Still (Chapter 2)


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • JYJ’s Jaejoong as Kim Jaejoong
  • SNSD’s Tiffany as Jung Miyoung
  • etc

Genre : Romance, Family, Angst, Friendship

Length : Series

>>> 

Sooyeon mengerjapkan matanya, begitu juga dengan Jongin. Mereka sama-sama kaget dan tak percaya.

“Kalian saling mengenal?,” tanya Luhan.

Sooyeon mengangguk, begitu juga dengan Jongin.

Luhan tersenyum, “Baguslah. Itu artinya aku tak perlu memperkenalkan kalian berdua lagi,” serunya.

Jongin tertawa paksa, “Ah, iya,” ucapnya.

Jessica pun memamerkan senyuman paksanya. Bagaimana mungkin Jongin berada disini?, batinnya.

>>> 

Luhan, Sooyeon dan Jongin beristirahat di sebuah bangku di taman. Disana banyak sekali orang-orang yang bersantai setelah joging.

“Jadi, kalian adalah rekan kerja, ya?,” tanya Luhan.

“Iya,” jawab Sooyeon dan Jongin bersamaan.

“Pasti enak sekali punya sekretaris cantik seperti Sooyeon. Benar, kan, Jongin-ssi?,” tanya Luhan.

Jongin tersenyum paksa, “Begitulah~” jawabnya.

Tiba-tiba, sebuah truk es krim muncul dan berhenti di ujung taman yang jaraknya lumayan dekat dengan mereka. Mata Sooyeon langsung berbinar saat melihat es krim.

“Akan ku belikan kau es krim, noona,” ucap Luhan—yang mengerti maksud dari tatapan Sooyeon.

“Ah? Terima kasih, Lu,” ucap Sooyeon—gembira.

“Bagaimana denganmu, Jongin-ssi?,” tanya Luhan.

Jongin mengibaskan tangannya, “Tidak, terima kasih,” jawabnya.

Luhan mengangguk mengerti. Ia pun segera pergi menghampiri truk es krim tersebut.

Dan kini, hanya ada Sooyeon dan Jongin yang duduk di bangku tersebut. Suasana berubah menjadi canggung.

“Ngg—bagaimana kabarmu?,” tanya Jongin—mencoba membuka pembicaraan.

“Disini aku baik, sangat baik,” jawab Sooyeon.

Jongin hanya ber-oh pelan. Sepertinya Sooyeon sangat betah disini, batinnya.

“Baru dua hari berpisah, sudah bertemu lagi.” gumam Sooyeon.

Jongin  menoleh ke arah Sooyeon. Ia mulai tersenyum jahil, “Tapi, kau senang, kan?” goda Jongin.

Sooyeon menoleh cepat ke arah Jongin. Ia menatap Jongin tajam. Sedangkan Jongin membalasnya dengan tatapan hangat, dan itu berhasil membuat Sooyeon luluh.

“Tentu saja aku senang. Tapi, kau tenang saja, Jongin-ssi. Aku sudah mengurus perceraian—”

“Tidak!,” potong Jongin cepat—membuat Sooyeon kaget mendengarnya.

“Aku tidak akan pernah bercerai denganmu, Sooyeon-ah. Tidak akan pernah!,” ucap Jongin.

Sooyeon menatap Jongin dengan tatapan sulit di artikan. Bingung, takut, cemas, tak percaya, senang, sedih, itulah yang saat ini ada di pikirannya.

“Es krim sudah datang!,” seru Luhan—seraya membawa dua cup es krim.

“Wah~” seru Sooyeon—seraya meraih satu es krim yang ada di tangan Luhan. “Terima kasih, Lu. Kau yang terbaik,”

Luhan tersipu mendengarnya. Ia tak dapat menutupi senyumannya. Sedangkan Jongin harus menahan rasa cemburu yang membakar hatinya.

Sakit, kenapa rasanya sakit sekali?, batinnya.

>>> 

“Ku mohon, Seohyun-ah. Dengarkan penjelasanku dulu,” pinta Sehun—melalui ponselnya—pada Seohyun, kekasihnya.

Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Sehun mengacak-acak rambutnya prustasi.

“Dia marah?,” tanya Jongin.

“Sangat. Dan kau harus bertanggung jawab,” jawab Sehun—kesal.

“Saat kita kembali ke Seoul, aku berjanji akan mendamaikan kalian berdua,” ucap Jongin.

