Tetapi, demi membalas dendamnya kepada Oh Sehun, ia terpaksa melakukan ini semua.

“Aku tidak akan membiarkanmu hidup, Jessica Jung. Kau telah mengambil separuh jiwaku yaitu Luhan. Akan ku pastikan kau mati!,” gumam Yoona murka.

    TBC

Wuaahhh! Konflik mulai bertebaran. Hehe! Habis gue kurang srek kalo bikin FF yang jalan ceritanya mulus gitu aja. Jadi, gue tambahin deh konfliknya. Kayaknya Chanyeol udah tereleminasi nih? Benarkah? Jangan salah! Kita kan belum tau Chanyeol suka atau gak sama Seohyun. Meskipun Chanyeol pernah deg-degan ngeliat Seohyun, tapi kita tau kalo Chanyeol itu sukanya sama Jessica. Duh, kok jadi cerita gue? Ya udah lah, komen aja mah!

By the way, terima kasih buat kalian semua karena udah berhasil membuat gue ngelanjutin FF ini dengan komentar yang banyak. Komentar terbanyak yang pernah aku punya dari semua FF ku.