(Request FF) – In The Fact


Title : In The Fact

Author : Xiao Li/ @dhynakim10

Main Cast :

  • SNSD’s Jessica as Jung Sooyeon
  • EXO-M’s Kris as Kris Wu
  • EXO-K’s Suho as Kim Joonmyun

Support Cast :

  • f(x)’s Krystal as Jung Soojung
  • EXO-K’s Kai as Kim Jongin
  • f(x)’s Sulli as Choi Jinri
  • SHINee’s Minho as Choi Minho
  • TVXQ’s Yunho as Jung Yunho
  • etc

Genre : Angst, Romance, Married-life, Friendship

Length : Oneshot

Note : FF ini merupakan ‘Request FF’ dari dua readerku (erikapratiwi6 dan ShitygorjessimOet). Sorry cuma summary kalian yang aku gabung dan ku jadikan satu FF. Soalnya summary kalian hampir mirip. Tokohnya juga sama. Jadi, aku jadiin satu deh. Gak papa, ya? Keke~!

***

 

Sooyeon terlihat gusar di kursi belajarnya. Wajahnya ia telungkupkan di atas kedua tangannya yang dilipat di atas meja belajarnya. Rambutnya yang rapi dan lurus pun menjadi berantakan. Tubuhnya bergetar pelan seiring dengan suara isak tangis yang keluar dari mulutnya.

KREKKK!!

Pintu kamar Sooyeon terbuka tidak lebar. Masuklah seorang perempuan berparas cantik ke dalam kamar tersebut. Ia berjalan menghampiri Sooyeon, namun memutuskan untuk duduk di tepi ranjang milik Sooyeon. Ia menatap Sooyeon dengan raut wajah yang sedih.

“Aku ingin sekali membantumu, eonni,”

“Aku tidak mengharapkan bantuanmu, Soojung-ah,”

Perempuan bernama Soojung itu menundukkan kepalanya. Di dalam hati, ia sibuk memaki dirinya sendiri yang tidak bisa membantu kakaknya.

“Aku memang adik yang tidak berguna, eonni,”

Sooyeon mengangkat kepalanya. Ia memutar kursinya hingga berhadapan dengan adiknya meskipun dihalangi oleh jarak setengah meter. Sooyeon berjalan menghampiri Soojung lalu memegang puncak kepala Soojung hingga Soojung mendongak.

“Kau selalu berguna untukku, Soojung-ah. Selalu dan selamanya. Kau selalu membantuku. Karena itu, aku sangat berterimakasih kepadamu,”

Soojung mengeluarkan air matanya, “Tapi, kali ini aku gagal, eonni. Aku gagal membantumu. Aku gagal mempertahankan kebahagiaanmu. Maafkan aku, eonni. Andai saja perjodohan ini bisa ku ambil alih, aku akan dengan senang hati mengambilnya demimu, eonni,”

“Sshhh!,” Sooyeon memeluk Soojung dengan erat, “Aku tak mungkin membiarkan adikku menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai,” ucapnya.

“Dan aku tak mungkin membiarkanmu menikah dengan lelaki yang tidak kau cintai, eonni,” ucap Soojung diikuti isak tangisnya.

Lagi, Sooyeon mengeluarkan air matanya. Namun, ia berusaha untuk berhenti menangis.

“Eonni, maafkan aku karena telah gagal,”

“Ini bukan salahmu, Soojung-ah. Tenang saja. Aku akan menerima keputusan apapun itu. Ini demi menjaga nama baik keluarga kita,”

Sooyeon melepaskan pelukannya kepada Soojung. Ia meraih ponsel miliknya dan mulai mengetik pesan kepada seseorang.

“Eonni, bagaimana kau menjelaskannya kepada Joonmyun oppa?,” tanya Soojung.

“Besok aku akan menjelaskan semuanya,” jawab Sooyeon.

Soojung tersentak, “Tapi, eonni, besok kan—,”

Sooyeon tersenyum pahit, “Tidak apa-apa, Soojung-ah. Aku sudah siap menjadi perempuan yang paling dibenci Joonmyun di dunia ini,” potongnya.

Soojung menatap kakaknya sedih, “Eonni..,”

***

 

Joonmyun telah tiba di puncak menara Namsan. Ia mencari seorang perempuan yang berjanji untuk menemuinya di tempat ini.