Tiba-tiba ponsel Jongin berdering. Ia menatap layar ponselnya. Jongin mendadak takut dan cemas. Sehun dapat melihat hal itu dari wajahnya.

“Apakah itu Ayahmu?,” tanya Sehun.

Jongin mengangguk lemah. Ia segera mengangkat teleponnya sebelum Ayahnya semakin marah.

“Ada apa, appa?,” tanya Jongin.

“Kau dimana?,”

“Ngg—aku—”

“Saat ini aku berada di kantormu. Aku menanyakan pada semua karyawan. Tapi, mereka tidak tahu. Rumahmu juga terkunci tak ada penghuni kata Miyoung. Lantas, dimana kau dan Sooyeon?,”

Jongin menelan salivanya kasar, “Aku dan Sooyeon berada di Beijing. Maaf kami lupa memberitahumu, appa. Kami lupa,” ucapnya.

“Astaga! Harusnya kau memberitahuku terlebih dahulu,”

“Maafkan aku, appa,” ucap Jongin.

“Ya sudah. Tidak apa. Bersenang-senanglah di Beijing. Aku tahu kalian lelah bekerja. Jadi kalian memang butuh penyegaran,”

“Kau adalah Ayah yang pengertian, appa,” ucap Jongin—senang.

“Tentu saja. Aku tutup dulu, ya?,”

“Baiklah,” jawab Jongin—lalu mengakhiri teleponnya.

Jongin bersandar dan menghela napas lega. Untunglah ia berhasil membuat Ayahnya tak marah dan tak curiga.

“Kali ini kau selamat, Jongin-ah,” ucap Sehun.

Jongin hanya tersenyum mendengarnya.

>>> 

“Ya sudah. Tidak apa. Bersenang-senanglah di Beijing. Aku tahu kalian lelah bekerja. Jadi kalian memang butuh penyegaran,”

Yoona menangkap kalimat dari mantan direktur perusahaan terbesar di Korea Selatan yaitu Kim Jaejoong yang membuat jantungnya tak berhenti berdetak cepat. Saat ini, Yoona sedang menemani Yuri bekerja. Lumayan daripada ia menganggur di rumah.

“Jongin oppa di Beijing?,” gumam Yoona, “Apakah dia bersama Sooyeon eonni?,” pikirnya.

Yuri menatap Yoona tajam. Pasti Yoona merencanakan hal yang aneh lagi, batinnya.

>>> 

Sooyeon sedang berbaring seraya menatap langit-langit kamarnya. Ia masih memikirkan perkataan Jongin tadi pagi di taman.

“Aku tidak akan pernah bercerai denganmu, Sooyeon-ah. Tidak akan pernah!,”

 

“ARGH!!,” teriak Sooyeon—prustasi. Ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.

“Ku dengar, Jongin tinggal di rumah Luhan, ya?,” tanya Qian—yang tiba-tiba muncul di balik pintu kamar Sooyeon.

Sooyeon menghela napas berat, “Ya, begitulah,” jawabnya.

“Aku mengerti akan perasaanmu, Sooyeon-ah,” ucap Qian.

“Terima kasih sudah peduli, Qian,” balas Sooyeon.

“Jika kau masih mencintainya, kembalilah padanya. Ku pikir, Jongin juga masih mencintaimu. Jika tidak, untuk apa ia kemari?,”

Sooyeon terdiam. Perkataan Qian benar juga, batinnya.

“Apa aku memang harus kembali padanya, ya?,” tanya Sooyeon—ragu.

“Kau ragu?,” tanya Qian.

Sooyeon mengangguk, “Aku masih ragu dengan Jongin yang sekarang. Mengapa ia tiba-tiba mengejarku setelah menyakitiku?,”

“Karena ia menyesal,” jawab Qian.

“Kau benar. Tapi, hati kecil ku masih ragu,” ucap Sooyeon.

Qian menghela napas berat, “Kalau begitu, biarkan waktu terus berjalan. Kau lihat dulu perkembangannya sekaligus kau mantapkan isi hatimu,” sarannya.

Sooyeon tersenyum, “Kau adalah penyaran terbaik yang pernah ku temui, Qian,” ucapnya.

“Thats me!,” ucap Qian—percaya diri.

>>> 

Yuri melemparkan tasnya ke atas ranjangnya. Hari yang melelahkan, batinnya. Bagaimana tidak lelah? Hari ini ia mendapatkan pekerjaan ekstra selama Sehun tidak ada. Tetapi, untungnya, gajinya menjadi bertambah.

“Tiba-tiba aku merindukan Sooyeon. Kira-kira, dia sedang apa, ya?,” gumam Yuri.

BUKK!!

Yuri tersentak saat mendengar suara keras dari kamar sebelah. Khawatir dengan apa yang terjadi, Yuri pun segera pergi ke kamar sebelah.

“Yoona-ah, kau mau kemana?” tanya Yuri—saat melihat Yoona mengemasi pakaiannya.

“Aku ingin menyusul Jongin oppa ke Beijing!” jawab Yoona.

Yuri membelalakan matanya. Ia tak percaya Yoona senekat ini. Yuri pun segera mengeluarkan pakaian Yoona dari koper.

“Apa yang kau lakukan, eonni?,” tanya Yoona—kesal.

“Kau tidak boleh pergi,” larang Yuri.

“Dan membiarkan Jongin oppa dan Sooyeon eonni tidak jadi bercerai? Tidak akan!,” seru Yoona.

“K-Kau tahu?,” tanya Yuri.

Yoona mengangguk, “Ya, aku sudah tahu semuanya,” jawabnya.

“Yoona-ah, ku mohon jangan rusak hubungan mereka,” pinta Yuri.

“Aku tidak mau, eonni!,” tolak Yoona, “Jongin oppa adalah cinta pertamaku, hidup dan matiku. Aku tidak mau kehilangan dia,” ucapnya.

“Yoona-ah, kau terlalu terobsesi pada Jongin,” ucap Yuri.

“Memang iya. Aku terobsesi dan tergila-gila pada Jongin oppa,” jawab Yoona—seraya kembali mengemasi baju-bajunya.

Yuri mengacak rambutnya prustasi. Saat ini, ia sedang memikirkan cara untuk mencegah kepergian Yoona.

>>> 

Miyoung menekan bel di kediaman Kim Jaejoong. Pintu pun di buka oleh salah satu pelayan di rumah seperti Mansion tersebut.

“Sajangnim, silakan masuk!,”

Miyoung mengangguk seraya masuk ke dalam rumah milik Jaejoong. Ia mendapati Jaejoong sedang menonton TV di ruang tengah.

“Miyoung-ah? Silakan duduk,” ucap Jaejoong.

“Terima kasih,” ucap Miyoung—seraya duduk di sofa nan empuk, “Dimana anakku, tuan Kim?” tanya Miyoung.

“Jongin menghubungiku kemarin. Dia berkata dia dan Sooyeon sedang berlibur ke Beijing.” jawab Jaejoong.

Miyoung hanya ber-oh pelan. Syukurlah jika Sooyeon baik-baik saja, batinnya.

>>> 

Sooyeon dan Luhan sedang makan siang di halaman Luhan. Sebenarnya berempat bersama Jongin dan Sehun. Tapi, keduanya begitu pasif sehingga rasanya hanya ada Sooyeon dan Luhan saja.

“Kenapa kalian berdua diam?,” tanya Luhan.

“Aku hanya mengikuti tradisi eomma,” jawab Sehun.

Luhan terkekeh mendengarnya, “Bagaimana denganmu, Jongin-ssi?,” tanyanya.

“Aku hanya sedang ingin menikmati masakanmu saja,” jawab Jongin—asal. Padahal sedari tadi ia sibuk memandangi Sooyeon. Maka dari itu Sooyeon merasa gelisah.

Selesai makan, Sooyeon meminta ijin untuk ke rumah Qian sebentar. Namun tampaknya Jongin mengikutinya hingga Sooyeon menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang rumah Luhan.

“Berhenti mengikutiku, Jongin-ssi,” pinta Sooyeon.

“Aku hanya ingin kau menjawab pernyataanku kemarin,” ucap Jongin.

Sooyeon menelan salivanya kasar. Ia belum siap untuk menjawab. Bukankah ia berencana untuk melihat dulu dalam waktu yang lama setelah itu mengevaluasinya?

“J-Jongin—”

“Hanya jawab saja. Dan katakan—kau ingin kembali lagi padaku,” pinta Jongin.

“Lebih baik kau pulang, Kim Jongin!” usir Sooyeon.