“Dimana Sooyeon, ya?,”

“Mencariku, Kim Joonmyun?,”

Joonmyun tersentak. Perlahan tapi pasti, ia menoleh ke belakang. Di belakangnya sudah ada perempuan berparas cantik yang sedang membawa kue yang dihiasi lilin-lilin kecil.

“Happy third anniversary!,”

Joonmyun memasang senyuman terbaiknya. Ia berjalan menghampiri perempuan itu dan mengusap kepala perempuan itu dengan lembut.

“Ternyata kau mengingatnya juga, Sooyeon-ah,” ucap Joonmyun.

“Jangan samakan aku dengan nenek tua yang pikun, Kim Joonmyun!,” seru Sooyeon dengan mimik wajah yang kesal.

“Aigoo! Maafkan aku, ya? Aku hanya bercanda,”

Sooyeon tersenyum lebar, “Ayo tiup lilin bersama!,” ajaknya.

Joonmyun mengangguk setuju. Mereka berdua pun memejamkan mata dan berdoa di dalam hati. Setelah itu, mereka meniup lilin bersama dan berakhir dengan kembang api yang menyala di langit malam.

“Kembang api?,” pekik Sooyeon.

“Untukmu,” ucap Joonmyun.

Sooyeon tersenyum senang. Ia terus memandangi kembang api dengan kagum. Sedangkan Joonmyun merogoh sebuah kotak cincin dari sakunya.

“Dan aku punya satu lagi hadiah,” ucap Joonmyun.

Sooyeon menoleh, “Apa itu?,” tanyanya.

Joonmyun membuka kotak cincin itu dan memperlihatkannya kepada Sooyeon, “Maukah kau menikah denganku?,”

Sooyeon tersentak. Tubuhnya pun menegang. Sooyeon menggigit bibirnya sambil memikirkan sesuatu hal.

“Soal cincin ini, ini bukan cincin berlian. Hanya sebuah cincin emas yang tidak mahal. Maafkan aku. Aku tidak punya banyak uang untuk membeli cincin berlian,” tambah Joonmyun.

Sooyeon menelan salivanya kasar, “A-Aku tidak bisa menerimanya!,” jawabnya.

Joonmyun kaget mendengarnya. Ia mengusap tengkuknya pelan, “A-Aku akan menabung untuk membeli cincin berlian,”

“Bukan begitu!,”

Joonmyun mengernyit bingung, “Jadi, maksudmu apa?,” tanyanya.

Sooyeon menarik napas dalam, “Aku tidak bisa menikah denganmu, Joonmyun-ah!,” jawabnya.

Joonmyun bagaikan sedang disambar petir yang dahsyat sekarang. Ia sangat syok mendengar jawaban dari kekasihnya selama tiga tahun itu. Selama menjalin hubungan, mereka tidak pernah bertengkar, tidak pernah memiliki masalah kecuali karena orangtua Sooyeon yang tidak menyetujui hubungan mereka.

“Apakah orangtuamu—,”

“Mereka menjodohkanku dengan lelaki lain,” jawab Sooyeon.

“Dan kau menyetujuinya?,” tanya Joonmyun tak percaya.

“Aku tak bisa berbuat apa-apa, Joonmyun-ah!,”

Joonmyun menjadi marah besar. Biasanya, Sooyeon tak mempedulikan apa yang dikatakan orangtuanya. Bahkan Joonmyun dan Sooyeon sudah berencana untuk menikah lari setahun yang lalu.

“Kau seperti bukan Sooyeon yang ku kenal. Dimana kau menyimpan janji-janji kita? Apa kau telah membuangnya jauh-jauh?,” tanya Joonmyun berapi-api.

“Kau tidak mengerti, Joonmyun-ah. Jika aku menolak, hubungan Soojung dan Minho akan berakhir!,”

“Kau menyetujuinya bahkan demi hubungan orang lain!,”

“Mereka bukan orang lain. Mereka adalah adik dan calon adik iparku. Soojung telah berbuat banyak untukku. Aku tidak ingin mengecewakannya,” ucap Sooyeon.

Joonmyun menendang kaleng yang berada di lantai hingga terlempar jatuh ke tanah di kaki menara Namsan. Wajahnya memerah seperti saus tomat. Sooyeon sebenarnya ketakutan namun ia berusaha menyembunyikan ketakutan tersebut. Bahkan Sooyeon tengah membendung air matanya.

“Aku kecewa kepadamu, Sooyeon-ah. Aku harap kau menyesal telah melakukan ini!,” ucap Joonmyun lalu pergi meninggalkan Sooyeon seorang diri di puncak menara Namsan.

Sooyeon hanya mematung ditempat. Air matanya mulai berjatuhan. Tak lama kemudian, hujan pun turun dengan derasnya. Tapi, Sooyeon tetap tidak beranjak dari sana.

“KAU BENAR, KIM JOONMYUN! AKU MENYESAL! AKU SANGAT MENYESAL! TAPI, APA YANG BISA KU LAKUKAN? AKU TIDAK BISA BERBUAT APA-APA SELAIN MENYETUJUINYA!,” teriak Sooyeon ditengah hujan.

Sooyeon terjatuh ke lantai sambil terus menangis. Namun, sekuat apapun ia menangis, tetap saja keadaan tidak akan berubah.

***

 

Hari pernikahan telah tiba. Jung Sooyeon, puteri sulung dari keluarga Jung—salah satu konglomerat di Korea Selatan—sedang mengucapkan janji-janji pernikahan dengan lelaki berdarah China-Kanada. Mereka berada di sebuah gereja terbesar di Seoul bersama para keluarga dan tamu undangan.

“Pernikahan kalian telah sah. Tuan Kris Wu, silakan mencium pengantin wanita anda!,” ucap seorang pendeta.

Kris berhadapan dengan Sooyeon yang berbalut gaun pengantin yang sangat indah. Wajah Sooyeon terlihat bak dewi kayangan. Kris memegang bahu Sooyeon dan mendekatkan wajahnya. Para keluarga dan tamu undangan pun bertepuk tangan.

“Tak ku sangka, Sooyeon noona menikah dengan lelaki lain. Ku pikir, Sooyeon noona akan menikahi pedagang roti itu,” ucap Jongin.

“Meskipun begitu, Sooyeon eonni tetap mencintai Joonmyun oppa,” ucap Soojung.

Jongin menghela napas kasar, “Kisah cinta yang menyedihkan. Aku turut berduka cita saja deh,”

Soojung menjitak kepala Jongin, “Bisakah kau tutup mulutmu yang sembarangan itu? Kau memperburuk keadaan saja,” omelnya.

“Apa sih? Aku kan hanya mengatakan apa yang ingin ku katakan,”

“Soojung, Jongin, tutup mulut kalian!,” perintah Jung Yunho—ayah dari Sooyeon dan Soojung.

“Baik, appa,”

“Baik, samchon,”

***

 

Sooyeon dan Kris telah tiba di rumah yang diberikan orangtua Kris kepada mereka. Sooyeon berdecak kagum melihat rumah barunya. Benar-benar mewah dan dekorasinya sangat western, batinnya.

“Hei,” panggil Kris.

Sooyeon menoleh, “Ya?,”

“Kamarmu disana dan kamarku disitu. Mengerti?,”

Sooyeon menelan salivanya kasar, “Aku mengerti,” jawabnya.

Kris membawa koper-kopernya ke dalam kamarnya. Sooyeon menghela napas berat. Ternyata bukan hanya Sooyeon saja yang tidak menyetujui pernikahan ini. Kris juga merasakan hal yang sama. Tapi, bedanya, Kris mengaku masih menjalin hubungan dengan kekasihnya dan mengancam Sooyeon untuk tidak mengadukannya. Dan saat di altar, Sooyeon dan Kris hanya berpura-pura ciuman.

Sooyeon membawa koper-kopernya masuk ke dalam kamarnya. Setelah Sooyeon masuk ke kamarnya, ia melongo. Desain kamarnya sangatlah indah. Langit-langit kamarnya adalah langit malam bertaburan bintang-bintang.

“Tidak buruk,” komentar Sooyeon sambil tersenyum.

***

 

Kris keluar dengan pakaian seperti ingin pergi jalan-jalan. Ia memasuki ruang makan yang sudah dipenuhi makanan di atas meja makan. Kris melihat Sooyeon tengah mengaduk sup di dalam mangkuk.