Jongin mengernyit heran, “Aku berada di depan rumah tempat aku tinggal sementara,” jawabnya.

“Maksudku pulang ke Seoul,” ucap Sooyeon.

“Aku kesini untuk membawamu kembali.” ucap Jongin.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!” ucap Sooyeon.

DEG!

Perkataan Sooyeon bagaikan sengatan listrik baginya. Wajah Jongin tak bisa di artikan. Tampak seperti syok berat pada umumnya.

“J-Jongin~” gumam Sooyeon—takut.

“Ku pegang kata-katamu, eonni,”

Sooyeon dan Jongin menoleh ke sumber suara. Dan yang benar saja, pemilik suara itu tak lain adalah Yoona.

“Yoona-ah?,” gumam Jongin—kaget.

Yoona segera merangkul lengan Jongin, “Dia sudah tak mencintaimu lagi, oppa. Percuma mengharapkannya. Yang ada, kau hanya menerima luka,” ucapnya.

“A-Aku hanya—”

“Oppa, ayo kemasi barang-barangmu dan kita pulang,” seru Yoona.

“J-Jongin, tapi—”

Yoona membawa Jongin berjalan masuk ke rumah Luhan. Jongin tampak seperti boneka yang dengan lemah di perintahkan oleh majikannya. Ia menurut apa yang di katakan Yoona. Mungkin ini karena efek syok yang tadi Jongin rasakan.

Mata yang awalnya berkaca-kaca, kini sudah merembeskan kristal-kristal bening. Sooyeon tak bisa mengeluarkan satu kata pun. Berteriak pun tidak bisa. Rasanya ia kehilangan oksigen.

Awalnya hanya ingin mencoba apakah Jongin langsung menyerah begitu saja, ternyata mengefekkan suatu dampak yang besar. Memang, penyesalan selalu datang di akhir.

Hujan pun turun dengan derasnya. Namun, Sooyeon tetap mematung di tempat yang tadi. Hingga seseorang memayunginya di tengah hujan yang deras.

“Apa kau baik-baik saja, noona?,” tanya Luhan.

Namun yang di tanya lagi-lagi tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Kini, Luhan merasa seperti orang yang aneh sedang berbicara dengan patung manequin yang sangat cantik.

To Be Contiuned

 

Chapter 2 selesai. Akhirnya! Lega, deh! Lanjutannya nyusul, ya? Gak tau sih kapan. Tapi di usahain deh!

Don’t forget about review, okay? ^^

Iklan

Still (Chapter 1)


Gambar

Title : Still

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • EXO-M’s Luhan as Xiao Luhan

Support Cast :

  • SNSD’s YoonA as Im Yoona
  • f(x)’s Victoria as Song Qian
  • EXO-K’s Sehun as Oh Sehun
  • SNSD’s Yuri as Kwon Yuri
  • etc

Genre : Romance, Family, Angst, Friendship

Length : Series

Note : FF ini merupakan sekuel dari FF dua versi (Wife’s Not Considered dan I Love You, But I Hate You). Enjoy!

>>> 

Yuri melempar ponselnya ke atas ranjangnya. Tubuhnya yang mulai melemas memaksakan dirinya untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya. Apalagi yang membuatnya seperti ini?

“Sooyeon-ah—gadis itu benar-benar!” gerutu Yuri—prustasi.

Yuri baru saja mendapatkan pesan dari Sooyeon yang mengabarkan bahwa ia telah pergi ke Beijing dan akan bercerai dengan Jongin. Ini sungguh di luar kepala Yuri. Yuri tahu Sooyeon tidak akan pernah mau bercerai dengan Jongin, karena Sooyeon pernah bilang bahwa ia akan bertahan. Tapi, nyatanya?

“Eonni~”

Yuri tersentak saat sadar bahwa seseorang telah duduk di sampingnya. Mungkin karena terlalu prustasi berefek ia tak sadar jika sepupunya sudah ada di sampingnya.

“Apa kau sudah puas, Yoona-ah?” tanya Yuri.

Yoona mengernyit heran, “Apa maksudmu, eonni? Aku tidak mengerti.” balasnya.

“Tidak mengerti, katamu?” tanya Yuri—murka.

Yoona menatap Yuri sedikit takut.

“Kau sudah menghancurkan rumah tangga orang lain, Yoona-ah!” bentak Yuri.