“Selamat pagi, Kris!,” sapa Sooyeon ramah.

“Hm,” balas Kris lalu segera berbalik.

“Mau kemana? Tidak sarapan dulu?,” tanya Sooyeon.

“Aku tidak lapar. Dan mau kemana aku, itu bukan urusanmu,” jawab Kris dengan nada yang dingin lalu segera pergi.

Sooyeon menghela napas berat. Ia pun memutuskan untuk sarapan sendirian.

***

 

Satu bulan telah berlalu. Namun, perubahan positif tidak Sooyeon dapatkan. Kris selalu bersikap dingin terhadapnya. Kris selalu pergi di pagi hari, dan pulang di malam hari. Bahkan, Kris pernah membawa kekasihnya ke rumah mereka. Dan entah kenapa, Sooyeon merasa nyeri di dadanya saat melihat Kris dan kekasihnya berciuman di kamar Kris yang pintunya tengah terbuka lebar.

Sooyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin aku jatuh cinta kepada Kris. Aku hanya mencintai Joonmyun, batinnya. Namun, seperti kata pepatah, karma itu selalu berlaku dan akan datang cepat atau lambat. Akhirnya Sooyeon mengerti. Ia mendapatkan karma karena telah meninggalkan Joonmyun dan menikah dengan lelaki lain.

“Tapi, bagaimana bisa aku mencintai Kris? Bahkan Kris tidak pernah bersikap manis di depanku,” gumam Sooyeon.

Sooyeon akui, ia selalu terpesona dengan wajah tampan milik lelaki berdarah campuran itu. Setiap Kris pulang malam dan tertidur dengan posisi yang sembarangan, Sooyeon selalu merapikan sepatu, jaket, dan tas milik Kris. Sooyeon selalu menyelimuti Kris. Dan Sooyeon pun tak sadar bahwa ia telah masuk ke tempat yang seharusnya tidak ia masuki, yaitu kamar milik Kris sendiri.

Tinggal bersama lelaki yang statusnya adalah suaminya selama satu bulan tak menutup kemungkinan untuk Sooyeon yang akan merasakan jatuh cinta lagi. Apalagi faktor pendukungnya adalah wajah tampan yang diinginkan oleh sejuta perempuan yang dimiliki oleh Kris. Terkadang Sooyeon bersyukur, dan terkadang Sooyeon menyesal.

Entahlah. Rasanya, sia-sia saja berharap Kris akan membalas cinta Sooyeon. Kris tidak pernah memandang Sooyeon lebih dari dua detik. Kris tidak pernah mengeluarkan kata-kata lembut kepada Sooyeon. Kris tidak pernah memperlakukan Sooyeon dengan mesra seperti Kris memperlakukan kekasihnya. Bahkan, Sooyeon ingin sekali merebut posisi kekasih Kris itu.

“Ada apa, Jinri-ya?,”

Sooyeon menoleh ke belakang. Dilihatnya, Kris sedang menelpon seseorang.

“Jinri..,” gumam Sooyeon pelan. Sooyeon tahu nama itu. Nama kekasih Kris yang selalu Kris agung-agungkan. Nama yang dimiliki seorang perempuan yang selalu membuat Sooyeon iri. Nama yang Sooyeon benci.

“Ke rumahmu? Untuk apa?,”

Sial!, umpat Sooyeon dalam hati. Pasti setelah ini, Sooyeon akan ditinggal sendirian lagi.

Kris terkekeh, “Belum puas dengan yang kemarin, ya? Apa permainan kita yang kemarin belum cukup?,”

Mendengar itu, Sooyeon merinding dibuatnya. Sooyeon pun segera beranjak menuju kamarnya. Kris yang melihatnya, hanya diam tak mempedulikan hal tersebut. Ia meneruskan pembicaraannya dengan kekasihnya.

“Okay, sweetheart! Aku akan ke rumahmu sekarang. Siapkan caturnya dan aku akan membawakan pizza. Sampai jumpa di rumahmu, ya? Bye,”

***

 

Sooyeon tak menyangka ia akan mengeluarkan air mata untuk seorang lelaki yang tidak mencintainya sama sekali. Ternyata selama ini Kris sudah melakukan hal yang seharusnya Kris lakukan dengannya dengan Jinri. Sooyeon tahu, pernikahan yang ia jalani dengan Kris hanya pernikahan yang tidak disetujui oleh kedua pengantin itu. Tetapi, Kris dan Jinri tidak terikat hubungan pernikahan. Bagaimana bisa Kris melakukan hal itu?, pikirnya.

Ponsel Sooyeon berdering. Sooyeon mengusap air matanya dan segera mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menelponnya.

“Halo?,”

“SELAMAT MALAM, SOOYEON NOONA!!,”

Sooyeon mengusap telinga kanannya, “Astaga, Kim Jongin! Kau ini bodoh atau apa? Kau membuat telinga kananku sakit!,” omelnya kesal.

Terdengar cengiran dari seberang sana, “Maafkan aku, noona. Aku terlalu bersemangat,” ucapnya.

Sooyeon memutar bola matanya, “Apa maumu, eoh? Untuk apa kau menelponku?,”

“Ish, galak sekali. Nanti keriputmu makin banyak, lho,”

“KIM JONGIN!!!!,” teriak Sooyeon.

“Aigoo, noona, teriakanmu mengalahkan teriakan lumba-lumba,”

“Jangan meledekku!,” omel Sooyeon.

“Oke, oke. Langsung saja ke poinnya, oke?,”

“Memang itu yang ku inginkan,” ucap Sooyeon kesal.

“Aku baru saja tiba di rumah Yunho samchon. Kuliahku di Oxford sedang libur, jadi aku memutuskan untuk berlibur ke Seoul,”

“Oh,”

“Cuma begitu reaksinya?,” tanya Jongin tak terima.

“Memangnya apa lagi?,” tanya Sooyeon.

“Huh. Kau sama saja dengan Soojung. Kedatanganku tidak disambut dengan meriah,” gerutu Jongin.

“Memangnya kau ini selebriti papan atas?,”

“Sebentar lagi aku akan mengalahkan popularitas Robert Pattinson,”

“Jangan bermimpi,”

“Oke. Besok aku akan mengunjungi rumahmu dan suamimu,”

Sooyeon membelalakan matanya, “A-Apa? K-Kau ingin kemari? Yang benar saja,”

“Memang benar. Soojung tak bisa menemaniku karena nenek sihir itu sedang ada kencan dengan Minho. Jadi, aku akan pergi sendirian. Jangan lupa siapkan makanan yang banyak, ya?,”

“Tidak mau,”

“Oh,  ayolah, noona. Aku sudah lama tak menyicipi masakan buatanmu. Oh, aku tutup dulu telponnya, ya? Sepertinya Yuri immo sedang memanggilku untuk makan malam,”

“Iya,” jawab Sooyeon malas.

“Sampai jumpa!,”

Dan telpon pun ditutup.

Sooyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya. Ia menghela napas berat.

“Bagaimana ini? Jika Jongin melihat kamarku yang berpisah dengan kamar Kris, si idiot itu pasti akan mengadukan hal ini kepada orangtuaku,”

***

 

Kris sedang ingin menghirup udara segar di luar. Ia melewati ruang tengah yang disana sedang ada Sooyeon yang sedang menonton televisi. Kris pun membuka pintu utama rumahnya, dan ia sangat kaget saat melihat seorang lelaki yang tidak ia kenal berada dihadapannya.

“S-Siapa kau?,” tanya Kris.

“Oh, jadi Sooyeon noona tidak pernah menceritakan tentangku kepadamu, ya?,” tanya lelaki itu.

Jangan-jangan lelaki ini kekasih Sooyeon, pikir Kris.

“Dimana Sooyeon noona?,” tanya lelaki itu.

“D-Di dalam. Sedang menonton televisi,” jawab Kris.

Lelaki itu pun langsung menyelonong masuk melewati Kris. Kris merasa sedikit kesal di dalam hatinya. Entah kesal karena lelaki itu tidak sopan atau kesal karena hal lain. Kris sendiri pun tak tahu.

Lelaki itu melihat Sooyeon sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Lelaki itu pun memeluk leher Sooyeon dari belakang. Kris tersentak kaget melihat hal itu.

“NOONA!!,”

“Astaga! Kim Jongin! Kau—,” kalimat Sooyeon terhenti saat melihat Kris yang memandang ke arahnya.