Yoona mengerjap—kaget, “Aku tidak mengerti!” ucapnya.

“Sooyeon bukan pembantu Jongin, melainkan istri Jongin!”

Yoona merasa dirinya seperti tersengat listrik. Tangannya menutup mulutnya yang mulai mengeluarkan isakan tangis. Air matanya tak mau kalah—merembes begitu saja. Namun, kepalanya terus menggeleng mengikuti kata hatinya.

“Jongin oppa belum menikah. Dia akan menikahiku akhir tahun ini. Eonni pasti berbohong!” seru Yoona—di selingi isak tangisnya.

“Sayangnya aku berkata jujur, Yoona-ah.” ucap Yuri.

Yoona mengusap air matanya. Ia segera bangkit dan melemparkan tatapan tajamnya pada Yuri.

“Kalau begitu, aku akan membuat hubungan mereka semakin hancur!” tekadnya—lalu segera pergi.

“Tidak, Yoona-ah!” seru Yuri—namun tak di hiraukan Yoona, “Kau tidak boleh melakukan ini, Yoona-ah!”

>>> 

Seorang pria berpakaian rapi—berdiri di depan sebuah rumah besar sejak tadi. Ia sudah menekan bel berpuluh kali, tapi tak ada jawaban. Akhirnya, pria itu memutuskan untuk menghubungi seseorang.

“Nyonya Jung, sepertinya tuan Kim tidak ada di rumah. Apa yang harus saya lakukan?”

“Letakkan surat-surat tersebut di kotak surat di samping pintu. Dia akan membacanya sendiri.”

“Baiklah, akan saya lakukan.”

“Ya, terima kasih.” ucap Sooyeon—lalu mematikan ponselnya.

“Ada apa?” tanya Qian—sahabat Sooyeon di Beijing.

Sooyeon menghela nafas berat, “Jongin tidak ada di rumah. Pengacaraku datang ke rumah untuk meminta tanda tangannya.” jawabnya.

“Mungkin Jongin sedang sibuk di kantor.” ucap Qian.

“Mungkin~” gumam Sooyeon.

“Jiejie, mengapa pintu tidak di kun—” seorang pria menghentikan kalimatnya saat melihat Sooyeon.

“Maafkan aku, Lu. Tadi saat mengambil susu, aku lupa mengunci pintu.” ucap Qian.

“Saat ini sedang marak perampokan dan penculikan, jiejie. Aku tak ingin kau dan temanmu dalam bahaya.” ucap pria itu. “Ngg—by the way, siapa temanmu itu, jiejie? Wajahnya tampak asing, dan bukan seperti penduduk China.”

Sooyeon segera berdiri dan membungkuk 90˚, “Nihao. Namaku Jung Sooyeon, panggil saja Sooyeon.” ucapnya.

“Oh, penduduk Korea, ya?” tanya pria itu.

Sooyeon mengangguk, “Iya, tepat sekali.” jawabnya.

“Ngg—namaku Luhan. Salam kenal.” balas pria—Luhan—itu.

Sooyeon tersenyum manis. Hal itu membuat Luhan sedikit kagum pada Sooyeon.

“Hm!” seru Qian—merusak momen mereka.

“Ah, jiejie, aku ingin pergi membeli es krim. Mau ikut?” tawar Luhan.

“Kau bersama Sooyeon saja. Aku sedang kurang enak badan. Belikan saja aku es krim.” jawab Qian.

“Aku akan menjagamu.” ucap Sooyeon.

Qian menggeleng, “Kau pikir aku anak kecil, hah? Sudah sana pergi. Aku bisa jaga diri.”

Sooyeon mengangguk. Luhan segera menarik lengannya. “Ayo, noona!” ajaknya.

Sooyeon menatap lengannya yang di pegang oleh Luhan. Menyadari hal itu, Luhan segera melepas genggamannya dari lengan Sooyeon. Wajah Luhan kini bersemu merah.

“Maafkan aku, noona.” ucap Luhan.

“Tidak apa, Lu—han.” jawab Sooyeon.

“Lu saja juga tidak apa.” ucap Luhan.

Sooyeon tersenyum manis, “Baiklah!” ucapnya.

“Ayo, kita pergi!” ajak Luhan, “Sekalian aku ingin mengajakmu berkeliling kota Beijing.”

“Wah! Aku jadi tidak sabar.” ucap Sooyeon—girang.