“Kau tidak menyiapkan apapun untukku?,” tanya Jongin.

Sooyeon beralih ke Jongin, “Menyiapkan apa?,” tanyanya berpura-pura lupa.

“Aigoo! Cepat memasak. Aku merindukan masakanmu yang sangat lezat itu, noona!,” seru Jongin.

“Aku—,”

“Cepat memasak!,” seru Jongin seraya mendorong Sooyeon menuju dapur.

Kris yang melihat itu merasakan nyeri di dadanya. Ia merasa iri dengan hubungan mereka yang terlihat sangat dekat. Tidak salah lagi, lelaki itu pasti kekasihnya, batinnya.

***

 

“Noona, masakanmu sangat enak!,” puji Jongin.

Sooyeon tersenyum mendengarnya. Setidaknya, kehadiran Jongin disini membawa keceriaan di rumah ini. Meskipun hanya sementara.

“Suamimu tidak ikut makan?,” tanya Jongin.

Sooyeon mendadak grogi, “Ah—Ngg—d-dia sudah makan tadi. Ya, dia sudah makan,” jawabnya berbohong.

Jongin mengangguk mengerti.

Di balik pintu ruang makan, Kris telah mendengar perkataan Sooyeon. Kris segera meninggalkan tempat itu dan masuk ke kamarnya.

“Hubungan kalian selama ini, baik-baik saja, kan?,” tanya Jongin.

Sooyeon tersenyum kecut, “B-Begitulah,” jawabnya.

“Syukurlah,” ucap Jongin, “Sesuai dengan harapan Joonmyun,” tambahnya.

Sooyeon mengerjap kaget, “J-Joonmyun?,”

“Aku bertemu dengannya tadi malam saat Yuri immo menyuruhku untuk membeli roti. Dia menanyakan kabarmu dan hubunganmu dengan suamimu. Aku bilang aku tidak tahu karena aku belum menemuimu. Dia berharap kalian baik-baik saja dan dia juga berharap noona bahagia bersama suami noona,” ucap Jongin.

Sooyeon terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, senyuman manis terukir dibibirnya.

“Katakan kepadanya terima kasih dariku,” perintah Sooyeon.

“Enak saja. Katakan saja sendiri,”

“KIM JONGIN!!!,” teriak Sooyeon kesal.

Jongin tertawa, “Iya, iya. Aku hanya bercanda, noona. Kau ini galak sekali,”

***

 

Sooyeon menghela napas lega. Jongin telah pulang dan Jongin tak meminta masuk ke kamarnya. Rahasianya dan Kris aman.

Sooyeon berjalan memasuki ruang tengah. Disana sudah ada Kris yang menatapnya tajam. Sooyeon merinding ngeri melihatnya.

“K-Kris? A-Ada apa?,”

“Aku ingin bicara,” ucap Kris.

“O-Oke,”

“Jadi, selama ini, kau mengkhianatiku?,” tanya Kris.

“E-Eh? Apa maksudmu, Kris? Aku tidak mengerti,” ucap Sooyeon bingung.

“Kau dan lelaki yang tadi—berpacaran, bukan?,” tebak Kris.

Sooyeon terdiam sebentar. Beberapa detik kemudian, tawanya pun meledak. Kris menaikkan alisnya melihat hal itu.

“Apanya yang lucu?,” tanya Kris bingung.

“Aku dan Jongin berpacaran? Yang benar saja,”

“E-Eh?,”

Sooyeon menghentikan tawanya, “Kim Jongin adalah saudara sepupuku yang tinggal di London. Dia mengunjungiku karena kami sudah lama tak bertemu. Bahkan dia hadir di hari pernikahan kita,”

Wajah Kris memerah mendengarnya. Sooyeon kebingungan melihatnya. Wajah Kris memerah, berarti..

“Kau cemburu?,” tanya Sooyeon.

“T-Tidak! Untuk apa?,”

“Lalu, kenapa wajahmu memerah?,” tanya Sooyeon.

“I-Ini, panas. Ya, udaranya disini panas. Aku rasa, aku harus mandi sekarang,” jawab Kris lalu segera pergi ke kamarnya.

“Panas? Bukankah ruangan ini terpasang AC?,” gumam Sooyeon bingung.

***

 

Kris sedang mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja di sebuah kafe. Ia tengah menunggu seseorang. Seiring berbunyi suara lonceng di pintu kafe tersebut, munculah seorang perempuan berambut pendek dan berparas manis.

“Oppa!,”

“Hai!,”

Perempuan itu menghampiri Kris dan duduk di seberangnya, “Maaf karena terlambat. Tugas kuliahku banyak sekali. Minho oppa juga memberikan sebagian tugas miliknya kepadaku dan pergi berkencan dengan Soojung,”

“Tidak apa-apa. Aku juga baru tiba kok,” jawab Kris.

“Jadi—bagaimana hubunganmu dengan Sooyeon eonni?,” tanya perempuan itu.

Wajah Kris memerah, “A-Aku hampir ketahuan cemburu,” jawabnya.

“Hah? Apa benar? Bukankah itu awal yang bagus?,” tanya perempuan itu senang.

“Awal yang bagus bagaimana? Kau lupa kalau Sooyeon tidak menyetujui pernikahan kami? Itu artinya, dia tak mencintaiku,” ucap Kris.

“Bukankah Sooyeon eonni selalu bersikap ramah dan lembut terhadapmu? Kau saja yang berakting dingin dihadapannya. Bahkan dia cemburu kan saat kau ingin ke rumahku untuk bermain catur saat itu?,”

“Kalau itu, aku tidak yakin dia cemburu atau tidak,” jawab Kris.

“Bagaimana dengan ciuman pura-pura kita? Aku melihat sendiri, oppa. Wajahnya seperti sedih dan marah,”

“Jinri-ya, aku rasa itu tidak mungkin,” ucap Kris.

Jadi, perempuan itu adalah Jinri—saudara sepupu Kris.

“Oppa, kau hanya tidak yakin. Kau harus segera mengungkapkan kebenarannya. Kau mencintainya. Apapun jawaban dari Sooyeon eonni, kau harus bisa menerimanya. Yang penting, kau sudah mengungkapkannya, oppa. Kalian sudah satu rumah selama satu setengah bulan. Itu waktu yang lama, oppa. Bahkan kalian belum membuat anak. Padahal uncle Kevin ingin sekali memiliki cucu,” ucap Jinri.

“A-Aku belum siap, Jinri-ya. Aku terlalu takut,” ucap Kris.

Jinri memegang kedua bahu Kris, “Oppa, kau harus bisa mengungkapkan yang sebenarnya. Percayalah kepadaku. Aku yakin, Sooyeon eonni juga mencintaimu,”

Di luar kafe yang berdinding kaca itu, dua perempuan telah melihat kejadian itu. Salah satu dari perempuan itu berlari dari tempat itu.

“Sooyeon eonni!,” panggil Soojung, namun tak dihiraukan kakaknya itu.

Soojung menatap perempuan yang sedang bersama dengan Kris. Matanya membulat sempurna.

“CHOI JINRI??!!,”

***

 

Kris telah memutuskan. Malam ini, ia harus mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya kepada Sooyeon. Meskipun, ketakutan masih menyelimuti pikiran Kris.

Kris sudah berada di depan kamar Sooyeon. Kris ingin mengetuk pintu tersebut, namun ia tahan. Ketika ia bersiap mengetuk, ia kembali menahannya. Dan ia lakukan hal itu terus menerus hingga pintu itu terbuka sendiri.

“E-Eh?,”

“Kris? Sejak kapan?,”

Kris menggaruk kepalanya, “Ngg—aku—,” ia menghentikan kalimatnya saat melihat mata Sooyeon yang merah dan basah, “K-Kau menangis?,” tanyanya.

Sooyeon menggeleng cepat, “A-Aku hanya kelilipan,” jawabnya.

“Oh,”

Sooyeon kembali teringat kejadian saat ia melihat Kris bersama Jinri, “Sudah selesai berkencan dengan kekasihmu, Kris?,”

Kris tersentak, “A-Apa? Kau melihat—,”

“Ya. Aku melihatnya. Maaf, aku tidak sengaja,” jawab Sooyeon.

“Hm, sebenarnya, ada yang ingin ku jelaskan kepadamu,” ucap Kris.

“Oh, ya? Apa itu?,” tanya Sooyeon penasaran. Oh, mungkin Kris ingin memintaku untuk bercerai dengannya, batinnya.