Qian tersenyum melihat mereka, “Tampaknya kehadiran Luhan dapat membuat Sooyeon berpindah ke lain hati dengan cepat. Ya, semoga saja.” gumamnya.

>>> 

“Jongin-ah, apa kau serius mengajakku ke Beijing?” tanya Sehun.

“Kau pikir aku bermain-main?” tanya Jongin.

“Seohyun pasti marah jika aku pergi secara mendadak.” gumam Sehun.

“Tenang saja. Aku yang akan bertanggung jawab.” ucap Jongin.

“Pesawat menuju China akan berangkat 5 menit lagi. Penumpang di harap segera menaiki pesawat.”

“Ayo, Sehun-ah.” ajak Jongin.

Sehun mengangguk lemah. Ia terus memikirkan kekasih hatinya itu.

“Seohyun pasti takkan mau memberi jatah padaku lagi.” gumam Sehun.

>>> 

Yoona terus menekan bel di rumah Jongin. Ia menggerutu kesal karena Jongin tak kunjung membuka pintu. Padahal ini sudah merupakan waktu kepulangan Jongin bekerja. Yoona juga menghubunginya, tapi nomor Jongin tidak aktif.

“Jongin oppa, kau dimana?” gerutu Yoona—kesal.

Tiba-tiba saja mata Yoona tertuju pada sebuah map di dalam kotak surat yang terbuka. Ia meraih map tersebut tanpa adanya rasa bersalah. Di bukanya map tersebut dan tak lupa ia baca isinya.

Mata Yoona membesar saat membaca inti dari isi map tersebut. Map yang ia pegang jatuh ke lantai. Tangannya memegang mulutnya dan ekspresinya tak bisa di ungkapkan, seperti seseorang yang baru mendapat kabar bahwa suami atau orangtuanya mengalami kecelakaan.

“Jongin oppa dan Sooyeon eonni—akan bercerai?”

>>> 

Sooyeon dan Luhan mengelilingi kota Beijing menaiki mobil Luhan bermerk California Ferarri berwarna merah. Mobil terbuka tersebut membuat keduanya bisa melihat kota Beijing lebih jelas lagi.

“Es krimnya sangat enak. Qian pasti akan merasa lebih baik setelah mencicipinya.” ucap Sooyeon—seraya menatap bungkusan yang berisikan es krim dalam bentuk wadah.

“Iya. Jiejie sangat menyukai es krim.” ucap Luhan—seraya terus mengemudikan mobilnya.

“Oh, ya, kau dan Qian—memiliki hubungan apa? Kalian keluarga?” tanya Sooyeon.

Luhan menggeleng, “Bukan. Kami hanya sekedar tetangga.” jawabnya.

“Tetangga?”

Luhan mengangguk, “Kami adalah tetangga sejak kecil hingga sekarang. Karena dia lebih tua dariku, aku pun memanggilnya kakak.” jawabnya.

Sooyeon mengangguk mengerti.

“Dan kau? Mengapa bisa berada disini?” tanya Luhan.

Sooyeon menggigit bibirnya. Ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Luhan. Waktunya belum tepat.

“Noona?”

Sooyeon tersentak, “Ah, aku hanya ingin mengunjungi Qian. Aku juga sedang liburan. Makanya aku kemari.” jawabnya.

“Apa profesi noona?” tanya Luhan.

“Ngg—pegawai di perusahaan.” jawab Sooyeon.

Luhan mengangguk mengerti.

“Kau sendiri bagaimana, Lu? Apa profesimu?” tanya Sooyeon.

“Hanya seorang komposer dan pelukis.” jawab Luhan.

“Komposer? Kau bisa menciptakan lagu?” tanya Sooyeon—tak percaya.

“Bukannya sombong. Tapi, sudah banyak penyanyi maupun grup di China yang membeli lagu ciptaanku.” jawab Luhan.

Sooyeon bertepuk tangan, “Wow! Kau hebat, Lu. Keren!” pujinya.

Luhan tersipu mendengarnya. Ia hanya bisa tersenyum untuk membalas pujian dari Sooyeon.

>>> 

“Woah! Rumah sepupumu besar juga.” ucap Jongin.

“Iya. Tentu saja. Dia adalah seorang komposer dan pelukis terkenal.” ucap Sehun.

Jongin mengangguk mengerti, “Sebaiknya aku tinggal di Hotel saja, ya?” tanyanya.