“Jinri bukan kekasihku,”

Sooyeon tersentak kaget dan syok, “A-Apa?,”

“Jinri adalah saudara sepupuku. Kami memang dekat. Dan yang kau lihat tadi, kami tidak sedang berkencan. Dan soal aku ingin ke rumahnya untuk melanjutkan permainan, itu bukan permainan seperti yang kau kira. Kami hanya melanjutkan permainan catur kami. Dan soal ciuman—,” Sooyeon menunggu Kris melanjutkan perkataannya, “—itu kami hanya berpura-pura. Sama seperti kita berpura-pura ciuman saat di altar,”

Sooyeon sangat syok mendengar hal ini. Ia masih tidak bisa mempercayai perkataan Kris. Ini terlalu sulit untuk dicerna.

“A-Aku tidak bisa mempercayaimu, Kris,”

“Memang. Tapi, inilah faktanya. Inilah kejadian yang sebenarnya. Semua yang ku lakukan selama ini hanyalah akting belaka,” ucap Kris.

“Tapi, untuk apa kau melakukan ini semua? Kau sangat dingin terhadapku,”

Kris menunduk, “K-Karena aku tahu, kau tidak mencintaiku,”

Sooyeon tersentak kaget.

“Dari awal, kau tidak menyetujui pernikahan ini. Jadi, ku anggap kau tidak mencintaiku. Jadi, aku bersikap seolah-olah aku sama denganmu. Padahal, faktanya, aku—aku—,”

“Ya?,”

Kris menarik napas dalam, “Aku sangat mencintaimu,”

Sooyeon terharu biru mendengarnya. Jadi, selama ini, Kris juga mencintainya. Cintanya terbalaskan. Sesuai dengan harapan mantan kekasihnya, Kim Joonmyun. Sooyeon akan bahagia setelah ini. Sooyeon yakin akan hal itu.

Tanpa aba-aba, Sooyeon memeluk Kris erat. Kris tentu saja terperangah. Ia teringat perkataan Jinri tadi sore.

“Aku yakin, Sooyeon eonni juga mencintaimu,”

“Aku juga, Kris. Selama ini, aku juga mencintaimu!,”

Air mata Kris tumpah saat itu juga. Perasaannya terbalaskan. Sesuai dengan harapannya selama ini. Gadis yang ia kagumi sejak ia berumur 10 tahun. Gadis yang ia jumpai saat ia sedang berlibur ke Korea Selatan untuk pertama kalinya.

“Jinri, what’s this place?,” tanya seorang anak laki-laki berdarah China-Kanada.

“This place has be named Han river, oppa.” jawab seorang anak perempuan berambut pendek. “Is beautiful place, isn’t?,”

Baru saja anak laki-laki itu ingin mengangguk, tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang anak perempuan yang sedang mengobrol bersama sepupu laki-lakinya dan seorang perempuan yang lain. Anak laki-laki itu langsung terpesona pada pandangan pertama dengan anak perempuan yang ia lihat itu.

“Yeah. She’s really really beautiful,”

Jinri mengernyit bingung, “She?,” Jinri pun mengikuti arah pandang sepupunya itu. Jinri tersenyum setelah mengetahui jawabannya.

“Her name is Jung Sooyeon. She’s older sister of Minho’s friend, Jung Soojung,” ucap Jinri.

“Beautiful names, beautiful faces. I think I’m fall in love in first time. With her,” gumam anak laki-laki itu sambil tersenyum manis.

Kris membalas pelukan Sooyeon. Tak kalah erat dari Sooyeon. Setelah beberapa detik kemudian, mereka mengakhiri pelukan itu dan saling berpandangan.

Dan untuk yang pertama kalinya, bibir mereka bersentuhan.

END

Selesai. Sorry buat erikapratiwi6 dan ShitygorjessimOet kalo ceritanya gak semuanya mirip dengan summary yang kalian buat. Aku bikin yang kayak begini karena mencampu

rkan summary kalian. Dan sorry kalo mengecewakan. Aku harap sih FF ini bisa kalian terima dan kalian suka ^^

Dan buat readers setiaku, jangan lupa reviewnya, yaks?

Your coment is my spirit \m/

Iklan