“Kau sudah mengajakku kesini. Itu artinya kau harus tinggal disini.” jawab Sehun.

“Tapi, ini memalukan. Seorang pengusaha kaya di Korea menumpang di rumah orang?” seru Jongin.

Sehun memutar bola matanya, “Jika sifatmu selalu seperti ini, Sooyeon tidak akan mau kembali padamu.”

Jongin menelan salivanya kasar. Perkataan Sehun berhasil membuatnya membeku sesaat.

TIN! TIN!

Jongin dan Sehun berbalik. Mereka kaget di depan mereka ada sebuah mobil.

“Bisa kalian minggir?” pinta si pemilik mobil tersebut.

“Gege, kau membenciku, ya?” tanya Sehun.

Si pemilik mobil tertawa renyah. Ia segera turun dari mobilnya dan menghampiri Sehun dan Jongin.

Sehun memeluk pria itu, “Aku merindukanmu, gege.” ucapnya.

“Aku juga merindukanmu.” jawab pria itu.

“Gege, perkenalkan, dia adalah rekan kerjaku, Kim Jongin.” ucap Sehun.

“Kim Jongin, pengusaha nomor satu di Korea Selatan.” ucap Jongin—seraya menyurungkan tangannya.

Sehun memutar bola matanya. Dia sombong lagi, batinnya.

Pria itu menjabat tangan Jongin, “Xiao Luhan, komposer dan pelukis.” balasnya.

“Gege, bisa kami tinggal di rumahmu untuk beberapa hari? Soalnya, Jongin ingin mencari is—” kalimat Sehun terhenti saat Jongin membungkam mulutnya.

“Aku memiliki bisnis disini. Awalnya aku ingin tinggal di Hotel. Tapi, Sehun memaksaku untuk tinggal disini.” ucap Jongin.

Luhan tertawa mendengarnya, “Tidak usah sungkan. Anggap saja rumah ku sebagai rumah kalian juga. Aku juga kesepian. Mari, silakan masuk.” ucapnya.

Jongin membungkuk sopan. Sedangkan Sehun mencoba mengatur nafasnya.

“Jongin benar-benar!” gumam Sehun—kesal.

>>> 

Jongin keluar dari rumah milik Luhan. Ia mengenakan pakaian jogingnya. Setelah ia sudah berada di luar gerbang rumah Luhan, ia segera melakukan pemanasan.

“Udara di Beijing ternyata segar juga.” ucap Jongin.

Tiba-tiba, Jongin melihat seorang wanita berpakaian olahraga keluar dari rumah sebelah. Ia tak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu karena wajahnya tertutupi oleh rambut yang bergelombang indah.

“Selamat pagi, Jongin.” sapa Luhan—yang baru saja ada di sampingnya.

“Luhan? Mau joging juga?” tanya Jongin.

“Iya. Aku ada janji dengan seorang wanita untuk joging bersama. Kau boleh ikut jika kau mau.” jawab Luhan.

Aku rasa aku harus menerima tawarannya atau aku akan tersesat, batin Jongin.

“Ah, itu dia.” ucap Luhan, “Sooyeon noona?” panggilnya.

Sooyeon noona?, batin Jongin.

“Selamat pagi, Lu.” sapa wanita itu.

Suara ini.., batin Jongin.

Jongin pun segera menoleh ke arah wanita yang ia lihat tadi.

“SOOYEON?”

“KIM JONGIN?”

~To Be Contiuned~

 

Teaser Next Chapter :

“Baru dua hari berpisah, sudah bertemu lagi.” gumam Sooyeon.

“Tapi, kau senang, kan?” goda Jongin.

“Yoona-ah, kau mau kemana?” tanya Yuri—saat melihat Yoona mengemasi pakaiannya.

“Aku ingin menyusul Jongin oppa ke Beijing!” jawab Yoona.

“Dimana anakku, tuan Kim?” tanya Miyoung.

“Jongin menghubungiku kemarin. Dia berkata dia dan Sooyeon sedang berlibur ke Beijing.” jawab Jaejoong.

“Lebih baik kau pulang, Kim Jongin!” usir Sooyeon.

“Aku kesini untuk membawamu kembali.” ucap Jongin.

“Jangan terlalu berharap, Jongin-ssi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi!” ucap Sooyeon.

Note : Jangan lupa tinggalin jejak .__.